Hadiah Tak Terduga

Di sela-sela kegiatan utama sebagai ibu rumah tangga dan pekerja profesional di bidang pendidikan aku masih berupaya menyisihkan waktu dan pikiran untuk menekuni hobiku. Sebuah hobi yang tidak terlalu memakan banyak biaya tentunya namun tetap menyenangkan. Apa lagi kalau bukan menulis.

Dengan menulis aku bisa curahkan semua cita-cita, keinginan, harapan, bahkan kekecewaan dalam bentuk yang positif. Tujuannya sederhana tentu saja. Yaitu berbagi pengalaman kepada sesama agar pembaca dapat mengambil hikmah dari apa yang ku tuliskan.

Sebagai ibu rumah tangga tentu saja aku seringkali merasa lelah, khawatir dan cemas. Ada saja hal yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan mulut bernyanyi seriosa tujuh oktaf. Penyebabnya kadang sepele. Anak yang terlambat bangun pagi, tidak mengerjakan ibadah salat dan mengaji, malas belajar dan asyik main game. Kadang penyebabnya juga lumayan berat. Seperti tidak ada yang membantu membersihkan rumah dan lingkungannya. Bila sudah begini ya pasti lagu-lagu lawas dengan nada-nada tinggi sudah menggema di seantero ruangan dengan luas 100 meter persegi.

Untuk menjaga agar tetap bahagia, waras, sehat dan menikmati hidup itulah aku menulis. Untuk kegiatan yang satu ini kadang aku mendapatkan apresiasi berupa hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebut saja, hadiah buku dari panitia AISEI yang baru saja memilih karya cerbungku tentang Pacar Anakku sebagai karya pilihan beberapa waktu lalu. Selain itu panggilan mengisi materi penulisan dari beberapa lembaga dan komunitas. Ada juga yang mengirimkan sejumlah koin ke rekening karena tulisanku yang dimuat di medianya. Besarnya bervariatif. Tergantung jenis tulisan dan media yang memuatnya.


(Dok. Pribadi)

Nah, pada hari ini Selasa, 17 November 2020 aku baru saja menerima sepaket hadiah buku dari PT Kuark Internasional. Paket hadiah ini sangat bermanfaat untuk anak-anakku di rumah. Isinya tentang beberapa materi berharga mengenai kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Ada tutorialnya membuat katrol tetap dan katrol majemuk. Ada juga eksperimen mengenai lilin pengusir nyamuk.

Hm, kalau kamu yang suka menghitung hadiah dari sisi uang silakan hitung sendiri deh berapa jumlah yang dikeluarkan oleh pengirim hadiah ini kepadaku. Bagiku sendiri ini adalah hadiah yang tak terhingga. Nilainya lebih tinggi dari sejumlah uang yang ditransfer ke rekening. Sepaket hadiah buku ini harganya jauh lebih mahal dari itu. Tahu kenapa? Jawabnya sederhana. Buku adalah sahabat yang paling berharga. Dia tidak pernah meninggalkanmu di kala kau menderita. Tidak pernah pula menyindir dan menyakitimu baik di depan maupun di mukamu. Dia selalu ada memberikan isinya untukmu bila kamu mau memikirkan isinya. Dia selalu setia membimbingmu menuju kebaikan.

Jadi, mari terus menulis dan biarkan hadiah-hadiah berikutnya tiba di depan rumah seperti biasanya.

#Day11NovAISEIWritingChallenge
#gareulis
#hikmahmenulis
#lewattulisanmariberdakwah
#17nov2020
#11.23pm

Lewat Tulisan

“Ma, kok Mama nulis terus sih? Nggak bosen?” Tanyanya.
Kuusap punggungnya. Malam kian larut. Detik demi detik terus berlari mengejar pagi. Dia masih terjaga menemaniku.

“Sebentar, ya. Sebentar lagi. Ok.”

Dia masih menunggu. Mau tidak mau aku harus menjawabnya.

“Ini bukan soal setoran tulisan, Nak. Ini soal berbagi. Berbagi cerita, ide, pengalaman, impian dan juga harapan. Tulisan yang Mama tulis dan publikasikan di blog ini adalah kumpulan ide, pengalaman, impian dan harapan Mama selama ini. Ada banyak kisah yang tersebar di sini. Ada banyak informasi yang berguna di sini. Ada tentang kamu, juga yang lainnya.”

“Apa itu semua bermanfaat, Ma? Mending Mama belajar bikin kue aja deh dari YouTube. Kue buatan Mama kan bantet terus.” Bibirnya manyun.

Aku tertawa. Teringat beberapa hari lalu kue brownis yang kubuat bantet. Itu bukan kali pertama aku menghasilkan kue yang bantet. Aku sudah menonton video tutorialnya berkali-kali. Semuanya bahkan dicatat rapi. Tetapi hasilnya ya begitu terus. Tetap bantet.

Aku tak marah mendengar anakku berkata begitu. Dia belum paham. Suatu hari dia akan paham bahwa lewat tulisan kita bisa berbagi banyak hal yang bermanfaat untuk sesama.


(Dok.Pribadi)

Tulisan adalah sahabat terbaik. Dia menjadi karya yang indah saat kita menginginkannya menjadi indah. Dia bisa menjadi penasihat saat kita menulisnya dengan penuh kesadaran untuk menasihati seseorang yang kita cintai. Bahkan dia bisa menjadi wakil dari diri kita sendiri saat kita tidak bisa menyampaikannya secara langsung.

Jadi mari kita menulis dan berbagi. Lewat tulisan kita bagi kisah hidup yang bisa menjadi sumber motivasi dan inspirasi. Lewat tulisan kita titip harapan untuk masa depan. Lewat tulisan kita bisikkan semua harapan untuk orang-orang tersayang.

Jangan berhenti menulis. Teruslah menulis. Jangan merasa sibuk dan kehabisan ide. Ide ada di sekitar kita dengan bebasnya.

#Day10NovAISEIWritingChallenge
#gareulis
#hikmahmenulis
#lewattulisanmariberdakwah
#13nov2020
#0853pm

Hari Pahlawan Buat Mas Ken

“Ma, kok pakai baju korpri? Kan biasanya Mama nggak pernah pakai sejak mengajar dari rumah?” Dia bertanya saat aku sedang asyik mematut di depan kaca.

“Hm, hari ini Hari Pahlawan, Mas”.

“Oh. Mengapa kita harus memperingati Hari Pahlawan? Memang kalau nggak diperingati nggak boleh, ya?”

“Maksudnya?”

“Iya, apa nanti dihukum bila nggak diperingati?”

“Siapa yang hukum?”

“Aku nggak tahu. Makanya aku tanya.”

Aku bingung menjawabnya. Masa iya kujawab hari ini aku memakai seragam korpri karena kubaca pengumuman di grup pegawai. Kan nggak lucu. Apa kata dia nanti. Anak yang satu ini sangat kritis. Dia tidak akan puas mendapati jawaban yang asal-asalan.

“Mas. Kita ini kan bangsa yang beradab. Artinya mampu menghargai orang lain. Nah, kita memperingati Hari Pahlawan pada hari ini karena kita menghormati jasa-jasanya. Mereka sudah berkorban banyak agar kita bisa hidup merdeka hari ini. Kita bisa bersekolah dengan aman dan nyaman berkat jasa-jasa mereka. Coba kalau dulu mereka nggak melawan penjajah apa kita bisa sekolah? Bagaimana mau sekolah kalau penjajah melarang kita semua ke sekolah?” Aku balik bertanya.

“Kenapa mereka melarang kita sekolah? Kan di sekolah cuma belajar, Ma?” Tanyanya.

“Mas, penjajah itu nggak mau rakyat jajahannya pintar seperti kamu. Kalau rakyat jajahannya pintar mereka nggak bisa menjajah lagi.”

“Kok gitu?”

“Ya iyalah. Mau menjajah gimana kalau semuanya pintar? Semua pasti berontak kan karena tahu siapa diri mereka dan kemampuan yang mereka miliki.”

“Kalau gitu kenapa aku juga harus belajar menghapal nama-nama pahlawan? Memang penting ya, Ma menghapal nama-nama mereka? Apa kalau nggak hapal nanti nggak masuk surga?”

Aku kaget mendengarnya. Dapat dari mana itu pertanyaan model begitu. Ya, Tuhan.

“Mas, kamu menghapal nama-nama pahlawan itu disuruh siapa?” Aku balik bertanya. Ini untuk mengulur waktu sambil mencari jawaban yang tepat untuknya.

“Bu Guru lah. Kemarin dia bilang aku harus membaca kisah pahlawan. Nanti aku disuruh presentasi menjelaskan tentang kenapa dia disebut pahlawan. Eh, Ma. Tahu nggak. Aku nanti pakai voice note loh di WhatsApp buat presentasinya. Keren, kan.”

Aku tertawa mendengarnya. Ya, ampun ini anak.

“Itu mah bukan disuruh menghapal nama-nama pahlawan, Mas. Tetapi disuruh baca dan pelajari soal pahlawan. Kamu mau baca ceritanya siapa?”

“Baca? Nggak, ah. Aku kan sudah nonton filmnya Sultan Agung. Itu aja yang aku jelasin nanti. Sultan Agung kan pahlawan juga.” Sorot matanya terlihat berapi-api. Aku bangga melihat kepercayaan dirinya.


(Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sultan_Agung_dari_Mataram)

“Eh, Ma. Mama tahu nggak kenapa Sultan Agung tetap menyerbu Batavia padahal dia juga nggak yakin menang?” Tiba-tiba dia bertanya saat aku sudah siap menyalakan mesin Vario.

“Mas, menurutmu sendiri apa?” Aku memancingnya.

“Kalau kata aku sih dia ingin membuktikan bahwa bukan hasil perjuangan yang ingin dia capai. Dia ingin menunjukkan bahwa sebagai Raja dia menolak sikap angkuh dan curang penjajah. Jadi dia menunjukkan usahanya. Ya, meskipun kalah tetapi dia hebat.” Anakku menjawabnya dengan penuh semangat.

Aku tersenyum kepadanya. Andai tidak takut terlambat aku pasti sudah membalasnya. Segera aku berpamitan. Sepanjang jalan aku kembali merenungi kata-kata anakku tadi. Bukan soal menang yang ingin dicapai oleh sang tokoh yang sangat dikaguminya. Tetapi soal semangatnya yang pantang menyerah.

Selamat Hari Pahlawan. Semoga Indonesia Jaya.

#Day09NovAISEIWritingChallenge
#haripahlawan
#sultanagung
#masken
#gareulis
#aisei
#13nov2020
#0823pm

Aku dan Dia

Dalam sebuah kompetisi menang dan kalah adalah hal biasa. Tak ada yang istimewa. Bagi pemenang ini bukan sebuah akhir perjuangan. Masih ada kompetisi lanjutan yang menunggu untuk ditaklukkan. Bagi yang kalah pun sama. Meskipun kecewa tetapi tetap harus menyimpan semangat baja. Esok lusa harus kembali turun ke gelanggang menguji kemampuan. Apakah masih sama, ataukah sudah naik kemampuannya? Begitulah seharusnya yang dilakukan oleh keduanya.

Aku yang telah terjun langsung mendidik dan melatihnya pun sama. Meskipun sadar betul anak sulungku masih terlalu hijau rasanya tak kuasa melihatnya kalah. Sebelum menguatkan dirinya dengan segudang kalimat motivasi yang pernah kubaca aku sudah jauh-jauh hari menasihati diri sendiri. Inilah kompetisi. Ini pasti terjadi. Menang kalah adalah hal yang biasa terjadi.

Melihat wajahnya nan polos berlatih tertatih-tatih mempelajari apa yang baru dikenalnya membuatku insyaf. Dia bukan aku. Meskipun wajah kami mirip tetapi talenta berbeda.

Mimpi-mimpi yang dia miliki tak sama dengan mimpiku. Harapan yang dipupukkembangkannya jauh berbeda denganku. Motto hidupnya begitu jelas. Menuju tak terbatas dan melampauinya. Begitu teguh. Sementara aku, aku hanya percaya langit tak selamanya kelabu. Selalu ada pelangi setelah hujan turun. Itulah yang membuat kami berbeda.

Meskipun dia kalah dia menerimanya dengan lapang dada. Tak ada derai air mata. Tak ada rasa sakit tergambar di wajahnya.

Sementara aku yang sudah khawatir akan rasa tidak nyaman yang bakal menghampirinya justeru kalang kabut. Kubaca lagi kumpulan kata mutiara yang pernah kubaca saat masih di jalan Pemuda Bogor. Sekuat tenaga aku berusaha menghapal semuanya. Agar bila dia menangis aku bisa membujuknya dengan mengutip kata-kata mutiara itu.


(Dokumentasi pribadi)

Andai aku tahu betapa dewasa dirinya tak perlu kuhabiskan waktu bersama kumpulan kata-kata tersebut. Cukup nikmati segelas kopi hangat dan roti bakar saja. Lalu biarkan angin malam bercerita betapa dia telah cukup dewasa belajar mandiri di sana. Menikmati siraman matahari pagi sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang menganggap air mata adalah tanah airnya.

#13november2020
#08.00pm
#Day08NovAISEIWritingChallenge
#gareulis
#smafour
#labasa2
#kabumisastra

Kisahku di Penghujung Tahun 2017

“Ma, mau ke mana? Kok bawa baju?” Tanyanya sambil menggenggam erat tanganku. “Aku ikut, ya?” Bujuknya.

“Nggak, sayang. Abang di rumah, ya. Jaga adikmu. Mama nggak boleh bawa kalian.”

“Memang Mama mau ke mana?” Dia mulai panik.

Sudah bukan rahasia bila aku sering meringis kesakitan. Semua anakku tahu dan paham. Sejak kecil mereka terbiasa melihatku meminum berbagai macam obat-obatan. Sejak kecil pula mereka kubawa ke mana-mana demi mencari obat paling mujarab.

Kini mereka panik. Tak ada yang boleh ikut. Pelan-pelan aku mendekati semuanya. Kujelaskan bahwa ini adalah aturan yang tidak boleh dilanggar. Detail sekali semuanya kujelaskan. Aku baru berhenti ketika aku melihat anggukan kecil mereka.

Pasrah kutinggalkan mereka semua di rumah. Hanya anakku yang baru berusia dua tahun yang sedang demam yang kubawa serta.


(Source: https://www.google.com/search?q=gambar+rumah+sakit+pmi+bogor&oq=gambar+rs+pmi&aqs=chrome.1.69i57j0.5167j0j4&client=ms-android-xiaomi&sourceid=chrome-mobile&ie=UTF-8#imgrc=_)

Sesampainya di lokasi aku langsung masuk ruang rawat. Di sana beberapa kali aku diperiksa oleh beberapa petugas. Selanjutnya aku diantar ke sebuah ruangan khusus untuk mengetahui kondisi tubuhku menjelang detik-detik operasi.

Dari pengambilan darah di daerah telinga, jari, cek tekanan darah, rontgen hingga akhirnya kembali ke ruang rawat inap untuk beristirahat dilakukan dalam waktu yang cukup singkat.

Malam itu aku tidur berdua dengan bayi yang baru kusapih beberapa hari. Kudekap tubuhnya erat. Kubisikkan kata-kata lembut di puncak kepalanya. “Bersabar, ya sayang. Semua akan baik-baik saja. Mama janji.”

Sejak jam lima pagi aku sudah mulai berpuasa. Detik demi detik berlalu dan itu sangat menyiksa. Aku tak takut lagi. Aku sudah pasrah. Hanya saja aku teringat wajah-wajah mungil yang menanti di rumah. Kuhela napasku.

Akhirnya seorang petugas datang menjemput. Aku dibawanya dengan kursi roda. Ini menggelikan sekali. Aku yang segar bugar dibawa ke ruang operasi dengan kursi roda. Aku tak bisa menahan malu saat berpapasan dengan beberapa orang. Terutama dengan pasien yang sudah uzur dan sama-sama duduk di kursi roda.

Aku masih merasa tenang hingga akhirnya sampai di pintu ruangan. Tertulis dengan huruf besar, Ruang Operasi. Ada sejumlah pengumuman yang ditempel di beberapa sudutnya. Kulihat beberapa orang sedang duduk di sisi kanan dan kiri pintu. Mereka begitu tegang. Entah mengapa aku pun mulai merasa tegang. Kakiku tiba-tiba tak bertenaga. Mereka memandangku. Kelihatannya mereka bingung kok aku yang segar bugar begini duduk di kursi roda dan berada di depan pintu seorang diri. Aku mencoba menyapa mereka. Senyum hangat nan tipis kulempar ke arah mereka. Aku hanya bisa melakukannya tanpa bisa berkata-kata. Petugas yang menjemput dari ruang rawat inap sedang berada di dalam. Dia masih sibuk berkoordinasi. Aku masih setia menunggunya di depan pintu sambil menghitung gerak jarum jam.

Tak lama dua orang petugas menghampiri. Dibawanya aku ke dalam. Sesampainya di sana aku diwawancarai oleh petugas. Selanjutnya aku dibaringkan ke sebuah ranjang. Sebelumnya aku disuruh mengganti pakaian dengan pakaian khusus.

Di dalam ruang operasi aku melihat ada beberapa petugas yang sudah stand by. Mereka menyapaku ramah. Aku kembali bersemangat. Kami bercanda ria. Obrolan kami seputar Go-Jek yang saat itu sedang naik daun.

Setelah disuntik bagian bawah punggung aku diminta berhitung. Kami bertaruh kalau aku tak bisa berhitung hingga hitungan sepuluh. Aku tertawa. Ini sebuah cara yang paling jitu untuk mencairkan suasana tegang yang menyelimuti seisi ruangan. Ternyata mereka menang. Aku tak ingat apa pun setelah menyebut angka delapan.

Aku baru sadar setelah seseorang menyapaku di ruang yang begitu luas. Lampu-lampu di sana tiba-tiba melayang bebas seolah terbang di atas ku. Pusing sekali. Aku begitu ngantuk.
Dalam kondisi itu kupejamkan mata sambil berbisik. Kiranya Allah melindungi anak-anakku di rumah.

Dua jam berikutnya aku diantar ke kamar. Masih setengah mengantuk aku menyapa suami dan si kecil. Kulihat si kecil menangis. Segera diletakkannya dia di sampingku. Kembali aku tidur bersamanya.

Keesokan paginya aku sudah sadar seratus persen. Pukul sepuluh aku sudah bisa pulang. Alhamdulillah.

Itulah kenangan di penghujung tahun 2017. Tepat saat sebagian sahabatku merayakan Natal aku diberikan kesempatan hidup lagi setelah sepuluh tahun berjuang melawan sakit di bagian mamae.

#13November2020
#gareulis
#smafour
#Day07NOVAISEIWritingChallenge

Anak Hebat

“Ma, kok diam aja sih dari tadi?”

Tak ada sahutan. Aku masih berpura-pura tak mendengarnya.

“Ma, Mama marah, ya?” Panik mulai kudengar. Kuintip raut wajahnya. Tak tega.

“Kenapa tadi rumah berantakan, Bang?”

“Oh, itu. Kirain ada apa.” Dia menarik napas. Lega sekali. “Aku tadi habis kerja kelompok di sini. Jadi, ya berantakan. Aku lupa beresin lagi.”

“Sama siapa?”

“Ya, teman-teman sekolah lah. Ada si Maul, Samad, Samud, Fahri, Sandi.”

“Itu teman kelompok belajarmu?”

“Iya. Mereka temen sekelompok aku di SBK.”

“Buat apa tadi dengan mereka sampai berantakan begitu?”

“Buat peta Indonesia, Ma.”

“Siapa yang buat?”

“Ya, bareng-bareng lah buatnya. Aku kan bantu nyediain tempat, gunting, kertas koran, lem. Nah yang bikin bubur kertasnya ya Samad dan Samud. Yang nempelinnya ya si Fahri dan Sandi.” Jelasnya santai seolah semuanya ok.

“Oh, keren banget ya, Kamu. Semua bahan kamu yang nyediain sampai-sampai koleksi koran Mama juga dipakai.” Kataku kesal.

Dia terkekeh. “He he ya maaf. Aku kan nggak tahu kalau itu penting.”

Ih, kesel banget deh. Mau marah, gimana. Nggak marah juga gimana. Aku segera meninggalkannya sendiri di ruang tengah. Kuperiksa lagi korban-korban yang sudah kupisahkan di lokerku. Untunglah masih ada cadangan. Yah, meskipun hanya ada beberapa setidaknya tidak hancur semua dibuat bubur oleh anak-anak.

“Ma, buat apa sih nyimpan koran bekas segala? Mending juga diloakin. Lumayan, kan.” Dia menghampiriku yang masih bengong lantaran bingung kemana harus mencari gantinya.

Kutatap sepasang matanya yang bulat. Setiap kali rasa ingin tahunya muncul kedua matanya membulat.

“Di sana ada tulisan Mama, Bang.” Jawabku sedih. Terbayang betapa susahnya aku mendapatkan koran-koran tersebut. Sebagian besar dikirim oleh kolegaku di Bali. Andai saja mereka tidak mengirimkannya aku pasti tidak punya bukti fisik bahwa aku pernah menulis di salah satu koran lokal Bali.

“Oh. Penting banget ya, Ma?” Tanyanya.

Aku mengangguk. Aku bingung bagaimana menjelaskan kepada anak seusia dia tentang pentingnya koran-koran itu bagiku. Tiba-tiba dia memelukku erat.

“Maafin Abang, ya Ma. Abang nggak tahu itu penting buat Mama.”

Aku memegang bahunya yang berguncang. Kuusap air matanya.

“Sudahlah. Jangan begini. Mama jadi tambah sedih.”

Dia segera melepaskan pelukannya. Ditinggalkannya aku yang masih duduk. Tak lama ia kembali lagi membawa sesuatu di balik punggungnya.

“Ini buat Mama.”

“Ya Allah, Abang. Makasih, ya.” Aku memeluknya erat. Tak kusangka dia telah mengamankan tulisan-tulisanku dari berbagai koran yang kusimpan.

“Dari mana kamu belajar cara mengkliping koran?” Tanyaku.

“Aku belajar dari YouTube. Gimana?”

“Ini sangat keren. Makasih, ya.”

Dibusungkannya dadanya. “Aku gitu loh. Anak pintar” ditepuknya dadanya sendiri. Kuberikan dua jempol kepadanya. Anak yang hebat.

#Day05NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Pacar Pertama Anakku

Oleh Neneng Hendriyani

Tak biasanya dia mengajakku ngobrol santai malam ini. Matanya berbinar saat serangkaian pertanyaan dia berikan. Aku menatapnya nyaris tak berkedip. Satu tarikan napas menyadarkanku bahwa dia sudah bukan Azmy kecilku yang biasa merengek minta sesuatu. Dia sudah tumbuh remaja. Suaranya sudah mulai berat. Dadanya makin bidang. Rambutnya kian lebat dan hitam. Tubuhnya pun semakin tinggi meninggalkanku di angka keramat, 148cm.

“Ma, dulu waktu Mama sama Papa jadian tuh, gimana?” Tanyanya spontan.

“Gimana apanya, Bang?”

“Ya, gimana caranya, gitu.”

“Kenapa, Bang? Tumben Abang tanya? Ayo, Abang naksir siapa nih?” Godaku. Dia meringis. Senyumnya mengembang.

“Mama kok malah balik nanya sih? Ga seru, ah” protesnya.

“Hm. Gimana, ya? Mama lupa.” Jawabku sekenanya.

“Masa sih lupa. Aneh.” Sungutnya.

“Ya, kan sudah lama.” Elakku. Kutatap wajah suamiku yang diam-diam memperhatikan percakapan kami. Dia hanya tersenyum melihat ekspresi anak laki-laki pertamanya.

“Abang, kalau ada yang Abang naksir bilang saja. Coba kenalkan.” Kataku memecah keheningan.

Azmy diam. Ditatapnya kedua mataku. Dicarinya sesuatu yang bisa membuatnya yakin bahwa aku bisa memberikan kenyamanan yang dibutuhkannya saat itu. Apalagi selain kepercayaan dari seorang ibu. Aku tersenyum. Cukuplah itu membuatnya berani bicara akhirnya.

“Ma, kalau perempuan itu menyebalkan, ya?” Tanyanya lagi.

“Maksudmu? Kamu mau bilang Mama menyebalkan, ya?”

“Mama nggak gitu. Cuma, ah … gimana ya ceritanya aku bingung.” Ditatapnya adiknya yang duduk di sebelahnya.

“Kok, lihat aku?” Tanya adiknya sewot karena merasa jadi terdakwa.

“Ya, kan Lu tahu kejadiannya. Lu aja deh yang cerita ke Mama.” Perintahnya.

“Alah, kebiasaan. Kalau sudah mentok ya begini, nih. Aku lagi yang harus ngomong. Makanya apa-apa tuh dipikir baru dilakukan. Kalau sudah begini kan bingung sendiri.” Katanya panjang lebar.

“Eh, anak bau kencur bawel amat, ya” sergahnya sewot.

“Ya, udah. Iya, iya aku yang cerita. Gini, nih Ma, dengerin, ya. Jadi, Abang tuh habis ditolak cewek.” Jelasnya.

“Hah?! Ditolak! Siapa yang berani nolak anak Mama yang paling ganteng, Mas?” Tanyaku antusias.

“Tuh, kan Mama saja bilang aku paling ganteng” katanya dengan nada tinggi. Jelas sekali ada amarah yang tersimpan di sana. Matanya berkilat.

“Itu, tuh anak tetangga kita, Ma. Dia bilang Abang jelek. Jadi nggak mau jadi pacar Abang.” Adiknya yang baru kelas dua sekolah dasar itu bercerita.

“Kemarin Abang nembak dia. Sudah cape beliin coklat, eh pas nyatain perasaannya malah ditolak. Kasihan.” Cerocosnya sambil tertawa terpingkal-pingkal. Bayangan si cewek yang sedang menolak Abangnya seolah masih membayang dengan jelas.

“Lalu?”

“Ya, Abang sewot. Langsung pergi.”

“Nggak nanya dulu, kenapa nolak?”

“Mana sempat. Kan dia mah pemarah, Ma. Kalau sudah marah ya langsung pergi”.

“Habis gimana nggak marah. Sudah cape nggoseh sepeda ke Indomaret, eh malah ditolak.” Bela si Abang.

“Loh, kamu ke Indomaret depan?” Papanya tiba-tiba ikut nimbrung.

Aku mulai khawatir. Anak laki-laki pertama ini memang sangat pemberani alias nekad. Dia dilarang bawa sepeda ke jalan raya. Tetapi kini kami semua mendengar dia pergi ke Indomaret yang ada di luar komplek perumahan dengan bersepeda.

“Buat apa ke sana? Kan jauh, berbahaya pula?” Jawabku penuh khawatir.

“Ya buat beli es kirim dan coklat, lah.” Jawab si adik.

“Apa?!” Aku dan Papanya kaget.

* Bersambung *
(Karadenan, 4 November 2020; 03:26 wib)
#Day01NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Najis

Pernah mendengar kata najis? Apa sih artinya? Mengapa banyak orang mengucapkannya baik dengan intonasi sedang hingga berat? Adakah makna di balik lima huruf tersebut? Bagaimana perasaan seseorang ketika mendengar kata itu diucapkan di hadapannya? Bagaimana perasaan orang yang dimaksud dengan kata itu? Berdosakah orang yang mengucapkannya? Burukkah orang yang mendapatkannya? Bingungkah orang yang turut mendengarnya? Lalu bagaimana perasaan orang yang mengucapkannya sendiri? Baik-baik saja kah ia? Jangan-jangan ia mengalami sesuatu yang buruk hingga ia menggunakan kata tersebut untuk meluapkan emosinya.

Ah, aku sendiri tak paham. Yang pasti aku merasa ilfil saat mendengar kata itu diucapkan. Tak peduli kepada siapa kata itu dituju. Juga tak peduli mengapa kata itu dipilihnya untuk mengungkapkan emosi yang ada di dalam dirinya. Aku bahkan tak peduli siapa dia.

Satu yang kuketahui adalah bahwa kata najis bermakna jijik (adjective, kata sifat, kotor atau kotoran yang menghalangi seseorang untuk beribadah kepada Allah SWT (KBBI V).

(Karadenan, 16 Oktober 2020; 08:32 wib)

#Day5AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Buah Strawberry Pertama


(Dokumentasi pribadi)

Betapa gembiranya saat mendapatkan pemandangan yang sangat menyegarkan mata pagi ini. Wall planter tumbuh subur makmur. Bahkan strawberry yang kupindahkan saat berbunga kini sudah berbuah. Cantik sekali warna buahnya.

Tadinya aku ragu apakah bisa tanaman yang sedang berbunga dan tumbuh subur itu bisa beradaptasi di lahan yang lebih sempit di wall planter. Dengan ukuran kantong planter yang hanya selebar telapak tangan tentu saja sangat minimalis bagi tanaman yang sudah biasa berada di dalam pot. Apalagi dengan media tanam yang sangat ringan seperti sekam bakar ini tambah membuatku berpikir negatif tentang nasib tanaman-tanamanku tersebut.

Di tempat sebelumnya mereka dipeluk hangat oleh campuran tanah yang diberi pupuk baik kompos maupun pupuk kandang. Tak jarang cacing tanah ikut membentuk keluarga di antara campuran media tanamnya dan membuatnya semakin subur.

Sementara di wall planter, mereka hanya dipeluk oleh sesendok sekam bakar yang tak mungkin dihuni cacing. Hanya bermodalkan air hujan, air beras, dan sedikit cairan pupuk lainnya mereka hidup bertahan di sana.

Pagi ini aku melihat daun-daun hijau mereka tumbuh dan mulai terlihat keluar dari kantongnya. Ranting-ranting muda melati dan mawar pun mulai tumbuh. Lidah buaya pun semakin berkembang. Sementara itu, kumpulan anggrek yang juga ditanam di wall planter hanya dengan sisa sabut kelapa, dan arang ikut melambai manja di bawah lindungan dahan mangga. Beberapa hari ke depan aku yakin sekali buah strawberry yang kini masih berwarna jingga masak. Tak lama lagi aku bisa mencicipi nikmatnya buah strawberry tersebut.

(Karadenan, 16 Oktober 2020; 07:17 wib)

#Day4AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Aku dan GLN Gareulis Jabar

Karya: Neneng Hendriyani (Guru SMA N 4 Cibinong)

Aku masih hijau katamu
Dalam bingkai ilmu masihlah kaku
Banyak ragu juga gagu
Akibat jauh dari buku
Kini aku datang padamu
Berguru di masa tak menentu
Berharap ada air kehidupan
Puaskan dahaga jua lapar
Lewat Gareulis aku mampu
membaca makna kalimatmu
terselip di antara debu
terlupa di antara tumpukan masa
lewat Gareulis aku coba
pegang lagi cover tua
telaah isi jua makna
bekal sisa usia

(Bogor, 08 Oktober 2020)