ATMA YANG TERSESAT

Oleh Neneng Hendriyani

Dalam perjalanan ini atmaku nyasar
Tersesat di antara riuhnya gelombang dan kepakan elang
Nyanyian jiwa makin pelan tak terdengar
Terdampar di antara bebatuan karang hilang tenggelam

Ah, siapa yang pantas disalahkan?
Dia telah beri segala yang Ia miliki tanpa pamrih
Sementara itu atmaku masih jua nyasar meski kidung pujian kulantunkan tiap pagi dan petang
Hilir mudik atmaku tak keruan
Mencari jalan pulang di antara gelapnya persimpangan
Hutan belantara, bukit dan gunung, lembah dan lautan menjadi tempat pelarian
Samsara tak jua berhenti menghadang
Atmaku hilang di telan keraguan

Nun jauh di sana
Pemilik atma masih berdiri
Merentangkan tangan berharap atma datang dalam peluk kedamaian
Sementara itu atmaku masih jua nyasar
Meski kidung pujian kulantunkan tiap pagi dan petang

( Bogor, 4 Maret 2020; 08.53 WIB)


Puisi ini berhasil masuk ke dalam antologi puisi “SEMESTA JIWA (ANTOLOGI PUISI BERTEMA SPIRITUALITAS)” halaman 96, terbit Mei 2020 dengan ISBN 978-623-92348-4-4.