Pekerjaan vs Bisnis

Pekerjaan dan bisnis itu berbeda loh. Pekerjaan menurut KBBI V adalah pencaharian, pokok kehidupan, sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah. Nafkah sendiri adalah bekal hidup sehari-hari.

Pekerjaan itu dalam bahasa sederhananya adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh orang dalam waktu yang sudah ditentukan, rutin, dan mendapatkan hasil berupa upah yang besarnya selalu tetap dan diperoleh pada kurun waktu yang telah ditetapkan secara rutin. Yaitu, gaji

Sementara bisnis adalah usaha komersial dalam bidang perdagangan. Hasilnya berupa selisih dari harga modal suatu barang yang diperjualbelikan. Umum disebut laba atau keuntungan. Laba dibagi menjadi laba bersih dan laba kotor. Laba bersih artinya hasil keuntungan yang diperoleh oleh pebisnis setelah dikurangi berbagai macam ongkos pengeluaran. Misalnya, pajak, ongkos produksi, ongkos kirim, dan lain-lain. Nah, laba bersih ini bisa juga dijadikan nafkah untuk kehidupan sehari-hari. Besar kecilnya laba tidak bisa ditentukan sebelumnya. Laba tergantung pada situasi dan kondisi pasar saat transaksi bisnis terjadi. Itulah sebabnya seringkali ditemukan ada pebisnis yang merugi dan ada yang sedang kebanjiran untung.

Pekerjaan dan bisnis jelas berbeda dari penjelasan di atas. Untuk kamu yang memilih aktif bekerja di bidang pekerjaan seperti dokter, perawat, guru, polisi, dan lainnya berarti kamu menerima upah berupa pendapatan pada suatu kurun waktu tertentu dengan besar yang sudah ditentukan oleh negara. Sementara bila kamu memilih aktif bekerja di bidang bisnis maka kamu memperoleh upah atau pendapatan berupa laba dari bisnis yang kamu jalankan sendiri. Besar kecilnya tergantung dari keaktifan dan keseriusan membangun jaringan bisnis.

Itulah bedanya pendapatan dan bisnis, ya gaes. Semoga paham dan bermanfaat.

(Karadenan, 22 April 2021)

Tiga Cara Menjadi Wanita Mandiri Secara Ekonomi

Tiga cara menjadi wanita mandiri secara ekonomi adalah tips yang perlu kamu ketahui. Setelah mengetahuinya kamu memiliki pilihan mandiri, apakah akan mengikuti ketiga cara tersebut atau memilih salah satu cara yang paling kamu sukai. Apapun pilihanmu, pastikan bahwa kamu benar-benar ingin menjadi wanita mandiri secara ekonomi. 


Pertama, Percaya diri. Percaya diri adalah modal utama menjadi wanita mandiri. Tanpa ini kamu hanya berangan-angan belaka menjadi wanita mandiri. Tidak ada satupun wanita yang dikenal sejarah hidup sebagai wanita yang rendah diri, minder, dan kuper. Cleopatra, Ratu Sima, dan Tribhuana Tunggal Dewi adalah tokoh-tokoh wanita yang penuh percaya diri pada zamannya. 


Mereka menyadari betul bahwa mereka memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk menjadi pemimpin negara. Dengan melihat diri mereka sendiri mereka sadar bahwa mereka memang istimewa. Inilah yang membuat mereka begitu percaya diri memimpin rakyatnya dan menorehkan namanya dengan tinta emas sepanjang masa. 


Kedua, berpikiran terbuka. Wanita yang kuper, terbelakang, dan kuno adalah mereka yang menutup dirinya dari perkembangan zaman. Mereka hanya percaya kepada apa yang telah mereka ketahui dan jalani selama ini. Mereka tidak bisa berpikir positif terhadap berbagai hal yang baru dikenalnya. Wanita yang close minded seperti ini bisa dipastikan sebagai kelompok wanita yang sulit beradaptasi dan enggan menerima perubahan. 


Ketiga, mau mencoba. Apalah artinya keberanian bila hanya sebatas kata? Apalah artinya kesuksesan bila tidak pernah mengalami kegagalan sebelumnya? Ketika wanita memutuskan untuk maju dan mandiri secara ekonomi maka dia harus berani mencoba hal-hal baru. Berdagang, bertemu rekan bisnis, mengembangkan jaringan sosial, dan lain sebagainya adalah hal yang sulit dilakukan pada awalnya bagi para pemula di bidang bisnis. Namun, wanita yang berani mencoba akan menganggap hal itu sebagai sebuah percobaan dan ujian kecil menuju pintu suksesnya. 


Dia akan merentangkan kedua tangannya dengan bebas dan tersenyum terhadap berbagai hal baru yang belum pernah dicobanya. Dengan penuh percaya diri, berpikiran terbuka, dan keberanian yang dimilikinya dia akan melakukan semua perjalanan bisnisnya dari langkah-langkah kecil yang mungkin tidak pernah dilakukan sebelumnya. 


Nah, kamu tertarik mencoba ketiga cara menjadi wanita mandiri secara ekonomi di atas? Jangan ragu. Mulailah dari sekarang dengan bergabung bersamaku di May Way
(Karadenan, 21 April 2021)

(Sumber: Katalog May Way, Maret-Mei 2021)

Seberapa Penting Menulis Untukmu?

Seberapa penting menulis untukmu? itu adalah sebuah pertanyaan yang seringkali aku tanyakan kepada diri sendiri tiap kali akan mengikuti event-event penulisan. Jawaban spontan yang kudapatkan adalah motivasiku untuk melanjutkan atau justru meninggalkan event tersebut. Tahu kenapa? Karena bagiku menulis adalah berbagi kebaikan, harapan, dan impian. Bukan mengejar fatamorgana dan ketenaran sesaat. 


Seberapa penting menulis untukmu mungkin berbeda denganku. Keadaan dan latar belakang kehidupan kita pun tak pasti sama. Bukankah saudara kembar pun tak persis sama baik fisik maupun psikologisnya. Jadi, mengapa kita harus sama. Artinya, apapun alasanmu untuk menulis ya terima saja. Lanjutkan saja, jangan berhenti. 


Mungkin bagimu menulis itu begitu penting. Dengan menulis kamu bisa meringankan beban psikologis yang sedang kamu hadapi. Dengan menulis pun kamu bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk biaya hidupmu. Dengan menulis kamu sudah menunjukkan eksistensimu sendiri. Teruskanlah. 
Bila kamu merasa senang dengan melakukannya, jangan ragu untuk meneruskannya. Mungkin saat ini kamu belum berhasil meraih jawaban dari pertanyaan seberapa penting menulis untukmu. Jangan khawatir. Suatu saat nanti kamu akan tersenyum bahagia kala mendapati bahwa jawabanmu itu membuatmu begitu berharga. 

The Rebels Princess, Film Paling Keren Sepanjang 2021

Pertama kali menonton film The Rebels Princess ini persis ketika tak sengaja melihat cuplikannya di YouTube. Penasaran dengan make up sang aktor yang biasa saja dan jauh dari bedak membuatku berselancar di internet. Awalnya sih sederhana, ingin cari link filmnya yang utuh. Agak bete bila menonton di YouTube dengan sistem cuplikan demi cuplikan sebanyak 68 episode. Bila mau nonton penuh sebenarnya bisa sih. Cukup install Youku saja di handphone. Sayang, kapasitas hp kentangku nggak support untuk mengunduh aplikasi tersebut. Jadi, langkah termudah adalah mencari film tersebut dengan mengetik judul filmnya di mesin pencari Google.

Dan tarrraaaa! I got it! Hanya dengan satu kali enter aku mendapatkan banyak sekali link yang bisa dibuka untuk menonton secara langsung dengan atau pun tanpa iklan sama sekali. Asalkan koneksi internet lancar maka film ini bisa dinikmati sepuasnya.


(Source: Youku)

Film The Rebels Princess yang ditayangkan pertama kali pada 9 Januari 2021 ini pada awalnya tidak menyedot perhatian banyak penonton. Mungkin karena mereka berpikir bahwa film ini biasa saja. Lihat saja penampilan tokoh utamanya yang tampil apa adanya layaknya seorang jenderal. Bahkan tokoh wanitanya pun begitu sederhana. Tata rias, busana dan perhiasan yang dikenakan tidak begitu mewah. Tidak seperti film-film cina dan drama Korea sejenis yang tampil memikat dengan make up yang cukup glamor.

Zhang Zi Yi dan Zhou Yu Wei adalah pemeran tokoh utama film ini. Fantastik. Meskipun harus berperan sebagai Shangyang Princess alias Wang Xian yang berusia lima belas tahun, Zhang Zi Yi yang sebenarnya sudah berusia 42 tahun itu bisa memerankannya dengan mudah dan sempurna. Wajahnya yang cantik, cerdas, dan anggun benar-benar membius penonton. Kemampuan aktingnya pun luar biasa.

Wang Xian adalah putri tunggal Perdana Menteri sekaligus keponakan Kaisar. Dia adalah calon istri Pangeran Ketiga yang terkenal lembut dan pintar. Sayang, intrik kekuasaan telah menempatkannya sebagai bidak catur dalam permainan berdarah yang melibatkan orang-orang terdekatnya.

Pada usia lima belas tahun dia terpaksa menikahi seorang Jenderal yang berasal dari rakyat biasa, Xiao Qi. Sebagai seorang jenderal yang bertugas menjaga perbatasan dia adalah sosok penting yang selalu diperebutkan oleh para bangsawan untuk melanggengkan kekuasaan. Setelah putri Xie menolak dijodohkan dengannya dan dengan sebuah strategi yang luar biasa di mana putri Xie kemudian menikahi putra mahkota maka Xiao Qi kemudian menikah dengan Wang Xuan.

Pernikahan keduanya sama-sama tidak dilandasi cinta. Awu alias Wang Xuan setuju menikahinya demi keselamatan Pangeran Ketiga yang diasingkan dari istana setelah ibundanya, selir Xie dibunuh oleh Ratu. Sementara Xiao Qi pun setuju karena ayah Wang Xuan sudah tiga kali datang memintanya menjadi menantu. Pada malam pertama Xiao Qi meninggalkan pesta pernikahan dan lari menyelamatkan Ningshuo. Wang Xuan sakit hati karena merasa dipermalukan.

Meskipun ditinggalkan oleh suaminya bukan berarti dia lantas dengan mudah bisa menerima kehadiran laki-laki lain termasuk Pangeran Ketiga. Baginya, kehormatan diri adalah segalanya. Dia hanya ingin mendapatkan penjelasan mengapa ditinggalkan begitu saja tanpa pesan.

Xiao Qi yang diperankan oleh Zhou Yi Wei begitu hidup di dalam film ini. Dengan wajah yang jauh dari polesan bedak, Jenderal yang digambarkan berkepala tiga dan berlengan enam ini benar-benar seorang jenderal yang perkasa di medan perang. Usia keduanya yang cukup mencolok membuat Xiao Qi harus sabar mengatasi sikap Wang Xuan yang kekanak-kanakan di awal pernikahannya.

Zhou Yi Wei yang sebenarnya baru berusia 39 tahun ini benar-benar luar biasa dalam memerankan tokoh jenderal pada film ini. Aktor yang lahir pada 24 Agustus 1982 ini mampu beradu akting dengan seniornya, Zang Zi Yi yang lahir pada 9 Februari 1979.

Chemistry keduanya mampu menghidupkan tokoh suami istri yang pada akhirnya jatuh cinta dan bersatu menyelamatkan negara dari beberapa kali pemberontakan.

Film ini sarat dengan pesan moral. Di antaranya sebagai seorang anak, Awu adalah anak yang patuh dan taat kepada orang tua. Kasih sayangnya yang tulus kepada ibunya yang merupakan adik kandung kaisar membuatnya teguh berdiri membela negara tanpa peduli siapa pun yang menjadi kaisarnya. Sebagai seorang istri, dia pun setia dan percaya sepenuhnya kepada suaminya. Sebagai seorang istri jenderal dia juga mampu membela dan menyelamatkan rakyatnya. Sebagai seorang bangsawan dia mampu melihat secara jernih konflik kepentingan yang ada di antara keluarga bangsawan sehingga dia mampu mencari solusi terbaik bersama suaminya.

Sebagai seorang jenderal yang berasal dari kalangan rakyat biasa, Xiao Qi memberikan contoh bagaimana seharusnya bersikap sebagai jenderal yang tidak pandang bulu dalam melaksanakan tugas. Rasa hormat kepada musuhnya membuatnya tidak pernah berbuat kejam dan tidak adil di medan perang. Dia memperlakukan prajuritnya sebagai anggota keluarga yang harus dilindungi dan dihormati layaknya saudara kandung.

Menonton film The Rebels Princess ini seperti belajar kembali bagaimana sebuah negara seharusnya berperan dalam menciptakan kehidupan yang damai, aman, sejahtera. Menonton film ini mengajarkan kita bagaimana seharusnya bersyukur dan menghargai rasa kasih sayang terhadap sesama. Inilah film terbaik sepanjang 2021.

#therebelsprincess#zhangziyi#zhouyiwei#filmcinaterbaik2021#youku

Masih PSBB ya, Gaes

PSBB alias Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk wilayah hukum provinsi Jawa Barat masih berlaku ya, gaes. setidaknya hingga tanggal 19 April 2021. Ini berdasarkan Keputusan Gubernur yang tertuang pada KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA BARAT
NOMOR : 443/Kep.182-Hukham/2021
TENTANG
PERPANJANGAN KELIMA PEMBERLAKUAN PEMBATASAN SOSIAL
BERSKALA BESAR SECARA PROPORSIONAL DI PROVINSI JAWA BARAT
DALAM RANGKA PENANGANAN CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID-19)Kepgub Perpanjangan Kelima PSBB_signed.

Nah, berdasarkan hal itu maka sebagai warga negara yang taat hukum sudah selayaknya kita menghormati dan mengikuti keputusan tersebut dengan bijak. Mari tetap menjalankan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah; Memakai masker,
Mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir,
Menjaga jarak,
Menjauhi kerumunan, serta
Membatasi mobilisasi dan interaksi.

Ingat mencegah lebih baik daripada mengobati.

Sejalan dengan keputusan gubernur tersebut, pemerintah daerah kabupaten Bogor pun sudah mengeluarkan KEPUTUSAN BUPATI BOGOR
NOMOR 443/234/Kpts/Per-UU/2021SK PERPANJANGAN KE-14 PSBB PRA AKB PPKM_05-04-2021.. Isinya pun sama yaitu membatasi aktivitas warga dalam skala besar sejak 6 April 2021 hingga tanggal 19 April 2021.

Dengan terbitnya surat keputusan ini berarti Kabupaten Bogor sudah melaksanakan 15 kali PSBB. Semoga dengan ini jumlah penderita Covid19 semakin berkurang dan Bogor bebas Covid19.

#covid19#pemdabogor#psbb#jawabarat#sehat#juaralahirbatin

Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi 2021

Kembali Badan Bahasa Kemdikbud RI mengadakan Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi 2021. Ayo, ikut dan ramaikan sayembara ini dengan mengirimkan karya terbaikmu.

Info lengkapnya sila unduh di siniJuknis Seleksi Penulis GLN 2021 (1).

#lomba#sayembarapenulisan#badanbahasa#kwmdikbudRI

Antara Bijih Emas dan Kamu

Oleh Neneng Hendriyani

Ada banyak hal yang belum dan mungkin tidak dipahami oleh banyak orang termasuk penulis. Mereka ingin karyanya langsung terbit dengan cepat, mudah, dan sesuai harapan dalam waktu singkat. Ibarat emas mereka ingin langsung berkilau tanpa mau menjalani setiap prosesnya.

Emas yang berbentuk indah dan menghiasi pergelangan tangan, leher, dan beragam aksesoris lainnya berasal dari sebuah tambang yang kotor dan dekil. Mereka diangkut dari sana dengan berbagai cara dan upaya yang tak kenal letih dan juga jumlah waktu yang dihabiskan.

Laki-laki perkasa yang sudah mengambilnya dengan mengorbankan keselamatan dirinya adalah pelaku utama yang membuat bijih emas itu bisa sampai di permukaan tanah. Dengan menggunakan teknik dan cairan kimia dia dilebur dan dipisahkan dari material lain yang terkandung di dalamnya.

Setelah melewati tahap pertama itu barulah bijih emas itu dilebur dan dibentuk sesuai pesanan. Ada yang 24, 21, dan 18 karat. Jelas sekali semakin rendah karatnya semakin rendah pula kualitas bahan emasnya. Pun sebaliknya.

Emas yang telah dibentuk itu lalu dihias dengan sedikit berlian, mutiara, atau Swarovski untuk menambah kilau keindahannya. Baru lah dia siap dipasarkan.

Semakin indah dan unik desainnya harganya pun semakin mahal. Semakin umum dan biasa rancangannya maka rendah pula harga jualnya. Ini adalah hukum alam yang tidak bisa diubah.

Begitulah emas sampai ke para pemakainya.

Sampai sini pernahkah kita berpikir bahwa karya kita laksana bijih emas? Dia akan bersinar dan mahal ketika kita telah melewati serangkaian tahap yang tidak enak dan menjemukan persis ketika bijih emas diangkut dari tambang dan diolah oleh para pengrajin. Apakah hasilnya akan sama antara emas muda yang memiliki karat rendah dengan emas mulia yang berkarat tinggi? Tentu tidak!

Penulis baru yang baru saja menulis kerapkali merasa tinggi hati dan terlalu percaya diri. Tanpa melihat kanan kiri, depan belakang, langsung mengirimkan naskahnya ke penerbit dengan kecongkakan yang membuat langit pun seketika mendung. Dia tak pernah berpikir apakah karyanya layak diterbitkan. Bahkan dia tak pernah berpikir apakah orang (pembaca) memahami isi karyanya dengan baik. Yang dia tahu, dia menulis, mengirim, dan harus diterbitkan dalam waktu secepatnya. Persis cerita fantasi Cinderella.

Dia tak pernah memikirkan naskahnya laksana produk yang belum melewati QC (quality control). Ada sisa benang yang harus dipotong dan dirapikan. Ini jelas memakan waktu yang tidak sedikit.

Carut marutnya naskah yang dikirim seringkali membuat editor terpaksa menenggak berpuluh-puluh obat sakit kepala saking naskahnya tidak masuk akal dan sulit dipahami. Penggunaan kalimat sederhana, majemuk bertingkat, tanda baca dan lain sebagainya jelas bukan perkara sepele dalam hal ini. Perlu kecermatan, kesabaran, dan dedikasi untuk merapikannya.

Namun bagaimana bila di sela-sela pelaksanaannya penulis justru menginterupsi dengan banyak hal yang remeh temeh? Merasa jumawa padahal naskah banyak yang kena unsur plagiat. Di sini haruskah bijih emas langsung menjadi emas batangan atau perhiasan?

Kita tidak sedang berbicara tentang pandai emas apalagi penambang liar. Kita sedang bicara tentang analogi dari sebuah proses kreatif.

Di setiap karya yang indah selalu ada tangan-tangan terampil yang penuh keikhlasan, keuletan, dan kesabaran memprosesnya agar bisa tampil seperti yang diharapkan.

Jadi, sebagai seorang teman, editor, dan juga penulis aku hanya ingin menyarankan satu hal. Pikirkanlah bila kamu berada di posisi si penambang atau pandai emas tersebut! Apakah kamu tahan dengan panasnya matahari yang membakar kulitmu saat mengayak pasir demi sebutir bijih emas? Apakah kamu tahan dengan haus dan lapar yang mendera saat tubuhmu basah bermandi lumpur dan mercury? Apakah kamu masih bisa bertahan ketika mata dan jari jemarimu ikut panas saat mulai melebur bijih itu dan membentuknya sesuai keinginan pemesannya? Apakah kamu sanggup melihat perhiasan yang kamu hasilkan lalu diakui sebagai karya orang lain tanpa menengok ke belakang? Bila tidak bisa, cukup diam dan bersabarlah. Tunggu hingga pandai emas itu mengabarimu berita gembira.

(Bogor, 28 Februari 2021;12.33 WIB)

Lomba Esai Nasional KH Hasan Mustapa

Beberapa grup WhatsApp mengabarkan tentang lomba esai ini pada saat aku sedang menyusun laporan Penelitian Tindakan Kelas. Saat itu tak ada sedikit pun terlintas untuk mengikutinya. Dengan mempertimbangkan kondisi yang lumayan sibuk rasanya tak mungkin bisa menulis. Namun itu terjadi saat aku baru membaca informasi lomba tersebut.

Tak nyana saat aku kebingungan mengolah data penelitian iseng kubuka semua grup WhatsApp. Mataku berhenti di flyer lomba esai ini. Semangat 45 langsung kutulis tentang beliau dan kiprahnya dalam dunia pendidikan di tanah Sunda. Tanpa jeda dalam sekali duduk tulisan esai pun siap dikirim. Dengan mengucapkan basmalah segera kukirim via email. Setelah itu kembali fokus ke kegiatan sebelumnya. Yaitu, mengolah data.

Aku benar-benar melupakan tentang lomba itu. Hingga tiba-tiba seseorang menghubungi pada tanggal 15 Februari 2021. Intinya, beliau mengabarkan bahwa aku berhasil menjadi juara 2 pada lomba esai nasional tersebut. Wow. Luar biasa. Ini sangat mengejutkan.

Alhamdulillah. Semoga esaiku tentang laki-laki kharismatik dari tatar Sunda ini bermanfaat bagi semua terutama generasi muda Indonesia.

(Karadenan, 17 Februari 2021)

SENANDUNG RINDU: BOGORKU, BOGORMU, BOGOR KITA: MEMAKNAI BOGOR MELALUI PUISI

Ini adalah antologi puisi yang ditulis oleh guru KPLJ Bogor. Di antaranya ada yang mengajar di SD, SMP, SMA, dan SMK. Tema yang diangkat dalam buku ini adalah segala sesuatu tentang Bogor; kuliner, budaya, sejarah, dan wisata.

BOGOR DAHULU KALA
Karya : Neneng Hendriyani

Bogor dahulu kala
Pajajaran berkuasa
Siliwangi Raja Diraja
Sosok penuh wibawa
Santun, Bersahaja, Gagah perwira,
pelindung dan pengayom jiwa
Tanah Sunda Berjaya
Seantero nusantara
Lewati masa demi masa

Bogor dahulu kala
Hijau makmur sentosa
Petani kaya raya
Semua bahagia
Tak ada tangis derita

Bogor dahulu kala
Tempat meneer bersuka cita
Berdendang berdansa
Tak jauh dari batavia

Bogor dahulu kala
Istana tak hanya rumah penguasa
Rakyat bebas bersua dan bersuara
Cerita tentang lara duka nestapa

Bogor dahulu kala
Di sini aku bercerita
Tentang asa dan cinta
Tuk bogor slalu jaya slamanya
(Karadenan, 02 Mei 2017)

MAKAM DI KEBUN RAYA
Karya : Neneng Hendriyani

Kawan, tahukah kau
di tengah kotaku ada taman
Taman nan unik, indah dan sejuk
Tempat rehat jiwa yang lelah
Tempat menyepi jiwa yang sepi
Tempat cerita jiwa yang bahagia
Bersama disana berdendang bercerita
Di bawah rimbunnya pepohonan raksasa

Kawan, tahukah kau
Di tengah taman ini ada pusaka
Tanda mata ditinggal masa
Belahan jiwa sang penguasa
Belahan hati sang empunya cerita
Banyak pula orang berjasa

Mereka ada sebagai tanda
Di suatu masa pernah berjaya
Memeluk cita demi sunda
Merajut kasih demi tugas negara
Mereka enggan kembali
Memilih abadi di sini
Di bumi Siliwangi

Mereka cinta bumi pertiwi
Meski kini ganti nama
Ganti pula penguasa
Mereka tetap ada
Ditengah taman raya
Bernama dan tak bernama
Menjadi saksi berkembangnya kota
(Karadenan, 02 Mei 2017)

AKULAH MAUNG PAJAJARAN
Karya : Neneng Hendriyani

Akulah Maung Pajajaran
Berdiri tegak di depan kantor praja
Simbol utama keberanian dan semangat
Berdiri tegak menantang
Pantang pulang sebelum menang
Pantang kalah sebelum perang
Tak hilang lekang di makan zaman
Akulah Maung Pajajaran
Putih jiwaku
Merah darahku
Setia selalu tuk mu
Berdiri tegak menantang
Pantang pulang sebelum menang
Pantang kalah sebelum perang
Tak hilang lekang di makan zaman
Kerana akulah Maung Pajajaran
(Karadenan, 02 Mei 2017)

DI TUNGGUL KAWUNG
Karya : Neneng Hendriyani
Di tunggul kawung Aku berdiri
Menatap mega menantang mentari
Bersimbah keringat bermandi cahya
Ditengah terik kota
Ku menanti

Di tunggul kawung Aku berdiri
Tegak bersama ribuan anak negeri
Bersumpah tuk tetap disini
Setia bersama hingga mati

Tak kan goyah aku berpijak
Tak kan lemah aku memihak
Padamu aku berjanji
Bersama ribuan anak negeri
Tegak berdiri di tunggul kawung hingga nanti
Engkau pergi tak kembali
(Karadenan, 05 Mei 2017)

JEJAK MASA LALU
Karya : Neneng Hendriyani

Jangan bilang kau tak tahu
Palagi tak mau tahu
Tataplah aku, lihat dan kenali diriku
Kita ada di tempat yang sama
Meski masa telah berbeda

Aku ada sejak dulu berdiri menatapmu
Menunggang kuda berlari berlomba
Dengan mesin ribuan kilo jelajah waktu
Di sirkuit tempat ku dulu berpacu

Aku masih disini menatapmu
Bersandar di kursi malas menunggu
Hangat mentari malu mencumbu
Tak henti manjakanmu
Bagai bayi mencari sang ibu

Dan Kau! Jangan bilang kau tak tahu
Siapa yang membangun kotamu
Tunggul kawung, pakuan tempo dulu
Situ Cikaret di tepi P-U
Situ Kibing di Pabuaran aku tahu
Masa kau tak tahu!

Malulah jika masih berulah
Laksana kura dalam perahu
Kujang sakti warisan Sang Prabu
Penghias megahnya kotamu
Aku tahu!

Jangan bimbang jangan ragu
Tatap kenali aku
Aku ada menatapmu
Dari lorong lorong waktu
Sekadar membawamu
Pada jejak masa lalu
(Karadenan, 05 Mei 2017)

PUSAKA SILIWANGI
Karya : Neneng Hendriyani
Disini di tanah ini pusaka berada
Titipan leluhur tuk seluruh negeri
Bogor nan makmur,
Bogor nan bersahaja
Bogor molek berseri berganti rupa

Disini di tanah ini Siliwangi memberi
Pusaka keramat yang harus di rawat
Sunda prayoga, tohaga, sayaga
Semangat juang tertanam di dada tua muda
Tuk bangun, bangkit bersama
Bogor jaya, Bogor perkasa

Disini di tanah ini
Pusaka dijaga
Titah Raja, titah Maha Kuasa
Bersatu berbakti tuk negeri
Tiada ingkar tiada lupa
Bogor nan makmur
Bogor berjaya
Kini dan nanti hingga anak cucu kita
(Karadenan, 05 Mei 2017)

EDI YOSO MARTADIPURA
Karya : Neneng Hendriyani
Disini kau berdiri
Berseragam putih berseri
Menatap lembut
Menyapa hangat
Menggenggam erat
Tak hanya pejabat

Disini berpuluh tahun lalu
Kau ada, berdiri dedapanku
Kobarkan semangat dalam dada
Menggebu, merangkai asa

Ya, disini kau dulu ada
Berjabat denganku sekadar menyapa
Hendak jadi apa besar nanti
Tengoklah aku nanti tiada
Jaksa pun berganti tak hanya aparatur negara

Hendak jadi apa besar nanti ulangnya?
Malu-malu aku menjawab
Hendak menjadi seperti dirimu
Wahai Bapak Edi Yoso Martadipura
(Karadenan, 02 Mei 2017)

SMK NEGERI 1 CIBINONG
Karya : Neneng Hendriyani

Tahun baru berganti
Milenium baru membumi
Cahyanya masih berpijar
Keperakan di kaki fajar
Saat ku lihat ia datang
Membawa papan terang benderang
Bersukacita seluruh warga
Bergemuruh sorak sorai membahana
Di karadenan ada es em ka

Ini bukan yang pertama, Kawan!
Di Gunung Putri saudara tua
Ini adik paling dicinta
Disini semua diterima
Belajar otomotif juga pe ka
Ai ti juga mesin, semua lengkap tersedia

Tujuh belas tahun sudah usia
Tak lagi balita meski ia masih belia
Semua masih sama hanya berganti nama
Intinya pe ka jadi te ka ka
Otomotif jadi te ka er
Ai ti punya anak tiga; er pe el, te ka je, juga multi media

Tinggal mesin masih setia
Tak ikut berganti nama
Inilah adik paling dicinta
SMK Milenium dulu namanya
Kini berganti nama
Satu cibinong tetap jaya!
(Karadenan, 05 Mei 2017)

AKU BUKAN PRIBUMI
Karya : Neneng Hendriyani

Aku bukan pribumi
Meski aku lahir besar disini

Aku bukan pribumi
Meski kakek buyutku mati disini
Lihat aku, apa aku pribumi?
Mataku sipit, kulitku terang

Hoi, kau yang disana!
Sering kau bilang aku bukan pribumi
Padahal aku ikut berjuang

Kau bilang aku tak sama
Hanya karena mata kita beda

Lagi, kau teriak: aku bukan pribumi
Meski kakek buyutku memilih makamnya disini
Di belakang pasar, di tepi setu
Di tempat biasa kau lalu
Selepas belanja lauk pauk

Aku tak tahu
Aku hanya tahu
Setiap senin aku bersepatu, berbaris dan bernyanyi
bersamamu
Indonesia Raya juga laguku
Setidaknya itu yang ku tahu
Indonesia tumpah darahku!
Cibinong tempat nenek moyangku!
(Karadenan, 05 Mei 2017)

STADION PACIRA
Karya : Neneng Hendriyani, M.Pd

Awal aku membaca
Aneh namamu di telinga
Stadion besar nan megah
Di tengah ibu kota

Pacira, ya pacira
Entah apa artinya
Hanya singkatan belaka
Apa punya makna?

Pakansari Cibinong Raya
Singkat nian ternyata
Nama tempat dimana kau ada
Disingkat PACIRA
(Karadenan, 05 Mei 2017)

PUISI ESAI MEREKAM ISU SOSIAL MASYARAKAT

Oleh Neneng Hendriyani

Sejak kemunculannya yang begitu menyedot perhatian dunia sastra Indonesia pada tahun 2017, banyak pihak diam-diam mulai berpikir serius tentang kelebihan dan kekurangan puisi esai. Salah satu poin yang sering dibidik oleh para praktisi sastra adalah apakah puisi yang ditulis dalam bentuk esai itu mampu menyampaikan apa yang benar-benar dan sedang terjadi di masyarakat Indonesia dalam bahasa puisi yang sudah lazim digunakan selama ini.

Apakah masyarakat benar-benar memahami puisi esai tersebut dengan mudah seperti yang diharapkan sang penggagasnya, yaitu Denny JA? Apakah unsur-unsur puisi yang umum ditemukan pada angkatan 45, 66, dan era 2000an masih bisa ditemui di puisi esai tersebut? Apakah semua kalangan masyarakat, penyair maupun bukan penyair, dapat membuat puisi esai yang memotret kondisi batin dan isu sosial yang krusial terjadi saat ini? Serta bagaimana puisi esai mampu menjalankan salah satu fungsinya sebagai alat potret kondisi batin dan isu sosial yang krusial terjadi di masyarakat pada suatu masa? Tulisan ini disusun berdasarkan pengamatan penulis terhadap lima pertanyaan yang paling sering muncul di atas.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis selama ini apa yang disampaikan oleh Denny JA dalam bukunya Memotret Batin dan Isu Sosial Melalui Puisi Esai (2017) adalah benar. Artinya, tidak semua masyarakat mampu memaknai puisi yang dihasilkan oleh angkatan 45, 66, 98, dan 2000an dengan baik. Tidak semua generasi muda akrab dengan puisi Chairil Anwar atau Sutardji Calzoum Bahri. Mereka lebih akrab dengan dunia film ketimbang puisi. Mengapa demikian? Hal ini karena tidak semua orang mampu menikmati keindahan kata yang disuguhkan oleh sebuah puisi dan menarik pesannya baik yang tersirat maupun tersurat dengan baik. Sementara film lebih mudah dinikmati dan dicerna pesan moralnya.

Selain itu, puisi yang dihasilkan oleh para pujangga tersebut memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya terletak pada pesan dan makna puisi yang tidak mudah dicerna dalam sekali baca oleh pembacanya. Bagi mereka yang tidak mendalami pendidikan sastra membaca puisi Aku karya Chairil Anwar umumnya dilakukan sambil lalu saja. Tak sedikit pembaca yang beranggapan bahwa Chairil adalah seorang atheis setelah membaca puisi tersebut. Pandangan mereka tidak bisa disalahkan dengan serta merta. Mereka menemukan kata “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Makna kalimat tersebut menggambarkan keserakahan Chairil dalam memandang isi dunia. Hal itulah yang mendorong ia lantang menyuarakan keinginannya untuk hidup seribu tahun lagi.

Bagi para penikmat sastra yang berasal dari dunia sastra yang setiap harinya digojlok ilmu sastra pastilah tidak setuju dengan pendapat di atas. Mereka akan mencari puisi Chairil lainnya. Setelah itu baru menyimpulkan apa yang sebenarnya hendak disampaikan olehnya melalui puisi tersebut. Proses mencari puisi lainnya ini untuk menguatkan pendapat mereka bahwa Chairil bukanlah atheis.

Itu baru satu contoh puisi yang diambil. Bagaimana bila kita mengambil contoh puisi karya Goenawan Mohamad dan Sutardji Calzoum Bachri yang banyak menggunakan bahasa figuratif? Pasti tak mudah bagi orang awam, bukan? Nah, di sinilah puisi esai itu menjadi salah satu solusi bagi mereka yang ingin mengutarakan ide, dan perasaannya dalam bentuk yang indah dan lugas. Sebuah jenis tulisan sastra yang tidak perlu mengernyitkan dahi untuk menikmatinya. Sangat simple. Saking simplenya siapapun dapat membuatnya.

Tentu saja setelah banyak membaca referensi yang berhubungan dengan apa yang akan ditulisnya. Hal ini disebabkan wawasan penulis puisi esai itu haruslah luas dan didukung oleh bukti. Bukti di sini dapat diambil dari media massa daring maupun luring. Fungsi bukti di sini adalah sebagai penguat atas apa yang hendak disampaikan dalam puisi esai tersebut. Karena fungsinya sebagai penguat atau bukti maka diperlukanlah catatan kaki dalam puisi ini. Mirip dengan tatacara penulisan esai pada umumnya. Bedanya hanya terletak pada kosa kata dan jenis bahasa yang digunakan. Dalam esai yang sudah kita kenal sebelumnya, bahasa yang digunakan adalah bahasa baku dengan aturan penulisan formal. Di dalam puisi esai ini tidak perlu bahasa baku. Prinsipnya, selama orang yang membacanya paham maksud penulis, maka itu sudah boleh digunakan. Keluwesan bahasa inilah yang membuat masyarakat benar-benar memahami isi puisi esai tersebut dengan mudah.

Unsur puisi seperti kata, larik, bait, bunyi dan makna meskipun tidak sejelas di dalam jenis puisi pujangga lama, pujangga baru, dan kontemporer tetap ada dan digunakan dalam jenis puisi esai. Hal ini membuat para penikmat puisi tetap bisa menikmatinya. Pun, masyarakat awam yang tak paham benar dengan aturan njelimet sebuah puisi dapat tetap membaca dan menikmatinya dengan riang.

Berangkat dari penjelasan singkat di atas maka penulis yakin semua kalangan masyarakat, penyair maupun bukan penyair, dapat membuat puisi esai dengan mudahnya. Berbagai isu sosial, ekonomi, politik, budaya, dan pertahanan keamanan negara dapat dijadikan bahan penulisan puisi esai. Dari beragam berita yang seliweran di televisi setiap pagi, seorang anak SMA bisa dengan mudah membuat puisi esai di sekolahnya. Informasi yang didapatnya sebelum berangkat sekolah dari siaran berita televisi itulah yang membantunya mengembangkan imajinasinya untuk menulis seluruh keresahan batinnya mengenai isu hangat tersebut. Dengan pengetahuannya yang terbatas mengenai bahasa figuratif ia tetap bisa menghasilkan puisi yang indah dalam bentuk esai.

Begitu pula dengan seorang mahasiswa sosial politik semester lima misalnya. Ia dapat membuat puisi esai setelah menyaksikan debat calon presiden dan wakil presiden di televisi. Pengetahuan dasarnya mengenai politik yang diperolehnya di kampus, ditambah ilmu pengetahuan dan informasi yang diserapnya setelah menyaksikan siaran debat tadi memperkaya kosa katanya dalam menulis puisi esai. Sekalipun ia bukan mahasiswa jurusan sastra ia dapat mencurahkan hasil analisisnya mengenai nasib bangsa bila calon A terpilih menjadi presiden nantinya tentu saja dengan menggunakan bahasa puisi sederhana dalam bentuk puisi esai. Semua orang yang membaca hasil karyanya dapat langsung mengetahui tujuan penulisan puisi tersebut. Sungguh sebuah kegiatan yang dapat menghemat tenaga, waktu, dan biaya karena bisa dilakukan dengan instan tanpa perlu membuka kamus dan terlibat diskusi panjang dengan sesama pembacanya.

Dari gambaran di atas maka puisi esai tentu saja mampu menjalankan salah satu fungsinya sebagai alat potret kondisi batin dan isu sosial yang krusial terjadi di masyarakat dengan baik. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan melalui puisi esai penulis dapat dengan mudah menyampaikan seluruh hal yang dirasakan batinnya sesaat setelah mengetahui atau bahkan mengalami kejadian penting yang terjadi di lingkungannya, baik di desa maupun di kota di seluruh wilayah Indonesia.

EsaiKU di atas dapat ditemui dalam ANTOLOGI 50 OPINI PUISI ESAI INDONESIA (ISBN 978-602-5896-25-5), 2018: 161-165.