


UPAYA MENUMBUHKEMBANGKAN INTEGRITAS SISWA SMK
OLEH NENENG HENDRIYANI, M.Pd
GURU SMK NEGERI 1 CIBINONG
Berbicara tentang SMK berarti berbicara tentang segala hal yang terdapat dalam Sekolah Menengah Kejuruan; baik bidang teknologi industri maupun bidang manajemen perkantoran. Sebuah pembicaraan yang sangat luas dan heterogen tentunya. Tak dapat dibahas hanya dalam waktu sekejap saja. Butuh banyak pihak untuk terlibat di dalam pembicaraannya mengingat kompleksnya masalah yang ada di tubuh SMK itu sendiri. Oleh karena itu, penulis membatasi tulisannya kali ini dengan hanya membahas tentang bagaimana integritas dapat diajarkan di dunia SMK. Mengapa memilih integritas? Mengapa memilih SMK? Hal ini tidak lain karena penulis memandang persoalan tentang integritas sangatlah mendesak untuk dibahas. Selain itu pula, SMK adalah ujung tombak yang disiapkan oleh pemerintah dalam mencetak generasi muda yang mampu terjun langsung ke dunia usaha dan industri. Sesuai dengan jargonnya, SMK BISA! Nah, bagaimana seorang lulusan SMK bisa terserap di dunia usaha dan industri bila ia tidak memiliki integritas? Karena pastilah sulit menerima seorang lulusan SMK yang integritasnya diragukan. Iya kan Berangkat dari pemikiran itulah maka integritas perlu ditumbuhkembangkan pada siswa SMK. Hal ini bertujuan agar seluruh lulusan SMK dapat memiliki integritas tinggi yang pada akhirnya membantu mereka dalam bekerja dan berwirausaha.
Secara sederhana integritas terdiri atas beberapa huruf yang bermakna Ikrar, Niat, Tabiat, Emosional, Guna, Rasional, Ihsan, Tawakal, Amanah, dan Sabar. Berdasarkan makna huruf-huruf ini maka integritas berkaitan erat dengan niat seseorang dalam menjaga keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatannya dengan cara yang rasional, dan penuh kesabaran. Orang yang memiliki integritas adalah orang yang berani memikul amanah dengan baik. Ia cenderung mampu mengelola emosinya dengan baik dan tetap bertawakal kepada sang pencipta (Allah SWT) apabila menemui kesulitan. Tabiatnya yang jauh dari kesombongan dan sifat munafik membuat siapa pun dapat mengenalinya sebagai orang yang berintegritas.
Integritas bukan semata-mata mengenai keselarasan pikiran, ucapan, dan perbuatan seseorang. Keselarasan tersebut hanyalah bersifat kongruensi saja. Menurut Stephen R. Coffey, integritas ditandai oleh empat nilai dasar yang wajib dimiliki seseorang. Yaitu, kejujuran, kerendahan hati, keselarasan antara pikiran ucapan dan perbuatan, serta keberanian untuk menyatakan kebenaran. Keempat hal tersebut mengandung enam nilai utama; kejujuran, keadilan, akuntabilitas, profesionalisme, tanggung jawab, dan anti KKN. Seseorang yang sudah memiliki nilai-nilai ini dapatlah dikategorikan sebagai orang yang memiliki integritas.
Menurut KBBI V, integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran.
Nilai integritas ini ternyata memiliki kedudukan yang tinggi pula di sisi agama. Seperti yang ditegaskan oleh Al Quran dalam QS. As Saff ayat 3: “ Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Seseorang yang tidak memiliki integritas di dalam islam disebut munafik. Munafik yaitu orang yang suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua (KBBI V). Semakin tinggi tingkat spiritualitas seseorang maka integritasnya semakin tinggi. Hal ini karena ada sinergitas antara sifat religius dengan keenam nilai utama di atas.
Menurut Lawrence Kohlberrg dalam teorinya tentang stages of moral development, ada tiga tahapan perkembangan moral manusia berkaitan dengan integritas. Yaitu tahapan prakonvensional, tahapan konvensional, dan tahapan post konvensional. Tahapan pertama atau tahap prakonvensional sering disebut dengan tahapan moralitas anak-anak. Mengingat seluruh ciri khas yang terdapat dalam tahapan ini lebih banyak ditemui pada usia anak-anak. Pada tahapan ini orientasi seseorang masih terletak pada kepatuhan akan adanya ancaman dan hukuman. Artinya, seseorang berbuat atau tidak berbuat sesuatu karena alasan ada dan tiadanya hukuman yang menyertainya. Kedua, orientasinya masih terletak pada hitungan untung dan rugi. Mau berbuat sesuatu karena semata-mata mengharapkan keuntungan atau menghindari kerugian. Singkatnya, tahapan ini tergantung pada ada tidaknya rewards and punishment.
Tahapan kedua adalah tahap konvensional. Pada tahapan ini seseorang berbuat sesuatu karena adanya alasan orientasi keserasian interpersonal dan konformitas dengan sekelilingnya. Bahasa mudahnya adalah saya berbuat baik agar sesuai dengan tuntutan orang lain. Orang lain di sekitar saya menginginkan saya baik, maka saya pun baik. Alasan berikutnya adalah orientasi pada otoritas dan pemeliharaan aturan sosial. Di sini saya berbuat baik karena memang sudah seharusnya saya begitu (tetap berbuat baik) agar tatanan sosial di mana saya berada tetap terjaga dan tidak rusak.
Tahapan ketiga adalah tahapan post konvensional. Pada tahapan ini seseorang berbuat baik karena adanya orientasi kontrak sosial dan orientasi prinsip-prinsip etika universal. Pada orientasi kontrak sosial seseorang berbuat baik karena hal tersebut merupakan komitmen yang dimilikinya sendiri sebagai bagian dari masyarakat di mana ia tinggal. Sementara pada orientasi prinsip-prinsip etika universal seseorang berbuat baik karena memang itulah nilai universal yang dimiliki dan dipegang olehnya seumur hidupnya. Pada tahapan ini ia menyadari betul resiko yang akan ia hadapi akibat dari nilai universal yang diyakininya tersebut dan ia pun tidak takut menghadapinya.
Nah, ketiga tahapan tersebut sejatinya tidak serta merta memudahkan siapa pun mengukur perkembangan moralitas seseorang. Namun setidaknya, memudahkan siapapun termasuk siswa bahwa untuk mencapai integritas perlu mencapai tahap ketiga, yaitu post konvensional. Pada tahap ini siapa pun berbuat baik bukan karena apapun lagi. Tidak ada alasan maupun motif eksternal lagi yang mendorong seseorang berbuat baik. Ia berbuat baik karena memang ia menyadari sepenuhnya akan pentingnya berbuat baik bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Maka, seseorang dikatakan berintegritas tinggi bila pribadi orang itu utuh sehingga dapat dipercaya. Ia memiliki kesatuan dari beberapa aspek kemanusiaan, yaitu aspek kognitif, afektif, moral, spiritual, sosial dan emosi. Ketiga intelegensinya berkembang dengan pesat dan saling mendukung: IQ, EQ, SQ. Keadaan diri orang itu luar dalamnya sama. Antara hati, ucapan, dan perbuatannya sama.
Menurut Atosoki Gea, ciri-ciri integritas secara umum mencakup tiga dimensi yaitu dimensi fisik, psikis, dan sosial. Pada dimensi fisik, integritas terlihat dari bagaimana ia menjaga badannya. Hal ini dikarenakan kemampuan integritasnya menyangkut soal kesehatan, makan, minum, kebugaran dll yang dapat dengan mudah terlihat oleh orang lain. Orang yang memiliki integritas otomatis tubuhnya sehat dan bugar. Hal ini disebabkan ia paham betul apa hak dan kewajibannya terhadap tubuhnya. Pada dimensi psikis/jiwa, integritas terlihat dari pemikiran, intelegensi, emosi, serta keadaan batiniah seseorang. Cara mengukurnya dengan menggunakan alat ukur kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual; yaitu IQ, EQ, SQ. Sementara pada dimensi social, integrasinya terlihat dari bagaimana seseorang berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain.
Maka integritas dapatlah disimpulkan sebagai kesatuan semua aspek hidup manusia; fisik, kognitif, afektif, emosi, spiritual, moral, sosial, dan adanya kesatuan badan, jiwa dan roh dalam seorang individu sehingga seluruh sikap berikut ini nampak pada sifat dan sikap orang tersebut:
– Jujur pada siapa pun, tanpa main topeng, dan menutup-nutupi
– Bertanggungjawab terhadap tugas, kewajiban, serta apa yang dikatakan
– Konsekuen terhadap apa yang dikatakan
– Menepati janji
– Konsisten; bila memang setuju ya setuju. Tidak ya tidak. Tetap pada pendiriannya yang benar dan tidak mudah goyah
– Dapat dipercaya, setia
– Berani mengakui kesalahan
– Berkualitas
– Disiplin diri, melakukan apa yang harus dilakukan
– Memiliki komitmen dan loyalitas
– Ada kesamaan antara yang nampak di luar dengan yang di dalam
– Ada kesatuan antara ucapan dan tindakan
– Ada kesamaan antara yang diyakini dengan yang dilakukan di luar
Mengingat dahsyatnya makna integritas tersebut di atas, maka perlu kiranya para guru di SMK untuk mulai bergandengan tangan bekerja sama menumbuhkembangkan budaya integritas ini dalam pembelajaran yang dilakukannya setiap hari. Upaya mulia ini tidak hanya dilakukan oleh guru semata tapi juga oleh seluruh stakeholder SMK. Di antaranya unsur pimpinan sekolah, tenaga kependidikan, tenaga pendidik (guru), orang tua, dan dunia usaha/industri.
Untuk menumbuhkembangkan nilai integritas ini pada siswa SMK mau tidak mau guru sebagai agent of change haruslah menjadi sosok yang lebih dahulu memiliki integritas. Selain itu juga harus diawali dari komitmen seluruh warga sekolah. Dimulai dari hal-hal yang terkecil namun konsisten dilakukan setiap waktu. Hal-hal terkecil ini haruslah dimulai dari lingkungan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Tindakan tumbuh kembang integritas ini haruslah dibagi menjadi beberapa titik tujuan. Seluruhnya bisa dilakukan melalui pembiasaan. Titik-titik tujuan tersebut diantaranya:
a. Penanaman integritas dimensi fisik
Pada dimensi ini, seluruh stake holder SMK harus bahu membahu membangun kesadaran diri dan orang lain yang ada di sekitarnya untuk memfokuskan diri kepada kesehatan fisik tubuh dan bangunan sekolah. Yang dimaksud dengan tubuh di sini adalah tubuh seluruh civitas sekolah; dari kepala sekolah, guru, siswa, tata usaha, hingga satpam. Bila seluruhnya sehat, maka seluruh kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik. Yang dimaksud dengan kesehatan fisik bangunan adalah kebersihan lingkungan sekolah. Tiadanya sampah yang menumpuk di kolong meja siswa dan guru adalah salah satu indikator kebersihan kelas. Begitu pula sekolah yang bersih adalah sekolah yang sehat. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang berintegritas.
b. Penanaman integritas dimensi psikis
Pada penanaman dimensi ini, peran guru sangatlah besar. Guru harus menjadi model utama yang dapat diteladani oleh seluruh siswanya. Kecakapan dan keterampilan yang dimiliki seorang guru dalam mengajar dan mendidik siswanya adalah bekal yang paling penting bagi seorang guru dalam mencetak siswa yang berintegritas. Guru yang tidak cakap dalam arti tidak mampu menyampaikan materi pelajarannya dengan baik akan memberi ruang penilaian yang buruk bagi siswa. Siswa tidak lagi mengaguminya dan enggan mendengarkan semua ucapannya. Hal ini didorong dari berkurangnya rasa percaya siswa terhadap guru.
Ketegasan guru dalam menjalankan kedisiplinan di kelas yang dipegangnya juga menjadikannya tokoh penting dalam mendidik kedisiplinan siswa. Untuk bagian ini sangatlah tidak wajar bila tugas kedisiplinan hanya dipegang oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan jajarannya saja. Hal ini dikarenakan tanggung jawab keberhasilan pendidikan seorang siswa adalah tanggung jawab seluruh guru yang ada di sekolah tersebut. Masih adanya rasa tidak nyaman bagi sebagian pembina siswa yang melihat guru lain ikut membina siswa yang “nakal” merupakan indikator masih rendahnya integritas yang dimiliki sekolah tersebut. Begitu pula sebaliknya. Cueknya sikap guru non pembina siswa terhadap siswa yang melanggar aturan kedisiplinan sekolah juga menjadi indikator rendahnya integritas guru di sekolah tersebut. Oleh sebab itulah, kebijaksanaan seorang kepala sekolah sangat diperlukan di sini. Dengan arahan dan bimbingannya ia dapat mengajak semua guru untuk bahu membahu mendidik siswa mereka menjadi siswa yang pintar, cerdas, dan disiplin.
c. Penanaman integritas dimensi sosial
Pada bidang dimensi social, sekolah harus bekerja sama dengan unsur lain yang ada di lingkungan sekolah. Yaitu, unsur MUSPIKA, orang tua, dan dunia usaha/industri. Setiap siswa membawa nilai-nilai sosial yang dipelajarinya di rumah dari kedua orang tuanya. Dari mereka inilah nilai-nilai tersebut diwariskan. Apabila nilai yang diwariskan ini baik, siswa tersebut akan tumbuh semakin baik. Namun bila sebaliknya, maka pihak sekolah dalam hal ini bimbingan konseling dan penyuluhan bekerja sama dengan guru dan orang tua haruslah bekerja sama dalam mengembalikan sikap dan sifat siswa yang tidak sesuai dengan harapan sekolah dan masyarakat. Begitu pula pihak dunia usaha/industri tidak bisa berpangku tangan membiarkan SMK sibuk sendiri mendidik siswanya. Mereka harus ikut terjun langsung membina para siswa SMK melalui program job training di instansi atau pun perusahaan yang mereka miliki. Dengan membawa siswa langsung ke lapangan untuk mempraktikkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya di bangku sekolah merupakan langkah nyata yang diambil perusahaan dalam menumbuhkembangkan nilai-nilai integritas pada diri siswa tersebut.
—