DUA PULUH TAHUN LALU
oleh Neneng Hendriyani
Di jalan yang sama dua puluh tahun lalu
Anyelir semarak mekar mewangi menyambutku
Turuni kereta kencana kala jingga menyapa
Laksana Ratu di sisimu
Selayang pandang mata kita bertemu
Di pupil hitam terlukis wajahku
Merah merona seketika
Bak Anyelir di taman istana
Hari-hariku mekar bersama sepoi angin
Bawa biji Anyelir tumbuh di mana ia jatuh
Subur di mana air menyentuh
Wangi di relung kalbu
Di jalan yang sama dua puluh tahun lalu
Terpatri janji di bawah prasasti
Kau dan aku kan tetap berseri
Meski Anyelir tak lagi mewangi
(Bogor, 25 November 2018)
—
nb: Puisi ini ditulis dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Maklum dikejar deadline saat itu. Saya mengirimnya untuk sebuah lomba. Sayang saya tidak menghitung jumlah barisnya. Ups, saya ceroboh sekali ya. Buat saya menulis puisi ya menulis saja. Tak peduli dengan jumlahnya. Bila saya rasa pesan yang ingin saya sampaikan bisa disampaikan hanya dengan satu kata, ya saya tulis hanya satu kata. Tapi bila ternyata lebih dari satu kata ya tak masalah buat saya. Tokh, yang tahu persis puisi itu maksudnya kemana kan memang penulisnya, ya? wkwk.
Yuk, nulis puisi lagi. Kalah menang soal biasa. Meneruskan hobi itu luar biasa.
