Di Ujung Jalan

Neneng Hendriyani

Di rimbunnya pohon bambu
Di gemericiknya aliran Cisadane aku berhenti berjalan
Di depan gubuk reot, berpagar kemiskinan
Aku bimbang: masuk ataukah diam?

Sementara ingatanku terang benderang:
Di ujung jalan, kibaran panji masih mengangkasa
Kidung-kidung pujian masih mengalun
Di tengah asap sesaji yang menjanjikan kemakmuran

Aku mencoba memutar badan
Membelakangi kenyataan tak seindah kenangan
Bak anak balita terpesona manisnya gula-gula
Gemilang masa lalu menari di tengah kemiskinan

Aku berhenti. Tegap memandang Cisadane di balik gerimis senja
Gemulai tariannya tak lagi bangkitkan syahwat
Tubuh-tubuh remaja yang kian renta
Dipenuhi mimpi masa muda
Urat malunya digadai ke sembarang penguasa!

Ah! Inilah tanahku
Di depan gubuk reot aku berhenti
Meniup seruling, nyanyikan kidung penghormatan
Berharap di antara rimbunnya bambu
Di gemericiknya aliran Cisadane
Aku tak ikut tenggelam dalam kenangan

Bogor, 9 Agustus 2025

Sumber:
Herfanda, Ahmadun Yosi, dkk. 2025. Manifesto Jabodetabek: Antologi Puisi Penyair dari Jabodetabek. (Halaman 98). Taresia.

Bogor, Lukisan Masa

Oleh Neneng Hendriyani

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Di kaki Salak Pangrango:

Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru

mengalir syahdu cerita tempo dulu:

Danau biru tak pernah surut,
Cermin langit tempat rindu berlabuh,
Riak-riak kecil berlarian riang,

Di antara sauh, pedati ditarik pulang

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,

Di kaki Salak Pangrango, sawah luas menghampar megah,
Tarian angin di padi mengalun ramah,

Gelatik dan Manyar bernyanyi riuh rendah.

Kini, baja dan bata berdiri tegak berlomba
Pabrik-pabrik tumbuh menggantikan hijau ladang

Menyisakan asap sesak dalam kenangan

Jauh di sudut jalan, tetap terasa,
Hangatnya talas Bogor dalam genggaman,
Asap soto mie menari di udara,
Di meja bambu, tradisi tak pernah pudar.

Zaman bergulir, kota berbenah,
Dari Pajajaran ke lampu kota yang tak padam di tengah malam
kujumpai di setiap wajah,
Sisa-sisa sejarah yang tetap benderang dalam ingatan.

Di alun-alun, anggun meliuk,

Selaras kidung Pakuan menyeruak jiwa

Di antara gendang dan suling ku’ terkesima
Rajutan cerita: Kuta Udaya Wangsa!

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,

Tetap indah dalam perubahan,
Mengalir seperti Cisadane yang tak berhenti,
Menjaga warisan, menyambut masa depan,
Menjadi rumah bagi hati yang mencari jalan pulang.

(Karadenan, 27 Maret 2025)