Antara Bijih Emas dan Kamu

Oleh Neneng Hendriyani

Ada banyak hal yang belum dan mungkin tidak dipahami oleh banyak orang termasuk penulis. Mereka ingin karyanya langsung terbit dengan cepat, mudah, dan sesuai harapan dalam waktu singkat. Ibarat emas mereka ingin langsung berkilau tanpa mau menjalani setiap prosesnya.

Emas yang berbentuk indah dan menghiasi pergelangan tangan, leher, dan beragam aksesoris lainnya berasal dari sebuah tambang yang kotor dan dekil. Mereka diangkut dari sana dengan berbagai cara dan upaya yang tak kenal letih dan juga jumlah waktu yang dihabiskan.

Laki-laki perkasa yang sudah mengambilnya dengan mengorbankan keselamatan dirinya adalah pelaku utama yang membuat bijih emas itu bisa sampai di permukaan tanah. Dengan menggunakan teknik dan cairan kimia dia dilebur dan dipisahkan dari material lain yang terkandung di dalamnya.

Setelah melewati tahap pertama itu barulah bijih emas itu dilebur dan dibentuk sesuai pesanan. Ada yang 24, 21, dan 18 karat. Jelas sekali semakin rendah karatnya semakin rendah pula kualitas bahan emasnya. Pun sebaliknya.

Emas yang telah dibentuk itu lalu dihias dengan sedikit berlian, mutiara, atau Swarovski untuk menambah kilau keindahannya. Baru lah dia siap dipasarkan.

Semakin indah dan unik desainnya harganya pun semakin mahal. Semakin umum dan biasa rancangannya maka rendah pula harga jualnya. Ini adalah hukum alam yang tidak bisa diubah.

Begitulah emas sampai ke para pemakainya.

Sampai sini pernahkah kita berpikir bahwa karya kita laksana bijih emas? Dia akan bersinar dan mahal ketika kita telah melewati serangkaian tahap yang tidak enak dan menjemukan persis ketika bijih emas diangkut dari tambang dan diolah oleh para pengrajin. Apakah hasilnya akan sama antara emas muda yang memiliki karat rendah dengan emas mulia yang berkarat tinggi? Tentu tidak!

Penulis baru yang baru saja menulis kerapkali merasa tinggi hati dan terlalu percaya diri. Tanpa melihat kanan kiri, depan belakang, langsung mengirimkan naskahnya ke penerbit dengan kecongkakan yang membuat langit pun seketika mendung. Dia tak pernah berpikir apakah karyanya layak diterbitkan. Bahkan dia tak pernah berpikir apakah orang (pembaca) memahami isi karyanya dengan baik. Yang dia tahu, dia menulis, mengirim, dan harus diterbitkan dalam waktu secepatnya. Persis cerita fantasi Cinderella.

Dia tak pernah memikirkan naskahnya laksana produk yang belum melewati QC (quality control). Ada sisa benang yang harus dipotong dan dirapikan. Ini jelas memakan waktu yang tidak sedikit.

Carut marutnya naskah yang dikirim seringkali membuat editor terpaksa menenggak berpuluh-puluh obat sakit kepala saking naskahnya tidak masuk akal dan sulit dipahami. Penggunaan kalimat sederhana, majemuk bertingkat, tanda baca dan lain sebagainya jelas bukan perkara sepele dalam hal ini. Perlu kecermatan, kesabaran, dan dedikasi untuk merapikannya.

Namun bagaimana bila di sela-sela pelaksanaannya penulis justru menginterupsi dengan banyak hal yang remeh temeh? Merasa jumawa padahal naskah banyak yang kena unsur plagiat. Di sini haruskah bijih emas langsung menjadi emas batangan atau perhiasan?

Kita tidak sedang berbicara tentang pandai emas apalagi penambang liar. Kita sedang bicara tentang analogi dari sebuah proses kreatif.

Di setiap karya yang indah selalu ada tangan-tangan terampil yang penuh keikhlasan, keuletan, dan kesabaran memprosesnya agar bisa tampil seperti yang diharapkan.

Jadi, sebagai seorang teman, editor, dan juga penulis aku hanya ingin menyarankan satu hal. Pikirkanlah bila kamu berada di posisi si penambang atau pandai emas tersebut! Apakah kamu tahan dengan panasnya matahari yang membakar kulitmu saat mengayak pasir demi sebutir bijih emas? Apakah kamu tahan dengan haus dan lapar yang mendera saat tubuhmu basah bermandi lumpur dan mercury? Apakah kamu masih bisa bertahan ketika mata dan jari jemarimu ikut panas saat mulai melebur bijih itu dan membentuknya sesuai keinginan pemesannya? Apakah kamu sanggup melihat perhiasan yang kamu hasilkan lalu diakui sebagai karya orang lain tanpa menengok ke belakang? Bila tidak bisa, cukup diam dan bersabarlah. Tunggu hingga pandai emas itu mengabarimu berita gembira.

(Bogor, 28 Februari 2021;12.33 WIB)

Mengenal Indie Publishing

Oleh Neneng Hendriyani

Buku yang sering bapak dan ibu gunakan di sekolah adalah hasil panjang dari sebuah proses.

Umumnya penulis membutuhkan waktu 1 bulan – 1 tahun untuk menulis 1 buku sebelum menyerahkan ke pihak penerbit.

Penerbit bertugas menerbitkan naskah buku yang diserahkan penulis.

Ada dua macam penerbit. Penerbit mayor dan indie publishing. Penerbit mayor adalah penerbit yang mencetak naskah penulis dengan cara membeli naskah tersebut untuk jangka waktu tertentu. Umumnya lima tahun. Penulis tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun untuk mencetak naskahnya di penerbit ini. Penerbit justeru memberikan royalti (bagi hasil) kepada penulis. Umumnya bagi hasil yang diberikan sebesar 5-10% per eksemplar.

Sementara itu indie publishing tidak membeli naskah penulis. Penulislah yang mengirimkan dan meminta indie publishing untuk mencetak naskahnya. Baik penerbit mayor maupun indie publishing sama-sama mencetak naskah dan mengurus ISBN untuk buku yang diterbitkannya.

Yang membedakannya hanya pada letak marketingnya saja. Di indie publishing, penulis lah yang menjual bukunya secara langsung kepada masyarakat. Tidak ada bagi hasil atau royalti penjualan. Namun demikian, laba yang diperoleh penulis umumnya lebih besar daripada yang diperoleh apabila naskah diterbitkan di penerbit mayor.

Mengapa demikian? Hal ini karena penulis bebas menentukan harga jual. Dia tidak perlu memikirkan memberi laba kepada pihak penerbit.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah apabila ingin mencetak naskah buku di indie publishing penulis harus menyiapkan sejumlah uang untuk mengurus beberapa hal sebagai berikut. Yaitu, ISBN, lay out, editing, desain cover, cetak cover, dan cetak isi. Selain itu penulis pun harus membangun brand dan jejaring marketing sendiri.

Lalu keuntungannya selain bisa menjual semau penulis adalah penulis bebas memilih desain cover. Biasanya pihak indie publishing memberikan minimal dua pilihan cover. Penulis memilih yang paling disukainya. Selain itu apa pun genre tulisan dan kualitas tulisan tidak mempengaruhi keputusan pihak penerbit. Karena di indie publishing semua naskah bisa diterbitkan. Tidak ada kata penolakan seperti di penerbit mayor.

Nah, kalau Bapak dan Ibu mau mencetak naskah buku di penerbit mayor Bapak dan Ibu harus melakukan sejumlah langkah yang lumayan bikin kepala pusing. Pertama, analisis pasar. Pelajari jenis tulisan (genre) Yang sedang booming. Tulislah tentang genre yang booming tersebut. Kedua, pastikan naskah yang ditulis sudah sesuai dengan visi misi pihak penerbit. Jangan sampai salah kirim naskah. Ketiga, pelajari gaya selingkung penerbit. Sebagus apa pun naskah yang dimiliki bila tidak memenuhi gaya selingkung penerbit maka dipastikan naskah tersebut tidak layak cetak. Tidak layak cetak berarti tidak layak terbit. Keempat, pastikan tulisan Bapak dan Ibu sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bila tidak, maka mimpi menerbitkan buku di penerbit mayor bisa kandas. Kelima, perbanyak kesabaran. Biasanya waktu menunggu keputusan editor mengenai layak tidaknya, diterima tidaknya naskah Bapak dan Ibu bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Nah, sudah ada gambaran mau menerbitkan buku di mana?

(Bogor, 9 Januari 2021)
(#9Januari_AISEIWritingChallenge)