“Ma, kok pakai baju korpri? Kan biasanya Mama nggak pernah pakai sejak mengajar dari rumah?” Dia bertanya saat aku sedang asyik mematut di depan kaca.
“Hm, hari ini Hari Pahlawan, Mas”.
“Oh. Mengapa kita harus memperingati Hari Pahlawan? Memang kalau nggak diperingati nggak boleh, ya?”
“Maksudnya?”
“Iya, apa nanti dihukum bila nggak diperingati?”
“Siapa yang hukum?”
“Aku nggak tahu. Makanya aku tanya.”
Aku bingung menjawabnya. Masa iya kujawab hari ini aku memakai seragam korpri karena kubaca pengumuman di grup pegawai. Kan nggak lucu. Apa kata dia nanti. Anak yang satu ini sangat kritis. Dia tidak akan puas mendapati jawaban yang asal-asalan.
“Mas. Kita ini kan bangsa yang beradab. Artinya mampu menghargai orang lain. Nah, kita memperingati Hari Pahlawan pada hari ini karena kita menghormati jasa-jasanya. Mereka sudah berkorban banyak agar kita bisa hidup merdeka hari ini. Kita bisa bersekolah dengan aman dan nyaman berkat jasa-jasa mereka. Coba kalau dulu mereka nggak melawan penjajah apa kita bisa sekolah? Bagaimana mau sekolah kalau penjajah melarang kita semua ke sekolah?” Aku balik bertanya.
“Kenapa mereka melarang kita sekolah? Kan di sekolah cuma belajar, Ma?” Tanyanya.
“Mas, penjajah itu nggak mau rakyat jajahannya pintar seperti kamu. Kalau rakyat jajahannya pintar mereka nggak bisa menjajah lagi.”
“Kok gitu?”
“Ya iyalah. Mau menjajah gimana kalau semuanya pintar? Semua pasti berontak kan karena tahu siapa diri mereka dan kemampuan yang mereka miliki.”
“Kalau gitu kenapa aku juga harus belajar menghapal nama-nama pahlawan? Memang penting ya, Ma menghapal nama-nama mereka? Apa kalau nggak hapal nanti nggak masuk surga?”
Aku kaget mendengarnya. Dapat dari mana itu pertanyaan model begitu. Ya, Tuhan.
“Mas, kamu menghapal nama-nama pahlawan itu disuruh siapa?” Aku balik bertanya. Ini untuk mengulur waktu sambil mencari jawaban yang tepat untuknya.
“Bu Guru lah. Kemarin dia bilang aku harus membaca kisah pahlawan. Nanti aku disuruh presentasi menjelaskan tentang kenapa dia disebut pahlawan. Eh, Ma. Tahu nggak. Aku nanti pakai voice note loh di WhatsApp buat presentasinya. Keren, kan.”
Aku tertawa mendengarnya. Ya, ampun ini anak.
“Itu mah bukan disuruh menghapal nama-nama pahlawan, Mas. Tetapi disuruh baca dan pelajari soal pahlawan. Kamu mau baca ceritanya siapa?”
“Baca? Nggak, ah. Aku kan sudah nonton filmnya Sultan Agung. Itu aja yang aku jelasin nanti. Sultan Agung kan pahlawan juga.” Sorot matanya terlihat berapi-api. Aku bangga melihat kepercayaan dirinya.

(Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sultan_Agung_dari_Mataram)
“Eh, Ma. Mama tahu nggak kenapa Sultan Agung tetap menyerbu Batavia padahal dia juga nggak yakin menang?” Tiba-tiba dia bertanya saat aku sudah siap menyalakan mesin Vario.
“Mas, menurutmu sendiri apa?” Aku memancingnya.
“Kalau kata aku sih dia ingin membuktikan bahwa bukan hasil perjuangan yang ingin dia capai. Dia ingin menunjukkan bahwa sebagai Raja dia menolak sikap angkuh dan curang penjajah. Jadi dia menunjukkan usahanya. Ya, meskipun kalah tetapi dia hebat.” Anakku menjawabnya dengan penuh semangat.
Aku tersenyum kepadanya. Andai tidak takut terlambat aku pasti sudah membalasnya. Segera aku berpamitan. Sepanjang jalan aku kembali merenungi kata-kata anakku tadi. Bukan soal menang yang ingin dicapai oleh sang tokoh yang sangat dikaguminya. Tetapi soal semangatnya yang pantang menyerah.
Selamat Hari Pahlawan. Semoga Indonesia Jaya.
#Day09NovAISEIWritingChallenge
#haripahlawan
#sultanagung
#masken
#gareulis
#aisei
#13nov2020
#0823pm
Anak yang kritis dan pintar
Aamiin. Insya Allah. Thanks ya Bu.