Namaku Nina

Oleh Neneng Hendriyani

 

Namaku Nina. Nina Candrakirana. Kawan-kawan di kantor memanggilku Neng Nina. Sebenarnya aku tidak suka dipanggil dengan nama tersebut. Namun apa daya bila atasanku sendiri memanggilku demikian. Aku hanya bisa menghela napas panjang saja tiap kali ia memanggilku dengan sapaan seperti itu di depan teman-teman. Jangankan protes, menggeleng pun aku tak berani. Jadi, ya terima sajalah. Yang penting masih sopan.

Dilihat dari nama panggilan ini aku terkesan perempuan Sunda. Setidaknya berasal dari tanah Sunda. Sayang sekali hal itu tidak benar. Meskipun aku tak bisa menyebutkan suku bangsaku dengan tepat aku tetap bersikeras menolak disebut perempuan Sunda. Jangan tanya alasannya mengapa karena aku pun tak tahu. Yang aku tahu ibuku lahir di salah satu kampung di provinsi Jambi enam puluh tahun lalu. Lalu ia menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga dewasa di kota kembang, Bandung. Ayahnya lahir dari sepasang suami isteri yang berbeda suku bangsa. Ibunya lahir di Sucen, Purworejo dan besar di Jambi. Sementara ayahku memiliki ayah yang lahir di Banten. Ibunya seorang penari topeng Betawi. Aku sendiri lahir di daerah yang kini tidak lagi bisa diakui sebagai wilayah administrasi Bogor. Jadi, suku bangsa apa aku ini? Inilah pertanyaan abadiku selama ini. Sebuah pertanyaan yang seringkali menggangguku. Jadi wajar kan kalau aku menolak diakui sebagai salah satu anggota suku bangsa tertentu. Aku pribadi lebih suka dipanggil orang Indonesia. “Dari mana kamu? Dari Indonesia.” Jawabku riang.

Ups, satu lagi. Karena aku mengaku bukan orang Sunda maka aku paling tidak suka dipanggil “Ceuceu”. Kesannya agak gimana gitu. Kasihan saja ke mereka yang sudah menyapaku sedemikian sopan tetapi aku tetap diam dan tidak menggubris lantaran tidak paham bahwa mereka sedang menyapaku. Ini efek shock culture, kurasa. Ya, begitulah. Aku orang Indonesia. Jadi, jangan panggil “Ceuceu”, ya. Pintaku di gerbang senja.

(Bogor, 05 Juni 2020)

Cara Mudah Menghilangkan Lelah di Kaki

Seharian beraktivitas seringkali membuat tubuh terasa lelah dan tidak nyaman. Bagian tubuh yang paling merasa lelah biasanya adalah kaki. Ya, kaki adalah bagian tubuh yang sering kita keluhkan setiap kali kita tiba di rumah. Banyak sekali orang yang tidak bisa beristirahat dengan nyaman lantaran kakinya sakit dan pegal-pegal. Tahukah kamu ternyata ada cara yang ampuh dan mudah untuk menghilangkannya?

Bila kamu memiliki garam di dapur kamu bisa menggunakannya sebagai campuran air hangat untuk mengurangi rasa lelah di kaki. Bila kamu tidak memiliki stok garam laut atau garam krosok kamu bisa menggunakan garam dapur loh. Ya meskipun takarannya sedikit berbeda setidaknya kamu masih bisa membuat sepasang kakimu kembali sehat dan segar.

Sumber: Koleksi Pribadi

Caranyaya mudah. Kamu tinggal mencampurkan sesendok makan garam dengan air hangat secukupnya ke dalam baskom, ember atau bahkan bak karet. Periksa suhunya. Jangan sampai airnya terlalu panas karena bisa merusak jaringan kulit. Campurkan sedikit air dingin hingga suhunya hangat-hangat kuku. Setelah itu rendamlah kedua kakimu hingga airnya dingin. Angkat dan keringkan kedua kakimu. Selanjutnya oleskan krim pelembab kulit yang paling cocok dengan jenis kulitmu. Kamu tidak perlu melakukan pijatan ringan dan lembut di kedua kaki. Cukup oleskan krim pelembab saja. Lalu nikmatilah waktumu dengan perasaan bugar dan segar.

Selamat mencoba cara sederhana menghilangkan lelah di kaki dengan air hangat dan garam dapur.

Gemblong, Penganan Tradisional Terenak Sepanjang Zaman

(sumber: Dokumen pribadi)

Pertama kali mengenalnya persis tiga puluh tujuh tahun lalu. Saat itu nenekku rajin sekali membuat Gemblong, penganan tradisional terenak sepanjang zaman. Makanan yang terbuat dari ketan hitam dan ketan putih ini merupakan kue jajanan pasar yang sangat digemari masyarakat Indonesia. Bentuknya yang lonjong, diselimuti gula merah memberikan citarasa yang lembut, gurih, dan manis.

Cara membuatnya termasuk mudah. Cukup sediakan bahan utama seperti tepung ketan. Kamu bisa menggunakan ketan putih atau pun ketan hitam. Lalu siapkan tepung kanji, kelapa muda yang diparut, sedikit margarin, garam, dan santan kental.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memanaskan campuran tepung ketan dan santan. Setelah tercampur rata, masukkan tepung kanji sambil diaduk. Lalu masukkan garam dan kelapa parut, dan margarin. Jangan lupa tetap diaduk, ya. Setelah kalis lalu didinginkan. Nah, mulailah membentuk gemblong, penganan tradisional terenak sepanjang zaman ini. Kamu hanya perlu menggunakan telapak tangan yang sudah dibersihkan, ya. Bentuklah lonjong-lonjong. Setelah semuanya selesai dibentuk barulah digoreng hingga matang. Setelah digoreng semua gemblong baru dilapisi dengan adonan gula merah. Agar lebih enak kamu bisa gunakan gula aren. Oh ya, cara melapisi gemblong, penganan tradisional terenak sepanjang masa ini adalah dengan memanaskan gula aren yang sudah disisir tipis ya. Setelah gula aren itu berbuih dan berserabut baru masukkan gemblongnya. Aduk terus hingga gemblong terlapisi sempurna. Angkat dan dinginkan. Nah, setelah dingin makanan khas Betawi ini sudah bisa kamu nikmati dengan segelas teh tawar yang hangat. Hm, rasanya maknyus banget.

(Karadenan, 25 April 2021; 4:52 wib)

Pekerjaan vs Bisnis

Pekerjaan dan bisnis itu berbeda loh. Pekerjaan menurut KBBI V adalah pencaharian, pokok kehidupan, sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah. Nafkah sendiri adalah bekal hidup sehari-hari.

Pekerjaan itu dalam bahasa sederhananya adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh orang dalam waktu yang sudah ditentukan, rutin, dan mendapatkan hasil berupa upah yang besarnya selalu tetap dan diperoleh pada kurun waktu yang telah ditetapkan secara rutin. Yaitu, gaji

Sementara bisnis adalah usaha komersial dalam bidang perdagangan. Hasilnya berupa selisih dari harga modal suatu barang yang diperjualbelikan. Umum disebut laba atau keuntungan. Laba dibagi menjadi laba bersih dan laba kotor. Laba bersih artinya hasil keuntungan yang diperoleh oleh pebisnis setelah dikurangi berbagai macam ongkos pengeluaran. Misalnya, pajak, ongkos produksi, ongkos kirim, dan lain-lain. Nah, laba bersih ini bisa juga dijadikan nafkah untuk kehidupan sehari-hari. Besar kecilnya laba tidak bisa ditentukan sebelumnya. Laba tergantung pada situasi dan kondisi pasar saat transaksi bisnis terjadi. Itulah sebabnya seringkali ditemukan ada pebisnis yang merugi dan ada yang sedang kebanjiran untung.

Pekerjaan dan bisnis jelas berbeda dari penjelasan di atas. Untuk kamu yang memilih aktif bekerja di bidang pekerjaan seperti dokter, perawat, guru, polisi, dan lainnya berarti kamu menerima upah berupa pendapatan pada suatu kurun waktu tertentu dengan besar yang sudah ditentukan oleh negara. Sementara bila kamu memilih aktif bekerja di bidang bisnis maka kamu memperoleh upah atau pendapatan berupa laba dari bisnis yang kamu jalankan sendiri. Besar kecilnya tergantung dari keaktifan dan keseriusan membangun jaringan bisnis.

Itulah bedanya pendapatan dan bisnis, ya gaes. Semoga paham dan bermanfaat.

(Karadenan, 22 April 2021)

Tiga Cara Menjadi Wanita Mandiri Secara Ekonomi

Tiga cara menjadi wanita mandiri secara ekonomi adalah tips yang perlu kamu ketahui. Setelah mengetahuinya kamu memiliki pilihan mandiri, apakah akan mengikuti ketiga cara tersebut atau memilih salah satu cara yang paling kamu sukai. Apapun pilihanmu, pastikan bahwa kamu benar-benar ingin menjadi wanita mandiri secara ekonomi. 


Pertama, Percaya diri. Percaya diri adalah modal utama menjadi wanita mandiri. Tanpa ini kamu hanya berangan-angan belaka menjadi wanita mandiri. Tidak ada satupun wanita yang dikenal sejarah hidup sebagai wanita yang rendah diri, minder, dan kuper. Cleopatra, Ratu Sima, dan Tribhuana Tunggal Dewi adalah tokoh-tokoh wanita yang penuh percaya diri pada zamannya. 


Mereka menyadari betul bahwa mereka memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk menjadi pemimpin negara. Dengan melihat diri mereka sendiri mereka sadar bahwa mereka memang istimewa. Inilah yang membuat mereka begitu percaya diri memimpin rakyatnya dan menorehkan namanya dengan tinta emas sepanjang masa. 


Kedua, berpikiran terbuka. Wanita yang kuper, terbelakang, dan kuno adalah mereka yang menutup dirinya dari perkembangan zaman. Mereka hanya percaya kepada apa yang telah mereka ketahui dan jalani selama ini. Mereka tidak bisa berpikir positif terhadap berbagai hal yang baru dikenalnya. Wanita yang close minded seperti ini bisa dipastikan sebagai kelompok wanita yang sulit beradaptasi dan enggan menerima perubahan. 


Ketiga, mau mencoba. Apalah artinya keberanian bila hanya sebatas kata? Apalah artinya kesuksesan bila tidak pernah mengalami kegagalan sebelumnya? Ketika wanita memutuskan untuk maju dan mandiri secara ekonomi maka dia harus berani mencoba hal-hal baru. Berdagang, bertemu rekan bisnis, mengembangkan jaringan sosial, dan lain sebagainya adalah hal yang sulit dilakukan pada awalnya bagi para pemula di bidang bisnis. Namun, wanita yang berani mencoba akan menganggap hal itu sebagai sebuah percobaan dan ujian kecil menuju pintu suksesnya. 


Dia akan merentangkan kedua tangannya dengan bebas dan tersenyum terhadap berbagai hal baru yang belum pernah dicobanya. Dengan penuh percaya diri, berpikiran terbuka, dan keberanian yang dimilikinya dia akan melakukan semua perjalanan bisnisnya dari langkah-langkah kecil yang mungkin tidak pernah dilakukan sebelumnya. 


Nah, kamu tertarik mencoba ketiga cara menjadi wanita mandiri secara ekonomi di atas? Jangan ragu. Mulailah dari sekarang dengan bergabung bersamaku di May Way. 
(Karadenan, 21 April 2021)

(Sumber: Katalog May Way, Maret-Mei 2021)

Seberapa Penting Menulis Untukmu?

Seberapa penting menulis untukmu? itu adalah sebuah pertanyaan yang seringkali aku tanyakan kepada diri sendiri tiap kali akan mengikuti event-event penulisan. Jawaban spontan yang kudapatkan adalah motivasiku untuk melanjutkan atau justru meninggalkan event tersebut. Tahu kenapa? Karena bagiku menulis adalah berbagi kebaikan, harapan, dan impian. Bukan mengejar fatamorgana dan ketenaran sesaat. 


Seberapa penting menulis untukmu mungkin berbeda denganku. Keadaan dan latar belakang kehidupan kita pun tak pasti sama. Bukankah saudara kembar pun tak persis sama baik fisik maupun psikologisnya. Jadi, mengapa kita harus sama. Artinya, apapun alasanmu untuk menulis ya terima saja. Lanjutkan saja, jangan berhenti. 


Mungkin bagimu menulis itu begitu penting. Dengan menulis kamu bisa meringankan beban psikologis yang sedang kamu hadapi. Dengan menulis pun kamu bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk biaya hidupmu. Dengan menulis kamu sudah menunjukkan eksistensimu sendiri. Teruskanlah. 
Bila kamu merasa senang dengan melakukannya, jangan ragu untuk meneruskannya. Mungkin saat ini kamu belum berhasil meraih jawaban dari pertanyaan seberapa penting menulis untukmu. Jangan khawatir. Suatu saat nanti kamu akan tersenyum bahagia kala mendapati bahwa jawabanmu itu membuatmu begitu berharga. 

Antara Bijih Emas dan Kamu

Oleh Neneng Hendriyani

Ada banyak hal yang belum dan mungkin tidak dipahami oleh banyak orang termasuk penulis. Mereka ingin karyanya langsung terbit dengan cepat, mudah, dan sesuai harapan dalam waktu singkat. Ibarat emas mereka ingin langsung berkilau tanpa mau menjalani setiap prosesnya.

Emas yang berbentuk indah dan menghiasi pergelangan tangan, leher, dan beragam aksesoris lainnya berasal dari sebuah tambang yang kotor dan dekil. Mereka diangkut dari sana dengan berbagai cara dan upaya yang tak kenal letih dan juga jumlah waktu yang dihabiskan.

Laki-laki perkasa yang sudah mengambilnya dengan mengorbankan keselamatan dirinya adalah pelaku utama yang membuat bijih emas itu bisa sampai di permukaan tanah. Dengan menggunakan teknik dan cairan kimia dia dilebur dan dipisahkan dari material lain yang terkandung di dalamnya.

Setelah melewati tahap pertama itu barulah bijih emas itu dilebur dan dibentuk sesuai pesanan. Ada yang 24, 21, dan 18 karat. Jelas sekali semakin rendah karatnya semakin rendah pula kualitas bahan emasnya. Pun sebaliknya.

Emas yang telah dibentuk itu lalu dihias dengan sedikit berlian, mutiara, atau Swarovski untuk menambah kilau keindahannya. Baru lah dia siap dipasarkan.

Semakin indah dan unik desainnya harganya pun semakin mahal. Semakin umum dan biasa rancangannya maka rendah pula harga jualnya. Ini adalah hukum alam yang tidak bisa diubah.

Begitulah emas sampai ke para pemakainya.

Sampai sini pernahkah kita berpikir bahwa karya kita laksana bijih emas? Dia akan bersinar dan mahal ketika kita telah melewati serangkaian tahap yang tidak enak dan menjemukan persis ketika bijih emas diangkut dari tambang dan diolah oleh para pengrajin. Apakah hasilnya akan sama antara emas muda yang memiliki karat rendah dengan emas mulia yang berkarat tinggi? Tentu tidak!

Penulis baru yang baru saja menulis kerapkali merasa tinggi hati dan terlalu percaya diri. Tanpa melihat kanan kiri, depan belakang, langsung mengirimkan naskahnya ke penerbit dengan kecongkakan yang membuat langit pun seketika mendung. Dia tak pernah berpikir apakah karyanya layak diterbitkan. Bahkan dia tak pernah berpikir apakah orang (pembaca) memahami isi karyanya dengan baik. Yang dia tahu, dia menulis, mengirim, dan harus diterbitkan dalam waktu secepatnya. Persis cerita fantasi Cinderella.

Dia tak pernah memikirkan naskahnya laksana produk yang belum melewati QC (quality control). Ada sisa benang yang harus dipotong dan dirapikan. Ini jelas memakan waktu yang tidak sedikit.

Carut marutnya naskah yang dikirim seringkali membuat editor terpaksa menenggak berpuluh-puluh obat sakit kepala saking naskahnya tidak masuk akal dan sulit dipahami. Penggunaan kalimat sederhana, majemuk bertingkat, tanda baca dan lain sebagainya jelas bukan perkara sepele dalam hal ini. Perlu kecermatan, kesabaran, dan dedikasi untuk merapikannya.

Namun bagaimana bila di sela-sela pelaksanaannya penulis justru menginterupsi dengan banyak hal yang remeh temeh? Merasa jumawa padahal naskah banyak yang kena unsur plagiat. Di sini haruskah bijih emas langsung menjadi emas batangan atau perhiasan?

Kita tidak sedang berbicara tentang pandai emas apalagi penambang liar. Kita sedang bicara tentang analogi dari sebuah proses kreatif.

Di setiap karya yang indah selalu ada tangan-tangan terampil yang penuh keikhlasan, keuletan, dan kesabaran memprosesnya agar bisa tampil seperti yang diharapkan.

Jadi, sebagai seorang teman, editor, dan juga penulis aku hanya ingin menyarankan satu hal. Pikirkanlah bila kamu berada di posisi si penambang atau pandai emas tersebut! Apakah kamu tahan dengan panasnya matahari yang membakar kulitmu saat mengayak pasir demi sebutir bijih emas? Apakah kamu tahan dengan haus dan lapar yang mendera saat tubuhmu basah bermandi lumpur dan mercury? Apakah kamu masih bisa bertahan ketika mata dan jari jemarimu ikut panas saat mulai melebur bijih itu dan membentuknya sesuai keinginan pemesannya? Apakah kamu sanggup melihat perhiasan yang kamu hasilkan lalu diakui sebagai karya orang lain tanpa menengok ke belakang? Bila tidak bisa, cukup diam dan bersabarlah. Tunggu hingga pandai emas itu mengabarimu berita gembira.

(Bogor, 28 Februari 2021;12.33 WIB)

Keuntungan Menulis Antologi

Oleh Neneng Hendriyani

Menulis bagi sebagian besar orang adalah perkara yang sulit. Meskipun memiliki banyak sekali ide di dalam kepala namun tetap saja tidak mudah menuangkannya dalam bahasa tulisan yang mudah dipahami. Akibatnya bisa jadi tambah bikin pening dan akhirnya malas. Padahal awalnya begitu semangat dan percaya diri.

Ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Pertama tentu sjaa bergabung dengan sebuah komunitas menulis. Di dalam komunitas biasanya ada orang-orang yang sudah mahir dan bersedia berbagi pengalaman. Dengarkanlah sarannya. Amati gaya penulisannya.

Tips kedua yang paling umum dilakukan adalah menulis bersama-sama. Jenis tulisan yang dihasilkan adalah antologi. Antologi ini mengangkat satu tema yang sama dengan pilihan topik yang berbeda-beda. Sudut pandang dan gaya penulisan dari masing-masing penulis membuat antologi yang dihasilkan lebih beragam dan bermakna.

Ibarat dua sejoli, penulis antologi juga saling membantu peran masing-masing. Yang lebih baik dan mahir menulisnya membimbing teman yang belum mahir. Mereka saling mengisi celah yang kosong dan terlewatkan lewat tulisan yang dihasilkan.

Dari sisi biaya penerbitan pun antologi cenderung lebih murah. Biaya dapat disupport bersama-sama sehingga tidak membebani keuangan pribadi.

Selain itu, dari sisi marketing pun antologi lebih baik daripada buku solo. Dengan melibatkan seluruh penulis yang tergabung di dalam buku tersebut maka peluang buku itu laris manis di pasaran juga semakin besar.

Misalnya ada lima puluh penulis dalam satu antologi. Bila masing-masing berhasil menjual lima eksemplar sjaa maka total buku antologi yang dijual adalah 250 eksemplar. Ini adalah jumlah yang fantastis. Laba yang diperoleh pun lebih besar daripada bila menulis seorang diri. Karena peluang lakunya lebih besar.

Tambahan pula, lewat antologi biasanya penulis yang belum punya nama bisa ikut terkenal lantaran dia menulis dengan penulis yang sudah memiliki branding.

Nah, ayo tunggu apa lagi segera siapkan naskah terbaikmu dan terbitkan dalam antologi.

(Bogor, 9 Januari 2021)
#Day1AISEIWritingChallenge

Mas Ken dan Cerita Pagi Ini

Pagi ini Mas Ken ingin membuat brownies ubi ungu. Sebenarnya resep bolu ini berasal dari kawan dekatku yang juga sama-sama berprofesi sebagai editor. Namanya Ika Sari. Dia tinggal di Jogyakarta. Dia yang memberikan resepnya ini saat aku iseng melihat statusnya di WhatsApp. Karena kekurangan bahan maka resep yang diberikan terpaksa diubah olehku yang lalu dieksekusi anak laki-laki keduaku, Mas Ken.

Ubi ungu kukus yang kemarin sore tidak habis untuk cemilan itu dihaluskannya dengan bantuan sendok makan. Dengan tambahan sebutir telur, setengah sendok makan pengembang kue, dan tujuh sendok makan gula pasir jadilah ia adonan brownies.

Mas Ken sudah pandai dan cekatan merapikan dan menyiapkan peralatan membuat kue. Diolesinya loyang brownies dengan mentega sisa bolu sayur kemarin pagi. Dipanaskan ya oven di atas kompor. Setelah itu ia menuangkan adonan ke dalam loyang dan meletakkan loyang ke dalam oven yang sudah panas.

Senyumnya mengembang tatkala dilihatnya adonan mulai menguning. Diambilnya garpu dan ditusuknya adonan tersebut. Sayang masih lengket dan menempel di ujung garpu. Ditutupnya lagi pintu oven.

Aku memberi tahunya bahwa dia harus menunggu setidaknya 20-25 menit bila ingin mendapatkan brownies panggang yang benar-benar matang. Kecut dipandangnya jam dinding. Aku membujuknya untuk lekas mandi. Dia memang belum mandi saking semangatnya mencoba resep baru.

Sebelum membuat bolu dia sudah berjibaku di dapur sejak jam enam pagi. Dituangkannya tepung milky pudding yang kubeli di sebuah toko beberapa hari lalu. Berkali-kali dia bertanya bagaimana ini, bagaimana itu. Aku bilang, “Baca baik-baik petunjuk di kotaknya. Ikuti semuanya dengan benar. Kamu pasti bisa.”

Ternyata benar. Dia bisa melakukannya. Aku bangga dia berhasil membuatnya sendiri dengan bantuan petunjuk yang diberikan oleh produsen produk tersebut. Hasilnya, ada 5 buah gelas milky pudding yang dia letakkan di meja makan untuk menu sarapan kami bersama.

Usianya memang baru sembilan tahun dan baru kelas tiga SD. Namun, rasa ingin tahu dan keberaniannya mencoba sesuatu yang baru membuatku bangga. Inilah anak keduaku, Ken Jayawardhana.

#Day3December_AISEIWritingChallenge

Bolu Sayur Ala Pandemi

Ini kali bukanlah yang pertama aku membuat bolu. Meskipun tidak mengembang seperti pada umumnya bolu panggang tetapi rasanya tidak kalah enak dan mengenyangkan. Maklumlah. Ha ha ha.

Berawal dari sisa juicer buah dan sayur yang kuminum pagi ini bolu panggang ala Pandemi pun matang. Ya, semua bahannya ada di rumah. Tidak perlu mencari keluar dan sengaja membelinya di toko bahan kue. Cukup pakai semua bahan yang kebetulan ada di ruang dapur sederhana 1,5 x 2 meter. Dengan begitu nggak perlu repot ke luar rumah menggunakan masker dan mengambil resiko tinggi bertemu orang-orang yang tidak tahu apakah sehat atau sudah terpapar virus.

Cara membuatnya pun sederhana. Sebutir telur ditambah pengemulsi dan pengembang kue dikocok. Tak lupa masukkan gula dan margarin sesuai selera. Kocok terus hingga memutih. Takarannya sesuaikan dengan rasa manis dan gurih yang diinginkan. Setelah itu masukkan sisa juicer yang berupa ampas nanas, buncis, brokoli dan pakcoy. Ampas ini sebenarnya bukan ampas dalam arti yang sebenarnya, ya. Berhubung juice extractorku lagi ngadat jadi aku pakai juicer biasa untuk membuat jus. Maka hasil jusnya tidak sebanyak yang dihasilkan oleh juice extractor. Masih banyak nutrisi alias saripati yang tertinggal di ampas juice tadi. Nah, ampas inilah yang kugunakan sebagai tambahan bahan bolu.

Setelah semuanya diaduk rata barulah dituangkan ke dalam cetakan bolu yang sudah dilapisi mentega. Berikan irisan nanas dan parutan keju di atasnya. Lalu, panggang deh. Waktu pemanggangannya cukup 20-25 menit. Setelah matang, angkat dan dinginkan.

Mudah, kan?

#Day2AISEIWritingChallenge#december2020