Oleh Neneng Hendriyani, M.Pd.
“Gila! Tujuh grup? Itu isinya sama semua?” Tanyanya dengan mata melotot.
Aku jadi merasa serba salah. Mau dijawab iya takut nggak percaya. Mau bilang nggak lah kenyataannya iya. Alah, persetan dengan tanggapannya akhirnya aku menganggukkan kepala dengan tetap memandangnya tajam. Nyeri rasanya ditanya sedemikian rupa seolah aku ini pembohong tingkat dewa.
“Itu semua di satu platform media sosial?” Tanyanya lagi sambil memajukan kepalanya hingga nyaris tinggal dua jengkal jaraknya dengan kepalaku. Benar-benar tak nyaman.
Aku mengangguk. Ini kali dengan membuang pandangan ke jendela.
Hujan masih berlangsung disertai angin kencang. Kulihat puluhan kendaraan bermotor masih berjibaku di jalan raya persis di seberang kantor tempat aku duduk saat ini. Entah berapa supir yang mendengus kesal lantaran jalannya dipotong pengendara motor itu seenaknya udelnya sendiri.
Orang di depanku masih terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan bodohnya. Ingin rasanya kusiram wajahnya dengan sisa kopi siang tadi. Sayang, niat jahat itu kukubur dalam-dalam saat tiba-tiba bayangan guru ngajiku muncul di kelopak mata.
Aku segera berdiri. Kutarik kerah bajunya.
“Mau tujuh, delapan, sembilan grup apa urusanmu? Mau ngehang mau nggak itu hapeku. Bukan hapemu. Berhenti mengurus urusanku.”
Dipegangnya kedua tanganku erat. Alhasil cengkeramanku melemah. Biadab! Orang ini makin keterlaluan.
“Apa maumu?”
“Hapus semua grup itu dan cukup sisakan satu saja!” Perintahnya.
“Mengapa kamu sewot banget sih dan memaksaku begitu?” Tanyaku.
“Bila kamu masih mempertahankan semua grup itu yang isinya orang-orang yang sama, buat apa? Kamu hanya menghabiskan waktu untuk membaca chat yang pada intinya sama.”
“Lalu masalahnya apa?” Aku masih bertahan.
“Masalahnya kapan kamu akan membaca dan membalas chatku?” Teriaknya.
Aku terganga! Mungkinkah? Tidak! Pasti tidak! Hati dan otakku terus bicara mengenai sikapnya yang aneh sekali sejak beberapa jam lalu. Ya, dia berubah setelah memeriksa isi hape kentang ini.
“Kok diam?” Selidiknya.
Aku masih menatapnya. Berusaha mencari kemungkinan yang paling mungkin di balik pupilnya yang kecoklatan. Tak ada tanda yang konon katanya tergambar jelas di sana. Aku menggeleng membayangkan kemungkinan demi kemungkinan yang muncul.
“Berikan hapemu dan biarkan aku memilihkan grup terbaik untuk kau ikuti.”
Aku membiarkannya mengambil hape yang sejak tadi berada tak jauh dari jangkauannya. Percuma menghalangi pikirku. Aku malas berdebat untuk hal yang tak bermanfaat.
(Bogor, 18 Oktober 2022; 19.51 wib)
