SYARAT KENAIKAN PANGKAT & JENIS SK YANG DIPERLUKAN (berdasarkan Permenpan RB 21/2024)

๐Ÿ“Š SYARAT KENAIKAN PANGKAT & JENIS SK YANG DIPERLUKAN (berdasarkan Permenpan RB 21/2024)

sumber:
permenpanrb-no-21-tahun-2024

Pangkat Golongan Jenjang Jabatan Fungsional AK Minimal SK Jabatan Fungsional yang Harus Dilampirkan
III/a โ†’ III/b III/b Guru Pertama +50 Tidak perlu SK baru (masih dalam jenjang Guru Pertama)
III/b โ†’ III/c III/c Guru Pertama +50 Tidak perlu SK baru
III/c โ†’ III/d III/d Guru Pertama +50 Tidak perlu SK baru
III/d โ†’ IV/a IV/a Guru Muda +100 Perlu SK baru: Pengangkatan sebagai Guru Muda
IV/a โ†’ IV/b IV/b Guru Muda +150 Tidak perlu SK baru (masih Guru Muda)
IV/b โ†’ IV/c IV/c Guru Madya +200 Perlu SK baru: Pengangkatan sebagai Guru Madya
IV/c โ†’ IV/d IV/d Guru Madya +200 Tidak perlu SK baru
IV/d โ†’ IV/e IV/e Guru Utama +200 Perlu SK baru: Pengangkatan sebagai Guru Utama

๐Ÿ“ Penjelasan Tambahan:

  • SK Jabatan Fungsional diterbitkan oleh instansi pembina atau pejabat pembina kepegawaian (PPK) sesuai jenjang jabatan yang baru dicapai.

  • Setiap kenaikan jenjang jabatan fungsional harus memenuhi syarat:

    • Angka Kredit Kumulatif

    • Lama waktu minimum dalam pangkat/jabatan sebelumnya

    • Kinerja baik

    • KTI dan PKB (untuk Guru Madya dan Utama)


๐Ÿ“Œ Ringkasan Penting:

Jenjang Jabatan SK Fungsional Baru Diperlukan Saat…
Guru Pertama Saat pertama kali menjadi guru
Guru Muda Saat naik dari III/d ke IV/a
Guru Madya Saat naik dari IV/b ke IV/c
Guru Utama Saat naik dari IV/d ke IV/e

Bogor Dari Masa ke Masa

Oleh Neneng Hendriyani

Dulu, Bogor adalah rimba megah,
Tempat para raja menjejak sejarah,
Di bawah panji Pajajaran
Kebijaksanaan mengalir dari balairung istana

Menjaga warisan purwa

Berpuluh-puluh tahun Gunung Salak tegak bersaksi,
Sungai Ciliwung lantang bersuara,
Menyaksikan zaman berputar cepat,
Dari kerajaan, penjajahan, hingga merdeka.

Bogor: subur, membentang
Padi menari di pelukan sawah,

Di ladang dan perbukitan

Petani menaruh jutaan impian

Panen mereka untuk masa depan.

Di perut bumi, tambang berbisik,
Emas, pasir, dan batu berlimpah,
Di tangan besi, roda berputar,
Pabrik-pabrik membangun peradaban.

Jauh di pelosok, terdengar suara palu dan gergaji,
Pengrajin bermain di atas mahoni,
Mengukir Bogor dalam karya nan indah,
Mewariskan seni hingga ke nusantara.

Kini, Bogor tak sekadar kenangan,
Ia tumbuh bersama zaman,
Di punggungnya generasi emas bersinar,
Menuntut ilmu, melangkah ke depan.

Bogor, Kuta Udaya Wangsa,
Benteng peradaban tak tergoyahkan,
Maju berdaya, sejahtera bersama,
Satu tekad, satu cita, satu bangsa.

Bogor, bukan sekadar kota,
Tapi rumah bagi jutaan warga

Merekam jejak, merawat harapan

Berjuang untuk masa depan gemilang.

(Karadenan, 27 Maret 2025)

Bogor, Jejak Perlawanan

Oleh Neneng Hendriyani

Di kota ini, peluru berdesing menembus waktu,
Menggetarkan bumi dalam deru perlawanan,
Memanggil jiwa-jiwa yang rindu kemerdekaan

Dengan dan tanpa seragam,

Bersatu dalam komando perjuangan

Di tengah Tentara Pelajar berdiri tegap,
Mengangkat senapan di tangan yang gemetar,
Bukan karena takut,
Tapi karena cinta pada kota yang harus dibela.

Di Cibinong, sejarah tertulis dalam batu,
Museum perjuangan menjadi saksi,

Ratusan nyawa melayang sebagai bukti
Rakyat Bogor tak pernah sudi dijajah kembali
Darah para syuhada mengalir di setiap lorong,
Mengisahkan keberanian tak pernah padam.

Dulu, di kota ini kita bertempur melawan serdadu,
Kini, perang belum berakhir,
Musuh tak lagi berbaju
Tapi, berselimut kemiskinan dan ketidakadilan

Dimana buruh-buruh berteriak di terik mentari:

Meninju udara menuntut upah layak,
Di pabrik-pabrik yang berdiri megah,
Mereka menukar tenaga dengan harapan,
Lagi, keadilan masih bayang-bayang.

Sekolah-sekolah harusnya menjadi gerbang masa depan,

Bukan tembok tinggi bagi si papa,

Bogor tak boleh berhenti berjuang,
Agar ilmu tak menjadi hak segelintir insan.

Jabatan tak boleh jadi tahta selamanya,
Harus ada batas bagi kekuasaan,

Rakyat? Mereka bukan pion di papan catur,

Bukan remahan roti di piring penguasa

Sungguh! Perjuangan tak berakhir di monumen batu,
Ia hidup di hati yang menolak menyerah,

Bogor, kau tak hanya sekadar kota,
Kau medan juang yang terus membara

Dalam semangat: Kuta Udaya Wangsa!

(Karadenan, 27 Maret 2025)

Bogor, Lukisan Masa

Oleh Neneng Hendriyani

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Di kaki Salak Pangrango:

Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru

mengalir syahdu cerita tempo dulu:

Danau biru tak pernah surut,
Cermin langit tempat rindu berlabuh,
Riak-riak kecil berlarian riang,

Di antara sauh, pedati ditarik pulang

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,

Di kaki Salak Pangrango, sawah luas menghampar megah,
Tarian angin di padi mengalun ramah,

Gelatik dan Manyar bernyanyi riuh rendah.

Kini, baja dan bata berdiri tegak berlomba
Pabrik-pabrik tumbuh menggantikan hijau ladang

Menyisakan asap sesak dalam kenangan

Jauh di sudut jalan, tetap terasa,
Hangatnya talas Bogor dalam genggaman,
Asap soto mie menari di udara,
Di meja bambu, tradisi tak pernah pudar.

Zaman bergulir, kota berbenah,
Dari Pajajaran ke lampu kota yang tak padam di tengah malam
kujumpai di setiap wajah,
Sisa-sisa sejarah yang tetap benderang dalam ingatan.

Di alun-alun, anggun meliuk,

Selaras kidung Pakuan menyeruak jiwa

Di antara gendang dan suling kuโ€™ terkesima
Rajutan cerita: Kuta Udaya Wangsa!

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,

Tetap indah dalam perubahan,
Mengalir seperti Cisadane yang tak berhenti,
Menjaga warisan, menyambut masa depan,
Menjadi rumah bagi hati yang mencari jalan pulang.

(Karadenan, 27 Maret 2025)