Cinta Yang Buta

Oleh: Neneng Hendriyani

Entah setan mana yang membuatku marah, meradang dan kesal. Yang pasti, aku merasa sangat kecewa. Tubuhku lemas. Nafasku memburu. Kakiku lemah. Ingin sekali teriak. Tapi tak mampu. Hanya air mata mengalir deras.

Malam kian larut. Bintang pun telah bersinar. Sayang kedua mataku enggan menutup. Lelah batinku. Lagi, air mata kembali mengalir diam-diam. Aku tak bisa berkata lagi. Kupandangi wajahnya. Polos dan lugu.

Duh, Tuhan. Mengapa ini harus terjadi. Tak pernah ku memohon kepada makhluknya. Di depannya tadi pagi aku memohon. Terisak-isak. Pilu. Tapi ia acuh. Aku pasrah. Tak berdaya. Ia diam seribu bahasa. Sementara isakanku makin keras dan lepas.

Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku tak bisa mengubahnya. Dalam diam dan tangis yang tertahan, batinku berbisik. Ya Allah, lindungi ia. Jangan biarkan air mataku jatuh lagi karenanya. Aku sangat mencintainya. Lagi-lagi tanpa syarat.

(Bogor, 20 September 2019; 07.35 wib)