Lomba Pertama


(Hapiah Wardah)

Bagaimana rasanya mendampingi anak lomba? Bagaimana meyakinkan diri bahwa anak yang kini jauh itu bisa mengikuti lomba dengan baik? Bagaimana seorang ibu yang terlanjur “nyemplung” ke dunia aksara ini meyakinkan diri bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya?

Sungguh ini adalah pengalaman pertama yang sangat mendebarkan. Rasanya tak percaya akhirnya aku mendaftarkan buah hatiku mengikuti lomba bahasa dan sastra yang disponsori oleh Badan Bahasa, BJB, BNI, perusahaan air minum, dan perusahaan kosmetik tersebut.

Gadis kecil yang sangat mirip denganku itu memang pecinta novel. Aku membesarkannya dengan tumpukan novel kelas berat untuk anak seusianya. Apa yang aku baca itu lah yang ia baca. Aku tak memilih genre khusus untuknya. Maka tak mengherankan bila ia tumbuh dewasa dengan cepat. Ia banyak belajar dari alur cerita kisah novel-novel sejarah, roman, dan petualangan.

Aku tak pernah mengkhawatirkan pergaulannya selama ini. Karena ia hanya bergaul dengan buku-buku saja di rumah. Memang sangat aneh kedengarannya. Tapi itu lah caraku mendidik dan menjaganya. Ia hanya keluar rumah dengan aku, Papa atau Antenya.

Kini anak yang mulai remaja itu sedang berjihad menghafal kalamullah Al Quran. Di bawah bimbingan para ustazah dan ustaznya aku yakin ia baik-baik saja.

Pun, kini saat aku mencoba menantang diriku sendiri akan kemampuannya aku yakin ia baik-baik saja. Ia yang tak pernah berkata tidak dan menyerah sebelum waktunya tiba itu tertawa sumringah saat aku mengabarinya soal lomba Labasa 2 via gawai ustazahnya. Aku melihat rona bahagia di wajahnya. Wajah yang selalu kurindu tiap waktu.

Dengan segala keterbatasan karena jarak dan fasilitas, aku mengupayakan ia siap mengikuti lomba Labasa 2 ini. Dengan bantuan dan bimbingan Ustazah Mimi dan Ustazah Ita aku yakin ia bisa.

Apapun hasilnya nanti aku menerimanya. Inilah dia putriku. Putri kebanggaan suamiku.

Semoga Allah selalu menjaga dan memberkahinya di mana pun ia berada.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218427579030072&id=1511622608

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218427571749890&id=1511622608

@mpk.osissmafour_
@sman_4cibinong
#labasa2kabumi
#sman4cibinong
#mpk.osissmafour
#labasa2020
#lombabahasadansastra
#smptarnis_official
#Day6AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Najis

Pernah mendengar kata najis? Apa sih artinya? Mengapa banyak orang mengucapkannya baik dengan intonasi sedang hingga berat? Adakah makna di balik lima huruf tersebut? Bagaimana perasaan seseorang ketika mendengar kata itu diucapkan di hadapannya? Bagaimana perasaan orang yang dimaksud dengan kata itu? Berdosakah orang yang mengucapkannya? Burukkah orang yang mendapatkannya? Bingungkah orang yang turut mendengarnya? Lalu bagaimana perasaan orang yang mengucapkannya sendiri? Baik-baik saja kah ia? Jangan-jangan ia mengalami sesuatu yang buruk hingga ia menggunakan kata tersebut untuk meluapkan emosinya.

Ah, aku sendiri tak paham. Yang pasti aku merasa ilfil saat mendengar kata itu diucapkan. Tak peduli kepada siapa kata itu dituju. Juga tak peduli mengapa kata itu dipilihnya untuk mengungkapkan emosi yang ada di dalam dirinya. Aku bahkan tak peduli siapa dia.

Satu yang kuketahui adalah bahwa kata najis bermakna jijik (adjective, kata sifat, kotor atau kotoran yang menghalangi seseorang untuk beribadah kepada Allah SWT (KBBI V).

(Karadenan, 16 Oktober 2020; 08:32 wib)

#Day5AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Buah Strawberry Pertama


(Dokumentasi pribadi)

Betapa gembiranya saat mendapatkan pemandangan yang sangat menyegarkan mata pagi ini. Wall planter tumbuh subur makmur. Bahkan strawberry yang kupindahkan saat berbunga kini sudah berbuah. Cantik sekali warna buahnya.

Tadinya aku ragu apakah bisa tanaman yang sedang berbunga dan tumbuh subur itu bisa beradaptasi di lahan yang lebih sempit di wall planter. Dengan ukuran kantong planter yang hanya selebar telapak tangan tentu saja sangat minimalis bagi tanaman yang sudah biasa berada di dalam pot. Apalagi dengan media tanam yang sangat ringan seperti sekam bakar ini tambah membuatku berpikir negatif tentang nasib tanaman-tanamanku tersebut.

Di tempat sebelumnya mereka dipeluk hangat oleh campuran tanah yang diberi pupuk baik kompos maupun pupuk kandang. Tak jarang cacing tanah ikut membentuk keluarga di antara campuran media tanamnya dan membuatnya semakin subur.

Sementara di wall planter, mereka hanya dipeluk oleh sesendok sekam bakar yang tak mungkin dihuni cacing. Hanya bermodalkan air hujan, air beras, dan sedikit cairan pupuk lainnya mereka hidup bertahan di sana.

Pagi ini aku melihat daun-daun hijau mereka tumbuh dan mulai terlihat keluar dari kantongnya. Ranting-ranting muda melati dan mawar pun mulai tumbuh. Lidah buaya pun semakin berkembang. Sementara itu, kumpulan anggrek yang juga ditanam di wall planter hanya dengan sisa sabut kelapa, dan arang ikut melambai manja di bawah lindungan dahan mangga. Beberapa hari ke depan aku yakin sekali buah strawberry yang kini masih berwarna jingga masak. Tak lama lagi aku bisa mencicipi nikmatnya buah strawberry tersebut.

(Karadenan, 16 Oktober 2020; 07:17 wib)

#Day4AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Surat Cinta dari YouTube Creator


(Dokumentasi pribadi)

Memiliki channel YouTube sejak tahun 2017 tidak serta merta membuatku jadi youtuber. Keahlian dan kemampuan terbatas yang kumiliki membuatku minder mengisinya. Jadilah channel tersebut nyaris kosong melompong selama tiga tahun.

Hanya ada beberapa video kegiatan yang kuposting di sana. Tujuannya pun sederhana. Hanya sebagai koleksi pribadi dan rekam jejak digital yang jauh dari kata sempurna.

Saat tiba-tiba dirumahkan dan harus mengajar dari rumah pun channel YouTube yang kumiliki masih apa adanya. Nyaris tak ada tambahan berarti. Aku bingung mau diisi dengan apa saat itu.

Semua kegiatan pembelajaran yang kulakukan selama periode Maret hingga Juni 2020 dilakukan via Google classroom.

Mengapa memilih Google classroom? Karena itulah yang aku tahu. Platform lainnya masih buta. Dengan bantuan WhatsApp group yang isinya tak hanya grup peserta didik tapi juga orang tua peserta didik aku berusaha mengkondisikan kelas yang kupegang. Satu demi satu kuarahkan ke Google classroom. Perlahan namun pasti WhatsApp group mulai ditinggalkan dan beralih ke Google classroom semuanya.

Alhamdulillah, hampir tidak ada masalah di sana. Lambat laun semua terbiasa belajar dan berdiskusi di Google classroom. Orang tua peserta didik pun mulai tidak banyak bertanya tentang segala hal yang berkaitan dengan pelajaran anak-anaknya seperti saat masih menggunakan WhatsApp group. Penilaian yang dilakukan pun lebih mudah. Tinggal unggah saja tugas yang akan diberikan di sana. Tidak lupa mengatur waktu pengerjaannya. Peserta didik otomatis mengetahui adanya tugas tersebut. Mereka bisa bertanya apabila kurang paham dengan tugas yang diberikan. Nilai mereka pun mudah diunduh. Mudah bukan?

Hanya saja yang menjadi masalah bagiku saat itu adalah jaringan internet yang kurang lancar. Akibatnya aku terpaksa begadang hingga dini hari hanya untuk memeriksa tugas mereka. Tidak adil rasanya bila hanya menceklis nama dan memberikan mereka nilai berdasarkan tugas yang masuk. Aku terbiasa memberikan feedback atas apa yang sudah mereka kerjakan dan kirimkan. Itu sebabnya mengapa harus begadang. Betapa melelahkan.

Memasuki tahun pelajaran 2020/2021 aku mulai berpikir. Kesulitan yang kuhadapi selama di kelas sebelumnya harus dicarikan solusinya. Tak mungkin rasanya membuat mereka memahami materi yang kuberikan hanya dengan membaca (read by themselves) saja. Bagi yang kebetulan memiliki kemampuan belajar bergaya visual mungkin tidak akan mengalami kesulitan. Bagaimana dengan yang kinestetik dan auditori?

Berangkat dari pemikiran itulah maka aku memberanikan diri membuat video pembelajaran yang kemudian diunggah ke channel YouTube. Dengan mempelajari beberapa tutorial seperti kinemaster, viva video, dan bandicam serta bertanya kepada ahlinya jadilah video pembelajaran perdanaku, Kd. 3.1 Pemaparan Jati Diri untuk SMA Kelas X.


(Dokumentasi pribadi)

Link video tersebut kemudian kukirim ke semua peserta didikku. Mereka antusias sekali. Meskipun belum pernah bertatap muka di sekolah secara langsung mereka tetap bersemangat mempelajari materi yang kuberikan via YouTube.

Tak kusangka video sederhana itu tidak hanya ditonton oleh peserta didikku. Hingga tulisan ini dibuat ada 5.747 orang yang sudah menonton dan mempelajari materinya. Subhanallah. Aku merasa sangat bahagia. Bahagia karena ternyata aku bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat tak hanya untuk peserta didik yang menjadi tanggung jawab langsung tapi juga bagi orang lain yang membutuhkan materi tersebut.

Kini, channel YouTubeku sudah mulai berisi banyak video pembelajaran. Kudedikasikan waktuku untuk membuat materi-materi bahasa Inggris yang kemudian kuunggah di sana.

Harapanku sederhana. Aku ingin video pembelajaran sederhana yang kubuat bermanfaat bagi sesama. Dengan begitu ilmu yang kumiliki bermanfaat.


(dokumentasi pribadi)

Alhamdulillah, 9 Oktober lalu aku mendapat surat cinta dari YouTube Creators. Isinya tentang performa channel YouTubeku selama satu bulan terakhir. Ada tambahan pelanggan sebanyak 29 orang dan 2.387 penayangan dengan jumlah total waktu tonton sebanyak 6.323 menit. Jadi hingga hari ini sudah ada 632 subscriber. Wow, ini sungguh luar biasa bagiku.


(dokumentasi pribadi)

Ini sungguh luar biasa. Semoga ke depannya aku diberikan kesehatan dan kemampuan untuk terus mengunggah video-video pembelajaran berikutnya agar makin banyak orang merasakan manfaat channel YouTubeku.

(Bogor, 10 Oktober 2020)
#Day4AISEIWritingChallenge


BIOGRAFI PENULIS
Neneng Hendriyani, M.Pd, guru Bahasa Inggris di SMA N 4 Cibinong dan penulis 11 judul buku ber-ISBN; SMAFOUR in students English writing (mendongkrak motivasi dan kemampuan siswa menulis berbagai teks bahasa inggris) (2020), Albatros (2019), Enrichment Book for XI SMK Based on Curriculum 2013 revision (2018), Antologi Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat (2018), Let’s Learn English Together (2018), Perlukah Kita Jujur? (2018), Setangkup Rindu dari Masa Lalu (2017), Janji Firly (2017), Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa Ke Masa (2017), Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017) ini juga menulis esai, artikel dan resensi yang terbit di media massa (koran) lokal Pikiran Rakyat, Bali dan jurnal PGRI Pusat dan Balai Bahasa Banten. Juga menjadi pembimbing siswa dalam menulis buku. Sudah ada 13 judul buku yang dihasilkan oleh siswa binaannya. 2 buku saat masih aktif mengajar di SMK Negeri 1 Cibinong, 11 buku ditulis oleh siswa SMA Negeri 4 Cibinong.

Selain itu juga aktif mengikuti lomba penulisan puisi dengan tema yang ditentukan panitia penyelenggara untuk tingkat nasional dan internasional. Karya yang berhasil lolos seleksi panitia tingkat nasional dan internasional Senyuman Lembah Ijen (Antologi puisi Nusantara ditulis bersama penyair Asia Tenggara) 2018, antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia, 2018, antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, 2018, antologi Puisi penyair Asean 2018 (Kinanti di Kampar Kiri), Antologi Puisi penyair Asean 2019 (Membaca Asap)

Karya Nulis Bareng yang tercatat pernah dihasilkan adalah Jangan Berhenti Mengajar (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Puisi (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Esai (2017), Antologi Fikmin Pelita di Mata Pelangi (2019), 1001 Membuat Guru-Siswa Suka Baca Buku (Buku 2) (2019), Untuk Anakku 2 (2019), Bertualang ke Negeri Satwa (Kumpulan Dongeng Fabel) (2020), 52 Kisah Dongeng Fabel Menginspirasi Buah Hati (2020).

Wall Planting: Hiburan Sederhanaku


(Dokumentasi pribadi)

Bekerja dari rumah alias work from home menyisakan kejenuhan dan kepenatan tersendiri bagiku. Betapa tidak. Selama pembelajaran dilaksanakan dari rumah aku harus selalu berkutat dengan gawai pintar, laptop, dan internet.

Sejak pukul lima pagi sudah stay di grup peserta didik sekadar untuk menyapa dan mulai mengingatkan mereka akan jadwal kegiatannya pada hari tersebut. Selanjutnya beraktivitas pagi seperti biasa mengurus kebutuhan anggota keluarga. Lalu dilanjut lagi masuk kelas via zoom pada pukul 10 wib.

Sebenarnya kegiatan mengajar di zoom ini cuma sebentar. Hanya 1,5 jam saja per minggu untuk satu tingkat. Namun, persiapannya yang lama. Yaitu, menyiapkan bahan ajar dan alat tesnya.

Setelah melaksanakan kbm daring aku bisa istirahat sejenak. Sebelum lanjut lagi mengajar di tingkat berikutnya. Masih dengan menggunakan aplikasi zoom tentunya. Barulah 1,5 jam kemudian aku bisa rehat untuk ishoma.

Setelah itu aku menyiapkan tenaga untuk begadang pada malam hari; mengoreksi tugas yang dikirim ke kantong tugas (Google drive).

Mengapa harus begadang? Ya, karena jaringan internet lebih lancar pada malam hari.

Itulah sebabnya aku memilih mengoreksi semua tugas peserta didik malam-malam.
Nah, dalam kondisi di mana otak dan jari jemariku lelah dan tak ingin melakukan apapun aku beralih ke bagian yang paling aku suka. Yaitu, berkebun.

Sebenarnya ini bukan berkebun dalam arti yang sebenarnya. Lahan yang sempit dan ketiadaan pekarangan tidak memungkinkan untukku berkebun dengan leluasa.
Namun demikian, berkat wall planter aku bisa melakukannya. Tinggal pasang wall planter ke dinding tembok, isi sedikit sekam, pupuk kandang, beres.

Tanamannya aku pilih dari koleksi yang sudah ada. Yaitu, melati, mawar, anggrek, begonia, lidah buaya, cabe, strawberry, bayam merah, bayam hijau. Pokoknya apa yang ada sebelumnya ditanam ulang di sana.

Bermain sedikit kotor-kotoran di bawah sinar matahari cukup memberi hiburan tersendiri bagiku selama bekerja dari rumah ini.

Inilah hiburan sederhanaku. Bagaimana denganmu?

(Karadenan, 9 Oktober 2020; 8:04 am)

#Day3AISEIWritingChallenge

Aku dan GLN Gareulis Jabar

Karya: Neneng Hendriyani (Guru SMA N 4 Cibinong)

Aku masih hijau katamu
Dalam bingkai ilmu masihlah kaku
Banyak ragu juga gagu
Akibat jauh dari buku
Kini aku datang padamu
Berguru di masa tak menentu
Berharap ada air kehidupan
Puaskan dahaga jua lapar
Lewat Gareulis aku mampu
membaca makna kalimatmu
terselip di antara debu
terlupa di antara tumpukan masa
lewat Gareulis aku coba
pegang lagi cover tua
telaah isi jua makna
bekal sisa usia

(Bogor, 08 Oktober 2020)

Apartemen Mencit


(Dokumentasi pribadi)

Menyebarnya wabah Covid19 rupanya tak hanya mempengaruhi ekonomi global tetapi juga rumah tanggaku. Dengan anak lima yang masih kecil kondisi ini membuat aku dan suami harus berusaha mencari peluang usaha baru agar bisa menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Beruntung kami berdua memiliki semangat yang sama untuk mencari usaha meskipun minim pengalaman dan kemampuan.
Berbekal video tutorial maka jadilah kami peternak mencit alias tikus putih. Dengan latar belakang pendidikan teknik mesin suami membangun apartemen mencitnya seorang diri. Ketekunan dan kegigihannya belajar merawat mencit lambat laun membuahkan hasil.
Pertengahan Maret 2020 saat kami harus menjalani WFH (Work From Home) kami memulai usaha kecil ini. Dengan modal hanya lima ekor mencit dan satu bak plastik kecil kami bertawakal kepada Sang Pemberi rejeki. Kiranya Allah berkenan mengabulkan permohonan kami. Satu demi satu pembeli mulai berdatangan ke rumah.
Jangan tanya soal keuntungannya. Harga pakan yang mulai menanjak tidak seimbang dengan harga jual mencit membuat kami terpaksa menjual rendah ternak kami. Ini memang berat.
Ini memang berat. Namun, setidaknya kami masih punya aktivitas positif yang bisa membantu kami menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama uang jajan anak-anak.

(Karadenan, 8 Oktober 2020; 08:16 am)

#Day2AISEIWritingChallenge

Aku dan Bukuku


(Dokumentasi pribadi)

Sebelumnya aku tak pernah bermimpi menjadi penulis. Tak pernah sama sekali. Namun demikian aku tak menyesal bila kemudian aku dikenal sebagai guru penulis.

Sejak 2017 aku sudah menghasilkan 47 buku; solo, dan antologi. Dua di antaranya adalah kumpulan puisi.
Buku pertamaku ditulis dalam waktu satu minggu. Judulnya, Alih kode dan campur kode: strategi siswa dalam berbicara bahasa Inggris. Buku ini adalah inti sari dari apa yang sudah kutulis dalam skripsi dan tesisku.

Di dalam waktu yang sama pula aku berhasil menyelesaikan buku kedua. Yaitu, Tips mudah menulis proposal dan laporan penelitian tindakan kelas. Buku ini ditulis dari serangkaian pengalaman pribadi selama menyusun laporan penelitian tindakan kelas pada tahun pelajaran 2016/2017.

Mengapa keduanya ditulis dalam waktu satu minggu? Karena itulah waktu yang diberikan oleh Panitia Pelatihan Menulis SAGUSABU Media Guru Jawa Barat. Bagi mereka yang berhasil menulis dalam waktu singkat tersebut berhak mendapatkan piagam penghargaan sebagai 100 Penulis Guru Jawa Barat.

Dalam waktu dua minggu berikutnya aku tak lagi bisa menghentikan diriku untuk menulis. Kutulis sebuah cerita tentang seorang gadis yang patah hati dalam waktu hanya tiga hari. Kisah tersebut kemudian dicetak ber-ISBN di bawah judul Janji Firly.

Sejak itulah aku terus menulis. Tak jarang aku pun mengikuti ajang lomba. Sayembara menulis puisi adalah kegiatan yang acap kali kuikuti sepanjang tahun 2017-2019. Hadiahnya sangat mengesankan apabila aku berhasil memenangkan sayembara tersebut; jalan-jalan gratis ke berbagai tempat yang belum pernah kukunjungi.

Selama Pandemi pun aku tak berhenti menulis. Kuikuti sebuah lomba menulis yang diselenggarakan oleh kwikku. Di bawah judul novel teenlit Di Sepanjang Rel Kereta aku menguji diriku sendiri.

Bila orang bertanya mengapa aku menulis, aku menjawabnya dengan singkat. Menulis adalah healing therapy bagiku. Dengan menulis apa yang aku tahu, jalani, rasai, aku ingin memberikan pesan moral kepada pembaca bagaimana seharusnya menjadi orang yang baik. Baik dalam arti jujur, apa adanya dan saling menghargai.
(Karadenan, 07 Oktober 2020; 6:43am)

#Day1AISEIWritingChallenge
https://www.kwikku.com/novel/read/di-sepanjang-rel-kereta
#FalconXKwikku #FalconScriptHunt

Di Sepanjang Rel Kereta

Nunu adalah anak perempuan yang cerdas dan manis. Semua orang mengenalnya sebagai gadis yang periang. Cita-citanya cukup tinggi untuk masa itu, menjadi WARA (Wanita Angkatan Udara). Sayang konflik pekerjaan ibunya membuatnya harus bersekolah di sekolah swasta yang tidak pernah diimpikannya hingga kemudian ia dijauhi teman-teman SMP-nya. Semua kejadian itu membuatnya down dan mendorongnya menarik diri dari pergaulan.
Di sekolah SMA Al Nur inilah beruntung ia bertemu kembali dengan kawan lamanya sewaktu di SD, Ucup. Sejak hari pertama di SMA, Ucup menjadi bodyguardnya. Mereka selalu bersama-sama berjalan bersisian di sepanjang rel kereta yang sedang dibangun. Tak jarang mereka terlihat begitu dekat dan mesra. Semua kawan pun mengira mereka jadian.
Sementara itu Yudi kawannya di ekskul menyukainya dan selalu mengejar-ngejarnya. Sikap Yudi pun seringkali membuat Ucup gusar. Ada saja tingkah konyol yang dilakukan Yudi demi mendapatkan cinta Nunu. Sayang dari hari ke hari tingkah lakunya semakin kelewatan hingga membuat Nunu ilfil. Semua teman dekat Yudi menyerang dan mem-bully-nya, termasuk teman-teman cewek yang ada di kelasnya. Alih-alih peduli dengan sikap buruk mereka, Nunu justeru asyik mengejar perhatian Aan, cowok terganteng dan Qari kebanggaan kepseknya. Ia tidak pernah tahu bahwa Ika, kawan sebangkunya saat di SD dulu yang menjadi teman satu SMA dengannya menaruh hati juga kepada si pemuda alim tersebut.
Di kelasnya sendiri Nunu yang tidak jago Matematika harus berjuang mati-matian agar tidak mendapat hukuman Pak Tri dan di-bully cowok ganteng yang diam-diam menaruh hati kepadanya. Sayang, gaya si cowok yang urakan, kasar dan sering menyulut emosi membuat Nunu menjauhinya.
Melihat Ucup berani bergandengan tangan dengan Diana, gebetannya, membuatnya sadar bahwa ia tak mungkin selalu merepotkan Ucup dari tingkah laku Yudi yang kampungan, ataupun tangisannya saat Aan mengacuhkannya juga cerita mengesalkan tentang Tio yang kerap mem-bully-nya di kelas.
Ia mulai menjaga jarak dengan Ucup. Perlahan ia mulai paham bahwa Tio, cowok yang selalu mem-bully-nya menyukainya. Saat ia mulai menerima perhatian Tio dengan senang hati, Ucup memberikannya kejutan yang tak pernah disangka-sangka. Tio pun marah lantaran cemburu.
Nunu bingung sendiri. Ia tak bisa memilih salah satunya. Mereka semua memiliki arti baginya. Ditambah lagi datangnya surat dari Aan yang pindah ke luar kota menimbulkan rasa nyeri tiada tara. Bukan soal perasaan, tapi latar belakang mereka lah yang membuatnya akhirnya berada dalam dilema. Di sepanjang rel kereta semua kisahnya berawal.

https://www.kwikku.com/novel/read/di-sepanjang-rel-kereta

#FalconXKwikku
#FalconScriptHunt

***