SENANDUNG RINDU: BOGORKU, BOGORMU, BOGOR KITA: MEMAKNAI BOGOR MELALUI PUISI

Ini adalah antologi puisi yang ditulis oleh guru KPLJ Bogor. Di antaranya ada yang mengajar di SD, SMP, SMA, dan SMK. Tema yang diangkat dalam buku ini adalah segala sesuatu tentang Bogor; kuliner, budaya, sejarah, dan wisata.

BOGOR DAHULU KALA
Karya : Neneng Hendriyani

Bogor dahulu kala
Pajajaran berkuasa
Siliwangi Raja Diraja
Sosok penuh wibawa
Santun, Bersahaja, Gagah perwira,
pelindung dan pengayom jiwa
Tanah Sunda Berjaya
Seantero nusantara
Lewati masa demi masa

Bogor dahulu kala
Hijau makmur sentosa
Petani kaya raya
Semua bahagia
Tak ada tangis derita

Bogor dahulu kala
Tempat meneer bersuka cita
Berdendang berdansa
Tak jauh dari batavia

Bogor dahulu kala
Istana tak hanya rumah penguasa
Rakyat bebas bersua dan bersuara
Cerita tentang lara duka nestapa

Bogor dahulu kala
Di sini aku bercerita
Tentang asa dan cinta
Tuk bogor slalu jaya slamanya
(Karadenan, 02 Mei 2017)

MAKAM DI KEBUN RAYA
Karya : Neneng Hendriyani

Kawan, tahukah kau
di tengah kotaku ada taman
Taman nan unik, indah dan sejuk
Tempat rehat jiwa yang lelah
Tempat menyepi jiwa yang sepi
Tempat cerita jiwa yang bahagia
Bersama disana berdendang bercerita
Di bawah rimbunnya pepohonan raksasa

Kawan, tahukah kau
Di tengah taman ini ada pusaka
Tanda mata ditinggal masa
Belahan jiwa sang penguasa
Belahan hati sang empunya cerita
Banyak pula orang berjasa

Mereka ada sebagai tanda
Di suatu masa pernah berjaya
Memeluk cita demi sunda
Merajut kasih demi tugas negara
Mereka enggan kembali
Memilih abadi di sini
Di bumi Siliwangi

Mereka cinta bumi pertiwi
Meski kini ganti nama
Ganti pula penguasa
Mereka tetap ada
Ditengah taman raya
Bernama dan tak bernama
Menjadi saksi berkembangnya kota
(Karadenan, 02 Mei 2017)

AKULAH MAUNG PAJAJARAN
Karya : Neneng Hendriyani

Akulah Maung Pajajaran
Berdiri tegak di depan kantor praja
Simbol utama keberanian dan semangat
Berdiri tegak menantang
Pantang pulang sebelum menang
Pantang kalah sebelum perang
Tak hilang lekang di makan zaman
Akulah Maung Pajajaran
Putih jiwaku
Merah darahku
Setia selalu tuk mu
Berdiri tegak menantang
Pantang pulang sebelum menang
Pantang kalah sebelum perang
Tak hilang lekang di makan zaman
Kerana akulah Maung Pajajaran
(Karadenan, 02 Mei 2017)

DI TUNGGUL KAWUNG
Karya : Neneng Hendriyani
Di tunggul kawung Aku berdiri
Menatap mega menantang mentari
Bersimbah keringat bermandi cahya
Ditengah terik kota
Ku menanti

Di tunggul kawung Aku berdiri
Tegak bersama ribuan anak negeri
Bersumpah tuk tetap disini
Setia bersama hingga mati

Tak kan goyah aku berpijak
Tak kan lemah aku memihak
Padamu aku berjanji
Bersama ribuan anak negeri
Tegak berdiri di tunggul kawung hingga nanti
Engkau pergi tak kembali
(Karadenan, 05 Mei 2017)

JEJAK MASA LALU
Karya : Neneng Hendriyani

Jangan bilang kau tak tahu
Palagi tak mau tahu
Tataplah aku, lihat dan kenali diriku
Kita ada di tempat yang sama
Meski masa telah berbeda

Aku ada sejak dulu berdiri menatapmu
Menunggang kuda berlari berlomba
Dengan mesin ribuan kilo jelajah waktu
Di sirkuit tempat ku dulu berpacu

Aku masih disini menatapmu
Bersandar di kursi malas menunggu
Hangat mentari malu mencumbu
Tak henti manjakanmu
Bagai bayi mencari sang ibu

Dan Kau! Jangan bilang kau tak tahu
Siapa yang membangun kotamu
Tunggul kawung, pakuan tempo dulu
Situ Cikaret di tepi P-U
Situ Kibing di Pabuaran aku tahu
Masa kau tak tahu!

Malulah jika masih berulah
Laksana kura dalam perahu
Kujang sakti warisan Sang Prabu
Penghias megahnya kotamu
Aku tahu!

Jangan bimbang jangan ragu
Tatap kenali aku
Aku ada menatapmu
Dari lorong lorong waktu
Sekadar membawamu
Pada jejak masa lalu
(Karadenan, 05 Mei 2017)

PUSAKA SILIWANGI
Karya : Neneng Hendriyani
Disini di tanah ini pusaka berada
Titipan leluhur tuk seluruh negeri
Bogor nan makmur,
Bogor nan bersahaja
Bogor molek berseri berganti rupa

Disini di tanah ini Siliwangi memberi
Pusaka keramat yang harus di rawat
Sunda prayoga, tohaga, sayaga
Semangat juang tertanam di dada tua muda
Tuk bangun, bangkit bersama
Bogor jaya, Bogor perkasa

Disini di tanah ini
Pusaka dijaga
Titah Raja, titah Maha Kuasa
Bersatu berbakti tuk negeri
Tiada ingkar tiada lupa
Bogor nan makmur
Bogor berjaya
Kini dan nanti hingga anak cucu kita
(Karadenan, 05 Mei 2017)

EDI YOSO MARTADIPURA
Karya : Neneng Hendriyani
Disini kau berdiri
Berseragam putih berseri
Menatap lembut
Menyapa hangat
Menggenggam erat
Tak hanya pejabat

Disini berpuluh tahun lalu
Kau ada, berdiri dedapanku
Kobarkan semangat dalam dada
Menggebu, merangkai asa

Ya, disini kau dulu ada
Berjabat denganku sekadar menyapa
Hendak jadi apa besar nanti
Tengoklah aku nanti tiada
Jaksa pun berganti tak hanya aparatur negara

Hendak jadi apa besar nanti ulangnya?
Malu-malu aku menjawab
Hendak menjadi seperti dirimu
Wahai Bapak Edi Yoso Martadipura
(Karadenan, 02 Mei 2017)

SMK NEGERI 1 CIBINONG
Karya : Neneng Hendriyani

Tahun baru berganti
Milenium baru membumi
Cahyanya masih berpijar
Keperakan di kaki fajar
Saat ku lihat ia datang
Membawa papan terang benderang
Bersukacita seluruh warga
Bergemuruh sorak sorai membahana
Di karadenan ada es em ka

Ini bukan yang pertama, Kawan!
Di Gunung Putri saudara tua
Ini adik paling dicinta
Disini semua diterima
Belajar otomotif juga pe ka
Ai ti juga mesin, semua lengkap tersedia

Tujuh belas tahun sudah usia
Tak lagi balita meski ia masih belia
Semua masih sama hanya berganti nama
Intinya pe ka jadi te ka ka
Otomotif jadi te ka er
Ai ti punya anak tiga; er pe el, te ka je, juga multi media

Tinggal mesin masih setia
Tak ikut berganti nama
Inilah adik paling dicinta
SMK Milenium dulu namanya
Kini berganti nama
Satu cibinong tetap jaya!
(Karadenan, 05 Mei 2017)

AKU BUKAN PRIBUMI
Karya : Neneng Hendriyani

Aku bukan pribumi
Meski aku lahir besar disini

Aku bukan pribumi
Meski kakek buyutku mati disini
Lihat aku, apa aku pribumi?
Mataku sipit, kulitku terang

Hoi, kau yang disana!
Sering kau bilang aku bukan pribumi
Padahal aku ikut berjuang

Kau bilang aku tak sama
Hanya karena mata kita beda

Lagi, kau teriak: aku bukan pribumi
Meski kakek buyutku memilih makamnya disini
Di belakang pasar, di tepi setu
Di tempat biasa kau lalu
Selepas belanja lauk pauk

Aku tak tahu
Aku hanya tahu
Setiap senin aku bersepatu, berbaris dan bernyanyi
bersamamu
Indonesia Raya juga laguku
Setidaknya itu yang ku tahu
Indonesia tumpah darahku!
Cibinong tempat nenek moyangku!
(Karadenan, 05 Mei 2017)

STADION PACIRA
Karya : Neneng Hendriyani, M.Pd

Awal aku membaca
Aneh namamu di telinga
Stadion besar nan megah
Di tengah ibu kota

Pacira, ya pacira
Entah apa artinya
Hanya singkatan belaka
Apa punya makna?

Pakansari Cibinong Raya
Singkat nian ternyata
Nama tempat dimana kau ada
Disingkat PACIRA
(Karadenan, 05 Mei 2017)

BAHASA SUNDA DI KABUPATEN BOGOR, KONDISIMU KINI

Ini adalah tulisan esai keduaku yang diterbitkan di Mastra Kandaga, sebuah majalah milik Kantor Bahasa Banten pada edisi XIII – April 2020.

Berikut adalah isi tulisan tersebut.

Bahasa Sunda di Kabupaten Bogor, Kondisimu Kini
Oleh Neneng Hendriyani

Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di salah satu kabupaten yang cukup heterogen di Provinsi
Jawa Barat, Kabupaten Bogor, saya kerap kali mengalami kesulitan dalam berbahasa Sunda. Terutama apabila harus
berkomunikasi dengan temanteman dan atasan yang terbiasa menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulan dan urusan
kepegawaian. Padahal kedua orang tua saya pun lahir di Jawa Barat.

Semua orang Sunda paham benar bahwa sundanya orang Bogor tidak sehalus sundanya orang-orang yang tinggal di wilayah Priangan, Jawa Barat. Bogor terkenal heuras genggerong. Bogor memang tidak termasuk wilayah Priangan. Hanya kabupaten Sukabumi, Cianjur, Bandung, Bandung Barat, Majalengka, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, dan Ciamis yang masuk ke dalam wilayah Priangan. Itulah sebabnya masyarakat yang berdomisili di wilayah tersebut bisa dan biasa menggunakan bahasa Sunda yang halus dalam aktivitas sehari-harinya baik di kantor pemerintahan, sekolah, pabrik,bahkan pasar. Sehingga seringkali saya merasa tidak percaya diri bila bertemu dengan teman-teman yang
berasal dari wilayah tersebut.

Takut dibilang tidak sopan, tidak terpelajar dan tidak tahu adat saat menggunakan bahasa Sunda yang ala kadarnya
mendorong saya dan orangorang yang senasib dengan saya memilih jalan aman yaitu menggunakan bahasa Indonesia
daripada bahasa Sunda dalam percakapan.

Hal ini terjadi lantaran bahasa sunda bukanlah bahasa utama yang digunakan di wilayah Bogor dan sekitarnya.
Di sini bahasa utama yang digunakan oleh sebagian besar masyarakatnya adalah bahasa Indonesia dengan dialek Betawi.
Ini terjadi lantaran Bogor berdekatan dengan Jakarta dimana para penduduk asli Jakarta merupakan suku Betawi.

Bahkan banyak juga dijumpai oleh masyarakat kabupaten Bogor lebih cakap berbahasa Betawi daripada Sunda dalam
pergaulan sehari-harinya. Hanya sedikit sekali yang mampu menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari
baik terhadap orang tua, teman, atasan,bawahan dan masyarakat umum. Mereka yang tinggal di daerah Bogor Barat yang
berdekatan dengan Tangerang dan Banten lebih banyak menggunakan bahasa sunda daripada masyarakat yang tinggal di wilayah Bogor Timur seperti Cibinong, Cileungsi, Jonggol dan sekitarnya. Mereka sudah jarang menggunakan bahasa Sunda Priangan di dalam kesehariannya itu. Sehingga, tidaklah mengherankan anakanak yang lahir di wilayah
Bogor Timur, terutama era 90an hingga sekarang rerata tidak mampu menggunakan bahasa Sunda dengan lancar dan benar
sesuai dengan tata bahasa (struktur) bahasa Sunda dalam pergaulan hidup sehari-harinya.

Kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat yang menginstruksikan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah masuk ke dalam kurikulum pembelajaran di SD sebagai muatan lokal membuat anak-anak yang sekolah mulai tahun 1994 belajar bahasa Sunda di kelas-kelas.

Meskipun sudah dijadikan mulok (muatan lokal) selama dua puluh enam tahun, perkembangan bahasa Sunda di wilayah Kota/Kabupaten Bogor belumlah menunjukkan hasil hasil yang menggembirakan. Ini terbukti dari masih banyaknya orang yang canggung berbahasa Sunda saat harus menggunakan bahasa tersebut di forum-forum resmi yang biasa digelar baik oleh pemerintah daerah maupun komunitas pecinta budaya Sunda.

Selain rendahnya dalam kemampuan berpidato dan berkomunikasi dalam bahasa Sunda, masyarakat Jawa Barat pada umumnya dan Bogor khususnya pun ditengarai masih belum cakap sekali dalam mengapresiasi berbagai bentuk karya sastra sunda. Karya sastra yang dimaksud adalah puisi dan prosa berbahasa sunda. Yang termasuk ke dalam kelompok puisi sunda adalah pupuh, kakawihan, sisindiran (rarakitan, paparikan dan wawangsalan), pantun, syair, guguritan, pupujian, wawacan dan mantra.

Hanya sedikit sekali yang paham benar bahwa pupuh masih terbagi lagi ke dalam beberapa jenis, seperti pada
pupuh asmarandana dan kinanti, sisanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak tahu. Mayoritas penduduk pun
pernah mendengar tentang ajian, jampe, asihan dan jangjawokan. Tapi hanya sedikit yang paham bahwa itu semua adalah bentuk puisi puisi berbahasa Sunda.

Sementara yang termasuk ke dalam prosa Sunda di antaranya adalah dongeng, legenda dan mitologi. Legenda Gunung
Tangkuban Parahu yang kini dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia dengan judul Legenda Tangkuban Perahu ini adalah contoh legenda yang paling banyak diketahui anak-anak yang tinggal di provinsi ini. Namun sayang hanya sedikit sekali anak-anak yang mampu membaca legenda tersebut dalam bentuk aslinya, yaitu bahasa Sunda. Pupuh atau pepeuh adalah bentuk puisi sunda yang memiliki aturan tertentu dalam jumlah suku kata dan rima pada setiap barisnya. Masing-masing jenis pupuh memiliki sifat tersendiri yang khas dan mengandung tema cerita berbeda. Ada 17 jenis pupuh Sunda yang telah kembali diperkenalkan ke masyarakat melalui pendidikan di sekolah. Yaitu asmarandana, balakbak, dangdanggula, durma, gambuh, gurisa, juridemung, kinanti, lambang, sinom, magatru,maskumambang, mijil, pangkur, pucung, wirangrong dan ladrang. Seluruh pupuh tadi diajarkan secara bertahap sejak di bangku sekolah dasar hingga menengah atas.

Yang paling akrab di telinga penulis dari 17 pupuh di atas itu hanyalah pupuh asmarandana, kinanti, mijil, dan
dangdanggula. Di dalam Pupuh asmarandana adalah pupuh yang bercerita tentang rasa cinta seseorang terhadap kekasihnya, keluarga atau sahabat. Pupuh kinanti menceritakan penantian seseorang yang sedang jatuh cinta. Dan Pupuh dangdanggula selalu berisi dalam hal-hal yang menenteramkan dan serta membahagiakan orang yang terbiasa mengumandangkannya.

Sementara pada pupuh mijil menceritakan arti kesedihan sekaligus harapan.Lawak atau banyolan (komedi) tentang kehidupan sehari-hari adalah isi pupuh balakbak. Sementara lawak yang berisi renungan menjadi jiwa pupuh lambang. kemarahan dan semangat adalah ciri khas pupuh durma. Kesedihan, kesusahan hidup dan rasa duka lainnya disampaikan dalam bentuk pupuh g ambuh. Sementara mimpi dan khayalan seseorang ditulis dalam bentuk pupuh gurisa. Kebingungan
akan masalah yang sedang dihadapi kerap kali ditulis dalam bentuk pupuh juru demung. Semua pupuh tersebut ditulis dan diucapkan dalam bahasa sunda dengan disertai iringan suling dan petikan kecapi. Penyesalan adalah tema
utama pada pupuh magatru.

Sementara kesedihan yang mendalam menjadi tema maskumambang. Bagi yang mendapatkan tugas yang berat biasanya selalu menuliskan perasaannya dalam bentuk pupuh pangkur. Kekesalan dan kemarahan terhadap diri sendiri dilampiaskan dalam bentuk pupuh pucung. Sementara kebahagiaan diceritakan dalam pupuh sinom. Sedangkan rasa malu akan tingkah laku sendiri adalah tema pupuh wirangrong.

Sindiran terhadap orang lain merupakan tema pada pupuh ladrang. 17 pupuh di atas ditulis dan diucapkan dalam bahasa sunda dengan iringan suling disertai petikan kecapi.Kesadaran yang seakan rendahnya kemampuan dalam berbahasa sunda priangan dan pentingnya penguasaan bahasa Sunda sebagai ajeun diri urang Sunda mendorong penulis ikut serta dalam sebuah komunitas yang di dalamnya berisi pembelajaran bahasa dan sastra Sunda. Pembelajaran yang disampaikan melalui aplikasi WhatsApp ini diikuti oleh 89 peserta yang seluruhnya merupakan guru yang mengajar di wilayah provinsi Jawa Barat d a r i b e r b a g a i j e n j a n g Pendidikan, seperti SD, SMP, MTs, SMA, dan SMK. Dari seluruh peserta yang notabene merupakan penduduk Jawa Barat tersebut diketahui hanya 10% yang cakap berbahasa sunda dengan struktur bahasa yang baik dan benar. 5,6% yang mampu dan menguasai sastra Sunda dengan baik. Hal ini terbukti dari kemampuan mereka menulis carpon alias carita pondok, puisi sunda, carita alit dan lain-lain yang diterbitkan di majalah Mangle.Sisanya masih perlu banyak belajar kepada mereka yang dianggap pupuhu ini.

I n i c uk up m e n j a d i gambaran bahwa jangankan masyarakat umum, guru saja karena tugas keprofesiannya
menjadi digugudan ditiru oleh masyarakat pun masih banyak yang tidak mampu berbahasa Sunda dengan baik dan benar.

Inilah kondisi riil yang ada saat ini. Ketidakmampuan pada masyarakat Jawa Barat pada umumnya dan Bogor khususnya ditengarai diakibatkan oleh perkembangan zaman yang sangat pesat. Perkembangan zaman yang lebih menitik beratkan pada bidang teknologi ini telah menggerus budaya sunda dari masyarakatnya sendiri, terutama bahasa. Anakanak yang lahir dari pasangan ibu bapak orang Sunda pun tidak mampu berbahasa sunda lantaran di rumahnya mereka tidak dididik menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu. Bahasa Sunda pun akhirnya menjadi bahasa asing di rumahnya sendiri.

Oleh sebab itu perlu kesadaran semua pihak dibarengi upaya nyata untuk kembali menempatkan bahasa sunda sebagai bahasa ibu bagi penduduk Jawa Barat yang merupakan orang Sunda. Ini diperlukan agar ajeun diri urang Sunda tidak hilang dan terlupakan zaman. Bukankah menguasai bahasa asing, mengutamakan bahasa nasional dan melestarikan bahasa daerah adalah tugas kita bersama? Mari kita mulai belajar menggunakan bahasa Sunda dari diri kita sendiri, lingkungan terdekat dengan kita dan keluarga kita.

Semoga bahasa Sunda lestari di bumi Parahyangan.

***

Biodata
Neneng Hendriyani, lahir di Bogor, 9 Agustus 1982. Sejak kecil hobi membaca dan menulis. Pendidikan terakhirnya
adalah Magister Pendidikan B a h a s a I n g g r i s . K a r y a tunggalnya bervariasi dari puisi, esai, buku pelajaran hingga novel remaja. Hingga tahun 2019 ada 10 judul buku terbit berISBN. Yaitu, Albatros (2019),
Enrichment Book for XI SMK Based onCurriculum 2013 revision (2018), Antologi Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat (2018), Let’s Learn English Together (2018), Perlukah Kita Jujur? (2018), Setangkup Rindu dari Masa Lalu (2017), Janji Firly (2017), Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa Ke Masa (2017), Antologi puisi Bogorku, Bogormu, Bogor Kita (2017) dan Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017). Penghargaan sebagai penulis puisi batik terbaik Bogor 2017 mendorongnya ikut serta dalam berbagai sayembara penulisan puisi tingkat nasional d a n i nt e r n a si o n al. H a s i l sayembara tersebut dibukukan dalam Senyuman Lembah Ijen (Antologi puisi Nusantara ditulis
bersama penyair Asia Tenggara, 2018), Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia (2018), Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival (2018), Antologi Puisi penyair Asean 2018 (Kunanti di Kampar Kiri) dan Antologi Puisi penyair Asean 2019 (Membaca Asap). Karya Nulis Bareng yang tercatat pernah dihasilkan adalah antologi Jangan Berhenti Mengajar (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Puisi (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Esai (2017), Antologi puisi: Ilalang di Atas Batu (Google Play Store, 2018), Antologi Fiksi Mini Pelita di Mata Pelangi (2019), 1001 Membuat Guru-Siswa Suka Baca Buku (Buku 2) (2019) dan kumpulan cerita anak penumbuh budi pekerti Untuk Anakku (2019). Karya tulis lainnya berupa esai dan artikel terbit di Pikiran Rakyat, Bali Pos dan Majalah Kandaga Balai Bahasa Banten sejak 2017-2019. Tulisannya pun dapat dijumpai di https://nhwork.web.id.

Catatanku

Ada banyak sekali yang berubah sejak 16 Maret 2020. Apalagi kalau bukan perubahan akibat pandemi Corona Virus Disease 19. Semua sekolah ditutup. Kegiatan belajar mengajar dipindahkan. Rumah guru menjadi pusat kendali pembelajaran. Rumah peserta didik menjadi ruang belajar. Sementara ruang kelas virtual pun dibangun dengan menggunakan banyak sekali aplikasi pendukung berbasis IT. Sebut saja google classroom, google form, zoho form, zoom meeting, dll yang ikut mewarnai hari-hari sebagian besar guru SE 421-455-DISDIK se bupati 23 maret 2020 SE KADISDIK PERPANJANGAN PJJ 3 SE ke 2 Gub SE Menag No. 6 Tahun 2020 SE Menteri Nomor 4 Tahun 2020 OK SE Menteri Pelaksanaan Pendidikan 24-03-2020 SE No.6 Tahun 2020 ttg ramadanSE No.6 Tahun 2020 ttg ramadandan peserta didik di Indonesia.

Selain itu pemberlakuan PSBB alias Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk wilayah Jabodetabek pun sudah dilakukan. Tentu saja membawa berbagai macam dampak bagi masyarakat.

Berikut ini beberapa edaran dan surat resmi yang dikeluarkan selama #belajardarirumah, #bekerjadarirumah.

PANDUAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH BELAJAR DIRUMAH MASA C-19

SURAT GUBERNUR KPD BUPATI & WALI KOTA, HAL PERPANJANGAN PSBB TINGKAT DAERAH PROV JABAR

KEPGUB JABAR TTG PERPANJANGAN PSBB TINGKAT DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

SE Menteri Pelaksanaan Pendidikan 24-03-2020

SE No.6 Tahun 2020 ttg ramadan

SE Menteri Nomor 4 Tahun 2020 OK

SE ke 2 Gub

SE Menag No. 6 Tahun 2020

SE KADISDIK PERPANJANGAN PJJ 3

se bupati 23 maret 2020

 

yang terbaru nih ya, gaes 🙂

SE 421-241-DISDIK

Surat Kadisdik tentang SOP Pelayanan Pendidikan 2 juni – 10 juli 2020

Se perpanjangan psbb sd 4 juni

SE ASN New Normal