Najis

Pernah mendengar kata najis? Apa sih artinya? Mengapa banyak orang mengucapkannya baik dengan intonasi sedang hingga berat? Adakah makna di balik lima huruf tersebut? Bagaimana perasaan seseorang ketika mendengar kata itu diucapkan di hadapannya? Bagaimana perasaan orang yang dimaksud dengan kata itu? Berdosakah orang yang mengucapkannya? Burukkah orang yang mendapatkannya? Bingungkah orang yang turut mendengarnya? Lalu bagaimana perasaan orang yang mengucapkannya sendiri? Baik-baik saja kah ia? Jangan-jangan ia mengalami sesuatu yang buruk hingga ia menggunakan kata tersebut untuk meluapkan emosinya.

Ah, aku sendiri tak paham. Yang pasti aku merasa ilfil saat mendengar kata itu diucapkan. Tak peduli kepada siapa kata itu dituju. Juga tak peduli mengapa kata itu dipilihnya untuk mengungkapkan emosi yang ada di dalam dirinya. Aku bahkan tak peduli siapa dia.

Satu yang kuketahui adalah bahwa kata najis bermakna jijik (adjective, kata sifat, kotor atau kotoran yang menghalangi seseorang untuk beribadah kepada Allah SWT (KBBI V).

(Karadenan, 16 Oktober 2020; 08:32 wib)

#Day5AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Buah Strawberry Pertama


(Dokumentasi pribadi)

Betapa gembiranya saat mendapatkan pemandangan yang sangat menyegarkan mata pagi ini. Wall planter tumbuh subur makmur. Bahkan strawberry yang kupindahkan saat berbunga kini sudah berbuah. Cantik sekali warna buahnya.

Tadinya aku ragu apakah bisa tanaman yang sedang berbunga dan tumbuh subur itu bisa beradaptasi di lahan yang lebih sempit di wall planter. Dengan ukuran kantong planter yang hanya selebar telapak tangan tentu saja sangat minimalis bagi tanaman yang sudah biasa berada di dalam pot. Apalagi dengan media tanam yang sangat ringan seperti sekam bakar ini tambah membuatku berpikir negatif tentang nasib tanaman-tanamanku tersebut.

Di tempat sebelumnya mereka dipeluk hangat oleh campuran tanah yang diberi pupuk baik kompos maupun pupuk kandang. Tak jarang cacing tanah ikut membentuk keluarga di antara campuran media tanamnya dan membuatnya semakin subur.

Sementara di wall planter, mereka hanya dipeluk oleh sesendok sekam bakar yang tak mungkin dihuni cacing. Hanya bermodalkan air hujan, air beras, dan sedikit cairan pupuk lainnya mereka hidup bertahan di sana.

Pagi ini aku melihat daun-daun hijau mereka tumbuh dan mulai terlihat keluar dari kantongnya. Ranting-ranting muda melati dan mawar pun mulai tumbuh. Lidah buaya pun semakin berkembang. Sementara itu, kumpulan anggrek yang juga ditanam di wall planter hanya dengan sisa sabut kelapa, dan arang ikut melambai manja di bawah lindungan dahan mangga. Beberapa hari ke depan aku yakin sekali buah strawberry yang kini masih berwarna jingga masak. Tak lama lagi aku bisa mencicipi nikmatnya buah strawberry tersebut.

(Karadenan, 16 Oktober 2020; 07:17 wib)

#Day4AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour