Bahagia itu…

Oleh: Neneng Hendriyani


(Gambar: Penulis Bersama Teman-teman)

Banyak hal dilakukan manusia demi mengejar kebahagiaan. Mereka lupa sejatinya kebahagiaan itu bukan terletak dari penampilan fisik. Namun lebih kepada rasa yang dirasakan di dalam jiwa. Kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan sejati yang tidak ada tabir di dalamnya. Kita tahu benar bahwa itu benar. Kita tahu pasti bahwa itu pasti. Bukan kata si A atau si B.

Sayang seringkali kita dilanda kebingungan. Ketaatan kepada Tuhan Sang Pencipta ternyata tidak serta merta mampu membuat kita bahagia lahir batin. Pun, ketaatan kepada atasan dimana kita bekerja mengais rejeki setiap hari. Ada saja kekecewaan yang mampir di antara waktu pengabdian terhadap pekerjaan tersebut. Ada saja kesedihan dan keputusasaan yang dirasakan. Kita tidak bebas berekspresi.

Hidup bahagia menurut Sang Sunan adalah hidup yang apa adanya. Bukan yang ada apanya. Seseorang mendapatkan penghargaan dari kita karena ia memang layak mendapatkannya. Bukan karena alasan kita di balik penghargaan yang kita berikan. Misalnya, kita menghargai si A lantaran kita berharap mendapat sesuatu darinya. Kita menghargai dan menghormati lantaran ia orang berkuasa atau kaya raya pun salah. Kita harus menghargai dan menghormati orang karena ia layak dihargai dan dihormati. Dengan begitu kita pun akan mendapatkan balasan yang setimpal dari orang tersebut. Yaitu dihargai dan dihormati.

Hidup bahagia pun bisa berarti menyadari sepenuhnya akan tujuan hidup yang dijalaninya. Apakah sekedar mengisi waktu saja ataukah ingin berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Bila sudah tahu akan tujuan hidupnya maka kita akan lebih dapat menikmati Lika liku kehidupan yang dijalani. Kita tidak akan mengeluh berkepanjangan bila menghadapi hal atau masalah yang tidak enak. Kita akan bisa mengembangkan senyum manis kita di antara puluhan masalah yang ada di hadapan kita.

(Bogor, 23 Oktober 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *