“Ma, mau ke mana? Kok bawa baju?” Tanyanya sambil menggenggam erat tanganku. “Aku ikut, ya?” Bujuknya.
“Nggak, sayang. Abang di rumah, ya. Jaga adikmu. Mama nggak boleh bawa kalian.”
“Memang Mama mau ke mana?” Dia mulai panik.
Sudah bukan rahasia bila aku sering meringis kesakitan. Semua anakku tahu dan paham. Sejak kecil mereka terbiasa melihatku meminum berbagai macam obat-obatan. Sejak kecil pula mereka kubawa ke mana-mana demi mencari obat paling mujarab.
Kini mereka panik. Tak ada yang boleh ikut. Pelan-pelan aku mendekati semuanya. Kujelaskan bahwa ini adalah aturan yang tidak boleh dilanggar. Detail sekali semuanya kujelaskan. Aku baru berhenti ketika aku melihat anggukan kecil mereka.
Pasrah kutinggalkan mereka semua di rumah. Hanya anakku yang baru berusia dua tahun yang sedang demam yang kubawa serta.

(Source: https://www.google.com/search?q=gambar+rumah+sakit+pmi+bogor&oq=gambar+rs+pmi&aqs=chrome.1.69i57j0.5167j0j4&client=ms-android-xiaomi&sourceid=chrome-mobile&ie=UTF-8#imgrc=_)
Sesampainya di lokasi aku langsung masuk ruang rawat. Di sana beberapa kali aku diperiksa oleh beberapa petugas. Selanjutnya aku diantar ke sebuah ruangan khusus untuk mengetahui kondisi tubuhku menjelang detik-detik operasi.
Dari pengambilan darah di daerah telinga, jari, cek tekanan darah, rontgen hingga akhirnya kembali ke ruang rawat inap untuk beristirahat dilakukan dalam waktu yang cukup singkat.
Malam itu aku tidur berdua dengan bayi yang baru kusapih beberapa hari. Kudekap tubuhnya erat. Kubisikkan kata-kata lembut di puncak kepalanya. “Bersabar, ya sayang. Semua akan baik-baik saja. Mama janji.”
Sejak jam lima pagi aku sudah mulai berpuasa. Detik demi detik berlalu dan itu sangat menyiksa. Aku tak takut lagi. Aku sudah pasrah. Hanya saja aku teringat wajah-wajah mungil yang menanti di rumah. Kuhela napasku.
Akhirnya seorang petugas datang menjemput. Aku dibawanya dengan kursi roda. Ini menggelikan sekali. Aku yang segar bugar dibawa ke ruang operasi dengan kursi roda. Aku tak bisa menahan malu saat berpapasan dengan beberapa orang. Terutama dengan pasien yang sudah uzur dan sama-sama duduk di kursi roda.
Aku masih merasa tenang hingga akhirnya sampai di pintu ruangan. Tertulis dengan huruf besar, Ruang Operasi. Ada sejumlah pengumuman yang ditempel di beberapa sudutnya. Kulihat beberapa orang sedang duduk di sisi kanan dan kiri pintu. Mereka begitu tegang. Entah mengapa aku pun mulai merasa tegang. Kakiku tiba-tiba tak bertenaga. Mereka memandangku. Kelihatannya mereka bingung kok aku yang segar bugar begini duduk di kursi roda dan berada di depan pintu seorang diri. Aku mencoba menyapa mereka. Senyum hangat nan tipis kulempar ke arah mereka. Aku hanya bisa melakukannya tanpa bisa berkata-kata. Petugas yang menjemput dari ruang rawat inap sedang berada di dalam. Dia masih sibuk berkoordinasi. Aku masih setia menunggunya di depan pintu sambil menghitung gerak jarum jam.
Tak lama dua orang petugas menghampiri. Dibawanya aku ke dalam. Sesampainya di sana aku diwawancarai oleh petugas. Selanjutnya aku dibaringkan ke sebuah ranjang. Sebelumnya aku disuruh mengganti pakaian dengan pakaian khusus.
Di dalam ruang operasi aku melihat ada beberapa petugas yang sudah stand by. Mereka menyapaku ramah. Aku kembali bersemangat. Kami bercanda ria. Obrolan kami seputar Go-Jek yang saat itu sedang naik daun.
Setelah disuntik bagian bawah punggung aku diminta berhitung. Kami bertaruh kalau aku tak bisa berhitung hingga hitungan sepuluh. Aku tertawa. Ini sebuah cara yang paling jitu untuk mencairkan suasana tegang yang menyelimuti seisi ruangan. Ternyata mereka menang. Aku tak ingat apa pun setelah menyebut angka delapan.
Aku baru sadar setelah seseorang menyapaku di ruang yang begitu luas. Lampu-lampu di sana tiba-tiba melayang bebas seolah terbang di atas ku. Pusing sekali. Aku begitu ngantuk.
Dalam kondisi itu kupejamkan mata sambil berbisik. Kiranya Allah melindungi anak-anakku di rumah.
Dua jam berikutnya aku diantar ke kamar. Masih setengah mengantuk aku menyapa suami dan si kecil. Kulihat si kecil menangis. Segera diletakkannya dia di sampingku. Kembali aku tidur bersamanya.
Keesokan paginya aku sudah sadar seratus persen. Pukul sepuluh aku sudah bisa pulang. Alhamdulillah.
Itulah kenangan di penghujung tahun 2017. Tepat saat sebagian sahabatku merayakan Natal aku diberikan kesempatan hidup lagi setelah sepuluh tahun berjuang melawan sakit di bagian mamae.
#13November2020
#gareulis
#smafour
#Day07NOVAISEIWritingChallenge
