HUJAN TAK DERAS LAGI

HUJAN TAK DERAS LAGI
Oleh: Neneng Hendriyani

Hujan itu tak deras lagi
Sejak mesin-mesin berlomba masuk hutan
Beberapa tahun silam

Nyanyian dedaunan,
gemerisik angin petang diiringi tetabuhan suara hewan,
gemulai tarian dahan panggil hujan
tinggal kenangan

Sejak hutan dirudapaksa
Ribuan batang pohon rebah terkapar menyerah kalah
Tak bisa cegah rumah burung jatuh dari pelukan,
Tak bisa larang lubang hewan ditutup ribuan ranting patah
Tak bisa teriak lantang: HENTIKAN! JANGAN LAKUKAN!

Hancur sudah rumah,
putus sudah ikatan yang mengundang hujan datang
Kini hujan tak deras lagi
kini semua mati suri
jangan tanya kapan kembali berseri,
mewangi dan tebar pesona negeri
Sebab hujan tak deras lagi
(Bogor, 17 Agustus 2018)
—

HUJAN DI MATA AYU

HUJAN DI MATA AYU
Oleh: Neneng Hendriyani

Tiap hujan turun ia gembira

Di bawah payung hitam ia lari ke taman kota

Berdiri menanti ‘tuk ke sekian masa

Seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun jantungnya berdansa

Menari di antara kelopak teratai

Lompat sejauh ia bisa ke tepi kolam

Berdiri menyambut seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun, ia kembali hidup

Matanya bersinar berkilat indah laksana kejora

Berkedip terpesona pada bulir air yang jatuh

Di atas daun keladi

Tiap hujan turun, harapannya tumbuh ribuan kali

Tak peduli musim berganti

Tak peduli dingin yang dihadapi

Ia bahagia berlari di bawah payung hitam

Berdiri menanti ‘tuk ke sekian masa

Seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun, ia percaya

Selalu ada cinta yang berlari ke arahnya

(Bogor, 17 Agustus 2018)

—

*) Puisi ini terpilih di dalam ajang lomba menulis puisi yang diadakan di Banjarbaru, Kalimantan, yaitu Banjarbaru Rainy Festival 2018.

Bertemu Hantu

Bertemu Hantu
Oleh Neneng Hendriyani

Ada amarah menyeruak jiwa
Cepat memanas bergelora
Dalam diam ku tahan segala
Sumpah serapah jua seringai serigala

Aku cuma menatap
Berpikir selintas lari menjauh
Kuhapus semua tentang dirimu
Anggap saja bertemu hantu

(28/11/2017, Lembah Hijau Resort Puncak)

Meeting a Ghost
by Neneng Hendriyani

Anger surges within my soul,
Quickly igniting, fiercely ablaze.
In silence, I hold it all back,
Curses, oaths, and the snarl of a wolf.

I only stare,
Briefly thinking of fleeing far away.
I erase everything about you,
As if I had merely met a ghost.

(Lembah Hijau Resort Puncak, November 28, 2017)

Puisi ini pertama kali kutulis di akun FB ku Neng Hendri Suparman (https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10210443671357370&id=1511622608). Kutulis otomatis saat melaju di atas Xeniaku pada malam itu menuju Ciloto tempat keluarga suami.

#bertemuhantu #hantu #ciloto #puisi #nenenghendriyani #puncak #bogor

Dinda

DINDA
Oleh: Neneng Hendriyani

Ijinkan aku kembali, Dinda

Kala bulan telah purnama

Kala mega telah hilang di angkasa

Kala camar telah kembali ke sarangnya

Ijinkan aku kembali

Telah jauh aku berjalan

Telah kulewati banyak tegalan

Tak ada satupun yang aku pegang

Sebagai jawaban

Aku mulai lelah, Dinda

Tulangku mulai rapuh

Tubuhku kian bungkuk

Kakiku kian lemah

Aku ingin duduk di sini

Menatap hijaunya padi

Menghirup segarnya embun

Agar tumbuh semangatku

pulang ke asalku

Ijinkan aku kembali, Dinda

Berbaring di sisimu

Lepaskan semua penatku

Lepaskan semua egoku

Ijinkan aku kembali padamu, Dinda

(Karadenan, 12/11/2017)

DI BUBAT CINTAKU TERTAMBAT

Oleh: Neneng Hendriyani

 

 

Di Bubat cintaku tertambat

Bukan pada tahta apalagi wanita;

Esa hilang dua terbilang

Kumpulkan pamor juga digdaya

 

Di Bubat cintaku teriak

Di ujung senjata semua jadi cerita;

Kala mati jadi awal, hidup jadi akhir,

Musnah tak termakan usia lenyap bersama karma

 

Dalam kepundan doa kekal semua rasa

Menjulang saingi alang-alang terang saingi bintang

Dalam sinar kasih:

Di Bubat aku paripurna!

 

 

(Bogor, 16 Juli 2018)

—