Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Penulis: Neneng Hendriyani
ISBN 978-602-50509-4-7
Editor: Khoen Eka Anthy
Penata Letak: @timsenyum
Desain Sampul: @kholidsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2017
viii, 64 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Agustus 2017
Diterbitkan oleh
CV. Cipta Media Edukasi
Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya
Website: www.mediaguru.id
Dicetak dan Didistribusikan oleh
Pustaka Media Guru

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis sendiri saat melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas pada tahun 2014 dan 2017 guna mengikuti Lomba Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Bogor.

Buku Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini ditujukan untuk para guru yang akan melaksanakan PTK guna memenuhi persyaratan kenaikan pangkat dan lainnya.

Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Bagian 1 Pendahuluan
Bagian 2 Persiapan Awal
Bagian 3 Menyusun Proposal PTK
Bagian 4 Menyusun Laporan Hasil PTK
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Untuk pembelian klik:

Hukum Bermain Judi Online

Oleh: Neneng Hendriyani

Hukum bermain judi online! Siapapun pasti tergiur menjadi kaya dengan mudah. Apalagi tidak perlu bekerja keras. Cukup klik sana sini, uang pun berdatangan dengan lancar. Sayangnya pengetahuan masyarakat awam mengenai bahaya mendapatkan segala sesuatu dengan mudah ini masih lah rendah.

Iming-iming hadiah yang besar telah membuat mereka enggan berpikir panjang mengenai hukum halal dan haramnya. Inilah tantangan buat sebagian dari mereka yang mengetahuinya untuk menyebarluaskannya. Hal ini didorong oleh adanya perintah untuk menyampaikan kebaikan dan ilmu yang bermanfaat meskipun satu ayat kepada sesama muslim atau pun non-muslim.

Upaya masyarakat untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan judi dewasa ini semakin marak terjadi. Tak lagi terbatas kepada judi togel, sabung ayam, bermain remi, dan bermain kartu secara offline saja. Tetapi juga sudah merambah online. Dengan semakin luasnya jaringan internet yang dapat dinikmati oleh semua masyarakat di indonesia maka semakin berkembang pula berbagai situs yang menawarkan judi. Hadiah yang ditawarkan banyak yang sangat menggoda iman. Tidak lagi berkisar antara ratusan ribu tetapi juga puluhan juta rupiah sekali putaran.

Salah satunya adalah Dominoqq. Dominoqq adalah sebuah game online yang sedang booming dewasa ini. Game ini dapat dimainkan oleh berbagai kalangan dan usia. Hal ini dikarenakan cara memainkannya begitu mudah ditambah jumlah depositnya yang juga sangat murah dan terjangkau yaitu Rp10.000 menyebabkan game ini semakin digandrungi oleh semua orang.

Sayangnya mereka semua tidak paham mengenai hukum bermain judi. Apapun itu namanya baik online maupun offline hukum bermain judi dalam agama islam adalah haram. Tak terkecuali Dominoqq.

Mengapa dikatakan haram? Karena dalam permainan judi sangat kental aroma pengundian nasibnya. Baik menggunakan anak panah maupun tidak semuanya sama-sama mengundi nasib. Bila nasib sedang beruntung maka ia menang dan mendapatkan banyak uang. Namun bila nasib tidak beruntung maka semua depositnya ludes begitu saja. Ini merugikan. Uang deposit yang seharusnya bisa digunakan untuk berbagai hal yang berguna habis begitu saja di meja judi. Ini perbuatan yang sia-sia. Segala perbuatannya yang sia-sia dalam Islam bernilai dosa. Sudah selayaknya sebagai umat Islam kita menghindari perbuatan dosa. Karena bila tetap mengerjakan perbuatan dosa itu sama artinya dengan menambahkan catatan keburukan diri sendiri. Meninggalkan perbuatan dosa membuat kita mendapatkan pahala dan keberkahan.

Allah SWT pun menggolongkan judi dengan khamr alias minuman keras. Semua orang yang meminum minuman keras itu berdosa. Akibatnya Khamr dan judi haram. Hal ini dinyatakan dalam QS. Al Maidah: 90.
Dalam ayat tersebut Allah telah menegaskan bahwa mengundi nasib dengan panah itu termasuk perbuatan setan. Sudah sepantasnya sebagai orang yang beriman untuk menjauhi segala macam perbuatan setan. Karena setan adalah musuh nyata bagi semua orang beriman. Setan tidak akan berhenti menggoda dan menjerumuskan orang ke dalam kesusahan. Baik kesusahan hidup di dunia maupun di akhirat.

Selain itu judi pun tergolong berbahaya dan najis. Segala yang mengandung bahaya dan najis harus dihindari oleh umat Islam. Hal ini dikatakan oleh Allah dalam QS. Al Mudatsir: 5 dan Al Hajj: 10. Mengapa harus dihindari? Karena najis itu adalah kotoran. Siapa pun tidak akan mau menyentuh kotoran bukan? Semua yang kotor itu disebut najis.

Selain berbahaya dan najis, judi juga tergolong sebagai perbuatan syetan di mana seluruh perbuatan syetan dikategorikan haram. Orang-orang yang mengikuti syetan adalah orang-orang yang berdosa. Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al Fatir:6, Al A’raf:21 dan 27. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan pada paragraf enam di atas. Bahwasanya semua orang harus waspada terhadap bujuk rayunya setan. Setan tidak ingin membantu manusia. Suara besar bila ia ingin membantu. Ia hanya menjanjikan hal-hal yang tidak mungkin terjadi saja. Apabila ia berjanji sesungguhnya ia hanya menjebak saja. Hanya mencari kawan saja untuk menemaninya di neraka.

Nah sudah jelaskan di atas bagaimana Hukum bermain judi online. Seluruh permainan judi apapun bentuknya baik online maupun offline semuanya haram dan harus ditinggalkan. Semoga bermanfaat.

(Bogor, 21 Desember 2018)

UPAYA MENUMBUHKEMBANGKAN INTEGRITAS SISWA SMK

UPAYA MENUMBUHKEMBANGKAN INTEGRITAS SISWA SMK
OLEH NENENG HENDRIYANI, M.Pd
GURU SMK NEGERI 1 CIBINONG

Berbicara tentang SMK berarti berbicara tentang segala hal yang terdapat dalam Sekolah Menengah Kejuruan; baik bidang teknologi industri maupun bidang manajemen perkantoran. Sebuah pembicaraan yang sangat luas dan heterogen tentunya. Tak dapat dibahas hanya dalam waktu sekejap saja. Butuh banyak pihak untuk terlibat di dalam pembicaraannya mengingat kompleksnya masalah yang ada di tubuh SMK itu sendiri. Oleh karena itu, penulis membatasi tulisannya kali ini dengan hanya membahas tentang bagaimana integritas dapat diajarkan di dunia SMK. Mengapa memilih integritas? Mengapa memilih SMK? Hal ini tidak lain karena penulis memandang persoalan tentang integritas sangatlah mendesak untuk dibahas. Selain itu pula, SMK adalah ujung tombak yang disiapkan oleh pemerintah dalam mencetak generasi muda yang mampu terjun langsung ke dunia usaha dan industri. Sesuai dengan jargonnya, SMK BISA! Nah, bagaimana seorang lulusan SMK bisa terserap di dunia usaha dan industri bila ia tidak memiliki integritas? Karena pastilah sulit menerima seorang lulusan SMK yang integritasnya diragukan. Iya kan Berangkat dari pemikiran itulah maka integritas perlu ditumbuhkembangkan pada siswa SMK. Hal ini bertujuan agar seluruh lulusan SMK dapat memiliki integritas tinggi yang pada akhirnya membantu mereka dalam bekerja dan berwirausaha.

Secara sederhana integritas terdiri atas beberapa huruf yang bermakna Ikrar, Niat, Tabiat, Emosional, Guna, Rasional, Ihsan, Tawakal, Amanah, dan Sabar. Berdasarkan makna huruf-huruf ini maka integritas berkaitan erat dengan niat seseorang dalam menjaga keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatannya dengan cara yang rasional, dan penuh kesabaran. Orang yang memiliki integritas adalah orang yang berani memikul amanah dengan baik. Ia cenderung mampu mengelola emosinya dengan baik dan tetap bertawakal kepada sang pencipta (Allah SWT) apabila menemui kesulitan. Tabiatnya yang jauh dari kesombongan dan sifat munafik membuat siapa pun dapat mengenalinya sebagai orang yang berintegritas.

Integritas bukan semata-mata mengenai keselarasan pikiran, ucapan, dan perbuatan seseorang. Keselarasan tersebut hanyalah bersifat kongruensi saja. Menurut Stephen R. Coffey, integritas ditandai oleh empat nilai dasar yang wajib dimiliki seseorang. Yaitu, kejujuran, kerendahan hati, keselarasan antara pikiran ucapan dan perbuatan, serta keberanian untuk menyatakan kebenaran. Keempat hal tersebut mengandung enam nilai utama; kejujuran, keadilan, akuntabilitas, profesionalisme, tanggung jawab, dan anti KKN. Seseorang yang sudah memiliki nilai-nilai ini dapatlah dikategorikan sebagai orang yang memiliki integritas.
Menurut KBBI V, integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran.

Nilai integritas ini ternyata memiliki kedudukan yang tinggi pula di sisi agama. Seperti yang ditegaskan oleh Al Quran dalam QS. As Saff ayat 3: “ Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Seseorang yang tidak memiliki integritas di dalam islam disebut munafik. Munafik yaitu orang yang suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua (KBBI V). Semakin tinggi tingkat spiritualitas seseorang maka integritasnya semakin tinggi. Hal ini karena ada sinergitas antara sifat religius dengan keenam nilai utama di atas.

Menurut Lawrence Kohlberrg dalam teorinya tentang stages of moral development, ada tiga tahapan perkembangan moral manusia berkaitan dengan integritas. Yaitu tahapan prakonvensional, tahapan konvensional, dan tahapan post konvensional. Tahapan pertama atau tahap prakonvensional sering disebut dengan tahapan moralitas anak-anak. Mengingat seluruh ciri khas yang terdapat dalam tahapan ini lebih banyak ditemui pada usia anak-anak. Pada tahapan ini orientasi seseorang masih terletak pada kepatuhan akan adanya ancaman dan hukuman. Artinya, seseorang berbuat atau tidak berbuat sesuatu karena alasan ada dan tiadanya hukuman yang menyertainya. Kedua, orientasinya masih terletak pada hitungan untung dan rugi. Mau berbuat sesuatu karena semata-mata mengharapkan keuntungan atau menghindari kerugian. Singkatnya, tahapan ini tergantung pada ada tidaknya rewards and punishment.

Tahapan kedua adalah tahap konvensional. Pada tahapan ini seseorang berbuat sesuatu karena adanya alasan orientasi keserasian interpersonal dan konformitas dengan sekelilingnya. Bahasa mudahnya adalah saya berbuat baik agar sesuai dengan tuntutan orang lain. Orang lain di sekitar saya menginginkan saya baik, maka saya pun baik. Alasan berikutnya adalah orientasi pada otoritas dan pemeliharaan aturan sosial. Di sini saya berbuat baik karena memang sudah seharusnya saya begitu (tetap berbuat baik) agar tatanan sosial di mana saya berada tetap terjaga dan tidak rusak.
Tahapan ketiga adalah tahapan post konvensional. Pada tahapan ini seseorang berbuat baik karena adanya orientasi kontrak sosial dan orientasi prinsip-prinsip etika universal. Pada orientasi kontrak sosial seseorang berbuat baik karena hal tersebut merupakan komitmen yang dimilikinya sendiri sebagai bagian dari masyarakat di mana ia tinggal. Sementara pada orientasi prinsip-prinsip etika universal seseorang berbuat baik karena memang itulah nilai universal yang dimiliki dan dipegang olehnya seumur hidupnya. Pada tahapan ini ia menyadari betul resiko yang akan ia hadapi akibat dari nilai universal yang diyakininya tersebut dan ia pun tidak takut menghadapinya.

Nah, ketiga tahapan tersebut sejatinya tidak serta merta memudahkan siapa pun mengukur perkembangan moralitas seseorang. Namun setidaknya, memudahkan siapapun termasuk siswa bahwa untuk mencapai integritas perlu mencapai tahap ketiga, yaitu post konvensional. Pada tahap ini siapa pun berbuat baik bukan karena apapun lagi. Tidak ada alasan maupun motif eksternal lagi yang mendorong seseorang berbuat baik. Ia berbuat baik karena memang ia menyadari sepenuhnya akan pentingnya berbuat baik bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Maka, seseorang dikatakan berintegritas tinggi bila pribadi orang itu utuh sehingga dapat dipercaya. Ia memiliki kesatuan dari beberapa aspek kemanusiaan, yaitu aspek kognitif, afektif, moral, spiritual, sosial dan emosi. Ketiga intelegensinya berkembang dengan pesat dan saling mendukung: IQ, EQ, SQ. Keadaan diri orang itu luar dalamnya sama. Antara hati, ucapan, dan perbuatannya sama.

Menurut Atosoki Gea, ciri-ciri integritas secara umum mencakup tiga dimensi yaitu dimensi fisik, psikis, dan sosial. Pada dimensi fisik, integritas terlihat dari bagaimana ia menjaga badannya. Hal ini dikarenakan kemampuan integritasnya menyangkut soal kesehatan, makan, minum, kebugaran dll yang dapat dengan mudah terlihat oleh orang lain. Orang yang memiliki integritas otomatis tubuhnya sehat dan bugar. Hal ini disebabkan ia paham betul apa hak dan kewajibannya terhadap tubuhnya. Pada dimensi psikis/jiwa, integritas terlihat dari pemikiran, intelegensi, emosi, serta keadaan batiniah seseorang. Cara mengukurnya dengan menggunakan alat ukur kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual; yaitu IQ, EQ, SQ. Sementara pada dimensi social, integrasinya terlihat dari bagaimana seseorang berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain.

Maka integritas dapatlah disimpulkan sebagai kesatuan semua aspek hidup manusia; fisik, kognitif, afektif, emosi, spiritual, moral, sosial, dan adanya kesatuan badan, jiwa dan roh dalam seorang individu sehingga seluruh sikap berikut ini nampak pada sifat dan sikap orang tersebut:
– Jujur pada siapa pun, tanpa main topeng, dan menutup-nutupi
– Bertanggungjawab terhadap tugas, kewajiban, serta apa yang dikatakan
– Konsekuen terhadap apa yang dikatakan
– Menepati janji
– Konsisten; bila memang setuju ya setuju. Tidak ya tidak. Tetap pada pendiriannya yang benar dan tidak mudah goyah
– Dapat dipercaya, setia
– Berani mengakui kesalahan
– Berkualitas
– Disiplin diri, melakukan apa yang harus dilakukan
– Memiliki komitmen dan loyalitas
– Ada kesamaan antara yang nampak di luar dengan yang di dalam
– Ada kesatuan antara ucapan dan tindakan
– Ada kesamaan antara yang diyakini dengan yang dilakukan di luar

Mengingat dahsyatnya makna integritas tersebut di atas, maka perlu kiranya para guru di SMK untuk mulai bergandengan tangan bekerja sama menumbuhkembangkan budaya integritas ini dalam pembelajaran yang dilakukannya setiap hari. Upaya mulia ini tidak hanya dilakukan oleh guru semata tapi juga oleh seluruh stakeholder SMK. Di antaranya unsur pimpinan sekolah, tenaga kependidikan, tenaga pendidik (guru), orang tua, dan dunia usaha/industri.
Untuk menumbuhkembangkan nilai integritas ini pada siswa SMK mau tidak mau guru sebagai agent of change haruslah menjadi sosok yang lebih dahulu memiliki integritas. Selain itu juga harus diawali dari komitmen seluruh warga sekolah. Dimulai dari hal-hal yang terkecil namun konsisten dilakukan setiap waktu. Hal-hal terkecil ini haruslah dimulai dari lingkungan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Tindakan tumbuh kembang integritas ini haruslah dibagi menjadi beberapa titik tujuan. Seluruhnya bisa dilakukan melalui pembiasaan. Titik-titik tujuan tersebut diantaranya:

a. Penanaman integritas dimensi fisik
Pada dimensi ini, seluruh stake holder SMK harus bahu membahu membangun kesadaran diri dan orang lain yang ada di sekitarnya untuk memfokuskan diri kepada kesehatan fisik tubuh dan bangunan sekolah. Yang dimaksud dengan tubuh di sini adalah tubuh seluruh civitas sekolah; dari kepala sekolah, guru, siswa, tata usaha, hingga satpam. Bila seluruhnya sehat, maka seluruh kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik. Yang dimaksud dengan kesehatan fisik bangunan adalah kebersihan lingkungan sekolah. Tiadanya sampah yang menumpuk di kolong meja siswa dan guru adalah salah satu indikator kebersihan kelas. Begitu pula sekolah yang bersih adalah sekolah yang sehat. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang berintegritas.

b. Penanaman integritas dimensi psikis
Pada penanaman dimensi ini, peran guru sangatlah besar. Guru harus menjadi model utama yang dapat diteladani oleh seluruh siswanya. Kecakapan dan keterampilan yang dimiliki seorang guru dalam mengajar dan mendidik siswanya adalah bekal yang paling penting bagi seorang guru dalam mencetak siswa yang berintegritas. Guru yang tidak cakap dalam arti tidak mampu menyampaikan materi pelajarannya dengan baik akan memberi ruang penilaian yang buruk bagi siswa. Siswa tidak lagi mengaguminya dan enggan mendengarkan semua ucapannya. Hal ini didorong dari berkurangnya rasa percaya siswa terhadap guru.
Ketegasan guru dalam menjalankan kedisiplinan di kelas yang dipegangnya juga menjadikannya tokoh penting dalam mendidik kedisiplinan siswa. Untuk bagian ini sangatlah tidak wajar bila tugas kedisiplinan hanya dipegang oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan jajarannya saja. Hal ini dikarenakan tanggung jawab keberhasilan pendidikan seorang siswa adalah tanggung jawab seluruh guru yang ada di sekolah tersebut. Masih adanya rasa tidak nyaman bagi sebagian pembina siswa yang melihat guru lain ikut membina siswa yang “nakal” merupakan indikator masih rendahnya integritas yang dimiliki sekolah tersebut. Begitu pula sebaliknya. Cueknya sikap guru non pembina siswa terhadap siswa yang melanggar aturan kedisiplinan sekolah juga menjadi indikator rendahnya integritas guru di sekolah tersebut. Oleh sebab itulah, kebijaksanaan seorang kepala sekolah sangat diperlukan di sini. Dengan arahan dan bimbingannya ia dapat mengajak semua guru untuk bahu membahu mendidik siswa mereka menjadi siswa yang pintar, cerdas, dan disiplin.

c. Penanaman integritas dimensi sosial
Pada bidang dimensi social, sekolah harus bekerja sama dengan unsur lain yang ada di lingkungan sekolah. Yaitu, unsur MUSPIKA, orang tua, dan dunia usaha/industri. Setiap siswa membawa nilai-nilai sosial yang dipelajarinya di rumah dari kedua orang tuanya. Dari mereka inilah nilai-nilai tersebut diwariskan. Apabila nilai yang diwariskan ini baik, siswa tersebut akan tumbuh semakin baik. Namun bila sebaliknya, maka pihak sekolah dalam hal ini bimbingan konseling dan penyuluhan bekerja sama dengan guru dan orang tua haruslah bekerja sama dalam mengembalikan sikap dan sifat siswa yang tidak sesuai dengan harapan sekolah dan masyarakat. Begitu pula pihak dunia usaha/industri tidak bisa berpangku tangan membiarkan SMK sibuk sendiri mendidik siswanya. Mereka harus ikut terjun langsung membina para siswa SMK melalui program job training di instansi atau pun perusahaan yang mereka miliki. Dengan membawa siswa langsung ke lapangan untuk mempraktikkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya di bangku sekolah merupakan langkah nyata yang diambil perusahaan dalam menumbuhkembangkan nilai-nilai integritas pada diri siswa tersebut.
—

RESIKO CLICKBAIT

Oleh: Neneng Hendriyani

Resiko Clickbait! bagi penulis pemula ternyata banyak loh. Meskipun iming-iming yang ditawarkan oleh berbagai penyedia jasa untuknya tinggi bila berhasil menulis di blognya atau YouTube nya dengan clickbait ternyata resikonya juga tinggi. Buat yang tidak mau menanggung resikonya lebih baik mengurungkan niat menulis sesuatu dengan clickbait.

Apa sih bahayanya melakukan clickbait sampai-sampai penulis tidak merekomendasikan penulis pemula melakukannya? Yuk, cermati penjelasan singkat berikut ini.

Buat siapa pun yang terbiasa menulis berita hoax, menulis dengan menggunakan clickbait pastilah mudah. Kecenderungan yang dimilikinya untuk menulis dengan jujur itu sangat jauh panggang dari api. Ini sudah karakter bawaan sejak lahir rupanya. Ini sangat buruk bagi pribadi orang tersebut.
Orang yang seperti ini hanya memikirkan keuntungan pribadinya saja. Tak sedikitpun ia memikirkan akibat dari perbuatannya. Apalagi sampai memikirkan nasib para pembaca tulisannya. Sudah pasti ia tak peduli. Padahal segala kejengkelan, kekesalan, dan perasaan tidak menyenangkan yang diperoleh pembaca adalah akibat dari berita bohong atau clickbait yang dilakukannya.

Mungkin satu atau dua kali orang masih banyak membaca tulisannya. Namun mereka pasti mempelajari style tulisan orang tersebut. Bila sudah seperti ini maka kemungkinan besar orang tidak akan langsung meng-klik tulisan dia di webnya pasti tidak akan pernah terjadi lagi. Orang sudah kapok dengan kebohongan yang ia ciptakan pada tulisan-tulisan sebelumnya. Bila itu terjadi maka pundi-pundi uang yang awalnya menggelontor ke rekeningnya akan surut. Habis. Kepercayaan pembaca yang seharusnya menjadikan ia semakin kaya hanya tinggal harapan palsu saja.

Kehilangan uang adalah salah satu resiko yang harus ditanggung penulis pemula yang kecanduan menulis dengan menggunakan clickbait. Ini adalah resiko yang sangat besar tentunya. Setiap penulis selain menginginkan diterimanya ide yang ia tulis kepada pembaca juga menginginkan limpahan materi dari apa yang ia tulis. Kehilangan sumber penghasilan karena clickbait itu sungguh sangat tidak menyenangkan.

Berikutnya adalah kehilangan kepercayaan. Seperti yang kita ketahui bersama, hal yang paling berharga di dunia ini selain uang adalah kepercayaan. Nilainya jauh melebihi emas sekontainer loh. Dengan kepercayaan yang dimiliki, siapa pun dapat melakukan apa pun dengan aman, nyaman, dan senang. Tidak takut dengan berbagai hal yang dapat membahayakan keselamatan fisik dan rohaninya.

Nah, penulis pemula yang suka clickbait pasti mengalami penurunan bahkan kehilangan kepercayaan dari berbagai pihak. Salah satunya dari pembaca. Bila pembaca sudah tidak mempercayainya maka redaksi koran maupun media online tidak akan berani menerima naskahnya lagi. Sebab hal itu akan sangat merugikan media yang mereka kelola. Reputasi dan nama baik sebuah media sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan pembacanya. Semakin tinggi tingkat kepercayaan pembaca maka semakin banyak orang yang membaca tulisan di media tersebut. Maka semakin banyak pula pendapatan yang akan masuk ke kas pengelola media tersebut. Begitu pula sebaliknya. Semakin rendah kepercayaan pembaca, semakin rendah pula penghasilan media tersebut. Bila mereka mempertahankan penulis jenis ini maka kebangkrutan usahanya di bidang penulisan semakin nyata.

Dibenci adalah resiko berikutnya yang harus diterima oleh penulis clickbait. Rasa marah karena ditipu oleh judul tulisan yang bombastis akan serta merta membuat pembaca merasa kesal dan marah kepada penulisnya. Bila satu dua kali ditipu mereka masih bisa memaklumi. Namun bila keseringan ditipu mereka pasti benci. Bila sudah benci maka habislah karier kepenulisan penulis tersebut.

Nah, masih mau clickbait?
(Bogor, 18 Desember 2018)

MIMPI PENDIDIKAN TANPA KORUPSI

Oleh: Neneng Hendriyani

Tulisanku ini dimuat di Pikiran Rakyat, pada Senin (Pahing) 26 Februari 2018, 10 Jumadil Akhir 1439 H, Jumadil Akhir 1951, pada halaman Pendidikan (halaman 17), kolom pertama.

Guru yang berada di lingkaran dunia pendidikan yang bersih adalah mereka yang memiliki integritas tinggi dan kemampuan akademis yang memadai dalam menjalankan profesinya.

KORUPSI adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, yayasan, dsb) untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Penyelewengan atau penyalahgunaan jabatan yang dilakukan dapat berupa tindakan sogok menyogok, suap menyuap dalam tender yang diadakan oleh lembaga pemerintah dan perusahaan. Ini kerap disebut dengan korupsi ekstortif dan transaktif.

Ada juga korupsi dengan jalan menawarkan barang atau jasa sebagai pengganti pertolongan pada masa mendatang (korupsi investif). Selain itu ada pula korupsi yang disiasati atau diprakarsai diri sendiri; korupsi yang dilakukan sendiri untuk memperoleh keuntungan finansial dengan memanfaatkan peran (korupsi otogenik).

Apapun jenis korupsinya, yang pasti korupsi adalah sebuah tindakan kejahatan yang sangat merugikan. Tindakan ini dapat melemahkan seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Alangkah indahnya negeri ini bila korupsi lenyap. Mimpi yang saat ini masihlah jauh panggang dari api. Namun bukan berarti mimpi tersebut harus ikut lenyap dibawa panasnya api.

Tanpa korupsi semuanya akan menjadi indah. Tak terkecuali dunia Pendidikan. Dunia Pendidikan yang bersih dari korupsi dapat melahirkan generasi baru yang sesuai dengan isi amanat pembukaan UUD 1945. Yaitu generasi yang mampu menciptakan kesejahteraan, keamanan, kenyamanan, bagi seluruh rakyat Indonesia di manapun mereka berada. Sebuah generasi yang mengutamakan kejujuran dalam bertutur, bersikap, dan bertindak terhadap sesamanya.

Pendidikan yang bersih akan melahirkan kualitas yang benar-benar teruji. Kualitas tersebut diantaranya adalah kualitas guru, kualitas pengajar, kualitas sarana dan prasarana pendukung, serta kualitas lulusan yang dihasilkan. Seluruhnya saling terkait satu sama lain.

Guru yang berada di lingkaran dunia Pendidikan yang bersih adalah mereka yang memiliki integritas tinggi dan kemampuan akademis yang memadai dalam menjalankan profesinya.

Kepribadian sosial dan pedagogis yang dimiliki oleh mereka mampu membuat mereka menciptakan berbagai penemuan baru di bidang dunia Pendidikan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas pengajaran yang dilakukan. Penemuan tersebut bisa meliputi berbagai inovasi di bidang pembelajaran, karya tulis ilmiah, penelitian sederhana, penelitian tindakan kelas, dan lain-lain.

Kualitas sarana prasarana pendukung Pendidikan pun akan baik bahkan melebihi target yang ditentukan. Seluruh lembaga penyelenggara Pendidikan dapat dengan mudah mendapatkan bantuan sarana pembelajaran penunjang dari pemerintah dan swasta.

Hal ini dimungkinkan karena membudayanya kejujuran di seluruh lapisan masyarakat. Sehingga tidak ada lagi kekhawatiran sarana prasarana yang dibutuhkan disunat oleh pihak tertentu. Semua berjalan sesuai dengan PAGU (Perencanaan Anggaran Umum) yang telah ditetapkan pemerintah. Tiada lagi sekolah bobrok yang nyaris roboh. Tidak ada lagi sekolah yang miskin meja dan kursi. Semua sekolah memiliki self-access room sendiri dilengkapi dengan perpustakaan digital dan nondigital. Tidak ada lagi ketimpangan kualitas sarana prasarana di luar Jawa.

Tingginya kualitas guru dan sarana prasarana penunjang pembelajaran tersebut pada gilirannya berimbas pada kualitas pengajaran di dalam kelas. Proses pembelajaran yang dilakukan pun dapat berlangsung sesuai dengan amanat kurikulum dan pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hasilnya adalah siswa yang diajarnya dapat tumbuh menjadi siswa yang kreatif, inovatif, dan sportif. Mari Bersama kita ciptakan Pendidikan tanpa korupsi.***

Penulis guru di SMKN Negeri 1 Cibinong, Kabupaten Bogor

GELIAT PUISI ESAI DI INDONESIA

Oleh: Neneng Hendriyani*)

Ini adalah tulisan perdanaku di Tribun Bali. Tulisan ini dimuat pada hari Minggu, tanggal 23 September 2018, Redite Umanis Kulawu, Caka 1940, halaman 4. Berikut ini tulisan selengkapnya di harian tersebut.

Menulis memerlukan imajinasi, pemikiran, dan perenungan yang mendalam terkait peristiwa terkini maupun yang lampau. seseorang dituntut untuk memiliki pengalaman berbahasa yang matang untuk melahirkan tulisan yang mumpuni.

SEJUMLAH 50 penulis opini yang berasal dari berbagai latar sosial, pendidikan, profesi, serta adat istiadat, di berbagai provinsi di Indonesia berupaya mengurai gagasannya perihal puisi esai. Mereka mencoba mengulas lebih dalam tentang eksistensi dan potensi puisi esai, perdebatan yang terjadi, angkatan puisi esai dalam sastra Indonesia, hingga geliat sastra daerah.

Para penulis opini dalam buku Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia (2018) berasal dari 22 provinsi di Indonesia, menyebar dari DKI Jakarta hingga Papua. Guru Besar Antropologi Sastra Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum mengibaratkan puisi esai sebagai sebuah telur. Para penulis opini puisi esai memandang puisi esai sebagai sebuah telur dari berbagai sudut pandang yang berbeda, namun menarik. Mereka dikatakannya sedang berolah etnografi estetis. Artinya, sebagai seorang koki, para penulis opini puisi esai ini berusaha memasak opininya dengan berbagai resep sehignga tersaji tulisan yang apik.

Menurut Suwardi Endraswara, para penulis opini menggunakan konsep 3-, yakni fokus pada konten, konteks, dan konstruksi. Maka, studi sastra boleh digali dari perspektif antropologi sastra yang memandang konteks hubungan sastra dengan budaya. Dari tiga kelompok yang dibahas oleh Suwardi Endraswara dalam prolognya, para penulis opini puisi esai termasuk ke dalam kelompok yang berpikir jernih. Bukan kelompok yang tidak begitu paham terhadap sesuatu yang bar, serta hanya sekedar ikut-ikutan.

Sebagai kelompok yang berpikiran jernih, mereka berupaya menerima keberadaan puisi esai atas dua dorogan yaitu dorongan kreativitas dan dorongan psikologi. Dorongan kreativitas artinya mereka mengakui adanya puisi esai ini sebagai buah dari kreativitas para penyair dalam memunculkan ide baru yang berawal dari puisi panjang (long poetry). Dorongan psikologi, yaitu keinginan mengemukakan imajinasi yang dipadu dengan opini hingga memunculkan puisi yang berbentuk naratif (narrative poetry).

Dalam bagian pertama buku ini, eksistensi dan potensi puisi esai, 13 penulis diantaranya Gunoto Saparie, Kumbo Adiguno, Bernadus B. Daya, Dhenok Kristianti, A.Y. Deliana, Rasiah, Anthony Tonggo, Heri Mulyadi, Rini Sulistiani, Hamri Manoppo, Fajar Mesaz, F.X. Purnomo, dan Bambang Widiatmoko mengakui keberadaan sebuah puisi esai di panggung sastra Indonesia sebagai ide yang luar biasa, adil dan beradab, memberi ruang yang lebih bebas untuk berimajinasi sesuai fakta. Keberadaannya diakui memperkaya khazanah kesusasteraan tanah air dan dunia. Dari keberadaannya inilah puisi esai membuka kesempatan untuk riset sastra.

Selanjutnya buku ini pun memuat puisi esai dalam perdebatan. Yohanes Sehandi dalam opininya yang berjudul Kontroversi Puisi Esai 2018 menuturkan dengan panjang lebar mengenai sejarah awal mulanya puisi esai dan perjalanan kontroversinya. Tulisannya bisa dijadikan sumber referensi bagi siapa pun yang belum mengetahui sejarah lahirnya puisi esai dan tokohnya. Usman D. Ganggang, Masrur Ridwan, La Ode Gusman Nasiru, Viddy Ad Daery, Willem Berybe sepakat melihat gonjang ganjing mengenai puisi esai ini justru membuat puisi esai semakin dikenal masyarakat. Sehingga puisi esai berubah menjadi bola sastra yang terus menggelinding.

Viddy pun mendukung hal ini dengan membahas mengenai honorarium yang sering kali menjadi topik perdebatan di kalangan sastrawan Indonesia. Mewakili kaumnya, ia mengatakan bahwa puisi merupakan karya kreatif yang melibatkan tidak hanya panca indra tapi juga pengetahuan, wawasan, dan kejernihan hati para penulisnya. Karya yang dihasilkan dalam bentuk puisi ini seharusnya juga mendapatkan apresiasi dan penghargaan yang sama besarnya seperti yang diterima oleh pelukis dengan hasil lukisannya. Bukankah keduanya juga sama-sama produk kreativitas? Lalu mengapa berbeda dalam penghargaan dan apresiasi yang diberikan?

Pada bagian ketiga buku ini M.Isfridus Harapan, Satrio Arismunandar, dan Roso Titi Sarkoro mengusung tema angkatan puisi esai dalam sastra Indonesia. Mengutip pendapat David Fishelov dalam The Birth of Genre di jurnal European journal of English Studies, Vol.3 No. 1, pp. 51-63 (April 1999), Satrio Arismunandar berpendapat bahwa puisi esai merupakan genre baru menurut kriteria David Fishelov.

Bagian keempat yang berisi puisi esai, potret batin, dan isu sosial Isbedy Stiawan ZS, Fitri Angraini Roffar, Eddy Salahuddin, Nyoto Utoyo, Neneng Hendriyani, Januarius Yohanes Tolan Igor, dan Imelda Oliva Wissang mencoba menyelami batin masing-masing mengenai beragam isu sosial kemasyarakatan yang terjadi di sekitarnya. Melalui berbagai hal yang terjadi di masyarakat diantaranya politik, social ekonomi, budaya, pertahanan keamanan negara, mereka berujar bahwa melalui puisi esai mereka dapat menyuarakannya dengan gamblang, indah dan mudah dipahami oleh siapa pun.

Puisi esai mampu mewakili perasaan batin para penyair mengenai lingkungannya. Ia bukan hanya sebuah hasil imajinasi penyair, tetapi juga didukung oleh fakta. Sehingga keberadaannya tidak bisa dinafikan begitu saja. Dengan demikian puisi esai memiliki fungsi sebagai perekam isu social kemasyarakatan (Neneng Hendriyani), pembelajaran berbasis masalah dan ruang kepekaan (Imelda Oliva Wissang).

Semakin luas dan dikenalnya puisi esai di blantika sastra Indonesia mau tidak mau, terpaksa ataupun rela, seluruh insan Pendidikan terutama guru Bahasa Indonesia pasti mengupas puisi esai di dalam kelasnya. Sejalan dengan itulah maka Tri Cahyono, Lukman Juhara, dan Anto Narasoma mengusung tema Puisi Esai dalam Pendidikan. Di bagian keenam inilah dibahas mengenai kiat mengajarkan puisi esai di sekolah. Juga dibahas pula puisi esai dan gerakan literasi serta nilai edukasi siswa.

Dengan adanya isu dan perdebatan yang sangat keras dialami oleh puisi esai mendorong banyak penulis dan penyair bangun dari tidurnya. Geliat ini mendorong mereka untuk aktif kembali di daerahnya masing-masing. Bahkan melalui puisi esai pula, penulis pemula pun dapat ikut berkiprah mengangkat nama daerahnya. Hal ini menjadi nyawa tulisan bagian ketujuh buku opini ini dalam tema puisi esai dan geliat sastra daerah. (*)

*) Guru Bahasa Inggris di SMKN 1 Cibinong

CATATAN KENANGAN

Ada begitu banyak tulisanku yang tersebar di berbagai media selama ini. Menuliskannya kembali di sini adalah upayaku membuat semuanya terekam dengan baik. Selain itu juga agar jumlah yang membacanya lebih banyak. Sehingga lebih banyak lagi orang yang mendapatkan manfaat dari karya-karya sederhanaku tersebut.
Semoga semua upaya ini mendapatkan keberkahan dan dapat memberi manfaat bagi semua orang.
Jangan takut untuk berbagi. Takutlah bila tak bisa berbagi lagi.

Cibinong, 18 Desember 2018

Kisahku

KISAHKU

Neneng Hendriyani

Ini hari ku temui engkau

Yang tak ku kenal dalam milyaran hariku

Hanya karena darah yang sama

Mengaliri sumsum tulangku

Terbang aku menemuimu

Singkirkan ego, jua dendam masa lalu

 

Ini hari setahun lalu

Ku taburi bekas jasadmu

Dalam jatuhan helai melati

Rimbunnya kenanga dan air mawar yang suci

Ku bawakan sejuta doa

 

Ini hari aku sadari

Kau bukan sosok yang sama

Darah yang mengalir di tubuhku

Bukan darahmu sepenuhnya

Pantas saja bila rindu enggan menyapa

 

Ini hari ku simpan saja

Semua memori dalam cepuk Angsana

Ku percaya di suatu senja

Kau kan datang mengiba cinta

Cinta yang sama dulu ku punya

Cinta yang kini tak lagi bermakna

 

(Karadenan, 31/08/2017)

  • Diambil dari Setangkup Rindu Dari Masa Lalu.

DUA PULUH TAHUN LALU

DUA PULUH TAHUN LALU
oleh Neneng Hendriyani

Di jalan yang sama dua puluh tahun lalu
Anyelir semarak mekar mewangi menyambutku
Turuni kereta kencana kala jingga menyapa
Laksana Ratu di sisimu

Selayang pandang mata kita bertemu
Di pupil hitam terlukis wajahku
Merah merona seketika
Bak Anyelir di taman istana

Hari-hariku mekar bersama sepoi angin
Bawa biji Anyelir tumbuh di mana ia jatuh
Subur di mana air menyentuh
Wangi di relung kalbu

Di jalan yang sama dua puluh tahun lalu
Terpatri janji di bawah prasasti
Kau dan aku kan tetap berseri
Meski Anyelir tak lagi mewangi

(Bogor, 25 November 2018)
—

nb: Puisi ini ditulis dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Maklum dikejar deadline saat itu. Saya mengirimnya untuk sebuah lomba. Sayang saya tidak menghitung jumlah barisnya. Ups, saya ceroboh sekali ya. Buat saya menulis puisi ya menulis saja. Tak peduli dengan jumlahnya. Bila saya rasa pesan yang ingin saya sampaikan bisa disampaikan hanya dengan satu kata, ya saya tulis hanya satu kata. Tapi bila ternyata lebih dari satu kata ya tak masalah buat saya. Tokh, yang tahu persis puisi itu maksudnya kemana kan memang penulisnya, ya? wkwk.

Yuk, nulis puisi lagi. Kalah menang soal biasa. Meneruskan hobi itu luar biasa.

HUJAN TERAKHIR DI BUMI BORNEO

HUJAN TERAKHIR DI BUMI BORNEO
Oleh: Neneng Hendriyani

Langit kian gelap
Gemuruh kian terdengar memekakkan gendang telinga
Menyebar aroma ketakutan
Menghisap seluruh harapan

Cemas, takut, bingung, marah?!
Ya! Ingin marah, tapi pada siapa?
Lihat! Hutan yang gundul, sungai yang kering, udara yang panas
Air yang keruh
Tak bisa hilangkan hausku
Tak bisa hilangkan laparku
Tak bisa lindungi kulitku

Kini,
Langit kian gelap
Gemuruh kian terdengar memekakkan gendang telinga
Menyebar aroma ketakutan
Menghisap seluruh harapan
Menertawakan dengkul-dengkul koclak lari kesetanan

Dalam amarah yang tertahan
Hujan turun tak terbendung
Kilat temani sambar menyambar
Tak hanya sentuh pohon kenari
Tapi juga pondok-pondok pembalak liar
Gelegar!
Terbakar!
Hanyut!
Banjir bandang!
Menggulung!
Hancur!
Tak ada sisa
Semua lenyap seketika
Dibawa hujan terakhir di Borneo

(Bogor, 17 Agustus 2018)
—