Syarat Menjadi Konsultan Green building Indonesia

Oleh: Neneng Hendriyani

Syarat Menjadi Konsultan Green building Indonesia! Menjadi konsultan itu tidak mudah. Ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi oleh seseorang agar ia dapat menjadi konsultan. Selain harus mampu menguasai segala tetek bengek permasalahan mengenai bidang yang ingin dikuasai maka ia harus juga memiliki sejumlah prasyarat lain yang dapat mendukungnya melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai konsultan.
Untuk menjadi konsultan Green building Indonesia kamu harus tahu lebih dahulu apa itu Green building.
Green building adalah sebuah perumahan atau pemukiman yang didesain sedemikian rupa dengan memperhatikan segala aspek lingkungan. Aspek lingkungan di sini tidak hanya mengenai lingkungan biotik saja tetapi juga abiotik. Artinya lingkungan yang diinginkan berada dalam lingkup pemukiman tersebut haruslah mampu mendukung penghuninya untuk hidup sehat. Maka sejak proses perencanaan hingga pembangunan perlu memperhatikan dan mempertimbangkan lingkungan hidup yang ada di sekitarnya.
Setelah mengetahui definisi Green building, maka kamu dapat mengetahui apa saja kriteria atau syarat yang perlu dipenuhi agar menjadi konsultan Green building Indonesia.
Sebelumnya perlu diketahui bahwa konsep pemukiman Green building ini adalah konsep baru bagi Indonesia. Oleh sebab itu maka kamu harus memiliki pengetahuan luas mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan lingkungan.
Syarat menjadi konsultan Green building Indonesia sebenarnya sama dengan syarat menjadi konsultan Green building Jakarta. Yaitu kamu harus memiliki kepribadian menarik. Yaitu, seluruh pembawaan dan kepribadian harus menarik konsumen. Untuk menjadi menarik sebenarnya mudah. Cukup tampil rapi, sopan dan elegan. Selain itu, intonasi suara dan artikulasi pengucapan yang dimiliki jelas. Tidak sengau. Dengan begitu konsumen dapat mendengar dan mudah memahami paparan presentasi yang kamu berikan.
Selain itu, seorang konsultan green building Indonesia haruslah memahami dengan baik budaya dan adat istiadat masyarakat Indonesia yang heterogen. Hal ini disebabkan konsumen yang ditemui berasal dari beragam etnik.
Mengetahui berbagai kriteria pemukiman Green building ini belumlah cukup untuk membuatmu menjadi konsultan green building Indonesia. Kamu harus juga menguasai perbedaan antara konsep Green untuk bangunan dan untuk skala kawasan. Hal ini penting agar tidak menyulitkan dirimu sendiri di kemudian hari. Green building council (GBC) mengatur dengan jelas mengenai perbedaan kedua hal ini. Untuk negara USA, Canada dan Korea,segala hal yang berkaitan dengan Green building ini diatur oleh LEED for Neighborhood Development.
Syarat berikutnya adalah memahami berbagai istilah yang digunakan dalam green building Indonesia . Hal ini disebabkan oleh adanya pemahaman umum mengenai konsep green building Indonesia. Yaitu, sebuah pemukiman yang dirancang sedemikian rupa untuk mengurangi dampak lingkungan yang dibangun terhadap kesehatan manusia dan alam, melalui : efisiensi dalam penggunaan energi, air dan sumber daya lain, perlindungan kesehatan penghuni dan meningkatkan produktifitas pekerja, mengurangi limbah / buangan zat padat, cair dan gas, mengurangi polusi / pencemaran zat padat, cair dan gas serta mengurangi kerusakan lingkungan dengan cara menanam tanaman yang tidak hanya berfungsi sebagai tanaman hias tetapi juga tanaman pelindung.
Nah, dari penjelasan di atas maka kamu dapat menilai dirimu sendiri sekarang apakah kamu sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi konsultan Green building Indonesia termasuk menjadi konsultan Green building Jakarta atau belum. Dengan begitu kamu dapat menambah kompetensi yang dibutuhkan bila ternyata kompetensi yang kamu miliki belum memenuhi persyaratan di atas. Semoga bermanfaat.

IHT GERBANG AWAL SOSIALISASI PERLINDUNGAN PROFESI GURU

Oleh: Neneng Hendriyani, M.Pd*)

Menjelang awal tahun pelajaran baru Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dr. Ir. H. Ahmad Hadadi, M.Si, melalui edaran resmi nomor 422.1/10174-Set.Disdik perihal Kegiatan Guru pada Libur Akhir Tahun Pelajaran 2017/2018 telah menginstruksikan Kepala Sekolah untuk menugaskan guru yang tidak mengambil libur (disamakan dengan cuti tahunan PNS) untuk melaksanakan kegiatan antara lain meningkatkan pengembangan diri guru diantaranya melalui In House Training (IHT), workshop, pembinaan MGMP, dan berbagai kegiatan lainnya untuk tahun pelajaran 2018/2019.

Pada umumnya materi yang disampaikan dalam IHT adalah tentang segala hal yang berkaitan dengan kurikulum dan pembelajarannya. Seperti, penetapan nilai KKM, penyusunan silabus, analisis SKL-KI-KD, analisis materi, penyusunan rpp, dan penyiapan bahan ajar yang akan digunakan pada kegiatan belajar mengajar tahun pelajaran 2018/2019. Ini adalah agenda kegiatan tahunan yang selalu dilakukan di awal tahun pelajaran. Jadi, semua guru pasti sudah memahami dan dapat melaksanakannya dengan baik. Jarang sekali dimasukkan materi lain yang dapat meningkatkan kompetensi dan wawasan guru dalam bidang lain yang masih berhubungan erat dengan peningkatan kompetensi dan profesionalismenya.

Oleh sebab itu, sehubungan dengan kian maraknya tindakan kekerasan yang dialami guru dalam melaksanakan tugasnya juga tindakan kekerasan yang dialami anak di lingkungan sekolah, maka sudah selayaknya untuk memasukkan materi perlindungan profesi guru di dalam kegiatan IHT tahun pelajaran 2018/2019 ini. Hal ini sejalan dengan amanat para Pemateri Bimbingan Teknis Perlindungan Profesi Bagi Guru Jenjang Pendidikan Menengah yang dilaksanakan pada tanggal 4 – 6 Juni 2018 lalu di Hotel Maharani, Jakarta bahwa materi bimtek ini dapat didiseminasikan pada kegiatan IHT di sekolah masing-masing. Hal ini mengingat tidak semua guru mendapat panggilan dan kesempatan untuk mengikuti kegiatan bimtek tersebut. Sehingga untuk menyebarluaskan pentingnya materi tersebut maka IHT dipandang sebagai salah satu wadah kegiatan yang dapat digunakan oleh para alumni peserta bimtek dalam menyosialisasikan materi yang telah didapatnya.

Untuk pertama kalinya perlindungan guru dan tenaga kependidikan di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Peraturan berikutnya dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan. Di dalam peraturan pemerintah ini, perlindungan terhadap profesi guru dan tenaga kependidikan meliputi perlindungan untuk rasa aman, perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja, dan perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
Landasan hukum perlindungan guru lainnya adalah UU Nomor 14 Tahun 2005 pasal 39 (1) yang menyatakan Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas. Pada UU Nomor 14 Tahun 2005 pasal 39 (2) dinyatakan bahwa Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, pengakuan atas kekayaan intelektual.
PP 74 Tahun 2008 Tentang Guru pada pasal 39 (1) Guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya. Pada pasal 39 (2) Sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.

Pasal 40 menyatakan, guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing. Pasal 41 menyatakan, rasa aman dan jaminan keselamatan tersebut diperoleh guru melalui perlindungan hukum, profesi dan keselamatan dan kesehatan kerja. “Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.
Selain guru, peserta didik dalam hal ini anak juga memiliki payung hukum perlindungan terhadap anak. Payung hukum ini dibuat untuk melindungi anak dari tindakan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah.

Menurut Dr. Susanto, MA, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Komisi Negara Independen, perlindungan anak terintegrasi di dalam Pendidikan. Ia menyatakan bahwa terdapat tiga kelompok kecenderungan guru di lembaga pendidikan, yaitu sebagian berharap mendapatkan perlindungan hukum, namun melakukan tindakan yang dapat dikategorikan kekerasan; sebagian tidak melakukan tindakan kekerasan, namun mendapatkan ancaman dan diskriminasi; sebagian tidak melakukan kekerasan, namun mendiamkan perilaku kekerasan terjadi.

Menurut UU No. 35 Tahun 2014 Pasal 1 tentang Pelindungan Anak, kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.
Kategori kekerasan yang banyak terjadi di sekolah antara lain: (1) Kekerasan Fisik; menampar, menimpuk, menginjak kaki, menjegal, meludahi, memalak, melempar dengan barang, menghukum dengan berlari keliling lapangan, menghukum dengan cara push-up; (2) Kekerasan Psikis; memandang sinis, memandang penuh ancaman, mendiamkan, mengucilkan, meneror lewat pesan pendek telepon genggam atau e-mail, memandang yang merendahkan, memelototi, dan mencibir; (3) Kekerasan Verbal; memaki, menghina, menjuluki, meneriaki, mempermalukan di depan umum, menuduh, menyoraki, menebar gossip, memfitnah dan menolak; (4) Kekerasan Simbolik; gambar-gambar yang menyimbolkan kekerasan di buku-buku pelajaran, gambar-gambar yang menyimbolkan pornografi, gambar-gambar yang menyimbolkan diskriminasi, dll yang sekarang banyak muncul dalam buku-buku pelajaran; (5) Kekerasan Seksual; memegang, meremas bagian sensitif, berhubungan badan tanpa atau dengan paksaan, dan bentuk lain yang mengarah pada kekerasan seksual; dan (6) Kekerasan Cyber; mempermalukan, merendahkan, menyebar gossip di jejaring sosial internet (misal : Facebook).
Di lapangan masih ditemui guru belum bisa membedakan antara wilayah pelanggaran dengan wilayah pendidikan; Pendisiplinan disamakan dengan hukuman; Kekerasan dimaknai sebagai ketegasan; Sanksi menjadi andalan daripada konsekuensi; Pendekatan kekerasan dipahami untuk menjaga kewibawaan; Pendekatan kekerasan sebagai bentuk mental capacity. Akibatnya kekerasan terhadap peserta didik masih terjadi dengan dalih mendisiplinkan. Bila hal ini terjadi terus maka tidak mustahil guru mengalami ketidakamanan dan kenyamanan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai tenaga pendidik.

Untuk itulah maka sekali lagi materi Perlindungan Profesi Bagi Guru penting untuk dimasukkan sebagai salah satu materi utama dalam pelaksanaan In House Training Tahun Pelajaran 2018/2019 ini. Sehingga Pendidikan yang aman dan berkualitas dapat diwujudkan dengan baik.
—

Revisi Sampai Mabok

Oleh:Neneng Hendriyani

Revisi sampai mabok! Itulah motto kami di grup penulisan artikel yang kebetulan dapat bayaran. Iya lah dapat bayaran, wong nulis artikel itu nggak mudah, beib. Apalagi kalau ditentukan tema dan waktu pengumpulannya. Belum lagi harus dipastikan bebas unsur plagiat. So,wajar kan dibayar. Yah nggak besar sih tapi cukup lah. Tapi asli bikin mabok.

Meskipun dibayar per artikel tetap saja mabok. Lah gimana nggak mabok? tema yang diberikan itu bukan tema umum yang berkaitan dengan dunia pekerjaan sehari-hari. Kosa kata yang digunakan pun cenderung yang jarang digunakan pula.

Coba aja bayangkan. Sehari-hari ngajar anak SMK bagaimana berbahasa Inggris yang baik, eh giliran nulis artikel nggak ada yang berkaitan dengan pengajaran, kelas, siswa, apalagi kurikulum yang centil lantaran rajin ganti cover.

Selain tema dan waktu pengumpulan, ada hal lain yang membuat mabok. Saking maboknya sampai wegah lihat revisian yang numpuk. Glek. Hal ini adalah tata penulisan yang agak berbeda dari yang sudah dikenal dan lazim dilakukan. Jumlah kata yang harus persis sama dengan tugas yang diberikan juga penyumbang mabok berikutnya. Harus hati-hati dan super teliti menghitung jumlah kata yang ditulis sebelum mengirimkan ke kepala rombongan. Ini sangat menyita waktu dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Kelebihan sedikit saja, artikel langsung ditebak. Revisi lagi ya, kak. Kalau sudah begini jadi sedikit ilfil deh. Belum lagi rasa kesal terhadap diri sendiri yang muncul lantaran merasa gagal memenuhi target yang ditentukan.

Eit, jangan langsung bilang: “nggak apa – apa, kan dibayar.” Dengar ya, ini bukan soal bayaran juga loh tapi soal kepercayaan diri yang bisa naik turun macam wahana permainan yang bisa bikin semua isi perut keluar. Parah, kan.
Untungnya zaman sekarang sudah maju ya teknologinya. Ada aplikasi yang membantu untuk menulis dengan baik dan tepat. Tapi, tetap ya kita semua nggak boleh menaruh kepercayaan diri sepenuhnya kepada semua aplikasi tersebut. Kita harus menulis sendiri. Ini jauh lebih baik dan hasilnya lebih bagus. Maksudnya menulis dengan tetap mengetik menggunakan jari jemari. Ini membuat kita lebih fokus terhadap isi tulisan kita sendiri. Bila ada yang perlu direvisi kita bisa cepat melakukannya. Termasuk melakukan self editing.

Nah, kamu tertarik menulis artikel berbayar seperti aku? Kalau iya, siap – siap revisi sampai mabok ya.

(Cibinong, 4 Januari 2019)

MEMANFAATKAN LIBURAN DENGAN MEMBACA MELALUI BINGO

MEMANFAATKAN LIBURAN DENGAN MEMBACA MELALUI BINGO
Oleh: Neneng Hendriyani

Setelah pemberian Laporan Hasil Pembelajaran semester ganjil dan genap seluruh siswa belajar di rumah (baca: liburan). Saat-saat itulah mereka bebas dan merdeka melakukan apa pun yang mereka sukai, kapan pun dan di mana pun. Berbagai hal tersebut mereka lakukan sendiri dan bersama keluarga. Selain mengunjungi tempat wisata, mereka pun mengunjungi sanak saudara yang tinggal di luar kota. Pendek kata mayoritas dari mereka mengisi liburannya dengan kegiatan rekreatif. Hanya sedikit yang bersifat edukatif. Nah di sinilah guru sebenarnya dapat mengambil peran edukatif dengan cara yang menyenangkan. Yaitu memberikan tugas membaca dengan memberikan tantangan Bingo.

Bingo adalah sebuah permainan peluang yang terkenal di Amerika Serikat. Di sana permainan ini dimainkan oleh lebih dari satu orang. Setiap pemain diberikan tantangan tertentu sesuai dengan angka yang dipilihnya. Bila ia berhasil menyusun sejumlah angka yang berderet secara horizontal, vertikal ataupun diagonal maka ia berteriak “BINGO”.

Dengan mengadopsi dan mengembangkan permainan Bingo dalam memberikan tugas membaca kepada siswa maka siswa dapat mengerjakan tugas yang diberikan dengan senang hati tanpa adanya rasa dibebani. Hal ini disebabkan model yang digunakan adalah permainan. Di dalam permainan ini mereka dapat memilih sendiri jenis bacaan apa yang akan mereka baca pada hari pertama, kedua, dan seterusnya. Guru hanya perlu membuat sebuah papan sederhana yang berisi kotak-kotak angka 1 hingga 14. Di setiap kotak diisi jenis bacaan yang harus dibaca siswa di waktu liburan. Jenis bacaan yang ditulis di dalam kotak disusun sedemikian rupa agar menantang siswa. Jenis bacaan tersebut di antaranya adalah membaca buku biografi, sejarah, puisi, majalah remaja, surat kabar daerah, surat kabar nasional, novel remaja, novel petualangan, cerpen, cerbung, majalah wanita, majalah kesehatan, majalah film, dan majalah musik. Untuk menjaga mood siswa dan semangatnya ada baiknya guru menyisipkan hadiah kecil di dalam salah satu kotak angka. Hadiahnya bisa berupa jeda membaca untuk satu hari.

Dari pengalaman penulis, untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka guru harus memberikan kebebasan kepada siswa untuk membaca apa pun yang mereka sukai dari jenis bacaan yang telah ditentukan di dalam kotak-kotak angka. Dengan memberikan kebebasan ini mereka akan belajar menyukai kegiatan edukatif ini. Mereka bisa bersenang-senang sambil mendapatkan ilmu pengetahuan yang bisa menambah wawasan dan cakrawala berpikir mereka. Dengan membaca salah satu artikel di majalah kesehatan misalnya mereka jadi sadar akan pentingnya menjaga kesehatan. Selain itu mereka pun mengetahui bagaimana mencegah sekaligus mengobati penyakit yang dibacanya. Dengan membaca cerpen dan cerbung mereka belajar tentang berbagai hal yang membangun cerita tersebut. Tanpa disadari mereka belajar perbedaan keduanya. Membaca novel remaja dan petualangan dapat membuat mereka mengembangkan fantasi dan kemampuan bahasanya. Pendek kata, mereka mendapatkan banyak hal yang sangat bermanfaat bagi diri mereka sendiri dengan membaca berbagai jenis bacaan yang berbeda-beda setiap harinya.
Untuk mengecek keaktifan mereka dalam memainkan permainan Bingo ini guru dapat meminta siswa membuat laporan sederhana yang berbentuk resume. Seluruh bacaan yang mereka baca pada hari pertama hingga hari keempat belas ditulis dalam lembar resume terpisah. Resume-resume ini berisi tentang identitas bacaan dan isinya. Mintalah mereka menuliskan juga mengenai perasaan dan pendapat mereka setelah membacanya. Ini penting sekali untuk mewaspadai kecurangan yang mungkin dilakukan oleh siswa yang kurang disiplin dan bertanggung jawab dalam melakukannya. Dengan demikian mereka pun belajar disiplin, jujur dan bertanggung jawab.

—

Esai di atas adalah karyaku yang dimuat di buku antologi “1001 CARA MEMBUAT GURU-SISWA SUKA BACA” (ISBN 978-602-53933-5-8) pada halaman 99-105. Buku ini lahir berkat usaha nyata dari seluruh anggota SGSI Kelas Menulis Antologi Pendidikan yang diselenggarakan melalui Telegram pada tahun 2019.

Our Field Trip Stories

Mendorong siswa menuliskan pengalamannya bukanlah tugas yang mudah. Memberikan dorongan, contoh, bimbingan, dan tugas perlu dilakukan secara simultan. Inilah hasil dari semua kerja keras tersebut. Sebuah buku antologi yang ditulis oleh siswa perwaliannya di kelas X Multimedia SMK NEGERI 1 Cibinong pada tahun pelajaran 2017-2018.

Tertarik? Yuk klik di sini:

Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa Berbicara Bahasa Inggris

Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa dalam Berbicara Bahasa Inggris
Penulis: Neneng Hendriyani
ISBN 978-602-6707-97-0
Editor: Nining Suryaningsih
Penata Letak: Handoko
Desain Sampul: @kholidsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2017
viii, 58 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Juli 2017
Diterbitkan oleh
CV. Cipta Media Edukasi
Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya
Website: www.mediaguru.id

Buku ini ditulis berdasarkan thesis yang disusun penulis dengan judul CODE SWITCHING AND CODE MIXING IN
STUDENTS LANGUAGE LEARNING IN ENGLISH AT SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 CIBINONG BOGOR Pada Program Pascasarjana UHAMKA Jakarta tahun 2013.

Buku ALIH KODE DAN CAMPUR KODE: STRATEGI SISWA DALAM BERBICARA DALAM BAHASA INGGRIS ini ditujukan untuk para Guru bahasa Inggris agar dapat mengenali faktor penghambat dan pendukung keberhasilan berbicara siswa dalam bahasa Inggris. Sehingga diharapkan setelah membacanya guru dapat semakin mendorong siswa untuk menguasai kemampuan berbicara (speaking) siswa terutama di SMK.

Buku Alih Kode dan Campur Kode ini membahas tentang berbagai jenis Alih Kode (code switching) dan Campur Kode (code mixing) yang kerap kali mempengaruhi siswa dalam belajar speaking di kelas Bahasa Inggris.

Dengan mengetahui berbagai jenis peralihan ini guru dapat mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi di kelasnya. Terutama speaking class.

Daftar Isi
Kata Sambutan iv
Kata Pengantar vi
Daftar Isi viii
Bab I Kondisi Perkembangan Bahasa Inggris Di SMK 1
Bab II Strategi Siswa Belajar Bahasa Inggris 9
Bab III Alih Kode Dan Campur Kode 15
Bab IV Peran Alih Kode Dan Campur Kode dalam Kemampuan Berbicara Siswa SMK 35
BAB V Solusi Guru 41
Daftar Pustaka 47
Profil Penulis 56

Pada dasarnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau vokasi setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA) dan paket C baik umum maupun kejuruan. Yang membedakannya adalah SMK merupakan lembaga pendidikan yang menitikberatkan pada pendidikan kejuruan yang berbasis kebutuhan dunia usaha dan industri. Hal ini dikarenakan lulusan SMK ditujukan sebagai tenaga siap kerja pada berbagai bidang usaha dan industri baik yang berbasis teknologi industri, bisnis manajemen, perikanan, kelautan, kecantikan dan lain sebagainya.

Untuk mendukung tujuan tersebut maka pembelajaran di SMK difokuskan pada keahlian kompetensi yang harus dikuasai siswa dengan baik. Contohnya, siswa yang belajar pada kompetensi keahlian teknik gambar bangunan harus menguasai kompetensi simulasi digital, mekanika teknik, ilmu ukur tanah, desain interior, desain eksterior, menggambar
dengan perangkat lunak, gambar teknik, rencana anggaran biaya, dan lain-lain. Begitu juga dengan siswa yang belajar
pada kompetensi keahlian teknik otomasi industri harus menguasai kompetensi merakit listrik, panel listrik erancang program scada, dan lain sebagainya. Hal yang sama dapat ditemukan pada siswa jurusan kompetensi keahlian teknik konstruksi kayu yang juga dituntut menguasai dasar-dasar pengamplasan yang baik, mengenal beragam model furniture dan cara membuatnya, membuat kuda-kuda rumah, memasang keramik, membangun rumah, dan lain sebagainya. Hal di atas diperlukan agar saat siswa lulus dari SMK mereka benar-benar dapat bekerja baik secara mandiri dengan membuka lapangan pekerjaan sendiri atau menjadi tenaga kerja siap pakai pada perusahaan, perkebunan, perkantoran, dan industri yang membutuhkan.

Untuk mendukung hal itu fokus pembelajaran bahasa Inggris sebelum kurikulum 2013 adalah mempelajari language
fokus. Di sini siswa dilatih menggunakan berbagai ekspresi atau ungkapan yang digunakan untuk menyapa orang baik
formal maupun informal, meminta dan memberi bantuan, menawarkan dan meminta jasa, memberikan pendapat, dan
lain-lain.

Setelah kurikulum 2013 diterapkan kompetensi lulusan siswa SMK menjadi semakin kompleks dengan diwajibkannya
memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang sama dengan siswa SMK sederajat, yaitu Sekolah Menengah Atas,
Sekolah Menengah Atas Luar Biasa, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah Kejuruan, dan Paket C.

Untuk dimensi sikap, lulusan SMK harus memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia,
berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam
serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Untuk dimensi pengetahuan, mereka
dituntut memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. Pada dimensi keterampilan, kompetensi lulusan SMK adalah memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.

Melihat tingginya tingkat pencapaian kompetensi SMK yanga rata-rata berada pada tingkat lima dan enam, serta mempertimbangkan standar kelulusan SMK di atas maka sudah sewajarnyalah jika siswa SMK mampu menguasai bahasa asing dengan baik dan lancar sebagai bahasa kedua mereka disamping bahasa ibu dan bahasa nasional.

Bahasa ibu menurut para ahli adalah bahasa daerah di mana seseorang lahir dan dibesarkan. Menurut Holmes, ,
bahasa daerah (vernacular language) adalah bahasa yang digunakan untuk interaksi sehari-hari, tanpa menyiratkan
bahwa itu adalah satu-satunya bahasa yang hanya tepat dan dapat digunakan secara informal untuk menunjukkan
solidaritas dan identitasnya. Sehingga bahasa daerah digunakan juga untuk komunikasi di rumah dan dengan teman-teman dekat. Sementara Bahasa Nasional adalah bahasa yang resmi digunakan di sebuah negara dan ditetapkan melalui undang-undang dasar.

Bagi kita masyarakat Indonesia, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa pemersatu bangsa sekaligus sebagai bahasa pertama. Bahasa daerah seperti basa sunda, jawa, betawi, batak dan padang adalah vernacular language. Bahasa asing di antaranya bahasa perancis, Mandarin, Jepang, dan Inggris yang marak diajarkan
di bangku-bangku sekolah SMK adalah bahasa kedua.

Bahasa pertama wajib diajarkan di bangku sekolah sejak tingkat taman kanak-kanak hingga universitas. Ia dikenal
dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Untuk bahasa daerah, pemerintah memasukkannya ke dalam kurikulum
sebagai muatan lokal dimana bahasa yang diajarkan di sesuaikan dengan lokasi sekolah tersebut berada; sekolahsekolah di jawa barat mengajarkan basa sunda sebagai mata pelajaran muatan lokal wajib sejak bangku SD hingga SMK sederajat. Sementara bahasa asing diajarkan di bangku sekolah mulai dari perkenalan kosa kata sejak di TK hingga universitas.

Seperti yang telah diketahui bersama, bahasa asing yang salah satunya adalah bahasa Inggris adalah lingua franca saat ini. Seluruh masyarakat dunia menggunakan bahasa ini tak hanya dalam bentuk tulisan namun juga lisan dalam bentuk komunikasi sehari-hari melalui email, blog, surat bisnis, dan lain sebagainya. Negara-negara yang bukan pengguna bahasa tersebut berbondong-bondong memaksa warga negaranya untuk mempelajari bahasa itu di lembaga-lembaga
pendidikan yang dibangun di wilayahnya.

Untuk pembelian klik disini:

Setangkup Rindu Dari Masa Lalu

Setangkup rindu dari masa lalu Neneng Hendriyani CV Situseni 978-602-5434-34-1

Setangkup Rindu Dari Masa Lalu adalah kumpulan buku antologi puisi pertamaku. Tema puisi di buku ini adalah kisah cinta antar Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka.
Cinta yang hadir di antara kepentingan politik dan hidup bernegara selalu menimbulkan lara yang dalam.
Tiada yang lebih berarti selain kesetiaan kepada negara dan tanah air. Untuk hal yang satu ini, terpaksa cinta dikorbankan.

Cinta yang suci, berbalut kehormatan adalah napas dari isi puisi dalam buku ini. Cinta yang tak selamanya harus dimiliki dalam satu perjalanan hidup anak manusia. Cinta yang selalu membutuhkan pengorbanan, juga harapan yang membentang. Cinta yang ceritanya tak akan mudah terlupakan.

Seluruh puisi yang ditulis dalam waktu singkat ini seluruhnya berisi kisah tentang Hayam Wuruh – Dyah Pitaloka. Sebuah kisah klasik yang jarang disentuh para penyair, sarat dengan nilai sejarah dan hikmah.

Mau pesan? Klik di sini ya

Bogor: Peninggalan Sejarah Dari Masa Ke Masa

Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa ke Masa
ISBN 978-602-5434-07-5
Penulis: Neneng Hedriyani, M.Pd.
Penyunting: Ésép M Zaini
Tata Sampul:
Tata Isi: Ésép M Zaini
Pracetak:
Cetakan Pertama: Agustus 2017
Penerbit
Hendriyani, Neneng
Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa ke Masa/ Neneng
Hedriyani, M.Pd.; editor, Ésép M Zaini -cet. 1-, 2017
ukuran: 14.8 x 21
jumlah halaman: xii + 236

Mengunjungi Bogor di musim liburan sekolah ini adalah pilihan yang tepat bagi Anda yang memiliki anak-anak masih sekolah. Selain Kebun Raya Bogor, anda juga perlu membawa anak-anak ke seluruh musim yang ada di kota Bogor ini. Sebut saja, Musium Perjuangan, Musium Zoologi dan Musium PETA.

Buku ini pun dapat diakses di National Library of Australia

Ayo ajak anak-anak Anda belajar sejarah langsung ke lokasinya.

Untuk pembelian klik disini ya:

Janji Firly

Janji Firly
Penulis: Neneng Hendriyani, M.Pd.
Penyunting: Y. Nugraha
Tata Sampul: Sulthan
Pracetak: Tim SKB Graphic
Cetakan Pertama: Oktober 2017
Penerbit
SituSeni
Jalan Peta – Jalan Sukamulya
Kp. Sukamulya Dalam II No.21
RT. 06/09, Kel. Sukaasih
Kec. Bojongloa Kaler
Bandung 40233
Telepon: 089530021438
Surel: situseni.net@gmail.com
Website: situseni.com

Di novel Janji Firly ini, jatuh cinta tak selamanya indah. Juga tak selamanya bermandi air mata. Jatuh cinta adalah hal yang lumrah terjadi. Kesannya tak akan pernah hilang meskipun kisahnya tak lagi berulang. Sebagai orang tua janganlah bersikap egois saat anak tercinta baru mengalaminya. Biarkan ia mengalaminya. Biarkan berjalan apa adanya. Toh, takdir dan jodoh tak ada yang bisa mengendalikan selain Tuhan.

Kisah ini ditulis sebagai upaya sadar yang dilakukan penulis dalam rangka menyampaikan perasaannya tentang cinta yang tak sampai. Kegagalan si tokoh utama dalam cerita ini adalah pelajaran yang sangat berharga yang dapat dipetik oleh seluruh orang, terutama orang tua.

Bagaimana campur tangan orang tua dalam mendidik, membesarkan dan menentukan jodoh anaknya adalah hal yang perlu dikritisi pada zaman sekarang ini. Bukan tidak mustahil seluruh pengalaman buruk yang mereka alami sebelumnya secara tidak sadar dijadikan alasan dalam mengambil keputusan yang tidak bijaksana. Hubungan yang harmonis antara anak dan orang tua hanya bisa dicapai apabila ada keselarasan cara berpikir dan cara pandang terhadap hal yang sama. Apabila terdapat perbedaan dalam memandang sesuatu hal yang dianggap penting, kesediaan kedua belah pihak untuk mendiskusikannya adalah langkah tepat yang perlu dan harus diambil demi menyelamatkan hubungan yang harmonis tersebut.

Anak manusia seringkali diibaratkan sebagai anak panah. Kemana ia akan melesat tergantung kepada
busur yang melepaskannya. Maka, menjadi orang tua yang bijak adalah sebuah hal yang sejatinya harus
dimiliki siapapun yang bertitel orang tua.

Untuk pembelian klik disini: