MENYALAKAN API PANCAWALUYA, MENUMBUHKAN EKOLOGI PENDIDIKAN: FASILITATOR SEBAGAI PENGGERAK TRANSFORMASI KARAKTER DI JAWA BARAT

Oleh: Neneng Hendriyani, S. Pd., M. Pd.

  1. Pendahuluan: Pendidikan yang Tidak Sekadar Mengajar

Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan proses menuntun tumbuh dan berkembangnya manusia secara utuh. Ki Hadjar Dewantara (1967) memandang pendidikan sebagai proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pandangan tersebut menegaskan bahwa pendidikan tidak sebatas pada penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga harus membantu murid memahami diri dan lingkungan sekitarnya agar dapat mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi kehidupan bersama. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik, prestasi kompetisi, maupun kemampuan menguasai teknologi. Pendidikan baru menemukan maknanya ketika pengetahuan yang diperoleh murid mampu menjelma menjadi sikap, kebiasaan, karakter, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan sejatinya adalah proses transformasi manusia: dari mengetahui menjadi memahami, dari memahami menjadi menyadari, dan dari kesadaran menjadi tindakan yang memberi manfaat bagi diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari sederet angka pada rapor, tetapi juga dari karakter murid yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Ia tampak seperti apa yang tumbuh melalui proses pendidikan tersebut.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat menghasilkan murid dengan nilai akademik tinggi, tetapi pendidikan belum sepenuhnya berhasil apabila pengetahuan itu tidak disertai dengan integritas. Sekolah dapat melahirkan juara dalam berbagai kompetisi, tetapi pendidikan belum lengkap apabila prestasi tidak dibangun di atas kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan hidup bermasyarakat. Demikian pula, penguasaan teknologi akan kehilangan makna apabila tidak disertai kemampuan menggunakannya secara etis dan bertanggung jawab.

Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks di tengah perubahan sosial dan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Munculnya artificial intelligence (kecerdasan buatan), arus informasi yang tidak terbendung, media sosial, perubahan pola interaksi, serta berbagai tantangan sosial menyebabkan murid membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan akademik. Mereka memerlukan keterampilan untuk memilah informasi, mengendalikan diri, menghormati dan menghargai orang lain, berpikir kritis, beradaptasi, bekerja sama, serta mengambil keputusan yang tepat. UNESCO bahkan menempatkan pembelajaran sosial-emosional sebagai bagian penting dari transformasi sistem pendidikan karena berkaitan dengan kesejahteraan murid, kualitas relasi, keberhasilan akademik, serta kemampuan menjadi warga masyarakat yang aktif. (UNESCO, 2024).

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, tantangan tersebut menjadi semakin kompleks. Murid hidup dalam ruang yang sangat dinamis dan tidak lagi dibatasi oleh dinding sekolah. Mereka berinteraksi dengan media sosial, kecerdasan buatan, budaya digital, berbagai informasi, serta perubahan sosial dan lingkungan yang berlangsung hampir tanpa jeda. Mereka dapat memeroleh pengetahuan dalam hitungan detik, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar, mana yang bermanfaat, dan mana yang perlu dihindari. Pada titik inilah pendidikan karakter memperoleh makna yang semakin penting.

Dalam konteks Indonesia, penguatan karakter bukanlah gagasan yang berdiri di luar sistem pendidikan. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter menegaskan bahwa penguatan karakter merupakan tanggung jawab bersama keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat.

Di Jawa Barat, gagasan tersebut memperoleh bentuk yang lebih kontekstual melalui Pancawaluya. Secara etimologis, Pancawaluya berasal dari kata panca (lima) dan waluya (sejahtera/sehat) (Self Learning Institute, 2026). Dalam filosofi kesundaan, istilah ini menggambarkan lima dasar untuk mengajari anak menjadi manusia seutuhnya yang sehat secara fisik dan mental, berbudi pekerti luhur, cerdas, dan dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam masyarakat yang disebut Manusa Waluya (Self Learning Institute, 2026). Pendidikan Karakter Pancawaluya diintegrasikan sebagai Standar Kompetensi

Lulusan (SKL) berbasis nilai-nilai luhur kearifan lokal Jawa Barat yang menyentuh aspek sikap, perilaku, dan kebiasaan hidup peserta didik secara menyeluruh (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, 2025). Pancawaluya mengangkat nilai kearifan lokal Sunda melalui lima karakter utama yang saling berkoherensi dengan nilai-nilai Pancasila, yaitu Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer. Cageur menggambarkan manusia yang sehat secara

jasmani dan rohani serta mampu mengelola emosi. Prinsip ini dapat dicapai melalui perilaku hidup yang baik, kedisiplinan, menjaga kesehatan, kebersihan, kebugaran, keseimbangan mental, kesadaran untuk merawat diri, serta refleksi diri (Tim Pengembang Kurikulum, 2025). Dari pengertian tersebut, cageur bukan sekadar olahraga pagi atau kerja bakti. Ia adalah budaya merawat kesehatan fisik dan mental serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, bersih, dan nyaman.

Bageur menggambarkan pribadi yang baik, berakhlak mulia, peduli terhadap sesama dan lingkungan, memiliki empati, menghargai orang lain, serta mampu membangun hubungan sosial yang positif (Tim Pengembang Kurikulum, 2025). Bageur bukan sekadar senyum dan sopan santun formalitas. Karakter bageur diwujudkan melalui pengembangan empati, kepatuhan terhadap norma, kepedulian sosial, gotong royong, kesadaran hidup bersisian dalam keberagaman dan keterhubungan sosial.

Bener berkaitan dengan integritas. Murid tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga memiliki keberanian untuk melakukan yang benar. Kemampuan berpikir kritis, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, konsistensi, dan kemampuan mengambil keputusan secara etis merupakan bagian penting dari prinsip ini. Bener bukan sekadar hafalan tata tertib sekolah. Karakter bener dicapai melalui peningkatan kemampuan memproses informasi secara objektif dan merefleksikan pemikiran sendiri (Tim Pengembang Kurikulum, 2025).Ia adalah kompas integritas—keberanian untuk jujur, konsisten, dan mengambil keputusan etis bahkan saat tidak ada mata yang mengawasi.

Pinter merepresentasikan kecerdasan, kemampuan adaptasi, wawasan kebangsaan, dan kemampuan mengembangkan pengetahuan. Namun, kecerdasan yang dimaksud tidak berhenti pada kemampuan menghafal dan deretan angka di rapor akademik. Pinter perlu dimaknai sebagai kemampuan berpikir, belajar, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Karakter pinter diimplementasikan melalui strategi pemecahan masalah (problem solving) dan kemampuan berkolaborasi (Tim Pengembang Kurikulum, 2025).

Sementara itu, Singer menunjukkan kecakapan untuk bertindak secara kreatif, terampil, tanggap, mandiri, berani mengambil tindakan, adaptif terhadap perubahan, serta berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Karakter singer dicapai melalui penciptaan karya yang orisinal, bermanfaat, dan berdaya juang tinggi (Tim Pengembang Kurikulum, 2025). Dalam konteks abad ke-21, nilai Singer menjadi semakin penting karena dunia kerja dan kehidupan sosial menuntut kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan kondisi yang tidak selalu dapat diprediksi.

Kelima nilai ini bekerja secara simbiotis. Pinter tanpa Bener melahirkan kecerdasan yang manipulatif. Singer tanpa Bageur melahirkan kreativitas yang egois. Bageur tanpa Pinter melahirkan niat baik yang tumpul dalam menyelesaikan masalah. Cageur tanpa Bener menghasilkan manusia yang kuat tetapi kehilangan arah moral. Pinter tanpa Bageur menghasilkan kecerdasan tanpa kepedulian. Singer tanpa Bener melahirkan kreativitas yang tidak memiliki batas etis. Pancawaluya menyatukan kelimanya dalam satu napas pembentukan Manusa Waluya—manusia seutuhnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menempatkan kelima nilai tersebut sebagai fondasi pembentukan generasi yang sehat, baik, benar, cerdas, kreatif, adaptif, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya. Pancawaluya bukan sekadar lima kata dalam khazanah budaya Sunda. Di dalamnya terdapat gambaran manusia ideal: manusia yang sehat, baik, benar, cerdas, terampil, tanggap, kreatif, dan mampu beradaptasi.

Dengan demikian, Pancawaluya tidak seharusnya dipandang sebagai nama program pendidikan karakter. Pancawaluya perlu ditempatkan sebagai paradigma gerakan, yaitu cara pandang yang memengaruhi bagaimana sekolah merancang kebijakan, membangun budaya sekolah, melaksanakan pembelajaran, membina murid, melibatkan orang tua, serta mengembangkan kemitraan dengan masyarakat.

Akhirnya, tantangan terbesar bukanlah memperkenalkan istilah Pancawaluya kepada murid. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjadikan Pancawaluya hidup dalam budaya sekolah. Secara lebih spesifik, pertanyaannya adalah “Bagaimana Pancawaluya bergerak dari gagasan menjadi perilaku, dari perilaku menjadi budaya, dan dari budaya menjadi gerakan di satuan pendidikan?” Sebab, karakter tidak lahir dari slogan. Karakter tumbuh dari keteladanan, pembiasaan, interaksi, pengalaman, refleksi, dan ekosistem yang secara konsisten memperkuat nilai-nilai tersebut.

Pertanyaan inilah yang saya temukan jawabannya secara bertahap dalam pengalaman mendampingi sekolah binaan.

B.     Belajar dari 11 Sekolah Binaan: Setiap Sekolah Memiliki Jalan Transformasinya Sendiri

Sebagai Pengawas SMA yang mendampingi 11 sekolah binaan di Cabang Dinas Wilayah I Provinsi Jawa Barat, saya menyadari bahwa tidak ada satu cara jitu yang dapat diterapkan secara seragam untuk semua sekolah. Setiap sekolah memiliki karakteristik, kekuatan, tantangan, budaya, sumber daya, dan lingkungan sosial yang berbeda. Karena itu, transformasi pendidikan tidak dapat menggunakan pendekatan one-size-fits-all.

Fasilitator justru harus membantu sekolah menemukan bentuk Pancawaluya yang paling sesuai dengan konteksnya.

Pengalaman mendampingi sekolah dengan karakteristik yang berbeda menunjukkan kepada saya bahwa Pancawaluya akan memiliki daya transformasi ketika tidak diperlakukan sebagai program tambahan, melainkan sebagai cara pandang dalam mengelola pendidikan.

Pengalaman saya mendampingi tujuh sekolah berbasis boarding menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan yang berlangsung hampir sepanjang hari menyediakan ruang pembiasaan yang sangat kuat. Nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer tidak hanya hadir dalam pembelajaran, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari murid.

Di lingkungan seperti ini, karakter tidak berhenti ketika bel pelajaran berbunyi. Cara murid belajar bersama, berinteraksi, menjaga kebersihan lingkungan, beribadah, menyelesaikan konflik, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan organisasi, berkompetisi, menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sehari-hari menjadi bagian dari proses pendidikan. Dampaknya dapat terlihat dalam berbagai capaian prestasi akademik dan nonakademik.

Di SMA IT Al-Andalus, misalnya, saya melihat bagaimana pembentukan karakter dapat berjalan beriringan dengan perkembangan akademik dan nonakademik peserta didik. Nilai-nilai yang dibangun dalam keseharian tidak berhenti pada pembiasaan, tetapi turut memberi ruang kepada murid untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Salah satu buktinya adalah raihan medali emas dalam Cendekia Social Humaniora Competition 2025, yang diselenggarakan oleh Olimnus bersama Himpunan Mahasiswa Program Studi Sejarah Universitas Indonesia. Prestasi tersebut kembali dilengkapi dengan capaian internasional ketika tiga santri Pesantren Islam Internasional Al-Andalus meraih medali perunggu dalam International Essay Competition pada 2nd International Student Summit (ISS) 2026 di Malaysia (Pesantren Islam Internasional Al-Andalus, 2026). Berbagai capaian lainnya, baik di tingkat nasional maupun internasional, semakin menunjukkan bahwa penguatan karakter tidak menghambat prestasi. Sebaliknya, ketika murid tumbuh dalam lingkungan yang mendorong integritas, kemandirian, kepedulian, kecakapan berpikir, dan keberanian untuk berkarya, prestasi dapat tumbuh sebagai salah satu hasil dari proses pendidikan tersebut.

Hal serupa terlihat dalam pengalaman SMA BP FAI UMJ, SMA Islam Al Ghozali, dan SMA Saintek UHAMKA Boarding School yang memiliki capaian peserta didik di bidang bahasa Arab, sains, pendidikan kewarganegaraan, karate, pencak silat, serta

berbagai kompetisi lainnya. Pengalaman tersebut menguatkan keyakinan saya bahwa karakter dan prestasi bukan dua hal yang harus diperbandingkan. Karakter justru dapat menjadi fondasi prestasi.

Murid yang Bener belajar berjuang dengan integritas. Murid yang Pinter mengembangkan kapasitas intelektualnya. Murid yang Singer berani mencoba dan berinovasi. Murid yang Bageur mampu bekerja sama. Murid yang Cageur memiliki kesehatan dan daya tahan untuk terus bertumbuh.

Namun, saya juga belajar dari empat sekolah non-boarding yang saya dampingi. Sekolah non-boarding membuktikan bahwa keterbatasan waktu interaksi di sekolah bukan alasan untuk berhenti membangun karakter. Justru kondisi tersebut memperjelas bahwa pendidikan karakter adalah pekerjaan ekosistem.

Ketika murid kembali ke rumah pada sore hari, pendidikan karakter harus dilanjutkan melalui kemitraan dengan keluarga. Sekolah dapat memperkuatnya melalui pembelajaran berbasis proyek, kegiatan sosial, organisasi murid, pengembangan kepemimpinan, penguatan budaya sekolah, serta ruang aktualisasi yang sesuai dengan karakteristik murid.

Dari sebelas sekolah tersebut, saya mendapatkan pelajaran penting: Pancawaluya bukan milik sekolah boarding, bukan pula milik sekolah dengan fasilitas tertentu. Pancawaluya dapat hidup di berbagai sekolah ketika ada kesadaran, keteladanan, kepemimpinan, kolaborasi, dan pendampingan yang konsisten.

Di sinilah saya memahami dan meyakini bahwa peran fasilitator sangat strategis. Fasilitator bukan sekadar penyampai materi. Fasilitator adalah individu yang berperan dalam membantu menyalakan kesadaran, menghubungkan gagasan dengan realitas, menggerakkan kolaborasi, mendampingi proses perubahan, dan memastikan bahwa perubahan tidak berhenti sebagai program sesaat tetapi sebagai gerakan kolektif yang berkelanjutan.

C.    Pancawaluya sebagai Paradigma, Bukan Sekadar Program

Dari pengalaman tersebut, Pancawaluya akan memiliki daya transformasi apabila dipahami sebagai paradigma pendidikan karakter, bukan sebatas slogan, spanduk, atau rutinitas seremonial. Karakter tidak pernah tumbuh dari ceramah yang didengar di lapangan upacara; karakter tumbuh dari nilai yang dilihat, dihirup, dipraktikkan, diulang, dan direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, Pancawaluya harus diposisikan sebagai paradigma—sebuah cara pandang dan budaya hidup satuan pendidikan. Paradigma menentukan cara kita melihat persoalan sekaligus cara kita mengambil keputusan. Jika

Pancawaluya hanya dipahami sebagai program, sekolah mungkin akan sibuk menyusun kegiatan. Tetapi jika Pancawaluya dipahami sebagai paradigma, maka seluruh warga sekolah mulai bertanya:

Apakah cara kita mengajar sudah mencerminkan Pancawaluya?

Apakah cara kita memimpin sekolah sudah mencerminkan Pancawaluya? Apakah cara kita memperlakukan murid sudah mencerminkan Pancawaluya?

Apakah lingkungan sekolah telah menjadi tempat yang memungkinkan murid merasakan dan mengalami nilai-nilai tersebut?

Semua pertanyaan itu menggeser pendidikan karakter dari sekadar kegiatan menuju budaya.

Cageur tidak berhenti pada kegiatan olahraga atau kebersihan, tetapi berkembang menjadi kesadaran untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan lingkungan. Bageur tidak berhenti pada ajakan bersikap sopan, tetapi menjadi budaya empati, kepedulian, gotong royong, penghargaan terhadap keberagaman, dan penolakan terhadap perundungan. Bener tidak berhenti pada nasihat tentang kejujuran, tetapi menjadi integritas dalam belajar, mengerjakan tugas, menggunakan teknologi, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Pinter tidak berhenti pada nilai akademik, tetapi menjadi budaya belajar, berpikir kritis, memecahkan masalah, berinovasi, dan menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan manfaat. Singer tidak berhenti pada keterampilan, tetapi mengembangkan kemampuan untuk beradaptasi, kreatif, cepat tanggap terhadap perubahan, produktif, dan mampu menemukan solusi. Kelima nilai tersebut tidak berdiri sendiri. Justru kekuatan Pancawaluya terletak pada keterhubungannya.

Manusia yang pinter tetapi tidak bener dapat menggunakan kecerdasannya untuk hal yang keliru. Manusia yang singer tetapi tidak bageur dapat menjadi kreatif tanpa kepedulian. Manusia yang bageur tetapi tidak pinter mungkin memiliki niat baik, namun sulit menemukan solusi. Karena itu, Pancawaluya harus dipandang sebagai satu kesatuan pembentukan manusia yang utuh.

D.    Dari Pendidikan Karakter Menuju Ekologi Pendidikan

Pengalaman saya dalam membina di 11 sekolah binaan tersebut membawa saya pada pemahaman bahwa Pancawaluya sangat terkait dengan ekologi pendidikan. Menurut saya, ekologi tidak hanya berkaitan dengan lingkungan alam semata. Dalam konteks pendidikan, ekologi dapat dipahami sebagai keterhubungan antara manusia, nilai-nilai, kebiasaan,

lingkungan, sistem, dan berbagai pihak yang secara bersama-sama berkontribusi dalam perkembangan murid.

Murid tidak tumbuh sendirian. Mereka tumbuh melalui keluarga. Mereka dibentuk oleh guru. Mereka dipengaruhi oleh teman sebaya. Mereka belajar dari budaya sekolah. Mereka berinteraksi dengan masyarakat. Mereka dipengaruhi oleh teknologi dan informasi. Bahkan kondisi fisik sekolah turut menyampaikan pesan pendidikan.

Bagaimana mungkin kita mengajarkan Bageur jika lingkungan sekolah kotor, banyak sampah berserakan? Bagaimana mungkin kita mengajarkan Cageur jika sekolah belum menjadi ruang yang sehat dan aman? Bagaimana mungkin kita mengajarkan Bener jika ketidakjujuran dibiarkan ketika menguntungkan? Bagaimana mungkin kita mengajarkan Bener jika warga sekolah terbiasa melakukan pembiaran terhadap perilaku yang salah? Bagaimana mungkin kita mengajarkan Singer jika murid tidak diberi kesempatan untuk mencoba, gagal, memperbaiki, dan menciptakan sesuatu berdasarkan persoalan nyata? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa karakter harus hidup dalam lingkungan yang memungkinkan karakter tersebut berkembang di lingkungan sekolah.

Karena itu, saya melihat hubungan yang sangat kuat antara Pancawaluya dan pendidikan ekologi. Aksi yang dilakukan untuk menjaga kebersihan, memilah dan mengelola sampah, menghemat air dan energi, merawat tanaman, menjaga fasilitas umum, atau melakukan konservasi lingkungan bukanlah aktivitas yang menjadi kegiatan tambahan. Semua itu merupakan ruang belajar karakter.

Cageur hadir ketika peserta didik menjaga kesehatan diri dan lingkungan. Bageur hadir ketika mereka peduli terhadap ruang hidup bersama. Bener hadir ketika mereka bertanggung jawab terhadap dampak tindakannya. Pinter hadir ketika mereka menganalisis persoalan lingkungan berdasarkan data. Singer hadir ketika mereka menemukan solusi kreatif terhadap persoalan tersebut. Dengan demikian, ekologi bukan hanya objek yang dijaga, tetapi juga ruang pendidikan tempat karakter dibentuk.

E.     Fasilitator: Menyalakan Api, Bukan Menjadi Api

Dalam proses transformasi tersebut, fasilitator memiliki posisi yang unik sekaligus strategis. Fasilitator tidak selalu menjadi orang yang paling tahu. Fasilitator justru harus menjadi orang yang mampu membuat orang lain mau belajar, mau bergerak, dan mau berubah.

Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 420.05/Kep.583-Kesra/2025 tentang Tim Fasilitator Pembinaan Alumni Pendidikan Karakter Pancawaluya menunjukkan adanya

kebutuhan untuk menjaga kesinambungan pembinaan karakter Pancawaluya. Namun, bagi saya, peran fasilitator tidak boleh dipahami sebatas posisi administratif. Saya memandang fasilitator Pancawaluya setidaknya memiliki lima (5) peran.

  1. Pemantik Kesadaran (Awareness Trigger):

Perubahan tidak selalu dimulai dari instruksi. Perubahan dimulai ketika seseorang menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Fasilitator perlu membantu sekolah membaca dirinya sendiri: Karakter apa yang sudah tumbuh? Apa kekuatan kita? Apa yang masih rapuh? Perilaku apa yang ingin kita ubah? Dengan pertanyaan yang tepat, sekolah belajar melihat persoalannya secara jujur.

Ia tidak datang ke sekolah dengan membawa semua jawaban. Ia hadir untuk membantu sekolah menemukan jawaban terbaik berdasarkan kekuatan dan persoalan yang mereka miliki.

  • Penerjemah Nilai (Value Translator):

Nilai yang abstrak harus diterjemahkan menjadi perilaku yang dapat diamati. Fasilitator perlu membantu guru menjawab:

“Jika Bener benar-benar hidup di sekolah kita, perilaku apa yang akan terlihat?” Jika Bageur hidup, bagaimana murid memperlakukan temannya?

Jika Cageur hidup, seperti apa lingkungan sekolah?

Jika Pinter hidup, bagaimana proses pembelajaran berlangsung? Jika Singer hidup, apakah murid memiliki ruang untuk mencipta?

Semua pertanyaan tersebut membuat Pancawaluya berpindah dari slogan menjadi praktik nyata.

  • Penghubung Ekosistem (Ecosystem Connector):

Pendidikan karakter bukan pekerjaan kepala sekolah atau guru semata. Keluarga, murid, komite, masyarakat, dunia usaha dan dunia industri, serta berbagai pemangku kepentingan perlu terlibat. Perpres Nomor 87 Tahun 2017 sendiri menempatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam penguatan karakter. Hal ini karena sehebat apa pun seorang kepala sekolah, ia tidak dapat bergerak sendirian. Guru tidak dapat bekerja sendiri. Orang tua juga tidak dapat menyerahkan seluruh pendidikan karakter anak-anaknya kepada sekolah. Murid didik bukan hanya sebagai objek perubahan, tetapi juga harus menjadi subjek perubahan. Dunia usaha dan dunia industri, komunitas, pemerintah daerah, serta seluruh lapisan masyarakat juga memiliki peran. Fasilitator berperan dalam menjembatani berbagai kekuatan tersebut agar bergerak menuju tujuan yang sama.

  • Pendamping Perubahan (Change Accompanist):

Pelatihan tidak sama dengan perubahan. Perubahan tidak selesai setelah pelatihan. Pelatihan membuka pintu, tetapi pendampingan membantu sekolah berjalan melewati pintu tersebut. Artinya, pelatihan hanya membuka pintu. Setelah pintu terbuka, diperlukan pendampingan agar sekolah dapat menjalankan program pendidikannya dengan tepat dan berkelanjutan.

Karena itu, saya memandang fasilitasi perlu berlangsung dalam siklus:

memetakan → merencanakan → mencoba → mengamati → merefleksikan → memperbaiki.

Dengan demikian, sekolah tidak takut mencoba, karena kegagalan diperlakukan sebagai bahan belajar untuk memperbaiki praktiknya.

  • Penjaga Keberlanjutan (Sustainability Guardian):

Transformasi yang baik tidak boleh bergantung pada satu orang. Fasilitator perlu mendorong dan mendukung sekolah dalam mengintegrasikan Pancawaluya ke dalam kebijakan, proses pembelajaran, budaya sekolah, kegiatan murid, kemitraan keluarga, serta sistem evaluasi sehingga nilai Pancawaluya tetap hidup dan terjaga meskipun terjadi pergantian kepala sekolah, guru, murid, maupun program.

F.     Menggerakkan Sekolah Menjadi Ekosistem: Sekolah Belajar dari Sekolah – Mulai dari Hal yang Dekat

Pengalaman mendampingi sebelas sekolah memberikan peluang yang lebih besar daripada sekadar berbagi praktik baik.

Saya meyakini bahwa transformasi tidak selalu harus dimulai dengan program besar.

Justru perubahan yang kuat sering kali dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten. Sebuah sekolah dapat memulai dengan satu pertanyaan: “Masalah karakter apa yang paling nyata kita hadapi saat ini?” Jika persoalannya adalah kebersihan, sekolah dapat menjadikan Cageur sebagai gerakan untuk membangun lingkungan sehat. Jika persoalannya adalah perundungan, sekolah dapat menguatkan Bageur melalui budaya empati dan saling menghargai. Jika persoalannya adalah ketidakjujuran akademik, sekolah dapat menjadikan Bener sebagai gerakan integritas. Jika persoalannya adalah rendahnya budaya literasi, sekolah dapat memperkuat Pinter melalui pembiasaan membaca, berdiskusi, meneliti, dan memecahkan masalah. Jika persoalannya adalah rendahnya kreativitas dan kemampuan adaptasi, sekolah dapat menghidupkan Singer melalui projek, kewirausahaan, inovasi, dan pemanfaatan teknologi.

Selain itu, sekolah dapat belajar dari sekolah. Sekolah boarding dapat belajar dari sekolah non-boarding mengenai cara meningkatkan partisipasi keluarga. Sekolah non-boarding dapat belajar dari sekolah boarding tentang praktik pembiasaan yang intensif. Sekolah yang unggul dalam akademik dapat berbagi dengan sekolah yang kuat dalam pengembangan karakter, olahraga, seni, atau kepemimpinan. Dengan demikian, fasilitator tidak hanya menjadi penyampai pengetahuan, tetapi juga knowledge broker—penghubung pengetahuan dan praktik baik antarsekolah. Prinsipnya sederhana: Sekolah tidak harus menjadi sempurna terlebih dahulu untuk dapat berbagi. Sekolah dapat belajar justru dari proses yang sedang dijalankannya. Dengan demikian, Pancawaluya hadir bukan sebagai tambahan beban bagi sekolah, tetapi sebagai cara baru untuk membaca dan menyelesaikan persoalan sekolah.

G.    Pancawaluya di Tengah Era AI: Cerdas Menggunakan, Bijak Mengendalikan

Perkembangan kecerdasan buatan memberikan tantangan sekaligus peluang besar bagi pendidikan. Murid sekarang dapat meminta AI menulis artikel, membuat gambar, menyusun presentasi, menerjemahkan teks, bahkan menghasilkan kode program. Pertanyaannya bukan lagi apakah murid boleh menggunakan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah mereka mampu menggunakan AI secara cerdas, etis, dan bertanggung jawab?”

Di sinilah Pancawaluya menemukan relevansinya. Pinter mendorong murid untuk memahami dan menguasai teknologi. Singer mendorong mereka beradaptasi, bereksperimen, dan berinovasi. Bener menjadi kompas etika agar AI tidak digunakan untuk menipu, menjiplak, menyebarkan informasi palsu (hoax), atau menghilangkan tanggung jawab intelektual. Bageur mengingatkan bahwa teknologi harus digunakan dengan mempertimbangkan manusia dan kepentingan bersama.

Cageur mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan keseimbangan hidup, kesehatan fisik, dan kesehatan mental. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak berhadapan dengan AI. Pendidikan karakter justru menjadi kompas agar AI digunakan untuk memanusiakan manusia.

H.    Dari Sekolah yang Berprogram Menuju Sekolah yang Berbudaya

Bagi saya, salah satu ukuran keberhasilan fasilitator bukanlah banyaknya kegiatan yang berhasil dilaksanakan, tebalnya laporan, atau banyaknya spanduk Pancawaluya yang

terpasang. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan apa yang terjadi setelah kegiatan tersebut dilakukan.

Apakah guru mulai berubah dan lebih reflektif? Apakah murid lebih jujur? Apakah integritas semakin kuat? Apakah hubungan antarwarga sekolah menjadi lebih sehat? Apakah lingkungan sekolah menjadi lebih bersih dan nyaman? Apakah murid semakin berani bertanya, mencoba, dan berkreasi? Apakah sekolah semakin mampu menyelesaikan persoalannya secara kolaboratif?

Jika perubahan tersebut mulai terlihat dalam keseharian, berarti Pancawaluya telah bergerak dari dokumen menuju budaya. Murid merasakan Bageur ketika gurunya mau mendengarkan. Mereka merasakan Bener ketika aturan diterapkan secara adil. Mereka merasakan Pinter ketika pertanyaannya dihargai. Mereka merasakan Singer ketika diberi ruang untuk mencoba. Dan mereka merasakan Cageur ketika sekolah menjadi tempat yang aman, sehat, nyaman, dan mendukung pertumbuhan.

Sekolah yang berbudaya Pancawaluya bukan sekolah yang paling banyak berbicara tentang karakter, melainkan sekolah yang membuat karakter terasa dalam keseharian.

I.       Menjadi Fasilitator yang Menghidupkan Gerakan

Jika saya dipercaya menjadi bagian dari Tim Narasumber Pancawaluya dan Ekologi Pendidikan, saya tidak ingin hadir hanya untuk memaparkan materi yang selesai saat sesi pelatihan berakhir. Saya ingin membawa pengalaman empiris dari sebelas sekolah binaan sebagai bahan belajar bersama. Saya ingin berbagi bahwa transformasi dapat dimulai dari sekolah dengan sumber daya, karakter murid yang berbeda, dan lingkungan yang berbeda. Saya juga ingin membawa satu pendekatan yang saya yakini penting: fasilitasi harus berangkat dari realitas sekolah, bukan memaksa sekolah menyesuaikan diri dengan sebuah template. Oleh karena itu, dalam setiap proses berbagi, saya ingin mengajak peserta melakukan lima langkah sederhana: memetakan – menyepakati – menggerakkan – mengukur – menyebarluaskan.

Pertama, sekolah memetakan kondisi dan tantangan karakternya. Kedua, warga sekolah menyepakati nilai dan perilaku yang menjadi prioritas. Ketiga, sekolah menggerakkan aksi nyata melalui pembelajaran, pembiasaan, kepemimpinan peserta didik, ekologi, dan kemitraan. Keempat, perubahan diukur melalui bukti perilaku, bukan hanya jumlah kegiatan. Kelima, praktik baik didokumentasikan dan dibagikan agar dapat menginspirasi sekolah lain. Dengan cara ini, fasilitator tidak menciptakan ketergantungan. Fasilitator justru membantu sekolah menjadi mampu menggerakkan dirinya sendiri.

J.      Penutup: Menanam Karakter, Menumbuhkan Peradaban

Pancawaluya pada akhirnya bukan sekadar lima istilah dalam pendidikan karakter Jawa Barat. Cageur mengajarkan kita untuk merawat kehidupan. Bageur mengingatkan kita untuk peduli dan menghargai sesama. Bener menuntun kita menjaga integritas dalam setiap pilihan dan tindakan. Pinter mendorong kita untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan. Sementara Singer mengajarkan kita untuk tanggap, kreatif, dan tangguh menghadapi perubahan.

Namun, kelima nilai tersebut tidak akan banyak berarti jika berhenti sebagai konsep yang dihafalkan atau slogan yang terpampang di dinding sekolah. Nilai akan memiliki daya transformasi ketika benar-benar hadir dalam keseharian: dalam cara guru mengajar, cara murid belajar, cara warga sekolah berinteraksi, cara keputusan dibuat, hingga cara sekolah memperlakukan lingkungan di sekitarnya. Di sanalah ekologi pendidikan menjadi penting. Lingkungan yang sehat, kolaboratif, inklusif, dan berkelanjutan memberi ruang bagi karakter untuk tumbuh secara alami.

Karena itu, saya memandang fasilitator bukan sebagai orang yang datang membawa semua jawaban. Fasilitator adalah pemantik api perubahan. Ia menyalakan kesadaran tanpa mengambil alih. Ia memberikan arah tanpa mematikan ruang untuk berinisiatif. Ia mendampingi tanpa membuat sekolah bergantung. Ia berbagi praktik baik, tetapi pada saat yang sama bersedia belajar dari pengalaman sekolah yang didampinginya.

Bagi saya, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: fasilitator harus berusaha menjadi bagian dari nilai yang ia bawa. Sulit mengajak orang lain menjadi Bener jika kita sendiri tidak berusaha konsisten. Sulit mengajak orang lain menjadi Bageur jika kita tidak mau mendengarkan. Sulit mengajak orang lain menjadi Pinter jika kita berhenti belajar. Sulit mengajak orang lain menjadi Singer jika kita sendiri takut terhadap perubahan. Dan sulit mengajak orang lain menjaga Cageur jika kita tidak mulai dari kepedulian terhadap kesehatan diri, orang lain, dan lingkungan.

Itulah sebabnya, menjadi fasilitator Pancawaluya bagi saya bukan sekadar kesempatan untuk berbicara tentang pendidikan karakter. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan untuk menyambungkan pengalaman, nilai, dan gerakan. Pengalaman di lapangan menjadi bahan untuk belajar, nilai Pancawaluya menjadi arah, dan gerakan bersama menjadi jalan agar perubahan tidak berhenti saat kegiatan selesai.

Saya tidak membayangkan keberhasilan fasilitator dari semakin banyaknya kegiatan yang diberi label Pancawaluya. Ukuran yang lebih penting justru terlihat dari hal-hal yang sederhana: apakah guru mulai memaknai kembali perannya, apakah murid mulai

menunjukkan kebiasaan baik tanpa harus selalu diingatkan, apakah warga sekolah semakin peduli terhadap sesama dan lingkungan, dan apakah praktik-praktik baik mulai tumbuh dari kesadaran sekolah sendiri. Tujuan akhirnya bukan membuat semua sekolah memiliki lebih banyak program Pancawaluya, tetapi membuat sekolah menjadi ruang tempat Pancawaluya hidup.

Menyalakan Pancawaluya berarti menyalakan kesadaran. Menumbuhkan ekologi pendidikan berarti menyediakan ruang agar nilai-nilai itu tumbuh menjadi kebiasaan. Dan menjadi fasilitator berarti ikut menjaga agar api perubahan tersebut tetap menyala, bahkan saat fasilitator sudah meninggalkan ruangan pelatihan di sekolah.

Saya percaya, perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat berawal dari seorang guru yang memilih untuk mendengarkan muridnya dengan lebih sungguh-sungguh. Dari sebuah kelas yang mulai membiasakan kejujuran. Dari sekolah yang berani mengurangi sampah dan mengajarkan tanggung jawab melalui tindakan nyata. Dari kepala sekolah yang memberi ruang kepada guru untuk mencoba. Dari komunitas sekolah yang saling belajar dan saling menguatkan.

Jika kebiasaan-kebiasaan kecil itu dirawat secara konsisten, ia akan tumbuh menjadi budaya. Ketika budaya mulai mengakar, ia dapat bergerak menjadi gerakan yang lebih luas. Dan ketika gerakan itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, di sanalah pendidikan mengambil peran yang lebih besar: membentuk manusia dan peradaban.

Bagi saya, inilah makna transformasi pendidikan yang sesungguhnya: nilai menjadi perilaku, perilaku menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi budaya, budaya menjadi gerakan, dan gerakan menjadi peradaban. Di titik itulah Pancawaluya tidak lagi sekadar menjadi program pendidikan karakter. Ia menjadi cara kita mendidik, cara kita bekerja bersama, dan cara kita menumbuhkan manusia yang utuh.

Manusa Waluya bukan sekadar tujuan pendidikan. Ia adalah manusia yang ingin kita hadirkan untuk Jawa Barat hari ini dan untuk masa depan yang sedang kita siapkan.

Referensi

Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Provinsi Jawa Barat. (2026). Petunjuk Teknis Kegiatan Aksi Ekologi MPLS Pancawaluya Tahun 2026. Bogor: Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dewantara, K. H. (1967). Ki Hadjar Dewantara: Bagian pertama—Pendidikan. Majelis Luhur

Persatuan Taman Siswa.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. (2025a). Petunjuk Teknis Anugerah Gapura Pancawaluya Tahun 2025. Bandung: Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. (2025b). INFORMASI ANUGERAH PANCAWALUYA DISDIK KOTA KAB. Bandung: Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. (2025c). Pedoman Pancawaluya. Bandung: Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. (2026). Nota Dinas Pelaksanaan In House Training (IHT) Pendidikan Karakter Pancawaluya Tahun 2026. Bandung: Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat. (2025). Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 45/PK.03.03/Kesra tentang 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Jawa Barat Menuju Terwujudnya Gapura Panca Waluya. Bandung: Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat.

Hendriyani, N. (2025). Sosialisasi Penyusunan Modul Pembelajaran SMA/MA Berbasis Pembelajaran Mendalam & Gapura Pancawaluya Mengacu CP Terbaru 2025. Bogor: PW IGI Provinsi Jawa Barat.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat. (2025). Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 420.05/Kep.583-Kesra/2025 tentang Tim Fasilitator Pembinaan Alumni Pendidikan Karakter Panca Waluya. JDIH Provinsi Jawa Barat.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat. (2025). Pedoman pendidikan karakter Pancawaluya. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat. (2025). Petunjuk teknis Anugerah Gapura Pancawaluya Tahun 2025. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Pemerintah Republik Indonesia. (2017). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Pesantren Islam Internasional Al-Andalus. (2024). Brosur Pesantren Islam Internasional Al-Andalus 2024–2025.

Pesantren Islam Internasional Al-Andalus. (2025). Santri Al-Andalus raih medali emas di ajang Kompetisi UI.

Pesantren Islam Internasional Al-Andalus. (2026, February). Santri Al-Andalus raih perunggu kompetisi esai tingkat internasional

Self Learning Institute. (2026). Pendidikan Karakter Pancawaluya: Gapura Pancawaluya; Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal dan Budaya Jawa Barat. Bandung: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Tim Pengembang Kurikulum. (2025). Bahan Tayang In-House Training (IHT) Pancawaluya Jenjang SMA. Bandung: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

UNESCO. (2024). Mainstreaming social and emotional learning in education systems: Policy guide. UNESCO.

Yayasan Manbaul Huda. (2024). Capaian prestasi Manba’ul Huda.

Sekotak Karya Untuk Negeri

Alhamdulillah, dapat kembali berkiprah di bidang yang paling kuminati, tepat di akhir masa penantian sebelum dilantik menjadi pendamping sekolah alias pengawas, sungguh membahagiakan. Ini adalah sumbangsih pemikiran yang bisa kuberikan untuk tanah air tercinta.
Semoga karya-karya sederhana dalam bentuk buku cetak maupun buku elektronik ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Waskitaningtyas, K., dan Heny Marwati. Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Edisi Revisi). Ilustrasi oleh Dwi Nofyan Sansa Putra. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Jakarta Selatan: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024. PDF. https://app.buku.kemdikbud.go.id/katalog/8987.

Juhri Al Banjary, Darmawati Paruki, Isbedy Stiawan ZS, Kumala Dewi Rimu, Neneng Hendriyani, et al. Jejak Seni dan Dakwah dalam Langkah Sang Pendiri AG. H. Abdurrahman Ambo Delle: Antologi Puisi. Disunting oleh Tri Astoto Kodarie. Sleman: Interlude, 2024. https://penerbitinterlude.id/2024/11/19/jejak-seni-dan-dakwah-dalam-langkah-sang-pendiri-ag-h-abdurrahman-ambo-delle/.

Hendriyani, Neneng, dan Adim Goekid, ed. Implementasi Prinsip Efisiensi dan Keberlanjutan dalam Administrasi Sarana dan Prasarana [sumber elektronis]. Seri Administrasi Sarana dan Prasarana. Jakarta Timur: PT Duta Pustaka Indonesia, 2024. PDF. https://www.dutapustakaindonesia.com/product/efisiensi-dan-keberlanjutan/.

Aulia, Fadillah Tri, Sefi Indra Gumilar, Alvian Kurniawan, K. Waskitaningtyas, dan Heny Marwati. Bahasa Indonesia. Ilustrasi oleh Khairin Nisa, R. Habibullah Ahmad, Ramdhan Hafidin, dan Dwi Nofyan Sansa Putra. Disunting oleh Muhammad Kodim dan Neneng Hendriyani. Jakarta Selatan: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, 2023. ISBN 978-623-118-374-3.

———. Bahasa Indonesia [sumber elektronis]. Jakarta Selatan: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, 2023. ISBN 978-623-118-376-7. Diakses 15 Mei 2025. https://app.buku.kemdikbud.go.id/katalog/4727.

———. Bahasa Indonesia (edisi lengkap) [sumber elektronis]. Jakarta Selatan: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, 2023. ISBN 978-623-118-375-0.

———. Bahasa Indonesia (edisi lengkap). Jakarta Selatan: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, 2023. ISBN 978-623-118-373-6.

Hendriyani, Neneng. English for Future. Disunting oleh Cucu Nurjamilah. Depok: CV Arya Duta, 2022. ISBN 978-623-273-347-3.

———. English for Future (edisi lengkap). Disunting oleh Cucu Nurjamilah. Depok: CV Arya Duta, 2022. ISBN 978-623-273-346-6.

Ardianti, Dina, dan Neneng Hendriyani. Mahir Berbahasa Indonesia. Disunting oleh Adnan Suparid. Depok: CV Arya Duta, 2022. ISBN 978-623-273-308-4.

———. Mahir Berbahasa Indonesia (edisi lengkap). Disunting oleh Adnan Suparid. Depok: CV Arya Duta, 2022. ISBN 978-623-273-307-7.

Hendriyani, Neneng. Let’s Learn English for Life: English Textbook. Disunting oleh Cucu Nurjamilah. Depok: CV Arya Duta, 2022. ISBN 978-623-273-296-4.

———. Let’s Learn English for Life: English Textbook (edisi lengkap). Disunting oleh Cucu Nurjamilah. Depok: CV Arya Duta, 2022. ISBN 978-623-273-295-7.

Kridalaksana, I Made. Si Hijau: Kumpulan Puisi. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2022. ISBN 978-623-6581-47-6.

Nuraini. Magrib di Ujung Kota: Kumpulan Puisi. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2022. ISBN 978-623-6581-46-9.

Nuraeni. Jangan Menyerah: Kumpulan Puisi. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2022. ISBN 978-623-6581-45-2.

Hendriyani, Neneng, ed. Writing Descriptive Text Using Sensory Words and Mind Mapping. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Fadillah, Totoy. Pendampingan Berkelanjutan Sukseskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS): Best Practice. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Fadillah, Totoy. Sukses Pembelajaran Guru dengan Aplikasi Beesmart V 3.0: Best Practice. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Nuraini et al. Kisah-kisah Motivasi Penyemangat Hidup. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Tirabidah. Sugesti dan Model Pembelajaran PBL dalam Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar Teks Deskriptif. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Rahayuningsih, Taty. Catatan Harian Seorang Pengawas. Disunting olehNeneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Suharno. Buku Pendamping Bahasa Inggris: Sesuai dengan Kurikulum 2016. Vol. 3. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

———. Buku Pendamping Bahasa Inggris: Sesuai dengan Kurikulum 2016. Vol. 2. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

———. Buku Pendamping Bahasa Inggris: Sesuai dengan Kurikulum 2016. Vol. 1. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

———. Buku Pendamping Bahasa Inggris: Sesuai dengan Kurikulum 2016. Disunting olehNeneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Hendriyani, Neneng. Panduan Membuat Materi Belajar Bahasa Inggris dengan Aplikasi Noncoding Geyser. Disunting oleh A. Mellyora. Surakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2021.

Hendriyani, Neneng, dkk. Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Suryani, dkk. IPA dalam Puisi Toge: Antologi Puisi. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Suryani, dkk. Matahari di Ujung Sumatera. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Felicia, Iing, dkk. Cerita Kita di Batas Kota. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Jafar, Sri Wahyuni, dkk. Tanah Kelahiranku: Antologi Puisi. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Supriatni, Euis Ani. Bias Asa Kerinduan EAS: Puisi Dwi Bahasa. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Hendriyani, Neneng, dkk. Mozaik Kata (Antologi Puisi Toge). Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Alawiyah, Tuti. Pengembangan Instrumen Penilaian Praktikum di Laboratorium Kimia. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Wirawan, I Kadek Widya, dkk. Refleksi Guru Indonesia di Hari Pendidikan. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Mukmini, Sri, dkk. Pembelajaran Teks Bahasa Inggris pada PJJ dan PTM: Procedure, Recount, Descriptive, dan Explanation. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Dorand, Pietra, dkk. English Text Materials and Their Exercises: Narrative, Recount, Procedure and Report. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Hendriyani, Neneng, dkk. Lentera untuk Negeri: Antologi Tokoh Pendidikan Indonesia. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Suwarso, Iso, dkk. Warna Warni PJJ Tanah Air: Antologi Pembelajaran Jarak Jauh. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021.

Hendriyani, Neneng. Di Sepanjang Rel Kereta. Bogor: CV Kreatif Publishing, 2020.

Tiraswati, Dina Martha. Senyumnya Wanita: Kumpulan Catatan Kecilku. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2020.

Sulipan. Pengelolaan Sekolah Menengah Kejuruan yang Efektif. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2020.

Alfitriyani, Nia, Indarini Dwi Pursitasari, dan Surti Kurniasih. Bioteknologi Berbasis Socioscientific Issues (SSI) untuk SMP/MTs. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2020.

Hendriyani, Neneng dan Sri Hartati Mulya. Kumpulan Soal Ulhar, UTS, UAS Bahasa Inggris Kelas XI SMA. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2020.

Sulipan. Pendidikan Karakter dan Budaya Kerja [Sumber Elektronis]: Konsep dan Implementasi Pendidikan Karakter dan Budaya Kerja di Sekolah. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2021. PDF.

Hendriyani, Neneng, dkk. 52 Kisah Dongeng Fabel Menginspirasi Buah Hati. Disunting oleh Saiful Amri. Bandung: CV Situseni, 2020.

Tiraswati, Dina Martha. Bukan Senyum Terakhir [sumber elektronis]. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2020. PDF.

Komara, Kokom, dkk. Fajar di Penghujung Tahun: Antologi Puisi. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2020.

Tiraswati, Dina Martha, Meita Tjumiatini, dan Deri Yustin Wulandari. Terpaut Rindu di Takamatsu. Disunting oleh Neneng Hendriyani. [Tanpa tempat terbit]: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2020.

Hendriyani, Neneng. Smafour in Students English Writing: Mendongkrak Motivasi dan Kemampuan Siswa Menulis Berbagai Teks Bahasa Inggris. Disunting oleh Cecep S. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2020.

The Students of XI MIPA 8. The History of Smafour. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2020.

Hendriyani, Neneng, dkk. Untuk Anakku. Disunting oleh Saiful Amri. Bandung: Yayasan Guneman, 2019.

The Students of X MIPA 3 SMAN 4 Cibinong. Our Beloved Teachers in Smafour. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

The Students of X IPA 2. Smafour Teachers Biographies. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

The Students of XI IPA 7 SMAN 4 Cibinong. Exculs in SMAFour. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

The Students of XI IPA 2 SMAN 4 Cibinong. The Compulsory Rules of SMAFour. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

The Students of XI IPS 1 SMAN 4 Cibinong. Smafour Students Characters Building through Good Habits Every Day. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

The Students of XI IPA 4 SMAN 4 Cibinong. Smafour in Events. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

The Students of X MIPA 1 SMAN 4 Cibinong. Our Beautiful Memories on Holiday. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Komara, Kokom, dkk. Antologi Puisi Daerah Karya Guru Nusantara. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

The Students of XI MIPA 1 SMAN 4 Cibinong. Smafour Students Entrepreneurships. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Tiraswati, Dina Martha, dan Ujang Lukman. Pengawas Abad 21. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Tiraswati, Dina Martha, dan Taty Rahayuningsih. Di Bawah Langit Pattaya. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Fitriani, Khoirunisa. Sticky Note. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Komara, Kokom, dkk. Antologi Puisi Karya Guru Nusantara. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Hendriyani, Neneng. Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa dalam Berbicara Bahasa Inggris. Disunting oleh Nining Suryaningsih. Bogor: CV Cipta Media Edukasi, 2017.

Hendriyani, Neneng. Albatros. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Fahri. Bayang-Bayang Sang Guru. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2018.

Queen Mard. Be Hidden (Saat Cinta Menjadi Dilema). Disunting oleh Muhamad Budi Wahyu dan Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2018.

Hendriyani, Neneng. Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa ke Masa. Disunting oleh Esep M. Zaini. Bogor: CV Situseni, 2017.

Yamini, Sri, et al. Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2018.

Hendriyani, Neneng. Enrichment Book for XI SMK Based on Curriculum 2013 Revision. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2018.

Mulyana, Yuliati. Fun Science: Bahan Ajar IPA SMP. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2018.
Jilid 1: ISBN 978-602-52072-4-2
Jilid 2: ISBN 978-602-52072-5-9
Jilid 3: ISBN 978-602-52072-6-6
Tanpa jilid: ISBN 978-602-52072-3-5

Irawan, Mamat. Hati yang Berbisik: Kumpulan Sajak. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2018.

Kismani, Endah. How Do Texts Work?: Social Function, Generic Structure and Language Features. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Hendriyani, Neneng. Janji Firly. Bogor: CV Situseni, 2017.

Sugiastuti, Sri, dan Neneng Hendriyani. Let’s Learn English Together. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2018.

The Students of X Multimedia 1819. Our Best Friends in X Multimedia 1819. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2018.

The Students of X Multimedia 1 SMKN 1 Cibinong. Our Field Trip Stories. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Situseni, 2018.

Komara, Kokom. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru Sekolah Dasar. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Hendriyani, Neneng. Perlukah Kita Jujur? Disunting oleh Boedy Why. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2018.

Kismani, Endah. Practical Guide to Develop HOTS in Language Learning and Assessment: Solusi Pembelajaran Bahasa Inggris Abad 21. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Pratama, Galih Cahya. Sahabat Mirip Arwana. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Situseni, 2018.

Hendriyani, Neneng. Setangkup Rindu dari Masa Lalu. Bogor: CV Situseni, 2017.

Maluku Belajar. Syair yang Berbisik: Antologi Puisi Guru Pembelajar. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2018.

Hendriyani, Neneng. Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Disunting oleh Khoen Eka Anthy. Yogyakarta: CV Pustaka Mediaguru, 2017.

Andriany, Reny. 30 HBC: Kisahku. Disunting oleh Neneng Hendriyani. Bogor: CV Cakrawala Milenia Jaya, 2019.

Hendriyani, Neneng. Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa ke Masa. Disunting oleh Esep M. Zaini. Bogor: CV Situseni, 2017.

Hendriyani, Neneng. Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa dalam Berbicara Bahasa Inggris. Disunting oleh Nining Suryaningsih. Bogor: CV Cipta Media Edukasi, 2017.

Credential Pertamaku di Tahun 2024: St Brigid’s Poem

Mendapatkan sebuah credential dari sebuah instansi pemerintah adalah hal yang sangat membanggakan bagiku pribadi. Ini adalah sebuah pengakuan atas kreativitas yang kulakukan dan ini adalah bukti sebuah aktualisasi diri di bidang sastra. Memang hasilnya tidak sebaik yang pernah kuraih di tahun 2018, 2018, dan 2019 lalu. Namun, ini adalah bukti bahwa aku hanyalah manusia yang pernah mengalami banyak kejutan dalam hidup bahkan pernah merasakan roller coasternya kehidupan.

 

Menulis puisi dengan tema “The Future of Women” memang lumayan berat. Dari kaca mata sastra tidak  bisa seseorang menulis dalam waktu sekejap. Setidaknya ia memerlukan waktu untuk berkontemplasi dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana ia mengartikan wanita itu sendiri dalam sudut pandangnya mempengaruhi bait puisi yang ditulisnya. Bagaimana ia merasakan denyut harapan wanita dan menggelorakannya dalam sebuah puisi juga merupakan tantangan yang luar biasa. Untuk itu salut dan hormat kepada pemenang kompetisi puisi yang diadakan oleh Kedutaan Besar Irlandia untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN.

Anda berhak dapat bintang!

Menggali Penyebab Trauma, Kunci Kesembuhan Total Penderita Trauma

Seringkali kita tidak sadar ketika kita menjadi penderita trauma. Banyak sekali kejadian yang tidak mengenakkan terjadi dalam kurun waktu tertentu di masa lalu ternyata membuat kita berubah sedemikian rupa. Kita yang awalnya ceria tiba-tiba menjadi pemurung, menarik diri dari kehidupan sosial, dan cenderung apatis.

Kita bahkan tidak sadar ketika merasa bahwa kita sakit kepala karena kurang tidur, banyak pekerjaan, hingga akhirnya rajin meminum obat-obatan pereda rasa sakit untuk waktu yang cukup lama namun sayangnya sakit kepala itu tidak juga kunjung sembuh. Sampailah akhirnya kita mengalami ketergantungan terhadap merk tertentu dengan dosis yang semakin tinggi demi menyembuhkan rasa sakit yang lumayan mengganggu tersebut. Atau, kita yang tiba-tiba kehilangan rasa kantuk sementara jarum jam terus saja bergerak ke kanan dan baru menyadarinya bahwa siaran terakhir dari stasiun televisi favorit telah berakhir sejam yang lalu. atau, kita yang biasanya rutin pup setiap bangun tidur dan tiba-tiba tidak lagi pup sebelum dua  minggu berlalu.

Ya, mayoritas dari kita tidak menyadarinya bahwa ternyata semua hal yang terjadi di atas adalah gejala-gejala traumatis yang sedang kita hadapi akibat sebuah peristiwa buruk yang terjadi di salah satu fase kehidupan yang kita jalani.

Trauma adalah reaksi terhadap peristiwa atau pengalaman yang sangat menakutkan atau menyakitkan, baik secara fisik maupun mental. Kejadian traumatis ini bisa berupa pengalaman langsung, menyaksikan kejadian tersebut terjadi pada orang lain, bahkan mendengar cerita tentang kejadian tersebut.

Peristiwa yang dapat mengakibatkan peristiwa trauma di antaranya adalah pernah mengalami (1) kekerasan fisik, seperti pukulan, tendangan, penganiayaan, pelecehan seksual, (2) Kekerasan emosional, seperti dihina, dicemooh, diancam, diintimidasi, (3) Kehilangan, seperti kehilangan akibat meninggalnya orang yang dicintai, perceraian, atau bencana alam, (4) Kecelakaan, seperti kecelakaan kendaraan, atau kebakaran, dan (5) Ketidakamanan, seperti perang, pencurian, kerusuhan.

Semua orang bisa mengalami trauma, tak terkecuali anak-anak. Mereka adalah kelompok usia yang paling rentan terhadap trauma, di samping para dewasa akhir. Gejala traumatis yang mereka alami rerata sama. Yaitu:

  1. Gangguan emosional: Mengalami kilas balik atau gambaran yang jelas tentang kejadian traumatis secara berulang-ulang, sering mengalami mimpi yang menakutkan terkait kejadian traumatis, mudah merasa was-was, gelisah, cemas, dan sulit rileks, susah fokus (konsentrasi) dan mudah lupa, hilang ingatan, cenderung menghindari tempat, orang, atau hal-hal yang terkait dengan kejadian traumatis, mudah marah, sedih, atau apatis, menjadi lebih tertutup, menarik diri, atau melakukan tindakan destruktif.
  2. Gangguan fisik: mudah mengalami kelelahan, cepat mengalami sakit kepala, gangguan pencernaan, jantung berdebar, dan tubuh mengeluarkan keringat berlebih dari biasanya.

Gejala traumatis di atas dapat muncul segera setelah peristiwa traumatis terjadi, atau bertahun-tahun kemudian. Gejala-gejala ini dapat berlangsung sebentar atau berkepanjangan, tergantung pada tingkat keparahan trauma dan dukungan yang diterima oleh orang tersebut.

Sebenarnya tidak mudah untuk sembuh dari trauma. Banyak sekali faktor yang menjadi penyebab sulitnya para penderita ini sembuh total dan mampu menerima semua kejadian pahit tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Seringkali kita jumpai bahwa proses pemulihan dari trauma bisa menjadi hal yang sulit dan memakan waktu. Ada beberapa faktor yang dapat mempersulit pemulihan dari trauma, yaitu:
  1. Keparahan trauma: Trauma yang lebih parah dapat menyebabkan gejala yang lebih berat dan lebih sulit diatasi.
  2. Usia saat mengalami trauma: Anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua lebih rentan terhadap trauma dan lebih sulit untuk pulih.
  3. Faktor genetik: Ada bukti bahwa faktor genetik dapat berperan dalam kerentanan terhadap trauma dan pemulihan dari trauma.
  4. Faktor lingkungan: Orang yang hidup dalam lingkungan yang tidak aman atau tidak stabil lebih rentan mengalami trauma dan lebih sulit untuk pulih.
  5. Riwayat trauma: Orang yang pernah mengalami trauma di masa lalu lebih rentan mengalami trauma lagi dan lebih sulit untuk pulih.
  6. Dukungan sosial: Dukungan dari orang-orang terdekat dapat membantu seseorang merasa lebih kuat dan didukung, sehingga dapat mempermudah pemulihan dari trauma.
  7. Kesediaan untuk menghadapi trauma: Untuk pulih dari trauma, seseorang perlu bersedia untuk menghadapi trauma dan memprosesnya. Ini bisa menjadi hal yang sulit dan menakutkan, tetapi penting untuk dilakukan untuk dapat move on dari trauma.

Bagi penderita yang ingin pulih dari trauma cobalah beberapa tips di bawah ini:

  1. Dapatkan dukungan dari orang-orang terdekat. Bicaralah dengan teman, keluarga, atau orang yang Anda percayai tentang apa yang Anda alami. Dukungan mereka dapat membantu Anda merasa lebih kuat dan didukung. Hindari keinginan untuk berusaha tetap tegar, tersenyum dan menyembunyikan semua luka batin penyebab trauma tersebut. Alih-alih sembuh, hal tersebut justru dapat memperparah gejala traumatis yang akan dihadapi.
  2. Cari bantuan profesional. Terapi psikoterapi dapat membantu Anda memahami trauma dan mengembangkan mekanisme koping yang sehat. Obat-obatan juga dapat membantu mengurangi gejala trauma, seperti kecemasan dan depresi. Pastikan untuk mengonsumsi obat yang benar dalam jumlah yang tepat di bawah pengawasan profesional.
  3. Berikan diri Anda waktu. Proses pemulihan dari trauma bisa memakan waktu. Jangan berharap untuk pulih dalam semalam karena itu tetaplah untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan perasaan bahagia. Buang semua kecemasan karena kecemasan tidak dapat membantu masa depanmu, dan penyesalan tidak dapat mengubah masa lalumu.
  4. Bersabar dan jujurlah dengan diri sendiri. Berikan diri Anda kesempatan untuk belajar, jujur, dan tumbuh dari pengalaman ini karena semua hal buruk sejatinya dapat membuat pribadi menjadi lebih dewasa, kuat, dan bertanggung jawab.*)

The Imperative Pursuit of Clean and Affordable Energy: A Call to Action

In the face of a rapidly changing climate and a burgeoning global population, the pursuit of clean and affordable energy has become a necessity. The continued reliance on fossil fuels, the primary drivers of greenhouse gas emissions, is no longer sustainable. The environmental, social, and economic consequences of climate change demand a paradigm shift towards renewable energy sources.

The Environmental Imperative

The scientific consensus is unequivocal: human activities, primarily the burning of fossil fuels, are causing the Earth’s climate to change at an unprecedented rate. This change is manifesting in extreme weather events, rising sea levels, and disruptions to ecosystems. The consequences of climate change threaten human health, food security, and the stability of societies.

The Social Imperative

The reliance on fossil fuels has exacerbated existing social inequalities. Energy poverty, the lack of access to modern energy services, disproportionately affects the world’s poorest communities. This lack of access hinders development, limits opportunities, and perpetuates a cycle of poverty.

The Economic Imperative

The transition to clean energy is not just an environmental necessity; it also presents a significant economic opportunity. Investing in clean energy technologies creates new jobs, stimulates economic growth, and reduces reliance on volatile fossil fuel markets.

The Path to Clean and Affordable Energy

The transition to clean and affordable energy requires a concerted global effort.

Governments can incentivize the development and deployment of renewable energy technologies through policies such as renewable energy targets, subsidies, and research and development funding.

Businesses can reduce their carbon footprint by investing in renewable energy sources, improving energy efficiency, and adopting sustainable practices.

Individuals can make a difference by adopting energy-efficient practices in their homes, choosing renewable energy providers, and supporting environmentally conscious businesses.

Conclusion

The pursuit of clean and affordable energy is not just a choice; it is a necessity. It is a path towards a sustainable future, a future where we can protect the environment, ensure equitable access to energy, and foster economic prosperity. The time for action is now. Let us rise to the challenge and embrace a cleaner, more sustainable energy future.

(Neneng Hendriyani, December 8, 2023)

 

Wordwall, Kuis Keren Untuk Pembelajaran Bahasa Inggris

Hai, fellows.

Apa kabar semuanya? Lama tidak berjumpa, ya. Mohon maaf dan maklum karena saya sedang asyik belajar hal baru nih.

Oh ya pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan sebuah kuis yang asyik dan menyenangkan dan tentunya memudahkan bagi guru dalam memberikan evaluasi menyenangkan untuk murid-muridnya di kelas. Dengan hanya bermodalkan gadget yang terkoneksi internet, murid dapat mengakses dan mengerjakan serangkaian evaluasi terkait topik pembelajaran yang sedang dipelajari di kelas.

Sebelumnya, yuk dicoba tes atau kuis berikut ini. Tuliskan pengalamanmu dalam mengerjakannya, ya.

Selamat mencoba.

Sakit adalah Rahmat, Tips Sehat Ala Desi Anwar

 

Oleh Neneng Hendriyani

Sumber berita: goodreads.com

Untuk tetap menjaga dan merawat tubuh agar tetap sehat dan bugar maka kita perlu menanamkan mindset positif dalam otak kita. Semakin sering kita berpikir bahwa semuanya baik dan positif bagi kita maka kita akan semakin sehat dan bugar. Kita tidak akan merasakan sesuatu yang buruk terjadi kepada tubuh dan diri kita sendiri.

Begitu pula saat kita sedang sakit. Pikiran bawah sadar kita lah yang diperlukan untuk menjaga tubuh dan jiwa kita agar tetap sehat dan bugar.

Kita tidak boleh memandang penyakit yang sedang kita derita tersebut sebagai sebuah kutukan. Karena bila kita berpikir demikian maka kita akan semakin sulit untuk sembuh.

Kita harus berpikir bahwa penyakit yang sedang kita derita adalah sebuah berkah yang diberikan sang pencipta kepada kita. Lewat penyakit tersebut kita tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan diri dan tubuh kita sendiri. Kita jadi sadar bahwa apa yang selama ini kita lakukan mungkin salah. Maka itu kita perlu memperbaiki segala sesuatunya yang menimbulkan dampak negatif terhadap tubuh kita.

Dampak negatif yang dialami oleh tubuh biasanya adalah gejala-gejala yang menunjukkan bahwa tubuh kurang sehat dan kurang bugar. Selain itu, bila penyebab datangnya penyakit itu berat maka dampak negatif yang diterima dan dikirimkan oleh tubuh kepada kita adalah berupa penyakit. Berat ringannya penyakit ini tergantung kepada masalah yang kita hadapi sehari-hari. Semakin berat masalah yang dihadapi maka semakin berat penyakit yang diderita. Semakin ringan yang menimpa diri dan tubuh maka semakin ringan pula penyakit yang diderita.

Anggaplah penyakit tersebut sebagai hikmah. Dengan adanya penyakit tersebut maka tubuh mengirim sinyal agar kita berhenti sejenak dari aktivitas berat yang sedang dilakukan. Kita bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman. Otak dan pikiran kita kembali rileks. Anggota tubuh lainnya pun kembali tenang tanpa beban. Semua organ dalam pun beristirahat. Semua sibuk memperbaiki diri dari dalam dengan nyaman dan tanpa cemas mengalami gangguan. Dengan cara ini ketika masa pemulihan selesai kita akan mendapati tubuh baru yang lebih fresh, sehat dan bugar. Sebuah tubuh yang siap diajak bekerja sama mencapai semua tujuan kita dengan kondisi yang betul-betul prima.

Kita harus mengurangi kesibukan dan merawat tubuh dengan baik. Dengan begitu tubuh akan kembali pulih, sehat, dan bugar.

Memang pada awalnya menanamkan semua ini dalam benak pikiran kita sulit luar biasa. Namun bila kita melakukannya dengan penuh kesadaran maka semua ini akan mudah diterima. Percayalah, tidak ada yang sia-sia dari semua kejadian yang dialami oleh tubuh kita, walaupun itu hanya sebuah penyakit. Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Percaya, dan bertawakallah kepada Allah SWT.

Praktik Menulis Procedural Text Dengan Memasukkan P5 Dalam Bentuk Infografis

pdf_20220923_181405_0000

 

Mengajar bahasa Inggris terutama untuk procedural text sebenarnya sangat mudah sekali. Guru hanya perlu menjelaskan generic structure dari procedural text, language features yang digunakan dalam menyusun procedural teks, dan juga memberikan contoh prosedural text untuk manual, tips, resep masakan, dan lain sebagainya. Setelah itu barulah siswa dikelompokkan kira-kira 5 sampai 6 untuk mengerjakan Project yang berkaitan dengan P5 ( Project profil pengenalan pelajar Pancasila). Berikanlah tema yang berkaitan dengan P5 untuk membuat procedural text secara kelompok. Tema gaya hidup berkelanjutan adalah contoh tema yang bisa dipilih untuk mengerjakan tugas kelompok procedural text. Guru hanya perlu memberikan aturan bagaimana membuat procedural text yang baik dan benar dan memberikan instruksi yang jelas mengenai produk apa yang akan dibuat dan dari jenis bahan apa saja.

Sebagai contoh, untuk tema gaya hidup berkelanjutan siswa dapat diberikan tugas membuat produk kerajinan tangan (dekorasi ruang kelas dekorasi meja, dekorasi pintu dekorasi ruang belajar, dekorasi ruang makan, dan lain-lain) berikan batasan yang jelas kepada siswa bahwa seluruh produk kerajinan tangan tersebut dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan atau barang bekas yang ada di sekitarnya. Hal ini selain sebagai praktik nyata menjaga lingkungan hidup juga untuk menanamkan pengalaman berharga dan pembelajaran bermakna bahwa siswa dapat menciptakan suatu produk yang memiliki nilai seni sekaligus nilai jual yang tinggi.

Untuk mendapatkan hasil maksimal guru perlu memberikan waktu yang cukup agar siswa dapat berdiskusi dengan anggota kelompoknya, mengumpulkan bahan dan alat yang dibutuhkan, dan membuat produk yang mereka putuskan bersama dengan baik. Seluruh rangkaian pekerjaan tersebut didokumentasikan dengan baik dalam bentuk laporan tertulis. Selain itu penilaian pun bisa diambil dalam bentuk presentasi kelompok di mana siswa mempresentasikan cara membuat produk tersebut dengan menggunakan procedural text.

Presentasi kelompok tersebut dapat menggunakan infografis Mengapa harus dalam bentuk infografis? Karena procedural text lebih mudah dibuat dalam bentuk infografis. Selain itu dengan menggunakan template infografis siswa juga dapat menuangkan ide-ide kreatifnya mengenai produk yang dibuat dan dikerjakannya bersama-sama. Dengan demikian hasil yang diperoleh menjadi lebih menarik.

Membuat infografis untuk procedural text juga memungkinkan siswa untuk belajar tidak hanya bahasa Inggris saja. Namun juga mereka dapat mempraktekkan pelajaran lain seperti misalnya seni. Sehingga mereka menjadi lebih tertarik dan tertantang untuk melaksanakan dan mengerjakan tugas tersebut dengan baik.

 

 

(Bogor 27 September 2022)

BAGAIMANA MENJADI AYAH YANG MAMPU MENGEMBANGKAN KEDEKATAN DENGAN BAYINYA AGAR BISA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN EMOSIONALNYA?

Oleh Neneng Hendriyani

Menjalin kedekatan dengan seorang bayi yang baru lahir sampai ia menjadi kanak-kanak tidak hanya menjadi tugas seorang ibu tetapi juga tugas seorang ayah.

Mengapa kedekatan dengan seorang bayi perlu dilakukan oleh ayah? Hal ini dikarenakan ayah adalah figur yang tidak bisa hilang dari kehidupan awal bayi. Kehadiran ayah baik secara fisik maupun nonfisik tetap diperlukan baik dalam perkembangan kepribadiannya  maupun emosionalnya. Oleh sebab itu maka seorang ayah perlu menunjukkan perasaan dan juga memberikan perhatian kepada bayinya demi tumbung kembang sang buah hati.

Anggapan dimana perhatian dan sentuhan yang diberikan kepada bayi hanyalah tugas seorang ibu merupakan anggapan yang sudah usang pada saat ini. Untuk memberikan kesan positif sekaligus mengembangkan kemampuan emosional bayi yang baik maka ayah perlu membuka dirinya dan menunjukkan perasaannya kepada sang bayi melalui sentuhan.

Dilansir dari bidan_sahabatku ada 4 titik utama pada tubuh bayi yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari sang ayah dalam rangka membangun kedekatan dan mengembangkan kepribadiannya. Keempat titik utama tersebut adalah ubun-ubun, dahi punggung tangan, dan kedua pipi bayi.

Seorang ayah dapat menunjukkan rasa cinta dan bangganya dengan sering mengecup ubun-ubun kepala bayi. Mengapa bagian ini menjadi penting untuk disentuh dan dicium oleh ayah alasannya sangat sederhana yaitu untuk menunjukkan bahwa ayah sangat peduli kepada perkembangan bayinya terutama dalam mengembangkan kemampuan menentukan keputusan mengenai baik dan benar dalam perjalanan hidup bayi hingga ia menjadi dewasa.

Titik berikutnya yang dapat disentuh ayah pada bayinya adalah dahi bayi. Bagian ini perlu mendapatkan perhatian dengan cara dikecup mesra. Perasaan sayang, perasaan diperhatikan, sekaligus perasaan dikagumi dapat dirasakan oleh sang bayi secara langsung ketika sang ayah mencium dahinya.

Bayi pada dasarnya sudah mengetahui orang-orang yang benar-benar menyayanginya dari sentuhan yang ia terima pada bagian tubuhnya. Oleh karena itu ia pasti memberikan respon terhadap sentuhan yang diberikan oleh ayahnya tersebut dengan mengerjap-ngerjapkan matanya atau tersenyum sumringah saat disentuh atau dicium.

Titik ketiga pada tubuh bayi yang perlu mendapatkan sentuhan dari ayah adalah punggung tangan bayi. Bagian ini adalah bagian yang menunjukkan bahwa ayah menghargai apa yang dilakukan sang bayi. Ia bangga dengan pencapaian keterampilan motorik bayinya.

Titik terakhir yang perlu mendapatkan perhatian khusus lainnya dari ayah adalah kedua pipi bayi. Kedua pipi bayi menunjukkan rasa sayang dan bangga kepada sang bayi.

Apabila Ayah senantiasa menyentuh keempat titik pada tubuh bayi seperti yang diuraikan di atas maka bayi akan tumbuh menjadi pribadi yang halus, lembut, penuh kasih sayang, dan mampu memiliki rasa empati kepada orang lain di sekitarnya. Dengan kata lain, kemampuan emosionalnya berkembang baik seiring kemampuan motoriknya.

Sebab itu, marilah para ayah rajin-rajinlah menyentuh keempat titik istimewa pada bayi anda.***