Ternyata, jatuh cinta tidak semudah membalikkan telapak tangan. Awalnya, kupikir setelah mengenal dan bergaul cukup lama, cinta akan hadir sesuai harapan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Cinta hadir dan tumbuh subur bukan karena hitungan waktu atau banyaknya interaksi yang terjadi di antara kita, melainkan karena adanya chemistry yang kuat antara dua individu, serta kemampuan untuk saling menghargai dan menerima kekurangan masing-masing.
Aku pernah berpikir bahwa ketika sakit hati, kecewa, dan terluka, berlari kepada yang baru akan menyembuhkan segalanya. Hatiku akan terbuka kembali, siap menerima seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ternyata, pikiran naif itu keliru. Terlebih saat kusadari, aku bukanlah yang pertama. Ada orang-orang yang lebih dahulu hadir, menyemai kasih, dan berjalan mesra bersamanya. Mereka bercerita dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan sebagai yang terpilih. Bahkan, ada yang berbisik pelan, meminta agar aku menjauh demi menjaga rapuhnya jiwa yang telah terluka.
Sayangnya, semua nasihat itu kuabaikan. Aku tetap berharap cinta akan hadir setulus dan sehangat matahari pagi. Aku masih menjajaki berbagai kemungkinan untuk tetap bersama, meskipun badai terus menggoyahkan tekadku. Aku yakin bahwa kebersamaan ini akan membawa kebaikan bagi kami berdua.
Namun, pada akhirnya, aku menyadari sesuatu. Berpegangan tangan dan berjalan berdampingan ternyata bukanlah cinta. Itu lebih merupakan upaya saling menjaga, meski aku sendiri bingung apa yang sebenarnya kami jaga. Kepura-puraan menjadi selimut abadi dari interaksi kami. Senyuman manis yang terlihat bukanlah untukku, bukan pula berasal dari hati. Hanya sekadar klise untuk menutupi maksud hati yang entah ditujukan kepada siapa.
Setelah menangis di kamar sempit, di bawah derasnya air yang mengalir, aku memutuskan sesuatu yang membuatku ragu. Kepura-puraan ini adalah sembilu yang terus melukai hati. Mencoba mengobati hati sendiri yang tak jelas bentuk lukanya ternyata sama sulitnya dengan mengobati luka yang ditinggalkan oleh orang sebelumnya. Luka itu memberi dampak besar bagi interaksi kami.
Penampilannya yang memukau, sikapnya yang super ramah, membuatku ragu untuk meragukan perasaannya padaku. Tutur katanya lembut, sorot matanya meyakinkan, genggaman tangannya erat, dan senyumnya tak pernah hilang. Siapa sangka semua itu hanya sandiwara? Di balik sikap manisnya, suara-suara mencicit tetap kudengar. Gestur yang tak nyaman tetap tertangkap netra. Pada akhirnya, tubuhku bereaksi secara alami. Sandiwara pun terus berlanjut. Kata-kata rindu menjadi seperti gincu—hanya topeng. Di balik itu, pisau siap menusuk saat lengah. Parah.
Kesungguhan, ketulusan, penghargaan, dan apresiasi yang kuberikan terasa sia-sia. Waktu, yang sering kupikir sebagai obat mujarab untuk membalut luka, ternyata tidak cukup. Aku sadar, berjalan berdampingan tidak selalu berarti saling memahami dan menjaga. Memberi dan menerima hanya menjadi ilusi yang melayang dalam angan.
Pada akhirnya, cinta yang kucari punah dan binasa. Menjadi yang kedua, ketiga, dan seterusnya bukanlah solusi terbaik untuk menyembuhkan luka. Kembali bernegosiasi dengan yang pertama dan menerima segala kekurangannya justru menjadi obat paling mujarab. Dengan bangga dan bahagia, aku melangkah meninggalkan gerbang. Aku buang kepura-puraan dan berlari menjemput kejujuran.
Aku jujur pada diriku sendiri: aku pernah jatuh cinta, aku pernah bahagia, dan aku pernah kecewa. Namun, aku bangkit dari kekecewaan itu dan kembali merajut kasih. Bahagia ada di dalam benak dan hatiku.
(Bogor, 23 Desember 2024)
#cinta #pura-pura #mataharipagi #kecewa #jatuhcinta
Tulisan yang mengharukan, kata demi kata membawa terseret pada pengungkapan perasaan seolah olah yang membacakan yang mengalaminya.
Penulis mengungkapkan bagaimana kita memilih sesuatu yang terbaik untuk diri sendiri dengan segala resikonya termasuk memilih untuk mencintai dan menerima rasa kecewa. Thanks telah membawa saya seolah hidup saya lah dalam cerita tersebut.
Terima kasih, Kak. Cinta memang tak selamanya indah dan sesuai harapan. Kitalah yang membuatnya indah dalam versi kita. Love You, Kak.
Good
thanks
Very good
thanks dear