Malam kian larut dan sayangnya aku masih terjaga. Kupandangi wajah-wajah yang sedang lelap di hadapanku. Begitu polos, dan bersahaja. Tak ada gurat kecewa tampak di tiap wajah. Mereka begitu menikmati mimpinya masing-masing.
Aku pergi ke dapur. Kujerang sisa jamu tadi sore. Sambil menunggu masak segera kuambil wudu. Hanya Dia yang Mahatahu apa yang sedang kualami. Hanya senyum ceria mereka yang menguatkanku selama ini.
***

(Pixabay)
“Ma, aku nggak mau sekolah, ah.” Tiba-tiba suaranya terdengar begitu keras sehingga papanya yang berada di kamar mandi melongok ke luar. Duh, drama apa lagi nih. Pikirku. Segera kurapikan makanan dan bekal sekolah.
“Ayo, cepat turun semuanya. Sarapan sudah siap.” Teriakku di kaki tangga.
Anak perempuanku bergegas turun dengan ransel dan tas jinjing merah jambu.
“Assalamualaikum, Ma. Masak apa pagi ini?” Sapanya hangat. Sejak kelas tiga sekolah dasar dia memang tinggal di kamar atas. Dia selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar bersama Tere Liye. Tak heran gaya bahasanya agak berbeda dengan anak seusianya.
“Makanan biasa saja, Kak. Hanya dimasak dengan cinta” jawabku sambil membantu anak tengahku menyisir rambutnya yang mulai gondrong.
“Mas, pulang sekolah nanti cukur, ya. Ini sudah panjang.” Kataku.
“Sama siapa?” Tanyanya.
“Sama Papa, ya” jawab Papanya.
Wajahnya cemberut. Impiannya melihat komidi putar di tengah lapangan kelurahan sirna. Aku mesem-mesem melihatnya.
“Mas, ganteng deh kalau lagi begitu.” Godaku. “Awas nanti ada yang kepincut.”
“Alah, paling Syifa item, Ma”, balas Azmy.
“Wow, amit-amit deh. Lu kali yang naksir bukan aku.” Semprotnya.
Seketika meja makan pun ramai dengan adu mulut kedua anak laki-laki yang masih ingusan.
“Ah, berisik!” Kakak sewot. Suaranya naik dua oktaf.
“Ma, aku ijin ya nggak sekolah.” Lagi suara yang paling tidak disukai itu terdengar.
“Kenapa nggak sekolah?” Papa mendelik tajam.
“Ada acara apa di sekolah? Apa guru-guru mau rapat, jadi kelasmu libur?” Tanyaku hati-hati. Takut perang dunia terjadi di meja makan.
Dia menggeleng. Adiknya juga menggeleng ketika kutatap. Aneh.
“Ma, aku nggak enak badan. Pusing.” Adiknya bicara setelah makanan di piringnya habis.
“Coba sini Mama pegang dahimu” Kutempelkan jari jemariku di dahinya. Biasa saja. Hm, aku curiga. Segera kuberanjak meninggalkan meja makan. Kuambil ponsel yang sejak Subuh dicas di atas meja rias. Tak lama setelah diaktifkan puluhan pesan masuk di grup kelas kedua anakku. Astaga ini rupanya yang membuat mereka bertingkah aneh.
“Mama sudah bilang ke Bu Guru kalau kalian tidak perlu diimunisasi. Jadi segera pakai sepatu nanti terlambat ke sekolah.” Perintahku.
Dengan gontai dan saling colek kakak beradik itu segera menenteng tas masing-masing. Mereka memakai sepatu dengan lambat. Terlihat jelas mereka sedang mencari-cari alasan agar tidak perlu ke sekolah. Aku berdiri di tengah pintu. Tak ada pilihan lain, mereka menyambut tangan kananku.
Aku segera masuk dan menutup pintu. Kakak dan papanya baru saja selesai sarapan. Lima menit kemudian mereka berangkat bersama-sama.
***
“Ih, Mama bohong. Sebel. Kenapa nggak bilang aja sih kalau aku sakit jadi nggak ke sekolah tadi?” Rengek kedua jagoan kecil saat kubukakan pintu pagar. Kedua mata mereka merah. Di antara mereka Abang yang paling kelihatan kesal.
“Dasar perempuan. Nyebelin semua. Memang sudah dari sananya, Ken, perempuan itu menyebalkan. Mama, Bu Guru, dokter yang nyuntik Lu tadi, semua menyebalkan.”
Dilemparnya tas sekolah dengan kasarnya. Sementara adiknya masih menangis sesenggukan sambil memegangi lengan kirinya.
“Untung aku kabur tadi, kalau nggak, huh, bisa sakit juga.” Katanya sambil membuka seragamnya.
“Kabur?” Tanyaku. “Kabur gimana?”
“Ya, nggak gimana-gimana. Ya, kabur. Lari.”
“Kok bisa?” Aku masih tak paham.
“Abang kan kuat, Ma. Didorongnya Bu Ros terus mejanya ditendang. Terus, lari.”
“Nggak ada yang bantu pegangin?”
“Tenaga raksasa begitu mana ada yang kuat peganginnya.”
“Iya, Lu seharusnya juga kuat nggak lemah, Ken. Jadi, nggak disuntik dan nangis sepanjang jalan. Bikin malu. Kita tuh laki-laki. Laki-laki itu kuat, nggak cengeng.”
“Alah, Abang aja takut kan disuntik makanya kabur? Gaya pake ngeledek! Sama-sama penakut padahal” Adiknya sewot.
(Bersambung)
#Day04NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour
Hahahaha..