“Ma, kok diam aja sih dari tadi?”
Tak ada sahutan. Aku masih berpura-pura tak mendengarnya.
“Ma, Mama marah, ya?” Panik mulai kudengar. Kuintip raut wajahnya. Tak tega.
“Kenapa tadi rumah berantakan, Bang?”
“Oh, itu. Kirain ada apa.” Dia menarik napas. Lega sekali. “Aku tadi habis kerja kelompok di sini. Jadi, ya berantakan. Aku lupa beresin lagi.”
“Sama siapa?”
“Ya, teman-teman sekolah lah. Ada si Maul, Samad, Samud, Fahri, Sandi.”
“Itu teman kelompok belajarmu?”
“Iya. Mereka temen sekelompok aku di SBK.”
“Buat apa tadi dengan mereka sampai berantakan begitu?”
“Buat peta Indonesia, Ma.”
“Siapa yang buat?”
“Ya, bareng-bareng lah buatnya. Aku kan bantu nyediain tempat, gunting, kertas koran, lem. Nah yang bikin bubur kertasnya ya Samad dan Samud. Yang nempelinnya ya si Fahri dan Sandi.” Jelasnya santai seolah semuanya ok.
“Oh, keren banget ya, Kamu. Semua bahan kamu yang nyediain sampai-sampai koleksi koran Mama juga dipakai.” Kataku kesal.
Dia terkekeh. “He he ya maaf. Aku kan nggak tahu kalau itu penting.”
Ih, kesel banget deh. Mau marah, gimana. Nggak marah juga gimana. Aku segera meninggalkannya sendiri di ruang tengah. Kuperiksa lagi korban-korban yang sudah kupisahkan di lokerku. Untunglah masih ada cadangan. Yah, meskipun hanya ada beberapa setidaknya tidak hancur semua dibuat bubur oleh anak-anak.
“Ma, buat apa sih nyimpan koran bekas segala? Mending juga diloakin. Lumayan, kan.” Dia menghampiriku yang masih bengong lantaran bingung kemana harus mencari gantinya.

Kutatap sepasang matanya yang bulat. Setiap kali rasa ingin tahunya muncul kedua matanya membulat.
“Di sana ada tulisan Mama, Bang.” Jawabku sedih. Terbayang betapa susahnya aku mendapatkan koran-koran tersebut. Sebagian besar dikirim oleh kolegaku di Bali. Andai saja mereka tidak mengirimkannya aku pasti tidak punya bukti fisik bahwa aku pernah menulis di salah satu koran lokal Bali.
“Oh. Penting banget ya, Ma?” Tanyanya.
Aku mengangguk. Aku bingung bagaimana menjelaskan kepada anak seusia dia tentang pentingnya koran-koran itu bagiku. Tiba-tiba dia memelukku erat.
“Maafin Abang, ya Ma. Abang nggak tahu itu penting buat Mama.”
Aku memegang bahunya yang berguncang. Kuusap air matanya.
“Sudahlah. Jangan begini. Mama jadi tambah sedih.”
Dia segera melepaskan pelukannya. Ditinggalkannya aku yang masih duduk. Tak lama ia kembali lagi membawa sesuatu di balik punggungnya.
“Ini buat Mama.”
“Ya Allah, Abang. Makasih, ya.” Aku memeluknya erat. Tak kusangka dia telah mengamankan tulisan-tulisanku dari berbagai koran yang kusimpan.
“Dari mana kamu belajar cara mengkliping koran?” Tanyaku.
“Aku belajar dari YouTube. Gimana?”
“Ini sangat keren. Makasih, ya.”
Dibusungkannya dadanya. “Aku gitu loh. Anak pintar” ditepuknya dadanya sendiri. Kuberikan dua jempol kepadanya. Anak yang hebat.
#Day05NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour
Cerita yang bikin termehek. Mantul jempol
Terima kasih, Mr. Toad. Selamat ya untuk buku barunya. Luar biasa.
Anak pintar, anak yang hebat, lahir dari Mama yang luar biasa.
Mantap.. Bisa jadi Cerbung ini
Mba Aam bisa aja. Oh ya selamat ya untuk bukunya. Sukses selalu.
Masya Allah, luar biasa anak yg super keren bu. Se kreatif itu sampai tulisan Mamanya aman di kliping, padahal mungkin mamanya belum kepikiran atau nggak sempet buat kliping itu. Anak keren. Mantaps
Iya nih, Kang Mul. Saya sering menganggap remeh kemampuannya. Ternyata dia begitu perhatian.
Anak hebat mamahnya lebih hebat