Neneng Hendriyani
Di rimbunnya pohon bambu
Di gemericiknya aliran Cisadane aku berhenti berjalan
Di depan gubuk reot, berpagar kemiskinan
Aku bimbang: masuk ataukah diam?
Sementara ingatanku terang benderang:
Di ujung jalan, kibaran panji masih mengangkasa
Kidung-kidung pujian masih mengalun
Di tengah asap sesaji yang menjanjikan kemakmuran
Aku mencoba memutar badan
Membelakangi kenyataan tak seindah kenangan
Bak anak balita terpesona manisnya gula-gula
Gemilang masa lalu menari di tengah kemiskinan
Aku berhenti. Tegap memandang Cisadane di balik gerimis senja
Gemulai tariannya tak lagi bangkitkan syahwat
Tubuh-tubuh remaja yang kian renta
Dipenuhi mimpi masa muda
Urat malunya digadai ke sembarang penguasa!
Ah! Inilah tanahku
Di depan gubuk reot aku berhenti
Meniup seruling, nyanyikan kidung penghormatan
Berharap di antara rimbunnya bambu
Di gemericiknya aliran Cisadane
Aku tak ikut tenggelam dalam kenangan
Bogor, 9 Agustus 2025
Sumber:
Herfanda, Ahmadun Yosi, dkk. 2025. Manifesto Jabodetabek: Antologi Puisi Penyair dari Jabodetabek. (Halaman 98). Taresia.
