Oleh Neneng Hendriyani

Tak biasanya dia mengajakku ngobrol santai malam ini. Matanya berbinar saat serangkaian pertanyaan dia berikan. Aku menatapnya nyaris tak berkedip. Satu tarikan napas menyadarkanku bahwa dia sudah bukan Azmy kecilku yang biasa merengek minta sesuatu. Dia sudah tumbuh remaja. Suaranya sudah mulai berat. Dadanya makin bidang. Rambutnya kian lebat dan hitam. Tubuhnya pun semakin tinggi meninggalkanku di angka keramat, 148cm.
“Ma, dulu waktu Mama sama Papa jadian tuh, gimana?” Tanyanya spontan.
“Gimana apanya, Bang?”
“Ya, gimana caranya, gitu.”
“Kenapa, Bang? Tumben Abang tanya? Ayo, Abang naksir siapa nih?” Godaku. Dia meringis. Senyumnya mengembang.
“Mama kok malah balik nanya sih? Ga seru, ah” protesnya.
“Hm. Gimana, ya? Mama lupa.” Jawabku sekenanya.
“Masa sih lupa. Aneh.” Sungutnya.
“Ya, kan sudah lama.” Elakku. Kutatap wajah suamiku yang diam-diam memperhatikan percakapan kami. Dia hanya tersenyum melihat ekspresi anak laki-laki pertamanya.
“Abang, kalau ada yang Abang naksir bilang saja. Coba kenalkan.” Kataku memecah keheningan.
Azmy diam. Ditatapnya kedua mataku. Dicarinya sesuatu yang bisa membuatnya yakin bahwa aku bisa memberikan kenyamanan yang dibutuhkannya saat itu. Apalagi selain kepercayaan dari seorang ibu. Aku tersenyum. Cukuplah itu membuatnya berani bicara akhirnya.
“Ma, kalau perempuan itu menyebalkan, ya?” Tanyanya lagi.
“Maksudmu? Kamu mau bilang Mama menyebalkan, ya?”
“Mama nggak gitu. Cuma, ah … gimana ya ceritanya aku bingung.” Ditatapnya adiknya yang duduk di sebelahnya.
“Kok, lihat aku?” Tanya adiknya sewot karena merasa jadi terdakwa.
“Ya, kan Lu tahu kejadiannya. Lu aja deh yang cerita ke Mama.” Perintahnya.
“Alah, kebiasaan. Kalau sudah mentok ya begini, nih. Aku lagi yang harus ngomong. Makanya apa-apa tuh dipikir baru dilakukan. Kalau sudah begini kan bingung sendiri.” Katanya panjang lebar.
“Eh, anak bau kencur bawel amat, ya” sergahnya sewot.
“Ya, udah. Iya, iya aku yang cerita. Gini, nih Ma, dengerin, ya. Jadi, Abang tuh habis ditolak cewek.” Jelasnya.
“Hah?! Ditolak! Siapa yang berani nolak anak Mama yang paling ganteng, Mas?” Tanyaku antusias.
“Tuh, kan Mama saja bilang aku paling ganteng” katanya dengan nada tinggi. Jelas sekali ada amarah yang tersimpan di sana. Matanya berkilat.
“Itu, tuh anak tetangga kita, Ma. Dia bilang Abang jelek. Jadi nggak mau jadi pacar Abang.” Adiknya yang baru kelas dua sekolah dasar itu bercerita.
“Kemarin Abang nembak dia. Sudah cape beliin coklat, eh pas nyatain perasaannya malah ditolak. Kasihan.” Cerocosnya sambil tertawa terpingkal-pingkal. Bayangan si cewek yang sedang menolak Abangnya seolah masih membayang dengan jelas.
“Lalu?”
“Ya, Abang sewot. Langsung pergi.”
“Nggak nanya dulu, kenapa nolak?”
“Mana sempat. Kan dia mah pemarah, Ma. Kalau sudah marah ya langsung pergi”.
“Habis gimana nggak marah. Sudah cape nggoseh sepeda ke Indomaret, eh malah ditolak.” Bela si Abang.
“Loh, kamu ke Indomaret depan?” Papanya tiba-tiba ikut nimbrung.
Aku mulai khawatir. Anak laki-laki pertama ini memang sangat pemberani alias nekad. Dia dilarang bawa sepeda ke jalan raya. Tetapi kini kami semua mendengar dia pergi ke Indomaret yang ada di luar komplek perumahan dengan bersepeda.
“Buat apa ke sana? Kan jauh, berbahaya pula?” Jawabku penuh khawatir.
“Ya buat beli es kirim dan coklat, lah.” Jawab si adik.
“Apa?!” Aku dan Papanya kaget.
* Bersambung *
(Karadenan, 4 November 2020; 03:26 wib)
#Day01NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour
Keren ceritanya Bu…
Terima kasih, Bu.
“Appaaaa”, saya juga Kaget. “kenapa gak bilang kalo mau ke indomaret, mama dan Papa kan bisa titip ceritanya” ya gak de…
Heheheheheh
Saya tunggu lanjutannya
Ha ha ha. Bisa aja.
Calon cowok romantiss
Hi hi hi. Begitu lah, Bu.