LELAKI DI TANGGA SUCI

Kerap kali aku melihat

Lelaki tegap di sana

Mahkotanya tinggi menjulang

Bertabur emas dan pualam

Berdiri memandangku

Tiada pernah ia jemu

Kalungnya panjang

menghias dadanya yang bidang

Sepasang gelang berkepala ular naga

melingkari lengannya

Celana beludru dihias jarik batik berprada emas menyala

Diikatnya kuat dengan lambang wijaya kusuma

Sementara kedua kakinya dihias gelang bulat ksatria

Sebilah keris terselip di pinggangnya

Aku terpesona

Diam-diam ku menatapnya

Ada takut yang kurasa

Ingin lari bila jumpa

 

(Neneng Hendriyani, Bogor, 27 Maret 2018; pernah dipostkan di https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5ab9d9da16835f020e2dbdd4/lelaki-di-tangga-suci)

Karena Cinta

Cinta; satu kata dengan ribuan makna dan kesan. Ini tergantung dari sudut pandang mana ia menilai. Juga dari pengalaman apa ia bernilai. Begitu subjektif. Begitu misterius.

Ada yang menilainya sebagai hal yang sangat indah. Mungkin karena pengalamannya mengatakan bahwa cinta yang ia kenal seindah taman bunga. Banyak bunga mekar dan mewangi di bawah sinar matahari pagi. Banyak kupu-kupu warna warni yang berdansa mengitarinya. Mungkin.

Bagi yang lain bisa jadi cinta itu pahit sepahit empedu. Kisah sedih yang ia alami akibat cinta membuatnya enggan menjumpainya lagi. Bisa jadi itu terjadi di usia yang begitu muda. Bisa pula di usia paruh baya. Who knows. Yang pasti baginya tiada yang lebih menyakitkan selain cinta.

Bagi orang lain lagi cinta bisa jadi sebuah alasan. Alasan yang membuatnya bertahan. Alasan yang memaksanya berjuang. Alasan yang sama yang memintanya percaya bahwa cinta butuh pengorbanan.

Apapun makna dan kesan tentang cinta, itulah cinta. Bagiku ia adalah kekuatan. Tiada yang lebih dapat memompa diri selain cinta. Dengan segala keindahan dan keburukannya, ia ada untuk memotivasi diri agar lebih baik lagi. Dengan segala manis dan pahitnya ia membimbing diri untuk lebih mandiri lagi.

Itulah cinta. Setidaknya karena cintalah aku begini. Menguraikan kata-kata yang bermakna adalah alasan aku memuja cinta.

(Bogor, 23 September 2018)

sila pesan buku ini di https://bit.ly/Bumori53

Estafet Yang Hilang

Beberapa tahun kebelakang semua orang tahu ada di level mana Lembaga ini berada. Semua langsung menunjuknya setiap kali pertanyaan tentang siapa yang terbaik diajukan. Banyaknya prestasi yang berhasil ditorehkan oleh seluruh civitas akademika membuatnya berdiri kokoh tak tergoyahkan sama sekali. Berbagai predikat pun berhasil disandangnya dengan gemilang. Sehingga akhirnya bermuara kepada kebanggaan dan kesejahteraan yang cukup di atas lumayan. Sebuah kebanggaan yang dimiliki seluruh bagian civitas akademikanya.

Tapi, itu dulu. Dulu sekali. Jauh sebelum 2011 tepatnya. Sejak orang itu datang menggantikan pimpinan sebelumnya semuanya berubah drastis. Tak ada lagi kekaguman yang terlihat dan terpancar dari seluruh pengunjungnya. Semua merasa heran sekaligus takjub bagaimana seekor merak yang indah berubah menjadi bebek trondol yang baud an kumuh.

Kenyataan pahit itu masih terus bertambah dari tahun ke tahun pula saat pimpinan baru menunjuk para wakilnya yang jauh dari kompetensi yang seharusnya dimiliki. Benarlah kata Rasul beberapa abad lalu, bila sebuah urusan diberikan kepada orang yang tidak cakap maka kehancuran pasti akan dituainya. Inilah yang terjadi kemudian di Lembaga tersebut.

Dulu mentari terang bersinar dari atapnya. Dulu emas berkilau dari seluruh dindingnya. Hingga semua berlarian mengejar cahayanya. Hingga semua berebutan mencari keberkahan darinya. Kini, berlian pun tak terlihat di atas tanahnya. Entah kemana larinya bongkahan emas dan perak yang dulu menggunung di sekitar halamannya. Tak ada satupun yang tahu tentang itu. Tak ada yang berusaha mencari tahu keberadaannya. Semua dibiarkan begitu adanya.

Ketidakcakapan para pemimpin yang memegang kendali itu semakin diperparah dengan kecenderungan mereka memilih stafnya berdasarkan kedekatan semata. Tak ada yang namanya rotasi, apalagi estafet kepemimpinan. Hasilnya sungguh luar biasa. Ketika seluruh anak macan dari mantan raja sebelumnya itu dilepaskan, hutan yang rindang pun tak lagi berasa seram. Juga tak lagi nyaman untuk jadi tempat tinggal. Binatang-binatang kecil saling berebut kekuasaan. Saling berusaha menjatuhkan, menikam dan menimbulkan kekacauan. Tak ada yang berani mengambil tindakan penyelamatan. Bukan apa-apa. Orang yang bernyali pun sadar diri ia tak punya kekuasaan apa-apa untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Orang yang berilmu pun takut bila maju ancaman sudah menantinya di tiang gantungan. Akhirnya, semua memilih diam. Memilih menonton kegaduhan sambil merapatkan hati, memohon pada Hyang Widhi semoga esok semuanya berganti.

 

(Bogor, 07 Sep. 18 )

GURUKU ARJUNA

Di dalam buku Jangan Pernah Berhenti Mengajar ini banyak sekali ditemukan kisah mengharu biru tentang berbagai latar belakang penulisnya memilih profesi sebagai seorang guru. Sebagai salah satu penulis di dalam buku antologi ini aku pun tak ketinggalan menulis sebuah kisah saat masih duduk di bangku SMA. Kisah ini ditulis dengan judul “GURUKU ARJUNA” (Hal 44-50).

Menjadi siswa kelas 2 SMA saat itu aku merasakan sendiri hebohnya ikut serta dalam kegiatan yang tidak patut dipuji, yaitu meninggalkan kbm bersama-sama dengan teman sekelas. Ya, bolos sekelas tepatnya. Aku sadar sepenuhnya bahwa tindakan tersebut tidak baik. Namun, demi membela pendapat dan hak kami sebagai murid terpaksalah aku ikut serta.

Semua berawal dari ketidakbecusan guru pengganti yang bertugas di seluruh kelas milik guru idola kami. Pola ajarnya yang sangat jauh berbeda, menimbulkan ketidaksukaan seluruh siswa dan banjirnya protes ke meja Kepala Sekolah. Sayang, Ibu Kepala Sekolah saat itu enggan mendengarkan keluh kesah kami. Jadilah bolos bersama itu kami pilih sebagai bentuk demo agar sekolah mengerti apa yang sebenarnya terjadi di kelas-kelas kami.

Singkat cerita, guru idola kami yang sedang berjuang melawan Tuberculosisnya itu terpaksa datang menemui perwakilan kelas yang demo.  Dengan wajah pucat dan seulas senyum manisnya ia berpetuah panjang lebar. Intinya, perbaikilah dirimu dahulu sebelum engkau memperbaiki orang lain. So, petuah itulah yang membawaku ke jalan yang kini ku tapaki. Memperbaiki diriku sendiri sebelum memperbaiki orang lain (siswa).

(Bogor, 02 September 2018)

https://bit.y/Bumori53

Tema: Guru keren Guru Hebat
Guruku Arjuna
Oleh: Neneng Hendriyani, M.Pd
Guru SMK Negeri 1 Cibinong

Dia bukanlah seorang arjuna meskipun ia adalah lelaki yang sempurna. Halus budi bahasanya senantiasa membuat siapapun yang berada di dekatnya merasa tenang dan senang. Tinggi badannya semampai. Kulitnya sawo matang. Matanya sipit dengan hidung yang tak terlalu mancung. Kumis tipis menghias wajahnya yang jarang tersenyum. Namun tetap menawan dipandang. Langkahnya tegap meskipun ia bukan seorang pramugara atau foto model kelas dunia. Dia lah guruku. Guru terhebat sepanjang hidupku.
Kawan, tahukah kau betapa aku mengaguminya. Bukan karena gagah dan tampannya dia. Tapi karena cara mengajarnya yang sangat berbeda dengan kebanyakan guru yang pernah mengajariku di bangku sekolah dulu. Ya, gayanya sangat berbeda. Kebetulan guruku di smp dulu seorang perempuan. Penampilannya rapi, cantik dan sangat menarik. Gaya busananya mirip teller bank di kotaku. Tak ada yang mencemoohkan penampilannya. Ia selalu tampil trendy dan berkelas. Namun sayang di balik penampilan tersebut semua merasa tercekam. Bila ibu guruku dulu datang ke kelasku serempak semua siswa akan diam mematung. Semua menahan napasnya seolah melihat Dewi Hera dalam mitologi Yunani datang menjelma. Tak ada yang berani bercakap-cakap. Tak ada yang berani main mata layaknya anak remaja sedang jatuh cinta. Semua menahan diri. Semuanya takut berbuat salah. Takut bilah penggaris, penghapus atau sisa kapur mencium kening masing-masing. Sehingga meninggalkan tanda kebiru-biruan yang lama hilang. Semua tetap diam di kursi masing-masing. Tak ada yang berani angkat tangan, bertanya apalagi bercanda. Bahkan bila tak paham materi pelajaranpun semua memilih diam. Dan membiarkan dentang lonceng sekolah berbunyi tanpa mengindahkan semua ragu di hati. Semua siswa sangat takut saat itu. Bagi kami, cukup masuk kelas, duduk yang rapi, dan catat hingga habis semua penjelasan Ibu Guru tadi adalah syarat utama untuk naik kelas. Persoalan bisa atau tidak bercakap dalam bahasa Inggris sudah bukan persoalan lagi. Yang penting bisa naik kelas dan lulus tanpa sedikitpun berbuat cela di mata guru tadi.
Selepas smp itu aku melanjutkan studi ke sma. Di sanalah ku bertemu dengan guru Arjuna tadi. Tiada seorangpun yang tak mengenalnya. Rupanya ia guru idola di sana. Semua siswa mengelu-elukan kehadirannya di setiap acara di sekolah. Semua guru pun sama. Mereka begitu hangat menyapanya. Seolah ia adalah sosok yang paling dinanti.
Aku masih ingat bagaimana ia datang pertama kali ke kelasku saat aku kelas dua. Siang itu surya bersinar sangat terik. Tak biasanya udara begitu panas terasa padahal baru kemarin hujan turun sore hari. Kemeja putihnya tak lagi cemerlang. Tak terlihat bekas setrikaan di sana sini. Begitu pula celana pantalon yang digunakannya. Sepertinya ia tak sempat merapikan pakaiannya. Maklumlah ia mengajar full dari pagi sampai sore, dari Senin hingga Sabtu. Di rumah pun ia tak punya istri yang bisa membantunya menyiapkan seragamnya. Ia sudah lama menduda. Dengan mengepit sebuah LKS Bahasa Inggris dan sebuah Buku Nilai ia masuk dan duduk di hadapanku. Mejaku memang di depan. Dekat sekali dengan meja guru. Maklum kelasku sangat padat. Ada 40 siswa di kelasku dan semuanya diawali dengan huruf M dan N. Jadi ada banyak nama Muhammad dan Neneng di kelas. Meskipun demikian semua guru tidak kesulitan sama sekali dengan fenomena unik ini. Mereka hapal satu persatu muridnya. Begitu pula Bapak guruku yang satu ini. Dia sangat hapal kemampuan semua siswanya.
Siang itu ia mengajarkan kelasku tentang Livestock. Sebuah materi reading text yang diikuti dengan sejumlah pertanyaan lisan. Ugh, banyak kawan yang merasa ga senang dengan materi ini. Bukan kenapa-kenapa sih. Mereka sebenarnya marah karena malu, ga bisa baca text dalam bahasa Inggris. pelafalan mereka banyak yang salah. Dan tiap kali salah satu siswa membaca textnya salah semua tertawa. Seru banget bisa tertawa lepas meski yang ditertawakan belum tentu ikhlas hahahahaa. Bapak guru hanya tersenyum simpul setiap kali siswanya salah mengucapkan satu dua kata dalam paragraf tersebut. Dengan simpatik ditepuknya bahu sang siswa dan diajarinya pengucapan yang benar. Disuruhnya siswa tadi mengulanginya lagi. Dan bila ia salah seisi kelas pasti menertawakannya lebih keras. Sungguh sangat memalukan baginya. Lagi, Bapak Guru akan membimbingnya hingga ia bisa mengucapkan dengan benar. Kami sekelas puas saat mendengar ia akhirnya bisa mengucapkan dengan baik.
Setelah semua siswa dirasanya dapat membaca dengan baik text tersebut ia melanjutkan dengan memberi beberapa pertanyaan terkait isi teks tersebut. Ditunjuknya siswa secara bergantian untuk menjawab semua pertanyaannya. Bila kemarin aku tak kebagian pertanyaan maka pertemuan ini giliran aku yang ditanya. Aku ingat bila jawabanku kurang tepat ia akan tersenyum. Ia tak pernah marah. Ia akan mengulangi lagi pertanyaannya dengan sedikit mengubah beberapa kata yang dianggap sulit tanpa mengubah esensi soal. Saat itu barulah aku bisa menjawabnya dengan gamblang. Sungguh guru yang sangat cerdas. Ia dapat melihat kekurangan dan kelebihan siswanya dengan baik.
Aku paling suka saat ia memberikan ulangan harian. Semua soal yang diberikan tidak pernah keluar jalur alias sesuai dengan yang dipelajari. Ia ga pernah mendewakan salah satu jenis ulangan. Ia selalu melakukan semuanya ya lisan dan tulisan. Saat oral test (ulangan lisan) biasanya kami dipanggil satu persatu. Duduk di hadapannya. Lalu ia menunjukkan satu paragraf yang harus dibaca dan dianalisis. Setelah itu menjawab soal lisan yang diberikan. Sungguh bagi mereka yang tidak belajar semalam sebelumnya dijamin deh ga akan masuk kelas pas oral test. Bapak Guru paling tidak suka jika siswanya ga siap buat ditest. Ia akan diam dan senyumnya hilang seharian. Bila saatnya written test alias ulangan tertulis biasanya kami dibagi dua rombongan berbeda. Rombongan pertama akan ulangan pertama kali. Rombongan kedua menanti di luar dengan harap-harap cemas. Sebab soalnya biasanya beda jadi ga akan ada bocoran satu pun. Jadi ulangannya selalu surprise. Asyik kan.. ini sangat menantang. Jadi jelas banget yang nilainya bagus adalah mereka yang memang rajin belajar bukan yang rajin ngebet catetan. Ha ha haa.
Meskipun gayanya seperti itu, selalu ngadain ulangan dadakan ternyata beliau sangat disayang. Buktinya ketika beliau digantikan oleh guru baru semua berontak. Yah, aku yang tidak pernah mabal alias kabur ninggalin jam pelajaran pun akhirnya ikut-ikutan cabut di jam pelajaran bahasa Inggris.
Hari itu Kamis, seorang guru baru datang mengajar bahasa Inggris di kelas kami. Perawakannya tinggi langsing. Kulitnya putih mulus. Cantik sekali meski tak berkerudung seperti umumnya guru wanita di sekolah kami. Ia memperkenalkan diri sebagai lulusan salah satu universitas negeri di Malang. Setelah basa basi perkenalan yang monoton itu ia langsung mengajar. Tahukah kau kawan bagaimana gayanya saat itu. Alamak dua papan tulis habis diisinya dengan kapur. Glek. Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Bapak Guru kami pelit kapur. Ia hanya mencatat apa yang memang kami tak bisa. Selebihnya ia hanya pegang buku LKS. Menerangkan materi. Berjalan mondar mandir di kelas untuk memeriksa pekerjaan kami. Sementara guru baru ini menulis selama dua jam pelajaran tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Kami bagai dianggap tak ada saat itu. Setelah selesai menulis dengan cueknya ia menyuruh kami sekelas menyalinnya. Wow, semuanya materi grammar. Ampun deh, rumusnya banyak banget. Tak ada satu pun yang kami pahami. Semuanya ditulisnya dalam bahasa Inggris. Kami hanya diam saling memandang satu sama lain. Lalu dengan malas mulailah kami menulis. Untung bel segera berbunyi. Lepaslah kami dari pelajaran yang sangat tidak menyenangkan itu.
Minggu depannya saat jam pelajaran kimia usai. Kulihat sebagian besar anak laki di kelasku keluar. Kupikir ah paling juga mau ke belakang. Tapi agak aneh juga sih kok mereka ga balik-balik ya. Tak lama beberapa anak perempuan juga keluar. Mereka ijin ke guru baru itu untuk ke koperasi beli pulpen. Lagi-lagi mereka pun ga balik lagi. Aku mulai curiga. Apalagi saat ku sadari cuma aku bertiga dengan kawan sebangku saja yang tersisa siang itu di kelas. Kemanakah mereka semua sebenarnya, pikirku. Sementara guru baruku sepertinya tidak peduli dengan ketidakhadiran siswanya tadi. Ia masih asyik dengan menulis di depan sana. Hingga akhirnya seorang kawanku diam-diam meninggalkan kelas. Ia baru sadar hanya tinggal aku dan kawan sebangku saja yang ada saat ia membalikkan tubuhnya menghadap kami. Alamak, aku hanya menepuk jidatku saat ia menatap padaku. Ada rasa tak enak saat ia menanyakan kemana 38 siswa lainnya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Aku sungguh tak tahu apa yang harus kujawab. Mereka pergi begitu saja. Mana ku tahu aku juga kan duduk di bangku terdepan. Ah, bu guru yang malang.
Minggu berikutnya saat bel berbunyi dan guru Kimia keluar kelas aku pun ikut lari. Aku enggan ditinggal sendiri. Aku takut ditanya lagi kemana kawanku semua pergi. Aku yang biasanya sangat rajin belajar kini ikut mabal. Aku jadi anak nakal. Ada rasa bersalah muncul di hatiku sesaat. Namun rasa itu tiba-tiba menghilang saat ku dengar kabar tentang Bapak Guru yang sudah sebulan tak mengajar. Awalnya kami sekelas berpikir beliau resign. Maklum kami semua tahu betapa kecilnya gaji beliau sebagai guru. Itulah salah satu alasan mengapa dulu istrinya menggugat cerai. Besar pasak daripada tiang.
Ada bulir bening membasahi kedua mata kami sore itu. Saat Ibu Kepala Sekolah masuk ke kelas kami. Rupanya guru baru itu mengadukan kami. Ia tak terima mendapati kelas kosong melompong saat jam pelajarannya. Kami cuma diam menunduk. Sekelas kami menangis. Bukan karena kami menyadari kesalahan kami yang cabut sekelas. Sekali-kali bukan itu alasannya. Tetapi karena Bapak Guru kami. Ia pergi tanpa pamit bukan karena resign rupanya. Ia sakit TBC stadium 4. Saat itu ia di rawat di Cisarua. Itulah sebabnya Bu Guru baru masuk menggantikannya mengajar. Ah, Bapak. Andai kami tahu alasan Bapak pergi. Andai kami tahu derita Bapak, mungkin kami tak akan cabut sekelas. Begitu sesal kami saat itu. Ibu Kepala Sekolah menjelaskan semuanya dengan hati-hati. Ia takut kami tak terima dengan penggantian guru tersebut. Ia ingin kbm tetap berjalan seperti biasa. Ia pun menyadari kesalahannya tidak memberitahukannya sejak awal. Kami hanya diam saja.
Kami terlanjur tak peduli dengan guru baru kami. Kami rindu Bapak Guru kami. Kami hanya ingin ia datang sekali lagi. Sungguh minimal sekali saja datang untuk menenangkan hati kami. Kami bagai anak ayam kehilangan induknya. Ibu Kepala sepertinya memahami kegundahan kami sekelas. Ia berjanji akan mendatangkan beliau sekali saja ke sekolah. Ia harap setelah itu semua akan belajar giat lagi. Tak ada lagi aksi cabut sekelas. Tak ada lagi protes yang dialamatkan ke kantornya. Kami setuju.
Entah angin dari mana yang pasti hari itu semua terlihat gembira. Siswa kelas 3 berhamburan keluar. Seperti ada yang mereka tuju. Derap langkah mereka sangat mengganggu ketenangan kelasku. Meskipun aku baru kelas 2 SMA aku banyak kenal mereka. Kulihat Kak Evie berlari paling depan sambil sesekali menyusut air matanya. Ada apa gerangan. Tak ingin ketinggalan aku langsung ijin meninggalkan kelas. Aku ikut gelombang besar itu. Semua menuju kantor kepala sekolah yang terletak di depan gerbang masuk sekolahku. Wow, aku terperanjat. Beberapa kali aku mengucek mataku. Sungguhkah ini nyata, pikirku. Aku melihatnya. Ya, aku melihatnya dengan jelas. Lelaki muda yang duduk di depan Ibu Kepala itu sepertinya aku kenal. Meskipun ia duduk membelakangi kaca, tapi aku yakin aku mengenalnya dengan baik. Mungkinkah itu dia, sosok yang lama ku rindukan kehadirannya di kelas. Tak lama, guru piket mengusir kami. Rombongan demi rombongan pergi meninggalkan area itu. Tinggallah aku, Kak Evie, Kak Robi dan Santi. Kami memilih diam berdiri di sana. Sedikitpun tak menghiraukan gertakan galak guru piket yang mengancam akan membawa kami ke BP/BK karena mengacuhkan perintahnya. Kami semua penasaran dengan sosok lelaki itu. Kami memilih menanti dengan sabar daun pintu itu terbuka. Berharap bisa menatapnya dengan jelas meskipun hanya sekali saja.
Tak lama Ibu Kepala membuka pintunya. Ia mempersilaka kami semua masuk. Ditinggalkannya kami berempat dengan lelaki misterius itu. Tangis kami meledak bersamaan saat ia membalikkan tubuhnya. Senyum manisnya tersungging di sudut bibirnya. Wajah yang sangat kurindukan. Kami berebut mencium tangannya. Masih dalam suasana haru kami bergantian menanyakan kabar masing-masing. Kak Evie adalah yang paling keras suara tangisnya saat kami melihat bekas infusan dilengannya. Wajahnya yang sayu, tubuhnya yang kurus cukuplah memberi kami banyak informasi akan penderitaan yang sedang ia alami. Hanya tatapan matanya yang hangat dan senyum tipisnya yang membuat kami yakin bahwa ia sedang berjuang sekuat tenaga untuk kembali sehat. Sungguh ini bukan pertemuan yang aku harapkan sebetulnya. Berada di depan orang sakit adalah hal yang tidak membahagiakan sama sekali. Berlima kami tertawa saat salah satu dari kami bercerita betapa nakalnya kami saat ditinggalkannya. Kami cabut sekelas. Bukan hanya sekelas tapi hampir seluruh kelas yang ia pegang. Ini gila. Sungguh gila. Kami semua protes. Kami ingin beliau kembali mengajar lagi. Ia hanya tersenyum. Seperti biasa. Dengan gayanya yang kalem ia mengajak kami bicara dari hati ke hati. Sungguh ia pandai memanusiakan manusia. Ia mau mendengar curhatan siswanya. Di akhir pertemuan sore itu ia mengajakku bicara setelah semua siswa meninggalkan kami.
“Neng, mengapa kamu ikut-ikutan cabut?”
Aku diam menunduk. Aku malu sekali. Ini kali pertama aku ditegur guru. Aku tahu ini salah. Sejak smp aku adalah siswa yang rajin. Aku tak pernah dipanggil BP/BK. Tapi, ini kali aku kena ditegur guru. Parahnya lagi oleh guru yang aku idolakan. Lama aku diam. Lidahku terasa kelu. Aku bingung harus mulai dari mana. Kutatap ia dalam-dalam. Seolah aku tahu inilah pertemuan kami yang terakhir.
Dengan menahan air mata aku beranikan juga mengangkat kepalaku dan menjawabnya.
“Aku tak suka guru itu”. Jawabku singkat.
“Mengapa?”
Aku menggeleng. Aku takut ia marah.
“Selalu ada jawaban untuk setiap pertanyaan, Neng”.
“Jawablah.”
Dengan menarik napas, kuceritakan semua yang dilakukan guru baru itu. Dari gaya berpakaiannya yang berbeda dari yang lain hingga cara mengajarnya yang sangat ga gue banget.
Tahukah kau kawan apa tanggapannya sore itu?
Oh my God. Dia hanya menepuk pundakku.
“Setiap guru punya caranya masing-masing dalam menyampaikan materi, Neng. Mungkin ia menganggap itulah cara yang terbaik yang ia bisa dalam menyampaikan materi bahasa Inggris.”
“Nggak. nggak bisa gitu, Pak. Seharusnya ia tidak menulis terus sepanjang jam pelajaran. Memangnya kami apaan? Kami kan ada di sana, Pak. Kami kan orang bukan batu apalagi monyet sehingga ia bisa cuek begitu. Baru noleh kalau sudah beres nulisnya. Nerangin apanya yang diterangin. Dia cuma nulis, Pak. Kami ga paham. Saya ga paham yang ia ajarkan.” bantahku berapi-api.
“Maksudmu… dia ga bisa ngajar, begitu?” tanyanya.
“Mmm.. bukan gitu, Pak. Hanya saja dia ga bisa memahami anak kelasan. Anak kelasan kan ga suka nulis. Maunya langsung praktik. Kayak biasa dengan Bapak. Kita belajar baca dengan lantang jadi ketauan bisa ngomong nggaknya. Terus belajar ngarang. Ya walau cuma dua paragraf tapi jelas. Mau nulis apa, apa procedural apa narrative gitu. Yang pasti gurunya ngajarin sedikit aja. Kalaupun mau nulis ya nulis aja. Tapi jangan banyak-banyak. Ngapain ngajarin yang ga bakalan kami lirik dan ga guna juga. Kan UN ga bakal ditanya begituan. Ya kan, Pak”. jawabku nyerocos macam mercon baru dibakar.
Bapak Guru Arjunaku hanya diam sesaat. Lalu tiba-tiba ia berdiri. Aku kaget bukan kepalang. Takut luar biasa. Jangan-jangan aku sudah kelewatan tadi. Ya Tuhan, lindungi aku. Desahku lirih dalam hati.
“Neng, aku bukan lulusan universitas negeri ternama. Aku cuma lulusan swasta. Tapi kau telah mengatakan itu semua. Jika kau bisa menyalahkan dia, dia yang lulusan keguruan dari Universitas Negeri. Dia yang jauh lebih tua darimu. Dia yang lebih tinggi pendidikannya saat ini denganmu. Apa kau bisa mencontohkan bagaimana seharusnya menjadi guru yang baik, lebih baik dari dia yang sudah kau kritisi?” tantangnya.
Aku terkesiap mendengarnya. Darah mudaku bergolak. Dadaku bergemuruh. Ada amarah di situ. Aku bisa merasakannya. Ini kali pertama jawabanku dibantai demikian rupa. Ia yang kuhormati dengan sepenuh jiwa mengapa meragukan jawabanku. Pikirku saat itu. Tanpa pikir panjang aku pun berdiri. Menyambut tantangannya dengan penuh keberanian. Aku lupa aku hanya seorang siswa saat itu.
“Aku tahu, aku baru sma. Baru kelas dua, Pak. Tapi aku tidak bodoh dan aku menolak diibodoh-bodohi. Lihat saja nanti, Pak. Aku akan datang pada Bapak saat aku berhasil mengalahkannya dalam berbagai bidang. Bapak bilang ia lulusan universitas negeri. Apa Bapak pikir hanya mereka yang dari negeri yang pandai? Apa Bapak pikir aku ini bodoh sehingga aku masuk sma swasta ini? Orang tuaku miskin, Pak. Maka itu aku disekolahkan di sini. Tapi tengok nilai-nilaiku. Aku adalah yang terbaik di setiap semester di sekolah ini. Bapak Kepala Sekolah terdahulu sampai memberiku hadiah baju seragam karena nilaiku tertinggi. Bapak, akan ku buktikan sekalipun aku nanti tidak masuk negeri aku akan lulus menjadi yang terbaik. Aku akan menjadi guru. Aku akan menjadi guru yang terbaik. Seperti Bapak. Mengajar dari hati hingga sampai ke dalam hati. Doakan aku, Pak. Akan kuajarkan siswaku bagaimana menggunakan bahasa Inggris dengan baik, mudah dan menyenangkan. Seperti engkau yang selalu hadir di kelas dan memberi pelajaran dengan menyenangkan. Ini janjiku padamu, Pak”. jawabku lantang.
“Aku senang kau mau membuktikannya, Neng. Semoga Allah mengabulkannya. Ingatlah selalu pesanku ini: jangan menyalahkan siapapun jika engkau tak tahu bagaimana seharusnya. Jadilah guru yang terbaik dimanapun kau berada.” pesannya.
Setelah mencium tangannya aku pamit kembali ke kelas. Sepanjang jalan ku susut air mata yang kian deras mengalir. Sore itu aku pulang sekolah hujan-hujanan. Didepanku lelaki muda itu berjalan di bawah payung besar. Aku tak ingin mengejarnya. Aku memilih berjalan di belakangnya. Diam-diam aku menyadarinya ia tak akan pernah kembali lagi ke kelas kami. Jalannya begitu gontai senja itu. Beberapa hari kemudian seluruh siswa berduka. Di tengah lapangan kami semua berdoa semoga ia diterima iman islamnya. Selamat jalan, guruku sayang. Semoga Allah menempatkanmu di surganya bersama para ulama.
Lima tahun kemudian pada tanggal 13 Oktober 2003 aku diwisuda sebagai lulusan terbaik dengan peringkat cum laude. Hari itu lirih aku menyebut namanya saat Bapak Wakil Presiden RI Hamzah Haz memberiku piagam penghargaan sebagai lulusan terbaik 2003 dari FKIP jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Janji pertamaku tunai sudah. 1 Desember 2003 aku resmi menjadi guru di sebuah SMK negeri di kota kelahiranku. Saat itu aku adalah cpns termuda se kabupaten Bogor. Setelah empat belas tahun mengajar, aku bertemu banyak alumni di berbagai sekolah yang kebetulan ikut ku dampingi saat implementasi kurikulum tiga belas. Salah satunya menjadi guru Bahasa Inggris. Saat kutanya alasan mengapa ia menjadi guru Bahasa Inggris, ia menjawab karena ia suka dengan caraku mengajar; yakni mengajar dari hati hingga sampai ke hati. Inilah aku sekarang, guru Bahasa Inggris yang telah menepati janjinya kepada Bapak Guru Arjunaku delapan belas tahun lalu.
Ku tuliskan kisah ini untuk mengenang Guru terbaikku, (alm) Jaya Rukmana di SMA Swasta Al Nur Cibinong. Terima kasih untuk semua ilmu dan bimbingannya. Semoga Allah menerima semua amal ibadah Bapak. Selamat jalan, Pak.

BIODATA PENULIS
Neneng Hendriyani atau lebih dikenal dengan Neng Nunu adalah guru Bahasa Inggris di SMK Negeri 1 Cibinong sejak 2003 hingga saat ini. Pendidikan formalnya ditempuh di SD Negeri Cikaret 2, SMP Negeri 2 Cibinong, SMA Swasta Al Nur Cibinong program studi IPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UIKA Bogor, dan Magister Pendidikan Bahasa Inggris UHAMKA Jakarta.

Buku yang telah ditulisnya adalah Alih Kode & Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017), Bogor: Peninggalan Sejarah Dari Masa Ke Masa (2017), Tips Mudah Menulis Proposal & Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), antologi puisi Senandung Rindu: Bogorku, Bogormu, Bogor Kita (Memaknai Bogor Melalui Puisi) (2017).
Untuk korespondensi sila hubungi nenghendri53@gmail.com.

Ini

BUNGA RAMPAI GORESAN PENA GURU JAWA BARAT

Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat Copyright © 2018 Sri Yamini, M.Pd. dkk. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang All Right Reserved

ISBN: 978-602-52072-3 Editor: Neneng Hendriyani Desain Sampul: whyboedy Tata Letak: Ade Ayu Putrigati

Cetakan Pertama, Juli 2018

Penerbit Cakrawala Milenia Jaya Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12 Cibinong – Bogor Jawa Barat Telp. 08136336202 – 085715773482 cakrawalamileniajaya@gmail.com web: http://cakrawalamj.co.id

Yamini, Sri. et.al. Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat /Sri Yamini, et.al.; Editor, Neneng Hendriyani cet.1-2018 Ukuran: 14.8 x 21 Jumlah Halaman x+81

Menjadi bagian dari sebuah karya antologi dimana di dalamnya ada karya penulis hebat adalah sebuah karunia tersendiri bagiku. Ini bukanlah antologi pertamaku tentunya. Ada beberapa antologi lain yang juga ditulis oleh para praktisi pendidikan di nusantara. Yaitu, Jangan Berhenti Mengajar. 

Pada buku Antologi Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat ini aku menulis sebuah tulisan sederhana mengenai Keluarga, Ujung Tombak Pendidikan dan Kesuksesan Anak. Melalui tulisan ini aku ingin menyampaikan bahwa anak ibarat rakyat dalam sebuah negara. Ia memiliki kebebasan dalam memilih berbagai hal yang disodorkan oleh kedua orang tuanya. Ia pun memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan pilihannya tersebut dengan baik dan bertanggungjawab. Ia pun haruslah taat dalam mematuhi seluruh aturan yang dikeluarkan oleh kedua orang tuanya dengan baik. Bila ia melanggar aturan tersebut ia harus siap menerima konsekuensi dari perbuatannya tersebut. Pun begitu pula sebaliknya bila ia berbuat sesuai dengan aturan yang dibuat oleh kedua orang tuanya bahkan melebihi target yang diberikan, ia berhak mendapatkan hadiah atas usahanya tersebut. Dengan memberikan penghargaan bagi usahanya ini dapat menumbuhkembangkan kepercayaan dirinya terhadap dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya.   keluarga adalah pilar utama kesuksesan seseorang dalam menjalani setiap fase kehidupannya. Begitu pentingnya peran keluarga hingga untuk membentuknya pun diperlukan beberapa tahap yang bisa dikatakan tidak semudah membalik telapak tangan.

Penasaran dengan isi buku ini, yuk pesan langsung di https://bit.ly/Bumori53 dan dapatkan hadiah langsungnya.

Perlukah Kita Jujur?

Berangkat dari sebuah pengalaman pribadi saat mendaki puncak Ijen beberapa waktu sebelumnya jadilah tulisan sederhana ini. Sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik sepanjang track pendakian itu benar-benar mendorongku menulis tentang hal yang dianggap sepele ini; perlukah kita jujur?

Perlukah kita jujur kepada orang yang kita sayangi? Perlukah kita jujur kepada sahabat, teman, pacar, bahkan kepada Tuhan?

Terlalu dalam ternyata hasil perenungan dan studi pustaka mengenai hal sepele tersebut, sehingga akhirnya lahirlah buku ini. Sebuah buku yang ditujukan untuk pengingat diri sendiri, anak murid, rekan kerja, sahabat, kolega, dan masyarakat pada umumnya.

Copyright © 2018 Neneng Hendriyani, M.Pd. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang All Right Reserved ISBN 978-602-52072-0-4 Editor: Boedy Why Desain Sampul & Layout Cover Dalam: Boedy Why Cetakan Pertama, Mei 2018 Cetakan Kedua, Juli 2018
Penerbit Cakrawala Milenia Jaya Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12 Cibinong – Bogor Jawa Barat cakrawalamileniajaya@gmail.com Hendriyani, Neneng Perlukah Kita Jujur/Neneng Hendriyani, M.Pd.; editor, Boedy Why -cet.1-2018 Ukuran: 14.8 x 21 Jumlah halaman xv+61

“Di buku Perlukah Kita Jujur ini penulis menyajikan apa saja jenis kejujuran yang harus kita lakukan dan bagaimana kita mengetahui ciri-ciri orang jujur serta apa saja faktor yang mempengaruhi kejujuran. Selain itu juga terdapat akibat apa saja yang diterima jika tidak jujur. Diantaranya yakni; jika kitatidak jujur maka kita akan mendapat laknat dari Tuhan Yang Maha Esa, akan dicap dan menjadi orang munafik, serta tidak mendapatkan teman. Oleh karena itu maka perlulah kita memahami buku Perlukah Kita Jujur ini dengan sebaikbaiknya. Sehingga kita akan memperoleh kehidupan yang baik sesuai dengan yang kita harapkan dan tidak bertentangan dengan norma kehidupan yang ada. Di sinilah nilai plus buku ini yang disajikan oleh penulis yang sangat istimewa sekali sehingga kita terbawa ke dalam diri supaya berbuat jujur. semoga buku ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca; (Arbain, Ketua Kanal Sagupegtas IGI)”.

Maaf ya, gaes. Buku keren ini cuma dipasarkan di https://bit.ly/Bumori53

TIPS MUDAH MENULIS PROPOSAL DAN LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Penulis: Neneng Hendriyani

ISBN 978-602-50509-4-7
Editor: Khoen Eka Anthy

Penata Letak: @timsenyum

Desain Sampul: @kholidsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2017 viii, 64 hlm, 14,8 x 21 cm Cetakan Pertama, Agustus 2017
Diterbitkan oleh CV.Cipta Media Edukasi Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya Website: www.mediaguru.id
Dicetak dan Didistribusikan oleh Pustaka Media Guru

Harga Jual: Rp. 50.000,00

Sejak diluncurkannya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor: Per/16/M PAN-RB/11/2009 Tanggal 10 November 2009 lalu di Jakarta mengenai Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, banyak guru yang harus membuat Penelitian Tindakan Kelas. Kegiatan karya tulis ilmiah/publikasi ilmiah ini menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar oleh guru yang hendak naik pangkat dan golongan. Jika ia tidak bisa melaksanakan kegiatan tersebut sudah dapat dipastikan karier kepegawaiannya tidak akan naik. Jabatan dan golongan kepangkatannya juga akan tetap. Tidak ada perubahan meskipun yang bersangkutan sudah menjadi aparatur sipil negara berpuluh-puluh tahun lamanya. Begitu pula sebaliknya. Bagi guru yang dapat melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas ia dapat mengajukan kenaikan pangkat dan golongannya dengan mudah. Ia dapat mengembangkan profesinya ke tingkat yang lebih tinggi.

Namun demikian, kenyataan di lapangan seringkali berbeda dengan harapan para pembuat kebijakan. Banyak sekali guru yang tidak dapat memenuhi kebijakan dan aturan yang telah dibuat pemerintah. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal yang berasal dari dalam diri dan dari luar guru itu sendiri. Hal yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas di antaranya adalah kurangnya pemahaman guru akan pentingnya pelaksanaan penelitian kelas. Ditambah lagi dengan kurangnya pengetahuan, wawasan, dan ilmu pengetahuan mengenai prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Rasa percaya diri guru yang rendah ikut pula menyumbangkan ketidakmampuannya dalam melaksanakan kegiatan ini. Hambatan yang berasal dari luar guru di antaranya adalah kurangnya buku yang dapat dijadikan pedoman guru dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Kalaupun ada, umumnya kurang praktis sehingga guru bingung dalam penerapannya. Hambatan lain adalah rendahnya dukungan sekolah terhadap guru yang hendak melaksanakan kegiatan ini. Seperti dipersulitnya pemberian izin penelitian oleh pihak sekolah, tiadanya rekan guru yang bersedia menjadi kolaborator penelitian, serta kurangnya support dari MGMP mata pelajaran dalam memberikan akses kepada guru peneliti untuk menyeminarkan hasil penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas itu sendiri selain harus dilaksanakan oleh guru untuk memenuhi pengembangan keprofesian berkelanjutannya juga untuk memperbaiki kualitas pengajaran mata pelajaran yang diampunya. Guru seringkali mengajarkan materi yang sama pada tingkat yang sama dengan cara yang sama sepanjang tahunnya. Tanpa disadarinya, ia memberikan materi kepada peserta didik dengan model pembelajaran yang sama untuk semua kelas yang diajarnya. Tak jarang ia menyamaratakan kemampuan seluruh kelas tersebut dengan mengabaikan keragaman kemampuan peserta didik dalam menyerap materi yang disampaikan. Dapat dibayangkan apa yang terjadi saat semua aktivitas pengajaran yang dilakukannya berlangsung sama sepanjang tahun. Semua kegiatan berlangsung sama sejak awal hingga akhir. Tak ada perubahan. Lama kelamaan guru yang bersangkutan dapat dilanda kebosanan. Hilanglah rasa kebahagiaannya dalam menjalankan profesi mulia sebagai guru. Prestasi belajar peserta didik yang beragam dianggapnya sebagai sebuah hal yang wajar. Ia tidak menganggap bahwa peserta didik yang kurang dalam mata pelajarannya sebagai tanda bahwa ada yang “kurang” dalam pengajarannya. Menurutnya, peserta didik yang tidak pandai itu muncul karena ia malas mendengarkan penjelasannya dan kurang aktif dalam belajar di kelas dan rumah. Guru tersebut tidak berpikir bahwa bisa jadi ia sendiri yang turut menyumbangkan keadaan demikian. Hal tersebut dapat diatasi bila guru berkeinginan kuat untuk membantu peserta didik yang kurang tadi. Misalnya, dengan mengubah cara mengajarnya. Jika dulu ia tak pernah membawa alat peraga kini ia membawa realia dan berbagai alat peraga yang menarik sehingga seluruh peserta didik tertarik belajar dengannya. Jika dulu ia hanya berceramah saja di depan kelas kini ia membawa laptop, infokus, dan sound system ke kelas. Dengan penuh percaya diri ia menampilkan video yang berhubungan erat dengan materi yang disampaikannya pada hari itu. Jika dulu ia hanya menekankan pada belajar mandiri mungkin kini ia mulai mengelompokkan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok kecil. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru untuk memperbaiki hasil belajar peserta didik jika ia berkeinginan kuat untuk melakukannya. Hal itu hanya dapat dilakukan dengan serangkaian kegiatan penelitian tindakan kelas. Ah, siapa yang bilang melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas ini sulit? Sulit jika belum tahu caranya. Mudah dilaksanakan jika sudah tahu tata caranya. Bukankah awalnya manusia tidak mampu menerbangkan pesawat udara? Bukankah manusia awalnya tidak mampu mengendarai motor dan mobil? Setelah berlatih dengan rutin dan tekun banyak orang yang kini sudah pandai tak hanya mengendarai motor dan mobil tetapi juga menerbangkan pesawat udara dengan baik. Begitu pula dengan penelitian tindakan kelas. Awal dipopulerkannya pada tahun 2013 hanya sedikit guru yang melaksanakannya karena keterbatasan kemampuan. Mereka yang melaksanakannya hanyalah yang sedang menyelesaikan studi magister saja. Sementara yang tidak melanjutkan studi ke jenjang S-2 masih awam dengan penelitian jenis ini. Kini jumlah guru yang melaksanakan PTK berangsur bertambah setiap tahunnya, terutama setelah dibudayakannya lomba guru berprestasi yang mewajibkan pesertanya membuat PTK.

Menurut Dr. Sulipan, M.Pd., dalam Muhammad Faiq Dzaki1, seringkali penelitian (research) didefinisikan sebagai sebuah upaya menemukan pengetahuan baru. Hal ini memang sudah sewajarnya karena pengetahuan merupakan sesuatu yang dicari dan ingin dimiliki oleh manusia untuk dapat memahami hal-hal di sekitarnya. Dalam perkembangannya, penelitian didefinisikan sebagai sebuah upaya menemukan jawaban secara ilmiah dari sebuah masalah yang dihadapi manusia. Dalam konteks tersebut, ilmiah berarti berlandaskan atas bangunan ilmu tertentu. Dengan demikian pengetahuan yang bersifat ilmiah diperoleh melalui sebuah proses pendekatan ilmiah yang disebut penelitian ilmiah dan dibangun di atas teori tertentu. Teori yang berkembang melalui penelitian yang sistematis dan terkendali dapat diuji validitas dan reliabilitasnya. Artinya jika penelitian tersebut dilakukan oleh orang lain dengan metode dan kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang sama pula. Jadi pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi hampir setiap orang, karena pendekatan tersebut bersifat objektif dan tidak diwarnai hal-hal yang bersifat subjektif. Penelitian sebagai bentuk khusus dari metode ilmiah memiliki beberapa sifat yang penting. Antara lain penelitian mempergunakan teknik-teknik yang teliti dan sistematik dan pemecahan masalah didasarkan atas pengetahuan yang sejauh ini telah dicapai oleh penelitian yang terdahulu. Dengan bertolak pada pengetahuan itu, penelitian disusun secermat mungkin, dengan teknik-teknik yang memiliki validitas setinggi mungkin. Pengumpulan data yang dilakukan penekannya adalah untuk menguji, bukan mutlak membuktikan, kebenaran atau ketidakbenaran hipotesis. Dalam penelitian dilakukan pengolahan data dan pengorganisasian dalam ukuran-ukuran kuantitatif atau kualitatif, yang kemudian dianalisis serta disimpulkan hasilnya. Selanjutnya hasil penelitian dilaporkan dalam bentuk yang sistematis, mengandung penjelasan masalah, tujuan, jenis penelitian, pengumpulan data, analisis, dan kesimpulan. Di bawah ini dituliskan beberapa arti penelitian, yaitu: 1. Proses pembuktian dari sebuah teori yang diajukan 2. Proses mencari atau menemukan jawaban secara cermat dan sistematik, dari pertanyaan atau hal-hal yang ingin diketahui jawabannya. 3. Proses mencari jawaban secara ilmiah dari pertanyaan yang diajukan secara deduktif, induktif, atau verifikatif. 4. Proses mencari jawaban secara ilmiah melalui kegiatan kajian pustaka, pengumpulan data, pengolahan data, analisis, dan penyimpulan. 5. Kegiatan ilmiah untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. 6. Kegiatan ilmiah guna menemukan pengetahuan baru, prinsip-prinsip umum, serta mengadakan ramalan generalisasi.

Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari istilah yang terdapat dalam bahasa Inggris Classroom Action Research. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, penelitian2 adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum. Tindakan 3 sendiri diartikan sebagai perbuatan atau tindakan yang dilaksanakan untuk mengatasi sesuatu. Kelas 4 diartikan sebagai ruang belajar di sekolah. Menurut Trianto5, penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru pada sebuah kelas yang diajarnya untuk mengetahui akibat tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut. Penelitian ini pun diartikan sebagai penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan. Tujuannya untuk meningkatkan mutu atau memecahkan masalah pada sekelompok subjek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya. Kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Menurut Dave Ebbut dan David Hopkins dalam Trianto6, penelitian ini merupakan studi ilmiah yang sistematis. Ada lima model penelitian kelas, yaitu: Model Kurt Lewin (1946), Model Kemmis & Mc Taggart (1988), Model Elliot (1991), Model Mc. Kernan (1991), dan Model Ebbut (1985). Secara umum pola dasar dari model-model tersebut meliputi empat tahapan berikut ini: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

melaksanakan penelitian tindakan kelas untuk selanjutnya disingkat PTK guru hanya memerlukan beberapa hal sederhana saja. Apabila seluruh hal tersebut terpenuhi maka guru dapat melaksanakan kegiatan PTK ini dengan mudah dan riang gembira. Hal pertama yang harus dimiliki guru adalah niat. Apapun kegiatannya berawal dari niat. Niat yang kuat akan membawa keberhasilan bagi si empunya. Niat yang lemah hanya akan membawa keburukan dan kesia-siaan. Guru yang hendak melakukan PTK harus memiliki niat yang kuat dalam melaksanakannya. Niat yang kuat ini diperlukan untuk memompa dirinya sendiri bilamana di tengah jalan ia menemui kesulitan dan hambatan. Apa saja yang bisa dijadikan niat oleh guru untuk melakukan PTK?
Mengikuti lomba guru berprestasi, melengkapi pemberkasan kenaikan pangkat dan golongan, atau menulis tesis untuk meraih gelar master pada program pascasarjana dapat dijadikan niat awal yang kuat bagi guru dalam melakukan serangkaian kegiatan PTK. Bila sudah memiliki niat yang kuat ini barulah guru dapat mengikuti serangkaian tips mudah yang dipaparkan dalam buku ini. Tips pertama adalah memilih bidang kajian PTK yang tepat. Penelitian tindakan kelas memiliki beberapa bidang kajian, di antaranya sebagai berikut: masalah belajar peserta didik, desain dan strategi pembelajaran, alat bantu, media dan sumber belajar, sistem penilaian dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran. Salah satu bidang kajian penting dalam PTK (penelitian tindakan kelas) adalah masalah belajar peserta didik di sekolah. Beberapa tema yang termasuk di dalam tema ini antara lain: masalah belajar di kelas, kesalahan-kesalahan pembelajaran, miskonsepsi, minat, motivasi belajar, dan hasil belajar peserta didik di dalam suatu kompetensi dasar pengetahuan dan keterampilan tertentu. Bidang kajian kedua yang patut diangkat sebagai bahan penelitian di kelas adalah desain pembelajaran atau strategi pembelajaran yang digunakan guru. Untuk bidang kajian yang kedua ini termasuk di dalamnya masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode maupun model pembelajaran, interaksi di dalam kelas, serta partisipasi orangtua dalam proses belajar peserta didik.

Dalam penelitian tindakan kelas, sering juga diangkat bidang kajian tentang alat bantu mengajar, media pembelajaran yang digunakan oleh guru, hingga sumber belajar bagi peserta didik. Tema yang termasuk dalam bidang kajian ini, antara lain: masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat. Sistem penilaian (assesment system) dan evaluasi baik dalam tahapan proses pembelajaran maupun pada hasil pembelajaran juga layak dikaji dengan PTK. Beberapa tema yang dapat diteliti oleh guru terkait bidang kajian sistem ini antara lain: masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen penilaian berbasis kompetensi dasar. Bidang kajian pengembangan kepribadian peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan juga merupakan bidang kajian yang sering diteliti, baik saat melakukan PTK maupun PTS (penelitian tindakan sekolah: yakni penelitian tindakan dengan level yang lebih luas yaitu sekolah). Tema yang dapat diteliti pada bidang kajian ini antara lain: peningkatan kemandirian dan tanggungjawab peserta didik, peningkatan keefektifan hubungan antara pendidik dengan peserta didik dan orangtua dalam PBM, dan peningkatan konsep diri peserta didik. Masalah-masalah yang berkaitan dengan kurikulum adalah bidang kajian yang juga dapat diteliti melalui penelitian tindakan kelas. Tema yang bisa diteliti seperti : implementasi KBK, KTSP, Kurikulum 2013, urutan penyajian materi pokok, interaksi guru-peserta didik, peserta didik-materi ajar, peserta didik-lingkungan belajar, dan sebagainya. Agar PTK yang disusun dapat dikategorikan sebagai penelitian yang baik maka harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut: pertama metode yang digunakan mengacu pada hasil yang objektif. Sebuah penelitian harus mengikuti metode yang ketat, “rigorous”, yang secara berdisiplin berpegang teguh pada aturan-aturan tertentu agar mencapai hasil yang objektif. Bila dalam pelaksanaan penelitian si peneliti melenceng atau tidak sesuai dari metode yang telah dirancangnya dengan baik, maka seringkali objektivitas hasil penelitiannya akan dipertanyakan, atau patut dipertanyakan. Penelitian yang baik berpegang teguh pada nilai kejujuran dan memperkecil kemungkinan terjadinya bias antara kondisi nyata dengan data dan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian. Kedua, data dan penafsirannya valid. Dalam pelaksanaan penelitian seorang peneliti harus sedapat mungkin membatasi kekeliruan atau kesalahan dalam data yang dikumpulkan maupun dalam penafsirannya. Banyak usaha yang dapat dilakukan seorang peneliti untuk hal ini. Misalnya untuk memperoleh data yang valid, peneliti harus merancang dan menggunakan instrumen penggali data yang baik. Jangan sampai data yang diperoleh tidak bersesuaian dengan kenyataan hanya karena kesalahan alat ukur atau penggali data. Peneliti juga harus mengupayakan teknik-teknik analisis data yang sesuai dengan data dan tujuan penelitiannya sehingga hasil penafsirannya dapat memiliki nilai kebenaran serta kebermanfaatan.

*Buku ini dan seluruh buku terbitan CV Cakrawala Milenia Jaya dapat dibeli di https://bit.ly/Bumori53