MENJADI PEREMPUAN YANG UTAMA!

OLEH NENENG HENDRIYANI

Di zaman yang modern dan serba canggih saat ini menjadi perempuan bukanlah hal yang mudah. Semudah membalikkan telapak tangan atau mendendangkan lagu kenangan. Ada banyak hal yang harus dimiliki. Ada banyak hal yang harus dikuasai; baik terlihat maupun tak terlihat pandangan mata.

Perempuan bukan lagi makhluk lemah yang hanya sekadar bertugas di bidang domestik rumah tangga. Seperti mengandung anak, merawat anak, hingga pekerjaan rumah tangga lainnya. Perempuan kini sudah bermetamorfosis menjadi makhluk yang serba bisa; serba kuat. Meskipun itu tampak pada lahiriahnya saja. Secara batiniah perempuan zaman sekarang tidak jauh berbeda dengan perempuan yang hidup seratus bahkan dua ratus tahun lalu. Ia masih merupakan makhluk yang sentimentil. Ia lebih mengutamakan perasaan daripada nalar dan logika yang dimilikinya. Ia tak pernah segan mengambil keputusan terberat dalam hidupnya hanya dengan mengikuti perasaannya saja. Ia tak pernah ambil pusing apakah perasaannya itu benar atau salah saat itu. Baginya bergerak mengikuti perasaan adalah hal yang benar. Itu adalah hal yang wajar karena perempuan tidak lah sama dengan lelaki.

Lelaki dari tahun ke tahun, dari masa ke masa tidak pernah berubah. Ia tetap sosok maskulin yang lebih mengedepankan nalarnya daripada perasaannya. Ia tetap teguh memegang prinsipnya sekalipun seringkali mengabaikan perasaannya sendiri. Begitulah perbedaan mendasar yang dimiliki keduanya.

Bila dulu perempuan hanyalah sekadar pelengkap kehidupan. Kini ia memainkan peran yang tak kalah pentingnya dengan laki-laki. Sudah banyak yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi sehingga dapat berkarier di perusahaan nasional dan asing. Bahkan, tak sedikit yang memegang jabatan penting di bidang pemerintahan. Hebat bukan? Tentu saja hebat. Coba bandingkan bila dulu perempuan hanya menerima perintah kini ia memberi perintah. Bila dulu ia menjadi pengikut kini ia memiliki pengikut. Bila dulu ia dipilih kini ia berhak memilih. Tak ada lagi sekat yang membedakan posisi antara laki-laki dan perempuan saat ini.

Namun, apakah itu semua sudah menjadikan perempuan sebagai sosok makhluk yang sukses dalam hidupnya? Apakah ia sudah berhasil menjalankan seluruh tugas dan kewajibannya baik menurut pandangan agama, sosial, dan budaya? Terlalu naif bila langsung menjawab “ya”. Perlu kejujuran dan keluasan wawasan untuk bisa menjawab semua persoalan tersebut.

Menjadi perempuan berarti menjadi penerus kehidupan. Begitulah setidaknya agama, sosial, dan budaya memandangnya. Hal ini tidaklah berlebihan. Bukankah perempuan memang difasilitasi semua kemampuan untuk melahirkan keturunan baru yang siap menjadi khalifatul ardhi? Selain itu ia pun dibekali kemampuan untuk mengelola perasaannya yang halus sebagai bekalnya dalam merawat tumbuh kembang keturunannya tersebut.

Sebagai penerus kehidupan, perempuan acap kali dipandang sebagai mesin reproduksi semata. Inilah yang membuat perempuan masa kini enggan mengakuinya. Coba saja tengok kenyataan di sekeliling. Berapa banyak perempuan yang malas hamil, malas menyusui, malas merawat buah hatinya sendiri? Mengapa mereka enggan melakukannya? Hal ini dikarenakan stigma yang diterima mereka membuat mereka malu. Pekerjaan tersebut menjadi tidak bernilai tinggi dan mulia lagi. Tugas merawat anak bukan lagi tugas yang memiliki prestige tinggi. Jadi, banyak yang menolak melakukannya.

Mereka yang bekerja di kantoran dan memiliki posisi tinggi di kantor lebih memilih menunda pernikahannya. Mereka melakukannya dengan kesadaran yang cukup tinggi. Mereka merasa sayang bila pekerjaannya tersebut terganggu dengan berbagai urusan rumah tangga yang remeh temeh. Mereka takut semua urusan tersebut menghambat kemajuan kariernya. Jadi, daripada terlanjur terjebak dalam kehidupan pernikahan yang dapat menghambat kemajuan kariernya mereka memilih hidup membujang.

Ketakutan di atas juga dialami oleh perempuan yang telah menikah dan bekerja. Akibatnya banyak yang menunda kehamilannya dengan menggunakan berbagai macam metode dan usaha. Pernikahan hanya dipandang sebagai status saja. Hal ini agar mereka terhindar dari ejekan sarkasme seperti “jones alias jomblo ngenes, atau ga laku.”

Sungguh tak mudah menjalani tugas sebagai penerus kehidupan. Perlu kesadaran yang luar biasa dari perempuan itu sendiri. Tingkat pendidikan dan wawasannya turut berperan aktif dalam membantunya memahami tugas utama tersebut.
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat membantu perempuan agar menjadi perempuan utama yang dapat menjalankan seluruh tugas dan tanggung jawabnya termasuk sebagai penerus kehidupan. Pertama adalah kesadaran akan posisinya sebagai perempuan. Perempuan yang baik adalah ia yang memahami kodrat kewanitaannya yang tak bisa lepas dari tugasnya sebagai penerus kehidupan. Sebagai perempuan ia harus menerima takdir biologisnya. Ia tak boleh mengeluh bila harus sakit saat menghadapi menstruasi, kehamilan, hingga proses kelahiran tiba. Ia pun tak boleh menyerah saat harus berjuang memberikan ASI kepada bayinya hingga usia 2 tahun.

Kedua adalah penerimaan akan posisinya di tengah keluarga. Ia harus siap menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang perempuan yang bersuami. Ia harus dapat menjalankan beberapa peran sekaligus dalam hidupnya berumah tangga. Ia harus pandai berperan sebagai istri dan teman bagi suaminya. Sekaligus berperan sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya. Ia tidak boleh membiarkan siapapun menggantikan perannya tersebut. Ia harus menjaga agar rumah tangganya tetap berjalan sesuai dengan harapannya dan seluruh keluarga besarnya.

Ketiga, ia harus siap berjibaku memberikan pelayanan dan pengabdian yang tiada tara bagi suami dan anak-anaknya. Hal ini agar suami dan anak-anaknya tidak kehilangan dirinya baik secara fisik maupun batin. Jangan membiarkan anak-anak tumbuh dan berkembang tanpa kehadirannya. Jangan menyerahkan semua hal yang berkaitan dengan anak-anak ke asisten rumah tangga atau pengasuhnya. Jangan biarkan ikatan (bonding) antara anak dan pengasuh tercipta dan lebih erat daripada ikatan ibu dan anak. Berilah waktu yang efektif dan efisien yang dapat dihabiskan bersama anak-anak. Sempatkanlah diri dalam bercengkrama dengan mereka sehingga ikatan ibu dan anak dapat tumbuh secara alamiah dan menyenangkan.

Keempat, hilangkanlah perasaan negatif yang berkaitan dengan karier. Tiupkanlah keyakinan ke dalam lubuk hati bahwa dengan menjadi ibu yang hebat dan istri yang hebat, karier di kantor juga akan hebat. Tutup semua telinga dari mendengarkan pernyataan buruk lingkungan kerja yang tidak mendukung profesi sebagai ibu. Bertemanlah dengan sesama perempuan yang menjadi ibu. Saling mendukung di antara sesama perempuan yang menjadi ibu adalah hal yang baik dan menyehatkan mental.

Kelima, tetaplah menjadi perempuan yang serba bisa baik di rumah maupun di luar rumah. Kerjakan semua pekerjaan rumah yang berkaitan dengan kemampuan sebagai wanita dengan perasaan riang. Latihlah keterampilan menjahit, merenda, mencuci, merapikan rumah, dan memasak. Jangan serahkan semua pekerjaan tersebut kepada orang lain sekalipun mampu membayarnya. Pekerjaan yang dilakukan sendiri hasilnya tentu berbeda baik dari kepuasan batin maupun kerapihannya. Jangan putus asa jika mengalami kesulitan saat melakukannya. Dengan banyak berlatih lambat laun semua akan menjadi biasa dan handal. Keluarga pun akan merasa lebih bahagia dan sangat dihormati bila semua makanan yang disantapnya adalah buatan ibunya sendiri.

Tetap keluarkanlah kemampuan terbaik saat bekerja di luar rumah. Profesionalitas tetaplah dijunjung tinggi. Jangan menjadikan pekerjaan rumah sebagai alasan saat prestasi kerja di kantor menurun. Cobalah untuk fair (jujur) terhadap diri sendiri. Bila mengerjakan segala sesuatu yang disukai tentulah hasilnya akan lebih baik dan sempurna. Maka, hindarilah mengerjakan yang tidak disukai. Perbanyaklah melakukan yang disukai. Dengan demikian semakin banyaklah aura positif yang diterima jiwa. Ini akan sangat baik bagi kesehatan tubuh dan jiwa.

Dengan melakukan seluruh uraian di atas tanpa sadar sebagai perempuan kita telah melaksanakan tugas utama di dunia ini. Yaitu penerus kehidupan dan penjaga kehidupan. Hal ini selaras dengan cita-cita Raden Dewi Sartika pada abad ke 18 lalu. Perempuan haruslah berdiri dengan mandiri, berdikari di sisi laki-laki dengan menjadi istri yang utama. Istri yang serba bisa dalam menjalankan tugas dan perannya baik di dalam rumah tangga maupun di luar rumah tangga.


Esai di atas adalah karyaku yang masuk ke buku antologi MENGHIDUPKAN RUH DEWI SARTIKA DALAM JIWA PARA GURU (SERI ESAI) (ISBN 978-602-5434-21-1) 2017:95-101.

Pengalaman Berharga

Tak ada satu pun penghuni rumah yang menyangkal omongannya. Dia memang sudah bisa memasak makanan kesukaannya sejak masih di bangku TK. Goreng telur ceplok, dadar, nasi goreng, nugget, sosis sudah bisa. Pasti bingung, ya. Kok anak seusia itu sudah bisa masak. Aku memang tipe perempuan yang malas masak. Selain itu aku pun paling senang membeli makanan matang yang langsung dikonsumsi keluarga. Aku selalu berangkat pagi dan pulang sore. Anak dititip di penitipan. Kami tiba di rumah sore hari dalam kondisi sama-sama capai. Nah, kebiasaan burukku ini tidak disukai Abang. Dia memaksaku mengajarinya masak agar dia selalu makan kapan pun dia mau tanpa menunggu aku pulang kantor membawakannya makanan.

Seminggu mengajarinya SOP berada di dapur, menyalakan dan mematikan kompor gas dengan aman serta bagaimana caranya memasak barulah aku merasa tenang meninggalkannya di dapur. Tuntutan perutnya yang lumayan lebih banyak dari pada saudara-saudaranya mendorongnya untuk pandai memasak makanan yang enak. Hasilnya semua anggota rumah menyenangi masakannya. Semua sepakat mengatakan masakannya enak.

Kini kembali ke masalah inti. Abang akhirnya membuka sejarah pertamanya di depan kami semua. Bagaimana dia mengajak gadis itu ketemu di lapangan, diberikannya coklat dan es krim lalu dinyatakannya perasaannya dengan malu-malu. Abang begitu lancar bercerita diselingi tawa cekikikannya saat dia merasa malu kepada kami. Lalu bagaimana dia kemudian begitu berapi-api marah tatkala bercerita bagaimana dia ditolak.

“Sialan banget. Tahu, nggak? Es krimnya diambil akunya diejek. Dia bilang aku jelek. Bukan tipenya. Gimana nggak kesel.”

Kami tertawa melihatnya. Dalam hati aku kagum dia berani jujur membicarakan hal yang tidak nyaman baginya di depan kami semua. Dia tidak takut bahwa bisa jadi setelah dia bercerita saudara-saudaranya akan mengejeknya. Dia tak peduli.

“Yah, Lu nggak nyadar kalau Lu emang jelek. Coba sini lihat nih sudah hitam, belo, gendut, hidup lagi.” Adiknya meledek.

“Ah, segini aku lebih ganteng dari pada Lu. Sudah pendek, kurus, cengeng lagi.” Balasnya.

“Ye, meskipun begitu aku mah ganteng. Lihat nih, hidung aku sama dengan Papa. Tinggi. Wew.” Timpal adiknya.

“Nggak usah bawa hidung, ya.” Dia mulai tersinggung. Hidungnya bergerak-gerak. Mengembang dan kian membesar. Adiknya tertawa keras sekali.

“Sudah urus tuh hidung, baru urus cewek.” Kakaknya menasihati.

“Bodo!”

Kutaruh telunjukku di depan bibir. Seketika suasana hening. Aku tersenyum. Kutepuk-tepuk bahunya.

“Sabar. Cinta itu ya begitu. Ada kalanya bikin jantung deg degan karena hepi, ada kalanya juga bikin jantung deg degan karena takut. Nah, karena kamu masih sekolah urusan cinta dipending dulu. Fokus belajar, dulu. Kalau Abang sudah pintar, kerja, dan mandiri jangankan dia yang hari ini nolak kamu, artis Drakor juga pasti tergila-gila padamu.

“Ah, mereka mah beda niat” sergahnya. “Ma, kalau aku sudah pintar, kerja dan kaya aku bisa milih kan mau nikah sama siapa?” Tanyanya tiba-tiba.

Aku tercengang. Belum sempat kubuka mulutku papanya menjawab. “Iya. Makanya semangat. Belajar yang rajin biar pintar.” Dikedipkanya matanya.
Abang tersenyum. Diciumnya tangan papanya. Dipeluknya aku. Bau matahari masih menempel di tubuh dan puncak kepalanya. Aku bahagia. Dia masih anakku yang bau kencur. Baru main suka-sukaan. Pengalaman pertamanya ini mengajarinya banyak hal yang berguna. Menyerah bukanlah pilihan baginya. Dia harus optimis memandang dirinya sendiri. Dia harus yakin dia bisa. Kedua orang tua hanya berperan sebagai teman bicara. Selebihnya dialah yang memutuskan sendiri. Mana langkah yang mau diambil mana yang tidak. Yang pasti tetap jalin komunikasi dengan anak

(Bersambung)

(Karadenan, 6 November 2020; 10:09 wib)

#Day03NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour