Neneng Hendriyani
Ngopi pagi di warkop pinggir jalan,
Wifi lemot, tapi gosip politik berhamburan.
Scroll timeline rame, kayak hajatan
Semua sok pahlawan – padahal? Ya gitu deh. Tahu ‘kan?
Di meja sebelah, Bang Lurah nge-vlog,
pake Fold terbaru, stelan tetap nyolok.
Caption-nya: “Bersama rakyat, minum kopi.”
plus tagar: #DariRakyatUntukRakyat
Padahal doi dateng baru lima detik,
Abis itu cabut, ngilang klasik.
Katanya: “Harga naik itu wajar,” sok bijak.
“Tapi tenang, ekonomi tetap lancar. Jadi jangan galak!”
Warga ngangguk, ngelus dada.
Mo debat juga percuma, ntar dibilang drama.
Dari harga cabe ke capres, ujungnya partai.
Debat seru melebihi komentator F1,
Gas kanan-kiri, tapi nggak nyentuh jalanan.
Semua ribut soal siapa paling hebat,
Padahal pas banjir, yang nolong cuma grup WhatsApp.
Di akhir cuma melongo: kok negara ini mirip kopi hitam pekat?
Kalau kuat, bikin melek dan semangat.
Tapi kalau kebanyakan gula janji basi,
Lambung rakyat luka, hati pun nyeri eh, kena inflasi.
Bogor, 21 Juli 2025
(Syahril, Acep, dkk. (2025). Antologi puisi humor politik: Kitab Omon Omon (hlm. 81–82). Tonggak Pustaka.)
