Oleh: Neneng Hendriyani, M.Pd.
Namaku Ken Jayawardhana. Aku bukanlah seorang raja. Tapi bagi Mama dan Papa aku adalah anak emas. Tahukah kamu apa itu anak emas? Anak emas itu bukanlah anak yang terbuat dari emas. Anak emas adalah anak kesayangan.
Mama selalu memanggilku dengan panggilan sayang Mas Ken. Selain sebagai anak kesayangan aku memang memiliki seorang adik kecil. Jadi untuk membiasakan adikku, Mama memanggilku Mas Ken. Dengan begitu adikku selalu memanggilku Mas Ken.

Aku senang bermain lempar sendal bersama teman-teman. Bila sudah bermain aku sering lupa waktu. Mama sering memanggilku pulang bila aku lupa.
Selain lempar sendal aku juga suka bermain kartu. Aku mahir berhitung lantaran kesukaan yang satu ini. Sehabis bermain, aku selalu menghitung jumlah kartuku. Jadi aku tahu pasti apakah aku menang atau kalah dari sisa kartu yang kumiliki.
Aku memang baru kelas 2 SD. Tapi aku sudah mandiri. Aku bisa memasak untuk makanku sendiri. Bila Mama belum pulang, aku sering memasak masakan kesukaanku sendiri. Jadi aku tidak kelaparan. Aku tahu benar harus berhati-hati bila menyalakan kompor dan menggoreng ikan. Aku tutup saja penggorengannya dengan tutup panci dari kaca. Dengan begitu minyak panasnya tidak akan melukai kulitku. Selain itu, aku bisa melihat apakah ikanku sudah matang atau belum dari kacanya. Bila sudah, aku tinggal membaliknya dengan membuka tutupnya sedikit. Mudah, kan?
Bila ingin minum susu aku tinggal memasak air sedikit. Ambil saja panci kecil lalu beri 3 gelas air. Masak deh di atas kompor. Lima menit pasti matang. Bila ragu, lihat saja apakah sudah bergolak airnya atau belum. Bila sudah bergolak-golak itu artinya air sudah matang. Nah, tinggal tuang susu dan air panas tadi ke dalam cangkir. Hm, enak.
Mama bilang meskipun aku anak laki-laki aku harus bisa memasak. Aku tidak boleh manja. Jadi aku belajar memasak dengan rajin. Pertama, aku belajar memasak air. Ini penting karena aku suka minum susu dan Energen. Di rumahku tidak ada dispenser. Jadi bila mau minum air hangat, kopi, teh manis, susu, dan Energen ya harus memasak air terlebih dahulu. Mama bilang memasak air hingga matang itu jauh lebih sehat daripada meminum air panas dari dispenser. Tahu kenapa? Karena kuman-kuman penyakit yang ada di air banyak yang mati dengan cara dimasak atau direbus.
Setelah itu aku belajar menggoreng telur. Aku suka telur ceplok dan urak arik. Sebelumnya telur harus dicuci bersih agar kotoran ayam yang menempel di kulitnya hilang dan tidak jatuh ke minyak panas. Papa yang mengajariku tentang ini. Nah, bila sudah bersih aku tinggal memecahkannya di atas minyak panas. Tidak lupa aku memberi sejumput garam agar rasanya lebih enak. Sejumput itu artinya satu jumputan atau secuwil. Pernah aku menggunakan sendok kecil saat mengambil garam. Oalah, rasanya jadi keasinan. Sesendok kecil itu lebih dari sejumput, loh. Maka itu harus hati-hati. Jangan sampai kebanyakan memberi garam. Nanti keasinan.
Aku juga belajar memasak nasi. Pertama aku harus belajar mencuci beras dengan bersih. Lalu memasukkannya ke dalam rice cooker. Tiga puluh menit nasi pun matang. Hm, mudah kan? Siapa bilang memasak itu sulit. Buktinya aku bisa.
