KAMPANYE KINERJA ASN JAWA BARAT: HARI-HARI TERAKHIR MEMENUHI TUGAS

24 Agustus 2021, pukul 08.28 WIB, atasan menginformasikan sebuah tugas yang lumayan membuat dahi berkenyit pagi-pagi. Tugas yang bisa dibilang mudah, namun sukar itu membuat semua pegawai kemudian berusaha memenuhinya sebelum tenggat waktu 29 Agustus 2021. Itulah tugas yang paling membuat jantung berdebar kencang selama perjalanan dinasku di sekolah tersebut. Yaitu membuat video Kampanye Kinerja ASN Jawa Barat.

25 Agustus 2021, berbekal nekad akhirnya selesai juga tugas yang diinstruksikan oleh atasan. Dengan menggunakan Canva for Education, jadilah presentasi sederhana berdurasi cukup singkat tentang Kampanye Kinerja ASN Jawa Baratku. Inilah video teranyar yang kuunggah ke channel youtube Neng Hendri Suparman.

Dalam video tersebut aku menjelaskan tentang kinerja, dan target individu yang hendak dicapai. Bismillahirrahmanirrahim, semoga video Kampanye Kinerja ASN Jawa Barat yang kuunggah sebagai bagian dari tugasku di hari-hari terakhir menuju tenggat waktu tersebut dapat bermanfaat bagi semuanya .

 

(Cibinong, 27 Agustus 2021)

Lewat Tulisan

“Ma, kok Mama nulis terus sih? Nggak bosen?” Tanyanya.
Kuusap punggungnya. Malam kian larut. Detik demi detik terus berlari mengejar pagi. Dia masih terjaga menemaniku.

“Sebentar, ya. Sebentar lagi. Ok.”

Dia masih menunggu. Mau tidak mau aku harus menjawabnya.

“Ini bukan soal setoran tulisan, Nak. Ini soal berbagi. Berbagi cerita, ide, pengalaman, impian dan juga harapan. Tulisan yang Mama tulis dan publikasikan di blog ini adalah kumpulan ide, pengalaman, impian dan harapan Mama selama ini. Ada banyak kisah yang tersebar di sini. Ada banyak informasi yang berguna di sini. Ada tentang kamu, juga yang lainnya.”

“Apa itu semua bermanfaat, Ma? Mending Mama belajar bikin kue aja deh dari YouTube. Kue buatan Mama kan bantet terus.” Bibirnya manyun.

Aku tertawa. Teringat beberapa hari lalu kue brownis yang kubuat bantet. Itu bukan kali pertama aku menghasilkan kue yang bantet. Aku sudah menonton video tutorialnya berkali-kali. Semuanya bahkan dicatat rapi. Tetapi hasilnya ya begitu terus. Tetap bantet.

Aku tak marah mendengar anakku berkata begitu. Dia belum paham. Suatu hari dia akan paham bahwa lewat tulisan kita bisa berbagi banyak hal yang bermanfaat untuk sesama.


(Dok.Pribadi)

Tulisan adalah sahabat terbaik. Dia menjadi karya yang indah saat kita menginginkannya menjadi indah. Dia bisa menjadi penasihat saat kita menulisnya dengan penuh kesadaran untuk menasihati seseorang yang kita cintai. Bahkan dia bisa menjadi wakil dari diri kita sendiri saat kita tidak bisa menyampaikannya secara langsung.

Jadi mari kita menulis dan berbagi. Lewat tulisan kita bagi kisah hidup yang bisa menjadi sumber motivasi dan inspirasi. Lewat tulisan kita titip harapan untuk masa depan. Lewat tulisan kita bisikkan semua harapan untuk orang-orang tersayang.

Jangan berhenti menulis. Teruslah menulis. Jangan merasa sibuk dan kehabisan ide. Ide ada di sekitar kita dengan bebasnya.

#Day10NovAISEIWritingChallenge
#gareulis
#hikmahmenulis
#lewattulisanmariberdakwah
#13nov2020
#0853pm

Hari Pahlawan Buat Mas Ken

“Ma, kok pakai baju korpri? Kan biasanya Mama nggak pernah pakai sejak mengajar dari rumah?” Dia bertanya saat aku sedang asyik mematut di depan kaca.

“Hm, hari ini Hari Pahlawan, Mas”.

“Oh. Mengapa kita harus memperingati Hari Pahlawan? Memang kalau nggak diperingati nggak boleh, ya?”

“Maksudnya?”

“Iya, apa nanti dihukum bila nggak diperingati?”

“Siapa yang hukum?”

“Aku nggak tahu. Makanya aku tanya.”

Aku bingung menjawabnya. Masa iya kujawab hari ini aku memakai seragam korpri karena kubaca pengumuman di grup pegawai. Kan nggak lucu. Apa kata dia nanti. Anak yang satu ini sangat kritis. Dia tidak akan puas mendapati jawaban yang asal-asalan.

“Mas. Kita ini kan bangsa yang beradab. Artinya mampu menghargai orang lain. Nah, kita memperingati Hari Pahlawan pada hari ini karena kita menghormati jasa-jasanya. Mereka sudah berkorban banyak agar kita bisa hidup merdeka hari ini. Kita bisa bersekolah dengan aman dan nyaman berkat jasa-jasa mereka. Coba kalau dulu mereka nggak melawan penjajah apa kita bisa sekolah? Bagaimana mau sekolah kalau penjajah melarang kita semua ke sekolah?” Aku balik bertanya.

“Kenapa mereka melarang kita sekolah? Kan di sekolah cuma belajar, Ma?” Tanyanya.

“Mas, penjajah itu nggak mau rakyat jajahannya pintar seperti kamu. Kalau rakyat jajahannya pintar mereka nggak bisa menjajah lagi.”

“Kok gitu?”

“Ya iyalah. Mau menjajah gimana kalau semuanya pintar? Semua pasti berontak kan karena tahu siapa diri mereka dan kemampuan yang mereka miliki.”

“Kalau gitu kenapa aku juga harus belajar menghapal nama-nama pahlawan? Memang penting ya, Ma menghapal nama-nama mereka? Apa kalau nggak hapal nanti nggak masuk surga?”

Aku kaget mendengarnya. Dapat dari mana itu pertanyaan model begitu. Ya, Tuhan.

“Mas, kamu menghapal nama-nama pahlawan itu disuruh siapa?” Aku balik bertanya. Ini untuk mengulur waktu sambil mencari jawaban yang tepat untuknya.

“Bu Guru lah. Kemarin dia bilang aku harus membaca kisah pahlawan. Nanti aku disuruh presentasi menjelaskan tentang kenapa dia disebut pahlawan. Eh, Ma. Tahu nggak. Aku nanti pakai voice note loh di WhatsApp buat presentasinya. Keren, kan.”

Aku tertawa mendengarnya. Ya, ampun ini anak.

“Itu mah bukan disuruh menghapal nama-nama pahlawan, Mas. Tetapi disuruh baca dan pelajari soal pahlawan. Kamu mau baca ceritanya siapa?”

“Baca? Nggak, ah. Aku kan sudah nonton filmnya Sultan Agung. Itu aja yang aku jelasin nanti. Sultan Agung kan pahlawan juga.” Sorot matanya terlihat berapi-api. Aku bangga melihat kepercayaan dirinya.


(Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sultan_Agung_dari_Mataram)

“Eh, Ma. Mama tahu nggak kenapa Sultan Agung tetap menyerbu Batavia padahal dia juga nggak yakin menang?” Tiba-tiba dia bertanya saat aku sudah siap menyalakan mesin Vario.

“Mas, menurutmu sendiri apa?” Aku memancingnya.

“Kalau kata aku sih dia ingin membuktikan bahwa bukan hasil perjuangan yang ingin dia capai. Dia ingin menunjukkan bahwa sebagai Raja dia menolak sikap angkuh dan curang penjajah. Jadi dia menunjukkan usahanya. Ya, meskipun kalah tetapi dia hebat.” Anakku menjawabnya dengan penuh semangat.

Aku tersenyum kepadanya. Andai tidak takut terlambat aku pasti sudah membalasnya. Segera aku berpamitan. Sepanjang jalan aku kembali merenungi kata-kata anakku tadi. Bukan soal menang yang ingin dicapai oleh sang tokoh yang sangat dikaguminya. Tetapi soal semangatnya yang pantang menyerah.

Selamat Hari Pahlawan. Semoga Indonesia Jaya.

#Day09NovAISEIWritingChallenge
#haripahlawan
#sultanagung
#masken
#gareulis
#aisei
#13nov2020
#0823pm

Aku dan Dia

Dalam sebuah kompetisi menang dan kalah adalah hal biasa. Tak ada yang istimewa. Bagi pemenang ini bukan sebuah akhir perjuangan. Masih ada kompetisi lanjutan yang menunggu untuk ditaklukkan. Bagi yang kalah pun sama. Meskipun kecewa tetapi tetap harus menyimpan semangat baja. Esok lusa harus kembali turun ke gelanggang menguji kemampuan. Apakah masih sama, ataukah sudah naik kemampuannya? Begitulah seharusnya yang dilakukan oleh keduanya.

Aku yang telah terjun langsung mendidik dan melatihnya pun sama. Meskipun sadar betul anak sulungku masih terlalu hijau rasanya tak kuasa melihatnya kalah. Sebelum menguatkan dirinya dengan segudang kalimat motivasi yang pernah kubaca aku sudah jauh-jauh hari menasihati diri sendiri. Inilah kompetisi. Ini pasti terjadi. Menang kalah adalah hal yang biasa terjadi.

Melihat wajahnya nan polos berlatih tertatih-tatih mempelajari apa yang baru dikenalnya membuatku insyaf. Dia bukan aku. Meskipun wajah kami mirip tetapi talenta berbeda.

Mimpi-mimpi yang dia miliki tak sama dengan mimpiku. Harapan yang dipupukkembangkannya jauh berbeda denganku. Motto hidupnya begitu jelas. Menuju tak terbatas dan melampauinya. Begitu teguh. Sementara aku, aku hanya percaya langit tak selamanya kelabu. Selalu ada pelangi setelah hujan turun. Itulah yang membuat kami berbeda.

Meskipun dia kalah dia menerimanya dengan lapang dada. Tak ada derai air mata. Tak ada rasa sakit tergambar di wajahnya.

Sementara aku yang sudah khawatir akan rasa tidak nyaman yang bakal menghampirinya justeru kalang kabut. Kubaca lagi kumpulan kata mutiara yang pernah kubaca saat masih di jalan Pemuda Bogor. Sekuat tenaga aku berusaha menghapal semuanya. Agar bila dia menangis aku bisa membujuknya dengan mengutip kata-kata mutiara itu.


(Dokumentasi pribadi)

Andai aku tahu betapa dewasa dirinya tak perlu kuhabiskan waktu bersama kumpulan kata-kata tersebut. Cukup nikmati segelas kopi hangat dan roti bakar saja. Lalu biarkan angin malam bercerita betapa dia telah cukup dewasa belajar mandiri di sana. Menikmati siraman matahari pagi sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang menganggap air mata adalah tanah airnya.

#13november2020
#08.00pm
#Day08NovAISEIWritingChallenge
#gareulis
#smafour
#labasa2
#kabumisastra

Lomba Pertama


(Hapiah Wardah)

Bagaimana rasanya mendampingi anak lomba? Bagaimana meyakinkan diri bahwa anak yang kini jauh itu bisa mengikuti lomba dengan baik? Bagaimana seorang ibu yang terlanjur “nyemplung” ke dunia aksara ini meyakinkan diri bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya?

Sungguh ini adalah pengalaman pertama yang sangat mendebarkan. Rasanya tak percaya akhirnya aku mendaftarkan buah hatiku mengikuti lomba bahasa dan sastra yang disponsori oleh Badan Bahasa, BJB, BNI, perusahaan air minum, dan perusahaan kosmetik tersebut.

Gadis kecil yang sangat mirip denganku itu memang pecinta novel. Aku membesarkannya dengan tumpukan novel kelas berat untuk anak seusianya. Apa yang aku baca itu lah yang ia baca. Aku tak memilih genre khusus untuknya. Maka tak mengherankan bila ia tumbuh dewasa dengan cepat. Ia banyak belajar dari alur cerita kisah novel-novel sejarah, roman, dan petualangan.

Aku tak pernah mengkhawatirkan pergaulannya selama ini. Karena ia hanya bergaul dengan buku-buku saja di rumah. Memang sangat aneh kedengarannya. Tapi itu lah caraku mendidik dan menjaganya. Ia hanya keluar rumah dengan aku, Papa atau Antenya.

Kini anak yang mulai remaja itu sedang berjihad menghafal kalamullah Al Quran. Di bawah bimbingan para ustazah dan ustaznya aku yakin ia baik-baik saja.

Pun, kini saat aku mencoba menantang diriku sendiri akan kemampuannya aku yakin ia baik-baik saja. Ia yang tak pernah berkata tidak dan menyerah sebelum waktunya tiba itu tertawa sumringah saat aku mengabarinya soal lomba Labasa 2 via gawai ustazahnya. Aku melihat rona bahagia di wajahnya. Wajah yang selalu kurindu tiap waktu.

Dengan segala keterbatasan karena jarak dan fasilitas, aku mengupayakan ia siap mengikuti lomba Labasa 2 ini. Dengan bantuan dan bimbingan Ustazah Mimi dan Ustazah Ita aku yakin ia bisa.

Apapun hasilnya nanti aku menerimanya. Inilah dia putriku. Putri kebanggaan suamiku.

Semoga Allah selalu menjaga dan memberkahinya di mana pun ia berada.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218427579030072&id=1511622608

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218427571749890&id=1511622608

@mpk.osissmafour_
@sman_4cibinong
#labasa2kabumi
#sman4cibinong
#mpk.osissmafour
#labasa2020
#lombabahasadansastra
#smptarnis_official
#Day6AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Buah Strawberry Pertama


(Dokumentasi pribadi)

Betapa gembiranya saat mendapatkan pemandangan yang sangat menyegarkan mata pagi ini. Wall planter tumbuh subur makmur. Bahkan strawberry yang kupindahkan saat berbunga kini sudah berbuah. Cantik sekali warna buahnya.

Tadinya aku ragu apakah bisa tanaman yang sedang berbunga dan tumbuh subur itu bisa beradaptasi di lahan yang lebih sempit di wall planter. Dengan ukuran kantong planter yang hanya selebar telapak tangan tentu saja sangat minimalis bagi tanaman yang sudah biasa berada di dalam pot. Apalagi dengan media tanam yang sangat ringan seperti sekam bakar ini tambah membuatku berpikir negatif tentang nasib tanaman-tanamanku tersebut.

Di tempat sebelumnya mereka dipeluk hangat oleh campuran tanah yang diberi pupuk baik kompos maupun pupuk kandang. Tak jarang cacing tanah ikut membentuk keluarga di antara campuran media tanamnya dan membuatnya semakin subur.

Sementara di wall planter, mereka hanya dipeluk oleh sesendok sekam bakar yang tak mungkin dihuni cacing. Hanya bermodalkan air hujan, air beras, dan sedikit cairan pupuk lainnya mereka hidup bertahan di sana.

Pagi ini aku melihat daun-daun hijau mereka tumbuh dan mulai terlihat keluar dari kantongnya. Ranting-ranting muda melati dan mawar pun mulai tumbuh. Lidah buaya pun semakin berkembang. Sementara itu, kumpulan anggrek yang juga ditanam di wall planter hanya dengan sisa sabut kelapa, dan arang ikut melambai manja di bawah lindungan dahan mangga. Beberapa hari ke depan aku yakin sekali buah strawberry yang kini masih berwarna jingga masak. Tak lama lagi aku bisa mencicipi nikmatnya buah strawberry tersebut.

(Karadenan, 16 Oktober 2020; 07:17 wib)

#Day4AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour