Bogor, Lukisan Masa

Oleh Neneng Hendriyani

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Di kaki Salak Pangrango:

Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru

mengalir syahdu cerita tempo dulu:

Danau biru tak pernah surut,
Cermin langit tempat rindu berlabuh,
Riak-riak kecil berlarian riang,

Di antara sauh, pedati ditarik pulang

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,

Di kaki Salak Pangrango, sawah luas menghampar megah,
Tarian angin di padi mengalun ramah,

Gelatik dan Manyar bernyanyi riuh rendah.

Kini, baja dan bata berdiri tegak berlomba
Pabrik-pabrik tumbuh menggantikan hijau ladang

Menyisakan asap sesak dalam kenangan

Jauh di sudut jalan, tetap terasa,
Hangatnya talas Bogor dalam genggaman,
Asap soto mie menari di udara,
Di meja bambu, tradisi tak pernah pudar.

Zaman bergulir, kota berbenah,
Dari Pajajaran ke lampu kota yang tak padam di tengah malam
kujumpai di setiap wajah,
Sisa-sisa sejarah yang tetap benderang dalam ingatan.

Di alun-alun, anggun meliuk,

Selaras kidung Pakuan menyeruak jiwa

Di antara gendang dan suling ku’ terkesima
Rajutan cerita: Kuta Udaya Wangsa!

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,

Tetap indah dalam perubahan,
Mengalir seperti Cisadane yang tak berhenti,
Menjaga warisan, menyambut masa depan,
Menjadi rumah bagi hati yang mencari jalan pulang.

(Karadenan, 27 Maret 2025)

Hanya Karena Hape

Oleh Neneng  Hendriyani, M.Pd.

“Gila! Tujuh grup? Itu isinya sama semua?” Tanyanya dengan mata melotot.

Aku jadi merasa serba salah. Mau dijawab iya takut nggak percaya. Mau bilang nggak lah kenyataannya iya. Alah, persetan dengan tanggapannya akhirnya aku menganggukkan kepala dengan tetap memandangnya tajam. Nyeri rasanya ditanya sedemikian rupa seolah aku ini pembohong tingkat dewa.

“Itu semua di satu platform media sosial?” Tanyanya lagi sambil memajukan kepalanya hingga nyaris tinggal dua jengkal jaraknya dengan kepalaku. Benar-benar tak nyaman.

Aku mengangguk. Ini kali dengan membuang pandangan  ke jendela.

Hujan masih berlangsung disertai  angin kencang. Kulihat puluhan kendaraan bermotor masih berjibaku di jalan raya persis di seberang kantor tempat aku duduk saat ini. Entah berapa supir yang mendengus kesal lantaran jalannya dipotong pengendara motor itu seenaknya udelnya sendiri.

Orang di depanku masih terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan bodohnya. Ingin rasanya kusiram wajahnya dengan  sisa kopi siang tadi. Sayang, niat jahat itu kukubur dalam-dalam saat tiba-tiba bayangan guru ngajiku muncul di kelopak mata.

Aku segera berdiri. Kutarik kerah bajunya.

“Mau tujuh, delapan, sembilan grup apa urusanmu? Mau ngehang mau nggak itu hapeku. Bukan hapemu. Berhenti mengurus urusanku.”

Dipegangnya kedua tanganku erat. Alhasil cengkeramanku melemah. Biadab! Orang ini makin keterlaluan.

“Apa maumu?”

“Hapus semua grup itu dan cukup sisakan satu saja!” Perintahnya.

“Mengapa kamu sewot banget sih dan memaksaku begitu?” Tanyaku.

“Bila kamu masih mempertahankan semua grup itu yang isinya orang-orang yang sama, buat apa? Kamu hanya menghabiskan waktu untuk membaca chat yang pada intinya sama.”

“Lalu masalahnya apa?” Aku masih bertahan.

“Masalahnya kapan kamu akan membaca dan membalas chatku?” Teriaknya.

Aku terganga! Mungkinkah? Tidak! Pasti tidak! Hati dan otakku terus bicara mengenai sikapnya yang aneh sekali sejak beberapa jam lalu. Ya, dia berubah setelah memeriksa isi hape kentang ini.

“Kok diam?” Selidiknya.

Aku masih menatapnya. Berusaha mencari kemungkinan yang paling mungkin di balik pupilnya yang kecoklatan. Tak ada tanda yang konon katanya tergambar  jelas di sana. Aku menggeleng membayangkan kemungkinan demi kemungkinan yang muncul.

“Berikan hapemu dan biarkan aku memilihkan grup terbaik untuk kau ikuti.”

Aku membiarkannya mengambil hape yang sejak tadi berada tak jauh dari jangkauannya. Percuma menghalangi pikirku.  Aku malas berdebat untuk hal yang tak bermanfaat.

 

(Bogor, 18 Oktober 2022; 19.51 wib)

Di Gerbang Waktu

Jika aku ditanya, adakah cinta sejati? Aku menjawabnya: ada. Yakin sekali aku menjawab ada. Mengapa? Karena cinta sejati hadir tanpa basa-basi. Tak perlu melihat rupa, apalagi asal-usul atau latar belakangnya. Ia hanya peduli pada rasa. Rasa yang mengikat kalbu. Rasa yang hadir karena memang haknya. Rasa ingin membahagiakan dan menjaga. Bukan rasa sebaliknya, yang merusak dan menghancurkan impian.

Di mana cinta sejati hadir? Cinta sejati hadir di hati. Ia mampu melewati hitungan masa. Tak peduli siang atau malam. Tak peduli kering atau hujan. Ia mampu bertahan. Tak terbilang tahun, apalagi hari. Ia mampu bertahan setia di titik di mana ia jatuh cinta pertama kali.

Mungkin kita berpikir bahwa cinta sejati hanya milik rakyat jelata yang tidak dipusingkan soal harga, pajak, dan permasalahan tetek bengek lainnya. Rakyat yang sederhana, yang bisa memeluk cintanya tanpa ragu dan banyak kata. Sebenarnya, cinta sejati bisa menjadi milik semua orang. Tak perlu memandang posisi atau perannya. Namun, bagi para raja, cinta sejati tak semanis madu belantara yang murni. Cinta bagi mereka terkadang adalah siksaan tak berperi. Laksana memegang bara di tangan. Tak mudah digapai dan dimiliki. Cinta yang hanya bisa ditahan di pandangan mata, disimpan di relung hati terdalam. Tak bisa sembarangan diucapkan, apalagi diobral habis-habisan.

Mengapa? Karena raja adalah penguasa. Tanggung jawabnya luar biasa besar. Cinta sejatinya belum tentu mampu membuat negaranya aman dan sejahtera. Ia bisa saja tenggelam dalam cinta dan melupakan rakyatnya. Maka, meninggalkan cinta sejati dalam bentuk nyata adalah solusi terbaik yang ia punya. Menyimpan dan merangkai semua kenangan menjadi satu-satunya pintalan harapan abadi baginya. Karena cinta sejati untuk para raja tak harus dimiliki. Cukup dirasakan dan dipuja dalam doa.

Bagi cinta itu, para raja bisa berkorban banyak hal, kecuali negaranya. Hidup yang sengsara, sepi, dan merana menjadi pilihan tak terhindarkan. Hanya rapalan doa yang mampu membuatnya bertahan, berdiri tegar di singgasananya. Melewati tahun demi tahun, berharap cintanya aman. Cinta yang membuatnya sadar bahwa hidup hanya sebentar. Menitipkannya ke semesta adalah pilihan yang bijak. Sehingga ia bisa menemuinya di suatu masa yang entah kapan. Sungguh.

Cinta sejati memang sering membuat orang buta, gila. Ia mampu membuat seseorang berbuat apa pun demi sang belahan jiwa. Termasuk menjaganya melewati masa yang luar biasa panjangnya. Maka, aku percaya, cinta sejati itu ada. Karena kamu adalah bukti nyata. Sebuah cinta yang tak bernama dari masa yang tak kuingat.

(Bogor, 27 Desember 2024)

Siapa bilang jatuh cinta itu mudah?

Ternyata, jatuh cinta tidak semudah membalikkan telapak tangan. Awalnya, kupikir setelah mengenal dan bergaul cukup lama, cinta akan hadir sesuai harapan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Cinta hadir dan tumbuh subur bukan karena hitungan waktu atau banyaknya interaksi yang terjadi di antara kita, melainkan karena adanya chemistry yang kuat antara dua individu, serta kemampuan untuk saling menghargai dan menerima kekurangan masing-masing.

Aku pernah berpikir bahwa ketika sakit hati, kecewa, dan terluka, berlari kepada yang baru akan menyembuhkan segalanya. Hatiku akan terbuka kembali, siap menerima seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ternyata, pikiran naif itu keliru. Terlebih saat kusadari, aku bukanlah yang pertama. Ada orang-orang yang lebih dahulu hadir, menyemai kasih, dan berjalan mesra bersamanya. Mereka bercerita dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan sebagai yang terpilih. Bahkan, ada yang berbisik pelan, meminta agar aku menjauh demi menjaga rapuhnya jiwa yang telah terluka.

Sayangnya, semua nasihat itu kuabaikan. Aku tetap berharap cinta akan hadir setulus dan sehangat matahari pagi. Aku masih menjajaki berbagai kemungkinan untuk tetap bersama, meskipun badai terus menggoyahkan tekadku. Aku yakin bahwa kebersamaan ini akan membawa kebaikan bagi kami berdua.

Namun, pada akhirnya, aku menyadari sesuatu. Berpegangan tangan dan berjalan berdampingan ternyata bukanlah cinta. Itu lebih merupakan upaya saling menjaga, meski aku sendiri bingung apa yang sebenarnya kami jaga. Kepura-puraan menjadi selimut abadi dari interaksi kami. Senyuman manis yang terlihat bukanlah untukku, bukan pula berasal dari hati. Hanya sekadar klise untuk menutupi maksud hati yang entah ditujukan kepada siapa.

Setelah menangis di kamar sempit, di bawah derasnya air yang mengalir, aku memutuskan sesuatu yang membuatku ragu. Kepura-puraan ini adalah sembilu yang terus melukai hati. Mencoba mengobati hati sendiri yang tak jelas bentuk lukanya ternyata sama sulitnya dengan mengobati luka yang ditinggalkan oleh orang sebelumnya. Luka itu memberi dampak besar bagi interaksi kami.

Penampilannya yang memukau, sikapnya yang super ramah, membuatku ragu untuk meragukan perasaannya padaku. Tutur katanya lembut, sorot matanya meyakinkan, genggaman tangannya erat, dan senyumnya tak pernah hilang. Siapa sangka semua itu hanya sandiwara? Di balik sikap manisnya, suara-suara mencicit tetap kudengar. Gestur yang tak nyaman tetap tertangkap netra. Pada akhirnya, tubuhku bereaksi secara alami. Sandiwara pun terus berlanjut. Kata-kata rindu menjadi seperti gincu—hanya topeng. Di balik itu, pisau siap menusuk saat lengah. Parah.

Kesungguhan, ketulusan, penghargaan, dan apresiasi yang kuberikan terasa sia-sia. Waktu, yang sering kupikir sebagai obat mujarab untuk membalut luka, ternyata tidak cukup. Aku sadar, berjalan berdampingan tidak selalu berarti saling memahami dan menjaga. Memberi dan menerima hanya menjadi ilusi yang melayang dalam angan.

Pada akhirnya, cinta yang kucari punah dan binasa. Menjadi yang kedua, ketiga, dan seterusnya bukanlah solusi terbaik untuk menyembuhkan luka. Kembali bernegosiasi dengan yang pertama dan menerima segala kekurangannya justru menjadi obat paling mujarab. Dengan bangga dan bahagia, aku melangkah meninggalkan gerbang. Aku buang kepura-puraan dan berlari menjemput kejujuran.

Aku jujur pada diriku sendiri: aku pernah jatuh cinta, aku pernah bahagia, dan aku pernah kecewa. Namun, aku bangkit dari kekecewaan itu dan kembali merajut kasih. Bahagia ada di dalam benak dan hatiku.

(Bogor, 23 Desember 2024)

#cinta #pura-pura #mataharipagi #kecewa #jatuhcinta

 

Melodylan : Bukan Happy Ending Novel

Oleh Neneng Hendriyani

Judul : Melodylan

Penulis : Asri Aci

Editor/penyunting: Andhy pulung

Penerbit : Coconut books

ISBN : 9786026940674

Genre: Fiksi

Jumlah halaman: 328 hal

Keunggulan novel Melodylan ini dibandingkan novel lain yang pernah kubaca adalah feelnya sangat terasa. Alur ceritanya mudah dipahami dan tidak terlalu berbelit-belit. Ceritanya tidak membosankan. Bahasa dalam novel ini sangat ringan sehingga asyik dibaca di waktu senggang kapan pun dan di manapun.

Bagi penikmat novel yang happy ending sebaiknya jangan membaca novel Melodylan ini. Ini karena cerita di novel ini tidak berakhir bahagia karena tokoh utama pria dan wanita, yaitu Dylan dan Melody berpisah.

Namun demikian, sejujurnya novel ini sangat menarik dan sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh remaja. Banyak hal yang  bisa didapat dari membaca novel ini.

H-5 MENUJU PGP (Pendidikan Guru Penggerak) Angkatan 7 Tahun 2022

Oleh Neneng Hendriyani

Setelah serangkaian kegiatan yang diikuti sejak awal Maret 2022, akhirnya 26 September 2022 keputusan final itu pun keluar. Dengan kop resmi milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan dengan nomor surat  2616/B3/GT.00.08/2022 mengenai Pengumuman Kelulusan Hasil Seleksi Tahap 2 Calon Guru Penggerak Angkatan 7 yang ditandatangani oleh Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan, Drs. Praptono, M.Ed, resmilah aku menjadi salah satu peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 mulai 20 Oktober 2022 mendatang.

Beragam perasaan berkecamuk saat menerima surat tersebut. Ada rasa bahagia bercampur bingung. Bahagianya karena apa yang sudah diperjuangkan selama proses seleksi membuahkan hasil yang tidak mengecewakan semua pendukung. Ya, mereka yang menjadi pendukungku mengikuti program ini adalah atasan dan keluarga. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum yang juga PGP (Pendidikan Guru Penggerak) Angkatan 4 menyalamiku bahagia. Pun, Kepala Sekolah. Aku tak tahu hendak bagaimana sikap mereka bila aku tidak lulus seleksi program ini. Membayangkannya saja membuatku menahan napas.

Rasa bingung seketika memang terlihat di air mukaku yang saat itu sedang menguji penilaian projek P5 Tema 1 Gaya Hidup Berkelanjutan di lapangan utama sekolah. Terbayang betapa sibuknya nanti bila jadwal pelatihan sudah dimulai dan aku sendiri selain sebagai guru juga sebagai anggota Komite Pembelajar Kurikulum Merdeka. Alamak, bisa nggak ada waktu kosong buat nge-mall bersama sohib terkece deh.

Napas yang panjang menandai proses penerimaan yang agak sulit di dalam jiwaku. Sebagai ibu dari lima anak yang sedang butuh perhatian aku sadar betul proses pendidikan guru penggerak sedikit banyak akan menyita waktu yang sedianya kujadwalkan untuk mereka. Aku hanya bisa pasrah. Allah SWT pasti memiliki skenario terbaik bagiku. Ainul yaqin.

Beberapa jam setelah pengumuman resmi dirilis di berbagai media social dan WhatsApp group, secara alamiah aku kemudian bergabung dengan beberapa WhatsApp Group PGP (Pendidikan Guru Penggerak) 7. Ada yang tingkat nasional, provinsi, kabupaten, dan beberapa teman dekat. Kemaruk? Tidak juga. Sebagai pemula tentu saja aku haus informasi. Dari seluruh grup tersebut aku dan rekan-rekan seperjuangan saling berbagi informasi terkait beragam hal tentang PGP 7. Kesamaan tujuan menyatukan kami yang notabene berasal dari beraneka macam perbedaan; wilayah, bahasa, budaya, mata pelajaran, jenjang pendidikan, dan lainnya. Tujuan kami satu; daftar bersama, seleksi bersama, lulus pun bersama-sama. So sweet.

Hampir beberapa jam sekali semua grup itu aktif mewartakan perkembangan terakhir SIMPKB. Sepertinya seluruh grup itu menyita semua perhatianku. Beberapa informasi penting langsung kubintangi dan sisanya clear chat. Sesekali pula aku mengintip perkembangan SIMPKBku memeriksa apakah yang disampaikan rekan-rekan benar adanya. Ya, kami saling bertukar informasi tentu saja.

Lima hari lagi pembukaan resmi program pendidikan ini pun akan dibuka. Surat resmi yang lagi-lagi kuterima dari WhatsApp Group PGP (Pendidikan Guru Penggerak) Angkatan 7 tersebut membuatku tersentak. Jadwal resmi pembelajaran sudah rilis, Bung! Tidak ada lagi waktu santai.

Dengan nomor surat 2748/B3/GT.00.08/2022 mengenai Persiapan dan Jadwal Pelaksanaan PGP (Pendidikan Guru Penggerak) Angkatan 7 Tahun 2022 tertanggal 10 Oktober 2022 yang ditandatangani oleh Pejabat yang sama membuatku sadar sesadar-sadarnya. Ini bukan main-main. Aku harus berbenah.

Langkah awal menghadapi sederetan modul yang perlu dipelajari hingga akhir tahun 2022 ini adalah memeriksa ulang laptopku tercinta. Semua file terkait PGP (Pendidikan Guru Penggerak) Angkatan 7 ini kurapikan kembali. Beberapa bukti karya tulisku pun kuperiksa dan kurapikan. Bahkan, beberapa file pendukung kenaikan pangkat ke 4C pun tak luput dari sasaran pembenahan. Ya, aku tidak boleh main-main. Usiaku sudah tak lagi muda. Aku ingin menutup karierku dengan catatan gemilang, sebagai guru yang berhasil bergerak dan menggerakkan semua orang terutama siswa-siswaku. Menjadi teladan bagi mereka untuk terus mencari ilmu hingga akhir hayat. Menjadi long life learner yang sesuai dengan sunnah Rasul. Dalam hati aku berdoa, semoga Allah SWT memudahkan semua proses pendidikan ini dan memberikanku pertolongan dalam menyelesaikannya dengan hasil yang sangat memuaskan. Aamiin yra.

(Bogor, 15 Oktober 2022)

Praktik Menulis Procedural Text Dengan Memasukkan P5 Dalam Bentuk Infografis

pdf_20220923_181405_0000

 

Mengajar bahasa Inggris terutama untuk procedural text sebenarnya sangat mudah sekali. Guru hanya perlu menjelaskan generic structure dari procedural text, language features yang digunakan dalam menyusun procedural teks, dan juga memberikan contoh prosedural text untuk manual, tips, resep masakan, dan lain sebagainya. Setelah itu barulah siswa dikelompokkan kira-kira 5 sampai 6 untuk mengerjakan Project yang berkaitan dengan P5 ( Project profil pengenalan pelajar Pancasila). Berikanlah tema yang berkaitan dengan P5 untuk membuat procedural text secara kelompok. Tema gaya hidup berkelanjutan adalah contoh tema yang bisa dipilih untuk mengerjakan tugas kelompok procedural text. Guru hanya perlu memberikan aturan bagaimana membuat procedural text yang baik dan benar dan memberikan instruksi yang jelas mengenai produk apa yang akan dibuat dan dari jenis bahan apa saja.

Sebagai contoh, untuk tema gaya hidup berkelanjutan siswa dapat diberikan tugas membuat produk kerajinan tangan (dekorasi ruang kelas dekorasi meja, dekorasi pintu dekorasi ruang belajar, dekorasi ruang makan, dan lain-lain) berikan batasan yang jelas kepada siswa bahwa seluruh produk kerajinan tangan tersebut dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan atau barang bekas yang ada di sekitarnya. Hal ini selain sebagai praktik nyata menjaga lingkungan hidup juga untuk menanamkan pengalaman berharga dan pembelajaran bermakna bahwa siswa dapat menciptakan suatu produk yang memiliki nilai seni sekaligus nilai jual yang tinggi.

Untuk mendapatkan hasil maksimal guru perlu memberikan waktu yang cukup agar siswa dapat berdiskusi dengan anggota kelompoknya, mengumpulkan bahan dan alat yang dibutuhkan, dan membuat produk yang mereka putuskan bersama dengan baik. Seluruh rangkaian pekerjaan tersebut didokumentasikan dengan baik dalam bentuk laporan tertulis. Selain itu penilaian pun bisa diambil dalam bentuk presentasi kelompok di mana siswa mempresentasikan cara membuat produk tersebut dengan menggunakan procedural text.

Presentasi kelompok tersebut dapat menggunakan infografis Mengapa harus dalam bentuk infografis? Karena procedural text lebih mudah dibuat dalam bentuk infografis. Selain itu dengan menggunakan template infografis siswa juga dapat menuangkan ide-ide kreatifnya mengenai produk yang dibuat dan dikerjakannya bersama-sama. Dengan demikian hasil yang diperoleh menjadi lebih menarik.

Membuat infografis untuk procedural text juga memungkinkan siswa untuk belajar tidak hanya bahasa Inggris saja. Namun juga mereka dapat mempraktekkan pelajaran lain seperti misalnya seni. Sehingga mereka menjadi lebih tertarik dan tertantang untuk melaksanakan dan mengerjakan tugas tersebut dengan baik.

 

 

(Bogor 27 September 2022)

Inilah Aku Seloyang Coklat Bertabur Meses

Oleh Neneng Hendriyani

 

Ini kali semuanya begitu sederhana

Layaknya seloyang coklat, manis pahitnya terasa meleleh hingga ke dasar

Keras, lembut menjadi endapan yang membekas

Menghapus batasan emosi dalam hitungan mesin waktu

Berpendar bersama ribuan bintang

Mengintip jutaan kisah masa depan

 

Ya, ini kali semuanya begitu sederhana

Taburan meses aneka warna adalah aku di atas loyang kehidupan

Merah membara bersama semangat yang tak pernah surut

Kuning terang bersama impian yang tak pernah hilang

Hijau lembut dalam tarian bayu memecah gelombang biru kenangan

Hitam pekat menutup selaksa jingga yang setia hadir bersama surya

 

Ini kali semuanya sederhana

Layaknya seloyang coklat bertabur meses aneka warna

Inilah aku di tengah samudera

Mengayuh sampan menuju dermaga

 

(Bogor, 9 Agustus 1982)

(07.12 wib)

Hidup Kembali (Part 1)

“Lahir kembali” sepertinya kok gimana, gitu ya? Apa iya orang hidup bisa lahir kembali? Bagaimana bisa?

Dalam berbagai pandangan agama mana pun sepertinya tak ada ajaran atau paham yang mengatakan bahwa seseorang bisa lahir kembali, terlebih bila yang bersangkutan masih hidup. Hanya agama Hindu dan Budha yang mengenal kelahiran kembali alias reinkarnasi. Itu pun setelah mengalami kematian fisik. Sementara yang dibahas di buku ini adalah kelahiran kembali sebuah jiwa dalam keadaan masih bernapas.

Untuk memahaminya jangan menggunakan bahasa yang sulit, ya. Bagi sebagian orang, kehadiran suatu hal yang begitu mengejutkan bisa menjadi alasannya untuk kembali hidup setelah kehilangan hidup itu sendiri. Bagi sebagiannya lagi justeru sebaliknya. Kehadiran suatu hal malah bisa membuatnya mati dalam hidup. Ia hidup, bernapas, makan, dan minum namun tidak lagi merasakan kenikmatan, kesenangan, dan harapan dalam hidup yang dijalaninya. Ia merasa sudah mati dalam hidupnya. Hari-hari yang dilaluinya hanyalah sekadar mengisi waktu saja. Seringkali orang itu tidak melakukan apapun yang membuat harinya lebih bermakna.

Bagi orang yang lama kehilangan semangat hidup dan membiarkan waktunya berlalu begitu saja bisa tiba-tiba begitu bergairah menghadapi hidup. Inilah yang dinamakan hidup kembali.

Sampai sini paham, kan? Jadi pengertian hidup kembali bukanlah menempati tubuh baru dengan nama baru tetapi lebih kepada pemahaman dan kesiapannya menghadapi kehidupannya setelah peristiwa besar yang membuatnya bagai mayat hidup.

Seperti yang kita ketahui hidup tak selamanya indah dan mudah, berjalan sesuai harapan dan mau kita. Hidup selalu memberikan kejutan di setiap harinya. Ada tawa dan air mata yang saling memilin kisah kita sebagai penghuni dunia yang fana. Kekuatan fisik, mental dan hati seringkali menjadi penentu apakah kita berhasil melalui semua kisah tersebut dengan baik. Tidak semua orang bisa melaluinya dengan lancar dan penuh kerelaan. Banyak yang menolak diam-diam dan kemudian terjebak di lingkaran nestapa. Itulah hidup. Hidup yang mau tak mau harus diterima dan dijalani sebisa kita.

Seperti aku yang juga sama denganmu. Berharap di semua waktu bisa menikmati gelak tawa tanpa adanya banjir air mata yang membuat jiwa merana. Namun siapa lah aku. Hanya seorang hamba yang nasibnya sudah ditetapkan jauh sebelum lahir.

Tak pernah diduga sebelumnya bila benjolan kecil sebesar bulir padi itu lambat laun membesar, bergerak, dan hidup di jaringan tubuh setelah bertahun-tahun lamanya. Aku yang dibesarkan secara sederhana di lingkungan keluarga yang takut dokter tak pernah menduga akan menghabiskan banyak masa muda, waktu, dan harta untuk bisa menghirup udara segar tanpa tekanan dan siksaan.

Ya, peristiwa menakutkan itu terjadi persis ketika aku baru saja melahirkan anak pertama. Perasaan lemas, lelah, letih, lesu, lunglai, letoy, dan loyo menderaku dengan hebatnya hingga aku tak mampu menggerakkan tubuhku sendiri. Setiap hari aku hanya mampu menghabiskan waktu 1 jam untuk bisa beraktivitas. Itu pun segera setelah bangun tidur. Setelah selesai mandi dan berjemur dengan orok aku sudah limbung.

Sepanjang hari aku hanya tidur-tiduran saja di samping orok yang belum bisa membuka matanya. Untuk bangun memperbaiki posisi tubuh pun rasanya susah. Apalagi bila harus ke toilet dan lainnya. Sudah pasti harus dipapah orang rumah.

Empat puluh hari kemudian aku ke RS PMI Bogor. Setelah pemeriksaan intensif dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi pembedahan di bagian payudara kanan. Jantungku kaget bukan kepalang mendengarnya. Mataku melotot saking tak percaya. Lutut pun gemetar hebat. Tuhan, cobaan apa ini?

Kutatap bayi mungil dalam gendongan. Berbagai pikiran buruk menyerangku tiba-tiba. Dokter itu terus saja memberikan penjelasan secara ilmiah mengenai penyakit yang kuderita. Aku sudah tak konsentrasi dengan apa yang dibicarakannya. Aku membayangkan bagaimana si kecil menyusu nanti. Aku bingung, sedih, takut, juga malu.

Sebagai pasangan muda tentulah seks adalah aktivitas yang tak hanya melibatkan persatuan tubuh tetapi juga perasaan. Bagaimana bisa melakukan pelayanan prima bila aku sendiri merasa tak percaya diri dengan kondisi fisikku sendiri. Mungkin suami tak keberatan dengan hal itu. Tetapi aku? Tidak! Tak mungkin. Batinku menolak keras.

Dengan mata memelas kuminta jeda untuk berpikir. Dokter itu memandangku tanpa perasaan. Mungkin saking banyaknya pasien yang seperti diriku. Menolak operasi karena takut dan cemas. Ya, takut dan cemas akan sesuatu yang tak jelas.

“Terserah, Ibu. Saya hanya menyampaikan apa yang harus disampaikan sebagai dokter. Keputusan akhir tetap di tangan ibu dan keluarga. Namun demikian pikirkan baik-baik bila suatu hari payudara ibu seperti ini maka keadaan sudah memburuk dan sulit untuk diobati.” Katanya sambil menunjukkan gambar sebuah payudara yang sudah bernanah dan bolong. Aku makin ketakutan. Nyaliku hilang entah ke mana. Aku mencoba mencari kekuatan dengan mengeratkan pelukanku pada sang bayi. Nihil. Aku makin lemas.

Dengan sayu kutinggalkan dokter seorang diri. Di bawah lampu neon aku duduk dan berpikir keras. Aku tak mau mati. Aku juga tak mau dioperasi. Aku takut gagal. Bagaimana bila aku “lewat” di meja operasi? Bagaimana nasib Viviku yang baru 40 hari ini? Oh, Tuhan Yang Mahakuasa berikan pertolonganMu. Bisikku lirih penuh harapan.

Kupandangi lagi hasil rontgen, mamograf, dan sebundel dokumen kesehatan lainnya di samping kursi yang kududuki. Mataku basah lagi. Tiba-tiba sebuah usapan hangat menyentuh kepalaku. Sontak aku mendongak. Wajahnya teduh dengan senyum manis menyapaku. “Jangan takut. Kita akan berusaha yang terbaik. Dede pasti sembuh. Yuk, ke dalam lagi.” Bujuknya. Aku menggeleng kuat-kuat.

Hari itu sepulang dari rumah sakit aku mulai mencatat kronologis penyakit ini. Aku.mencoba mengingat-ingat kapan awal penyakit ini datang dan berkembang biak. Ternyata itu lama sekali kejadiannya. Ya, jauh sebelum aku menikah. Bahkan, jauh sebelum aku lulus kuliah.

Sore itu aku pulang sekolah seperti biasa dengan teman-teman. Sesampainya di rumah aku memburu ibuku yang sedang asyik menonton TV. “Ma, kalau ada benjolan itu normal ga, sih?” Tanyaku. “Eh, tanya apa? Ganti baju dulu sana. Mandi dulu. Bau.” Jawabnya. Aku menurut. Setelah mandi dan mengganti baju aku kembali menanyakan hal yang sama. Dan, ibuku menjawab tidak tahu. Itulah hari pertama aku menyadari ada yang berbeda dengan payudaraku yang baru tumbuh.

Hari-hari berikutnya kulalui dengan biasa. Artinya semua aktivitas normal dilakukan tanpa ada gangguan yang berarti. Demam sedikit ya wajarlah. Mungkin kecapaian karena sekolahnya siang hari dan baru sampai rumah jam lima sore. Aku tak pernah curiga tentang perkembangan benjolan itu yang sebenarnya mulai tumbuh subur di dada kanan.

 

(Bersambung)

(Gedung Tegar Beriman, 10 November 2021; sambil menunggu panggilan donor darah memperingati HUT PGRI ke 76, KORPRI ke 50, HGN 2021)

KAMPANYE KINERJA ASN JAWA BARAT: HARI-HARI TERAKHIR MEMENUHI TUGAS

24 Agustus 2021, pukul 08.28 WIB, atasan menginformasikan sebuah tugas yang lumayan membuat dahi berkenyit pagi-pagi. Tugas yang bisa dibilang mudah, namun sukar itu membuat semua pegawai kemudian berusaha memenuhinya sebelum tenggat waktu 29 Agustus 2021. Itulah tugas yang paling membuat jantung berdebar kencang selama perjalanan dinasku di sekolah tersebut. Yaitu membuat video Kampanye Kinerja ASN Jawa Barat.

25 Agustus 2021, berbekal nekad akhirnya selesai juga tugas yang diinstruksikan oleh atasan. Dengan menggunakan Canva for Education, jadilah presentasi sederhana berdurasi cukup singkat tentang Kampanye Kinerja ASN Jawa Baratku. Inilah video teranyar yang kuunggah ke channel youtube Neng Hendri Suparman.

Dalam video tersebut aku menjelaskan tentang kinerja, dan target individu yang hendak dicapai. Bismillahirrahmanirrahim, semoga video Kampanye Kinerja ASN Jawa Barat yang kuunggah sebagai bagian dari tugasku di hari-hari terakhir menuju tenggat waktu tersebut dapat bermanfaat bagi semuanya .

 

(Cibinong, 27 Agustus 2021)