Sepasang Mata Biru

oleh: Neneng Hendriyani

Perjalanan kembali ke Semarang tidaklah semudah perjalanan awalku. Kereta kuda yang kutumpangi berkali-kali diperiksa di Pos antar kampung oleh para centeng berpakaian serba hitam. Meskipun kami bangsawan Jawa namun kami tidak mendapatkan priviledge apa pun. Siapa lah kami di tanah jajahan? Hanya sepasang inlander yang kebetulan memiliki beberapa pengawal. Sisanya, kami hanyalah manusia biasa.

Setelah matahari menuju barat, kereta kami baru tiba di Haven Kanaal atau Batavia’s Roadstead. Ini adalah pelabuhan terbesar dan utama di Batavia sejak abad ke-17. Meskipun sebuah pelabuhan namun kondisinya tidak sebaik yang ada di Eropa saat itu. Aku beruntung tiba di sore hari. Jika tidak, uh rasanya pasti tak tahan. Bau menyengat, antara bau amis dan koco berpadu mengocok isi perut. Udaranya panas, nyelekep. Gerah. Suasananya ramai, lebih ramai dari pasar karena di sini semua pedagang dari berbagai negara membongkar muatan dagangannya serentak menggunakan perahu-perahu kecil ke daratan. Proses bongkar muat ini lama. Bisa seharian. Bahkan bisa beberapa hari. Karena kanal ini sangat sempit dan kecil, maka tak jarang sering terjadi tabrakan perahu terutama ketika cuaca buruk.

Mengingat kondisinya yang seperti itu, banyak sekali pedagang Eropa dan Cina yang complaint ke Gubernur Jenderal untuk membangun pelabuhan baru. Sayang, keluhan ini dianggap angin lalu. Wajar sih, biaya memindahkan pelabuhan lama ke Tanjung Priok saat itu sangat besar. Pemerintah Hindia Belanda belum memiliki dana besar. Jadi, di sinilah aku sekarang, harus sabar mengantre untuk naik kapal menuju Semarang.

Aku duduk di dermaga, tepat di sebuah warung kecil milik orang Bugis yang sudah lama merantau. Laki-laki tua yang sedang menuangkan air panas itu sesekali melirikku tajam. Bikin tak nyaman. Kang Mas Suryo masih sibuk memindahkan barang bawaan dari kereta saat laki-laki tua itu akhirnya menyapaku. “Mau kemana, Nak?” katanya hati-hati sambil memberikan segelas kopi padaku.

Kuulurkan tanganku menyambut kopi tersebut. “Terima kasih.” Jawabku singkat. Kuseruput kopi itu perlahan. Rasanya cukup enak. Sedikit asam tapi manis. Cukup menyegarkan.

“Gimana kopinya, Nak? Enak?”,  tanyanya lagi sambil mengelap bekas cangkir kopi di sebelahku tanpa menunggu pertanyaan awalnya kujawab. Aku menggangguk.

“Wah, kelihatannya kopimu enak, Jeng.” Tiba-tiba Kang Mas Suryo sudah duduk di sampingku. Tangannya sigap mengambil sepotong pisang goreng. “Buatkan satu lagi ya, Ki.” Perintahnya. Suaranya terdengar pelan tapi tegas. Laki-laki setengah baya itu terperanjat kaget mendengarnya. Ia memandang sejenak ke arahnya lalu mengangguk takjim. Ganjil. Aku merasa ada yang aneh. Siapakah gerangan dia? Apa hubungannya dengan tunanganku.

Angin kembali bertiup kencang ke arah kami. Sedikit sejuk. Aku merapikan anak rambut di dahiku dengan jari jemariku. Segelas kopi panas sudah tersuguh di hadapan kami. Kang Mas Suryo tidak langsung menyeruputnya seperti yang tadi kulakukan. Ia memilih diam sambil memutar ibu jarinya di atas telunjuk. Laki-laki tua itu seolah memahami arti gerakan tersebut. Ia segera pergi meninggalkan kami di warung sendiri dan kembali dengan membawa bungkusan hitam yang cukup besar. Aku tak tahu apa isinya tapi kulihat ia memberikannya dengan hati-hati. Kang Mas Suryo memandangku santai. Ia segera memasukkan bungkusan itu di balik bajunya. Senyumnya dikulum. Sekejap ia sudah terlibat percakapan dengan laki-laki tadi. Aku kesulitan memahami isi percakapan mereka yang sesekali ditingkahi tawa ringan. Terlalu banyak kosa kata yang asing di telingaku. Aku hanya tahu di ujung percakapan, laki-laki itu berpesan untuk tetap waspada selama di perjalanan. Kami berdua mengangguk dan berpamitan. Ekor matanya tetap tajam memandangku ketika tanganku ditarik meninggalkan warung tersebut.

Beberapa menit kemudian aku sudah berada di atas kapal. Dari atas kapal aku terkesima melihat para kuli bongkar muat itu masih asyik bekerja dan astaga tidak ada yang bersepatu. Ya, aku tidak salah melihat. Semua kuli itu telanjang kaki. Pakaian mereka pun cukup sederhana. Hanya beberapa yang memakai atasan seperti kemeja tapi tipis. Celananya juga longgar. Entah sengaja dibuat longgar atau karena pakaian mereka yang kebesaran di tubuhnya. Entahlah. Aku jadi tersenyum geli. Ternyata di pusat kota yang konon menjadi barometer kesejahteraan Hindia Belanda, para kulinya sama dengan di kotaku. Sama-sama lusuh, dekil, dan tidak bersepatu.

Menjelang magrib kapal sudah meninggalkan dramaga. Udara malam mulai terasa di geladak. Aku duduk di sisi kiri Kang Mas Suryo yang sudah lelap sejak setengah jam lalu. Kelihatannya dia lelah sekali. Kutatap hidung bangirnya. Aku senyum sendiri. Kalau diingat-ingat, hidungnya tidak kalah tinggi dengan hidung Albert. Ah, Albert mengapa dia harus muncul di saat seperti ini. Hatiku berdesir. Segera kualihkan pandanganku.

Karena bosan, kupandang lagi dramaga yang kian jauh ditinggalkan. Napas yang berat kembali terasa. Ada sedikit sesal, kecewa, dan entah apa lagi yang kurasa, yang pasti ada segumpal ketakutan tiba-tiba menyergapku diam-diam. Di sebuah titik nun jauh di sana lamat-lamat terlihat sesuatu yang tak asing. Bayangan itu seperti sedang memperhatikanku. Hatiku teriak, hampir saja aku melompat kegirangan saat kusadari siapa sosok itu. Namun, kesadaran segera menguasaiku. Aku segera memegang pagar besi yang ada di hadapanku erat-erat. Hentakan gelombang hampir saja membuatku jatuh saat tadi aku bersorak. Titik itu makin kecil dan samar di telan senja. Aku pindah menuju ujung kapal dan terus mencoba mengerahkan semua kemampuan netraku demi membaca titik itu. Lamat-lamat aku pun menyadari titik itu benar-benar dia.  Wajahku berubah pucat. Dalam ketakutan aku menengok ke kiri dan kanan. Hatiku ribut merapal ribuan doa berharap hanya aku seorang yang menyadari siapa sosok itu. Nahas, laki-laki berhidung bangir itu sudah bangun dan kini berdiri tepat di sampingku.

“Panjenengan mirsani, Jeng? Taksih kangen?” tanyanya yang spontan membuatku kaget. Aku menggeleng cepat. “Mboten, Kangmas. Kula namung kepingin weruh apa iku ing kono.” Jawabku ngeles.

Aku tahu dia tidak mungkin percaya begitu saja dengan jawabanku. Aku segera membuang pandanganku ke arah barat. Mencoba menikmati guratan jingga yang tiba-tiba begitu indah di kelopak mataku. Matanya pun mengikutiku. Aku tersenyum memandangnya. Aman, batinku berbisik seolah ketahuan mencuri. Aku lupa, bagaimana mungkin aku bisa menipu seorang senapati sekelas dia. Dia adalah senapati tingkat dua yang bekerja di bawah duli Sultan langsung. Kemampuan militernya terutama dalam spionase sudah teruji beberapa kali dalam tugas-tugas rahasia kesultanan sejak usia sepuluh tahun.

“Endah sanget, Kangmas, langitipun.” Kataku menunjuk semburat jingga yang semakin tua di horizon. Aku berusaha menyembunyikan rasa tak nyaman yang kembali menyergap diam-diam. Malam sudah sempurna menyambut kami di tengah lautan. Dia mengangguk. “Sami éndahipun kados panjenengan, Diajeng.” Matanya melirikku lembut. Hatiku berdesir. Ya ampun, apa aku tak salah dengar, ya? Dia memujiku. Wajahku merona. Malu sekali. Ketika kusibuk menata jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat ia kembali memandang ke belakang. Aku tak melihat ada guratan halus di wajahnya yang tampak tak suka dengan kehadiran titik itu. Tangannya mengepal.  

Nun jauh di seberang, bayangan itu perlahan kembali ke arah kuda yang ditambatkannya di bawah sebatang pohon kelapa. Langkahnya gontai. Beberapa kali dia berbalik memandang lautan yang membawa gadis itu pergi. Ada segumpal sesal menyelinap di dadanya. Ia mulai memaki diri sepanjang jalan. “Als ik haar gisteren had ontmoet, was ze misschien nog hier. Oh nee, ze is weg. Ze is weg, God. Ze is weg.” Matanya mulai berembun. Di kaki senja ia segera menghela kudanya berlari semakin kencang meninggalkan dramaga. “Ik ben echt een lafaard.”Teriaknya membelah jalanan yang makin sunyi. Ia sangat kesal sekaligus sedih. Di tepi sungai Citarum ia berhenti. Matanya semakin basah. “Jeng, waarom heb je niet op me gewacht? Waarom heb je me niet ontmoet? Waarom? Wat heb ik verkeerd gedaan?” Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun. Di tengah amarah dibuangnya topi putih kesayangannya ke tanah. Di aliran Citarum yang dingin ia lari menceburkan diri. Hatinya patah. Dibiarkannya air sungai itu membasahi tubuhnya dan menariknya semakin dalam. Sebelum air semakin menenggelamkannya ia masih mengingat momen terindah dalam hidupnya. Kala untuk pertama kali ia bertugas sebagai pengurus perwakilan VOC yang menangani rempah-rempah untuk pulai Jawa, ia bertemu dengannya di kota Yogya. Ya, Yogya sebuah kota istimewa yang memiliki bangunan indah terbuat dari kayu jati itu telah membuatnya jatuh cinta. Kedua matanya yang hitam dan bulat itu telah menawannya tanpa ia sadari sejak awal bertemu. Senyum manisnya yang malu-malu saat diperkenalkan oleh Sultan telah mencuri miliknya yang paling berharga di sore itu. Siluet wajahnya yang ayu benar-benar menari di pelupuk matanya sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran. Di Ciliwung, ia pun tenggelam.

Udara malam makin dingin menggigit kulit. Kami mulai meninggalkan geladak mencari tempat yang jauh lebih hangat. Setelah menemukan kamar yang sudah dipesan sebelumnya kami berpisah. Sepanjang malam itu aku tidur sendiri di atas selembar kasur yang tipis di atas ranjang besi. Tak ada kipas angin apalagi air conditioner di dalam kamar yang pengap. Namun, aku cukup menikmatinya.

Pagi itu aku bangun setelah matahari naik. Kelelahan naik kereta di sepanjang jalan dari Koningsplein ke  Haven Kanaal rupanya sangat membantu kualitas tidurku yang memang sudah berantakan sejak pertama kali datang di Batavia. Aku masih ingat pertama kali tiba di dramaga ini dua minggu lalu. Sama seperti pagi ini, matahari begitu hangat. Suara-suara teriakan para kuli memecah keheningan dan menarikku turun dari kapal. Beberapa centeng menyambut kedatanganku di bawah kapal. Dengan sigap mereka memindahkan barang bawaanku yang tak seberapa ke atas kereta kuda. Di dalam kereta seorang tentara Belanda tengah asyik menyeruput kopi Arabicanya dengan tenang. Kulitnya cerah khas Eropa, dengan rambut pirang kecokelatan yang tersisir rapi di bawah topi seragamnya. Ada rona merah alami di kedua pipinya yang tirus. Garis rahangnya tegas dengan bibir merahnya yang tipis dengan sedikit senyum. Ia mengenakan seragam tentara Belanda awal abad ke-19, berupa mantel panjang berwarna biru tua dengan kancing logam mengilap, celana putih, serta sepatu bot kulit tinggi yang dipoles rapi. Matanya biru muda, jernih dan tajam, sebiru langit Batavia yang bersih dari asap pabrik. Hidungnya mancung menampilkan sisi ariktokratnya yang kuat. Aku terpana.

Dia menyapaku hangat sambil menawarkan segelas kopi yang baru diseduhnya. “Hoe was je reis, Jeng? Ik hoop dat je geen enkel ongemak hebt gehad. Kom, drink deze koffie. Laten we meteen naar het hotel gaan zodat je kunt uitrusten.”

Aku menerimanya dengan sedikit ragu. “Best wel vermoeiend. Maar het is oké. Heel erg bedankt.”

Dia tersenyum. Alamak, senyumnya manis sekali. Hatiku berbunga-bunga. Sejurus kemudian kami sudah larut dalam percakapan. Empat centeng yang tadi menjemputku sudah berjalan mengawal kereta kami yang terus melaju ke arah ibukota.

Catatan:
“Panjenengan mirsani, Jeng? Taksih kangen?” =“Apakah kamu melihatnya, Jeng? Masih rindu?”

“Mboten, Kangmas. Kula namung kepingin weruh apa iku ing kono.” =“Tidak, Kangmas. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di sana.”

“Endah sanget, Kangmas, langitipun.” = “Indah sekali, Kangmas, langitnya.”

“Sami éndahipun kados panjenengan, Diajeng.” = “sama cantiknya denganmu, Diajeng.”

“Als ik haar gisteren had ontmoet, was ze misschien nog hier. Oh nee, ze is weg. Ze is weg, God. Ze is weg.” = “Andai aku menemuinya kemarin, dia mungkin masih di sini. oh tidak, dia pergi. dia pergi Tuhan. dia pergi.”

“Ik ben echt een lafaard.” = “aku benar-benar pengecut.”

“Jeng, waarom heb je niet op me gewacht? Waarom heb je me niet ontmoet? Waarom? Wat heb ik verkeerd gedaan?” = “Jeng, mengapa kamu tidak menungguku? mengapa kamu tidak menemuiku? mengapa?, apa salahku?”

“Hoe was je reis, Jeng? Ik hoop dat je geen enkel ongemak hebt gehad. Kom, drink deze koffie. Laten we meteen naar het hotel gaan zodat je kunt uitrusten.” = Bagaimana perjalananmu, Jeng? Aku harap kamu tidak mengalami ketidaknyamanan apa pun. Ayo, minum kopi ini. Mari kita langsung pergi ke hotel agar kamu bisa beristirahat.

“Best wel vermoeiend. Maar het is oké. Heel erg bedankt.” = cukup melelahkan. Tetapi ok. Terima kasih.

Bionarasi

Neneng Hendriyani, lahir di Bogor, 09 Agustus 1982. Berprofesi sebagai Pengawas SMA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat ini aktif sebagai penulis dan editor berbagai genre. Karyanya pernah dibukukan dalam antologi  Kunanti di Kampar Kiri: Antologi Puisi Penyair Asean, Senyuman Lembah Ijen: Antologi Puisi Nusantara, A Skyful of Rain: Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018, Ijen Purba: Tanah, Air, Batu (Antologi Puisi Jambore Sastra Asia Tenggara), Layang-layang Tak memilih Tangan: Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara XIII Jakarta, Semesta Jiwa: Antologi Puisi Bertema Spiritualitas, Kebaya Bordir Untuk Umayah (Antologi Puisi 115 Penyair Indonesia), Teh, Imajinasi, Puisi, Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia, Pandemi Puisi: Antologi Bersama Melawan COVID 19. Saat ini tinggal di Bogor Kode Pos 16913. Instagram Nenghendri53, Facebook/Youtube  Neng Hendri Suparman, E-mail nenghendri@gmail.com, https://nhwork.web.id

Dear Olivia: Semesta Mendukung

Judul:  Dear Olivia

Penulis: Osceola Anthony

Editor/penyunting: Opie Meilana

Penerbit: Metagraf

ISBN: 978-602-6328-25-0

Genre: Fiksi

Jumlah Halaman : 130

Buku yang nggak tergolong tebal-tebal banget ini berisi cerita yang asyik punya, loh.

Buku berjudul “Dear Olivia” ini berisi nasihat buat kita semua bahwa akan ada saat di mana ketika kita menginginkan sesuatu, semua hal menjadi seperti kebetulan-kebetulan beruntun, yang memudahkan kita untuk mendapatkannya.

Mungkin karena itu, Paulo Coelho berkata, What you want something, all the universe conspires to help you to achieve it.

Bahasa gampangnya, semesta mendukung kita untuk mewujudkannya dengan mudah dan indah.

Namun, kita juga harus selalu ingat bahwa tidak semua apa yang diimpikan berkemungkinan menjadi nyata. Sebab tanpa sadar apa yang kita inginkan seringkali bukan apa yang kita butuhkan. Tak perlulah terlalu memusingkan konspirasi semesta, yang perlu dipikirkan adalah bermimpi tinggi dan berusaha mewujudkannya.

Begitulah kita diberi pilihan, be a dreamer and a doer atau hanya be a dreamer saja.

Buku ini menurut saya sangat menarik dan sangat recommended untuk dibaca remaja. Tahu mengapa?  karena selain berisi cerita karangan dari si penulis, buku  berjudul “Dear Olivia”  ini memiliki motivasi-motivasi untuk kehidupan sehari-hari, selain itu buku ini memiliki desain sampul yang sangat unik.

Asya Story: Novel Remaja Yang Mengajarkan Tanggung Jawab

Judul: Asya Story

Penulis: Sabrina Febrianti

Editor/penyunting: Akmalia

Penerbit: Rain Book

ISBN: 978-623-90376-4-2

Genre: Fiksi

Jumlah Halaman:360

Novel setebal 360 halaman ini menceritakan seorang gadis bernama. Keluarganya sering memanggilnya dengan panggilan sayang Syasya. Teman-temannya memanggilnya Asya. Asya baru menginjak kelas 11 SMA. Ia termasuk gadis pendiam yang tidak terlalu menyukai keramaian atau bahkan obrolan, hobi yang pantas untuknya hanyalah membaca buku.

sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, bisa dibilang Asya sedikit berbeda dari adik-adiknya. Bukan karena ia terlahir dengankondisi cacat fisik atau mempunyai kekurangan, melainkan karena sejak lahir ia diperlakukan berbeda. Bahkan saat adik-adiknya lahir pun ia tetap mendapatkan perlakuan yang berbeda.

Adik-adiknya selalu mendapat kasih sayang lebih, sedangkan ia? Untuk mendapat sapaan lembut dari kedua orang tua saja jarang. Terakhir, ia mendengarnya ketika adik-adiknya belum terlahir di dunia.
Dan, berbagai masalah pun hadir. Masalah yang mungkin tidak akan pernah dimaafkan oleh kedua orang tua mana pun di dunia. Asya hamil di luar nikah.

Novel “Asya Story” yang ditulis oleh Sabrina Febrianti ini memiliki sejumlah kelebihan. Pertama, novel ini mengangkat isu kekerasan seksual remaja yang mana bisa menjadi edukasi bagi para remaja supaya bisa lebih menjaga diri lagi dan menghindari pergaulan bebas. Kedua, mengajarkan kita tentang tanggung jawab, karena apa pun yang telah kita lakukan pasti ada pertanggungjawabannya. Ketiga, alur cerita yang sangat menarik, karena mampu membuat pembaca campur aduk dengan kisahnya

Kekurangan novel ini adalah adanya beberapa kata yang dinilai terlalu kasar yang diucapkan oleh tokoh. Ini kurang baik secara edukatif.

Novel ini cukup bagus untuk direkomendasikan kepada siapa pun.

Melodylan : Bukan Happy Ending Novel

Oleh Neneng Hendriyani

Judul : Melodylan

Penulis : Asri Aci

Editor/penyunting: Andhy pulung

Penerbit : Coconut books

ISBN : 9786026940674

Genre: Fiksi

Jumlah halaman: 328 hal

Keunggulan novel Melodylan ini dibandingkan novel lain yang pernah kubaca adalah feelnya sangat terasa. Alur ceritanya mudah dipahami dan tidak terlalu berbelit-belit. Ceritanya tidak membosankan. Bahasa dalam novel ini sangat ringan sehingga asyik dibaca di waktu senggang kapan pun dan di manapun.

Bagi penikmat novel yang happy ending sebaiknya jangan membaca novel Melodylan ini. Ini karena cerita di novel ini tidak berakhir bahagia karena tokoh utama pria dan wanita, yaitu Dylan dan Melody berpisah.

Namun demikian, sejujurnya novel ini sangat menarik dan sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh remaja. Banyak hal yang  bisa didapat dari membaca novel ini.

Lomba Pertama


(Hapiah Wardah)

Bagaimana rasanya mendampingi anak lomba? Bagaimana meyakinkan diri bahwa anak yang kini jauh itu bisa mengikuti lomba dengan baik? Bagaimana seorang ibu yang terlanjur “nyemplung” ke dunia aksara ini meyakinkan diri bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya?

Sungguh ini adalah pengalaman pertama yang sangat mendebarkan. Rasanya tak percaya akhirnya aku mendaftarkan buah hatiku mengikuti lomba bahasa dan sastra yang disponsori oleh Badan Bahasa, BJB, BNI, perusahaan air minum, dan perusahaan kosmetik tersebut.

Gadis kecil yang sangat mirip denganku itu memang pecinta novel. Aku membesarkannya dengan tumpukan novel kelas berat untuk anak seusianya. Apa yang aku baca itu lah yang ia baca. Aku tak memilih genre khusus untuknya. Maka tak mengherankan bila ia tumbuh dewasa dengan cepat. Ia banyak belajar dari alur cerita kisah novel-novel sejarah, roman, dan petualangan.

Aku tak pernah mengkhawatirkan pergaulannya selama ini. Karena ia hanya bergaul dengan buku-buku saja di rumah. Memang sangat aneh kedengarannya. Tapi itu lah caraku mendidik dan menjaganya. Ia hanya keluar rumah dengan aku, Papa atau Antenya.

Kini anak yang mulai remaja itu sedang berjihad menghafal kalamullah Al Quran. Di bawah bimbingan para ustazah dan ustaznya aku yakin ia baik-baik saja.

Pun, kini saat aku mencoba menantang diriku sendiri akan kemampuannya aku yakin ia baik-baik saja. Ia yang tak pernah berkata tidak dan menyerah sebelum waktunya tiba itu tertawa sumringah saat aku mengabarinya soal lomba Labasa 2 via gawai ustazahnya. Aku melihat rona bahagia di wajahnya. Wajah yang selalu kurindu tiap waktu.

Dengan segala keterbatasan karena jarak dan fasilitas, aku mengupayakan ia siap mengikuti lomba Labasa 2 ini. Dengan bantuan dan bimbingan Ustazah Mimi dan Ustazah Ita aku yakin ia bisa.

Apapun hasilnya nanti aku menerimanya. Inilah dia putriku. Putri kebanggaan suamiku.

Semoga Allah selalu menjaga dan memberkahinya di mana pun ia berada.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218427579030072&id=1511622608

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218427571749890&id=1511622608

@mpk.osissmafour_
@sman_4cibinong
#labasa2kabumi
#sman4cibinong
#mpk.osissmafour
#labasa2020
#lombabahasadansastra
#smptarnis_official
#Day6AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour