PUISI ESAI MEREKAM ISU SOSIAL MASYARAKAT

Oleh Neneng Hendriyani

Sejak kemunculannya yang begitu menyedot perhatian dunia sastra Indonesia pada tahun 2017, banyak pihak diam-diam mulai berpikir serius tentang kelebihan dan kekurangan puisi esai. Salah satu poin yang sering dibidik oleh para praktisi sastra adalah apakah puisi yang ditulis dalam bentuk esai itu mampu menyampaikan apa yang benar-benar dan sedang terjadi di masyarakat Indonesia dalam bahasa puisi yang sudah lazim digunakan selama ini.

Apakah masyarakat benar-benar memahami puisi esai tersebut dengan mudah seperti yang diharapkan sang penggagasnya, yaitu Denny JA? Apakah unsur-unsur puisi yang umum ditemukan pada angkatan 45, 66, dan era 2000an masih bisa ditemui di puisi esai tersebut? Apakah semua kalangan masyarakat, penyair maupun bukan penyair, dapat membuat puisi esai yang memotret kondisi batin dan isu sosial yang krusial terjadi saat ini? Serta bagaimana puisi esai mampu menjalankan salah satu fungsinya sebagai alat potret kondisi batin dan isu sosial yang krusial terjadi di masyarakat pada suatu masa? Tulisan ini disusun berdasarkan pengamatan penulis terhadap lima pertanyaan yang paling sering muncul di atas.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis selama ini apa yang disampaikan oleh Denny JA dalam bukunya Memotret Batin dan Isu Sosial Melalui Puisi Esai (2017) adalah benar. Artinya, tidak semua masyarakat mampu memaknai puisi yang dihasilkan oleh angkatan 45, 66, 98, dan 2000an dengan baik. Tidak semua generasi muda akrab dengan puisi Chairil Anwar atau Sutardji Calzoum Bahri. Mereka lebih akrab dengan dunia film ketimbang puisi. Mengapa demikian? Hal ini karena tidak semua orang mampu menikmati keindahan kata yang disuguhkan oleh sebuah puisi dan menarik pesannya baik yang tersirat maupun tersurat dengan baik. Sementara film lebih mudah dinikmati dan dicerna pesan moralnya.

Selain itu, puisi yang dihasilkan oleh para pujangga tersebut memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya terletak pada pesan dan makna puisi yang tidak mudah dicerna dalam sekali baca oleh pembacanya. Bagi mereka yang tidak mendalami pendidikan sastra membaca puisi Aku karya Chairil Anwar umumnya dilakukan sambil lalu saja. Tak sedikit pembaca yang beranggapan bahwa Chairil adalah seorang atheis setelah membaca puisi tersebut. Pandangan mereka tidak bisa disalahkan dengan serta merta. Mereka menemukan kata “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Makna kalimat tersebut menggambarkan keserakahan Chairil dalam memandang isi dunia. Hal itulah yang mendorong ia lantang menyuarakan keinginannya untuk hidup seribu tahun lagi.

Bagi para penikmat sastra yang berasal dari dunia sastra yang setiap harinya digojlok ilmu sastra pastilah tidak setuju dengan pendapat di atas. Mereka akan mencari puisi Chairil lainnya. Setelah itu baru menyimpulkan apa yang sebenarnya hendak disampaikan olehnya melalui puisi tersebut. Proses mencari puisi lainnya ini untuk menguatkan pendapat mereka bahwa Chairil bukanlah atheis.

Itu baru satu contoh puisi yang diambil. Bagaimana bila kita mengambil contoh puisi karya Goenawan Mohamad dan Sutardji Calzoum Bachri yang banyak menggunakan bahasa figuratif? Pasti tak mudah bagi orang awam, bukan? Nah, di sinilah puisi esai itu menjadi salah satu solusi bagi mereka yang ingin mengutarakan ide, dan perasaannya dalam bentuk yang indah dan lugas. Sebuah jenis tulisan sastra yang tidak perlu mengernyitkan dahi untuk menikmatinya. Sangat simple. Saking simplenya siapapun dapat membuatnya.

Tentu saja setelah banyak membaca referensi yang berhubungan dengan apa yang akan ditulisnya. Hal ini disebabkan wawasan penulis puisi esai itu haruslah luas dan didukung oleh bukti. Bukti di sini dapat diambil dari media massa daring maupun luring. Fungsi bukti di sini adalah sebagai penguat atas apa yang hendak disampaikan dalam puisi esai tersebut. Karena fungsinya sebagai penguat atau bukti maka diperlukanlah catatan kaki dalam puisi ini. Mirip dengan tatacara penulisan esai pada umumnya. Bedanya hanya terletak pada kosa kata dan jenis bahasa yang digunakan. Dalam esai yang sudah kita kenal sebelumnya, bahasa yang digunakan adalah bahasa baku dengan aturan penulisan formal. Di dalam puisi esai ini tidak perlu bahasa baku. Prinsipnya, selama orang yang membacanya paham maksud penulis, maka itu sudah boleh digunakan. Keluwesan bahasa inilah yang membuat masyarakat benar-benar memahami isi puisi esai tersebut dengan mudah.

Unsur puisi seperti kata, larik, bait, bunyi dan makna meskipun tidak sejelas di dalam jenis puisi pujangga lama, pujangga baru, dan kontemporer tetap ada dan digunakan dalam jenis puisi esai. Hal ini membuat para penikmat puisi tetap bisa menikmatinya. Pun, masyarakat awam yang tak paham benar dengan aturan njelimet sebuah puisi dapat tetap membaca dan menikmatinya dengan riang.

Berangkat dari penjelasan singkat di atas maka penulis yakin semua kalangan masyarakat, penyair maupun bukan penyair, dapat membuat puisi esai dengan mudahnya. Berbagai isu sosial, ekonomi, politik, budaya, dan pertahanan keamanan negara dapat dijadikan bahan penulisan puisi esai. Dari beragam berita yang seliweran di televisi setiap pagi, seorang anak SMA bisa dengan mudah membuat puisi esai di sekolahnya. Informasi yang didapatnya sebelum berangkat sekolah dari siaran berita televisi itulah yang membantunya mengembangkan imajinasinya untuk menulis seluruh keresahan batinnya mengenai isu hangat tersebut. Dengan pengetahuannya yang terbatas mengenai bahasa figuratif ia tetap bisa menghasilkan puisi yang indah dalam bentuk esai.

Begitu pula dengan seorang mahasiswa sosial politik semester lima misalnya. Ia dapat membuat puisi esai setelah menyaksikan debat calon presiden dan wakil presiden di televisi. Pengetahuan dasarnya mengenai politik yang diperolehnya di kampus, ditambah ilmu pengetahuan dan informasi yang diserapnya setelah menyaksikan siaran debat tadi memperkaya kosa katanya dalam menulis puisi esai. Sekalipun ia bukan mahasiswa jurusan sastra ia dapat mencurahkan hasil analisisnya mengenai nasib bangsa bila calon A terpilih menjadi presiden nantinya tentu saja dengan menggunakan bahasa puisi sederhana dalam bentuk puisi esai. Semua orang yang membaca hasil karyanya dapat langsung mengetahui tujuan penulisan puisi tersebut. Sungguh sebuah kegiatan yang dapat menghemat tenaga, waktu, dan biaya karena bisa dilakukan dengan instan tanpa perlu membuka kamus dan terlibat diskusi panjang dengan sesama pembacanya.

Dari gambaran di atas maka puisi esai tentu saja mampu menjalankan salah satu fungsinya sebagai alat potret kondisi batin dan isu sosial yang krusial terjadi di masyarakat dengan baik. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan melalui puisi esai penulis dapat dengan mudah menyampaikan seluruh hal yang dirasakan batinnya sesaat setelah mengetahui atau bahkan mengalami kejadian penting yang terjadi di lingkungannya, baik di desa maupun di kota di seluruh wilayah Indonesia.

EsaiKU di atas dapat ditemui dalam ANTOLOGI 50 OPINI PUISI ESAI INDONESIA (ISBN 978-602-5896-25-5), 2018: 161-165.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *