Hadiah Tak Terduga

Di sela-sela kegiatan utama sebagai ibu rumah tangga dan pekerja profesional di bidang pendidikan aku masih berupaya menyisihkan waktu dan pikiran untuk menekuni hobiku. Sebuah hobi yang tidak terlalu memakan banyak biaya tentunya namun tetap menyenangkan. Apa lagi kalau bukan menulis.

Dengan menulis aku bisa curahkan semua cita-cita, keinginan, harapan, bahkan kekecewaan dalam bentuk yang positif. Tujuannya sederhana tentu saja. Yaitu berbagi pengalaman kepada sesama agar pembaca dapat mengambil hikmah dari apa yang ku tuliskan.

Sebagai ibu rumah tangga tentu saja aku seringkali merasa lelah, khawatir dan cemas. Ada saja hal yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan mulut bernyanyi seriosa tujuh oktaf. Penyebabnya kadang sepele. Anak yang terlambat bangun pagi, tidak mengerjakan ibadah salat dan mengaji, malas belajar dan asyik main game. Kadang penyebabnya juga lumayan berat. Seperti tidak ada yang membantu membersihkan rumah dan lingkungannya. Bila sudah begini ya pasti lagu-lagu lawas dengan nada-nada tinggi sudah menggema di seantero ruangan dengan luas 100 meter persegi.

Untuk menjaga agar tetap bahagia, waras, sehat dan menikmati hidup itulah aku menulis. Untuk kegiatan yang satu ini kadang aku mendapatkan apresiasi berupa hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebut saja, hadiah buku dari panitia AISEI yang baru saja memilih karya cerbungku tentang Pacar Anakku sebagai karya pilihan beberapa waktu lalu. Selain itu panggilan mengisi materi penulisan dari beberapa lembaga dan komunitas. Ada juga yang mengirimkan sejumlah koin ke rekening karena tulisanku yang dimuat di medianya. Besarnya bervariatif. Tergantung jenis tulisan dan media yang memuatnya.


(Dok. Pribadi)

Nah, pada hari ini Selasa, 17 November 2020 aku baru saja menerima sepaket hadiah buku dari PT Kuark Internasional. Paket hadiah ini sangat bermanfaat untuk anak-anakku di rumah. Isinya tentang beberapa materi berharga mengenai kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Ada tutorialnya membuat katrol tetap dan katrol majemuk. Ada juga eksperimen mengenai lilin pengusir nyamuk.

Hm, kalau kamu yang suka menghitung hadiah dari sisi uang silakan hitung sendiri deh berapa jumlah yang dikeluarkan oleh pengirim hadiah ini kepadaku. Bagiku sendiri ini adalah hadiah yang tak terhingga. Nilainya lebih tinggi dari sejumlah uang yang ditransfer ke rekening. Sepaket hadiah buku ini harganya jauh lebih mahal dari itu. Tahu kenapa? Jawabnya sederhana. Buku adalah sahabat yang paling berharga. Dia tidak pernah meninggalkanmu di kala kau menderita. Tidak pernah pula menyindir dan menyakitimu baik di depan maupun di mukamu. Dia selalu ada memberikan isinya untukmu bila kamu mau memikirkan isinya. Dia selalu setia membimbingmu menuju kebaikan.

Jadi, mari terus menulis dan biarkan hadiah-hadiah berikutnya tiba di depan rumah seperti biasanya.

#Day11NovAISEIWritingChallenge
#gareulis
#hikmahmenulis
#lewattulisanmariberdakwah
#17nov2020
#11.23pm

Lewat Tulisan

“Ma, kok Mama nulis terus sih? Nggak bosen?” Tanyanya.
Kuusap punggungnya. Malam kian larut. Detik demi detik terus berlari mengejar pagi. Dia masih terjaga menemaniku.

“Sebentar, ya. Sebentar lagi. Ok.”

Dia masih menunggu. Mau tidak mau aku harus menjawabnya.

“Ini bukan soal setoran tulisan, Nak. Ini soal berbagi. Berbagi cerita, ide, pengalaman, impian dan juga harapan. Tulisan yang Mama tulis dan publikasikan di blog ini adalah kumpulan ide, pengalaman, impian dan harapan Mama selama ini. Ada banyak kisah yang tersebar di sini. Ada banyak informasi yang berguna di sini. Ada tentang kamu, juga yang lainnya.”

“Apa itu semua bermanfaat, Ma? Mending Mama belajar bikin kue aja deh dari YouTube. Kue buatan Mama kan bantet terus.” Bibirnya manyun.

Aku tertawa. Teringat beberapa hari lalu kue brownis yang kubuat bantet. Itu bukan kali pertama aku menghasilkan kue yang bantet. Aku sudah menonton video tutorialnya berkali-kali. Semuanya bahkan dicatat rapi. Tetapi hasilnya ya begitu terus. Tetap bantet.

Aku tak marah mendengar anakku berkata begitu. Dia belum paham. Suatu hari dia akan paham bahwa lewat tulisan kita bisa berbagi banyak hal yang bermanfaat untuk sesama.


(Dok.Pribadi)

Tulisan adalah sahabat terbaik. Dia menjadi karya yang indah saat kita menginginkannya menjadi indah. Dia bisa menjadi penasihat saat kita menulisnya dengan penuh kesadaran untuk menasihati seseorang yang kita cintai. Bahkan dia bisa menjadi wakil dari diri kita sendiri saat kita tidak bisa menyampaikannya secara langsung.

Jadi mari kita menulis dan berbagi. Lewat tulisan kita bagi kisah hidup yang bisa menjadi sumber motivasi dan inspirasi. Lewat tulisan kita titip harapan untuk masa depan. Lewat tulisan kita bisikkan semua harapan untuk orang-orang tersayang.

Jangan berhenti menulis. Teruslah menulis. Jangan merasa sibuk dan kehabisan ide. Ide ada di sekitar kita dengan bebasnya.

#Day10NovAISEIWritingChallenge
#gareulis
#hikmahmenulis
#lewattulisanmariberdakwah
#13nov2020
#0853pm

Hari Pahlawan Buat Mas Ken

“Ma, kok pakai baju korpri? Kan biasanya Mama nggak pernah pakai sejak mengajar dari rumah?” Dia bertanya saat aku sedang asyik mematut di depan kaca.

“Hm, hari ini Hari Pahlawan, Mas”.

“Oh. Mengapa kita harus memperingati Hari Pahlawan? Memang kalau nggak diperingati nggak boleh, ya?”

“Maksudnya?”

“Iya, apa nanti dihukum bila nggak diperingati?”

“Siapa yang hukum?”

“Aku nggak tahu. Makanya aku tanya.”

Aku bingung menjawabnya. Masa iya kujawab hari ini aku memakai seragam korpri karena kubaca pengumuman di grup pegawai. Kan nggak lucu. Apa kata dia nanti. Anak yang satu ini sangat kritis. Dia tidak akan puas mendapati jawaban yang asal-asalan.

“Mas. Kita ini kan bangsa yang beradab. Artinya mampu menghargai orang lain. Nah, kita memperingati Hari Pahlawan pada hari ini karena kita menghormati jasa-jasanya. Mereka sudah berkorban banyak agar kita bisa hidup merdeka hari ini. Kita bisa bersekolah dengan aman dan nyaman berkat jasa-jasa mereka. Coba kalau dulu mereka nggak melawan penjajah apa kita bisa sekolah? Bagaimana mau sekolah kalau penjajah melarang kita semua ke sekolah?” Aku balik bertanya.

“Kenapa mereka melarang kita sekolah? Kan di sekolah cuma belajar, Ma?” Tanyanya.

“Mas, penjajah itu nggak mau rakyat jajahannya pintar seperti kamu. Kalau rakyat jajahannya pintar mereka nggak bisa menjajah lagi.”

“Kok gitu?”

“Ya iyalah. Mau menjajah gimana kalau semuanya pintar? Semua pasti berontak kan karena tahu siapa diri mereka dan kemampuan yang mereka miliki.”

“Kalau gitu kenapa aku juga harus belajar menghapal nama-nama pahlawan? Memang penting ya, Ma menghapal nama-nama mereka? Apa kalau nggak hapal nanti nggak masuk surga?”

Aku kaget mendengarnya. Dapat dari mana itu pertanyaan model begitu. Ya, Tuhan.

“Mas, kamu menghapal nama-nama pahlawan itu disuruh siapa?” Aku balik bertanya. Ini untuk mengulur waktu sambil mencari jawaban yang tepat untuknya.

“Bu Guru lah. Kemarin dia bilang aku harus membaca kisah pahlawan. Nanti aku disuruh presentasi menjelaskan tentang kenapa dia disebut pahlawan. Eh, Ma. Tahu nggak. Aku nanti pakai voice note loh di WhatsApp buat presentasinya. Keren, kan.”

Aku tertawa mendengarnya. Ya, ampun ini anak.

“Itu mah bukan disuruh menghapal nama-nama pahlawan, Mas. Tetapi disuruh baca dan pelajari soal pahlawan. Kamu mau baca ceritanya siapa?”

“Baca? Nggak, ah. Aku kan sudah nonton filmnya Sultan Agung. Itu aja yang aku jelasin nanti. Sultan Agung kan pahlawan juga.” Sorot matanya terlihat berapi-api. Aku bangga melihat kepercayaan dirinya.


(Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sultan_Agung_dari_Mataram)

“Eh, Ma. Mama tahu nggak kenapa Sultan Agung tetap menyerbu Batavia padahal dia juga nggak yakin menang?” Tiba-tiba dia bertanya saat aku sudah siap menyalakan mesin Vario.

“Mas, menurutmu sendiri apa?” Aku memancingnya.

“Kalau kata aku sih dia ingin membuktikan bahwa bukan hasil perjuangan yang ingin dia capai. Dia ingin menunjukkan bahwa sebagai Raja dia menolak sikap angkuh dan curang penjajah. Jadi dia menunjukkan usahanya. Ya, meskipun kalah tetapi dia hebat.” Anakku menjawabnya dengan penuh semangat.

Aku tersenyum kepadanya. Andai tidak takut terlambat aku pasti sudah membalasnya. Segera aku berpamitan. Sepanjang jalan aku kembali merenungi kata-kata anakku tadi. Bukan soal menang yang ingin dicapai oleh sang tokoh yang sangat dikaguminya. Tetapi soal semangatnya yang pantang menyerah.

Selamat Hari Pahlawan. Semoga Indonesia Jaya.

#Day09NovAISEIWritingChallenge
#haripahlawan
#sultanagung
#masken
#gareulis
#aisei
#13nov2020
#0823pm

Aku dan Dia

Dalam sebuah kompetisi menang dan kalah adalah hal biasa. Tak ada yang istimewa. Bagi pemenang ini bukan sebuah akhir perjuangan. Masih ada kompetisi lanjutan yang menunggu untuk ditaklukkan. Bagi yang kalah pun sama. Meskipun kecewa tetapi tetap harus menyimpan semangat baja. Esok lusa harus kembali turun ke gelanggang menguji kemampuan. Apakah masih sama, ataukah sudah naik kemampuannya? Begitulah seharusnya yang dilakukan oleh keduanya.

Aku yang telah terjun langsung mendidik dan melatihnya pun sama. Meskipun sadar betul anak sulungku masih terlalu hijau rasanya tak kuasa melihatnya kalah. Sebelum menguatkan dirinya dengan segudang kalimat motivasi yang pernah kubaca aku sudah jauh-jauh hari menasihati diri sendiri. Inilah kompetisi. Ini pasti terjadi. Menang kalah adalah hal yang biasa terjadi.

Melihat wajahnya nan polos berlatih tertatih-tatih mempelajari apa yang baru dikenalnya membuatku insyaf. Dia bukan aku. Meskipun wajah kami mirip tetapi talenta berbeda.

Mimpi-mimpi yang dia miliki tak sama dengan mimpiku. Harapan yang dipupukkembangkannya jauh berbeda denganku. Motto hidupnya begitu jelas. Menuju tak terbatas dan melampauinya. Begitu teguh. Sementara aku, aku hanya percaya langit tak selamanya kelabu. Selalu ada pelangi setelah hujan turun. Itulah yang membuat kami berbeda.

Meskipun dia kalah dia menerimanya dengan lapang dada. Tak ada derai air mata. Tak ada rasa sakit tergambar di wajahnya.

Sementara aku yang sudah khawatir akan rasa tidak nyaman yang bakal menghampirinya justeru kalang kabut. Kubaca lagi kumpulan kata mutiara yang pernah kubaca saat masih di jalan Pemuda Bogor. Sekuat tenaga aku berusaha menghapal semuanya. Agar bila dia menangis aku bisa membujuknya dengan mengutip kata-kata mutiara itu.


(Dokumentasi pribadi)

Andai aku tahu betapa dewasa dirinya tak perlu kuhabiskan waktu bersama kumpulan kata-kata tersebut. Cukup nikmati segelas kopi hangat dan roti bakar saja. Lalu biarkan angin malam bercerita betapa dia telah cukup dewasa belajar mandiri di sana. Menikmati siraman matahari pagi sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang menganggap air mata adalah tanah airnya.

#13november2020
#08.00pm
#Day08NovAISEIWritingChallenge
#gareulis
#smafour
#labasa2
#kabumisastra

Kisahku di Penghujung Tahun 2017

“Ma, mau ke mana? Kok bawa baju?” Tanyanya sambil menggenggam erat tanganku. “Aku ikut, ya?” Bujuknya.

“Nggak, sayang. Abang di rumah, ya. Jaga adikmu. Mama nggak boleh bawa kalian.”

“Memang Mama mau ke mana?” Dia mulai panik.

Sudah bukan rahasia bila aku sering meringis kesakitan. Semua anakku tahu dan paham. Sejak kecil mereka terbiasa melihatku meminum berbagai macam obat-obatan. Sejak kecil pula mereka kubawa ke mana-mana demi mencari obat paling mujarab.

Kini mereka panik. Tak ada yang boleh ikut. Pelan-pelan aku mendekati semuanya. Kujelaskan bahwa ini adalah aturan yang tidak boleh dilanggar. Detail sekali semuanya kujelaskan. Aku baru berhenti ketika aku melihat anggukan kecil mereka.

Pasrah kutinggalkan mereka semua di rumah. Hanya anakku yang baru berusia dua tahun yang sedang demam yang kubawa serta.


(Source: https://www.google.com/search?q=gambar+rumah+sakit+pmi+bogor&oq=gambar+rs+pmi&aqs=chrome.1.69i57j0.5167j0j4&client=ms-android-xiaomi&sourceid=chrome-mobile&ie=UTF-8#imgrc=_)

Sesampainya di lokasi aku langsung masuk ruang rawat. Di sana beberapa kali aku diperiksa oleh beberapa petugas. Selanjutnya aku diantar ke sebuah ruangan khusus untuk mengetahui kondisi tubuhku menjelang detik-detik operasi.

Dari pengambilan darah di daerah telinga, jari, cek tekanan darah, rontgen hingga akhirnya kembali ke ruang rawat inap untuk beristirahat dilakukan dalam waktu yang cukup singkat.

Malam itu aku tidur berdua dengan bayi yang baru kusapih beberapa hari. Kudekap tubuhnya erat. Kubisikkan kata-kata lembut di puncak kepalanya. “Bersabar, ya sayang. Semua akan baik-baik saja. Mama janji.”

Sejak jam lima pagi aku sudah mulai berpuasa. Detik demi detik berlalu dan itu sangat menyiksa. Aku tak takut lagi. Aku sudah pasrah. Hanya saja aku teringat wajah-wajah mungil yang menanti di rumah. Kuhela napasku.

Akhirnya seorang petugas datang menjemput. Aku dibawanya dengan kursi roda. Ini menggelikan sekali. Aku yang segar bugar dibawa ke ruang operasi dengan kursi roda. Aku tak bisa menahan malu saat berpapasan dengan beberapa orang. Terutama dengan pasien yang sudah uzur dan sama-sama duduk di kursi roda.

Aku masih merasa tenang hingga akhirnya sampai di pintu ruangan. Tertulis dengan huruf besar, Ruang Operasi. Ada sejumlah pengumuman yang ditempel di beberapa sudutnya. Kulihat beberapa orang sedang duduk di sisi kanan dan kiri pintu. Mereka begitu tegang. Entah mengapa aku pun mulai merasa tegang. Kakiku tiba-tiba tak bertenaga. Mereka memandangku. Kelihatannya mereka bingung kok aku yang segar bugar begini duduk di kursi roda dan berada di depan pintu seorang diri. Aku mencoba menyapa mereka. Senyum hangat nan tipis kulempar ke arah mereka. Aku hanya bisa melakukannya tanpa bisa berkata-kata. Petugas yang menjemput dari ruang rawat inap sedang berada di dalam. Dia masih sibuk berkoordinasi. Aku masih setia menunggunya di depan pintu sambil menghitung gerak jarum jam.

Tak lama dua orang petugas menghampiri. Dibawanya aku ke dalam. Sesampainya di sana aku diwawancarai oleh petugas. Selanjutnya aku dibaringkan ke sebuah ranjang. Sebelumnya aku disuruh mengganti pakaian dengan pakaian khusus.

Di dalam ruang operasi aku melihat ada beberapa petugas yang sudah stand by. Mereka menyapaku ramah. Aku kembali bersemangat. Kami bercanda ria. Obrolan kami seputar Go-Jek yang saat itu sedang naik daun.

Setelah disuntik bagian bawah punggung aku diminta berhitung. Kami bertaruh kalau aku tak bisa berhitung hingga hitungan sepuluh. Aku tertawa. Ini sebuah cara yang paling jitu untuk mencairkan suasana tegang yang menyelimuti seisi ruangan. Ternyata mereka menang. Aku tak ingat apa pun setelah menyebut angka delapan.

Aku baru sadar setelah seseorang menyapaku di ruang yang begitu luas. Lampu-lampu di sana tiba-tiba melayang bebas seolah terbang di atas ku. Pusing sekali. Aku begitu ngantuk.
Dalam kondisi itu kupejamkan mata sambil berbisik. Kiranya Allah melindungi anak-anakku di rumah.

Dua jam berikutnya aku diantar ke kamar. Masih setengah mengantuk aku menyapa suami dan si kecil. Kulihat si kecil menangis. Segera diletakkannya dia di sampingku. Kembali aku tidur bersamanya.

Keesokan paginya aku sudah sadar seratus persen. Pukul sepuluh aku sudah bisa pulang. Alhamdulillah.

Itulah kenangan di penghujung tahun 2017. Tepat saat sebagian sahabatku merayakan Natal aku diberikan kesempatan hidup lagi setelah sepuluh tahun berjuang melawan sakit di bagian mamae.

#13November2020
#gareulis
#smafour
#Day07NOVAISEIWritingChallenge

Ultah Pertama Si Cantik

Beberapa hari lalu ia merayakan hari lahirnya. Sesungging senyum merekah sejak awal ia membuka mata. Sapaan selamat pagi dan peluk cium diterimanya senang hati. Kedua matanya berbinar laksana kejora.

Dia lah gadis kecilku. Putri kedua yang lahir setahun lalu. Dari lima anak, dia lah yang paling istimewa.

Lahir tepat di usia kandungan yang jauh dari hpl membuatku bergidik ngeri saat itu. Habisnya ketuban dan tiadanya kontraksi yang berkelanjutan membuat dokter kandungan terbaik di RSIA As Salam memutuskan kelahirannya via sectio Caesar.

Aku yang selalu takut berhadapan dengan rumah sakit hanya bisa menghela napas panjang. Dalam ruang IGD yang dijadikan tempat transit menunggu giliran masuk ruang operasi aku merenung. Mencoba mengingatkan diri sendiri akan segala hal yang terjadi setahun terakhir.

Ada banyak cerita, suka dan duka dijalani selama kehamilannya. Ada perjuangan yang baru dimulai saat masuk trimester pertama. Sungguh begitu luar biasa saat itu kejadiannya.

Masuk ke trimester kedua semua berjalan lebih baik dari sebelumnya. Usia yang tak muda lagi membuatku insyaf harus menjaga janin ini lebih ekstra. Tak boleh gegabah. Meskipun ini bukan kehamilan pertama aku tetap semangat menjaga dan menjalaninya.

Trimester ketiga sebuah kejadian buruk menimpa. Kecelakaan lalu lintas membuatku terpaksa mengurangi aktivitas fisik. Pulang pergi diantar jemput ojek online. Sebuah hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Akibat kejadian itu rupanya ketuban rembes. Itu sebabnya ia enggan keluar secara normal. Aku hanya menggelengkan kepala saat teringat wajah tegang dokter Win yang memeriksaku terakhir. Aku tahu ada yang tak beres. Namun, aku berharap ada keajaiban di sana. Sebuah keajaiban yang hanya ada di alam pikiranku saja. Karena hingga ujung hari berganti, keajaiban itu tak kunjung datang.


(Dokumentasi Pribadi)

Met milad putri kejoraku. Jadilah bintang kecil di dalam hidupku.

(Karadenan, 13 November 2020; 6:22 pm)

#Day06NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Anak Hebat

“Ma, kok diam aja sih dari tadi?”

Tak ada sahutan. Aku masih berpura-pura tak mendengarnya.

“Ma, Mama marah, ya?” Panik mulai kudengar. Kuintip raut wajahnya. Tak tega.

“Kenapa tadi rumah berantakan, Bang?”

“Oh, itu. Kirain ada apa.” Dia menarik napas. Lega sekali. “Aku tadi habis kerja kelompok di sini. Jadi, ya berantakan. Aku lupa beresin lagi.”

“Sama siapa?”

“Ya, teman-teman sekolah lah. Ada si Maul, Samad, Samud, Fahri, Sandi.”

“Itu teman kelompok belajarmu?”

“Iya. Mereka temen sekelompok aku di SBK.”

“Buat apa tadi dengan mereka sampai berantakan begitu?”

“Buat peta Indonesia, Ma.”

“Siapa yang buat?”

“Ya, bareng-bareng lah buatnya. Aku kan bantu nyediain tempat, gunting, kertas koran, lem. Nah yang bikin bubur kertasnya ya Samad dan Samud. Yang nempelinnya ya si Fahri dan Sandi.” Jelasnya santai seolah semuanya ok.

“Oh, keren banget ya, Kamu. Semua bahan kamu yang nyediain sampai-sampai koleksi koran Mama juga dipakai.” Kataku kesal.

Dia terkekeh. “He he ya maaf. Aku kan nggak tahu kalau itu penting.”

Ih, kesel banget deh. Mau marah, gimana. Nggak marah juga gimana. Aku segera meninggalkannya sendiri di ruang tengah. Kuperiksa lagi korban-korban yang sudah kupisahkan di lokerku. Untunglah masih ada cadangan. Yah, meskipun hanya ada beberapa setidaknya tidak hancur semua dibuat bubur oleh anak-anak.

“Ma, buat apa sih nyimpan koran bekas segala? Mending juga diloakin. Lumayan, kan.” Dia menghampiriku yang masih bengong lantaran bingung kemana harus mencari gantinya.

Kutatap sepasang matanya yang bulat. Setiap kali rasa ingin tahunya muncul kedua matanya membulat.

“Di sana ada tulisan Mama, Bang.” Jawabku sedih. Terbayang betapa susahnya aku mendapatkan koran-koran tersebut. Sebagian besar dikirim oleh kolegaku di Bali. Andai saja mereka tidak mengirimkannya aku pasti tidak punya bukti fisik bahwa aku pernah menulis di salah satu koran lokal Bali.

“Oh. Penting banget ya, Ma?” Tanyanya.

Aku mengangguk. Aku bingung bagaimana menjelaskan kepada anak seusia dia tentang pentingnya koran-koran itu bagiku. Tiba-tiba dia memelukku erat.

“Maafin Abang, ya Ma. Abang nggak tahu itu penting buat Mama.”

Aku memegang bahunya yang berguncang. Kuusap air matanya.

“Sudahlah. Jangan begini. Mama jadi tambah sedih.”

Dia segera melepaskan pelukannya. Ditinggalkannya aku yang masih duduk. Tak lama ia kembali lagi membawa sesuatu di balik punggungnya.

“Ini buat Mama.”

“Ya Allah, Abang. Makasih, ya.” Aku memeluknya erat. Tak kusangka dia telah mengamankan tulisan-tulisanku dari berbagai koran yang kusimpan.

“Dari mana kamu belajar cara mengkliping koran?” Tanyaku.

“Aku belajar dari YouTube. Gimana?”

“Ini sangat keren. Makasih, ya.”

Dibusungkannya dadanya. “Aku gitu loh. Anak pintar” ditepuknya dadanya sendiri. Kuberikan dua jempol kepadanya. Anak yang hebat.

#Day05NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Penakut

Malam kian larut dan sayangnya aku masih terjaga. Kupandangi wajah-wajah yang sedang lelap di hadapanku. Begitu polos, dan bersahaja. Tak ada gurat kecewa tampak di tiap wajah. Mereka begitu menikmati mimpinya masing-masing.
Aku pergi ke dapur. Kujerang sisa jamu tadi sore. Sambil menunggu masak segera kuambil wudu. Hanya Dia yang Mahatahu apa yang sedang kualami. Hanya senyum ceria mereka yang menguatkanku selama ini.
***

(Pixabay)

“Ma, aku nggak mau sekolah, ah.” Tiba-tiba suaranya terdengar begitu keras sehingga papanya yang berada di kamar mandi melongok ke luar. Duh, drama apa lagi nih. Pikirku. Segera kurapikan makanan dan bekal sekolah.

“Ayo, cepat turun semuanya. Sarapan sudah siap.” Teriakku di kaki tangga.

Anak perempuanku bergegas turun dengan ransel dan tas jinjing merah jambu.

“Assalamualaikum, Ma. Masak apa pagi ini?” Sapanya hangat. Sejak kelas tiga sekolah dasar dia memang tinggal di kamar atas. Dia selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar bersama Tere Liye. Tak heran gaya bahasanya agak berbeda dengan anak seusianya.

“Makanan biasa saja, Kak. Hanya dimasak dengan cinta” jawabku sambil membantu anak tengahku menyisir rambutnya yang mulai gondrong.

“Mas, pulang sekolah nanti cukur, ya. Ini sudah panjang.” Kataku.

“Sama siapa?” Tanyanya.

“Sama Papa, ya” jawab Papanya.

Wajahnya cemberut. Impiannya melihat komidi putar di tengah lapangan kelurahan sirna. Aku mesem-mesem melihatnya.

“Mas, ganteng deh kalau lagi begitu.” Godaku. “Awas nanti ada yang kepincut.”

“Alah, paling Syifa item, Ma”, balas Azmy.

“Wow, amit-amit deh. Lu kali yang naksir bukan aku.” Semprotnya.

Seketika meja makan pun ramai dengan adu mulut kedua anak laki-laki yang masih ingusan.

“Ah, berisik!” Kakak sewot. Suaranya naik dua oktaf.

“Ma, aku ijin ya nggak sekolah.” Lagi suara yang paling tidak disukai itu terdengar.

“Kenapa nggak sekolah?” Papa mendelik tajam.

“Ada acara apa di sekolah? Apa guru-guru mau rapat, jadi kelasmu libur?” Tanyaku hati-hati. Takut perang dunia terjadi di meja makan.

Dia menggeleng. Adiknya juga menggeleng ketika kutatap. Aneh.

“Ma, aku nggak enak badan. Pusing.” Adiknya bicara setelah makanan di piringnya habis.

“Coba sini Mama pegang dahimu” Kutempelkan jari jemariku di dahinya. Biasa saja. Hm, aku curiga. Segera kuberanjak meninggalkan meja makan. Kuambil ponsel yang sejak Subuh dicas di atas meja rias. Tak lama setelah diaktifkan puluhan pesan masuk di grup kelas kedua anakku. Astaga ini rupanya yang membuat mereka bertingkah aneh.

“Mama sudah bilang ke Bu Guru kalau kalian tidak perlu diimunisasi. Jadi segera pakai sepatu nanti terlambat ke sekolah.” Perintahku.

Dengan gontai dan saling colek kakak beradik itu segera menenteng tas masing-masing. Mereka memakai sepatu dengan lambat. Terlihat jelas mereka sedang mencari-cari alasan agar tidak perlu ke sekolah. Aku berdiri di tengah pintu. Tak ada pilihan lain, mereka menyambut tangan kananku.

Aku segera masuk dan menutup pintu. Kakak dan papanya baru saja selesai sarapan. Lima menit kemudian mereka berangkat bersama-sama.
***

“Ih, Mama bohong. Sebel. Kenapa nggak bilang aja sih kalau aku sakit jadi nggak ke sekolah tadi?” Rengek kedua jagoan kecil saat kubukakan pintu pagar. Kedua mata mereka merah. Di antara mereka Abang yang paling kelihatan kesal.

“Dasar perempuan. Nyebelin semua. Memang sudah dari sananya, Ken, perempuan itu menyebalkan. Mama, Bu Guru, dokter yang nyuntik Lu tadi, semua menyebalkan.”

Dilemparnya tas sekolah dengan kasarnya. Sementara adiknya masih menangis sesenggukan sambil memegangi lengan kirinya.

“Untung aku kabur tadi, kalau nggak, huh, bisa sakit juga.” Katanya sambil membuka seragamnya.

“Kabur?” Tanyaku. “Kabur gimana?”

“Ya, nggak gimana-gimana. Ya, kabur. Lari.”

“Kok bisa?” Aku masih tak paham.

“Abang kan kuat, Ma. Didorongnya Bu Ros terus mejanya ditendang. Terus, lari.”

“Nggak ada yang bantu pegangin?”

“Tenaga raksasa begitu mana ada yang kuat peganginnya.”

“Iya, Lu seharusnya juga kuat nggak lemah, Ken. Jadi, nggak disuntik dan nangis sepanjang jalan. Bikin malu. Kita tuh laki-laki. Laki-laki itu kuat, nggak cengeng.”

“Alah, Abang aja takut kan disuntik makanya kabur? Gaya pake ngeledek! Sama-sama penakut padahal” Adiknya sewot.

(Bersambung)

#Day04NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Pengalaman Berharga

Tak ada satu pun penghuni rumah yang menyangkal omongannya. Dia memang sudah bisa memasak makanan kesukaannya sejak masih di bangku TK. Goreng telur ceplok, dadar, nasi goreng, nugget, sosis sudah bisa. Pasti bingung, ya. Kok anak seusia itu sudah bisa masak. Aku memang tipe perempuan yang malas masak. Selain itu aku pun paling senang membeli makanan matang yang langsung dikonsumsi keluarga. Aku selalu berangkat pagi dan pulang sore. Anak dititip di penitipan. Kami tiba di rumah sore hari dalam kondisi sama-sama capai. Nah, kebiasaan burukku ini tidak disukai Abang. Dia memaksaku mengajarinya masak agar dia selalu makan kapan pun dia mau tanpa menunggu aku pulang kantor membawakannya makanan.

Seminggu mengajarinya SOP berada di dapur, menyalakan dan mematikan kompor gas dengan aman serta bagaimana caranya memasak barulah aku merasa tenang meninggalkannya di dapur. Tuntutan perutnya yang lumayan lebih banyak dari pada saudara-saudaranya mendorongnya untuk pandai memasak makanan yang enak. Hasilnya semua anggota rumah menyenangi masakannya. Semua sepakat mengatakan masakannya enak.

Kini kembali ke masalah inti. Abang akhirnya membuka sejarah pertamanya di depan kami semua. Bagaimana dia mengajak gadis itu ketemu di lapangan, diberikannya coklat dan es krim lalu dinyatakannya perasaannya dengan malu-malu. Abang begitu lancar bercerita diselingi tawa cekikikannya saat dia merasa malu kepada kami. Lalu bagaimana dia kemudian begitu berapi-api marah tatkala bercerita bagaimana dia ditolak.

“Sialan banget. Tahu, nggak? Es krimnya diambil akunya diejek. Dia bilang aku jelek. Bukan tipenya. Gimana nggak kesel.”

Kami tertawa melihatnya. Dalam hati aku kagum dia berani jujur membicarakan hal yang tidak nyaman baginya di depan kami semua. Dia tidak takut bahwa bisa jadi setelah dia bercerita saudara-saudaranya akan mengejeknya. Dia tak peduli.

“Yah, Lu nggak nyadar kalau Lu emang jelek. Coba sini lihat nih sudah hitam, belo, gendut, hidup lagi.” Adiknya meledek.

“Ah, segini aku lebih ganteng dari pada Lu. Sudah pendek, kurus, cengeng lagi.” Balasnya.

“Ye, meskipun begitu aku mah ganteng. Lihat nih, hidung aku sama dengan Papa. Tinggi. Wew.” Timpal adiknya.

“Nggak usah bawa hidung, ya.” Dia mulai tersinggung. Hidungnya bergerak-gerak. Mengembang dan kian membesar. Adiknya tertawa keras sekali.

“Sudah urus tuh hidung, baru urus cewek.” Kakaknya menasihati.

“Bodo!”

Kutaruh telunjukku di depan bibir. Seketika suasana hening. Aku tersenyum. Kutepuk-tepuk bahunya.

“Sabar. Cinta itu ya begitu. Ada kalanya bikin jantung deg degan karena hepi, ada kalanya juga bikin jantung deg degan karena takut. Nah, karena kamu masih sekolah urusan cinta dipending dulu. Fokus belajar, dulu. Kalau Abang sudah pintar, kerja, dan mandiri jangankan dia yang hari ini nolak kamu, artis Drakor juga pasti tergila-gila padamu.

“Ah, mereka mah beda niat” sergahnya. “Ma, kalau aku sudah pintar, kerja dan kaya aku bisa milih kan mau nikah sama siapa?” Tanyanya tiba-tiba.

Aku tercengang. Belum sempat kubuka mulutku papanya menjawab. “Iya. Makanya semangat. Belajar yang rajin biar pintar.” Dikedipkanya matanya.
Abang tersenyum. Diciumnya tangan papanya. Dipeluknya aku. Bau matahari masih menempel di tubuh dan puncak kepalanya. Aku bahagia. Dia masih anakku yang bau kencur. Baru main suka-sukaan. Pengalaman pertamanya ini mengajarinya banyak hal yang berguna. Menyerah bukanlah pilihan baginya. Dia harus optimis memandang dirinya sendiri. Dia harus yakin dia bisa. Kedua orang tua hanya berperan sebagai teman bicara. Selebihnya dialah yang memutuskan sendiri. Mana langkah yang mau diambil mana yang tidak. Yang pasti tetap jalin komunikasi dengan anak

(Bersambung)

(Karadenan, 6 November 2020; 10:09 wib)

#Day03NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Mantan Tetangga

“Ya, Allah. Buat siapa makanannya, Bang?” Tanyaku.

“Buat si jantung hati, lah.” Ledek adiknya.

Abang cuma menunduk. Tak berani dia menjawab pertanyaanku. Aku makin penasaran. Kok bisa anak laki-laki pertamaku ini bersikap bodoh seperti itu. Setan apa yang sudah membujuknya hingga dia begitu berani pergi jauh ke tempat di mana arus lalu lintas begitu ramai. Papanya menghela napas panjang. Wajah Abang makin ditekuk. Jelas sekali dia begitu ketakutan. Terakhir kali dia berbuat salah sebuah bilah bambu mendarat berkali-kali di bokongnya. Aku hanya bisa mengusap wajahku. Ngeri membayangkan kejadian itu terulang lagi malam ini.

“Bang, bener itu?” Tanyaku dengan suara yang lemah. Duh, beginilah bila asma mulai menyerang. Setiap kali panik aku pasti kesulitan berbicara. Anggukan lemahnya membuat napasku kian berat.

“Siapa namanya?” Aku makin penasaran ingin tahu siapa anak perempuan yang berhasil membuat anakku segila ini. Bagaimana bisa dia yang penakut bisa begitu berani menantang bahaya di jalan raya?

“Itu, Ma, mantan tetangga kita.” Adiknya bermain teka teki.

“Mantan tetangga? Memang kita punya mantan tetangga?” Aku mulai kesal. Sejak kapan ada mantan tetangga, pikirku dalam hati. Anak-anakku kian berubah rupanya.

“Iya, Ma. Dia anak mantan tetangga. Kan memang mantan tetangga. Kata Mama dulu kalau bekas itu sama dengan mantan. Tuh, waktu kepala sekolahku diganti dengan yang baru Mama bilang nggak boleh bilang bekas kepala sekolah, kan? Harus bilang, mantan kepala sekolah. Nah, tuh cewek anak bekas tetangga kita yang ngontrak depan rumah kita. Nah, berarti mantan tetangga. Iya, kan?” Anak laki-laki keduaku yang kritis menjelaskan panjang lebar.

Aku terbelalak. Sedikit pun tidak menyangkanya. Anak perempuan yang sudah membuat Abang tergila-gila itu adalah anak tetanggaku sendiri. Kulitnya putih mulus. Sepasang matanya sipit. Bibirnya mungil dan merah. Rambutnya pendek sebahu dan berponi. Usianya setahun di atas Abang namun tingginya hanya sebahunya. Dia begitu mungil. Mirip boneka. Sungguh, aku tak menyangka dia tipe perempuan yang dipuja Abang selama ini.

“Kok Abang suka sama dia?” Tanyaku berusaha mengorek keterangannya.

“Dia cakep, Ma.” Akhirnya mulutnya bicara.

“Cakepan juga Syifa.” Kataku meledek.A ku teringat Syifa yang pernah diubernya di lapangan sekolah beberapa minggu lalu.

“Ih, Mama nggak paham perempuan cakep. Dia itu cakep, Ma.” Belanya.

“Apa buktinya dia cakep?” Papanya tiba-tiba bertanya. Anakku gelagapan.Tak sangka papanya memperhatikannya sejak tadi.

“Jantungku deg-degan kalau ketemu dia. Suwer, Pa. Tahu, nggak? Padahal aku sama dia tuh jauh loh. Jauuuh banget. Dia di depan rumahnya, aku di depan lapangan. Kan, jauh tuh. Nah, jantungku sudah nggak keruan dibuatnya. Langsung deg degan, gitu. Kalau ke Syifa sih nggak pernah begitu.” Cerocosnya.

“Menurutmu Mama cakep, nggak?” Selidikku.

“Cakep” jawabnya tegas dan spontan. Aku senang sekali mendengarnya.

“Coba pegang Dada Abang, apa deg degan juga?”

“Ya, nggak lah. Aneh, Mama mah.” Protesnya.

“Loh, tadi katamu dia cakep karena bikin kamu deg degan. Terus kamu juga bilang Mama cakep. Berarti kan kamu juga deg degan lihat Mama.” Kataku masih berusaha meyakinkan diriku bahwa anakku masih bocah ingusan.

“Aduh, Mama. Beda, lah. Mama itu cakep karena mama aku. Kalau dia itu cakep karena … aku suka dia.”

“Suka? Apa itu suka?”

“Ya, suka. Seperti Mama dan Papa.” Ekor matanya melirik ke arah papanya yang masih asyik memegang gawai.

“Memangnya menurutmu Mama dan Papa suka-sukaan?” Tanyaku.

Hm. Aku sepertinya harus segera insyaf. Anak yang sedang berbicara di depanku ini sepertinya sungguh-sungguh sudah berubah. Bukan anak ingusan yang selalu merengek minta dibelikan es krim dan mainan baru tiap kali aku pergi.

“Ma, ih serius deh. Pertanyaanku belum dijawab.” Dia memegang tanganku.

“Yang mana?” Tanyaku kembali lembut.

“Itu soal perempuan itu nyebelin.”

“Apa menurutmu Mama ini menyebalkan? Mama kan perempuan. Apa menurutmu kakakmu juga menyebalkan? Dia pun perempuan.”

“Mama nggak sih. Kalau kakak ya kadang-kadang nyebelin. Tetapi ini bukan soal kalian, Mama. Ini soal perempuan secara umum. Ingat, ya. Umum.” Gayanya seperti anak yang biasa kuhadapi di kelasku saat matanya menantang penjelasanku. Aku tak punya pilihan.

“Perempuan itu makhluk manis, Abang. Sikapnya tergantung sikap Abang kepadanya. Dia pasti menyenangkan kalau Abang juga bersikap menyenangkan.” Jelasku.

“Ah, bohong. Buktinya dia nolak aku padahal aku sudah bela-belain loh naik sepeda belikan dia coklat dan es krim.” Sungutnya.

Spontan kami semua tertawa terpingkal-pingkal. What a sweet boy he is!
“Widiwwww, sweet banget sih, kamu. Anak orang dibelikan es krim dan coklat, aku aja nggak pernah dibelikan.” Kakaknya yang sedari awal acuh tak acuh mulai tak tahan berkomentar.

“Ye, siapa kamu minta dibelikan! Minta saja ke Papa, kamu kan anak kesayangan Papa.” Elaknya.

Aku terperanjat. Jadi selama ini dia menyimpulkan bahwa kakaknya anak kesayangan papanya. Sementara dia bukan. Duh, gusti.

“Ye, seenggaknya aku tuh berguna buat Lu. Sarapan tiap pagi tuh buatan aku. Kalau aku nggak buat apa kamu bisa makan?”

“Hah, itu mah kecil. Lupa, ya sejak TK aku sudah bisa masak nasgor special?” Ledeknya.

(Bersambung)

(Karadenan, 5 November 2020; 10:09 wib)

#Day02NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour