Di Ujung Jalan

Neneng Hendriyani

Di rimbunnya pohon bambu
Di gemericiknya aliran Cisadane aku berhenti berjalan
Di depan gubuk reot, berpagar kemiskinan
Aku bimbang: masuk ataukah diam?

Sementara ingatanku terang benderang:
Di ujung jalan, kibaran panji masih mengangkasa
Kidung-kidung pujian masih mengalun
Di tengah asap sesaji yang menjanjikan kemakmuran

Aku mencoba memutar badan
Membelakangi kenyataan tak seindah kenangan
Bak anak balita terpesona manisnya gula-gula
Gemilang masa lalu menari di tengah kemiskinan

Aku berhenti. Tegap memandang Cisadane di balik gerimis senja
Gemulai tariannya tak lagi bangkitkan syahwat
Tubuh-tubuh remaja yang kian renta
Dipenuhi mimpi masa muda
Urat malunya digadai ke sembarang penguasa!

Ah! Inilah tanahku
Di depan gubuk reot aku berhenti
Meniup seruling, nyanyikan kidung penghormatan
Berharap di antara rimbunnya bambu
Di gemericiknya aliran Cisadane
Aku tak ikut tenggelam dalam kenangan

Bogor, 9 Agustus 2025

Sumber:
Herfanda, Ahmadun Yosi, dkk. 2025. Manifesto Jabodetabek: Antologi Puisi Penyair dari Jabodetabek. (Halaman 98). Taresia.

Ngopi-ngopi, Janjinya nggak Ngopi?

Neneng Hendriyani

Ngopi pagi di warkop pinggir jalan,
Wifi lemot, tapi gosip politik berhamburan.
Scroll timeline rame, kayak hajatan
Semua sok pahlawan – padahal? Ya gitu deh. Tahu ‘kan?

Di meja sebelah, Bang Lurah nge-vlog,
pake Fold terbaru, stelan tetap nyolok.
Caption-nya: “Bersama rakyat, minum kopi.”
plus tagar: #DariRakyatUntukRakyat
Padahal doi dateng baru lima detik,
Abis itu cabut, ngilang klasik.

Katanya: “Harga naik itu wajar,” sok bijak.
“Tapi tenang, ekonomi tetap lancar. Jadi jangan galak!”
Warga ngangguk, ngelus dada.
Mo debat juga percuma, ntar dibilang drama.

Dari harga cabe ke capres, ujungnya partai.
Debat seru melebihi komentator F1,
Gas kanan-kiri, tapi nggak nyentuh jalanan.
Semua ribut soal siapa paling hebat,
Padahal pas banjir, yang nolong cuma grup WhatsApp.

Di akhir cuma melongo: kok negara ini mirip kopi hitam pekat?
Kalau kuat, bikin melek dan semangat.
Tapi kalau kebanyakan gula janji basi,
Lambung rakyat luka, hati pun nyeri eh, kena inflasi.

Bogor, 21 Juli 2025

(Syahril, Acep, dkk. (2025). Antologi puisi humor politik: Kitab Omon Omon (hlm. 81–82). Tonggak Pustaka.)

Selaksa Rindu di Cangkir Senja

Oleh Neneng Hendriyani

    Di bawah bianglala dalam senja yang kian memikat

    Lintingan daun teh menari di secangkir tanah liat

    Menggeliat, meronta, mencumbu mesra

    Menguar pekat memeluk renta

    Linting demi linting berubah warna

    Menyesap sepi di antara rongga

    Nyanyikan kidung tak bernama

    Sejauh netra memandang kelam

    Lintingan daun teh kian memucat

    Diseduh luruh dalam cinta

    Mengayun lirih di dasar cangkir tua

    Jauh di kaki senja dalam imajinasiku yang buta

    Ya! inilah lintingan teh terakhir kita

    Di bawah bianglala dalam senja yang kian memikat

    Menggeliat, meronta, mencumbu mesra

    Menyulam pusaran menguar pekat peluk jiwa

    Hingga sisa satu kata: kau aku kita!

    (Bogor, 13 Mei 2025)

    Bogor: Peninggalan Sejarah Dari Masa Ke Masa

    Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa ke Masa
    ISBN 978-602-5434-07-5
    Penulis: Neneng Hedriyani, M.Pd.
    Penyunting: Ésép M Zaini
    Tata Sampul:
    Tata Isi: Ésép M Zaini
    Pracetak:
    Cetakan Pertama: Agustus 2017
    Penerbit
    Hendriyani, Neneng
    Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa ke Masa/ Neneng
    Hedriyani, M.Pd.; editor, Ésép M Zaini -cet. 1-, 2017
    ukuran: 14.8 x 21
    jumlah halaman: xii + 236

    Mengunjungi Bogor di musim liburan sekolah ini adalah pilihan yang tepat bagi Anda yang memiliki anak-anak masih sekolah. Selain Kebun Raya Bogor, anda juga perlu membawa anak-anak ke seluruh musim yang ada di kota Bogor ini. Sebut saja, Musium Perjuangan, Musium Zoologi dan Musium PETA.

    Buku ini pun dapat diakses di National Library of Australia

    Ayo ajak anak-anak Anda belajar sejarah langsung ke lokasinya.

    Untuk pembelian klik disini ya: