SENANDUNG RINDU: BOGORKU, BOGORMU, BOGOR KITA: MEMAKNAI BOGOR MELALUI PUISI

Ini adalah antologi puisi yang ditulis oleh guru KPLJ Bogor. Di antaranya ada yang mengajar di SD, SMP, SMA, dan SMK. Tema yang diangkat dalam buku ini adalah segala sesuatu tentang Bogor; kuliner, budaya, sejarah, dan wisata.

BOGOR DAHULU KALA
Karya : Neneng Hendriyani

Bogor dahulu kala
Pajajaran berkuasa
Siliwangi Raja Diraja
Sosok penuh wibawa
Santun, Bersahaja, Gagah perwira,
pelindung dan pengayom jiwa
Tanah Sunda Berjaya
Seantero nusantara
Lewati masa demi masa

Bogor dahulu kala
Hijau makmur sentosa
Petani kaya raya
Semua bahagia
Tak ada tangis derita

Bogor dahulu kala
Tempat meneer bersuka cita
Berdendang berdansa
Tak jauh dari batavia

Bogor dahulu kala
Istana tak hanya rumah penguasa
Rakyat bebas bersua dan bersuara
Cerita tentang lara duka nestapa

Bogor dahulu kala
Di sini aku bercerita
Tentang asa dan cinta
Tuk bogor slalu jaya slamanya
(Karadenan, 02 Mei 2017)

MAKAM DI KEBUN RAYA
Karya : Neneng Hendriyani

Kawan, tahukah kau
di tengah kotaku ada taman
Taman nan unik, indah dan sejuk
Tempat rehat jiwa yang lelah
Tempat menyepi jiwa yang sepi
Tempat cerita jiwa yang bahagia
Bersama disana berdendang bercerita
Di bawah rimbunnya pepohonan raksasa

Kawan, tahukah kau
Di tengah taman ini ada pusaka
Tanda mata ditinggal masa
Belahan jiwa sang penguasa
Belahan hati sang empunya cerita
Banyak pula orang berjasa

Mereka ada sebagai tanda
Di suatu masa pernah berjaya
Memeluk cita demi sunda
Merajut kasih demi tugas negara
Mereka enggan kembali
Memilih abadi di sini
Di bumi Siliwangi

Mereka cinta bumi pertiwi
Meski kini ganti nama
Ganti pula penguasa
Mereka tetap ada
Ditengah taman raya
Bernama dan tak bernama
Menjadi saksi berkembangnya kota
(Karadenan, 02 Mei 2017)

AKULAH MAUNG PAJAJARAN
Karya : Neneng Hendriyani

Akulah Maung Pajajaran
Berdiri tegak di depan kantor praja
Simbol utama keberanian dan semangat
Berdiri tegak menantang
Pantang pulang sebelum menang
Pantang kalah sebelum perang
Tak hilang lekang di makan zaman
Akulah Maung Pajajaran
Putih jiwaku
Merah darahku
Setia selalu tuk mu
Berdiri tegak menantang
Pantang pulang sebelum menang
Pantang kalah sebelum perang
Tak hilang lekang di makan zaman
Kerana akulah Maung Pajajaran
(Karadenan, 02 Mei 2017)

DI TUNGGUL KAWUNG
Karya : Neneng Hendriyani
Di tunggul kawung Aku berdiri
Menatap mega menantang mentari
Bersimbah keringat bermandi cahya
Ditengah terik kota
Ku menanti

Di tunggul kawung Aku berdiri
Tegak bersama ribuan anak negeri
Bersumpah tuk tetap disini
Setia bersama hingga mati

Tak kan goyah aku berpijak
Tak kan lemah aku memihak
Padamu aku berjanji
Bersama ribuan anak negeri
Tegak berdiri di tunggul kawung hingga nanti
Engkau pergi tak kembali
(Karadenan, 05 Mei 2017)

JEJAK MASA LALU
Karya : Neneng Hendriyani

Jangan bilang kau tak tahu
Palagi tak mau tahu
Tataplah aku, lihat dan kenali diriku
Kita ada di tempat yang sama
Meski masa telah berbeda

Aku ada sejak dulu berdiri menatapmu
Menunggang kuda berlari berlomba
Dengan mesin ribuan kilo jelajah waktu
Di sirkuit tempat ku dulu berpacu

Aku masih disini menatapmu
Bersandar di kursi malas menunggu
Hangat mentari malu mencumbu
Tak henti manjakanmu
Bagai bayi mencari sang ibu

Dan Kau! Jangan bilang kau tak tahu
Siapa yang membangun kotamu
Tunggul kawung, pakuan tempo dulu
Situ Cikaret di tepi P-U
Situ Kibing di Pabuaran aku tahu
Masa kau tak tahu!

Malulah jika masih berulah
Laksana kura dalam perahu
Kujang sakti warisan Sang Prabu
Penghias megahnya kotamu
Aku tahu!

Jangan bimbang jangan ragu
Tatap kenali aku
Aku ada menatapmu
Dari lorong lorong waktu
Sekadar membawamu
Pada jejak masa lalu
(Karadenan, 05 Mei 2017)

PUSAKA SILIWANGI
Karya : Neneng Hendriyani
Disini di tanah ini pusaka berada
Titipan leluhur tuk seluruh negeri
Bogor nan makmur,
Bogor nan bersahaja
Bogor molek berseri berganti rupa

Disini di tanah ini Siliwangi memberi
Pusaka keramat yang harus di rawat
Sunda prayoga, tohaga, sayaga
Semangat juang tertanam di dada tua muda
Tuk bangun, bangkit bersama
Bogor jaya, Bogor perkasa

Disini di tanah ini
Pusaka dijaga
Titah Raja, titah Maha Kuasa
Bersatu berbakti tuk negeri
Tiada ingkar tiada lupa
Bogor nan makmur
Bogor berjaya
Kini dan nanti hingga anak cucu kita
(Karadenan, 05 Mei 2017)

EDI YOSO MARTADIPURA
Karya : Neneng Hendriyani
Disini kau berdiri
Berseragam putih berseri
Menatap lembut
Menyapa hangat
Menggenggam erat
Tak hanya pejabat

Disini berpuluh tahun lalu
Kau ada, berdiri dedapanku
Kobarkan semangat dalam dada
Menggebu, merangkai asa

Ya, disini kau dulu ada
Berjabat denganku sekadar menyapa
Hendak jadi apa besar nanti
Tengoklah aku nanti tiada
Jaksa pun berganti tak hanya aparatur negara

Hendak jadi apa besar nanti ulangnya?
Malu-malu aku menjawab
Hendak menjadi seperti dirimu
Wahai Bapak Edi Yoso Martadipura
(Karadenan, 02 Mei 2017)

SMK NEGERI 1 CIBINONG
Karya : Neneng Hendriyani

Tahun baru berganti
Milenium baru membumi
Cahyanya masih berpijar
Keperakan di kaki fajar
Saat ku lihat ia datang
Membawa papan terang benderang
Bersukacita seluruh warga
Bergemuruh sorak sorai membahana
Di karadenan ada es em ka

Ini bukan yang pertama, Kawan!
Di Gunung Putri saudara tua
Ini adik paling dicinta
Disini semua diterima
Belajar otomotif juga pe ka
Ai ti juga mesin, semua lengkap tersedia

Tujuh belas tahun sudah usia
Tak lagi balita meski ia masih belia
Semua masih sama hanya berganti nama
Intinya pe ka jadi te ka ka
Otomotif jadi te ka er
Ai ti punya anak tiga; er pe el, te ka je, juga multi media

Tinggal mesin masih setia
Tak ikut berganti nama
Inilah adik paling dicinta
SMK Milenium dulu namanya
Kini berganti nama
Satu cibinong tetap jaya!
(Karadenan, 05 Mei 2017)

AKU BUKAN PRIBUMI
Karya : Neneng Hendriyani

Aku bukan pribumi
Meski aku lahir besar disini

Aku bukan pribumi
Meski kakek buyutku mati disini
Lihat aku, apa aku pribumi?
Mataku sipit, kulitku terang

Hoi, kau yang disana!
Sering kau bilang aku bukan pribumi
Padahal aku ikut berjuang

Kau bilang aku tak sama
Hanya karena mata kita beda

Lagi, kau teriak: aku bukan pribumi
Meski kakek buyutku memilih makamnya disini
Di belakang pasar, di tepi setu
Di tempat biasa kau lalu
Selepas belanja lauk pauk

Aku tak tahu
Aku hanya tahu
Setiap senin aku bersepatu, berbaris dan bernyanyi
bersamamu
Indonesia Raya juga laguku
Setidaknya itu yang ku tahu
Indonesia tumpah darahku!
Cibinong tempat nenek moyangku!
(Karadenan, 05 Mei 2017)

STADION PACIRA
Karya : Neneng Hendriyani, M.Pd

Awal aku membaca
Aneh namamu di telinga
Stadion besar nan megah
Di tengah ibu kota

Pacira, ya pacira
Entah apa artinya
Hanya singkatan belaka
Apa punya makna?

Pakansari Cibinong Raya
Singkat nian ternyata
Nama tempat dimana kau ada
Disingkat PACIRA
(Karadenan, 05 Mei 2017)

PUISI ESAI MEREKAM ISU SOSIAL MASYARAKAT

Oleh Neneng Hendriyani

Sejak kemunculannya yang begitu menyedot perhatian dunia sastra Indonesia pada tahun 2017, banyak pihak diam-diam mulai berpikir serius tentang kelebihan dan kekurangan puisi esai. Salah satu poin yang sering dibidik oleh para praktisi sastra adalah apakah puisi yang ditulis dalam bentuk esai itu mampu menyampaikan apa yang benar-benar dan sedang terjadi di masyarakat Indonesia dalam bahasa puisi yang sudah lazim digunakan selama ini.

Apakah masyarakat benar-benar memahami puisi esai tersebut dengan mudah seperti yang diharapkan sang penggagasnya, yaitu Denny JA? Apakah unsur-unsur puisi yang umum ditemukan pada angkatan 45, 66, dan era 2000an masih bisa ditemui di puisi esai tersebut? Apakah semua kalangan masyarakat, penyair maupun bukan penyair, dapat membuat puisi esai yang memotret kondisi batin dan isu sosial yang krusial terjadi saat ini? Serta bagaimana puisi esai mampu menjalankan salah satu fungsinya sebagai alat potret kondisi batin dan isu sosial yang krusial terjadi di masyarakat pada suatu masa? Tulisan ini disusun berdasarkan pengamatan penulis terhadap lima pertanyaan yang paling sering muncul di atas.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis selama ini apa yang disampaikan oleh Denny JA dalam bukunya Memotret Batin dan Isu Sosial Melalui Puisi Esai (2017) adalah benar. Artinya, tidak semua masyarakat mampu memaknai puisi yang dihasilkan oleh angkatan 45, 66, 98, dan 2000an dengan baik. Tidak semua generasi muda akrab dengan puisi Chairil Anwar atau Sutardji Calzoum Bahri. Mereka lebih akrab dengan dunia film ketimbang puisi. Mengapa demikian? Hal ini karena tidak semua orang mampu menikmati keindahan kata yang disuguhkan oleh sebuah puisi dan menarik pesannya baik yang tersirat maupun tersurat dengan baik. Sementara film lebih mudah dinikmati dan dicerna pesan moralnya.

Selain itu, puisi yang dihasilkan oleh para pujangga tersebut memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya terletak pada pesan dan makna puisi yang tidak mudah dicerna dalam sekali baca oleh pembacanya. Bagi mereka yang tidak mendalami pendidikan sastra membaca puisi Aku karya Chairil Anwar umumnya dilakukan sambil lalu saja. Tak sedikit pembaca yang beranggapan bahwa Chairil adalah seorang atheis setelah membaca puisi tersebut. Pandangan mereka tidak bisa disalahkan dengan serta merta. Mereka menemukan kata “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Makna kalimat tersebut menggambarkan keserakahan Chairil dalam memandang isi dunia. Hal itulah yang mendorong ia lantang menyuarakan keinginannya untuk hidup seribu tahun lagi.

Bagi para penikmat sastra yang berasal dari dunia sastra yang setiap harinya digojlok ilmu sastra pastilah tidak setuju dengan pendapat di atas. Mereka akan mencari puisi Chairil lainnya. Setelah itu baru menyimpulkan apa yang sebenarnya hendak disampaikan olehnya melalui puisi tersebut. Proses mencari puisi lainnya ini untuk menguatkan pendapat mereka bahwa Chairil bukanlah atheis.

Itu baru satu contoh puisi yang diambil. Bagaimana bila kita mengambil contoh puisi karya Goenawan Mohamad dan Sutardji Calzoum Bachri yang banyak menggunakan bahasa figuratif? Pasti tak mudah bagi orang awam, bukan? Nah, di sinilah puisi esai itu menjadi salah satu solusi bagi mereka yang ingin mengutarakan ide, dan perasaannya dalam bentuk yang indah dan lugas. Sebuah jenis tulisan sastra yang tidak perlu mengernyitkan dahi untuk menikmatinya. Sangat simple. Saking simplenya siapapun dapat membuatnya.

Tentu saja setelah banyak membaca referensi yang berhubungan dengan apa yang akan ditulisnya. Hal ini disebabkan wawasan penulis puisi esai itu haruslah luas dan didukung oleh bukti. Bukti di sini dapat diambil dari media massa daring maupun luring. Fungsi bukti di sini adalah sebagai penguat atas apa yang hendak disampaikan dalam puisi esai tersebut. Karena fungsinya sebagai penguat atau bukti maka diperlukanlah catatan kaki dalam puisi ini. Mirip dengan tatacara penulisan esai pada umumnya. Bedanya hanya terletak pada kosa kata dan jenis bahasa yang digunakan. Dalam esai yang sudah kita kenal sebelumnya, bahasa yang digunakan adalah bahasa baku dengan aturan penulisan formal. Di dalam puisi esai ini tidak perlu bahasa baku. Prinsipnya, selama orang yang membacanya paham maksud penulis, maka itu sudah boleh digunakan. Keluwesan bahasa inilah yang membuat masyarakat benar-benar memahami isi puisi esai tersebut dengan mudah.

Unsur puisi seperti kata, larik, bait, bunyi dan makna meskipun tidak sejelas di dalam jenis puisi pujangga lama, pujangga baru, dan kontemporer tetap ada dan digunakan dalam jenis puisi esai. Hal ini membuat para penikmat puisi tetap bisa menikmatinya. Pun, masyarakat awam yang tak paham benar dengan aturan njelimet sebuah puisi dapat tetap membaca dan menikmatinya dengan riang.

Berangkat dari penjelasan singkat di atas maka penulis yakin semua kalangan masyarakat, penyair maupun bukan penyair, dapat membuat puisi esai dengan mudahnya. Berbagai isu sosial, ekonomi, politik, budaya, dan pertahanan keamanan negara dapat dijadikan bahan penulisan puisi esai. Dari beragam berita yang seliweran di televisi setiap pagi, seorang anak SMA bisa dengan mudah membuat puisi esai di sekolahnya. Informasi yang didapatnya sebelum berangkat sekolah dari siaran berita televisi itulah yang membantunya mengembangkan imajinasinya untuk menulis seluruh keresahan batinnya mengenai isu hangat tersebut. Dengan pengetahuannya yang terbatas mengenai bahasa figuratif ia tetap bisa menghasilkan puisi yang indah dalam bentuk esai.

Begitu pula dengan seorang mahasiswa sosial politik semester lima misalnya. Ia dapat membuat puisi esai setelah menyaksikan debat calon presiden dan wakil presiden di televisi. Pengetahuan dasarnya mengenai politik yang diperolehnya di kampus, ditambah ilmu pengetahuan dan informasi yang diserapnya setelah menyaksikan siaran debat tadi memperkaya kosa katanya dalam menulis puisi esai. Sekalipun ia bukan mahasiswa jurusan sastra ia dapat mencurahkan hasil analisisnya mengenai nasib bangsa bila calon A terpilih menjadi presiden nantinya tentu saja dengan menggunakan bahasa puisi sederhana dalam bentuk puisi esai. Semua orang yang membaca hasil karyanya dapat langsung mengetahui tujuan penulisan puisi tersebut. Sungguh sebuah kegiatan yang dapat menghemat tenaga, waktu, dan biaya karena bisa dilakukan dengan instan tanpa perlu membuka kamus dan terlibat diskusi panjang dengan sesama pembacanya.

Dari gambaran di atas maka puisi esai tentu saja mampu menjalankan salah satu fungsinya sebagai alat potret kondisi batin dan isu sosial yang krusial terjadi di masyarakat dengan baik. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan melalui puisi esai penulis dapat dengan mudah menyampaikan seluruh hal yang dirasakan batinnya sesaat setelah mengetahui atau bahkan mengalami kejadian penting yang terjadi di lingkungannya, baik di desa maupun di kota di seluruh wilayah Indonesia.

EsaiKU di atas dapat ditemui dalam ANTOLOGI 50 OPINI PUISI ESAI INDONESIA (ISBN 978-602-5896-25-5), 2018: 161-165.

MENJADI PEREMPUAN YANG UTAMA!

OLEH NENENG HENDRIYANI

Di zaman yang modern dan serba canggih saat ini menjadi perempuan bukanlah hal yang mudah. Semudah membalikkan telapak tangan atau mendendangkan lagu kenangan. Ada banyak hal yang harus dimiliki. Ada banyak hal yang harus dikuasai; baik terlihat maupun tak terlihat pandangan mata.

Perempuan bukan lagi makhluk lemah yang hanya sekadar bertugas di bidang domestik rumah tangga. Seperti mengandung anak, merawat anak, hingga pekerjaan rumah tangga lainnya. Perempuan kini sudah bermetamorfosis menjadi makhluk yang serba bisa; serba kuat. Meskipun itu tampak pada lahiriahnya saja. Secara batiniah perempuan zaman sekarang tidak jauh berbeda dengan perempuan yang hidup seratus bahkan dua ratus tahun lalu. Ia masih merupakan makhluk yang sentimentil. Ia lebih mengutamakan perasaan daripada nalar dan logika yang dimilikinya. Ia tak pernah segan mengambil keputusan terberat dalam hidupnya hanya dengan mengikuti perasaannya saja. Ia tak pernah ambil pusing apakah perasaannya itu benar atau salah saat itu. Baginya bergerak mengikuti perasaan adalah hal yang benar. Itu adalah hal yang wajar karena perempuan tidak lah sama dengan lelaki.

Lelaki dari tahun ke tahun, dari masa ke masa tidak pernah berubah. Ia tetap sosok maskulin yang lebih mengedepankan nalarnya daripada perasaannya. Ia tetap teguh memegang prinsipnya sekalipun seringkali mengabaikan perasaannya sendiri. Begitulah perbedaan mendasar yang dimiliki keduanya.

Bila dulu perempuan hanyalah sekadar pelengkap kehidupan. Kini ia memainkan peran yang tak kalah pentingnya dengan laki-laki. Sudah banyak yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi sehingga dapat berkarier di perusahaan nasional dan asing. Bahkan, tak sedikit yang memegang jabatan penting di bidang pemerintahan. Hebat bukan? Tentu saja hebat. Coba bandingkan bila dulu perempuan hanya menerima perintah kini ia memberi perintah. Bila dulu ia menjadi pengikut kini ia memiliki pengikut. Bila dulu ia dipilih kini ia berhak memilih. Tak ada lagi sekat yang membedakan posisi antara laki-laki dan perempuan saat ini.

Namun, apakah itu semua sudah menjadikan perempuan sebagai sosok makhluk yang sukses dalam hidupnya? Apakah ia sudah berhasil menjalankan seluruh tugas dan kewajibannya baik menurut pandangan agama, sosial, dan budaya? Terlalu naif bila langsung menjawab “ya”. Perlu kejujuran dan keluasan wawasan untuk bisa menjawab semua persoalan tersebut.

Menjadi perempuan berarti menjadi penerus kehidupan. Begitulah setidaknya agama, sosial, dan budaya memandangnya. Hal ini tidaklah berlebihan. Bukankah perempuan memang difasilitasi semua kemampuan untuk melahirkan keturunan baru yang siap menjadi khalifatul ardhi? Selain itu ia pun dibekali kemampuan untuk mengelola perasaannya yang halus sebagai bekalnya dalam merawat tumbuh kembang keturunannya tersebut.

Sebagai penerus kehidupan, perempuan acap kali dipandang sebagai mesin reproduksi semata. Inilah yang membuat perempuan masa kini enggan mengakuinya. Coba saja tengok kenyataan di sekeliling. Berapa banyak perempuan yang malas hamil, malas menyusui, malas merawat buah hatinya sendiri? Mengapa mereka enggan melakukannya? Hal ini dikarenakan stigma yang diterima mereka membuat mereka malu. Pekerjaan tersebut menjadi tidak bernilai tinggi dan mulia lagi. Tugas merawat anak bukan lagi tugas yang memiliki prestige tinggi. Jadi, banyak yang menolak melakukannya.

Mereka yang bekerja di kantoran dan memiliki posisi tinggi di kantor lebih memilih menunda pernikahannya. Mereka melakukannya dengan kesadaran yang cukup tinggi. Mereka merasa sayang bila pekerjaannya tersebut terganggu dengan berbagai urusan rumah tangga yang remeh temeh. Mereka takut semua urusan tersebut menghambat kemajuan kariernya. Jadi, daripada terlanjur terjebak dalam kehidupan pernikahan yang dapat menghambat kemajuan kariernya mereka memilih hidup membujang.

Ketakutan di atas juga dialami oleh perempuan yang telah menikah dan bekerja. Akibatnya banyak yang menunda kehamilannya dengan menggunakan berbagai macam metode dan usaha. Pernikahan hanya dipandang sebagai status saja. Hal ini agar mereka terhindar dari ejekan sarkasme seperti “jones alias jomblo ngenes, atau ga laku.”

Sungguh tak mudah menjalani tugas sebagai penerus kehidupan. Perlu kesadaran yang luar biasa dari perempuan itu sendiri. Tingkat pendidikan dan wawasannya turut berperan aktif dalam membantunya memahami tugas utama tersebut.
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat membantu perempuan agar menjadi perempuan utama yang dapat menjalankan seluruh tugas dan tanggung jawabnya termasuk sebagai penerus kehidupan. Pertama adalah kesadaran akan posisinya sebagai perempuan. Perempuan yang baik adalah ia yang memahami kodrat kewanitaannya yang tak bisa lepas dari tugasnya sebagai penerus kehidupan. Sebagai perempuan ia harus menerima takdir biologisnya. Ia tak boleh mengeluh bila harus sakit saat menghadapi menstruasi, kehamilan, hingga proses kelahiran tiba. Ia pun tak boleh menyerah saat harus berjuang memberikan ASI kepada bayinya hingga usia 2 tahun.

Kedua adalah penerimaan akan posisinya di tengah keluarga. Ia harus siap menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang perempuan yang bersuami. Ia harus dapat menjalankan beberapa peran sekaligus dalam hidupnya berumah tangga. Ia harus pandai berperan sebagai istri dan teman bagi suaminya. Sekaligus berperan sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya. Ia tidak boleh membiarkan siapapun menggantikan perannya tersebut. Ia harus menjaga agar rumah tangganya tetap berjalan sesuai dengan harapannya dan seluruh keluarga besarnya.

Ketiga, ia harus siap berjibaku memberikan pelayanan dan pengabdian yang tiada tara bagi suami dan anak-anaknya. Hal ini agar suami dan anak-anaknya tidak kehilangan dirinya baik secara fisik maupun batin. Jangan membiarkan anak-anak tumbuh dan berkembang tanpa kehadirannya. Jangan menyerahkan semua hal yang berkaitan dengan anak-anak ke asisten rumah tangga atau pengasuhnya. Jangan biarkan ikatan (bonding) antara anak dan pengasuh tercipta dan lebih erat daripada ikatan ibu dan anak. Berilah waktu yang efektif dan efisien yang dapat dihabiskan bersama anak-anak. Sempatkanlah diri dalam bercengkrama dengan mereka sehingga ikatan ibu dan anak dapat tumbuh secara alamiah dan menyenangkan.

Keempat, hilangkanlah perasaan negatif yang berkaitan dengan karier. Tiupkanlah keyakinan ke dalam lubuk hati bahwa dengan menjadi ibu yang hebat dan istri yang hebat, karier di kantor juga akan hebat. Tutup semua telinga dari mendengarkan pernyataan buruk lingkungan kerja yang tidak mendukung profesi sebagai ibu. Bertemanlah dengan sesama perempuan yang menjadi ibu. Saling mendukung di antara sesama perempuan yang menjadi ibu adalah hal yang baik dan menyehatkan mental.

Kelima, tetaplah menjadi perempuan yang serba bisa baik di rumah maupun di luar rumah. Kerjakan semua pekerjaan rumah yang berkaitan dengan kemampuan sebagai wanita dengan perasaan riang. Latihlah keterampilan menjahit, merenda, mencuci, merapikan rumah, dan memasak. Jangan serahkan semua pekerjaan tersebut kepada orang lain sekalipun mampu membayarnya. Pekerjaan yang dilakukan sendiri hasilnya tentu berbeda baik dari kepuasan batin maupun kerapihannya. Jangan putus asa jika mengalami kesulitan saat melakukannya. Dengan banyak berlatih lambat laun semua akan menjadi biasa dan handal. Keluarga pun akan merasa lebih bahagia dan sangat dihormati bila semua makanan yang disantapnya adalah buatan ibunya sendiri.

Tetap keluarkanlah kemampuan terbaik saat bekerja di luar rumah. Profesionalitas tetaplah dijunjung tinggi. Jangan menjadikan pekerjaan rumah sebagai alasan saat prestasi kerja di kantor menurun. Cobalah untuk fair (jujur) terhadap diri sendiri. Bila mengerjakan segala sesuatu yang disukai tentulah hasilnya akan lebih baik dan sempurna. Maka, hindarilah mengerjakan yang tidak disukai. Perbanyaklah melakukan yang disukai. Dengan demikian semakin banyaklah aura positif yang diterima jiwa. Ini akan sangat baik bagi kesehatan tubuh dan jiwa.

Dengan melakukan seluruh uraian di atas tanpa sadar sebagai perempuan kita telah melaksanakan tugas utama di dunia ini. Yaitu penerus kehidupan dan penjaga kehidupan. Hal ini selaras dengan cita-cita Raden Dewi Sartika pada abad ke 18 lalu. Perempuan haruslah berdiri dengan mandiri, berdikari di sisi laki-laki dengan menjadi istri yang utama. Istri yang serba bisa dalam menjalankan tugas dan perannya baik di dalam rumah tangga maupun di luar rumah tangga.


Esai di atas adalah karyaku yang masuk ke buku antologi MENGHIDUPKAN RUH DEWI SARTIKA DALAM JIWA PARA GURU (SERI ESAI) (ISBN 978-602-5434-21-1) 2017:95-101.

WAHAI PUTRIKU

Oleh: Neneng Hendriyani, M.Pd

Wahai putriku
Kenalkah kau padaku?
Aku lahir di Cicalengka, 4 Desember 1884 lalu
Jauh sebelum Kartini ada
Jauh sebelum negeri ini merdeka
Bahkan jauh sebelum kau punya nama

Tahukah kau siapa aku?
Aku anak bupati yang ternama
Ayahku Raden Rangga Somanagara
Ibuku R.A. Rajapermas
Ayahku di buang Belanda
Ibuku ikut serta
Tinggalkan aku dan para saudara
Ikut paman ke Tasikmalaya
Hingga ayahku tiada

Kenalkah kau padaku
Wanita sederhana berbalut kebaya
Dengan konde khas tatar Sunda
Senang bermain drama
Di halaman pendopo ibukota
Menjadi guru mencari siswa
Mengajar menulis juga membaca
Dengan alat yang serba sederhana
Hingga suatu masa ku bangun sekolah

Sekolahku sekolah pertama
Di sini di tanah Hindia Belanda
Bukan ‘tuk semua
Cuma untuk anak wanita

Kuajari mereka tulis baca
Basa Sunda juga bahasa Belanda
Merajut, menjahit, merenda
Memasak, mencuci hingga semua bisa
Tak ada yang terlupa

Aku ingin kaumkku maju
Bukan untuk menjadi nomer satu
Apalagi menjadi Ratu

Aku ingin kaumku mandiri
Bisa tegak berdiri sejajar saling mengisi
Bukan untuk menyaingi
Tapi menyiapkan generasi demi generasi

Bila kaumku pintar
Sudah pasti generasi berikutnya pintar
Bila kaumku baik pasti lahir generasi baru yang baik
Begitu seterusnya
Begitu yang ku mau
Begitu usahaku
Hingga ajal menjemputku; 11 September 1947

Wahai putriku
Kini kau tahu siapa aku
Cam ‘kan nasihatku:
Jangan lagi lupa dan malu
“kita adalah wanita, kita penjaga keutuhan keluarga, kitalah tiang negara, dari kita untuk negara, untuk dunia!”

Puisi ini terdapat dalam buku antologi MENGHIDUPKAN RUH DEWI SARTIKA DALAM JIWA PARA GURU (SERI PUISI), 2017:120. ISBN 978-602-5434-21-1

SEKOLAH ISTRI

Oleh: Neneng Hendriyani, M.Pd

16 Januari 1904
Di pendopo Kabupaten Bogor ia berdiri
Terima 60 putri dari kalangan anak negeri

Bersama Nyi Poerwa dan Nyi Oewit
Jalani sekolah dengan usaha mandiri
Ada membaca dan menulis
Bahasa Belanda juga bahasa pribumi
Ada merenda, merajut, menjahit, memasak hingga mencuci
Lengkap semua dipelajari
Bekal hidup para putri
Bila sudah jadi istri

Puisi ini terdapat dalam buku antologi MENGHIDUPKAN RUH DEWI SARTIKA DALAM JIWA PARA GURU (SERI PUISI), 2017:119. ISBN 978-602-5434-21-1

SEPOTONG BIOGRAFI RADEN DEWI SARTIKA

Empat Desember Delapan Belas Delapan Empat
Tatar Sunda bergembira
Putri jelita lahir sudah
Anak Raden Rangga Somanagara
Bawa cita tinggi mulia
Tuliskan nama, harumkan bangsa

Gadis lugu nan rupawan
Tumbuh ayu kian rupawan
Elok bahasa juga tingkah laku
Asyik bermain peran bersama kawan menjadi guru

Di pendopo kabupaten ia berjibaku
Cerdaskan kaumnya agar berilmu
Bukan untuk menjadi nomer satu
Apalagi menyaingi Sang Ratu*

Ia ingin semua mampu
Dampingi suami sebagai istri
Bukan istri sembarang istri
Tapi istri yang utama
Tak hanya mampu menjaga anak
Tapi jua berdikari mandiri di sisi
Demi keutuhan keluarga
Demi cinta yang hakiki

Dialah ibu sejati
Harum namanya dalam sanubari
Raden Dewi Sartika
‘tuknya kupanjatkan doa

(Karadenan-Cibinong, 3 September 2017)

Puisi ini terdapat dalam buku antologi MENGHIDUPKAN RUH DEWI SARTIKA DALAM JIWA PARA GURU (SERI PUISI), 2017:118. ISBN 978-602-5434-21-1

HUJAN DI MATA AYU

Oleh: Neneng Hendriyani

Tiap hujan turun ia gembira
Di bawah payung hitamnya ia lari ke taman kota
Berdiri menanti ‘tuk kesekian masa
Seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun jantungnya berdansa
Menari di antara kelopak teratai
Lompat sejauh ia bisa ke tepi kolam
Berdiri menyambut seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun, ia kembali hidup
Matanya bersinar berkilat indah laksana kejora
Berkedip terpesona pada bulir air yang jatuh
Di atas daun keladi

Tiap hujan turun, harapannya tumbuh ribuan kali
Tak peduli musim berganti
Tak peduli dingin yang dihadapi
Ia bahagia berlari di bawah payung hitamnya
Berdiri menanti ‘tuk kesekian masa
Seseorang yang entah ada di mana
Tiap hujan turun, ia percaya
Selalu ada cinta yang berlari ke arahnya
(Bogor, 17 Agustus 2018)





Puisi ini adalah karyaku yang berhasil diterbitkan dalam buku antologi A SKYFUL OF RAIN (ANTOLOGI PUISI BANJARBARU’S RAINY DAY LITERARY FESTIVAL 2018) (ISBN 978-602-8414-39-5) Halaman 201.

ATMA YANG TERSESAT

Oleh Neneng Hendriyani

Dalam perjalanan ini atmaku nyasar
Tersesat di antara riuhnya gelombang dan kepakan elang
Nyanyian jiwa makin pelan tak terdengar
Terdampar di antara bebatuan karang hilang tenggelam

Ah, siapa yang pantas disalahkan?
Dia telah beri segala yang Ia miliki tanpa pamrih
Sementara itu atmaku masih jua nyasar meski kidung pujian kulantunkan tiap pagi dan petang
Hilir mudik atmaku tak keruan
Mencari jalan pulang di antara gelapnya persimpangan
Hutan belantara, bukit dan gunung, lembah dan lautan menjadi tempat pelarian
Samsara tak jua berhenti menghadang
Atmaku hilang di telan keraguan

Nun jauh di sana
Pemilik atma masih berdiri
Merentangkan tangan berharap atma datang dalam peluk kedamaian
Sementara itu atmaku masih jua nyasar
Meski kidung pujian kulantunkan tiap pagi dan petang

( Bogor, 4 Maret 2020; 08.53 WIB)


Puisi ini berhasil masuk ke dalam antologi puisi “SEMESTA JIWA (ANTOLOGI PUISI BERTEMA SPIRITUALITAS)” halaman 96, terbit Mei 2020 dengan ISBN 978-623-92348-4-4.

REINKARNASI

Oleh Neneng Hendriyani

REINKARNASI
Oleh: Neneng Hendriyani

Berjalan menyusuri lorong waktu
tatap tajam setiap persinggahan
Mengingat dalam kelam, memandang dalam diam
Jauh di hati, beban kian hilang
Sementara cerita-cerita lama masih beredar dalam biduk kenangan
Meminta haknya tidak dilupakan
Meski tubuh telah berganti, jiwa tetaplah abadi bersama
seluruh cerita di dalamnya

Dalam setiap satu dasawarsa
Terlahir kembali dalam nama yang berbeda
Tubuh yang tak lagi sama dengan jiwa yang serupa
Kembali untuk menapaki lagi jalan-jalan yang pernah
dilalui
Menyempurnakan segala hal yang masih tersisa di kehidupan sebelumnya
Mengubah yang bisa diubah, mencuci yang bisa dicuci
Agar damai semesta, damai juga jiwa

Kembali mengingat dalam kelam, memandang dalam diam
Jauh, nun jauh di hati, beban kian hilang
Sementara cerita-cerita lama masih beredar dalam biduk
kenangan
Meminta haknya ditunaikan
Meski tubuh telah berganti, jiwa tetaplah abadi
Dalam lingkaran reinkarnasi

(Bogor, 4 Maret 2020; 08.43 WIB)


Ini adalah puisi yang berhasil lolos kurasi untuk lomba menulis puisi dengan tema spiritualitas yang diselenggarakan oleh Rumah Semesta (W. Mustika) pada Mei 2020. Judul buku antologi ini adalah SEMESTA JIWA (ANTOLOGI PUISI BERTEMA SPIRITUALITAS)
. ISBN 978-623-92348-4-4. Puisi ini terdapat pada halaman 95.


BERTUALANG KE NEGERI SATWA (KUMPULAN DONGENG FABEL)

ISBN 978-623-7837-05-3

BERTUALANG KE NEGERI SATWA – COVER

Sebagai salah satu mentor menulis cerita fabel aku menulis CACA DAN KAKA (halaman 4-6) di dalam buku ini. Ada 50 guru anggota Komunitas Guru Penulis Jawa Barat (KGPJB) yang menulis cerita fabel. Mereka mengangkat kisah tentang hewan yang disesuaikan dengan daya tangkap dan imajinasi anak-anak. Sebelumnya mereka dibekali dengan pengetahuan mengenai penulisan cerita fabel olehku dan Pak Saiful Amri. Kami bergantian melatih dan mendorong mereka semua agar berani mencoba berkreasi dan keluar dari zona nyamannya sebagai penulis selama ini. Meskipun hanya sedikit yang berprofesi sebagai guru TK dan PAUD karya mereka luar biasa bagus dan bisa digunakan di kelas-kelas TK dan PAUD. Ini sungguh sangat menggembirakan.