Bolu Sayur Ala Pandemi

Ini kali bukanlah yang pertama aku membuat bolu. Meskipun tidak mengembang seperti pada umumnya bolu panggang tetapi rasanya tidak kalah enak dan mengenyangkan. Maklumlah. Ha ha ha.

Berawal dari sisa juicer buah dan sayur yang kuminum pagi ini bolu panggang ala Pandemi pun matang. Ya, semua bahannya ada di rumah. Tidak perlu mencari keluar dan sengaja membelinya di toko bahan kue. Cukup pakai semua bahan yang kebetulan ada di ruang dapur sederhana 1,5 x 2 meter. Dengan begitu nggak perlu repot ke luar rumah menggunakan masker dan mengambil resiko tinggi bertemu orang-orang yang tidak tahu apakah sehat atau sudah terpapar virus.

Cara membuatnya pun sederhana. Sebutir telur ditambah pengemulsi dan pengembang kue dikocok. Tak lupa masukkan gula dan margarin sesuai selera. Kocok terus hingga memutih. Takarannya sesuaikan dengan rasa manis dan gurih yang diinginkan. Setelah itu masukkan sisa juicer yang berupa ampas nanas, buncis, brokoli dan pakcoy. Ampas ini sebenarnya bukan ampas dalam arti yang sebenarnya, ya. Berhubung juice extractorku lagi ngadat jadi aku pakai juicer biasa untuk membuat jus. Maka hasil jusnya tidak sebanyak yang dihasilkan oleh juice extractor. Masih banyak nutrisi alias saripati yang tertinggal di ampas juice tadi. Nah, ampas inilah yang kugunakan sebagai tambahan bahan bolu.

Setelah semuanya diaduk rata barulah dituangkan ke dalam cetakan bolu yang sudah dilapisi mentega. Berikan irisan nanas dan parutan keju di atasnya. Lalu, panggang deh. Waktu pemanggangannya cukup 20-25 menit. Setelah matang, angkat dan dinginkan.

Mudah, kan?

#Day2AISEIWritingChallenge#december2020

Apartemen Mencit


(Dokumentasi pribadi)

Menyebarnya wabah Covid19 rupanya tak hanya mempengaruhi ekonomi global tetapi juga rumah tanggaku. Dengan anak lima yang masih kecil kondisi ini membuat aku dan suami harus berusaha mencari peluang usaha baru agar bisa menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Beruntung kami berdua memiliki semangat yang sama untuk mencari usaha meskipun minim pengalaman dan kemampuan.
Berbekal video tutorial maka jadilah kami peternak mencit alias tikus putih. Dengan latar belakang pendidikan teknik mesin suami membangun apartemen mencitnya seorang diri. Ketekunan dan kegigihannya belajar merawat mencit lambat laun membuahkan hasil.
Pertengahan Maret 2020 saat kami harus menjalani WFH (Work From Home) kami memulai usaha kecil ini. Dengan modal hanya lima ekor mencit dan satu bak plastik kecil kami bertawakal kepada Sang Pemberi rejeki. Kiranya Allah berkenan mengabulkan permohonan kami. Satu demi satu pembeli mulai berdatangan ke rumah.
Jangan tanya soal keuntungannya. Harga pakan yang mulai menanjak tidak seimbang dengan harga jual mencit membuat kami terpaksa menjual rendah ternak kami. Ini memang berat.
Ini memang berat. Namun, setidaknya kami masih punya aktivitas positif yang bisa membantu kami menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama uang jajan anak-anak.

(Karadenan, 8 Oktober 2020; 08:16 am)

#Day2AISEIWritingChallenge