Oleh: Neneng Hendriyani
Setiap kali aku ditanya apa sih alasanku memilih menjadi guru bukan menjadi seorang wirausaha atau pegawai di perusahaan multinasional aku selalu menjawab: semua karena dua alasan. Yaitu benci dan cinta.
Ya, dua perasaan dasar inilah yang mendorongku sedemikian kuat menjadi seorang guru hingga hari ini. Dua alasan yang begitu kuat menjerat alam bawah sadarku beberapa puluh tahun lalu. Alasan yang sangat emosional.
Terlahir dari keluarga guru eksakta tidak serta merta membuatku mahir dan cerdas dalam pelajaran berhitung. Perlu diketahui aku masuk sekolah dasar saat usiaku belum genap 5 tahun. Ini memang di luar kewajaran. Maklum saja zaman itu sekolah taman kanak-kanak belum ada di daerah tempat tinggalku. Pun, sebagai anak seorang guru sekolah dasar aku terbiasa dibawa orang tuaku ke tempat kerja sejak aku masih bayi umur 4 bulan. Alhasil segala hal yang dilakukan oleh orang tuaku tersebut terekam baik dalam ingatanku. Ditambah lagi ia mengajar di kelas akhir setiap tahun ajaran.
Siang itu aku dipanggil Bapak Kepala Sekolah yang merupakan atasannya. Aku tertangkap basah sedang menulis sederetan kalimat pendek di tembok sekolah menggunakan pulpen milik ibuku. Dengan sadar dan tahu persis bahwa itu salah aku menulis nama lengkap dan keinginanku untuk bersekolah. Rasanya bosan sekali aku ikut tapi aku tak bisa duduk sebagai siswa. Aku hanya duduk di kursi guru tiap kali ibuku mengajar. Aku acap kali pindah ke kursi siswanya bila ada yang tidak masuk sekolah. Kegiatanku ya sama lah dengan kegiatan siswa-siswanya saat itu. Aku diam-diam belajar menyimak, menulis dan mengerjakan semua tugas yang diberikan ibu kepada siswanya.
Aku duduk laksana seorang terdakwa hampir dua jam. Dengan sesenggukan aku tetap tak bergeming. Entah sudah berapa kali Bapak Kepala membentakku saat itu. Maklumlah, penjaga sekolah baru saja mengecat semua tembok sekolah dan kini aku telah mengotorinya dengan keinginan yang tidak masuk akal bagi anak seusiaku di tahun 1987.
Akhirnya, mungkin karena lelah atau tak tega, aku sendiri tak tahu mengapa, tiba-tiba ia menanyakan apa sebenarnya yang aku inginkan dengan melakukan kesalahan tersebut. Dengan mendongak, aku menjawab “aku ingin sekolah”. Dia menanyakan hal yang sama hingga berkali-kali dan berkali-kali itu pula jawabanku sama. Aku tak tahu mengapa begitu. Bosan padahal.
Terakhir ia memanggil ibuku ke kantor. Dengan merogoh sakunya ia berkata, “selesai mengajar bawa Neng ke pasar, ya. Belikan seragam sekolah dan besok ia mulai sekolah”. Ibuku kaget bukan alang kepalang. Semua guru juga bingung. Semua paham benar, usiaku belum cukup untuk bersekolah. Tapi tak ada seorang pun yang berani menentang keputusannya. Hanya aku seorang diri yang gembira. Aku tak peduli. Aku tetap happy. Dengan bernyanyi aku keluar ruangan kepala sekolah. Sebelumnya kucium tangannya dengan takzim seperti biasanya aku selalu bertemu dengannya. Aku melompat-lompat gembira. Semua siswa yang sedang istirahat dan bermain di lapangan sekolah menatapku sesaat. Aku tak peduli reaksi mereka. Aku sangat bersemangat sekali hari itu. Detik demi detik dihitung dengan cermat. Tak sabar ingin segera memencet bel pulang tiga kali, tugas yang kulakukan tiap hari guru piket menyuruhku.
Dengan menumpang sebuah angkot 72 jurusan Kampung Sawah-Cibinong aku dan ibuku tiba di pasar tradisional Cibinong. Di pasar yang luas dan lengkap ini aku berlari menuju sebuah toko sepatu yang sudah menjadi langganan ayahku selama ini. Mang Dudi nama pemiliknya. Kami saling mengenal. Maklumlah pembeli dan penjual di pasar ini adalah warga satu kecamatan yang sering bertemu. Jadi wajar bila saling mengenal.
Mang Dudi paham benar sejak aku kecil aku tak suka sepatu model perempuan. Setelah mendengar ceritaku ia langsung mengambil sebuah sepatu Rebox. Sepatu hitam bertali dan agak tinggi itu tentu menarik minatku. Aku begitu bangga bisa memakainya. Dengan senang hati ia membungkusnya untukku. Pun, sebuah tas pilihanku. Tas gendong (dulu aku menyebutnya tas Gemblok, karena harus digemblok) berwarna merah lengkap dengan gambar para pahlawan kartun di bagian depannya pun dibayar ibuku.
Setelah belanja sepatu dan tas, barulah kami menuju toko seragam. Disinilah aku merasa tidak nyaman untuk pertama kalinya. Aku tidak tinggi memang, bahkan cenderung pendek dan kecil. Baju ukuran S saja masih kebesaran. Hiks.
Keesokan harinya aku resmi memulai hari-hari sebagai siswa termuda, terkecil dan terpendek. Guru pertamaku adalah seorang gadis muda yang baru saja lulus dari sekolah untuk guru TK. Karena pengalaman buruknya di sebuah TK di kota Bogor, ia pindah menjadi guru di sekolahku. Ia berkacamata. Selama seminggu ia mengabsen semua siswanya. Namun namaku tak pernah disebutnya. Aku hanya bisa tengak tengok mendengar kawan-kawan mengucapkan “hadir” setiap kali nama mereka disebut. Dengan berdebar aku menunggu giliran kapan kiranya namaku akan disebutnya. Hingga kelas berakhir aku tak pernah disebut. Keesokan harinya saat semua kawan sudah diabsen aku langsung berdiri. Aku protes. Itulah protes pertamaku.
Melihat ia tak bisa menjawab pertanyaanku aku langsung keluar dengan berlari. Kuketuk kantor kepala sekolah. Di depannya aku protes. Aku bilang aku sudah ikut belajar tapi aku tak pernah diabsen. Aku takut tak dapat nilai. Walau semua PRku dinilai 100 tapi aku curiga Bu Guru tidak menuliskannya di buku nilainya sebab namaku tak ada di sana. Dengan senyum, kepala sekolah menjawab kalau aku hanya anak bawang.
Anak bawang? Apa itu anak bawang? Ah aku tak paham. Yang kutahu anak singkong. Anak bawang belum pernah kudengar sebelumnya. Dengan berlari aku menuju kelas ibuku di pojok. Kutanya padanya apa sih anak bawang itu. Ia kebingungan mencari kata yang tepat untuk menjelaskannya. Ia tahu persis aku akan marah bila tahu artinya. Akhirnya aku kembali ke kelas dan bertanya kepada guruku. Aku terkejut mendengarnya. Aku berteriak dengan keras, “aku bukan anak bawang.”
Kembali aku mengetuk pintu kepala sekolah. Ini kali dengan perasaan marah yang tak bisa diungkapkan. Bagi anak sekecil itu rasanya julukan anak bawang adalah hal yang tidak mengasyikkan. Di depan bapak kepala sekolah yang tinggi besar dan botak kepalanya itu aku berkata tegas, “Aku bukan anak bawang. Aku mau sekolah. Aku sudah bisa membaca. Aku bahkan sudah bisa menulis dan berhitung. Aku bisa. Aku tak mau cuma disuruh duduk saja. Aku tak suka!”
Lagi, dengan bingung bapak kepala sekolahku menelan ludahnya. Ia tampak kesulitan mencari kalimat yang pas agar aku tak tambah marah. Ia tahu persis aku bisa menulis. Bukankah aku disuruh beli baju seragam karena aku bisa menulis di tembok sekolahnya? Bukankah aku diijinkan untuk masuk di kelas 1 karena aku bisa membaca? Akhirnya setelah diam cukup lama, ia memanggil guruku. Setelah ia datang, ia bilang bahwa mulai besok namaku harus ada di absen kelas dan di buku nilai. Aku tak serta merta percaya. Aku menatap keduanya dengan curiga. Aku mendengus kesal. Awas saja kalau aku dibohongi. Kalau besok aku tak diabsen lagi, aku akan menulis di tembok bahwa kalian pembohong. Ancamku.
Singkat cerita, aku berhasil membuktikan bahwa aku tidak mengecewakan guru-guru SD dan kepala sekolahku tersebut. Aku selalu menjadi juara 1 di setiap catur wulan. Bahkan aku lulus dengan Nilai Ebta Murni yang tinggi. Semuanya bangga. Aku pun bahagia.
(Bersambung; 31 Agustus 2019; 10.09 WIB)