Perjalanan pada hari Sabtu tanggal 23 Februari 2019 lalu di mulai dengan cerita menarik tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Belitung. Senangnya hatiku mendapati tour guide yang dipakai rombongan bus 2 ini sangat hapal dan tahu banyak tentang Belitung. Cara penyampaiannya juga menarik. Jadi semua yang berada di dalam bus tidak merasa digurui. Caranya bercerita begitu apik, lancar dan tersusun rapi dengan penggunaan bahasa Indonesia yang sudah sama dengan orang-orang daerah yang sudah lama hijrah ke Jakarta. Tak terdengar lagi aksen dan logat Melayunya. Padahal ia asli Melayu.
Hal pertama yang ia sampaikan adalah tentang adat istiadat yang berlaku di daerah Belitung. Di sini semua orang masih memegang adat dan budaya lama. Masih banyak yang percaya bahwa segala sesuatu yang baik bagi kehidupan mereka itu bisa diperoleh dari hasil hitung menghitung menggunakan ilmu Falak. Jadi tidak heran bila semua upacara adat yang berkenaan dengan pendirian rumah, pernikahan, dan selamatan selalu dihitung sebelumnya. Ini ditujukan untuk mendapatkan keselamatan, keberkahan dan perlindungan Allah.
Selain masih mempercayai hal tersebut, para penduduk Belitung juga masih percaya kepada kemampuan dukun bila mereka sakit. Tak sedikit orang Belitung yang memilih berobat ke dukun bila sakit. Mereka kurang percaya kepada tenaga kesehatan seperti dokter.
Hal yang menarik berikutnya adalah perihal kejujuran yang dimiliki oleh semua orang Belitung. Siapa pun yang memiliki kendaraan bermotor bisa memarkir kendaraannya dengan kunci kontak masih menggantung di kendaraannya dengan rasa aman. Tanpa rasa was-was takut hilang atau dicuri. Mereka semua sangat menghormati milik orang lain dan tidak suka mencuri. Meskipun demikian bukan berarti lantas pihak kepolisian bisa bekerja santai ya di wilayah pulau ini. Aku menemukan ada beberapa kantor kepolisian dan juga asrama tentara yang dibangun di sepanjang jalan yang kulalui.
Menurut tour guide kami, bila ada kasus pencurian biasanya polisi bekerja sama dengan dukun setempat. Dengan begitu hampir bisa dipastikan para pelaku kejahatan yang nekad berbuat jahat dan mengganggu keamanan di Belitung mudah ditangkap dan diamankan.
Selain tentang kejujuran, aku juga mencatat hal lain yang tak kalah menariknya dari penjelasan tour guide kami yang bernama Bang Yono.
Sepanjang jalan dari bandara di hari pertama aku berkunjung aku sudah melihat ikon kita Belitung yang berbeda dengan kota-kota lainnya di pulau Sumatera. Sebuah batu berukuran besar berwarna hitam diletakkan di tengah-tengah air mancur mudah sekali ditemukan oleh semua wisatawan yang berkunjung ke Belitung. Bukan apa-apa. Batu ini terletak di pusat kota. Jadi siapa pun pasti melewatinya bila ingin pergi ke pusat kota. Batu besar berwarna hitam ini dipercaya sebagai batu meteorit yang pernah jatuh di wilayah Belitung beberapa puluh tahun yang lalu. Bang Yono sendiri tidak tahu persis kapan tepatnya batu yang dikenal dengan nama “SATAM” itu jatuh di Belitung. Yang pasti, semua orang Belitung selalu tak kehabisan kata-kata bila hendak menceritakan kisahnya.
Batu Satam ini lalu dijadikan barang cinderamata oleh beberapa pengrajin batu. Aku melihat hampir di setiap tempat dan pukau yang kukunjungi selalu kutemui penjual perhiasan yang menggunakan batu Satam sebagai aksesorisnya. Oh ya, kalau kalian tertarik membeli batu Satam ini kalian harus menyiapkan uang yang cukup banyak ya. Agak repot soalnya bila hanya mengandalkan kartu ATM di dompet. ATM hanya ada di beberapa tempat saja. Itu pun di pusat kota dan pusat perbelanjaan oleh-oleh.
Harga sebuah cincin berbatu Satam itu bervariasi. Untuk perempuan biasanya dipatok di harga Rp. 100.000 – Rp.300.000. Sementara untuk laki-laki lebih mahal. Untuk gelang berbatu Satam ukuran kecil-kecil dijual dengan harga Rp. 250.000 – Rp.800.000. Umumnya para pedagang perhiasan ini tidak melayani tawar menawar harga. Semua fixed Price. Jadi jangan harap ya bila dinego ala-ala Pasar Anyar atau Blok M lantas kalian berhasil membawa pulang perhiasan yang kalian incar tadi. Mereka lebih memilih diam dan tidak menjualnya sama sekali bila pembeli tidak mau membeli dengan harga yang telah diajukannya. Aneh, ya. Itulah keunikan pedagang di Belitung.
Nah, buat kalian yang menyukai pernak pernik unik khas Belitung yang mengandung batu Satam, baiknya membeli di sekitar pantai Tanjung Tinggi dan sepanjang warung yang berdiri di sekitar jalan masuk Replika SD Laskar Pelangi. Di kedua tempat ini barang-barang seperti itu dijual dengan harga murah. Lebih murah dari tempat lain. Rerata harganya masih bisa dijangkau orang kebanyakan. Yaitu, Rp. 100.000 – Rp. 300.000 per cincin atau per kalung.
Kok mahal, ya? Itulah yang pertama kali aku tanyakan saat mendengar harganya. Usut punya usut ternyata batu tersebut memang sangat berharga. Setidaknya ia adalah ciri khas pulau tersebut. Tidak ada batu sejenis itu ditemukan di tempat lain di Indonesia. Batu meteorit itu apabila diletakkan secara berdekatan akan saling tolak menolak. Mirip sekali dengan prinsip kerja magnet. Bila ia ditaruh di atas sebuah bidang datar dan dibawahnya dipanasi maka ia akan berputar perlahan-lahan. Bila batu Satam yang kalian beli tidak menunjukkan ciri-ciri tersebut berarti batu Satam kalian palsu.
Selain batu Satam, Belitung juga punya keunikan dan ciri khas lainnya. Apalagi kalau bukan binatang. Binatang khas yang menghuni sebagian besar wilayah hutan Belitung adalah sebangsa monyet yang dikenal dengan nama Tesaurus. Tidak ada babi hutan, harimau, singa, kelinci, gajah dan binatang hutan lainnya di sini. Jadi sangat aman bagi kita semua bila berjalan kaki di sepanjang jalan yang dilalui oleh kendaraan bermotor yang berada di tengah-tengah hutan yang kira lalui. Satu-satunya binatang yang perlu diwaspadai adalah buaya. Eit, bukan buaya sembarang buaya loh ya. Juga bukan pula buaya darat.
Di Belitung ini buaya adalah hewan yang umum ditemukan hampir di seluruh wilayah perairan Belitung. Rawa, sungai, Setu atau danau adalah rumah bagi para buaya Belitung. Oleh sebab itu disarankan agar berhati-hati bila berkesempatan menyusuri rawa-rawa dan sungai di Belitung. Bila terpaksa bertemu, jangan langsung ambil langkah seribu. Biasanya buaya tidak akan menyerang manusia lebih dahulu. Andaikan ada manusia yang diserang dan dimakan buaya, menurut Bang Yono, manusia tersebut masih bisa diselamatkan. Catatan jeda dari masa penangkapan hingga penyelamatan tidak lebih dari 24 jam. Biasanya yang diberikan tugas penyelamatan adalah pawang buaya yang merupakan penduduk asli Belitung.
Pertama kali memasukkan nama kota ini dalam tujuan kota yang akan dikunjungi tahun 2019 ini adalah karena satu hal. Ya, satu hal saja. Untuk itu aku yakin bisa mewujudkannya. Namun siapa sangka bila kemudian agenda yang kususun di awal tahun ini bisa tercapai justeru karena lebih dari satu alasan. Benar-benar kejutan.
Bali adalah kota yang tak asing di telinga. Setidaknya di tahun 2004 ketika ia menjadi sebuah tujuan wisata paling mahal bagi guru di Kab Bogor rekanku sudah menjelajahinya dengan alasan klise, study tour. Saat itu aku hanya tersenyum. Apalagi saat pulangnya ia membawakan selembar kain pantai Bali. Senyum pun makin merekah. Namun maknanya tak berubah.
Jauh di lubuk hati aku tersenyum. Seseorang mengetuk dan bicara kepadaku lembut. Suatu hari kau akan ke sana. Percayalah. Saat itu aku tak begitu mendengarkan. Aku menganggap itu semua hanya lah sekedar bisikan biasa. Aku terus mengabaikannya. Hingga perlahan suara itu tak terdengar lagi dari tahun ke tahun.
Namun sejak kutemui banyak hal yang tak mungkin terjadi di sekitarku aku mulai meliriknya. Melirik seseorang yang terlupakan. Seseorang yang berbagi kisahnya melalui sebuah lintasan waktu. Seseorang yang berbicara dari hati ke hati. Menatap lewat cermin yang tergantung di seluruh ruang kerja. Berbicara tentang banyak hal yang tak ku pahami. Ya, tentang semuanya. Tentang Datuk Rajo yang diam-diam menyukaiku. Tentang bayangan hitam yang melayang di sekitar ku. Ah, juga tentang penunggu pohon kecapi yang berhasil membuatku memasukkan Xeniaku diantara batang pohonnya.
Begitu banyak kisah dan rahasia yang terbagi. Begitu banyak air mata dan darah yang menyertai. Tumpukan arang di tengah pendapa. Juga seseorang yang berada di antara tengah sisa api. Semua itu menjadi bagian tak terpisahkan yang kudengar.
Sepotong kisah di Tanjung Benoa juga menarik ku kian jauh ke tengah samudera waktu. Aku tak mampu lepas. Pesonanya menjeratku hebat.
Namun bukan itu alasanku menjejakkan kakiku di pulau ini. Sama sekali bukan.
Layaknya perjalanan ku pulang beberapa tahun lalu ke Yogyakarta untuk pertama kali. Seperti itulah kini.
Ada hawa lain yang membuatku begitu terpesona. Tak bisa ku menghindar. Tak bisa ku lari. Semakin dekat rangkaian kereta, semakin sesak dadaku.
Kini enam hari menuju Bali. Bukanlah Puri Klungkung tempat yang dituju. Bukan pula Amlapura tempat yang ku mau. Tapi sebuah tempat yang biasa dikunjungi. Tempat yang hanya dinikmati para turis. Bukan tempat dimana pencarianku akan berakhir.
Ah, alasan awal aku memilih Bali sebagai KOTA terakhir yang kukunjungi tahun ini adalah ingin mengunjungi festival sastranya. Menemui para sahabat lama. Menjumpai para guru utama. Seperti dalam mimpiku berpuluh tahun lalu.
Namun kini semua berbeda. Aku datang bersama rombongan siswa. Tak tanggung-tanggung, 12 bis wisata. Tujuannya hanya ingin mengunjungi Udayana. Merajut mimpi meraih harapan agar bisa kembali lagi ke Udayana tahun depan. Itulah mimpi anak-anak belasan tahun yang kudampingi. Sebuah mimpi yang tak pernah kumiliki saat seusia mereka.
Gregetan sekali saat mendengar Ira Kusno mengatakan, “… Endonesia Raya…” pada acara debat capres dan cawapres beberapa Minggu lalu. Sontak aku terpikir, apa kita orang Endonesia sehingga kita seringkali menyebut nama negara kita Endonesia bukan Indonesia. Padahal jelas sekali ditulis bahwa negara kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan Endonesia. Maka sudah seharusnya presenter atau siapa pun harus mengucapkan Indonesia, bukan Endonesia. Mengapa demikian? Karena presenter merupakan orang yang paling bertanggung jawab dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bila ia salah, maka dapat dibayangkan berapa banyak pemirsa yang akan mengikuti jejaknya dengan ikut latah mengucapkan kata Indonesia dengan Endonesia.
Di lain kesempatan aku pun sering mendengar orang berkomentar dengan mengatakan, “maklum Endonesia gitu loh” tiap kali kita diskusi tentang berbagai hal yang sedang hangat di masyarakat misalnya tema korupsi yang gencar dilakukan para pemimpin daerah baru-baru ini. Lawan bicara kita senantiasa melontarkan kalimat seperti itu untuk meyakinkan bahwa pendapatnya benar dan sahih. Coba saja amati kalimat yang sering ditemui di warung-warung kopi anak muda zaman sekarang. “Ya elah, begitu aja repot. Endonesia gitu loh. Kalau enggak begini, bukan Endonesia,”. Kalimat-kalimat yang menggunakan pengucapan Endonesia sambil disertai derai tawa di warung-warung kopi tersebut menimbulkan makna yang berbeda. Seolah-olah di negara yang bernama Endonesia hal seperti itu adalah hal yang wajar dan lazim terjadi. Apa iya, begitu?
Di kesempatan yang berbeda, saat masih menjadi anggota paduan suara wisudawan pun salah seorang kawan melafalkan kata Indonesia dengan Endonesia tanpa ragu. Kebetulan ia berposisi sebagai penyanyi Sopran. Alhasil lengkingan suaranya terdengar sangat jelas. Sehingga berhasil membuat Rektor dan tamu undangan melirik ke arah kami. Awalnya kami bangga sekaligus bahagia dilirik sedemikian rupa. Ternyata kami salah. Lirikan yang disertai senyum manis tersebut bukanlah bentuk apresiasi yang kami nantikan. Selesai acara, pelatih memarahi kami habis-habisan lantaran sudah mahasiswa tapi masih belum bisa membedakan lafal i dan e. Memalukan.
Belum lagi pengalaman mengajar anak-anak SMK selama lima belas tahun membuat saya bingung. Sering kali mereka cuek saat mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Mereka bersikap masa bodoh. Mungkin karena mereka terbiasa membaca kata Indonesia dengan Endonesia sehingga rasa cinta tanah air yang seharusnya melekat di jiwa mereka masing-masing luntur. Sehingga lagu tersebut tidak didengarkan dengan baik. Mereka bersikap seolah-olah lagu tersebut bukanlah lagu kebangsaan negara mereka.
Berbagai kejadian yang aku temui di dalam pergaulan sehari-hari tersebut membuat saya malu. Alih-alih ingin mendengarkan acara debat capres dan cawapres saya justeru berlari ke arah tumpukan buku lawas. Rasa penasaran mengusik hatiku. Aku merasa tidak nyaman mendengar kata Endonesia berulang kali di ruang dengarku.
Sebagai orang awam yang tidak begitu mendalami bahasa nasional aku jadi berpikir keras. Benarkah kata Indonesia ini dibaca Endonesia. Bukankah huruf “i” dibacanya juga “i”? Begitu pula huruf “E” harus dibaca “E” dengan jelas. Kedua huruf yang sama-sama anggota huruf vokal tersebut memilliki bunyi hurufnya sendiri. Bunyi yang jelas dan membedakan dari huruf-huruf yang lain. Bunyi yang tidak boleh ditukar seenaknya sendiri. Apalagi untuk sebuah kata yang memiliki makna luar biasa, seperti Indonesia.
Benar apa yang disampaikan pelatih paduan suara ku sembilan belas tahun lalu. Sungguh memalukan sekali bahwa hingga hari ini ternyata mayoritas penduduk Indonesia masih belum bisa melafalkan kata Indonesia dengan benar. Masih sering salah pengucapan huruf i dengan e. Ironis.
Masih di depan tumpukan buku masa kuliah dulu, pikiran dan ingatan ku lari ke masa di mana bunyi akhiran -kan acap kali dibaca dengan bunyi “ken” oleh beberapa petinggi negara yang berasal dari suku Jawa. Apakah ini bentuk dari kesalahan berbahasa seperti kasus untuk kata Indonesia di atas? Menurutku, tidak. Mereka yang mengucapkan kata-kata yang berakhiran -kan dengan bunyi “ken” tersebut secara kebahasaan tidaklah salah seratus persen. Sebab pelafalan ini terjadi di ranah dialek. Menurut KBBI V, pelafalan adalah cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa. Seperti yang kita ketahui bersama, bangsa Indonesia memiliki lebih dari 666 bahasa daerah dengan segala karakteristiknya. Para pengguna bahasa daerah ini seringkali secara alamiah membawa dialek bahasanya saat bercakap-cakap dalam bahasa nasional. Sehingga yang muncul persis seperti yang terjadi pada para petinggi negara tersebut. Kita tidak bisa menyalahkan mereka untuk kondisi yang seperti itu. Bila kemudian bunyi “ken” tersebut menjadi budaya di kalangan pejabat itu adalah hal yang berbeda. Ada beragam alasan yang mendorong mereka melakukannya. Alasan ini dipaparkan dalam bahasan code switching (alih kode) dan code mixing (campur kode)di dalam linguistik.
Beberapa guru bahasa Indonesia di sekitar ku sering kali mempermasalahkan hal ini. Padahal ini beda kasus. Dialek bahasa seseorang adalah ciri khas dari mana ia berasal. Dan hal ini tidak bisa dihilangkan dengan serta merta. Ia bukanlah hal yang patut dinilai salah dan benar dalam penggunaan bahasa Indonesia. Seperti yang terdapat dalam KBBI V, dialek adalah variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai (misalnya bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu. Jadi, jelas berbeda sekali dengan kasus di mana huruf I dibaca E.
Dari kasus pelafalan kata Indonesia menjadi Endonesia inilah yang membuat aku akhirnya berani mengatakan bahwa aku adalah orang Indonesia, bukan Endonesia. Sampai hari ini pun lagu Indonesia Raya diucapkan Indonesia Raya, bukan Endonesia Raya. Bila masih diucapkan Endonesia Raya maka Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak akan pernah maju. Hal ini lantaran antara tulisan dan pengucapan tidak pernah bersatu. Antara pikiran dan tindakan masih belum selaras dan sejalan. Maka itu marilah menjadi orang Indonesia, bukan Endonesia.
Dalam dokumen Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 95/M/2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik, peran pendamping penyelia tidak disebut secara eksplisit dengan istilah “pendamping penyelia”. Namun, konsep pendampingan atau dukungan terhadap penyelia pengawas tercermin dalam “tim teknis penyelia” sebagai bagian dari struktur penyelenggara TKA di tingkat provinsi. Tim ini berfungsi sebagai pendukung operasional untuk penyelia pengawas, dengan fokus pada pemetaan beban kerja dan dukungan kelancaran pemantauan TKA. Hal ini mendukung tujuan TKA agar dilaksanakan secara objektif, transparan, akuntabel, dan terstandar, sebagaimana diatur dalam pedoman ini. Pendampingan juga mencakup aspek pembiayaan untuk persiapan dan pelaksanaan TKA di tingkat provinsi.
Peran Utama Pendamping Penyelia
Pendukung Teknis dan Operasional: Berperan dalam memetakan beban kerja penyelia pengawas untuk memastikan distribusi tugas yang efisien, serta mendukung kelancaran proses pemantauan TKA melalui koordinasi dengan berbagai pihak.
Fasilitator Pemantauan: Membantu dalam pendampingan persiapan dan pelaksanaan TKA, termasuk verifikasi data satuan pendidikan, pengaturan aplikasi konferensi video, dan penanganan masalah teknis.
Penjaga Integritas: Memastikan bahwa pengawasan tetap sesuai dengan tata tertib, seperti menjaga etika komunikasi dan kerahasiaan selama konferensi video, tanpa kewenangan pengambilan keputusan utama (tetap pada penyelia pengawas).
Peran ini bersifat pendukung, di bawah kewenangan penyelenggara tingkat provinsi (dinas pendidikan atau kantor wilayah Kemenag), dan terintegrasi dalam struktur penyelenggara untuk mendukung kolaborasi dengan PTN, kabupaten/kota, dan satuan pendidikan.
Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Pendamping Penyelia
Tupoksi tim teknis penyelia (sebagai bentuk pendampingan) meliputi:
Pemetaan dan Dukungan Beban Kerja: Memetakan beban kerja penyelia pengawas untuk mengoptimalkan pengawasan daring, termasuk alokasi ruang per satuan pendidikan dan pengaturan konferensi video.
Pendampingan Persiapan dan Pelaksanaan: Mendukung koordinasi dengan penyedia layanan (listrik, internet), verifikasi data peserta, dan penanganan laporan hasil pengawasan dari penyelia.
Pemantauan dan Evaluasi: Membantu dalam menerima dan menindaklanjuti laporan hasil pengawasan, serta memastikan kepatuhan terhadap tata tertib (misalnya, pembukaan aplikasi konferensi video 45 menit sebelum tes dan larangan menyebarluaskan rekaman).
Penanganan Pelanggaran: Mendukung investigasi pelanggaran ringan hingga berat terkait penyelia pengawas, seperti ketidakhadiran atau pelanggaran etika, dengan laporan ke tingkat pusat.
Tupoksi ini disesuaikan dengan jalur formal (SMA/SMK) dan nonformal, dengan penekanan pada penggunaan teknologi untuk pengawasan, dan didanai melalui APBD/APBN sebagai bagian dari biaya pendampingan TKA tingkat provinsi.
Referensi
Dari dokumen “8771_Kepmendikdasmen No 95-M-2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik(1).pdf”:
Penetapan tim teknis penyelia: Halaman 15 (tugas dinas pendidikan provinsi, poin 26); Halaman 17 (tugas kantor wilayah Kemenag, poin 24).
Pendampingan persiapan dan pelaksanaan: Halaman 38 (biaya TKA tingkat provinsi, poin 9).
Tata tertib dan pelanggaran penyelia pengawas (terkait dukungan pendamping): Halaman 41 (Tata Tertib Penyelia Pengawas); Halaman 44-46 (Jenis Pelanggaran dan Penanganan, bagian b. Penyelia Pengawas); Halaman 48 (Penanganan Tindak Lanjut, poin b).
Struktur penyelenggara: Halaman 9 (tugas Kementerian, poin 12); Halaman 12 (tugas Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dkk., poin 8); Halaman 18 (tugas dinas pendidikan kabupaten/kota); Halaman 30 (persyaratan pengawas, terkait konferensi video); Halaman 33 (tugas pengawas, poin c dan d).
Dari dokumen sebelumnya (untuk kelengkapan, sebagai referensi pendukung):
Perjalanan kembali ke Semarang tidaklah semudah perjalanan awalku. Kereta kuda yang kutumpangi berkali-kali diperiksa di Pos antar kampung oleh para centeng berpakaian serba hitam. Meskipun kami bangsawan Jawa namun kami tidak mendapatkan priviledge apa pun. Siapa lah kami di tanah jajahan? Hanya sepasang inlander yang kebetulan memiliki beberapa pengawal. Sisanya, kami hanyalah manusia biasa.
Setelah matahari menuju barat, kereta kami baru tiba di Haven Kanaal atau Batavia’s Roadstead. Ini adalah pelabuhan terbesar dan utama di Batavia sejak abad ke-17. Meskipun sebuah pelabuhan namun kondisinya tidak sebaik yang ada di Eropa saat itu. Aku beruntung tiba di sore hari. Jika tidak, uh rasanya pasti tak tahan. Bau menyengat, antara bau amis dan koco berpadu mengocok isi perut. Udaranya panas, nyelekep. Gerah. Suasananya ramai, lebih ramai dari pasar karena di sini semua pedagang dari berbagai negara membongkar muatan dagangannya serentak menggunakan perahu-perahu kecil ke daratan. Proses bongkar muat ini lama. Bisa seharian. Bahkan bisa beberapa hari. Karena kanal ini sangat sempit dan kecil, maka tak jarang sering terjadi tabrakan perahu terutama ketika cuaca buruk.
Mengingat kondisinya yang seperti itu, banyak sekali pedagang Eropa dan Cina yang complaint ke Gubernur Jenderal untuk membangun pelabuhan baru. Sayang, keluhan ini dianggap angin lalu. Wajar sih, biaya memindahkan pelabuhan lama ke Tanjung Priok saat itu sangat besar. Pemerintah Hindia Belanda belum memiliki dana besar. Jadi, di sinilah aku sekarang, harus sabar mengantre untuk naik kapal menuju Semarang.
Aku duduk di dermaga, tepat di sebuah warung kecil milik orang Bugis yang sudah lama merantau. Laki-laki tua yang sedang menuangkan air panas itu sesekali melirikku tajam. Bikin tak nyaman. Kang Mas Suryo masih sibuk memindahkan barang bawaan dari kereta saat laki-laki tua itu akhirnya menyapaku. “Mau kemana, Nak?” katanya hati-hati sambil memberikan segelas kopi padaku.
Kuulurkan tanganku menyambut kopi tersebut. “Terima kasih.” Jawabku singkat. Kuseruput kopi itu perlahan. Rasanya cukup enak. Sedikit asam tapi manis. Cukup menyegarkan.
“Gimana kopinya, Nak? Enak?”, tanyanya lagi sambil mengelap bekas cangkir kopi di sebelahku tanpa menunggu pertanyaan awalnya kujawab. Aku menggangguk.
“Wah, kelihatannya kopimu enak, Jeng.” Tiba-tiba Kang Mas Suryo sudah duduk di sampingku. Tangannya sigap mengambil sepotong pisang goreng. “Buatkan satu lagi ya, Ki.” Perintahnya. Suaranya terdengar pelan tapi tegas. Laki-laki setengah baya itu terperanjat kaget mendengarnya. Ia memandang sejenak ke arahnya lalu mengangguk takjim. Ganjil. Aku merasa ada yang aneh. Siapakah gerangan dia? Apa hubungannya dengan tunanganku.
Angin kembali bertiup kencang ke arah kami. Sedikit sejuk. Aku merapikan anak rambut di dahiku dengan jari jemariku. Segelas kopi panas sudah tersuguh di hadapan kami. Kang Mas Suryo tidak langsung menyeruputnya seperti yang tadi kulakukan. Ia memilih diam sambil memutar ibu jarinya di atas telunjuk. Laki-laki tua itu seolah memahami arti gerakan tersebut. Ia segera pergi meninggalkan kami di warung sendiri dan kembali dengan membawa bungkusan hitam yang cukup besar. Aku tak tahu apa isinya tapi kulihat ia memberikannya dengan hati-hati. Kang Mas Suryo memandangku santai. Ia segera memasukkan bungkusan itu di balik bajunya. Senyumnya dikulum. Sekejap ia sudah terlibat percakapan dengan laki-laki tadi. Aku kesulitan memahami isi percakapan mereka yang sesekali ditingkahi tawa ringan. Terlalu banyak kosa kata yang asing di telingaku. Aku hanya tahu di ujung percakapan, laki-laki itu berpesan untuk tetap waspada selama di perjalanan. Kami berdua mengangguk dan berpamitan. Ekor matanya tetap tajam memandangku ketika tanganku ditarik meninggalkan warung tersebut.
Beberapa menit kemudian aku sudah berada di atas kapal. Dari atas kapal aku terkesima melihat para kuli bongkar muat itu masih asyik bekerja dan astaga tidak ada yang bersepatu. Ya, aku tidak salah melihat. Semua kuli itu telanjang kaki. Pakaian mereka pun cukup sederhana. Hanya beberapa yang memakai atasan seperti kemeja tapi tipis. Celananya juga longgar. Entah sengaja dibuat longgar atau karena pakaian mereka yang kebesaran di tubuhnya. Entahlah. Aku jadi tersenyum geli. Ternyata di pusat kota yang konon menjadi barometer kesejahteraan Hindia Belanda, para kulinya sama dengan di kotaku. Sama-sama lusuh, dekil, dan tidak bersepatu.
Menjelang magrib kapal sudah meninggalkan dramaga. Udara malam mulai terasa di geladak. Aku duduk di sisi kiri Kang Mas Suryo yang sudah lelap sejak setengah jam lalu. Kelihatannya dia lelah sekali. Kutatap hidung bangirnya. Aku senyum sendiri. Kalau diingat-ingat, hidungnya tidak kalah tinggi dengan hidung Albert. Ah, Albert mengapa dia harus muncul di saat seperti ini. Hatiku berdesir. Segera kualihkan pandanganku.
Karena bosan, kupandang lagi dramaga yang kian jauh ditinggalkan. Napas yang berat kembali terasa. Ada sedikit sesal, kecewa, dan entah apa lagi yang kurasa, yang pasti ada segumpal ketakutan tiba-tiba menyergapku diam-diam. Di sebuah titik nun jauh di sana lamat-lamat terlihat sesuatu yang tak asing. Bayangan itu seperti sedang memperhatikanku. Hatiku teriak, hampir saja aku melompat kegirangan saat kusadari siapa sosok itu. Namun, kesadaran segera menguasaiku. Aku segera memegang pagar besi yang ada di hadapanku erat-erat. Hentakan gelombang hampir saja membuatku jatuh saat tadi aku bersorak. Titik itu makin kecil dan samar di telan senja. Aku pindah menuju ujung kapal dan terus mencoba mengerahkan semua kemampuan netraku demi membaca titik itu. Lamat-lamat aku pun menyadari titik itu benar-benar dia. Wajahku berubah pucat. Dalam ketakutan aku menengok ke kiri dan kanan. Hatiku ribut merapal ribuan doa berharap hanya aku seorang yang menyadari siapa sosok itu. Nahas, laki-laki berhidung bangir itu sudah bangun dan kini berdiri tepat di sampingku.
“Panjenengan mirsani, Jeng? Taksih kangen?” tanyanya yang spontan membuatku kaget. Aku menggeleng cepat. “Mboten, Kangmas. Kula namung kepingin weruh apa iku ing kono.” Jawabku ngeles.
Aku tahu dia tidak mungkin percaya begitu saja dengan jawabanku. Aku segera membuang pandanganku ke arah barat. Mencoba menikmati guratan jingga yang tiba-tiba begitu indah di kelopak mataku. Matanya pun mengikutiku. Aku tersenyum memandangnya. Aman, batinku berbisik seolah ketahuan mencuri. Aku lupa, bagaimana mungkin aku bisa menipu seorang senapati sekelas dia. Dia adalah senapati tingkat dua yang bekerja di bawah duli Sultan langsung. Kemampuan militernya terutama dalam spionase sudah teruji beberapa kali dalam tugas-tugas rahasia kesultanan sejak usia sepuluh tahun.
“Endah sanget, Kangmas, langitipun.” Kataku menunjuk semburat jingga yang semakin tua di horizon. Aku berusaha menyembunyikan rasa tak nyaman yang kembali menyergap diam-diam. Malam sudah sempurna menyambut kami di tengah lautan. Dia mengangguk. “Sami éndahipun kados panjenengan, Diajeng.” Matanya melirikku lembut. Hatiku berdesir. Ya ampun, apa aku tak salah dengar, ya? Dia memujiku. Wajahku merona. Malu sekali. Ketika kusibuk menata jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat ia kembali memandang ke belakang. Aku tak melihat ada guratan halus di wajahnya yang tampak tak suka dengan kehadiran titik itu. Tangannya mengepal.
Nun jauh di seberang, bayangan itu perlahan kembali ke arah kuda yang ditambatkannya di bawah sebatang pohon kelapa. Langkahnya gontai. Beberapa kali dia berbalik memandang lautan yang membawa gadis itu pergi. Ada segumpal sesal menyelinap di dadanya. Ia mulai memaki diri sepanjang jalan. “Als ik haar gisteren had ontmoet, was ze misschien nog hier. Oh nee, ze is weg. Ze is weg, God. Ze is weg.” Matanya mulai berembun. Di kaki senja ia segera menghela kudanya berlari semakin kencang meninggalkan dramaga. “Ik ben echt een lafaard.”Teriaknya membelah jalanan yang makin sunyi. Ia sangat kesal sekaligus sedih. Di tepi sungai Citarum ia berhenti. Matanya semakin basah. “Jeng, waarom heb je niet op me gewacht? Waarom heb je me niet ontmoet? Waarom? Wat heb ik verkeerd gedaan?” Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun. Di tengah amarah dibuangnya topi putih kesayangannya ke tanah. Di aliran Citarum yang dingin ia lari menceburkan diri. Hatinya patah. Dibiarkannya air sungai itu membasahi tubuhnya dan menariknya semakin dalam. Sebelum air semakin menenggelamkannya ia masih mengingat momen terindah dalam hidupnya. Kala untuk pertama kali ia bertugas sebagai pengurus perwakilan VOC yang menangani rempah-rempah untuk pulai Jawa, ia bertemu dengannya di kota Yogya. Ya, Yogya sebuah kota istimewa yang memiliki bangunan indah terbuat dari kayu jati itu telah membuatnya jatuh cinta. Kedua matanya yang hitam dan bulat itu telah menawannya tanpa ia sadari sejak awal bertemu. Senyum manisnya yang malu-malu saat diperkenalkan oleh Sultan telah mencuri miliknya yang paling berharga di sore itu. Siluet wajahnya yang ayu benar-benar menari di pelupuk matanya sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran. Di Ciliwung, ia pun tenggelam.
Udara malam makin dingin menggigit kulit. Kami mulai meninggalkan geladak mencari tempat yang jauh lebih hangat. Setelah menemukan kamar yang sudah dipesan sebelumnya kami berpisah. Sepanjang malam itu aku tidur sendiri di atas selembar kasur yang tipis di atas ranjang besi. Tak ada kipas angin apalagi air conditioner di dalam kamar yang pengap. Namun, aku cukup menikmatinya.
Pagi itu aku bangun setelah matahari naik. Kelelahan naik kereta di sepanjang jalan dari Koningsplein ke Haven Kanaal rupanya sangat membantu kualitas tidurku yang memang sudah berantakan sejak pertama kali datang di Batavia. Aku masih ingat pertama kali tiba di dramaga ini dua minggu lalu. Sama seperti pagi ini, matahari begitu hangat. Suara-suara teriakan para kuli memecah keheningan dan menarikku turun dari kapal. Beberapa centeng menyambut kedatanganku di bawah kapal. Dengan sigap mereka memindahkan barang bawaanku yang tak seberapa ke atas kereta kuda. Di dalam kereta seorang tentara Belanda tengah asyik menyeruput kopi Arabicanya dengan tenang. Kulitnya cerah khas Eropa, dengan rambut pirang kecokelatan yang tersisir rapi di bawah topi seragamnya. Ada rona merah alami di kedua pipinya yang tirus. Garis rahangnya tegas dengan bibir merahnya yang tipis dengan sedikit senyum. Ia mengenakan seragam tentara Belanda awal abad ke-19, berupa mantel panjang berwarna biru tua dengan kancing logam mengilap, celana putih, serta sepatu bot kulit tinggi yang dipoles rapi. Matanya biru muda, jernih dan tajam, sebiru langit Batavia yang bersih dari asap pabrik. Hidungnya mancung menampilkan sisi ariktokratnya yang kuat. Aku terpana.
Dia menyapaku hangat sambil menawarkan segelas kopi yang baru diseduhnya. “Hoe was je reis, Jeng? Ik hoop dat je geen enkel ongemak hebt gehad. Kom, drink deze koffie. Laten we meteen naar het hotel gaan zodat je kunt uitrusten.”
Aku menerimanya dengan sedikit ragu. “Best wel vermoeiend. Maar het is oké. Heel erg bedankt.”
Dia tersenyum. Alamak, senyumnya manis sekali. Hatiku berbunga-bunga. Sejurus kemudian kami sudah larut dalam percakapan. Empat centeng yang tadi menjemputku sudah berjalan mengawal kereta kami yang terus melaju ke arah ibukota.
Catatan: “Panjenengan mirsani, Jeng? Taksih kangen?” =“Apakah kamu melihatnya, Jeng? Masih rindu?”
“Mboten, Kangmas. Kula namung kepingin weruh apa iku ing kono.” =“Tidak, Kangmas. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di sana.”
“Als ik haar gisteren had ontmoet, was ze misschien nog hier. Oh nee, ze is weg. Ze is weg, God. Ze is weg.” = “Andai aku menemuinya kemarin, dia mungkin masih di sini. oh tidak, dia pergi. dia pergi Tuhan. dia pergi.”
“Ik ben echt een lafaard.” = “aku benar-benar pengecut.”
“Jeng, waarom heb je niet op me gewacht? Waarom heb je me niet ontmoet? Waarom? Wat heb ik verkeerd gedaan?” = “Jeng, mengapa kamu tidak menungguku? mengapa kamu tidak menemuiku? mengapa?, apa salahku?”
“Hoe was je reis, Jeng? Ik hoop dat je geen enkel ongemak hebt gehad. Kom, drink deze koffie. Laten we meteen naar het hotel gaan zodat je kunt uitrusten.” = Bagaimana perjalananmu, Jeng? Aku harap kamu tidak mengalami ketidaknyamanan apa pun. Ayo, minum kopi ini. Mari kita langsung pergi ke hotel agar kamu bisa beristirahat.
“Best wel vermoeiend. Maar het is oké. Heel erg bedankt.” = cukup melelahkan. Tetapi ok. Terima kasih.
Bionarasi
Neneng Hendriyani, lahir di Bogor, 09 Agustus 1982. Berprofesi sebagai Pengawas SMA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat ini aktif sebagai penulis dan editor berbagai genre. Karyanya pernah dibukukan dalam antologi Kunanti di Kampar Kiri: Antologi Puisi Penyair Asean, Senyuman Lembah Ijen: Antologi Puisi Nusantara, A Skyful of Rain: Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018, Ijen Purba: Tanah, Air, Batu (Antologi Puisi Jambore Sastra Asia Tenggara), Layang-layang Tak memilih Tangan: Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara XIII Jakarta, Semesta Jiwa: Antologi Puisi Bertema Spiritualitas,Kebaya Bordir Untuk Umayah (Antologi Puisi 115 Penyair Indonesia), Teh, Imajinasi, Puisi,Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia,Pandemi Puisi: Antologi Bersama Melawan COVID 19. Saat ini tinggal di Bogor Kode Pos 16913. Instagram Nenghendri53, Facebook/Youtube Neng Hendri Suparman, E-mail nenghendri@gmail.com, https://nhwork.web.id
Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut, Di kaki Salak Pangrango: Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru mengalir syahdu cerita tempo dulu: Danau biru tak pernah surut, Cermin langit tempat rindu berlabuh, Riak-riak kecil berlarian riang, Di antara sauh, pedati ditarik pulang
Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut, Di kaki Salak Pangrango, sawah luas menghampar megah, Tarian angin di padi mengalun ramah, Gelatik dan Manyar bernyanyi riuh rendah.
Kini, baja dan bata berdiri tegak berlomba Pabrik-pabrik tumbuh menggantikan hijau ladang Menyisakan asap sesak dalam kenangan Jauh di sudut jalan, tetap terasa, Hangatnya talas Bogor dalam genggaman, Asap soto mie menari di udara, Di meja bambu, tradisi tak pernah pudar.
Zaman bergulir, kota berbenah, Dari Pajajaran ke lampu kota yang tak padam di tengah malam kujumpai di setiap wajah, Sisa-sisa sejarah yang tetap benderang dalam ingatan.
Di alun-alun, anggun meliuk, Selaras kidung Pakuan menyeruak jiwa Di antara gendang dan suling ku’ terkesima Rajutan cerita: Kuta Udaya Wangsa!
Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut, Tetap indah dalam perubahan, Mengalir seperti Cisadane yang tak berhenti, Menjaga warisan, menyambut masa depan, Menjadi rumah bagi hati yang mencari jalan pulang. (Karadenan, 27 Maret 2025)
Bogor, A Painting of Time by Neneng Hendriyani
Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist, At the foot of Salak and Pangrango: Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru Flow gently, carrying tales of old: A blue lake that never recedes, A mirror of the sky where longing anchors, Ripples dancing merrily, Amidst anchors, carts pulled homeward.
Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist, At the foot of Salak and Pangrango, vast rice fields stretch grandly, The wind’s dance in the paddy sings kindly, Sparrows and weavers chirp in joyful harmony.
Now, steel and brick rise tall, competing, Factories grow, replacing green fields, Leaving behind smoke and crowded memories. Yet, far along the streets, it still lingers— The warmth of Bogor’s taro in hand, The aroma of soto mie dancing in the air, At bamboo tables, tradition never fades.
Time rolls on, the city transforms, From Pajajaran to city lights that never dim at midnight. In every face I meet, Traces of history still shine brightly in memory.
In the town square, graceful movements sway, In tune with the Pakuan hymn stirring the soul. Amidst drums and flutes, I’m captivated, A woven tale: Kuta Udaya Wangsa!
Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist, Still beautiful amid change, Flowing like the ceaseless Cisadane, Preserving heritage, embracing the future, A home for hearts seeking the way back.
Di kota ini, peluru berdesing menembus waktu, Menggetarkan bumi dalam deru perlawanan, Memanggil jiwa-jiwa yang rindu kemerdekaan Dengan dan tanpa seragam, Bersatu dalam komando perjuangan Di tengah Tentara Pelajar berdiri tegap, Mengangkat senapan di tangan yang gemetar, Bukan karena takut, Tapi karena cinta pada kota yang harus dibela.
Di Cibinong, sejarah tertulis dalam batu, Museum perjuangan menjadi saksi, Ratusan nyawa melayang sebagai bukti Rakyat Bogor tak pernah sudi dijajah kembali Darah para syuhada mengalir di setiap lorong, Mengisahkan keberanian tak pernah padam.
Dulu, di kota ini kita bertempur melawan serdadu, Kini, perang belum berakhir, Musuh tak lagi berbaju Tapi, berselimut kemiskinan dan ketidakadilan Dimana buruh-buruh berteriak di terik mentari:
Meninju udara menuntut upah layak, Di pabrik-pabrik yang berdiri megah, Mereka menukar tenaga dengan harapan, Lagi, keadilan masih bayang-bayang.
Sekolah-sekolah harusnya menjadi gerbang masa depan, Bukan tembok tinggi bagi si papa, Bogor tak boleh berhenti berjuang, Agar ilmu tak menjadi hak segelintir insan. Jabatan tak boleh jadi tahta selamanya, Harus ada batas bagi kekuasaan,
Rakyat? Mereka bukan pion di papan catur, Bukan remahan roti di piring penguasa Sungguh! Perjuangan tak berakhir di monumen batu, Ia hidup di hati yang menolak menyerah,
Bogor, kau tak hanya sekadar kota, Kau medan juang yang terus membara Dalam semangat: Kuta Udaya Wangsa! (Karadenan, 27 Maret 2025
Bogor, Footprints of Resistance by Neneng Hendriyani
In this city, bullets whistle through time, Shaking the earth with the roar of resistance, Calling souls yearning for freedom. With or without uniforms, United under the command of struggle.
Amidst it all, the Student Army stands tall, Raising rifles in trembling hands— Not from fear, But from love for the city they must defend.
In Cibinong, history is etched in stone, The museum of struggle bears witness, Hundreds of lives lost as proof that Bogor’s people will never bow to oppression again. The blood of martyrs flows through every alley, Telling tales of courage that never fades.
Once, in this city, we fought against soldiers, Now, the war is not yet over. The enemy no longer wears a uniform, But cloaks itself in poverty and injustice.
Where laborers cry out under the scorching sun, Punching the air, demanding fair wages, In the shadow of towering factories, They trade their strength for hope, Yet justice remains a distant shadow.
Schools should be gateways to the future, Not high walls for the poor. Bogor must never cease its struggle, So knowledge isn’t a privilege for the few.
Power must not become an eternal throne, There must be limits to authority. The people? T hey are not pawns on a chessboard, Nor crumbs on the plates of the powerful.
Truly! The struggle doesn’t end at stone monuments, It lives in hearts that refuse to surrender. Bogor, you are more than just a city, You are a battlefield that keeps burning With the spirit: Kuta Udaya Wangsa!
These are my poems I wrote for Buitenzorg a few months ago. Please give your comments after reading them, ok.
Bogor Dari Masa ke Masa Oleh Neneng Hendriyani
Dulu, Bogor adalah rimba megah, Tempat para raja menjejak sejarah, Di bawah panji Pajajaran Kebijaksanaan mengalir dari balairung istana Menjaga warisan purwa
Berpuluh-puluh tahun Gunung Salak tegak bersaksi, Sungai Ciliwung lantang bersuara, Menyaksikan zaman berputar cepat, Dari kerajaan, penjajahan, hingga merdeka.
Bogor: subur, membentang Padi menari di pelukan sawah, Di ladang dan perbukitan Petani menaruh jutaan impian Panen mereka untuk masa depan.
Di perut bumi, tambang berbisik, Emas, pasir, dan batu berlimpah, Di tangan besi, roda berputar, Pabrik-pabrik membangun peradaban.
Jauh di pelosok, terdengar suara palu dan gergaji, Pengrajin bermain di atas mahoni, Mengukir Bogor dalam karya nan indah, Mewariskan seni hingga ke nusantara.
Kini, Bogor tak sekadar kenangan, Ia tumbuh bersama zaman, Di punggungnya generasi emas bersinar, Menuntut ilmu, melangkah ke depan.
Bogor, Kuta Udaya Wangsa, Benteng peradaban tak tergoyahkan, Maju berdaya, sejahtera bersama, Satu tekad, satu cita, satu bangsa. Bogor, bukan sekadar kota, Tapi rumah bagi jutaan warga Merekam jejak, merawat harapan Berjuang untuk masa depan gemilang. (Karadenan, 27 Maret 2025)
Once, Bogor was a majestic jungle, Where kings left their mark on history, Under the banner of Pajajaran, Wisdom flowed from the palace halls, Preserving ancient heritage.
For decades, Mount Salak stood witness, The Ciliwung River sang boldly, Watching time spin swiftly, From kingdoms to colonization, to independence.
Bogor: fertile, sprawling, Rice fields dancing in the embrace of paddies, In fields and hillsides, Farmers sow millions of dreams, Their harvests for the future.
Deep in the earth, mines whisper, Gold, sand, and stone abound, In iron hands, wheels turn, Factories build civilization.
Far in the corners, the sound of hammers and saws, Craftsmen dance with mahogany, Carving Bogor into beautiful works, Passing down art across the archipelago.
Now, Bogor is more than memory, It grows with the times, On its shoulders, a golden generation shines, Seeking knowledge, stepping forward.
Bogor, Kuta Udaya Wangsa, An unshakable fortress of civilization, Advancing with strength, prospering together, One resolve, one dream, one nation.
Bogor, not just a city, But a home for millions of souls, Recording footprints, nurturing hopes, Striving for a radiant future.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2018 berisi Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi, Tunjangan Khusus, dan Tambahan Penghasilan Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah. Peraturan ini berlaku Jakarta, 23 Februari 2018 (berdasarkan tanggal tanda tangan Menteri).
Inti dari Permendikbud ini adalah tentang bagaimana Tunjangan Profesi, Tunjangan Khusus, dan Tambahan Penghasilan bagi Guru PNSD disalurkan secara tertib, efisien, efektif, ekonomis, transparan, akuntabel, kepatutan, dan bermanfaat.
Mari kita bedah poin-poin pentingnya:
1. Tunjangan Profesi Guru PNSD
Untuk Siapa? Diberikan kepada guru PNSD yang sudah memiliki sertifikat pendidik dan memenuhi persyaratan lainnya.
Dasar Pemberian: Guru PNSD yang sudah tersertifikasi dan mengajar sesuai dengan latar belakang sertifikasinya.
Besaran: Setara 1 (satu) kali gaji pokok guru PNSD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penyaluran: Dilakukan per triwulan (setiap tiga bulan) melalui rekening kas daerah ke rekening masing-masing guru.
Persyaratan Wajib untuk Menerima:
Memiliki sertifikat pendidik.
Berstatus sebagai guru PNSD.
Mengajar pada satuan pendidikan yang sesuai dengan peruntukan tunjangan.
Memiliki Nomor Registrasi Guru (NRG) dari Kementerian.
Melaksanakan tugas mengajar dan/atau membimbing peserta didik pada satuan pendidikan sesuai dengan peruntukan tunjangan.
Memenuhi beban kerja paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka per minggu atau sesuai ketentuan yang berlaku.
Aktif mengajar atau membimbing.
Tidak terikat sebagai tenaga tetap pada instansi lain.
Tidak berstatus sebagai CPNS.
Bukan guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah dan tidak lagi mengajar (kecuali kepala sekolah yang masih mengajar).
2. Tunjangan Khusus Guru PNSD
Untuk Siapa? Diberikan kepada guru PNSD yang mengajar di daerah khusus.
Dasar Pemberian: Sebagai penghargaan atas pengabdian guru yang bertugas di daerah yang ditetapkan sebagai daerah khusus.
Besaran: Setara 1 (satu) kali gaji pokok guru PNSD.
Penyaluran: Juga dilakukan per triwulan melalui rekening kas daerah ke rekening masing-masing guru.
Persyaratan Wajib untuk Menerima:
Berstatus sebagai guru PNSD.
Mengajar di daerah khusus (yang ditetapkan oleh menteri).
Memiliki NRG.
Melaksanakan tugas mengajar dan/atau membimbing peserta didik.
Memenuhi beban kerja paling sedikit 24 jam tatap muka per minggu atau sesuai ketentuan.
Aktif mengajar atau membimbing.
Tidak terikat sebagai tenaga tetap pada instansi lain.
Bukan CPNS.
3. Tambahan Penghasilan Guru PNSD
Untuk Siapa? Diberikan kepada guru PNSD yang belum bersertifikat pendidik dan memenuhi persyaratan.
Besaran: Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) per bulan.
Penyaluran: Dilakukan per triwulan melalui rekening kas daerah ke rekening masing-masing guru.
Persyaratan Wajib untuk Menerima:
Berstatus sebagai guru PNSD.
Belum memiliki sertifikat pendidik.
Memiliki NUPTK.
Melaksanakan tugas mengajar dan/atau membimbing peserta didik.
Memenuhi beban kerja paling sedikit 24 jam tatap muka per minggu atau sesuai ketentuan.
Aktif mengajar atau membimbing.
Tidak terikat sebagai tenaga tetap pada instansi lain.
Pembayaran tunjangan dan tambahan penghasilan ini akan dihentikan jika guru:
Meninggal dunia.
Mencapai batas usia pensiun.
Mengundurkan diri sebagai PNS.
Diberhentikan dengan hormat atau tidak hormat dari jabatan PNS.
Tidak lagi menduduki jabatan fungsional guru.
Cuti di luar tanggungan negara.
Tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai penerima tunjangan.
Mutasi menjadi pejabat struktural atau fungsional lainnya.
Telah mendapat tunjangan profesi (khusus untuk tambahan penghasilan).
Dinyatakan bersalah oleh pengadilan.
Tidak melaksanakan tugas/meninggalkan tugas mengajar tanpa alasan yang dipertanggungjawabkan (paling banyak 3 hari berturut-turut atau kumulatif 5 hari dalam sebulan).
Peran Kepala Daerah: Kepala daerah bertanggung jawab membuat dan menyampaikan laporan realisasi pembayaran tunjangan dan tambahan penghasilan secara rinci kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan c.q. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.
Pajak: Perlu diingat, tunjangan dan tambahan penghasilan ini dikenakan pajak penghasilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Referensi:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2018. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi, Tunjangan Khusus, dan Tambahan Penghasilan Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.