Kuliah S3 PJJ? Why Not!

Oleh: Neneng Hendriyani

Kuliah S3 itu sering banget dianggap sebagai langkah nekat oleh sebagian orang. Banyak orang mikir, “Buat apa sih kuliah lagi? Memangnya gelar magister belum cukup untuk mengamankan posisi dan karier?” Belum lagi bayangan betapa melelahkannya harus membagi waktu: seharian mengabdi sebagai pengawas sekolah, lanjut mengurus keluarga, tanaman dan hewan yang kebetulan dipelihara di rumah, lalu malamnya masih harus bergelut dengan tumpukan jurnal akademik, kuliah malam, dan seabrek tugas yang kejar tayang. Bayangin aja udah bikin capek duluan, kan?

Tapi, gimana kalau jawabannya adalah: S3 PJJ (Pendidikan Jarak Jauh), why not?

Zaman sekarang di mana internet sudah merambah ke seantero dunia, menuntut ilmu sampai ke jenjang tertinggi nggak lagi menuntut kita untuk mengorbankan seluruh ritme kehidupan. Konsep PJJ hadir bukan sebagai jalan pintas, melainkan sebagai Solusi jitu yang saya anggap sebagai jembatan yang memungkinkan kita tetap bertumbuh secara akademis tanpa harus meninggalkan tanggung jawab profesional maupun peran hangat di tengah keluarga.

Dengan memilih lanjut S3—khususnya lewat jalur yang lebih fleksibel ini—bukan cuma soal menambah deretan gelar di belakang nama. Ada proses tranformasi besar yang terjadi di dalam diri: pola pikir kita turut berubah dan berkembang pesat.

Ada banyak perbedaan yang kita rasakan ketika menjadi mahasiswa S3. Di jenjang doktoral, kita tidak lagi diajarkan untuk menelan informasi mentah-mentah. Kita dilatih untuk melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang yang mendalam, terbiasa dengan metodologi riset yang ketat, dan yang paling terasa: kita tidak lagi mudah menghakimi atau menyimpulkan segala sesuatu secara terburu-buru (jump to conclusion). Setiap fenomena diuji berdasarkan data, literatur, dan kerangka berpikir yang matang. Keputusan atau pendapat yang kita keluarkan pun jadi lebih berbobot, bijak, dan berbasis bukti (evidence-based).

Selain itu, kita menambah jejaring professional yang dapat mengembangkan potensi kita di masa depan. Kita menjadi lebih banyak mengenal orang dengan berbagai karakter dan kelebihannya dari seluruh daerah dan negara. Kita tidak hanya belajar tentang berbagai disiplin ilmu yang diampu oleh para Profesor dan Guru Besar di bidang kajiannya masing-masing. Kita juga belajar tentang berbagai adat istiadat, budaya, dan hal baru lainnya yang selama ini tidak kita peroleh dari pergaulan sosial, pekerjaan, maupun pendidikan pada tingkat sebelumnya.

Perubahan pola pikir ini membawa dampak luar biasa, terutama dalam menjalankan tugas sehari-hari. Contohnya bagi saya pribadi sebagai pengawas sekolah. Dengan pengalaman, keterampilan, dan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama kuliah S3 PJJ saya menyadari bahwa saya menjadi lebih mampu menganalisis masalah yang lebih tajam. Misal, saat turun ke sekolah-sekolah pendampingan, fenomena seperti technostress pada murid, dampaknya terhadap academic burnout, hingga tantangan adaptasi digital guru tidak lagi dilihat sekadar sebagai masalah sepele. Dengan latar riset yang kuat, kita bisa memetakan akar masalahnya secara terstruktur dan merumuskan solusi yang benar-benar pas sasaran sesuai dengan karakteristik sekolah dan ekosistem belajarnya. Pendampingan yang dilakukan pun menjadi lebih empatis dan objektif. Cara kita berdialog dengan kepala sekolah dan guru-guru pun berubah. Karena terbiasa berpikir kritis dan tak gampang menghakimi, kita hadir bukan sebagai “pengawas yang mencari kesalahan”, melainkan sebagai mitra diskusi yang empatis, objektif, dan solutif. Ini tentu membawa dampak positif bagi kita, kepala sekolah, guru, dan murid. Secara otomatis kita pun menjadi lebih peka dalam mendorong budaya mutu berbasis data. Hal ini disebabkan oleh alur pembelajaran yang diikuti di jenjang S3 melatih kita menyusun kerangka kerja dan evaluasi yang presisi. Dampaknya, program pendampingan atau supervisi yang kita susun di wilayah kerja jadi jauh lebih terarah, terukur, dan berdampak nyata bagi perbaikan kualitas pendidikan.

Tentu saja tidak mudah kuliah S3 PJJ. Saya mengakuinya. Itulah sebabnya kita perlu menjalaninya dengan sejumlah strategi yang dianggap mumpuni. Strategi-strategi ini tentu saja berbeda antar mahasiswa, tergantung latar belakang kepribadian, social, ekonomi, dan lain sebagainya. Mau tidak mau, sadar tidak sadar kita dilatih jadi “pesulap waktu” yang mahir memilah prioritas—kapan harus meramu riset di sela kesibukan dinas, kapan menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner), dan kapan hadir utuh untuk keluarga. Capai? Jangan ditanya lagi soal itu. Kita semua sudah pasti. Tapi kepuasan saat bisa menguraikan benang kusut tantangan pendidikan lewat riset akademis yang aplikatif itu rasanya tiada tanding. Sesulit apa pun toh pada akhirnya kita bisa melewatinya berkat bimbingan dan arahan para dosen yang senantiasa terkoneksi melalui jaringan internet.

Jadi, kalau ada yang tanya lagi: “Capek nggak sih, udah kerja, ngurus keluarga, tapi masih nekat ambil S3?”

Jawab saja dengan senyuman hangat tanpa perlu ngegas, ya: “Capek itu pasti, tapi berkembangnya pola pikir dan dampaknya yang nyata bagi dunia pendidikan itu sungguh bernilai. Kalau ada jalan PJJ yang memungkinkan kita meraih keduanya, S3 PJJ: why not?”

Ayo jangan tunggu lagi. Mari belajar bersama.

Google Siteku Untuk Belajar Mengajar Bahasa Inggris

Oleh: Neneng Hendriyani

 

Pertama kali mendengar google site aku merasa sedikit kaget. Seorang rekan pelatih dari IGI memperkenalkannya jauh sebelum aku sendiri memiliki site tersebut. Melihat karyanya dan bagaimana ia terbantu dalam pelaksanaaan pembelajaran selama PJJ ini membuatku termotivasi membuat hal serupa. Akhirnya dengan berbekal sedikit waktu dan upaya, dengan bimbingan Aries Prasetya, founder Samisanov IGI aku pun belajar mengembangkan google site.

Seluruh administrasi yang kugunakan dalam mengajar pada tingkat X dan XI SMA Tahun Pelajaran 2020-2021 pun aku unggah ke google site tersebut. Tak ketinggalan sejumlah video pembelajaran yang kurancang sendiri pun dengan sedikit malu-malu kutempelkan di sana. Bahkan, bentuk penilaian pun kusimpan pula. Harapannya sederhana. Semoga anak-anak muridku bisa memelajari semua materi pada tahun pelajaran tersebut lebih awal sebelum aku menjelaskannya melalui zoom meeting setiap pekannya. Selain itu, semoga semua administrasi, video pembelajaran, materi, dan soal yang kuunggah pun bisa bermanfaat untuk sesama guru Bahasa Inggris.

setelah membuat google site tersebut aku benar-benar terbantu dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Murid-muridku senang karena tidak perlu menunggu lama untuk mengakses materi. Cukup dengan menggunakan ujung jarinya mereka sudah bisa mengakses materi pelajaran lengkap di google site tersebut.

Berikut ini link google siteku. Sila kunjungi dan ambil manfaat positifnya. Salam perjuangan.

 

KD 3.1 OFFERING AND SUGGESTION (Ulangan Harian)

Bagi siswa kelas XI sila isi form berikut untuk mengetahui tingkat pemahamanmu terhadap materi yang telah disampaikan dan disimak melalui video https://youtu.be/YnOaGSOBdaM.

https://forms.gle/6kJBXionWYeb1ybM6

Jangan lupa tinggalkan nama, kelas dan sekolah di kolom komentar setelah mengisi form soal ulangan di atas.

Di Balik Faceshield

Oleh: Neneng Hendriyani

(Dok. Pribadi )

 

Sejak Belajar Dari Rumah ada banyak perubahan yang kualami. Adaptasi Kebiasaan Baru pada masa New Normal pun cukup banyak. Terutama di bidang pekerjaan.

Masih segar dalam ingatan di penghujung tahun 2019 meskipun virus Corona sudah banyak menjangkiti penduduk dunia aku masih aktif bekerja. Setiap hari tetap mengendarai sepeda motor pada pukul 6 pagi. Setibanya di sekolah aku masih aktif ikut serta menyambut peserta didik di gerbang sekolah. Masih bisa bersalaman, berpelukan dan bersenda gurau tanpa ada rasa khawatir sama sekali. Pulang pun masih sama seperti sebelum cuti melahirkan pada bulan Oktober 2019.

Januari hingga Februari 2020 aku dan rekan sejawat masih aktif melaksanakan KBM di sekolah. Masih full dengan 36 siswa per kelasnya. Kami masih bisa melihat ekspresi wajah peserta didik dengan leluasa. Tahu persis apakah mereka benar-benar bahagia, senang, dan kecewa.

16 Maret 2020 tiba-tiba semua hal itu berubah. Tak ada lagi KBM yang penuh gelak tawa, canda dan aktivitas fisik lainnya di ruang kelas. Semua peserta didik dari TK hingga universitas harus melanjutkan studinya di rumah. Kedua orang tua ikut berperan aktif mendampingi mereka belajar, ulangan tengah semester dan akhir semester. Dapat dibayangkan betapa kagetnya kami semua. Guru dengan tergagap-gagap serta merta membuat kelas maya melalui smartphone dan laptopnya. Tentu saja dengan segala keterbatasan yang ada. Bisa tidak bisa semua guru harus bisa mengajar dari rumah. Begitu pesan yang kami terima. Semua boleh berhenti kecuali pendidikan.

Anak-anak adalah generasi yang harus diutamakan dan diselamatkan masa depannya. Maka hak mereka harus dipenuhi. Terutama hak mendapatkan pendidikan.
Aku dengan segala kemampuan yang kumiliki ikut serta membuat kelas maya. Aku memilih penggunaan Google classroom untuk 13 kelas yang kupegang. Setiap hari aku hadir menjelaskan tugas sebagai guru di kelas-kelas tersebut sesuai jadwal KBM sebelumnya yang biasa dijalani di sekolah.

Jangan tanya bagaimana caranya mengatur waktu, kegiatan dan tanggung jawab pribadi sebagai guru, ibu 5 anak dan istri. Seperti rekan sejawat lainnya aku juga sering kali harus begadang hingga lewat tengah malam untuk mulai mengunduh dan memeriksa tugas peserta didik.
(Bersambung)

(Bojong Koneng, 29 Juni 2020; 10:46 wib)