Resume Buku “Digital Pedagogy: The Use of Digital Technologies in Contemporary Education”

Oleh Neneng Hendriyani

Sejatinya ini adalah tugas luaran untuk Mata Kuliah Teori dan Konsep Keilmuan bagi mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Konsentrasi Pendidikan Digital di Universitas Negeri Yogyakarta. Sebagai seorang visual sekaligus psikomotor, saya lebih suka belajar sambil mengerjakan alias learning by doing. Izinkan saya berbagi pemahaman terkait materi pada buku ini. Jika ada yang berbeda dengan pemahaman Anda, silakan tulis di kolom komentar dan kita akan berdiskusi lebih lanjut sebagai pendalaman terhadap materi ini.

Buku ini berjudul: Digital Pedagogy: The Use of Digital Technologies in Contemporary Education. Ditulis oleh Senad Bećirović. Diterbitkan oleh Springer Nature Singapore tahun 2023.

Mari kita bahas isi bukunya per bab, ya.

Pada bab 1, Senad Bećirović mengajak kita berpikir, What Is Digital Pedagogy? Ia ingin mengajak kita memahami perbedaan mendasar antara digitization, digitalization, dan digital transformation. Digitization menurutnya berkaitan dengan mengubah sesuatu dari bentuk fisik ke digital. Contoh, dari buku cetak ke buku digital. Digitalization lebih jauh, yaitu memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan proses dan efisiensi. Contoh, penggunaan aplikasi dalam pembelajaran daring. Sementara itu, digital transformation merupakan perubahan menyeluruh terhadap operasi, proses, model, dan cara kerja institusi dengan memanfaatkan potensi teknologi digital.

Secara garis besar, bab ini berisi landasan epistemologis buku dengan fokus utama mendefinisikan digital pedagogy dan menempatkannya dalam konteks transformasi digital pendidikan.

Digital pedagogy kemudian diposisikan sebagai disiplin yang membahas bagaimana teknologi digital digunakan dalam proses pendidikan untuk menciptakan pengalaman belajar yang relevan sehingga murid memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dibutuhkan pada era digital. Digital pedagogy tidak sama dengan online learning atau e-learning karena cakupannya lebih luas: dapat diterapkan pada pembelajaran tatap muka, hybrid, maupun online.

Bab ini juga memperkenalkan critical digital pedagogy. Artinya, penggunaan teknologi tidak cukup dilihat dari aspek efisiensi atau kemampuan teknis, tetapi juga perlu mempertanyakan relasi kekuasaan, kepentingan, nilai, akses, keadilan, dan dampak sosial teknologi bagi pengguna (murid, guru, sekolah, lingkungan sosial, pemerintah, dlsb).

Konsep paling penting dari Bab 1 adalah: Digital pedagogy bukan technology-mediated teaching semata, tetapi perubahan cara berpikir tentang teaching and learning. Dengan demikian, teknologi bukan tujuan, melainkan mediator pedagogis. Artinya, teknologi bukanlah tujuan yang ingin dicapai dalam proses pendidikan itu sendiri melainkan alat yang digunakan dalam proses pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan.

Secara konseptual dapat digambarkan: Digital Transformation → perubahan institusi → perubahan pedagogi → perubahan pengalaman belajar.

Pemahaman ini penting karena sekolah dapat saja memiliki banyak perangkat digital tetapi belum mengalami transformasi pedagogis. Proses pembelajaran yang dilakukan di kelas belum memberikan perubahan pengalaman belajar yang semestinya.

Pada Bab 2 — Why Do We Need Digital Pedagogy? Bećirović mengajak kita menjawab pertanyaan mengapa pendidikan membutuhkan digital pedagogy. Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini di semua belahan dunia masyarakat mengalami perubahan akibat globalisasi, teknologi informasi, dan perubahan dunia kerja. Karena itu, sekolah tidak lagi cukup hanya mentransfer pengetahuan. Murid membutuhkan kemampuan digital, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi agar dapat survive, mandiri, dan unggul di masa depan. Dari sisi pemerintah atau otoritas pendidikan, digital pedagogy diperlukan agar kurikulum dan kompetensi guru mampu mengikuti perubahan zaman. Guru membutuhkan pelatihan berkelanjutan, bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan menggunakannya dalam pembelajaran dan asesmen. Dari sisi pedagogis, teknologi memungkinkan pembelajaran menjadi lebih adaptif terhadap kebutuhan dan kompetensi murid.

Bećirović mengidentifikasi sedikitnya enam sumber harapan terhadap digital pedagogy:

  1. Societal expectations
  2. Educational authority expectations
  3. Pedagogical expectations
  4. Open and Distance Education (ODE) expectations
  5. Parental expectations
  6. Student expectations

Kita akan bahas keenam sumber harapan tersebut secara terpisah, ya.

Bab ini menunjukkan bahwa digital pedagogy merupakan respons sistemik terhadap perubahan lingkungan pendidikan. Hal ini membuat kita sadar bahwa, alasan menggunakan teknologi bukan: “Karena sekolah harus mengikuti perkembangan zaman.” Tetapi: Karena karakteristik masyarakat, dunia kerja, murid, dan proses belajar telah berubah sehingga pedagogi juga harus berubah.

Ini membawa kita pada konsep ecological perspective: transformasi digital dipengaruhi oleh interaksi antara guru, murid, sekolah, keluarga, kebijakan, teknologi, dan masyarakat.

Pada Bab 3 — The Role of Digital Pedagogy in Fostering Digital Literacy in Students, Bećirović menegaskan bahwa digital literacy lebih luas daripada kemampuan menggunakan komputer atau media sosial. Artinya, kemampuan berselancar di media sosial dan komputer tidak serta-merta dinilai melek digital. Menurutnya, digital literacy mencakup kemampuan untuk mencari informasi, mengevaluasi informasi, berpikir kritis, menganalisis dan mensintesis informasi, menggunakan teknologi secara tepat, menciptakan konten, berbagi informasi, dan memahami norma perilaku digital. Inilah yang dimaksud sebagai kompetensi fundamental murid.

Dengan demikian: Digital literacy ≠ kemampuan mengoperasikan perangkat. Seseorang dapat mahir menggunakan smartphone, komputer, tablet, dan gadget lainnya, tetapi belum tentu memiliki literasi digital yang baik.

Bab ini juga menekankan digital citizenship. Sekolah tidak hanya bertugas membentuk “good citizen“, tetapi juga good digital citizen. Murid harus mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, positif, aman, etis, dan sesuai norma hukum serta moral.

Dari bab ini kita mengetahui bahwa ada pergeseran penting yang terjadi dalam digital pedagogy. Yaitu, Digital user → Digital literate → Digital citizen.

Jadi tujuan pendidikan digital bukan menghasilkan murid yang sekadar bisa menggunakan teknologi, tetapi yang kritis terhadap informasi, etis dalam berinteraksi, aman dalam menggunakan teknologi, produktif dalam menciptakan pengetahuan, dan bertanggung jawab sebagai warga digital.

Implikasi pergeseran tersebut sangat besar terhadap kurikulum. Literasi digital (digital literacy) seharusnya tidak hanya diajarkan sebagai satu mata pelajaran, tetapi diintegrasikan dalam seluruh proses pembelajaran.

Pada Bab 4 — Digital Competence of Teachers and Students, Bećirović mendefinisikan digital competence sebagai kombinasi pengetahuan, keterampilan teknis, keyakinan, kemampuan, dan kesadaran yang memungkinkan seseorang menggunakan teknologi secara bermakna untuk membangun pengetahuan, berkomunikasi, berkolaborasi, mengelola informasi, menyelesaikan masalah, serta menciptakan dan membagikan konten digital dengan tetap mengusung etika digital. Dari definisi tersebut, maka fokus utamanya adalah kompetensi digital menjadi prasyarat digital pedagogy.

Untuk guru, digital competence mencakup kemampuan menggunakan teknologi untuk: merancang pembelajaran, menyajikan materi, melakukan penelitian, berkomunikasi, membangun jejaring, berkolaborasi, dan mendukung proses belajar murid.

Yang menarik, penulis tidak memandang kompetensi digital sebagai sesuatu yang selesai setelah seseorang mengikuti pelatihan. Kompetensi digital harus dikembangkan sebagai pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning). Hal ini dapat dipahami mengingat teknologi bersifat dinamis. Ia terus berkembang cepat dari waktu ke waktu. Oleh karena itu guru harus sigap, cermat, dan adaptif terhadap setiap perubahan dan perkembangannya.

Bab 4 ini memberikan proposisi penting bahwa Digital pedagogy membutuhkan digital competence. Namun, hubungan keduanya tidak linier. Jadi, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa dengan mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi lantas secara otomatis menjadi guru digital. Kesimpulan yang lebih tepatnya adalah dengan mengikuti pelatihan dan memanfaatkan pengalaman dalam menggunakan hasil pelatihan tersebut pada proses pembelajaran yang dilakukan, tanpa berhenti melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, serta memberikan dukungan dan motivasi baik terhadap diri sendiri maupun murid, kita memiliki kompetensi digital (digital competence) dan mampu mengaplikasikannya secara pedagogis (pedagogical application). Artinya, kompetensi digital harus ditransformasikan menjadi kompetensi pedagogis digital.

Pada bab berikutnya, Bab 5 — Fostering Digital Competence in Teachers, Bećirović membahas empat framework yang saya anggap paling penting secara teoretis.

1. DigCompEdu

DigCompEdu memberikan kerangka kompetensi digital pendidik dengan perhatian kuat pada dimensi pedagogis, termasuk information and media literacy, digital communication and collaboration, digital content creation, responsible use, dan digital problem-solving.

2. UNESCO ICT CFT

UNESCO ICT Competency Framework for Teachers mencakup 18 kompetensi, yang dikelompokkan ke dalam enam aspek utama, yaitu ICT dalam kebijakan pendidikan, kurikulum dan asesmen, pedagogi, penerapan keterampilan digital, organisasi dan administrasi, dan professional learning.

Framework ini juga memiliki tiga tingkat perkembangan, yaitu Knowledge acquisition → Knowledge deepening → Knowledge creation.

3. TPACK

TPACK menekankan keterpaduan: Technology + Pedagogy + Content Knowledge.

Artinya, guru yang kompeten secara digital bukan guru yang mengetahui banyak aplikasi, tetapi guru yang mampu menentukan teknologi apa yang tepat untuk materi tertentu dengan strategi pedagogis tertentu.

4. SAMR

SAMR menggambarkan tingkat integrasi teknologi: Substitution → Augmentation → Modification → Redefinition.

Semakin tinggi levelnya, teknologi semakin berpotensi mengubah desain pembelajaran. SAMR juga dapat digunakan sebagai alat refleksi guru terhadap pertanyaan: bagaimana teknologi memperbaiki pembelajaran, memberdayakan murid, dan membuat pembelajaran lebih autentik?

Bab 5 menunjukkan bahwa digital competence memiliki dimensi perkembangan. Menurut Bećirović, guru tidak seharusnya hanya dinilai: “Apakah guru bisa menggunakan teknologi?” Tetapi: “Sejauh mana guru mampu mengintegrasikan teknologi dengan pedagogi dan konten sehingga menghasilkan pengalaman belajar yang lebih bermakna?”

Ini merupakan pergeseran dari technology competence menuju technology-pedagogical competence.

Bab 6 membahas The Use of Open Educational Resources (OER) in Digital Pedagogy dengan fokus utama keterbukaan sumber belajar dan partisipasi dalam penciptaan pengetahuan.

OER pada dasarnya merupakan sumber pendidikan yang tersedia secara bebas dan menggunakan open license, sehingga dapat digunakan dan dalam kondisi tertentu diadaptasi oleh pengguna.

Manfaat OER banyak sekali, menurut Bećirović, di antaranya memungkinkan akses pendidikan yang lebih luas, pengurangan biaya, adaptasi bahan ajar, kolaborasi, berbagi pengetahuan, dan pengembangan sumber belajar yang lebih kontekstual. Namun pada implementasinya di lapangan OER mengalami beberapa hambatan seperti akses teknologi yang berbeda-beda, rendahnya kompetensi, bahasa, kualitas, kesulitan menemukan sumber yang sesuai, keraguan terhadap kualitas materi gratis, budaya pembelajaran konvensional, dan keterbatasan kemampuan memodifikasi OER.

Bab ini menyorot peran murid dengan menyatakan bahwa murid bukan hanya konsumen OER, tetapi juga dapat menjadi creator dan sharer.

Perubahan paradigma yang terjadi berdasarkan isi Bab 6 yaitu, jika sebelumnya guru menciptakan pengetahuan (teacher creates) maka murid tinggal menggunakannya (student consumes) menjadi guru dan murid dapat bersama-sama menciptakan pengetahuan ( teacher + student → co-create knowledge). Paradigma ini sangat dekat dengan konstruktivisme dan collaborative learning. Guru bertransformasi dari knowledge provider menjadi facilitator, mentor, dan co-designer.

Pada Bab 7- Privacy and Personal Data Protection in Digital Pedagogy Bećirović fokus membahas keamanan, privasi, dan perlindungan data dalam pendidikan digital.

Bab ini menggunakan GDPR sebagai referensi utama untuk membahas perlindungan data pribadi. Bećirović menekankan bahwa sekolah merupakan institusi yang mengumpulkan dan memproses banyak data, seperti data siswa, data orang tua, data guru, data pegawai, foto, dokumen, data akademik, dan dan informasi lain. Karena itu, digital pedagogy harus memasukkan data protection dan privacy sebagai bagian dari desain pendidikan.

Dalam pengelolaan data, dibedakan antara Data controller (pihak yang menentukan tujuan dan cara pemrosesan data), dan Data processor (pihak yang memproses data atas nama controller).

Sekolah juga harus transparan mengenai data apa yang dikumpulkan, mengapa data dikumpulkan, bagaimana digunakan, bagaimana disimpan, berapa lama disimpan, siapa yang dapat mengakses, hak pemilik data, dan kapan data dihapus.

Menurut saya, Bab 7 memberikan pesan penting bahwa Digital pedagogy without digital ethics is incomplete. Hal ini karena teknologi pendidikan menghasilkan peluang sekaligus risiko. Maka kompetensi digital harus memiliki tiga dimensi: Competence + Ethics + Responsibility.

Guru bukan hanya harus tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus memahami apa yang boleh, tidak boleh, aman, dan etis dilakukan dengan data murid.

Bećirović menekankan bagaimana teknologi dapat meningkatkan keterlibatan murid dalam mengimplementasikan Digital Pedagogy pada Bab 8 — Fostering Student Engagement in Implementing Digital Pedagogy

Bećirović membagi student engagement menjadi tiga, yaitu Behavioral engagement, Affective engagement, dan Cognitive engagement.

1. Behavioral engagement

Student behavioral engagement terlihat dalam tindakannya selama mengikuti proses pembelajaran, seperti bagaimana berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, mengerjakan tugas, berdiskusi, mengikuti aktivitas, dan berinteraksi.

Untuk meningkatkan student behavioral engagement, guru dapat menerapkan strategi berikut ini: online quizzes, gamification, virtual reality, cooperative learning, interactive courses, flipped classroom, web conferencing, online forum, brainstorming, dan online discussions.

2. Affective engagement

Student affective engagement berkaitan dengan minat, kebahagiaan, kecemasan, rasa memiliki, hubungan dengan guru, hubungan dengan teman, dan keterikatan terhadap sekolah dan pembelajaran.

3. Cognitive engagement

Student Cognitive engagement berkaitan dengan kedalaman proses berpikir, seperti: analisis, pemecahan masalah, berpikir kritis, pengaturan diri, dan pemahaman mendalam.

Penulis menekankan bahwa ketiga bentuk engagement tersebut saling berhubungan.

Setelah membaca bab ini, kita mengetahui bahwa Technology ≠ engagement. Teknologi hanya menjadi affordance. Engagement muncul ketika teknologi digunakan dengan desain pedagogis yang tepat.

Jadi: kemahiran dalam menggunakan berbagai Digital tool belum tentu menjadi indikator seorang murid engage.

Namun, kemahiran dalam menggunakan berbagai Digital tool dan diikuti oleh rancangan pedagogis yang tepat dan interaksi yang sesuai dalam bentuk mengerjakan tugas-tugas bermakna selama proses pembelajaran dapat mewujudkan student potential engagement.

Fokus utama Bab 9 — Fostering Multicultural Education Through Digital Pedagogy adalah teknologi sebagai sarana untuk membangun kompetensi multikultural dan antarkultural.

Bab ini berangkat dari realitas bahwa masyarakat semakin beragam dan teknologi digital menghilangkan batas ruang dan waktu. Akibatnya, murid dapat dengan mudah berinteraksi dengan orang dari berbagai budaya di dunia melalui lingkungan digital.

Seperti yang kita ketahui, Multicultural education bertujuan untuk mengurangi diskriminasi, mengembangkan kesetaraan, membangun keadilan sosial, menghormati hak asasi, menghilangkan stereotip, membangun toleransi, dan mengembangkan pemahaman lintas budaya.

Teknologi tidak hanya digunakan untuk belajar berbagai hal baru melalui digital tool tetapi juga mempertemukan murid dari budaya berbeda, memungkinkan terjadinya collaborative learning, pertukaran pengalaman, eksplorasi artefak budaya, melalui blog, virtual classroom, flipped learning, bahkan proyek lintas budaya.

Pada bab 9 ini Bećirović juga memperkenalkan Double Infusion Model, yang menghubungkan: knowledge of self + knowledge of others + knowledge of community/society dengan teknologi dan pendidikan multicultural.

Bab 9 membawa digital pedagogy ke tingkat yang lebih sosial. Di sini kita memahami bahwa Bećirović mengajak kita menyadari bahwa teknologi tidak hanya digunakan untuk “membuat pembelajaran lebih menarik.” Tetapi dapat digunakan untuk: membangun kemampuan hidup bersama dalam masyarakat yang plural. Dengan demikian, digital pedagogy memiliki fungsi pedagogis sekaligus sosial-transformasional.

Pada Bab 10 – Challenges and Barriers for Effective Integration of Technologies into Teaching and Learning Bećirović menyampaikan bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan bukan sekadar persoalan menyediakan perangkat digital, tetapi merupakan proses perubahan pedagogis dan organisasional yang melibatkan guru, murid, pimpinan sekolah, orang tua, pembuat kebijakan, serta sistem pendidikan secara keseluruhan.

Ia menegaskan bahwa integrasi teknologi merupakan joint endeavor, bukan pekerjaan individual guru. Karena itu, keberhasilan digital pedagogy sangat bergantung pada interaksi antara faktor internal guru dan faktor eksternal yang berasal dari lingkungan sekolah dan sistem pendidikan.

Dengan kata lain teknologi baru memiliki nilai pedagogis ketika digunakan secara purposeful, appropriate, ethical, pedagogically meaningful, dan diarahkan pada pencapaian tujuan pembelajaran.

Dari 10 bab yang ditulis Bećirović, saya memandang bahwa bab terakhir inilah inti pemikiran yang ingin disampaikannya. Bab ini sendiri terdiri atas lima bagian utama: Introduction, Reasons Why Teachers May Struggle to Use Technology in the Classroom, Lack of Access to Technology as a Barrier, Teachers’ Professional Development as Prerequisite, Misusing Technology dan Conclusion.

    1. Introduction

    Bećirović memulai dengan argumentasi bahwa perkembangan teknologi informasi semakin meningkatkan penggunaannya dalam pendidikan. Teknologi memungkinkan guru tidak lagi hanya berperan sebagai knowledge communicator, tetapi berkembang menjadi co-creator of knowledge, coach, mentor, dan evaluator.

    Menurutnya, peningkatan penggunaan teknologi tidak otomatis menghasilkan integrasi yang efektif karena terdapat hambatan yang cukup besar di lapangan. Integrasi teknologi bukanlah aktivitas individual guru karena membutuhkan tanggung jawab individu sekaligus dukungan institusional.

    Ia kemudian membedakan first-order barriers dan second-order barriers. First-order barriers merupakan hambatan eksternal berupa sumber daya, perangkat, dukungan, pelatihan, infrastruktur, dukungan teknis, dan kebijakan. Sementara, Second-order barriers merupakan hambatan internal guru yang berupa attitude, belief, self-confidence, motivation, dan willingness to change.

    Menariknya, penelitian yang dirujuk Bećirović menunjukkan bahwa hambatan internal seperti opini, sikap, dan kepercayaan diri memiliki pengaruh negatif terhadap perceived usefulness, perceived ease of use, attitude, dan behavioral intention dalam menggunakan teknologi.

    Saya mnyimpulkan bahwa inti dari bagian ini adalah “Masalah digitalisasi tidak hanya terletak pada “apakah teknologi tersedia?”, tetapi juga “apakah manusia siap menggunakannya secara bermakna?”


    2. Why Teachers May Struggle to Use Technology

    Bećirović mengutip Hyndman yang mengidentifikasi 10 alasan utama guru mengalami kesulitan menggunakan teknologi, yaitu teknologi yang diperkenalkan belum tentu sesuai dengan preferensi guru, perbedaan kemampuan perangkat dan instruksi penggunaannya, murid mudah terdistraksi, teknologi dapat mengganggu alokasi waktu dan flow pembelajaran, guru membutuhkan professional development, tidak semua murid memiliki akses teknologi di rumah, guru harus menjaga keselamatan murid, tidak semua guru percaya bahwa teknologi diperlukan, kurangnya dukungan ICT, infrastruktur, dan waktu, serta muncul ketegangan antara guru dan murid dalam penggunaan teknologi.

    Salah satu temuan penting lainnya adalah time constraint. Integrasi teknologi membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk merancang pembelajaran, memilih aplikasi, membuat bahan digital, membuat video, mengembangkan aktivitas, menguji teknologi, dan melakukan evaluasi. Oleh karena itu tidak mengherankan jika masih ditemukan guru yang selama bertahun-tahun menggunakan metode konvensional cenderung mempertahankan praktik lama karena lebih familiar. Jadi, digital pedagogy bukan sekadar “Guru belajar menggunakan aplikasi.” Tetapi, guru harus mendesain ulang pengalaman belajar. Ini jauh lebih kompleks dari yang sebelumnya kita bayangkan, ya.

    3. Lack of Access to Technology

    Bagian ini membahas digital divide. Kita semua paham bahwa teknologi selama ini memang dapat meningkatkan achievement, meningkatkan motivasi, memperluas akses informasi, meningkatkan komunikasi guru-murid, dan membantu menutup achievement gaps. Namun, manfaat tersebut tidak akan terjadi apabila guru dan murid tidak mempunyai akses yang memadai terhadap teknologi. Hambatan akses meliputi hardware, software, internet, kualitas perangkat digital, biaya, technical support, akses di rumah, dan kemampuan menggunakan teknologi.

    Bećirović menunjukkan bahwa bahkan ketika pemerintah atau institusi menyatakan mendukung digitalisasi, kebijakan tersebut dapat gagal jika systemic barriers tidak diatasi.


    Dari uraian pada Bab 10 ini, kita sampai pada simpulan bahwa memiliki perangkat belum berarti memiliki akses digital yang efektif. Akses yang bermakna membutuhkan: device + connectivity + software + skills + support + opportunity to use

    4. Professional Development as Prerequisite

    Menurut Chapter 10, professional development guru merupakan salah satu prasyarat paling penting dalam integrasi teknologi.

    Bećirović mengidentifikasi tiga pendekatan yang didukung penelitian:

    a. Developing technological skills; Guru perlu memiliki kemampuan teknis.

    b. Collaborative environment; Guru belajar melalui kolaborasi dengan guru lain.

    c. Mentoring; Guru memperoleh pendampingan dari orang yang lebih berpengalaman.

    Kemudian ia pun menambahkan satu aspek penting:

    d. Positive attitudes, values and awareness

    Jadi professional development tidak boleh hanya berupa “Pelatihan cara menggunakan aplikasi.” Tetapi harus mencakup Knowledge + Skills + Pedagogy + Attitude + Values + Awareness

    5. Professional Development Harus Berkelanjutan

    Salah satu pesan penting dari Chapter 10 adalah bahwa teknologi berubah sangat cepat. Karena itu, pelatihan satu kali tidak cukup. Guru membutuhkan pre-service training, in-service training, continuous professional learning, mentoring, technical support, dan peer learning.

    Bahkan Chapter 10 menekankan bahwa pelatihan harus diferensial, bukan satu program yang sama untuk semua guru. Guru dengan kompetensi digital rendah tidak bisa diberi program yang sama dengan guru yang sudah advanced. Pelatihan harus disesuaikan dengan level kompetensi, mata pelajaran, kebutuhan, konteks pembelajaran, dan karakteristik murid.

    Bagian ini menurut saya merupakan salah satu bagian paling penting secara konseptual. Penulis tidak melihat teknologi sebagai sesuatu yang otomatis positif. Ia menyatakan bahwa teknologi dapat disalahgunakan. Lebih jauh ia menegaskan bentuk penyalahgunaan tersebut berupa falsification, unauthorized assistance, plagiarism, fraudulence, copyright infringement, dan privacy infringement. Sementara pada murid, bentuk penyalahgunaannya berupa social networking saat pembelajaran, gaming, browsing yang tidak relevan, messaging, cheating, dan pelanggaran privasi. Bahkan dalam konteks assessment online, penulis membahas berbagai bentuk cheating melalui pencarian jawaban, penyalahgunaan materi, hingga meminta orang lain mengerjakan ujian (joki). Karena itu Digital competence tidak sama dengan kemampuan mengoperasikan teknologi. Digital competence juga membutuhkan ethical + responsible + critical use of technology.


    Kuliah S3 PJJ? Why Not!

    Oleh: Neneng Hendriyani

    Kuliah S3 itu sering banget dianggap sebagai langkah nekat oleh sebagian orang. Banyak orang mikir, “Buat apa sih kuliah lagi? Memangnya gelar magister belum cukup untuk mengamankan posisi dan karier?” Belum lagi bayangan betapa melelahkannya harus membagi waktu: seharian mengabdi sebagai pengawas sekolah, lanjut mengurus keluarga, tanaman dan hewan yang kebetulan dipelihara di rumah, lalu malamnya masih harus bergelut dengan tumpukan jurnal akademik, kuliah malam, dan seabrek tugas yang kejar tayang. Bayangin aja udah bikin capek duluan, kan?

    Tapi, gimana kalau jawabannya adalah: S3 PJJ (Pendidikan Jarak Jauh), why not?

    Zaman sekarang di mana internet sudah merambah ke seantero dunia, menuntut ilmu sampai ke jenjang tertinggi nggak lagi menuntut kita untuk mengorbankan seluruh ritme kehidupan. Konsep PJJ hadir bukan sebagai jalan pintas, melainkan sebagai Solusi jitu yang saya anggap sebagai jembatan yang memungkinkan kita tetap bertumbuh secara akademis tanpa harus meninggalkan tanggung jawab profesional maupun peran hangat di tengah keluarga.

    Dengan memilih lanjut S3—khususnya lewat jalur yang lebih fleksibel ini—bukan cuma soal menambah deretan gelar di belakang nama. Ada proses tranformasi besar yang terjadi di dalam diri: pola pikir kita turut berubah dan berkembang pesat.

    Ada banyak perbedaan yang kita rasakan ketika menjadi mahasiswa S3. Di jenjang doktoral, kita tidak lagi diajarkan untuk menelan informasi mentah-mentah. Kita dilatih untuk melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang yang mendalam, terbiasa dengan metodologi riset yang ketat, dan yang paling terasa: kita tidak lagi mudah menghakimi atau menyimpulkan segala sesuatu secara terburu-buru (jump to conclusion). Setiap fenomena diuji berdasarkan data, literatur, dan kerangka berpikir yang matang. Keputusan atau pendapat yang kita keluarkan pun jadi lebih berbobot, bijak, dan berbasis bukti (evidence-based).

    Selain itu, kita menambah jejaring professional yang dapat mengembangkan potensi kita di masa depan. Kita menjadi lebih banyak mengenal orang dengan berbagai karakter dan kelebihannya dari seluruh daerah dan negara. Kita tidak hanya belajar tentang berbagai disiplin ilmu yang diampu oleh para Profesor dan Guru Besar di bidang kajiannya masing-masing. Kita juga belajar tentang berbagai adat istiadat, budaya, dan hal baru lainnya yang selama ini tidak kita peroleh dari pergaulan sosial, pekerjaan, maupun pendidikan pada tingkat sebelumnya.

    Perubahan pola pikir ini membawa dampak luar biasa, terutama dalam menjalankan tugas sehari-hari. Contohnya bagi saya pribadi sebagai pengawas sekolah. Dengan pengalaman, keterampilan, dan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama kuliah S3 PJJ saya menyadari bahwa saya menjadi lebih mampu menganalisis masalah yang lebih tajam. Misal, saat turun ke sekolah-sekolah pendampingan, fenomena seperti technostress pada murid, dampaknya terhadap academic burnout, hingga tantangan adaptasi digital guru tidak lagi dilihat sekadar sebagai masalah sepele. Dengan latar riset yang kuat, kita bisa memetakan akar masalahnya secara terstruktur dan merumuskan solusi yang benar-benar pas sasaran sesuai dengan karakteristik sekolah dan ekosistem belajarnya. Pendampingan yang dilakukan pun menjadi lebih empatis dan objektif. Cara kita berdialog dengan kepala sekolah dan guru-guru pun berubah. Karena terbiasa berpikir kritis dan tak gampang menghakimi, kita hadir bukan sebagai “pengawas yang mencari kesalahan”, melainkan sebagai mitra diskusi yang empatis, objektif, dan solutif. Ini tentu membawa dampak positif bagi kita, kepala sekolah, guru, dan murid. Secara otomatis kita pun menjadi lebih peka dalam mendorong budaya mutu berbasis data. Hal ini disebabkan oleh alur pembelajaran yang diikuti di jenjang S3 melatih kita menyusun kerangka kerja dan evaluasi yang presisi. Dampaknya, program pendampingan atau supervisi yang kita susun di wilayah kerja jadi jauh lebih terarah, terukur, dan berdampak nyata bagi perbaikan kualitas pendidikan.

    Tentu saja tidak mudah kuliah S3 PJJ. Saya mengakuinya. Itulah sebabnya kita perlu menjalaninya dengan sejumlah strategi yang dianggap mumpuni. Strategi-strategi ini tentu saja berbeda antar mahasiswa, tergantung latar belakang kepribadian, social, ekonomi, dan lain sebagainya. Mau tidak mau, sadar tidak sadar kita dilatih jadi “pesulap waktu” yang mahir memilah prioritas—kapan harus meramu riset di sela kesibukan dinas, kapan menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner), dan kapan hadir utuh untuk keluarga. Capai? Jangan ditanya lagi soal itu. Kita semua sudah pasti. Tapi kepuasan saat bisa menguraikan benang kusut tantangan pendidikan lewat riset akademis yang aplikatif itu rasanya tiada tanding. Sesulit apa pun toh pada akhirnya kita bisa melewatinya berkat bimbingan dan arahan para dosen yang senantiasa terkoneksi melalui jaringan internet.

    Jadi, kalau ada yang tanya lagi: “Capek nggak sih, udah kerja, ngurus keluarga, tapi masih nekat ambil S3?”

    Jawab saja dengan senyuman hangat tanpa perlu ngegas, ya: “Capek itu pasti, tapi berkembangnya pola pikir dan dampaknya yang nyata bagi dunia pendidikan itu sungguh bernilai. Kalau ada jalan PJJ yang memungkinkan kita meraih keduanya, S3 PJJ: why not?”

    Ayo jangan tunggu lagi. Mari belajar bersama.

    Hari kedua di Belitung

    Oleh: Neneng Hendriyani

    Perjalanan pada hari Sabtu tanggal 23 Februari 2019 lalu di mulai dengan cerita menarik tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Belitung. Senangnya hatiku mendapati tour guide yang dipakai rombongan bus 2 ini sangat hapal dan tahu banyak tentang Belitung. Cara penyampaiannya juga menarik. Jadi semua yang berada di dalam bus tidak merasa digurui. Caranya bercerita begitu apik, lancar dan tersusun rapi dengan penggunaan bahasa Indonesia yang sudah sama dengan orang-orang daerah yang sudah lama hijrah ke Jakarta. Tak terdengar lagi aksen dan logat Melayunya. Padahal ia asli Melayu.

    Hal pertama yang ia sampaikan adalah tentang adat istiadat yang berlaku di daerah Belitung. Di sini semua orang masih memegang adat dan budaya lama. Masih banyak yang percaya bahwa segala sesuatu yang baik bagi kehidupan mereka itu bisa diperoleh dari hasil hitung menghitung menggunakan ilmu Falak. Jadi tidak heran bila semua upacara adat yang berkenaan dengan pendirian rumah, pernikahan, dan selamatan selalu dihitung sebelumnya. Ini ditujukan untuk mendapatkan keselamatan, keberkahan dan perlindungan Allah.

    Selain masih mempercayai hal tersebut, para penduduk Belitung juga masih percaya kepada kemampuan dukun bila mereka sakit. Tak sedikit orang Belitung yang memilih berobat ke dukun bila sakit. Mereka kurang percaya kepada tenaga kesehatan seperti dokter.

    Hal yang menarik berikutnya adalah perihal kejujuran yang dimiliki oleh semua orang Belitung. Siapa pun yang memiliki kendaraan bermotor bisa memarkir kendaraannya dengan kunci kontak masih menggantung di kendaraannya dengan rasa aman. Tanpa rasa was-was takut hilang atau dicuri. Mereka semua sangat menghormati milik orang lain dan tidak suka mencuri. Meskipun demikian bukan berarti lantas pihak kepolisian bisa bekerja santai ya di wilayah pulau ini. Aku menemukan ada beberapa kantor kepolisian dan juga asrama tentara yang dibangun di sepanjang jalan yang kulalui.

    Menurut tour guide kami, bila ada kasus pencurian biasanya polisi bekerja sama dengan dukun setempat. Dengan begitu hampir bisa dipastikan para pelaku kejahatan yang nekad berbuat jahat dan mengganggu keamanan di Belitung mudah ditangkap dan diamankan.

    Selain tentang kejujuran, aku juga mencatat hal lain yang tak kalah menariknya dari penjelasan tour guide kami yang bernama Bang Yono.

    Sepanjang jalan dari bandara di hari pertama aku berkunjung aku sudah melihat ikon kita Belitung yang berbeda dengan kota-kota lainnya di pulau Sumatera. Sebuah batu berukuran besar berwarna hitam diletakkan di tengah-tengah air mancur mudah sekali ditemukan oleh semua wisatawan yang berkunjung ke Belitung. Bukan apa-apa. Batu ini terletak di pusat kota. Jadi siapa pun pasti melewatinya bila ingin pergi ke pusat kota. Batu besar berwarna hitam ini dipercaya sebagai batu meteorit yang pernah jatuh di wilayah Belitung beberapa puluh tahun yang lalu. Bang Yono sendiri tidak tahu persis kapan tepatnya batu yang dikenal dengan nama “SATAM” itu jatuh di Belitung. Yang pasti, semua orang Belitung selalu tak kehabisan kata-kata bila hendak menceritakan kisahnya.

    Batu Satam ini lalu dijadikan barang cinderamata oleh beberapa pengrajin batu. Aku melihat hampir di setiap tempat dan pukau yang kukunjungi selalu kutemui penjual perhiasan yang menggunakan batu Satam sebagai aksesorisnya. Oh ya, kalau kalian tertarik membeli batu Satam ini kalian harus menyiapkan uang yang cukup banyak ya. Agak repot soalnya bila hanya mengandalkan kartu ATM di dompet. ATM hanya ada di beberapa tempat saja. Itu pun di pusat kota dan pusat perbelanjaan oleh-oleh.

    Harga sebuah cincin berbatu Satam itu bervariasi. Untuk perempuan biasanya dipatok di harga Rp. 100.000 – Rp.300.000. Sementara untuk laki-laki lebih mahal. Untuk gelang berbatu Satam ukuran kecil-kecil dijual dengan harga Rp. 250.000 – Rp.800.000. Umumnya para pedagang perhiasan ini tidak melayani tawar menawar harga. Semua fixed Price. Jadi jangan harap ya bila dinego ala-ala Pasar Anyar atau Blok M lantas kalian berhasil membawa pulang perhiasan yang kalian incar tadi. Mereka lebih memilih diam dan tidak menjualnya sama sekali bila pembeli tidak mau membeli dengan harga yang telah diajukannya. Aneh, ya. Itulah keunikan pedagang di Belitung.

    Nah, buat kalian yang menyukai pernak pernik unik khas Belitung yang mengandung batu Satam, baiknya membeli di sekitar pantai Tanjung Tinggi dan sepanjang warung yang berdiri di sekitar jalan masuk Replika SD Laskar Pelangi. Di kedua tempat ini barang-barang seperti itu dijual dengan harga murah. Lebih murah dari tempat lain. Rerata harganya masih bisa dijangkau orang kebanyakan. Yaitu, Rp. 100.000 – Rp. 300.000 per cincin atau per kalung.

    Kok mahal, ya? Itulah yang pertama kali aku tanyakan saat mendengar harganya. Usut punya usut ternyata batu tersebut memang sangat berharga. Setidaknya ia adalah ciri khas pulau tersebut. Tidak ada batu sejenis itu ditemukan di tempat lain di Indonesia. Batu meteorit itu apabila diletakkan secara berdekatan akan saling tolak menolak. Mirip sekali dengan prinsip kerja magnet. Bila ia ditaruh di atas sebuah bidang datar dan dibawahnya dipanasi maka ia akan berputar perlahan-lahan. Bila batu Satam yang kalian beli tidak menunjukkan ciri-ciri tersebut berarti batu Satam kalian palsu.

    Selain batu Satam, Belitung juga punya keunikan dan ciri khas lainnya. Apalagi kalau bukan binatang. Binatang khas yang menghuni sebagian besar wilayah hutan Belitung adalah sebangsa monyet yang dikenal dengan nama Tesaurus. Tidak ada babi hutan, harimau, singa, kelinci, gajah dan binatang hutan lainnya di sini. Jadi sangat aman bagi kita semua bila berjalan kaki di sepanjang jalan yang dilalui oleh kendaraan bermotor yang berada di tengah-tengah hutan yang kira lalui. Satu-satunya binatang yang perlu diwaspadai adalah buaya. Eit, bukan buaya sembarang buaya loh ya. Juga bukan pula buaya darat.

    Di Belitung ini buaya adalah hewan yang umum ditemukan hampir di seluruh wilayah perairan Belitung. Rawa, sungai, Setu atau danau adalah rumah bagi para buaya Belitung. Oleh sebab itu disarankan agar berhati-hati bila berkesempatan menyusuri rawa-rawa dan sungai di Belitung. Bila terpaksa bertemu, jangan langsung ambil langkah seribu. Biasanya buaya tidak akan menyerang manusia lebih dahulu. Andaikan ada manusia yang diserang dan dimakan buaya, menurut Bang Yono, manusia tersebut masih bisa diselamatkan. Catatan jeda dari masa penangkapan hingga penyelamatan tidak lebih dari 24 jam. Biasanya yang diberikan tugas penyelamatan adalah pawang buaya yang merupakan penduduk asli Belitung.

    Enam Hari Menuju Bali

    Oleh: Neneng Hendriyani

    Pertama kali memasukkan nama kota ini dalam tujuan kota yang akan dikunjungi tahun 2019 ini adalah karena satu hal. Ya, satu hal saja. Untuk itu aku yakin bisa mewujudkannya. Namun siapa sangka bila kemudian agenda yang kususun di awal tahun ini bisa tercapai justeru karena lebih dari satu alasan. Benar-benar kejutan.

    Bali adalah kota yang tak asing di telinga. Setidaknya di tahun 2004 ketika ia menjadi sebuah tujuan wisata paling mahal bagi guru di Kab Bogor rekanku sudah menjelajahinya dengan alasan klise, study tour. Saat itu aku hanya tersenyum. Apalagi saat pulangnya ia membawakan selembar kain pantai Bali. Senyum pun makin merekah. Namun maknanya tak berubah.

    Jauh di lubuk hati aku tersenyum. Seseorang mengetuk dan bicara kepadaku lembut. Suatu hari kau akan ke sana. Percayalah. Saat itu aku tak begitu mendengarkan. Aku menganggap itu semua hanya lah sekedar bisikan biasa. Aku terus mengabaikannya. Hingga perlahan suara itu tak terdengar lagi dari tahun ke tahun.

    Namun sejak kutemui banyak hal yang tak mungkin terjadi di sekitarku aku mulai meliriknya. Melirik seseorang yang terlupakan. Seseorang yang berbagi kisahnya melalui sebuah lintasan waktu. Seseorang yang berbicara dari hati ke hati. Menatap lewat cermin yang tergantung di seluruh ruang kerja. Berbicara tentang banyak hal yang tak ku pahami. Ya, tentang semuanya. Tentang Datuk Rajo yang diam-diam menyukaiku. Tentang bayangan hitam yang melayang di sekitar ku. Ah, juga tentang penunggu pohon kecapi yang berhasil membuatku memasukkan Xeniaku diantara batang pohonnya.

    Begitu banyak kisah dan rahasia yang terbagi. Begitu banyak air mata dan darah yang menyertai. Tumpukan arang di tengah pendapa. Juga seseorang yang berada di antara tengah sisa api. Semua itu menjadi bagian tak terpisahkan yang kudengar.

    Sepotong kisah di Tanjung Benoa juga menarik ku kian jauh ke tengah samudera waktu. Aku tak mampu lepas. Pesonanya menjeratku hebat.

    Namun bukan itu alasanku menjejakkan kakiku di pulau ini. Sama sekali bukan.

    Layaknya perjalanan ku pulang beberapa tahun lalu ke Yogyakarta untuk pertama kali. Seperti itulah kini.

    Ada hawa lain yang membuatku begitu terpesona. Tak bisa ku menghindar. Tak bisa ku lari. Semakin dekat rangkaian kereta, semakin sesak dadaku.

    Kini enam hari menuju Bali. Bukanlah Puri Klungkung tempat yang dituju. Bukan pula Amlapura tempat yang ku mau. Tapi sebuah tempat yang biasa dikunjungi. Tempat yang hanya dinikmati para turis. Bukan tempat dimana pencarianku akan berakhir.

    Ah, alasan awal aku memilih Bali sebagai KOTA terakhir yang kukunjungi tahun ini adalah ingin mengunjungi festival sastranya. Menemui para sahabat lama. Menjumpai para guru utama. Seperti dalam mimpiku berpuluh tahun lalu.

    Namun kini semua berbeda. Aku datang bersama rombongan siswa. Tak tanggung-tanggung, 12 bis wisata. Tujuannya hanya ingin mengunjungi Udayana. Merajut mimpi meraih harapan agar bisa kembali lagi ke Udayana tahun depan. Itulah mimpi anak-anak belasan tahun yang kudampingi. Sebuah mimpi yang tak pernah kumiliki saat seusia mereka.

    (Catatan di hari Pertama, 9-4-2019; 06.49)

    Aku bukan orang Endonesia

    Oleh: Neneng Hendriyani

    Gregetan sekali saat mendengar Ira Kusno mengatakan, “… Endonesia Raya…” pada acara debat capres dan cawapres beberapa Minggu lalu. Sontak aku terpikir, apa kita orang Endonesia sehingga kita seringkali menyebut nama negara kita Endonesia bukan Indonesia. Padahal jelas sekali ditulis bahwa negara kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan Endonesia. Maka sudah seharusnya presenter atau siapa pun harus mengucapkan Indonesia, bukan Endonesia. Mengapa demikian? Karena presenter merupakan orang yang paling bertanggung jawab dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bila ia salah, maka dapat dibayangkan berapa banyak pemirsa yang akan mengikuti jejaknya dengan ikut latah mengucapkan kata Indonesia dengan Endonesia.

    Di lain kesempatan aku pun sering mendengar orang berkomentar dengan mengatakan, “maklum Endonesia gitu loh” tiap kali kita diskusi tentang berbagai hal yang sedang hangat di masyarakat misalnya tema korupsi yang gencar dilakukan para pemimpin daerah baru-baru ini. Lawan bicara kita senantiasa melontarkan kalimat seperti itu untuk meyakinkan bahwa pendapatnya benar dan sahih. Coba saja amati kalimat yang sering ditemui di warung-warung kopi anak muda zaman sekarang. “Ya elah, begitu aja repot. Endonesia gitu loh. Kalau enggak begini, bukan Endonesia,”. Kalimat-kalimat yang menggunakan pengucapan Endonesia sambil disertai derai tawa di warung-warung kopi tersebut menimbulkan makna yang berbeda. Seolah-olah di negara yang bernama Endonesia hal seperti itu adalah hal yang wajar dan lazim terjadi. Apa iya, begitu?

    Di kesempatan yang berbeda, saat masih menjadi anggota paduan suara wisudawan pun salah seorang kawan melafalkan kata Indonesia dengan Endonesia tanpa ragu. Kebetulan ia berposisi sebagai penyanyi Sopran. Alhasil lengkingan suaranya terdengar sangat jelas. Sehingga berhasil membuat Rektor dan tamu undangan melirik ke arah kami. Awalnya kami bangga sekaligus bahagia dilirik sedemikian rupa. Ternyata kami salah. Lirikan yang disertai senyum manis tersebut bukanlah bentuk apresiasi yang kami nantikan. Selesai acara, pelatih memarahi kami habis-habisan lantaran sudah mahasiswa tapi masih belum bisa membedakan lafal i dan e. Memalukan.

    Belum lagi pengalaman mengajar anak-anak SMK selama lima belas tahun membuat saya bingung. Sering kali mereka cuek saat mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Mereka bersikap masa bodoh. Mungkin karena mereka terbiasa membaca kata Indonesia dengan Endonesia sehingga rasa cinta tanah air yang seharusnya melekat di jiwa mereka masing-masing luntur. Sehingga lagu tersebut tidak didengarkan dengan baik. Mereka bersikap seolah-olah lagu tersebut bukanlah lagu kebangsaan negara mereka.

    Berbagai kejadian yang aku temui di dalam pergaulan sehari-hari tersebut membuat saya malu. Alih-alih ingin mendengarkan acara debat capres dan cawapres saya justeru berlari ke arah tumpukan buku lawas. Rasa penasaran mengusik hatiku. Aku merasa tidak nyaman mendengar kata Endonesia berulang kali di ruang dengarku.

    Sebagai orang awam yang tidak begitu mendalami bahasa nasional aku jadi berpikir keras. Benarkah kata Indonesia ini dibaca Endonesia. Bukankah huruf “i” dibacanya juga “i”? Begitu pula huruf “E” harus dibaca “E” dengan jelas. Kedua huruf yang sama-sama anggota huruf vokal tersebut memilliki bunyi hurufnya sendiri. Bunyi yang jelas dan membedakan dari huruf-huruf yang lain. Bunyi yang tidak boleh ditukar seenaknya sendiri. Apalagi untuk sebuah kata yang memiliki makna luar biasa, seperti Indonesia.

    Benar apa yang disampaikan pelatih paduan suara ku sembilan belas tahun lalu. Sungguh memalukan sekali bahwa hingga hari ini ternyata mayoritas penduduk Indonesia masih belum bisa melafalkan kata Indonesia dengan benar. Masih sering salah pengucapan huruf i dengan e. Ironis.

    Masih di depan tumpukan buku masa kuliah dulu, pikiran dan ingatan ku lari ke masa di mana bunyi akhiran -kan acap kali dibaca dengan bunyi “ken” oleh beberapa petinggi negara yang berasal dari suku Jawa. Apakah ini bentuk dari kesalahan berbahasa seperti kasus untuk kata Indonesia di atas? Menurutku, tidak. Mereka yang mengucapkan kata-kata yang berakhiran -kan dengan bunyi “ken” tersebut secara kebahasaan tidaklah salah seratus persen. Sebab pelafalan ini terjadi di ranah dialek. Menurut KBBI V, pelafalan adalah cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa. Seperti yang kita ketahui bersama, bangsa Indonesia memiliki lebih dari 666 bahasa daerah dengan segala karakteristiknya. Para pengguna bahasa daerah ini seringkali secara alamiah membawa dialek bahasanya saat bercakap-cakap dalam bahasa nasional. Sehingga yang muncul persis seperti yang terjadi pada para petinggi negara tersebut. Kita tidak bisa menyalahkan mereka untuk kondisi yang seperti itu. Bila kemudian bunyi “ken” tersebut menjadi budaya di kalangan pejabat itu adalah hal yang berbeda. Ada beragam alasan yang mendorong mereka melakukannya. Alasan ini dipaparkan dalam bahasan code switching (alih kode) dan code mixing (campur kode)di dalam linguistik.

    Beberapa guru bahasa Indonesia di sekitar ku sering kali mempermasalahkan hal ini. Padahal ini beda kasus. Dialek bahasa seseorang adalah ciri khas dari mana ia berasal. Dan hal ini tidak bisa dihilangkan dengan serta merta. Ia bukanlah hal yang patut dinilai salah dan benar dalam penggunaan bahasa Indonesia. Seperti yang terdapat dalam KBBI V, dialek adalah variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai (misalnya bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu. Jadi, jelas  berbeda sekali dengan kasus di mana huruf I dibaca E.

    Dari kasus pelafalan kata Indonesia menjadi Endonesia inilah yang membuat aku akhirnya berani mengatakan bahwa aku adalah orang Indonesia, bukan Endonesia. Sampai hari ini pun lagu Indonesia Raya diucapkan Indonesia Raya, bukan Endonesia Raya. Bila masih diucapkan Endonesia Raya maka Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak akan pernah maju. Hal ini lantaran antara tulisan dan pengucapan tidak pernah bersatu. Antara pikiran dan tindakan masih belum selaras dan sejalan. Maka itu marilah menjadi orang Indonesia, bukan Endonesia.

    Sepasang Mata Biru

    oleh: Neneng Hendriyani

    Perjalanan kembali ke Semarang tidaklah semudah perjalanan awalku. Kereta kuda yang kutumpangi berkali-kali diperiksa di Pos antar kampung oleh para centeng berpakaian serba hitam. Meskipun kami bangsawan Jawa namun kami tidak mendapatkan priviledge apa pun. Siapa lah kami di tanah jajahan? Hanya sepasang inlander yang kebetulan memiliki beberapa pengawal. Sisanya, kami hanyalah manusia biasa.

    Setelah matahari menuju barat, kereta kami baru tiba di Haven Kanaal atau Batavia’s Roadstead. Ini adalah pelabuhan terbesar dan utama di Batavia sejak abad ke-17. Meskipun sebuah pelabuhan namun kondisinya tidak sebaik yang ada di Eropa saat itu. Aku beruntung tiba di sore hari. Jika tidak, uh rasanya pasti tak tahan. Bau menyengat, antara bau amis dan koco berpadu mengocok isi perut. Udaranya panas, nyelekep. Gerah. Suasananya ramai, lebih ramai dari pasar karena di sini semua pedagang dari berbagai negara membongkar muatan dagangannya serentak menggunakan perahu-perahu kecil ke daratan. Proses bongkar muat ini lama. Bisa seharian. Bahkan bisa beberapa hari. Karena kanal ini sangat sempit dan kecil, maka tak jarang sering terjadi tabrakan perahu terutama ketika cuaca buruk.

    Mengingat kondisinya yang seperti itu, banyak sekali pedagang Eropa dan Cina yang complaint ke Gubernur Jenderal untuk membangun pelabuhan baru. Sayang, keluhan ini dianggap angin lalu. Wajar sih, biaya memindahkan pelabuhan lama ke Tanjung Priok saat itu sangat besar. Pemerintah Hindia Belanda belum memiliki dana besar. Jadi, di sinilah aku sekarang, harus sabar mengantre untuk naik kapal menuju Semarang.

    Aku duduk di dermaga, tepat di sebuah warung kecil milik orang Bugis yang sudah lama merantau. Laki-laki tua yang sedang menuangkan air panas itu sesekali melirikku tajam. Bikin tak nyaman. Kang Mas Suryo masih sibuk memindahkan barang bawaan dari kereta saat laki-laki tua itu akhirnya menyapaku. “Mau kemana, Nak?” katanya hati-hati sambil memberikan segelas kopi padaku.

    Kuulurkan tanganku menyambut kopi tersebut. “Terima kasih.” Jawabku singkat. Kuseruput kopi itu perlahan. Rasanya cukup enak. Sedikit asam tapi manis. Cukup menyegarkan.

    “Gimana kopinya, Nak? Enak?”,  tanyanya lagi sambil mengelap bekas cangkir kopi di sebelahku tanpa menunggu pertanyaan awalnya kujawab. Aku menggangguk.

    “Wah, kelihatannya kopimu enak, Jeng.” Tiba-tiba Kang Mas Suryo sudah duduk di sampingku. Tangannya sigap mengambil sepotong pisang goreng. “Buatkan satu lagi ya, Ki.” Perintahnya. Suaranya terdengar pelan tapi tegas. Laki-laki setengah baya itu terperanjat kaget mendengarnya. Ia memandang sejenak ke arahnya lalu mengangguk takjim. Ganjil. Aku merasa ada yang aneh. Siapakah gerangan dia? Apa hubungannya dengan tunanganku.

    Angin kembali bertiup kencang ke arah kami. Sedikit sejuk. Aku merapikan anak rambut di dahiku dengan jari jemariku. Segelas kopi panas sudah tersuguh di hadapan kami. Kang Mas Suryo tidak langsung menyeruputnya seperti yang tadi kulakukan. Ia memilih diam sambil memutar ibu jarinya di atas telunjuk. Laki-laki tua itu seolah memahami arti gerakan tersebut. Ia segera pergi meninggalkan kami di warung sendiri dan kembali dengan membawa bungkusan hitam yang cukup besar. Aku tak tahu apa isinya tapi kulihat ia memberikannya dengan hati-hati. Kang Mas Suryo memandangku santai. Ia segera memasukkan bungkusan itu di balik bajunya. Senyumnya dikulum. Sekejap ia sudah terlibat percakapan dengan laki-laki tadi. Aku kesulitan memahami isi percakapan mereka yang sesekali ditingkahi tawa ringan. Terlalu banyak kosa kata yang asing di telingaku. Aku hanya tahu di ujung percakapan, laki-laki itu berpesan untuk tetap waspada selama di perjalanan. Kami berdua mengangguk dan berpamitan. Ekor matanya tetap tajam memandangku ketika tanganku ditarik meninggalkan warung tersebut.

    Beberapa menit kemudian aku sudah berada di atas kapal. Dari atas kapal aku terkesima melihat para kuli bongkar muat itu masih asyik bekerja dan astaga tidak ada yang bersepatu. Ya, aku tidak salah melihat. Semua kuli itu telanjang kaki. Pakaian mereka pun cukup sederhana. Hanya beberapa yang memakai atasan seperti kemeja tapi tipis. Celananya juga longgar. Entah sengaja dibuat longgar atau karena pakaian mereka yang kebesaran di tubuhnya. Entahlah. Aku jadi tersenyum geli. Ternyata di pusat kota yang konon menjadi barometer kesejahteraan Hindia Belanda, para kulinya sama dengan di kotaku. Sama-sama lusuh, dekil, dan tidak bersepatu.

    Menjelang magrib kapal sudah meninggalkan dramaga. Udara malam mulai terasa di geladak. Aku duduk di sisi kiri Kang Mas Suryo yang sudah lelap sejak setengah jam lalu. Kelihatannya dia lelah sekali. Kutatap hidung bangirnya. Aku senyum sendiri. Kalau diingat-ingat, hidungnya tidak kalah tinggi dengan hidung Albert. Ah, Albert mengapa dia harus muncul di saat seperti ini. Hatiku berdesir. Segera kualihkan pandanganku.

    Karena bosan, kupandang lagi dramaga yang kian jauh ditinggalkan. Napas yang berat kembali terasa. Ada sedikit sesal, kecewa, dan entah apa lagi yang kurasa, yang pasti ada segumpal ketakutan tiba-tiba menyergapku diam-diam. Di sebuah titik nun jauh di sana lamat-lamat terlihat sesuatu yang tak asing. Bayangan itu seperti sedang memperhatikanku. Hatiku teriak, hampir saja aku melompat kegirangan saat kusadari siapa sosok itu. Namun, kesadaran segera menguasaiku. Aku segera memegang pagar besi yang ada di hadapanku erat-erat. Hentakan gelombang hampir saja membuatku jatuh saat tadi aku bersorak. Titik itu makin kecil dan samar di telan senja. Aku pindah menuju ujung kapal dan terus mencoba mengerahkan semua kemampuan netraku demi membaca titik itu. Lamat-lamat aku pun menyadari titik itu benar-benar dia.  Wajahku berubah pucat. Dalam ketakutan aku menengok ke kiri dan kanan. Hatiku ribut merapal ribuan doa berharap hanya aku seorang yang menyadari siapa sosok itu. Nahas, laki-laki berhidung bangir itu sudah bangun dan kini berdiri tepat di sampingku.

    “Panjenengan mirsani, Jeng? Taksih kangen?” tanyanya yang spontan membuatku kaget. Aku menggeleng cepat. “Mboten, Kangmas. Kula namung kepingin weruh apa iku ing kono.” Jawabku ngeles.

    Aku tahu dia tidak mungkin percaya begitu saja dengan jawabanku. Aku segera membuang pandanganku ke arah barat. Mencoba menikmati guratan jingga yang tiba-tiba begitu indah di kelopak mataku. Matanya pun mengikutiku. Aku tersenyum memandangnya. Aman, batinku berbisik seolah ketahuan mencuri. Aku lupa, bagaimana mungkin aku bisa menipu seorang senapati sekelas dia. Dia adalah senapati tingkat dua yang bekerja di bawah duli Sultan langsung. Kemampuan militernya terutama dalam spionase sudah teruji beberapa kali dalam tugas-tugas rahasia kesultanan sejak usia sepuluh tahun.

    “Endah sanget, Kangmas, langitipun.” Kataku menunjuk semburat jingga yang semakin tua di horizon. Aku berusaha menyembunyikan rasa tak nyaman yang kembali menyergap diam-diam. Malam sudah sempurna menyambut kami di tengah lautan. Dia mengangguk. “Sami éndahipun kados panjenengan, Diajeng.” Matanya melirikku lembut. Hatiku berdesir. Ya ampun, apa aku tak salah dengar, ya? Dia memujiku. Wajahku merona. Malu sekali. Ketika kusibuk menata jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat ia kembali memandang ke belakang. Aku tak melihat ada guratan halus di wajahnya yang tampak tak suka dengan kehadiran titik itu. Tangannya mengepal.  

    Nun jauh di seberang, bayangan itu perlahan kembali ke arah kuda yang ditambatkannya di bawah sebatang pohon kelapa. Langkahnya gontai. Beberapa kali dia berbalik memandang lautan yang membawa gadis itu pergi. Ada segumpal sesal menyelinap di dadanya. Ia mulai memaki diri sepanjang jalan. “Als ik haar gisteren had ontmoet, was ze misschien nog hier. Oh nee, ze is weg. Ze is weg, God. Ze is weg.” Matanya mulai berembun. Di kaki senja ia segera menghela kudanya berlari semakin kencang meninggalkan dramaga. “Ik ben echt een lafaard.”Teriaknya membelah jalanan yang makin sunyi. Ia sangat kesal sekaligus sedih. Di tepi sungai Citarum ia berhenti. Matanya semakin basah. “Jeng, waarom heb je niet op me gewacht? Waarom heb je me niet ontmoet? Waarom? Wat heb ik verkeerd gedaan?” Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun. Di tengah amarah dibuangnya topi putih kesayangannya ke tanah. Di aliran Citarum yang dingin ia lari menceburkan diri. Hatinya patah. Dibiarkannya air sungai itu membasahi tubuhnya dan menariknya semakin dalam. Sebelum air semakin menenggelamkannya ia masih mengingat momen terindah dalam hidupnya. Kala untuk pertama kali ia bertugas sebagai pengurus perwakilan VOC yang menangani rempah-rempah untuk pulai Jawa, ia bertemu dengannya di kota Yogya. Ya, Yogya sebuah kota istimewa yang memiliki bangunan indah terbuat dari kayu jati itu telah membuatnya jatuh cinta. Kedua matanya yang hitam dan bulat itu telah menawannya tanpa ia sadari sejak awal bertemu. Senyum manisnya yang malu-malu saat diperkenalkan oleh Sultan telah mencuri miliknya yang paling berharga di sore itu. Siluet wajahnya yang ayu benar-benar menari di pelupuk matanya sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran. Di Ciliwung, ia pun tenggelam.

    Udara malam makin dingin menggigit kulit. Kami mulai meninggalkan geladak mencari tempat yang jauh lebih hangat. Setelah menemukan kamar yang sudah dipesan sebelumnya kami berpisah. Sepanjang malam itu aku tidur sendiri di atas selembar kasur yang tipis di atas ranjang besi. Tak ada kipas angin apalagi air conditioner di dalam kamar yang pengap. Namun, aku cukup menikmatinya.

    Pagi itu aku bangun setelah matahari naik. Kelelahan naik kereta di sepanjang jalan dari Koningsplein ke  Haven Kanaal rupanya sangat membantu kualitas tidurku yang memang sudah berantakan sejak pertama kali datang di Batavia. Aku masih ingat pertama kali tiba di dramaga ini dua minggu lalu. Sama seperti pagi ini, matahari begitu hangat. Suara-suara teriakan para kuli memecah keheningan dan menarikku turun dari kapal. Beberapa centeng menyambut kedatanganku di bawah kapal. Dengan sigap mereka memindahkan barang bawaanku yang tak seberapa ke atas kereta kuda. Di dalam kereta seorang tentara Belanda tengah asyik menyeruput kopi Arabicanya dengan tenang. Kulitnya cerah khas Eropa, dengan rambut pirang kecokelatan yang tersisir rapi di bawah topi seragamnya. Ada rona merah alami di kedua pipinya yang tirus. Garis rahangnya tegas dengan bibir merahnya yang tipis dengan sedikit senyum. Ia mengenakan seragam tentara Belanda awal abad ke-19, berupa mantel panjang berwarna biru tua dengan kancing logam mengilap, celana putih, serta sepatu bot kulit tinggi yang dipoles rapi. Matanya biru muda, jernih dan tajam, sebiru langit Batavia yang bersih dari asap pabrik. Hidungnya mancung menampilkan sisi ariktokratnya yang kuat. Aku terpana.

    Dia menyapaku hangat sambil menawarkan segelas kopi yang baru diseduhnya. “Hoe was je reis, Jeng? Ik hoop dat je geen enkel ongemak hebt gehad. Kom, drink deze koffie. Laten we meteen naar het hotel gaan zodat je kunt uitrusten.”

    Aku menerimanya dengan sedikit ragu. “Best wel vermoeiend. Maar het is oké. Heel erg bedankt.”

    Dia tersenyum. Alamak, senyumnya manis sekali. Hatiku berbunga-bunga. Sejurus kemudian kami sudah larut dalam percakapan. Empat centeng yang tadi menjemputku sudah berjalan mengawal kereta kami yang terus melaju ke arah ibukota.

    Catatan:
    “Panjenengan mirsani, Jeng? Taksih kangen?” =“Apakah kamu melihatnya, Jeng? Masih rindu?”

    “Mboten, Kangmas. Kula namung kepingin weruh apa iku ing kono.” =“Tidak, Kangmas. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di sana.”

    “Endah sanget, Kangmas, langitipun.” = “Indah sekali, Kangmas, langitnya.”

    “Sami éndahipun kados panjenengan, Diajeng.” = “sama cantiknya denganmu, Diajeng.”

    “Als ik haar gisteren had ontmoet, was ze misschien nog hier. Oh nee, ze is weg. Ze is weg, God. Ze is weg.” = “Andai aku menemuinya kemarin, dia mungkin masih di sini. oh tidak, dia pergi. dia pergi Tuhan. dia pergi.”

    “Ik ben echt een lafaard.” = “aku benar-benar pengecut.”

    “Jeng, waarom heb je niet op me gewacht? Waarom heb je me niet ontmoet? Waarom? Wat heb ik verkeerd gedaan?” = “Jeng, mengapa kamu tidak menungguku? mengapa kamu tidak menemuiku? mengapa?, apa salahku?”

    “Hoe was je reis, Jeng? Ik hoop dat je geen enkel ongemak hebt gehad. Kom, drink deze koffie. Laten we meteen naar het hotel gaan zodat je kunt uitrusten.” = Bagaimana perjalananmu, Jeng? Aku harap kamu tidak mengalami ketidaknyamanan apa pun. Ayo, minum kopi ini. Mari kita langsung pergi ke hotel agar kamu bisa beristirahat.

    “Best wel vermoeiend. Maar het is oké. Heel erg bedankt.” = cukup melelahkan. Tetapi ok. Terima kasih.

    Bionarasi

    Neneng Hendriyani, lahir di Bogor, 09 Agustus 1982. Berprofesi sebagai Pengawas SMA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat ini aktif sebagai penulis dan editor berbagai genre. Karyanya pernah dibukukan dalam antologi  Kunanti di Kampar Kiri: Antologi Puisi Penyair Asean, Senyuman Lembah Ijen: Antologi Puisi Nusantara, A Skyful of Rain: Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018, Ijen Purba: Tanah, Air, Batu (Antologi Puisi Jambore Sastra Asia Tenggara), Layang-layang Tak memilih Tangan: Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara XIII Jakarta, Semesta Jiwa: Antologi Puisi Bertema Spiritualitas, Kebaya Bordir Untuk Umayah (Antologi Puisi 115 Penyair Indonesia), Teh, Imajinasi, Puisi, Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia, Pandemi Puisi: Antologi Bersama Melawan COVID 19. Saat ini tinggal di Bogor Kode Pos 16913. Instagram Nenghendri53, Facebook/Youtube  Neng Hendri Suparman, E-mail nenghendri@gmail.com, https://nhwork.web.id

    SYARAT KENAIKAN PANGKAT & JENIS SK YANG DIPERLUKAN (berdasarkan Permenpan RB 21/2024)

    📊 SYARAT KENAIKAN PANGKAT & JENIS SK YANG DIPERLUKAN (berdasarkan Permenpan RB 21/2024)

    sumber:
    permenpanrb-no-21-tahun-2024

    Pangkat Golongan Jenjang Jabatan Fungsional AK Minimal SK Jabatan Fungsional yang Harus Dilampirkan
    III/a → III/b III/b Guru Pertama +50 Tidak perlu SK baru (masih dalam jenjang Guru Pertama)
    III/b → III/c III/c Guru Pertama +50 Tidak perlu SK baru
    III/c → III/d III/d Guru Pertama +50 Tidak perlu SK baru
    III/d → IV/a IV/a Guru Muda +100 Perlu SK baru: Pengangkatan sebagai Guru Muda
    IV/a → IV/b IV/b Guru Muda +150 Tidak perlu SK baru (masih Guru Muda)
    IV/b → IV/c IV/c Guru Madya +200 Perlu SK baru: Pengangkatan sebagai Guru Madya
    IV/c → IV/d IV/d Guru Madya +200 Tidak perlu SK baru
    IV/d → IV/e IV/e Guru Utama +200 Perlu SK baru: Pengangkatan sebagai Guru Utama

    📝 Penjelasan Tambahan:

    • SK Jabatan Fungsional diterbitkan oleh instansi pembina atau pejabat pembina kepegawaian (PPK) sesuai jenjang jabatan yang baru dicapai.

    • Setiap kenaikan jenjang jabatan fungsional harus memenuhi syarat:

      • Angka Kredit Kumulatif

      • Lama waktu minimum dalam pangkat/jabatan sebelumnya

      • Kinerja baik

      • KTI dan PKB (untuk Guru Madya dan Utama)


    📌 Ringkasan Penting:

    Jenjang Jabatan SK Fungsional Baru Diperlukan Saat…
    Guru Pertama Saat pertama kali menjadi guru
    Guru Muda Saat naik dari III/d ke IV/a
    Guru Madya Saat naik dari IV/b ke IV/c
    Guru Utama Saat naik dari IV/d ke IV/e

    Bogor Dari Masa ke Masa

    Oleh Neneng Hendriyani

    Dulu, Bogor adalah rimba megah,
    Tempat para raja menjejak sejarah,
    Di bawah panji Pajajaran
    Kebijaksanaan mengalir dari balairung istana

    Menjaga warisan purwa

    Berpuluh-puluh tahun Gunung Salak tegak bersaksi,
    Sungai Ciliwung lantang bersuara,
    Menyaksikan zaman berputar cepat,
    Dari kerajaan, penjajahan, hingga merdeka.

    Bogor: subur, membentang
    Padi menari di pelukan sawah,

    Di ladang dan perbukitan

    Petani menaruh jutaan impian

    Panen mereka untuk masa depan.

    Di perut bumi, tambang berbisik,
    Emas, pasir, dan batu berlimpah,
    Di tangan besi, roda berputar,
    Pabrik-pabrik membangun peradaban.

    Jauh di pelosok, terdengar suara palu dan gergaji,
    Pengrajin bermain di atas mahoni,
    Mengukir Bogor dalam karya nan indah,
    Mewariskan seni hingga ke nusantara.

    Kini, Bogor tak sekadar kenangan,
    Ia tumbuh bersama zaman,
    Di punggungnya generasi emas bersinar,
    Menuntut ilmu, melangkah ke depan.

    Bogor, Kuta Udaya Wangsa,
    Benteng peradaban tak tergoyahkan,
    Maju berdaya, sejahtera bersama,
    Satu tekad, satu cita, satu bangsa.

    Bogor, bukan sekadar kota,
    Tapi rumah bagi jutaan warga

    Merekam jejak, merawat harapan

    Berjuang untuk masa depan gemilang.

    (Karadenan, 27 Maret 2025)

    Bogor, Jejak Perlawanan

    Oleh Neneng Hendriyani

    Di kota ini, peluru berdesing menembus waktu,
    Menggetarkan bumi dalam deru perlawanan,
    Memanggil jiwa-jiwa yang rindu kemerdekaan

    Dengan dan tanpa seragam,

    Bersatu dalam komando perjuangan

    Di tengah Tentara Pelajar berdiri tegap,
    Mengangkat senapan di tangan yang gemetar,
    Bukan karena takut,
    Tapi karena cinta pada kota yang harus dibela.

    Di Cibinong, sejarah tertulis dalam batu,
    Museum perjuangan menjadi saksi,

    Ratusan nyawa melayang sebagai bukti
    Rakyat Bogor tak pernah sudi dijajah kembali
    Darah para syuhada mengalir di setiap lorong,
    Mengisahkan keberanian tak pernah padam.

    Dulu, di kota ini kita bertempur melawan serdadu,
    Kini, perang belum berakhir,
    Musuh tak lagi berbaju
    Tapi, berselimut kemiskinan dan ketidakadilan

    Dimana buruh-buruh berteriak di terik mentari:

    Meninju udara menuntut upah layak,
    Di pabrik-pabrik yang berdiri megah,
    Mereka menukar tenaga dengan harapan,
    Lagi, keadilan masih bayang-bayang.

    Sekolah-sekolah harusnya menjadi gerbang masa depan,

    Bukan tembok tinggi bagi si papa,

    Bogor tak boleh berhenti berjuang,
    Agar ilmu tak menjadi hak segelintir insan.

    Jabatan tak boleh jadi tahta selamanya,
    Harus ada batas bagi kekuasaan,

    Rakyat? Mereka bukan pion di papan catur,

    Bukan remahan roti di piring penguasa

    Sungguh! Perjuangan tak berakhir di monumen batu,
    Ia hidup di hati yang menolak menyerah,

    Bogor, kau tak hanya sekadar kota,
    Kau medan juang yang terus membara

    Dalam semangat: Kuta Udaya Wangsa!

    (Karadenan, 27 Maret 2025)