KEBIJAKAN TES KEMAMPUAN AKADEMIK (TKA)

Identitas File:

  • Judul: Kebijakan Tes Kemampuan Akademik (TKA)
  • Penyusun: Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
  • Tanggal: Jakarta, 3 Juni 2025

Resume Kebijakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025

Berikut ini adalah resume dari Kebijakan TKA 2025.

Kebijakan ini diharapkan dapat mengatasi beberapa tantangan dalam sistem evaluasi pendidikan kita saat ini.

Mengapa TKA Diperlukan?

Evaluasi hasil belajar peserta didik yang selama ini kita lakukan, meskipun penting, memiliki beberapa tantangan:

  • Standar Penilaian yang Beragam: Pada halaman 4 ditulis, evaluasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan guru selama ini memiliki beberapa masalah, seperti variasi standar penilaian antar guru dan sekolah, potensi integritas yang kurang baik (nilai cenderung dilebih-lebihkan), kualitas soal yang rendah, dan kurangnya motivasi belajar siswa. Hasil evaluasi guru juga dipandang kurang handal untuk perbandingan antar sekolah/wilayah, seperti dalam seleksi penerimaan murid jalur prestasi, seleksi perguruan tinggi, dan dunia kerja.
  • Perbandingan distribusi nilai rapor, halaman 5, dengan Asesmen Nasional (AN) dan UTBK menunjukkan bahwa nilai rapor cenderung homogen, sedangkan AN dan UTBK menunjukkan variasi kompetensi siswa yang besar, menandakan kredibilitas evaluasi yang tidak terstandar.
  • Standar penilaian antara guru dan sekolah bisa berbeda-beda. Ini menyulitkan perbandingan nilai rapor siswa, terutama untuk seleksi seperti PPDB jalur prestasi atau penerimaan mahasiswa.
  • Integritas yang Terganggu: Ada kecenderungan di beberapa sekolah untuk memberikan nilai yang lebih tinggi dari seharusnya, mungkin dengan niat baik, namun ini bisa menormalisasi ketidakjujuran.
  • Kualitas Soal yang Kurang Optimal: Soal ulangan dan ujian terkadang kurang berkualitas dalam mengukur kompetensi, bahkan bisa mendorong pembelajaran yang dangkal.
  • Kurangnya Motivasi Siswa: Beberapa guru merasa kurang mampu merancang penilaian dan pembelajaran yang memotivasi siswa tanpa adanya ujian dari pemerintah. Selain itu, siswa juga terkadang kurang termotivasi karena anggapan bahwa mereka pasti akan naik kelas dan lulus.

Data menunjukkan bahwa nilai rapor siswa cenderung homogen, seolah-olah semua siswa menguasai kompetensi yang diharapkan. Namun, hasil Asesmen Nasional (AN) dan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) menunjukkan variasi kompetensi siswa yang sangat besar. Ini menandakan adanya perbedaan kredibilitas antara evaluasi yang tidak terstandar (rapor) dan evaluasi yang terstandar (AN dan UTBK).

Apa Itu TKA?

Pada halaman 7, kita temukan beberapa poin penting tentang TKA. TKA adalah tes yang dirancang untuk mengukur capaian akademik siswa pada mata pelajaran tertentu. Penting untuk diingat bahwa TKA:

  • Melengkapi, Bukan Mengganti : TKA akan melengkapi sistem penilaian yang sudah ada dan tidak akan menggantikan penilaian yang dilakukan oleh satuan pendidikan. TKA bertujuan untuk mengukur capaian akademik individu pada mata pelajaran tertentu.
  • Tidak Menentukan Kelulusan: Hasil TKA tidak akan menentukan kelulusan siswa dari sekolah. Kelulusan tetap menjadi kewenangan satuan pendidikan.
  • Untuk Berbagai Keperluan: Hasil TKA akan menjadi salah satu pertimbangan untuk seleksi jenjang pendidikan selanjutnya, penyetaraan antar jalur pendidikan (formal, non-formal, informal), seleksi akademik lainnya, serta sebagai acuan untuk pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan.

Lebih jauh lagi jika kita cermati pada halaman 6 cukup jelas Perbedaan TKA dengan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), yaitu:

AspekANBK TKA
TujuanEvaluasi pemetaan mutu sistem satuan pendidikan hingga pemerintah daerah.Evaluasi capaian akademik individu murid sesuai kurikulum yang berlaku dan tidak menentukan kelulusan.
KepesertaanSampling murid untuk Kelas 5, 8, dan 11.Tidak wajib untuk individu murid kelas 6, 9, dan 12/13.
Sistem & SoalSistem dan soal disiapkan Pemerintah Pusat.Sistem (Pendataan, Authoring, Delivery, Pengolahan Hasil, dan Penerbitan Sertifikat hasil) dan butir soal disiapkan pemerintah pusat untuk seluruh jenjang. Sebagian butir soal TKA SMP dan SD disusun oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dengan penjaminan mutu pemerintah provinsi.
KemanfaatanPerbaikan praktik pembelajaran di kelas, iklim satuan pendidikan, kebijakan pemerintah, akuntabilitas publik.Hasil TKA sebagai salah satu bahan pertimbangan seleksi jenjang pendidikan selanjutnya, penyetaraan antar jalur pendidikan, serta dapat digunakan untuk keperluan seleksi akademik lainnya.

Pelaksanaan TKA untuk SMA/MA/SMK (halaman 8):

  • Materi Uji: TKA untuk SMA/MA/SMK akan menguji Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan 2 mata pelajaran pilihan.
  • Mata Pelajaran Pilihan: Ini mencakup berbagai mata pelajaran seperti Matematika Tingkat Lanjut, Fisika, Kimia, Biologi, Pendidikan Pancasila/PPKn, Projek Kreatif dan Kewirausahaan, Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Sejarah, Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut, Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, Antropologi, Bahasa Jepang, Bahasa Mandarin, Bahasa Korea, Bahasa Arab, Bahasa Prancis, dan Bahasa Jerman.
  • Komposisi Soal: Seluruh soal TKA SMA/MA/SMK akan berasal dari pusat.
  • Moda Pelaksanaan: Akan berbasis komputer.
  • Waktu Pelaksanaan: Diperkirakan akan dilaksanakan pada bulan November 2025.

Kolaborasi dan Peran dalam Pelaksanaan TKA (halaman 10):

TKA akan terselenggara berkat kolaborasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Pelaksanaan TKA merupakan kolaborasi antara Kemendikdasmen, Kementerian Agama, dan Pemerintah Daerah (Provinsi & Kab/Kota) untuk menyediakan informasi capaian akademik yang valid.

  • Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen): Bertanggung jawab menyiapkan sistem TKA, menyusun pedoman, menyiapkan kerangka asesmen, mengolah data, menerbitkan sertifikat, menyiapkan seluruh soal TKA SMA dan sebagian soal TKA SD & SMP, mengkoordinasikan pelaksanaan, menetapkan pengawas, menyediakan sarana, dan melakukan monitoring serta evaluasi.
  • Kementerian Agama: Akan menyiapkan sarana dan dukungan TKA.
  • Pemerintah Daerah (Provinsi & Kab/Kota): Juga akan menyiapkan sarana dan dukungan TKA.
    • Peran Provinsi: Menetapkan pengawas TKA SMA, SMK, & SLB; mengkoordinasikan pelaksanaan TKA SMA, SMK, & SLB; mengkoordinasikan penjaminan mutu soal TKA SMP & SD; serta menyediakan sarana TKA SMA, SMK, & SLB.
    • Peran Kabupaten/Kota: Menetapkan pengawas SMP & SD; mengkoordinasikan pelaksanaan TKA SMP & SD; menyusun sebagian soal TKA SMP & SD; serta menyediakan sarana TKA SD, SMP, program Paket A, Paket B, & Paket C.

Linimasa Progres TKA (halaman 13):

Saat ini, beberapa tahapan penting sudah dan sedang berjalan:

  • Naskah akademik sudah selesai disusun pada 28 April 2025.
  • Pengumuman kebijakan TKA telah dilakukan pada bulan Mei.
  • Penyusunan soal sedang berlangsung dari April hingga September.
  • Proses penyusunan Peraturan Menteri, Uji Publik, Harmonisasi Pedoman Penyelenggaraan, serta sosialisasi dan koordinasi persiapan akan berlangsung dari Juni hingga September.
  • Pelaksanaan TKA untuk SMA/sederajat akan dimulai pada November 2025.

Dengan memahami kebijakan TKA ini, diharapkan Bapak/Ibu guru dapat mempersiapkan diri dan siswa dengan lebih baik.

Referensi:

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. 2025. Kebijakan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Bogor Dari Masa ke Masa

Oleh Neneng Hendriyani

Dulu, Bogor adalah rimba megah,
Tempat para raja menjejak sejarah,
Di bawah panji Pajajaran
Kebijaksanaan mengalir dari balairung istana

Menjaga warisan purwa

Berpuluh-puluh tahun Gunung Salak tegak bersaksi,
Sungai Ciliwung lantang bersuara,
Menyaksikan zaman berputar cepat,
Dari kerajaan, penjajahan, hingga merdeka.

Bogor: subur, membentang
Padi menari di pelukan sawah,

Di ladang dan perbukitan

Petani menaruh jutaan impian

Panen mereka untuk masa depan.

Di perut bumi, tambang berbisik,
Emas, pasir, dan batu berlimpah,
Di tangan besi, roda berputar,
Pabrik-pabrik membangun peradaban.

Jauh di pelosok, terdengar suara palu dan gergaji,
Pengrajin bermain di atas mahoni,
Mengukir Bogor dalam karya nan indah,
Mewariskan seni hingga ke nusantara.

Kini, Bogor tak sekadar kenangan,
Ia tumbuh bersama zaman,
Di punggungnya generasi emas bersinar,
Menuntut ilmu, melangkah ke depan.

Bogor, Kuta Udaya Wangsa,
Benteng peradaban tak tergoyahkan,
Maju berdaya, sejahtera bersama,
Satu tekad, satu cita, satu bangsa.

Bogor, bukan sekadar kota,
Tapi rumah bagi jutaan warga

Merekam jejak, merawat harapan

Berjuang untuk masa depan gemilang.

(Karadenan, 27 Maret 2025)

Bogor, Jejak Perlawanan

Oleh Neneng Hendriyani

Di kota ini, peluru berdesing menembus waktu,
Menggetarkan bumi dalam deru perlawanan,
Memanggil jiwa-jiwa yang rindu kemerdekaan

Dengan dan tanpa seragam,

Bersatu dalam komando perjuangan

Di tengah Tentara Pelajar berdiri tegap,
Mengangkat senapan di tangan yang gemetar,
Bukan karena takut,
Tapi karena cinta pada kota yang harus dibela.

Di Cibinong, sejarah tertulis dalam batu,
Museum perjuangan menjadi saksi,

Ratusan nyawa melayang sebagai bukti
Rakyat Bogor tak pernah sudi dijajah kembali
Darah para syuhada mengalir di setiap lorong,
Mengisahkan keberanian tak pernah padam.

Dulu, di kota ini kita bertempur melawan serdadu,
Kini, perang belum berakhir,
Musuh tak lagi berbaju
Tapi, berselimut kemiskinan dan ketidakadilan

Dimana buruh-buruh berteriak di terik mentari:

Meninju udara menuntut upah layak,
Di pabrik-pabrik yang berdiri megah,
Mereka menukar tenaga dengan harapan,
Lagi, keadilan masih bayang-bayang.

Sekolah-sekolah harusnya menjadi gerbang masa depan,

Bukan tembok tinggi bagi si papa,

Bogor tak boleh berhenti berjuang,
Agar ilmu tak menjadi hak segelintir insan.

Jabatan tak boleh jadi tahta selamanya,
Harus ada batas bagi kekuasaan,

Rakyat? Mereka bukan pion di papan catur,

Bukan remahan roti di piring penguasa

Sungguh! Perjuangan tak berakhir di monumen batu,
Ia hidup di hati yang menolak menyerah,

Bogor, kau tak hanya sekadar kota,
Kau medan juang yang terus membara

Dalam semangat: Kuta Udaya Wangsa!

(Karadenan, 27 Maret 2025)

Bogor, Lukisan Masa

Oleh Neneng Hendriyani

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Di kaki Salak Pangrango:

Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru

mengalir syahdu cerita tempo dulu:

Danau biru tak pernah surut,
Cermin langit tempat rindu berlabuh,
Riak-riak kecil berlarian riang,

Di antara sauh, pedati ditarik pulang

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,

Di kaki Salak Pangrango, sawah luas menghampar megah,
Tarian angin di padi mengalun ramah,

Gelatik dan Manyar bernyanyi riuh rendah.

Kini, baja dan bata berdiri tegak berlomba
Pabrik-pabrik tumbuh menggantikan hijau ladang

Menyisakan asap sesak dalam kenangan

Jauh di sudut jalan, tetap terasa,
Hangatnya talas Bogor dalam genggaman,
Asap soto mie menari di udara,
Di meja bambu, tradisi tak pernah pudar.

Zaman bergulir, kota berbenah,
Dari Pajajaran ke lampu kota yang tak padam di tengah malam
kujumpai di setiap wajah,
Sisa-sisa sejarah yang tetap benderang dalam ingatan.

Di alun-alun, anggun meliuk,

Selaras kidung Pakuan menyeruak jiwa

Di antara gendang dan suling ku’ terkesima
Rajutan cerita: Kuta Udaya Wangsa!

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,

Tetap indah dalam perubahan,
Mengalir seperti Cisadane yang tak berhenti,
Menjaga warisan, menyambut masa depan,
Menjadi rumah bagi hati yang mencari jalan pulang.

(Karadenan, 27 Maret 2025)

Kumpulan Dokumen Berharga Terkait Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7

File-file di bawah ini adalah file penting dalam pelaksanaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7. Sila unduh bagi yang membutuhkan.

2581 Und. Pelatihan PPGP Angk. 7-PP 2582 Und. Pelatihan PPGP Angk. 7-CGP 2616_Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 CGP_A7 Provinsi Jawa Timur 2665_2022-10-01 3280 – Pengumuman Hasil Seleksi Akademik PPG Daljab Tahun 2022 3515_Pengumuman_Seleksi_Tahap_1_CGP_A8_Jawa Barat 3515_Pengumuman_Seleksi_Tahap_1_CGP_A8_Jawa Tengah JADWAL CGP AK 7  d.-Pengumuman-CPP-thp-3-PGP-A7 Surat_Tugas_CGP_Angkatan_7_KCD_1_19102022_030243_signedSurat_Tugas__Lokakarya_5_CGP_A_7_30052023_082833_signedSurat_Tugas__Lokakarya_7_CGP_A_7_05072023_102913_signedSurat_Tugas__Lokakarya_7_CGP_A_7_Bagi_Pengawas_dan_Kepala_Sekolah_06072023_072015_signedSurat_Tugas_Pendampingan_Individu_5_Program_Pendidikan_Guru_Penggerak_PGP_Angkatan_7_22052023_104202_signedSurat_Tugas_PI_6_PGP_Angakatan_7_14062023_120320_signedSurat_Tugas_PP_CGP_A_7_25112022_014342_signedSurat_Tugas_Pendampingan_Individu_1_Program_Pendidikan_Guru_Penggerak_PGP_Angkatan_9_1_07092023_084543_signedSurat_Tugas__Lokakarya_7_CGP_A_7_Bagi_Pengawas_dan_Kepala_Sekolah_06072023_072015_signedSurat_Tugas__Lokakarya_7_CGP_A_7_05072023_102913_signedsurat lokakarya 7 panen raya 8 juli 2023surat lokakarya 22 oktober 2022_disdik kab bogorsurtug loka 7 disdik  d.-Pengumuman-CPP-thp-3-PGP-A7

SENANDUNG RINDU: BOGORKU, BOGORMU, BOGOR KITA: MEMAKNAI BOGOR MELALUI PUISI

Ini adalah antologi puisi yang ditulis oleh guru KPLJ Bogor. Di antaranya ada yang mengajar di SD, SMP, SMA, dan SMK. Tema yang diangkat dalam buku ini adalah segala sesuatu tentang Bogor; kuliner, budaya, sejarah, dan wisata.

BOGOR DAHULU KALA
Karya : Neneng Hendriyani

Bogor dahulu kala
Pajajaran berkuasa
Siliwangi Raja Diraja
Sosok penuh wibawa
Santun, Bersahaja, Gagah perwira,
pelindung dan pengayom jiwa
Tanah Sunda Berjaya
Seantero nusantara
Lewati masa demi masa

Bogor dahulu kala
Hijau makmur sentosa
Petani kaya raya
Semua bahagia
Tak ada tangis derita

Bogor dahulu kala
Tempat meneer bersuka cita
Berdendang berdansa
Tak jauh dari batavia

Bogor dahulu kala
Istana tak hanya rumah penguasa
Rakyat bebas bersua dan bersuara
Cerita tentang lara duka nestapa

Bogor dahulu kala
Di sini aku bercerita
Tentang asa dan cinta
Tuk bogor slalu jaya slamanya
(Karadenan, 02 Mei 2017)

MAKAM DI KEBUN RAYA
Karya : Neneng Hendriyani

Kawan, tahukah kau
di tengah kotaku ada taman
Taman nan unik, indah dan sejuk
Tempat rehat jiwa yang lelah
Tempat menyepi jiwa yang sepi
Tempat cerita jiwa yang bahagia
Bersama disana berdendang bercerita
Di bawah rimbunnya pepohonan raksasa

Kawan, tahukah kau
Di tengah taman ini ada pusaka
Tanda mata ditinggal masa
Belahan jiwa sang penguasa
Belahan hati sang empunya cerita
Banyak pula orang berjasa

Mereka ada sebagai tanda
Di suatu masa pernah berjaya
Memeluk cita demi sunda
Merajut kasih demi tugas negara
Mereka enggan kembali
Memilih abadi di sini
Di bumi Siliwangi

Mereka cinta bumi pertiwi
Meski kini ganti nama
Ganti pula penguasa
Mereka tetap ada
Ditengah taman raya
Bernama dan tak bernama
Menjadi saksi berkembangnya kota
(Karadenan, 02 Mei 2017)

AKULAH MAUNG PAJAJARAN
Karya : Neneng Hendriyani

Akulah Maung Pajajaran
Berdiri tegak di depan kantor praja
Simbol utama keberanian dan semangat
Berdiri tegak menantang
Pantang pulang sebelum menang
Pantang kalah sebelum perang
Tak hilang lekang di makan zaman
Akulah Maung Pajajaran
Putih jiwaku
Merah darahku
Setia selalu tuk mu
Berdiri tegak menantang
Pantang pulang sebelum menang
Pantang kalah sebelum perang
Tak hilang lekang di makan zaman
Kerana akulah Maung Pajajaran
(Karadenan, 02 Mei 2017)

DI TUNGGUL KAWUNG
Karya : Neneng Hendriyani
Di tunggul kawung Aku berdiri
Menatap mega menantang mentari
Bersimbah keringat bermandi cahya
Ditengah terik kota
Ku menanti

Di tunggul kawung Aku berdiri
Tegak bersama ribuan anak negeri
Bersumpah tuk tetap disini
Setia bersama hingga mati

Tak kan goyah aku berpijak
Tak kan lemah aku memihak
Padamu aku berjanji
Bersama ribuan anak negeri
Tegak berdiri di tunggul kawung hingga nanti
Engkau pergi tak kembali
(Karadenan, 05 Mei 2017)

JEJAK MASA LALU
Karya : Neneng Hendriyani

Jangan bilang kau tak tahu
Palagi tak mau tahu
Tataplah aku, lihat dan kenali diriku
Kita ada di tempat yang sama
Meski masa telah berbeda

Aku ada sejak dulu berdiri menatapmu
Menunggang kuda berlari berlomba
Dengan mesin ribuan kilo jelajah waktu
Di sirkuit tempat ku dulu berpacu

Aku masih disini menatapmu
Bersandar di kursi malas menunggu
Hangat mentari malu mencumbu
Tak henti manjakanmu
Bagai bayi mencari sang ibu

Dan Kau! Jangan bilang kau tak tahu
Siapa yang membangun kotamu
Tunggul kawung, pakuan tempo dulu
Situ Cikaret di tepi P-U
Situ Kibing di Pabuaran aku tahu
Masa kau tak tahu!

Malulah jika masih berulah
Laksana kura dalam perahu
Kujang sakti warisan Sang Prabu
Penghias megahnya kotamu
Aku tahu!

Jangan bimbang jangan ragu
Tatap kenali aku
Aku ada menatapmu
Dari lorong lorong waktu
Sekadar membawamu
Pada jejak masa lalu
(Karadenan, 05 Mei 2017)

PUSAKA SILIWANGI
Karya : Neneng Hendriyani
Disini di tanah ini pusaka berada
Titipan leluhur tuk seluruh negeri
Bogor nan makmur,
Bogor nan bersahaja
Bogor molek berseri berganti rupa

Disini di tanah ini Siliwangi memberi
Pusaka keramat yang harus di rawat
Sunda prayoga, tohaga, sayaga
Semangat juang tertanam di dada tua muda
Tuk bangun, bangkit bersama
Bogor jaya, Bogor perkasa

Disini di tanah ini
Pusaka dijaga
Titah Raja, titah Maha Kuasa
Bersatu berbakti tuk negeri
Tiada ingkar tiada lupa
Bogor nan makmur
Bogor berjaya
Kini dan nanti hingga anak cucu kita
(Karadenan, 05 Mei 2017)

EDI YOSO MARTADIPURA
Karya : Neneng Hendriyani
Disini kau berdiri
Berseragam putih berseri
Menatap lembut
Menyapa hangat
Menggenggam erat
Tak hanya pejabat

Disini berpuluh tahun lalu
Kau ada, berdiri dedapanku
Kobarkan semangat dalam dada
Menggebu, merangkai asa

Ya, disini kau dulu ada
Berjabat denganku sekadar menyapa
Hendak jadi apa besar nanti
Tengoklah aku nanti tiada
Jaksa pun berganti tak hanya aparatur negara

Hendak jadi apa besar nanti ulangnya?
Malu-malu aku menjawab
Hendak menjadi seperti dirimu
Wahai Bapak Edi Yoso Martadipura
(Karadenan, 02 Mei 2017)

SMK NEGERI 1 CIBINONG
Karya : Neneng Hendriyani

Tahun baru berganti
Milenium baru membumi
Cahyanya masih berpijar
Keperakan di kaki fajar
Saat ku lihat ia datang
Membawa papan terang benderang
Bersukacita seluruh warga
Bergemuruh sorak sorai membahana
Di karadenan ada es em ka

Ini bukan yang pertama, Kawan!
Di Gunung Putri saudara tua
Ini adik paling dicinta
Disini semua diterima
Belajar otomotif juga pe ka
Ai ti juga mesin, semua lengkap tersedia

Tujuh belas tahun sudah usia
Tak lagi balita meski ia masih belia
Semua masih sama hanya berganti nama
Intinya pe ka jadi te ka ka
Otomotif jadi te ka er
Ai ti punya anak tiga; er pe el, te ka je, juga multi media

Tinggal mesin masih setia
Tak ikut berganti nama
Inilah adik paling dicinta
SMK Milenium dulu namanya
Kini berganti nama
Satu cibinong tetap jaya!
(Karadenan, 05 Mei 2017)

AKU BUKAN PRIBUMI
Karya : Neneng Hendriyani

Aku bukan pribumi
Meski aku lahir besar disini

Aku bukan pribumi
Meski kakek buyutku mati disini
Lihat aku, apa aku pribumi?
Mataku sipit, kulitku terang

Hoi, kau yang disana!
Sering kau bilang aku bukan pribumi
Padahal aku ikut berjuang

Kau bilang aku tak sama
Hanya karena mata kita beda

Lagi, kau teriak: aku bukan pribumi
Meski kakek buyutku memilih makamnya disini
Di belakang pasar, di tepi setu
Di tempat biasa kau lalu
Selepas belanja lauk pauk

Aku tak tahu
Aku hanya tahu
Setiap senin aku bersepatu, berbaris dan bernyanyi
bersamamu
Indonesia Raya juga laguku
Setidaknya itu yang ku tahu
Indonesia tumpah darahku!
Cibinong tempat nenek moyangku!
(Karadenan, 05 Mei 2017)

STADION PACIRA
Karya : Neneng Hendriyani, M.Pd

Awal aku membaca
Aneh namamu di telinga
Stadion besar nan megah
Di tengah ibu kota

Pacira, ya pacira
Entah apa artinya
Hanya singkatan belaka
Apa punya makna?

Pakansari Cibinong Raya
Singkat nian ternyata
Nama tempat dimana kau ada
Disingkat PACIRA
(Karadenan, 05 Mei 2017)

BAHASA SUNDA DI KABUPATEN BOGOR, KONDISIMU KINI

Ini adalah tulisan esai keduaku yang diterbitkan di Mastra Kandaga, sebuah majalah milik Kantor Bahasa Banten pada edisi XIII – April 2020.

Berikut adalah isi tulisan tersebut.

Bahasa Sunda di Kabupaten Bogor, Kondisimu Kini
Oleh Neneng Hendriyani

Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di salah satu kabupaten yang cukup heterogen di Provinsi
Jawa Barat, Kabupaten Bogor, saya kerap kali mengalami kesulitan dalam berbahasa Sunda. Terutama apabila harus
berkomunikasi dengan temanteman dan atasan yang terbiasa menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulan dan urusan
kepegawaian. Padahal kedua orang tua saya pun lahir di Jawa Barat.

Semua orang Sunda paham benar bahwa sundanya orang Bogor tidak sehalus sundanya orang-orang yang tinggal di wilayah Priangan, Jawa Barat. Bogor terkenal heuras genggerong. Bogor memang tidak termasuk wilayah Priangan. Hanya kabupaten Sukabumi, Cianjur, Bandung, Bandung Barat, Majalengka, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, dan Ciamis yang masuk ke dalam wilayah Priangan. Itulah sebabnya masyarakat yang berdomisili di wilayah tersebut bisa dan biasa menggunakan bahasa Sunda yang halus dalam aktivitas sehari-harinya baik di kantor pemerintahan, sekolah, pabrik,bahkan pasar. Sehingga seringkali saya merasa tidak percaya diri bila bertemu dengan teman-teman yang
berasal dari wilayah tersebut.

Takut dibilang tidak sopan, tidak terpelajar dan tidak tahu adat saat menggunakan bahasa Sunda yang ala kadarnya
mendorong saya dan orangorang yang senasib dengan saya memilih jalan aman yaitu menggunakan bahasa Indonesia
daripada bahasa Sunda dalam percakapan.

Hal ini terjadi lantaran bahasa sunda bukanlah bahasa utama yang digunakan di wilayah Bogor dan sekitarnya.
Di sini bahasa utama yang digunakan oleh sebagian besar masyarakatnya adalah bahasa Indonesia dengan dialek Betawi.
Ini terjadi lantaran Bogor berdekatan dengan Jakarta dimana para penduduk asli Jakarta merupakan suku Betawi.

Bahkan banyak juga dijumpai oleh masyarakat kabupaten Bogor lebih cakap berbahasa Betawi daripada Sunda dalam
pergaulan sehari-harinya. Hanya sedikit sekali yang mampu menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari
baik terhadap orang tua, teman, atasan,bawahan dan masyarakat umum. Mereka yang tinggal di daerah Bogor Barat yang
berdekatan dengan Tangerang dan Banten lebih banyak menggunakan bahasa sunda daripada masyarakat yang tinggal di wilayah Bogor Timur seperti Cibinong, Cileungsi, Jonggol dan sekitarnya. Mereka sudah jarang menggunakan bahasa Sunda Priangan di dalam kesehariannya itu. Sehingga, tidaklah mengherankan anakanak yang lahir di wilayah
Bogor Timur, terutama era 90an hingga sekarang rerata tidak mampu menggunakan bahasa Sunda dengan lancar dan benar
sesuai dengan tata bahasa (struktur) bahasa Sunda dalam pergaulan hidup sehari-harinya.

Kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat yang menginstruksikan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah masuk ke dalam kurikulum pembelajaran di SD sebagai muatan lokal membuat anak-anak yang sekolah mulai tahun 1994 belajar bahasa Sunda di kelas-kelas.

Meskipun sudah dijadikan mulok (muatan lokal) selama dua puluh enam tahun, perkembangan bahasa Sunda di wilayah Kota/Kabupaten Bogor belumlah menunjukkan hasil hasil yang menggembirakan. Ini terbukti dari masih banyaknya orang yang canggung berbahasa Sunda saat harus menggunakan bahasa tersebut di forum-forum resmi yang biasa digelar baik oleh pemerintah daerah maupun komunitas pecinta budaya Sunda.

Selain rendahnya dalam kemampuan berpidato dan berkomunikasi dalam bahasa Sunda, masyarakat Jawa Barat pada umumnya dan Bogor khususnya pun ditengarai masih belum cakap sekali dalam mengapresiasi berbagai bentuk karya sastra sunda. Karya sastra yang dimaksud adalah puisi dan prosa berbahasa sunda. Yang termasuk ke dalam kelompok puisi sunda adalah pupuh, kakawihan, sisindiran (rarakitan, paparikan dan wawangsalan), pantun, syair, guguritan, pupujian, wawacan dan mantra.

Hanya sedikit sekali yang paham benar bahwa pupuh masih terbagi lagi ke dalam beberapa jenis, seperti pada
pupuh asmarandana dan kinanti, sisanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak tahu. Mayoritas penduduk pun
pernah mendengar tentang ajian, jampe, asihan dan jangjawokan. Tapi hanya sedikit yang paham bahwa itu semua adalah bentuk puisi puisi berbahasa Sunda.

Sementara yang termasuk ke dalam prosa Sunda di antaranya adalah dongeng, legenda dan mitologi. Legenda Gunung
Tangkuban Parahu yang kini dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia dengan judul Legenda Tangkuban Perahu ini adalah contoh legenda yang paling banyak diketahui anak-anak yang tinggal di provinsi ini. Namun sayang hanya sedikit sekali anak-anak yang mampu membaca legenda tersebut dalam bentuk aslinya, yaitu bahasa Sunda. Pupuh atau pepeuh adalah bentuk puisi sunda yang memiliki aturan tertentu dalam jumlah suku kata dan rima pada setiap barisnya. Masing-masing jenis pupuh memiliki sifat tersendiri yang khas dan mengandung tema cerita berbeda. Ada 17 jenis pupuh Sunda yang telah kembali diperkenalkan ke masyarakat melalui pendidikan di sekolah. Yaitu asmarandana, balakbak, dangdanggula, durma, gambuh, gurisa, juridemung, kinanti, lambang, sinom, magatru,maskumambang, mijil, pangkur, pucung, wirangrong dan ladrang. Seluruh pupuh tadi diajarkan secara bertahap sejak di bangku sekolah dasar hingga menengah atas.

Yang paling akrab di telinga penulis dari 17 pupuh di atas itu hanyalah pupuh asmarandana, kinanti, mijil, dan
dangdanggula. Di dalam Pupuh asmarandana adalah pupuh yang bercerita tentang rasa cinta seseorang terhadap kekasihnya, keluarga atau sahabat. Pupuh kinanti menceritakan penantian seseorang yang sedang jatuh cinta. Dan Pupuh dangdanggula selalu berisi dalam hal-hal yang menenteramkan dan serta membahagiakan orang yang terbiasa mengumandangkannya.

Sementara pada pupuh mijil menceritakan arti kesedihan sekaligus harapan.Lawak atau banyolan (komedi) tentang kehidupan sehari-hari adalah isi pupuh balakbak. Sementara lawak yang berisi renungan menjadi jiwa pupuh lambang. kemarahan dan semangat adalah ciri khas pupuh durma. Kesedihan, kesusahan hidup dan rasa duka lainnya disampaikan dalam bentuk pupuh g ambuh. Sementara mimpi dan khayalan seseorang ditulis dalam bentuk pupuh gurisa. Kebingungan
akan masalah yang sedang dihadapi kerap kali ditulis dalam bentuk pupuh juru demung. Semua pupuh tersebut ditulis dan diucapkan dalam bahasa sunda dengan disertai iringan suling dan petikan kecapi. Penyesalan adalah tema
utama pada pupuh magatru.

Sementara kesedihan yang mendalam menjadi tema maskumambang. Bagi yang mendapatkan tugas yang berat biasanya selalu menuliskan perasaannya dalam bentuk pupuh pangkur. Kekesalan dan kemarahan terhadap diri sendiri dilampiaskan dalam bentuk pupuh pucung. Sementara kebahagiaan diceritakan dalam pupuh sinom. Sedangkan rasa malu akan tingkah laku sendiri adalah tema pupuh wirangrong.

Sindiran terhadap orang lain merupakan tema pada pupuh ladrang. 17 pupuh di atas ditulis dan diucapkan dalam bahasa sunda dengan iringan suling disertai petikan kecapi.Kesadaran yang seakan rendahnya kemampuan dalam berbahasa sunda priangan dan pentingnya penguasaan bahasa Sunda sebagai ajeun diri urang Sunda mendorong penulis ikut serta dalam sebuah komunitas yang di dalamnya berisi pembelajaran bahasa dan sastra Sunda. Pembelajaran yang disampaikan melalui aplikasi WhatsApp ini diikuti oleh 89 peserta yang seluruhnya merupakan guru yang mengajar di wilayah provinsi Jawa Barat d a r i b e r b a g a i j e n j a n g Pendidikan, seperti SD, SMP, MTs, SMA, dan SMK. Dari seluruh peserta yang notabene merupakan penduduk Jawa Barat tersebut diketahui hanya 10% yang cakap berbahasa sunda dengan struktur bahasa yang baik dan benar. 5,6% yang mampu dan menguasai sastra Sunda dengan baik. Hal ini terbukti dari kemampuan mereka menulis carpon alias carita pondok, puisi sunda, carita alit dan lain-lain yang diterbitkan di majalah Mangle.Sisanya masih perlu banyak belajar kepada mereka yang dianggap pupuhu ini.

I n i c uk up m e n j a d i gambaran bahwa jangankan masyarakat umum, guru saja karena tugas keprofesiannya
menjadi digugudan ditiru oleh masyarakat pun masih banyak yang tidak mampu berbahasa Sunda dengan baik dan benar.

Inilah kondisi riil yang ada saat ini. Ketidakmampuan pada masyarakat Jawa Barat pada umumnya dan Bogor khususnya ditengarai diakibatkan oleh perkembangan zaman yang sangat pesat. Perkembangan zaman yang lebih menitik beratkan pada bidang teknologi ini telah menggerus budaya sunda dari masyarakatnya sendiri, terutama bahasa. Anakanak yang lahir dari pasangan ibu bapak orang Sunda pun tidak mampu berbahasa sunda lantaran di rumahnya mereka tidak dididik menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu. Bahasa Sunda pun akhirnya menjadi bahasa asing di rumahnya sendiri.

Oleh sebab itu perlu kesadaran semua pihak dibarengi upaya nyata untuk kembali menempatkan bahasa sunda sebagai bahasa ibu bagi penduduk Jawa Barat yang merupakan orang Sunda. Ini diperlukan agar ajeun diri urang Sunda tidak hilang dan terlupakan zaman. Bukankah menguasai bahasa asing, mengutamakan bahasa nasional dan melestarikan bahasa daerah adalah tugas kita bersama? Mari kita mulai belajar menggunakan bahasa Sunda dari diri kita sendiri, lingkungan terdekat dengan kita dan keluarga kita.

Semoga bahasa Sunda lestari di bumi Parahyangan.

***

Biodata
Neneng Hendriyani, lahir di Bogor, 9 Agustus 1982. Sejak kecil hobi membaca dan menulis. Pendidikan terakhirnya
adalah Magister Pendidikan B a h a s a I n g g r i s . K a r y a tunggalnya bervariasi dari puisi, esai, buku pelajaran hingga novel remaja. Hingga tahun 2019 ada 10 judul buku terbit berISBN. Yaitu, Albatros (2019),
Enrichment Book for XI SMK Based onCurriculum 2013 revision (2018), Antologi Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat (2018), Let’s Learn English Together (2018), Perlukah Kita Jujur? (2018), Setangkup Rindu dari Masa Lalu (2017), Janji Firly (2017), Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa Ke Masa (2017), Antologi puisi Bogorku, Bogormu, Bogor Kita (2017) dan Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017). Penghargaan sebagai penulis puisi batik terbaik Bogor 2017 mendorongnya ikut serta dalam berbagai sayembara penulisan puisi tingkat nasional d a n i nt e r n a si o n al. H a s i l sayembara tersebut dibukukan dalam Senyuman Lembah Ijen (Antologi puisi Nusantara ditulis
bersama penyair Asia Tenggara, 2018), Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia (2018), Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival (2018), Antologi Puisi penyair Asean 2018 (Kunanti di Kampar Kiri) dan Antologi Puisi penyair Asean 2019 (Membaca Asap). Karya Nulis Bareng yang tercatat pernah dihasilkan adalah antologi Jangan Berhenti Mengajar (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Puisi (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Esai (2017), Antologi puisi: Ilalang di Atas Batu (Google Play Store, 2018), Antologi Fiksi Mini Pelita di Mata Pelangi (2019), 1001 Membuat Guru-Siswa Suka Baca Buku (Buku 2) (2019) dan kumpulan cerita anak penumbuh budi pekerti Untuk Anakku (2019). Karya tulis lainnya berupa esai dan artikel terbit di Pikiran Rakyat, Bali Pos dan Majalah Kandaga Balai Bahasa Banten sejak 2017-2019. Tulisannya pun dapat dijumpai di https://nhwork.web.id.

Catatanku

Ada banyak sekali yang berubah sejak 16 Maret 2020. Apalagi kalau bukan perubahan akibat pandemi Corona Virus Disease 19. Semua sekolah ditutup. Kegiatan belajar mengajar dipindahkan. Rumah guru menjadi pusat kendali pembelajaran. Rumah peserta didik menjadi ruang belajar. Sementara ruang kelas virtual pun dibangun dengan menggunakan banyak sekali aplikasi pendukung berbasis IT. Sebut saja google classroom, google form, zoho form, zoom meeting, dll yang ikut mewarnai hari-hari sebagian besar guru SE 421-455-DISDIK se bupati 23 maret 2020 SE KADISDIK PERPANJANGAN PJJ 3 SE ke 2 Gub SE Menag No. 6 Tahun 2020 SE Menteri Nomor 4 Tahun 2020 OK SE Menteri Pelaksanaan Pendidikan 24-03-2020 SE No.6 Tahun 2020 ttg ramadanSE No.6 Tahun 2020 ttg ramadandan peserta didik di Indonesia.

Selain itu pemberlakuan PSBB alias Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk wilayah Jabodetabek pun sudah dilakukan. Tentu saja membawa berbagai macam dampak bagi masyarakat.

Berikut ini beberapa edaran dan surat resmi yang dikeluarkan selama #belajardarirumah, #bekerjadarirumah.

PANDUAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH BELAJAR DIRUMAH MASA C-19

SURAT GUBERNUR KPD BUPATI & WALI KOTA, HAL PERPANJANGAN PSBB TINGKAT DAERAH PROV JABAR

KEPGUB JABAR TTG PERPANJANGAN PSBB TINGKAT DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

SE Menteri Pelaksanaan Pendidikan 24-03-2020

SE No.6 Tahun 2020 ttg ramadan

SE Menteri Nomor 4 Tahun 2020 OK

SE ke 2 Gub

SE Menag No. 6 Tahun 2020

SE KADISDIK PERPANJANGAN PJJ 3

se bupati 23 maret 2020

 

yang terbaru nih ya, gaes 🙂

SE 421-241-DISDIK

Surat Kadisdik tentang SOP Pelayanan Pendidikan 2 juni – 10 juli 2020

Se perpanjangan psbb sd 4 juni

SE ASN New Normal

 

 

Bogor: Peninggalan Sejarah Dari Masa Ke Masa

Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa ke Masa
ISBN 978-602-5434-07-5
Penulis: Neneng Hedriyani, M.Pd.
Penyunting: Ésép M Zaini
Tata Sampul:
Tata Isi: Ésép M Zaini
Pracetak:
Cetakan Pertama: Agustus 2017
Penerbit
Hendriyani, Neneng
Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa ke Masa/ Neneng
Hedriyani, M.Pd.; editor, Ésép M Zaini -cet. 1-, 2017
ukuran: 14.8 x 21
jumlah halaman: xii + 236

Mengunjungi Bogor di musim liburan sekolah ini adalah pilihan yang tepat bagi Anda yang memiliki anak-anak masih sekolah. Selain Kebun Raya Bogor, anda juga perlu membawa anak-anak ke seluruh musim yang ada di kota Bogor ini. Sebut saja, Musium Perjuangan, Musium Zoologi dan Musium PETA.

Buku ini pun dapat diakses di National Library of Australia

Ayo ajak anak-anak Anda belajar sejarah langsung ke lokasinya.

Untuk pembelian klik disini ya: