Bolehkah Pasutri Guru Bekerja di Satu Sekolah

Analisis SWOT: 5 Pasangan Suami Istri (Pasutri) Guru Bekerja di Satu Sekolah

Analisis SWOT ini difokuskan pada situasi di mana terdapat 5 pasangan suami istri yang berprofesi sebagai guru dan bekerja di sekolah yang sama. Analisis ini mempertimbangkan konteks kepegawaian guru, khususnya bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) seperti guru di sekolah negeri, di mana aturan kepegawaian Indonesia menekankan prinsip larangan konflik kepentingan. Referensi utama diambil dari peraturan terkait, seperti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN (khususnya Pasal 73 ayat 7 yang mengatur mutasi dengan memperhatikan larangan konflik kepentingan), Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS, dan Peraturan BKN Nomor 5 Tahun 2019 tentang Mutasi Antar Instansi. Tidak ada larangan mutlak bagi pasutri ASN bekerja di satu unit kerja, tetapi mutasi bisa dilakukan jika timbul konflik yang berdampak pada kinerja. Untuk sekolah swasta, aturan lebih fleksibel dan bergantung pada kebijakan internal yayasan atau perusahaan.

Berikut adalah analisis SWOT dalam bentuk tabel untuk kemudahan pemahaman:

AspekDeskripsi
Strengths (Kekuatan)Kerjasama dan Sinergi Tinggi: Pasutri dapat saling mendukung dalam tugas pengajaran, seperti berbagi ide lesson plan atau kolaborasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, yang meningkatkan efisiensi kerja. – Stabilitas Emosional dan Motivasi: Kehadiran pasangan di tempat kerja dapat mengurangi stres perjalanan (commuting) dan meningkatkan keseimbangan work-life balance, sehingga guru lebih fokus dan produktif. – Model Positif bagi Siswa: Kehadiran pasutri yang harmonis bisa menjadi contoh keluarga bahagia, mendukung pendidikan karakter di sekolah. – Penghematan Biaya Sekolah: Sekolah bisa menghemat anggaran karena pasutri mungkin bersedia berbagi sumber daya pribadi atau bekerja lembur tanpa tuntutan ekstra. – Pengalaman Kumulatif: Dengan 5 pasutri, sekolah mendapat keuntungan dari pengalaman bersama yang bisa memperkaya kurikulum atau program sekolah.
Weaknesses (Kelemahan)Potensi Konflik Kepentingan: Hubungan keluarga bisa memicu tuduhan nepotisme, misalnya dalam pembagian tugas atau promosi jabatan fungsional guru. – Dampak Konflik Rumah Tangga: Masalah pribadi bisa tumpah ke lingkungan kerja, mengganggu harmoni tim dan kinerja secara keseluruhan. – Kurangnya Diversitas: Konsentrasi pasutri dalam jumlah besar (5 pasang) bisa mengurangi variasi perspektif dan inovasi dari luar, membuat sekolah kurang adaptif. – Beban Administratif: Sekolah harus lebih ketat dalam pengawasan untuk memastikan tidak ada pelanggaran etika, yang menambah birokrasi. – Keterbatasan Mobilitas: Pasutri mungkin enggan dipindah tugas, yang bertentangan dengan prinsip mutasi ASN jika diperlukan.
Opportunities (Peluang)Kolaborasi Inovatif: Pasutri bisa dimanfaatkan untuk proyek bersama, seperti pengembangan modul pembelajaran berbasis keluarga atau program parenting untuk orang tua siswa. – Peningkatan Reputasi Sekolah: Jika dikelola baik, situasi ini bisa menjadi daya tarik bagi calon siswa/orang tua yang menghargai nilai keluarga. – Pengembangan Profesional: Pelatihan bersama untuk pasutri bisa meningkatkan kompetensi guru secara kolektif, sesuai dengan program Sertifikasi Guru dari Kemdikbud. – Dukungan Kebijakan Pemerintah: Dengan aturan yang fleksibel, sekolah bisa mengajukan pengecualian atau penyesuaian mutasi melalui BKN untuk mempertahankan talenta. – Ekspansi Jaringan: Pasutri bisa membangun kemitraan dengan sekolah lain melalui jaringan keluarga, membuka peluang kerjasama antar-instansi.
Threats (Ancaman)Risiko Mutasi atau Sanksi: Berdasarkan UU ASN dan PP 11/2017, jika konflik kepentingan terbukti (misalnya dampak pada kinerja), salah satu pasangan bisa dimutasi oleh BKN, yang mengganggu stabilitas sekolah. – Keluhan dari Staf Lain: Guru non-pasutri mungkin merasa diskriminasi, memicu turnover tinggi atau laporan ke pengawas. – Pengawasan Eksternal: Inspektorat atau BKD daerah bisa melakukan audit jika ada indikasi pelanggaran, seperti di kasus Inspektorat Pekanbaru. – Dampak Pandemi atau Krisis: Situasi seperti COVID-19 bisa memperburuk konflik jika pasutri harus bekerja dari rumah bersama, memengaruhi fokus pengajaran online. – Perubahan Kebijakan: Revisi aturan kepegawaian (misalnya amandemen UU ASN) bisa memperketat larangan, memaksa penyesuaian mendadak.

Referensi Aturan Kepegawaian

  • UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN: Pasal 73 ayat (7) menekankan mutasi PNS harus memperhatikan prinsip larangan konflik kepentingan, termasuk hubungan keluarga. Tidak ada larangan absolut, tapi pencegahan konflik menjadi prioritas.
  • PP Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS: Mengatur mutasi dengan pertimbangan teknis BKN, termasuk jika konflik rumah tangga pasutri memengaruhi kinerja.
  • Peraturan BKN Nomor 5 Tahun 2019: Fokus pada mutasi antar instansi, dengan prinsip yang sama untuk menghindari konflik kepentingan.
  • Kebijakan Lokal: Beberapa daerah seperti DKI Jakarta (Kepgub No. 24 Tahun 2003) melarang hubungan keluarga dalam satu unit organisasi untuk menghindari nepotisme. Untuk sekolah swasta, lihat UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (diubah Perppu Cipta Kerja), yang melarang PHK karena pernikahan sesama karyawan.

Solusi

Untuk mengoptimalkan kekuatan dan meminimalkan kelemahan serta ancaman, berikut solusi praktis:

  1. Pengaturan Jabatan dan Supervisi: Pastikan pasutri tidak berada dalam hubungan subordinasi langsung (misalnya, satu jadi kepala sekolah dan yang lain guru bawahan). Ini sesuai prinsip larangan konflik kepentingan di UU ASN. Sekolah bisa membuat SOP internal untuk pembagian tugas.
  2. Monitoring Kinerja: Implementasikan sistem evaluasi bulanan melalui BKN’s merit system untuk mendeteksi dini konflik rumah tangga yang berdampak kerja. Jika terdeteksi, ajukan mutasi sukarela salah satu pasangan ke sekolah terdekat.
  3. Pelatihan dan Konseling: Adakan workshop tentang etika kerja dan manajemen konflik keluarga, bekerja sama dengan psikolog atau Kemdikbud. Ini bisa tingkatkan opportunities seperti kolaborasi.
  4. Diversifikasi Staf: Rekrut guru baru dari luar untuk tambah diversitas, mengurangi weaknesses seperti kurangnya perspektif baru. Untuk 5 pasutri, batasi agar tidak lebih dari 20-30% total guru.
  5. Kebijakan Sekolah: Buat peraturan internal yang mengacu PP 11/2017, seperti rotasi tugas periodik. Jika sekolah negeri, koordinasi dengan Dinas Pendidikan daerah untuk pengecualian mutasi jika tidak ada konflik.
  6. Solusi Hukum: Jika ada ancaman mutasi, konsultasikan dengan BKN atau pengacara kepegawaian untuk ajukan peninjauan berdasarkan Peraturan BKN No. 5/2019.

Solusi ini bertujuan menjaga harmoni sekolah sambil patuh pada aturan, sehingga situasi pasutri menjadi aset bukan beban. Jika diperlukan, konsultasikan dengan ahli hukum untuk kasus spesifik.

Detail Pasal 73 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN)

Pasal 73 UU ASN berada dalam Bab VIII tentang Manajemen ASN, khususnya Bagian Ketiga Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PNS), Paragraf 7 yang mengatur Mutasi. Pasal ini mengatur prinsip dan prosedur mutasi PNS, termasuk perpindahan tugas dan/atau lokasi antar instansi, dengan tujuan mendukung pengembangan karier, kebutuhan organisasi, dan pencegahan konflik kepentingan. Mutasi dilakukan berdasarkan Sistem Merit, yang menekankan kompetensi, kualifikasi, dan keadilan.

Berikut adalah teks lengkap Pasal 73 beserta ayat-ayatnya:

Pasal 73 (1) Setiap PNS dapat dimutasi tugas dan/atau lokasi dalam 1 (satu) Instansi Pusat, antar-Instansi Pusat, 1 (satu) Instansi Daerah, antar-Instansi Daerah, antar-Instansi Pusat dan Instansi Daerah, dan ke perwakilan Negara Kesatuan Republik Indonesia di luar negeri. (2) Mutasi PNS dalam satu Instansi Pusat atau Instansi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian. (3) Mutasi PNS antarkabupaten/kota dalam satu provinsi ditetapkan oleh gubernur setelah memperoleh pertimbangan kepala BKN. (4) Mutasi PNS antarkabupaten/kota antarprovinsi, dan antar provinsi ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri setelah memperoleh pertimbangan kepala BKN. (5) Mutasi PNS provinsi/kabupaten/kota ke Instansi Pusat atau sebaliknya, ditetapkan oleh kepala BKN. (6) Mutasi PNS antar-Instansi Pusat ditetapkan oleh kepala BKN. (7) Mutasi PNS dilakukan dengan memperhatikan prinsip larangan konflik kepentingan. (8) Pembiayaan sebagai dampak dilakukannya mutasi PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja negara untuk Instansi Pusat dan anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk Instansi Daerah.

Penjelasan dan Konteks Tambahan

  • Ayat (1): Mengatur ruang lingkup mutasi yang luas, mencakup perpindahan dalam instansi yang sama atau antar instansi, baik pusat maupun daerah, hingga ke luar negeri. Ini memastikan fleksibilitas untuk memenuhi kebutuhan organisasi.
  • Ayat (2) hingga (6): Menentukan wewenang penetapan mutasi. Misalnya, Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) seperti menteri atau gubernur bertanggung jawab untuk mutasi internal, sementara Badan Kepegawaian Negara (BKN) terlibat dalam mutasi antar instansi untuk memastikan transparansi dan objektivitas.
  • Ayat (7): Ini adalah poin kunci yang sering menjadi sorotan, yaitu prinsip larangan konflik kepentingan. Dalam penjelasan UU, ini dimaksudkan untuk mencegah situasi seperti hubungan keluarga (perkawinan atau darah) dalam satu unit kerja yang bisa menimbulkan nepotisme atau bias. Jika terjadi, mutasi ke unit berbeda bisa dilakukan oleh PPK.
  • Ayat (8): Mengatur aspek finansial, memastikan bahwa biaya mutasi (seperti biaya pindah, tunjangan, dll.) ditanggung oleh anggaran yang relevan, sehingga tidak memberatkan PNS secara pribadi.

Pasal ini didukung oleh ketentuan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS, yang mengatur prosedur mutasi secara rinci. Dalam praktiknya, mutasi harus mempertimbangkan faktor seperti kompetensi, kinerja, dan kebutuhan instansi, sesuai Pasal 70 dan 71 UU ASN. Jika ada konflik kepentingan, BKN bisa merekomendasikan mutasi untuk menjaga integritas ASN.

Bogor through the Ages

These are my poems I wrote for Buitenzorg a few months ago. Please give your comments after reading them, ok.


Bogor Dari Masa ke Masa
Oleh Neneng Hendriyani

Dulu, Bogor adalah rimba megah,
Tempat para raja menjejak sejarah,
Di bawah panji Pajajaran
Kebijaksanaan mengalir dari balairung istana
Menjaga warisan purwa

Berpuluh-puluh tahun Gunung Salak tegak bersaksi,
Sungai Ciliwung lantang bersuara,
Menyaksikan zaman berputar cepat,
Dari kerajaan, penjajahan, hingga merdeka.

Bogor: subur, membentang
Padi menari di pelukan sawah,
Di ladang dan perbukitan
Petani menaruh jutaan impian
Panen mereka untuk masa depan.

Di perut bumi, tambang berbisik,
Emas, pasir, dan batu berlimpah,
Di tangan besi, roda berputar,
Pabrik-pabrik membangun peradaban.

Jauh di pelosok, terdengar suara palu dan gergaji,
Pengrajin bermain di atas mahoni,
Mengukir Bogor dalam karya nan indah,
Mewariskan seni hingga ke nusantara.

Kini, Bogor tak sekadar kenangan,
Ia tumbuh bersama zaman,
Di punggungnya generasi emas bersinar,
Menuntut ilmu, melangkah ke depan.

Bogor, Kuta Udaya Wangsa,
Benteng peradaban tak tergoyahkan,
Maju berdaya, sejahtera bersama,
Satu tekad, satu cita, satu bangsa.
Bogor, bukan sekadar kota,
Tapi rumah bagi jutaan warga
Merekam jejak, merawat harapan
Berjuang untuk masa depan gemilang.
(Karadenan, 27 Maret 2025)

#BOGOR #nenenghendriyani #bogordarimasakemasa #kutaudayawangsa

Bogor Through the Ages
by Neneng Hendriyani

Once, Bogor was a majestic jungle,
Where kings left their mark on history,
Under the banner of Pajajaran,
Wisdom flowed from the palace halls,
Preserving ancient heritage.

For decades, Mount Salak stood witness,
The Ciliwung River sang boldly,
Watching time spin swiftly,
From kingdoms to colonization, to independence.

Bogor: fertile, sprawling,
Rice fields dancing in the embrace of paddies,
In fields and hillsides, Farmers sow millions of dreams,
Their harvests for the future.

Deep in the earth, mines whisper,
Gold, sand, and stone abound,
In iron hands, wheels turn,
Factories build civilization.

Far in the corners, the sound of hammers and saws,
Craftsmen dance with mahogany,
Carving Bogor into beautiful works,
Passing down art across the archipelago.

Now, Bogor is more than memory,
It grows with the times,
On its shoulders, a golden generation shines,
Seeking knowledge, stepping forward.

Bogor, Kuta Udaya Wangsa,
An unshakable fortress of civilization,
Advancing with strength, prospering together,
One resolve, one dream, one nation.

Bogor, not just a city,
But a home for millions of souls,
Recording footprints, nurturing hopes,
Striving for a radiant future.

(Karadenan, March 27, 2025)

#bogorthroughtheages #nenenghendriyani #buitenzorg #poem #bogor #kutaudayawangsa

Surat Untuk Guru dari Anak Gaza

Puisi ini ditulis dalam rangka mengikuti sayembara penulisan puisi bagi para penyair yang tinggal di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan negara ASEAN lainnya dengan tema Persaudaraan dan Perdamaian.

Puisi ini berhasil lolos kurasi dari para kurator kenamaan Indonesia: Ahmadun Yosi Herfanda, Maman S Mahayana, dan Aspahani.

Berikut ini puisinya.

Surat untuk Guru dari Anak Gaza
oleh Neneng Hendriyani

Guru, aku sudah lupa apa itu sekolah
Bagiku suara bom, roket adalah buku yang sudah hapal kubaca
Rentetan senapan, bau mesiu adalah pelajaran harian yang tak pernah libur
Raungan ambulans adalah PR yang tak pernah selesai kuhitung

Guru, apakah masih ada papan tulis di tempatmu?
Di sini, tembok rumah kami retak oleh ambisi Netanyahu
Pensilku patah tertimbun reruntuhan, bukuku bersimbah darah
Tapi lihat! Aku masih menulis — di sini: di mata ini
Lihatlah netraku dalam-dalam, Guru
Baca dan nilailah karangan narasiku tentang ribuan kawan
Meregang nyawa sepulang sekolah, 7 Oktober 2023

Guru, jika esok kau masih mendengar beritaku
Aku ingin belajar tentang damai, bukan strategi perang atau cara bersembunyi
Aku ingin tahu tentang pelangi, bukan warna api setia membakar langit pagi
Tak sanggup menulis narasi deskripsi tentang Gaza
Tapi, dunia harus tahu cerita mereka, bukan cuma bilangan angka di layar kaca
Mereka anak manusia, penuh harap dan cita-cita
Dirampas lewat bedil dan amukan roket direnggut dari pelukan ibunda

Guru, sampaikan pada dunia
Kami rindu sekolah! Kami rindu pelajaran cinta.


(Bogor, 02 Mei 2025)

Versi terjemahannya, ya.

Letter to the Teacher from Gaza’s Children
by Neneng Hendriyani

Teacher, I’ve forgotten what school is like.
To me, the sound of bombs and rockets is the book I’ve memorized by heart.
The rattle of gunfire, the smell of gunpowder, is the daily lesson that never takes a break.
The wail of ambulances is the homework I can never finish counting.

Teacher, is there still a whiteboard where you are?
Here, the walls of our homes are cracked by Netanyahu’s ambitions.
My pencil is broken, buried under rubble; my books are stained with blood.
But look! I’m still writing—here, in these eyes.
Look deep into my eyes,
Teacher. Read and grade my narrative essay about thousands of friends, Losing their lives on their way home from school, October 7, 2023.

Teacher, if tomorrow you still hear news of me,
I wanna learn about peace, not war strategies or how to hide.
I want to know about rainbows, not the colors of flames faithfully burning the morning sky.
I can’t bear to write descriptive narratives about Gaza, But the world must know their stories—not just numbers flickering on a screen.
They are children of humanity, full of hopes and dreams, Stolen by bullets and torn from their mothers’ embrace by rocket fire.

Teacher, tell the world: We miss school! We miss lessons of love.

(Bogor, May 2, 2025)

#gaza #teacher #school #lesson #humanity #PPNXIII #Jakarta #NenengHendriyani #poem #global city

Selaksa Rindu di Cangkir Senja

Selaksa Rindu di Cangkir Senja karyaku ini tercatat sebagai salah satu dari 112 puisi yang ditulis oleh para penyair nasional dan internasional yang berasal dari ASEAN.

Selaksa Rindu di Cangkir Senja
Oleh Neneng Hendriyani

    Di bawah bianglala dalam senja yang kian memikat
    Lintingan daun teh menari di secangkir tanah liat
    Menggeliat, meronta, mencumbu mesra
    Menguar pekat memeluk renta

    Linting demi linting berubah warna
    Menyesap sepi di antara rongga
    Nyanyikan kidung tak bernama
    Sejauh netra memandang kelam

    Lintingan daun teh kian memucat
    Diseduh luruh dalam cinta
    Mengayun lirih di dasar cangkir tua
    Jauh di kaki senja dalam imajinasiku yang buta

    Ya! inilah lintingan teh terakhir kita
    Di bawah bianglala dalam senja yang kian memikat
    Menggeliat, meronta, mencumbu mesra
    Menyulam pusaran menguar pekat peluk jiwa
    Hingga sisa satu kata: kau aku kita!

    (Bogor, 13 Mei 2025)

    Puisi ini kutulis saat berjalan-jalan menikmati sejuknya Pegunungan Teh di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kutulis puisi tersebut dalam bahasa Inggris, ya.

    A Myriad of Longings in the Twilight Cup
    by Neneng Hendriyani

    Beneath the rainbow wheel in the ever-enchanting twilight,
    Tea leaves twirl in a clay cup,
    Swaying, writhing, tenderly caressing,
    Exuding a rich aroma, embracing the weary.

    Leaf by leaf, they change color,
    Sipping solitude in the spaces between,
    Singing an unnamed hymn,
    As far as the eyes gaze into the darkness.

    The tea leaves grow ever paler,
    Steeped and wilting in love,
    Gently swaying at the bottom of an old cup,
    Far at the foot of twilight in my blind imagination.

    Yes! This is our final swirl of tea,
    Beneath the rainbow wheel in the ever-enchanting twilight,
    Swaying, writhing, tenderly caressing,
    Weaving a vortex, exuding a rich embrace of the soul,
    Until only one word remains: you, me, us!

    (Bogor, May 13, 2025)

    #tea #imajinasi #puisi #imagination #Twilight Cup #nenenghendriyani #selaksarindudicangkirsenja #antology #national #international #art #poem #slawi #tegal

    Dokumen Penting Calon Pengajar Praktik Angkatan 11

    Menjadi bagian dari transformasi pendidikan tanah air adalah sebuah kebanggaan bagi insan pendidikan. Itulah sebabnya, setelah menyelesaikan Program Guru Penggerak tidak sedikit yang berbondong-bondong mengikuti program seleksi pengajar praktik.

    Berikut ini dokumen penting terkait Program Pengajar Praktik Angkatan 11.

    Surat-Rekrutmen-CGP-A11_tahun-2023_ks_okSurat-Rekrutmen-CPP-A11_tahun-2023_ks_ok 3795_Pengumuman Seleksi Tahap 1 CPP11_Provinsi Riau

    3802_Pengumuman-Hasil Seleksi CGP A11 T1-Provinsi Jawa Barat-1 3802_Pengumuman-Hasil Seleksi CGP A11 T1-Provinsi _231229_154032 3802_Pengumuman-Hasil Seleksi CGP A11 T1-Provinsi Riau

    MODUL PROJEK REKAYASA BERTEKNOLOGI SMA

    Modul Projek P5 disusun bersama-sama oleh Tim yang ditunjuk oleh Komite Pembelajaran dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Mereka ditunjuk berdasarkan kelas yang diajar dan mata pelajaran yang diampu. Untuk tema Gaya Hidup Berkelanjutan, guru yang menyusun modul projek adalah guru mata pelajaran IPA seperti Fisika, Kimia, Biologi. Ada juga guru mata pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika. Untuk tema Suara Demokrasi disusun oleh guru mata pelajaran PPKN, Sejarah, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dll. Sementara untuk tema Bangun Jiwa dan Raganya disusun oleh guru Penjas, sejarah, BK, dll. Dan, untuk tema teknologi dan rekayasa disusun oleh guru Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia.

    Projek P5 dilaksanakan selama 12 JP setiap minggu dengan tujuan mengajarkan, melatih dan membudayakan dimensi Profil Pelajar Pancasila pada siswa sehingga menjadi karakter di dalam hidupnya. Oleh sebab itu untuk merealisakannya maka Pelaksanaan Projek P5 di SMAN 4 Cibinong pada tahun pelajaran 2023-2024 adalah sebagai berikut.

    Tingkat X:

    1. Gaya Hidup Berkelanjutan (Juli-September) dengan fokus pada pengolahan sampah organik dan anorganik;
    2. Suara Demokrasi (September-Desember) dengan fokus pada proses dan alur demokrasi Pemilihan Ketua OSIS & MPPK;
    3. Kewirausahaan (Januari-Maret) dengan fokus pada penyusunan Proposal Usaha, Produk, Strategi Pemasaran Produk.

    Tingkat XI:

    1. Rekayasa dan Teknologi (Juli-September) dengan fokus pada pemecahan masalah yang ada di lingkungan sekolah dengan mendesain dan  membuat alat yang dapat membantu siswa belajar nyaman dan aman;
    2. Suara Demokrasi (September-Desember) dengan fokus pada proses dan alur demokrasi Pemilihan Ketua OSIS & MPPK;
    3. Bangun Jiwa dan Raganya (Januari-Maret) dengan fokus pada pemahaman, pencegahan perundungan baik digital maupun non digital.

    Berikut ini contoh modul yang digunakan. modul projek tema teknologi dan rekayasa Semoga bermanfaat.

    Hidup Kembali (Part 1)

    “Lahir kembali” sepertinya kok gimana, gitu ya? Apa iya orang hidup bisa lahir kembali? Bagaimana bisa?

    Dalam berbagai pandangan agama mana pun sepertinya tak ada ajaran atau paham yang mengatakan bahwa seseorang bisa lahir kembali, terlebih bila yang bersangkutan masih hidup. Hanya agama Hindu dan Budha yang mengenal kelahiran kembali alias reinkarnasi. Itu pun setelah mengalami kematian fisik. Sementara yang dibahas di buku ini adalah kelahiran kembali sebuah jiwa dalam keadaan masih bernapas.

    Untuk memahaminya jangan menggunakan bahasa yang sulit, ya. Bagi sebagian orang, kehadiran suatu hal yang begitu mengejutkan bisa menjadi alasannya untuk kembali hidup setelah kehilangan hidup itu sendiri. Bagi sebagiannya lagi justeru sebaliknya. Kehadiran suatu hal malah bisa membuatnya mati dalam hidup. Ia hidup, bernapas, makan, dan minum namun tidak lagi merasakan kenikmatan, kesenangan, dan harapan dalam hidup yang dijalaninya. Ia merasa sudah mati dalam hidupnya. Hari-hari yang dilaluinya hanyalah sekadar mengisi waktu saja. Seringkali orang itu tidak melakukan apapun yang membuat harinya lebih bermakna.

    Bagi orang yang lama kehilangan semangat hidup dan membiarkan waktunya berlalu begitu saja bisa tiba-tiba begitu bergairah menghadapi hidup. Inilah yang dinamakan hidup kembali.

    Sampai sini paham, kan? Jadi pengertian hidup kembali bukanlah menempati tubuh baru dengan nama baru tetapi lebih kepada pemahaman dan kesiapannya menghadapi kehidupannya setelah peristiwa besar yang membuatnya bagai mayat hidup.

    Seperti yang kita ketahui hidup tak selamanya indah dan mudah, berjalan sesuai harapan dan mau kita. Hidup selalu memberikan kejutan di setiap harinya. Ada tawa dan air mata yang saling memilin kisah kita sebagai penghuni dunia yang fana. Kekuatan fisik, mental dan hati seringkali menjadi penentu apakah kita berhasil melalui semua kisah tersebut dengan baik. Tidak semua orang bisa melaluinya dengan lancar dan penuh kerelaan. Banyak yang menolak diam-diam dan kemudian terjebak di lingkaran nestapa. Itulah hidup. Hidup yang mau tak mau harus diterima dan dijalani sebisa kita.

    Seperti aku yang juga sama denganmu. Berharap di semua waktu bisa menikmati gelak tawa tanpa adanya banjir air mata yang membuat jiwa merana. Namun siapa lah aku. Hanya seorang hamba yang nasibnya sudah ditetapkan jauh sebelum lahir.

    Tak pernah diduga sebelumnya bila benjolan kecil sebesar bulir padi itu lambat laun membesar, bergerak, dan hidup di jaringan tubuh setelah bertahun-tahun lamanya. Aku yang dibesarkan secara sederhana di lingkungan keluarga yang takut dokter tak pernah menduga akan menghabiskan banyak masa muda, waktu, dan harta untuk bisa menghirup udara segar tanpa tekanan dan siksaan.

    Ya, peristiwa menakutkan itu terjadi persis ketika aku baru saja melahirkan anak pertama. Perasaan lemas, lelah, letih, lesu, lunglai, letoy, dan loyo menderaku dengan hebatnya hingga aku tak mampu menggerakkan tubuhku sendiri. Setiap hari aku hanya mampu menghabiskan waktu 1 jam untuk bisa beraktivitas. Itu pun segera setelah bangun tidur. Setelah selesai mandi dan berjemur dengan orok aku sudah limbung.

    Sepanjang hari aku hanya tidur-tiduran saja di samping orok yang belum bisa membuka matanya. Untuk bangun memperbaiki posisi tubuh pun rasanya susah. Apalagi bila harus ke toilet dan lainnya. Sudah pasti harus dipapah orang rumah.

    Empat puluh hari kemudian aku ke RS PMI Bogor. Setelah pemeriksaan intensif dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi pembedahan di bagian payudara kanan. Jantungku kaget bukan kepalang mendengarnya. Mataku melotot saking tak percaya. Lutut pun gemetar hebat. Tuhan, cobaan apa ini?

    Kutatap bayi mungil dalam gendongan. Berbagai pikiran buruk menyerangku tiba-tiba. Dokter itu terus saja memberikan penjelasan secara ilmiah mengenai penyakit yang kuderita. Aku sudah tak konsentrasi dengan apa yang dibicarakannya. Aku membayangkan bagaimana si kecil menyusu nanti. Aku bingung, sedih, takut, juga malu.

    Sebagai pasangan muda tentulah seks adalah aktivitas yang tak hanya melibatkan persatuan tubuh tetapi juga perasaan. Bagaimana bisa melakukan pelayanan prima bila aku sendiri merasa tak percaya diri dengan kondisi fisikku sendiri. Mungkin suami tak keberatan dengan hal itu. Tetapi aku? Tidak! Tak mungkin. Batinku menolak keras.

    Dengan mata memelas kuminta jeda untuk berpikir. Dokter itu memandangku tanpa perasaan. Mungkin saking banyaknya pasien yang seperti diriku. Menolak operasi karena takut dan cemas. Ya, takut dan cemas akan sesuatu yang tak jelas.

    “Terserah, Ibu. Saya hanya menyampaikan apa yang harus disampaikan sebagai dokter. Keputusan akhir tetap di tangan ibu dan keluarga. Namun demikian pikirkan baik-baik bila suatu hari payudara ibu seperti ini maka keadaan sudah memburuk dan sulit untuk diobati.” Katanya sambil menunjukkan gambar sebuah payudara yang sudah bernanah dan bolong. Aku makin ketakutan. Nyaliku hilang entah ke mana. Aku mencoba mencari kekuatan dengan mengeratkan pelukanku pada sang bayi. Nihil. Aku makin lemas.

    Dengan sayu kutinggalkan dokter seorang diri. Di bawah lampu neon aku duduk dan berpikir keras. Aku tak mau mati. Aku juga tak mau dioperasi. Aku takut gagal. Bagaimana bila aku “lewat” di meja operasi? Bagaimana nasib Viviku yang baru 40 hari ini? Oh, Tuhan Yang Mahakuasa berikan pertolonganMu. Bisikku lirih penuh harapan.

    Kupandangi lagi hasil rontgen, mamograf, dan sebundel dokumen kesehatan lainnya di samping kursi yang kududuki. Mataku basah lagi. Tiba-tiba sebuah usapan hangat menyentuh kepalaku. Sontak aku mendongak. Wajahnya teduh dengan senyum manis menyapaku. “Jangan takut. Kita akan berusaha yang terbaik. Dede pasti sembuh. Yuk, ke dalam lagi.” Bujuknya. Aku menggeleng kuat-kuat.

    Hari itu sepulang dari rumah sakit aku mulai mencatat kronologis penyakit ini. Aku.mencoba mengingat-ingat kapan awal penyakit ini datang dan berkembang biak. Ternyata itu lama sekali kejadiannya. Ya, jauh sebelum aku menikah. Bahkan, jauh sebelum aku lulus kuliah.

    Sore itu aku pulang sekolah seperti biasa dengan teman-teman. Sesampainya di rumah aku memburu ibuku yang sedang asyik menonton TV. “Ma, kalau ada benjolan itu normal ga, sih?” Tanyaku. “Eh, tanya apa? Ganti baju dulu sana. Mandi dulu. Bau.” Jawabnya. Aku menurut. Setelah mandi dan mengganti baju aku kembali menanyakan hal yang sama. Dan, ibuku menjawab tidak tahu. Itulah hari pertama aku menyadari ada yang berbeda dengan payudaraku yang baru tumbuh.

    Hari-hari berikutnya kulalui dengan biasa. Artinya semua aktivitas normal dilakukan tanpa ada gangguan yang berarti. Demam sedikit ya wajarlah. Mungkin kecapaian karena sekolahnya siang hari dan baru sampai rumah jam lima sore. Aku tak pernah curiga tentang perkembangan benjolan itu yang sebenarnya mulai tumbuh subur di dada kanan.

     

    (Bersambung)

    (Gedung Tegar Beriman, 10 November 2021; sambil menunggu panggilan donor darah memperingati HUT PGRI ke 76, KORPRI ke 50, HGN 2021)

    Administrasi Pembelajaran Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI SMA

    Sebenarnya mengajar dan menyiapkan administrasi perangkat pembelajaran adalah hal yang tidak bisa dipisahkan karena saling terkait satu sama lain. Bagaimana mungkin seorang guru bisa mengajar bila ia tidak membuat administrasi perangkat pembelajaran sebelumnya. Namun, karena satu dan lain hal ada guru yang tidak memiliki waktu khusus untuk merancang administrasi perangkat pembelajarannya sebelum masuk kelas. Untuk itulah dengan semangat berbagi aku upload semua administrasi perangkat pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI yang kugunakan pada tahun pelajaran 2021/2022 di sini. Semoga bermanfaat, ya.

    Silabus Pembelajaran Kelas XI Bahasa Inggris Peminatan SMA

    [2] Silabus Pembelajaran

    Program Tahunan Bahasa Inggris Peminatan kelas XI SMA

    prota

    RPP Inspiratif (1 lembar) POEM Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI SMA

    rpp poem

    RPP Inspiratif (1 lembar) Narrative Text Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI SMA

    rpp narrative

    RPP Inspiratif (1 lembar) Song Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI SMA

    rpp lagu song

    RPP Inspiratif (1 lembar) hortatory text Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI SMA

    rpp hortatory

    KI/ KD Bahasa Inggris Peminatan Kondisi Khusus

    Bahasa Inggris (Peminatan) XI

    Catatan Seorang Penyintas Covid19

    Oleh: Neneng Hendriyani

    Senin, 12 Juli 2021 pukul 09 WIB aku dikejutkan oleh hasil Tes Swab Antigen putri pertamaku, Hapiah Wardah (15 tahun). Gadis manis berkulit hitam, berambut tebal yang tidak mengeluh apa pun itu ternyata positif. What?! Aku langsung meraba dahiku. Masih panas. Pun kedua telapak tanganku yang masih berasa basah dan dingin. Aku menatap wajah petugas di hadapanku. Nanar. “Tolong periksa saya juga”. Perintahku. Dia mengangguk lantas meminta kartu identitas penduduk dan memintaku duduk kembali.

    Rasanya begitu lama sekali menunggu dokter di dalam ruangan bercat putih itu memanggil namaku. Aku masih sempat mengetik pesan singkat ke suami, adik, dan ibuku. Aku ingat suamiku sedang tidak enak badan dan memaksakan diri berangkat ke sekolah karena hari itu ada beberapa agenda rapat terbatas. Aku memintanya langsung datang ke lokasi di mana aku berada. Sementara adikku yang memang sangat dekat dengan putriku itu kaget. Meskipun posisinya masih WFO dia masih sempat memberikan beberapa nasihat yang intinya menenangkan diriku. Ibu yang tinggal beberapa bulan lagi pensiun pun sama. Mereka berdua tahu benar aku penderita asma sejak lahir. Bahkan seluruh anakku pun lahir di tengah serangan asma yang aku derita. Sejak bayi hingga usia lima tahun mereka semua langganan klinik lantaran asmanya kumat.

    Saat namaku dipanggil aku bergegas masuk. Kupandangi sosok tinggi besar di depanku dengan seksama. Seorang dokter muda yang kutaksir baru berusia tiga puluh tahun itu menyapa ramah. Aku duduk dan memintanya membantuku. Aku tahu ini cuma basa basi. Namun bagiku ini sangat penting. Aku nyaman dengan sikapnya yang ramah. Itu sangat membantu ketenangan jiwaku. Sedapat mungkin aku berusaha tidak panik. Bila sampai panik maka asma pasti kumat. Itu bisa fatal.

    Tak lama dengan wajah masih merah, sepasang mata yang sedikit berair itu sampai juga di lokasi tepat beberapa menit aku keluar ruangan dokter Fadel. Aku meminta kartu indentitas dan mendaftarkannya. Beruntung dia masih mendapatkan kesempatan. Beberapa orang laki-laki dewasa yang datang setengah berlari setelahnya ditolak petugas karena swab antigen kitnya habis. Waktu itu baru pukul sepuluh tiga puluh. Aku terhenyak. Astaga bagaimana ini. Aku mulai berpikir. Di rumah masih ada empat anak yang belum diperiksa dan aku mengkhawatirkan kondisi mereka.

    Ketika petugas menunjukkan hasil swabku tadi aku hanya tersenyum. Aku sudah tahu jauh sebelum dokter muda itu memeriksaku. Aku tahu aku pasti positif setelah melihat hasil anakku. Aku hanya membutuhkan selembar surat keterangannya untuk keperluan dinas.

    Otak bawah sadarku paham bila anak yang tanpa gejala itu saja bisa positif apalagi aku yang memang sedang melawan demam dan linu sejak empat hari sebelumnya. Kami tinggal serumah. Melakukan banyak aktivitas bersama-sama. Jadi tidak mungkin aku negatif sendirian, kan. Pun ketika hasil swab suami positif aku masih bisa tersenyum. Meskipun kebingungan karena yang lain belum diperiksa aku masih bisa berpikir panjang. Mungkin itu naluri seorang ibu.

    Suami dan putriku pulang bersama-sama naik mobil yang dikendarai suami saat ke kantor tadi pagi. Sementara aku yang memang memilih membawa Vario hitam melaju di belakangnya perlahan.

    Aku berhenti di kios kelapa. Tanpa pikir panjang kuborong semua stok kelapa hijau yang ada. Kubilang untuk obat dan meminta penjualnya untuk agak menjauh dariku karena aku positif. Dia mengangguk dan membantuku menaruh semua kelapa itu di motor. Setelah membayar harga yang sempat didiskon aku langsung mencari ATM terdekat. Dalam pikiranku aku harus bersiap melaksanakan ISOMAN sekeluarga. Itu berarti aku tidak bisa keluar rumah lagi untuk belanja kebutuhan makan sehari-hari. Maka aku harus menitipkan sejumlah uang untuk memenuhi semua kebutuhan selama ISOMAN berlangsung.

    Sepanjang jalan pulang dilalah ATM kosong. Kuberanikan diri menuju ALFAMART terakhir di sepanjang jalur pulang. Beruntung di sana ATM masih bisa berfungsi normal. Setelah tiga kali gagal transaksi akhirnya aku bisa bernapas lega. Adikku siap membantu dengan bekal lima juta rupiah yang kutransfer ke rekeningnya. Segera dia memesan semua obat herbal yang dibutuhkan oleh kami sekeluarga; Madu Qusthul Hindi, Oximeter, Serbuk dan kapsul Qusth, Imboost, Obat demam, Vermint, berbagai varian rasa Nutrijel, bahan-bahan kue, buah-buahan, dan lainnya. Ini mungkin berlebihan. Namun aku yang memintanya mengirimkan semua itu dengan Gojek. Aku berharap anak-anak tetap bisa ceria meskipun harus dikurung di rumah selama dua minggu karena penyakit tak diundang ini. Dengan semua perbekalan yang dikirim tersebut mereka masih bisa beraktivitas normal di dapur berkreasi macam-macam kesukaan yang biasa mereka nikmati.

    Aku pun masih sempat pulang membawa stok diaper, susu pelancar ASI, roti dan cemilan kecil sebelum akhirnya dihubungi pengurus lingkungan.

    Sesampainya di rumah barulah drama ISOMAN dimulai secara resmi. Dengan bantuan pengurus RT aku berhasil memeriksakan kondisi keempat anak. Tentu saja semua biaya dibebankan kepadaku. Aku tidak mengeluh. Sudah beruntung masih ada tenaga kesehatan yang mau melayani datang ke rumah yang sudah jelas penghuninya menderita Covid19. Aku sangat berterima kasih meskipun harus membayar lebih mahal daripada tarif resmi dan tanpa mendapatkan surat keterangan.

    Hasil pemeriksaan keempat anak tersebut benar-benar sesuai dugaanku. Anak laki-laki pertamaku selamat. Abang (12 tahun) yang memang hobi makan dan main itu negatif. Selama tiga hari berturut-turut padahal dia mengalami diare. Luar biasa. Sementara adiknya yang baru naik kelas empat itu positif. Tidak aneh. Saat aku mengalami demam tinggi dia pun demam dan mimisan. Kondisi fisiknya memang lebih lemah dari abangnya. Anak pengais bungsu ( usia 5 tahun) pun dinyatakan negatif. Aku bersyukur sekali. Alhamdulillah. Panji yang baru direncanakan daftar TK tahun ini benar-benar negatif. Bahkan saturasinya pun paling bagus, 115. Sayang, keberuntungan ini tidak dimiliki si kecil, Lily. Bayiku yang belum genap dua tahun itu terpaksa dites dua kali karena petugas ragu. Hasilnya positif. Aku lemas. Napasku sesak. Masih sempat kuberdoa dalam hati, Tuhan, selamatkan kami.

    Tepat pukul 13.00 WIB kami resmi memulai ISOMAN hari pertama dengan kondisi dan keluhan berbeda-beda dari seisi rumah. Lima orang yang dinyatakan positif semua kukumpulkan di tengah rumah. Aku bilang bahwa ini bukan akhir dari hidup. Di luar sana banyak penyintas yang berhasil keluar dari masalah ini dan kembali sehat. Mereka menatapku. Ada rasa takut, cemas, dan lain-lain yang kutangkap dari mata anak-anak yang belum paham apa-apa itu. Aku menghela napas. Aku menolak mengungsikan kedua anak yang negatif ke rumah kerabat. Bukan apa-apa. Kedua orangtuaku sendiri kormobid. Ayahku penderita jantung. Ibuku asma. Adikku pun penderita kista dan miom. Hanya adik laki-lakiku yang sehat wal afiat. Keluarga mertuaku pun tidak mungkin menerimanya. Mereka sendiri sedang sibuk mengurus keponakan suami yang belum sembuh dari sakitnya. Ditambah lagi mereka harus menyiapkan acara pernikahannya yang tinggal menunggu hari. Beruntung pengurus RT mendukung keputusanku. Ini pun dilatarbelakangi oleh kejadian yang menimpa tetanggaku. Dari tujuh anggota keluarga ada dua juga yang negatif dan mereka dikirim ke rumah nenek kakeknya di Depok. Dua hari setelah berada di sana salah satu dinyatakan positif dan kakek nenek pun ikut positif.

    Setelah didampingi dokter yang ditunjuk oleh tim Satgas setempat aku membuat laporan melalui pesan singkat ke kantor. Sebuah pertanyaan yang diajukan atasanku membuatku kaget. “Bukankah ibu sedang WFH, di rumah, kok bisa kena ya?”

    Aku diam. Tak bisa menjawab secara pasti. Bagaimana mungkin aku yang sudah divaksin dua kali ini bisa terpapar virus jahat tersebut. Dengan bantuan adikku aku mencoba mengingat kembali perjalanan beberapa hari ke belakang. Terakhir aku aktif ke sekolah  adalah dua hari sebelum pembagian rapot kenaikan kelas. Saat itu kondisi tubuh fit. Aku pulang pukul lima sore dari sekolah. Selama di rumah aku hanya pergi ke warung sayur mayur yang berlokasi di kompleks perumahan di mana aku tinggal. Itu pun hanya dua hari sekali. Seminggu sekali aku pergi ke Indomaret untuk membeli kebutuhan susu dan menarik uang tunai. Dua minggu sekali aku mengirim paket ke JNE yang berada di sebelah Indomaret. Begitu aktivitas rutin yang kujalani selama WFH dan menjelang PPKM.

    Satu-satunya kejadian di mana aku bertemu orang dalam jumlah banyak lebih dari biasanya hanyalah saat aku melayat rekan kerjaku yang meninggal karena serangan jantung. Rumah kami masih satu kompleks. Aku sempat bersalaman dengan sang istri. Setelah itu berjabat tangan dengan mantan atasanku yang kebetulan hadir di masjid kompleks. Aku tidak ikut ke pemakaman dan memilih mengobrol sebentar dengan salah satu alumni terbaik yang kuajar dan kudampingi penuh selama dua tahun sebagai wali kelasnya. Kami berdiri dengan jarak 1,5 meter dan masing-masing tetap menggunakan masker.

    Suamiku memang ikut mengantarkan ke pemakaman sore itu. Dibonceng salah satu siswanya dia ikut ke Sindang Barang, Bogor. Pulang seperti biasa langsung membersihkan tubuh dan semua baik-baik saja. Selama seminggu kemudian dia tetap beraktivitas seperti biasa tanpa keluhan apa pun. Begitu pula anggota keluarga lainnya.

    Hari Kamis, 8 Juli 2021 aku mulai bersin-bersin. Anak-anak bermain hujan-hujanan di lantai atas. Sudah dua minggu anak-anak memang dilarang keluar rumah karena di lingkungan kompleks sudah banyak yang positif. Jadi mereka bermain di dalam rumah saja. Kebetulan di lantai atas masih ada ruang yang tidak tertutup, yaitu balkon. Di sanalah kakak beradik itu bermain hujan-hujanan. Aku memang alergi dingin akibat hujan.  Setelah memandikan Lily dan memberikannya baju hangat, hidungku mulai bereaksi. Ada tumpukan ingus yang sulit dikeluarkan kurasa di pangkal hidungku sejak sore itu. Polipku kumat. Malam Jumat itu aku tak bisa tidur. Telinga berdengung, dahi dan leher panas, hidung tersumbat luar biasa. Sementara semua otot lemas dan linu. Aku tak curiga apa pun. Masih tetap mengetik dan bercanda dengan beberapa penulis melalui WhatsApp.

    Jumat hingga Minggu kondisiku masih sama. Rasa panas dan dingin datang silih berganti beberapa jam. Aku masih bisa beribadah seperti biasa dan melakukan aktivitas rutin tanpa hambatan meskipun telinga kanan mulai berair saking panasnya suhu tubuh. Bahkan ketika aku tak bisa mencium bau masakan dan pup Lily pun aku masih biasa saja. Aku sering begini setiap kali kena hujan. Jadi tak ada yang aneh, kupikir. Ketika aku mulai tidak bisa merasakan lezatnya masakan pun aku cuek. Aku memang bukan penyuka makan. Makan bagiku hanya sekedar memenuhi kebutuhan perut dan hidup. Bukan masalah ketika aku tak bisa menikmati rasanya. Aku santai.

    Sungguh ternyata tubuh sebenarnya sudah memberikan warning sebelum vonis tiba. Nahas aku cuek. Ini kesalahan fatal. Andai aku lebih wawas diri ketika badan mulai tidak enak dan langsung mengonsumsi vitamin dan menjaga imun semua drama selama 16 hari itu tidak akan terjadi.

    Namun demikian, aku bersyukur. Saat jatuh dan tertimpa tangga ini aku jadi tahu banyak hal. Selain ilmu kesehatan yang lumayan meningkat lantaran harus cek up kondisi anggota keluarga tiap hari, hubungan keluarga kami pun semakin erat dan hangat.

    Dari sekian banyak rekan kerja dan tetangga yang kukenal pun dapat kunilai. Ada yang langsung menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Yang biasa duduk santai di depan rumah setiap pagi dan petang langsung bersembunyi di balik pagar. Bahkan tidak sedikit yang mempercepat langkah kakinya ketika terpaksa melewati rumah. Dari dalam, aku  cuma tersenyum kecut. Benar-benar menyedihkan. Saking takutnya setiap kali pengantar paket datang, mereka melongokkan kepalanya menatap dengan curiga ke arahku. Penasaran mungkin paket apa yang diantarkan. Ini sempat membuatku down. Dengan kondisi yang luar biasa tidak nyamannya untuk memasak, aku terpaksa memesan makanan online. Tanpa ditatap sedingin itu aku pun sadar bahwa ini sangat beresiko. Namun aku tahu apa yang kulakukan. Aku selalu berupaya memberitahukan ke bagian pengantar paketnya bahwa aku sedang isoman. Bila mereka keberatan maka mereka bisa membatalkannya. Bila mereka siap menerima order maka mereka siap pula menggantungkan paketnya di pagar rumah. Simple.

    Sebagai pekerja aku jelas tidak bisa bebas dari tuntutan pekerjaan sekalipun sedang sakit. Meskipun sedikit kecewa karena merasa tidak ada empati dan simpati aku sadar ini bagian dari tanggung jawab pekerjaan. Sebisa mungkin semua tugas yang berkaitan dengan anak didik selalu kulaksanakan. Namun yang tidak begitu berkaitan kutinggalkan. Aku sadar betul bila memaksakan diri maka sama artinya memperberat kondisi kesehatanku. Bila aku sampai off alias end, paling hanya ucapan belasungkawa yang diterima, kan? Maka itulah menjaga dan waspada jauh lebih baik di saat seperti itu.

    Dari sekian banyak simpati dan empati yang kuterima dari teman-teman mayaku di facebook dan whatsapp aku merasa sangat beruntung. Tahu mengapa? Hampir 80% semangat dan doa yang mengalir di beranda and kolom komentarku berasal dari semua kawan lama yang kukenal baik. Allah sayang sekali padaku. Ia kirimkan semua sahabatku di saat genting seperti itu. Simpati mengalir tak berbatas pulau dan negara. Alhamdulillah.

    Dari semua bantuan langsung yang kuterima ku sangat bersyukur sekali telah merasakan bantuan yang paling berharga dari dokter yang tidak pernah kujumpai sebelumnya. Petugas Satgas RW memberikan nomornya dan aku menghubunginya dua jam setelah semua keluarga resmi menyandang status baru, pasien covid. Kesabarannya membaca, merespon, mengantarkan paket obat untuk kami selama isoman adalah bukti nyata betapa dia begitu peduli dan sayang kepada kami. Semoga Allah merahmatinya.

    Selama isoman itu aku pun merasakan kiriman makan siang satu kali yang dikirimkan oleh Pak RT yang konon kabarnya dari Pak Lurah. Jangan tanya isi menunya, ya. Yang pasti lebih enak buatan sendiri lah. Harganya? Hm, ga jauh dari warteg. Namun, aku menghargainya karena ini menunjukkan kepeduliannya kepada warga. Sisa bantuan berikutnya dari kelurahan aku tidak tahu. Aku hanya menerima bantuan langsung sebanyak 4 kotak makan siang saja pada satu hari itu.

    Ketika seorang rekan kerja mengirimkan nomor tim peduli covid 19 kabupaten iseng kukonfirmasi ke adikku. Dia yang lebih luas jaringan pertemanannya membantuku mengisi semua data yang dibutuhkan. Beruntung aku punya tiga surat keterangan hasil swab. Berbekal surat tersebut ditambah KTP seminggu berikutnya aku menerima paket yang katanya “sembako” namun isinya tidak lebih dari 2 kantong beras, 4 bungkus mie, 1 sarden. Katanya sih program Bupati. Alhamdulillah. Cukup membantu.

    Air mata mengalir deras justru ketika seorang rekan kerja yang memiliki tiga anak yatim menelepon dan meminta alamat rumah untuk mengirimkan paket cepat saji. Dia berkilah anak-anak pasti sangat menyukai dan membutuhkannya saat aku menolaknya. Jujur, menerima bantuan itu tidak enak, saudara-saudara. Rasanya ngenes. Lebih enak tangan di atas daripada tangan di bawah.

    Begitupun ketika seorang rekan yang hingga kini belum dikaruniai anak meneleponku menanyakan si kecil Lily. Dia trenyuh dan mengirimkan paket makanan ringan, susu, energen, gula, dan lainnya untuk anak-anak. Ya Allah, aku benar-benar mbrebes mili.

    Tetangga sebelah kanan rumah yang juga punya anak yatim pun berbuat sama. Suatu hari dia mengetuk pagar dan menaruh seplastik jeruk buat anak-anak.

    Coba lihat. Mereka yang membantuku dengan begitu tulusnya justru bukan orang-orang yang pernah kuduga sebelumnya. Allah mengirimkan tangan-tanganNya melalui mereka.

    Aku bersyukur sekali setelah melewati sepuluh hari terberat itu Allah lagi-lagi mengetuk hati hambaNya untuk datang menolongku setelah hujan. Benar-benar hujan. Iseng dia membuka status WhatsAppku dan kaget melihat postingan kondisiku yang up down. Dia langsung menelepon dan meminta alamat. Di tengah hujan dia berusa mencari apa yang kubutuhkan. Setelah reda baru dia antarkan. Alhamdulillah dengan jalan perantara obat yang diberikannya, aku bisa mengeluarkan semua lendir yang rasanya innalillahi lengket sekali selama dua jam. Meskipun sesudah meminumnya aku langsung tepar alias drop lantaran semua isi perut dikuras habis-habisan atas bawah aku bisa bernapas lega. Bau obat, dapur, dan sebagainya mulai tercium lagi. rasa pahit setelah muntah pun mulai terasa lagi. Aku meloncat kegirangan. Syukur Alhamdulillah. Dua hari berikutnya demam itu mulai hilang. Tinggal lemesnya kurasa hingga hari ke-16. Selebihnya semua kembali normal.

    Dengan semua rangkaian kejadian ini seorang seniorku menambahkan gelar baru di belakang namaku saat ia menelponku seminggu setelah aku sembuh, LC. Lulus Covid.

    (Kota Hujan, 04 Agustus 2021)