Oleh Neneng Hendriyani
Di kota ini, peluru berdesing menembus waktu,
Menggetarkan bumi dalam deru perlawanan,
Memanggil jiwa-jiwa yang rindu kemerdekaan
Dengan dan tanpa seragam,
Bersatu dalam komando perjuangan
Di tengah Tentara Pelajar berdiri tegap,
Mengangkat senapan di tangan yang gemetar,
Bukan karena takut,
Tapi karena cinta pada kota yang harus dibela.
Di Cibinong, sejarah tertulis dalam batu,
Museum perjuangan menjadi saksi,
Ratusan nyawa melayang sebagai bukti
Rakyat Bogor tak pernah sudi dijajah kembali
Darah para syuhada mengalir di setiap lorong,
Mengisahkan keberanian tak pernah padam.
Dulu, di kota ini kita bertempur melawan serdadu,
Kini, perang belum berakhir,
Musuh tak lagi berbaju
Tapi, berselimut kemiskinan dan ketidakadilan
Dimana buruh-buruh berteriak di terik mentari:
Meninju udara menuntut upah layak,
Di pabrik-pabrik yang berdiri megah,
Mereka menukar tenaga dengan harapan,
Lagi, keadilan masih bayang-bayang.
Sekolah-sekolah harusnya menjadi gerbang masa depan,
Bukan tembok tinggi bagi si papa,
Bogor tak boleh berhenti berjuang,
Agar ilmu tak menjadi hak segelintir insan.
Jabatan tak boleh jadi tahta selamanya,
Harus ada batas bagi kekuasaan,
Rakyat? Mereka bukan pion di papan catur,
Bukan remahan roti di piring penguasa
Sungguh! Perjuangan tak berakhir di monumen batu,
Ia hidup di hati yang menolak menyerah,
Bogor, kau tak hanya sekadar kota,
Kau medan juang yang terus membara
Dalam semangat: Kuta Udaya Wangsa!
(Karadenan, 27 Maret 2025)