DUA PULUH TAHUN LALU

DUA PULUH TAHUN LALU
oleh Neneng Hendriyani

Di jalan yang sama dua puluh tahun lalu
Anyelir semarak mekar mewangi menyambutku
Turuni kereta kencana kala jingga menyapa
Laksana Ratu di sisimu

Selayang pandang mata kita bertemu
Di pupil hitam terlukis wajahku
Merah merona seketika
Bak Anyelir di taman istana

Hari-hariku mekar bersama sepoi angin
Bawa biji Anyelir tumbuh di mana ia jatuh
Subur di mana air menyentuh
Wangi di relung kalbu

Di jalan yang sama dua puluh tahun lalu
Terpatri janji di bawah prasasti
Kau dan aku kan tetap berseri
Meski Anyelir tak lagi mewangi

(Bogor, 25 November 2018)

nb: Puisi ini ditulis dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Maklum dikejar deadline saat itu. Saya mengirimnya untuk sebuah lomba. Sayang saya tidak menghitung jumlah barisnya. Ups, saya ceroboh sekali ya. Buat saya menulis puisi ya menulis saja. Tak peduli dengan jumlahnya. Bila saya rasa pesan yang ingin saya sampaikan bisa disampaikan hanya dengan satu kata, ya saya tulis hanya satu kata. Tapi bila ternyata lebih dari satu kata ya tak masalah buat saya. Tokh, yang tahu persis puisi itu maksudnya kemana kan memang penulisnya, ya? wkwk.

Yuk, nulis puisi lagi. Kalah menang soal biasa. Meneruskan hobi itu luar biasa.

HUJAN TERAKHIR DI BUMI BORNEO

HUJAN TERAKHIR DI BUMI BORNEO
Oleh: Neneng Hendriyani

Langit kian gelap
Gemuruh kian terdengar memekakkan gendang telinga
Menyebar aroma ketakutan
Menghisap seluruh harapan

Cemas, takut, bingung, marah?!
Ya! Ingin marah, tapi pada siapa?
Lihat! Hutan yang gundul, sungai yang kering, udara yang panas
Air yang keruh
Tak bisa hilangkan hausku
Tak bisa hilangkan laparku
Tak bisa lindungi kulitku

Kini,
Langit kian gelap
Gemuruh kian terdengar memekakkan gendang telinga
Menyebar aroma ketakutan
Menghisap seluruh harapan
Menertawakan dengkul-dengkul koclak lari kesetanan

Dalam amarah yang tertahan
Hujan turun tak terbendung
Kilat temani sambar menyambar
Tak hanya sentuh pohon kenari
Tapi juga pondok-pondok pembalak liar
Gelegar!
Terbakar!
Hanyut!
Banjir bandang!
Menggulung!
Hancur!
Tak ada sisa
Semua lenyap seketika
Dibawa hujan terakhir di Borneo

(Bogor, 17 Agustus 2018)

HUJAN TAK DERAS LAGI

HUJAN TAK DERAS LAGI
Oleh: Neneng Hendriyani

Hujan itu tak deras lagi
Sejak mesin-mesin berlomba masuk hutan
Beberapa tahun silam

Nyanyian dedaunan,
gemerisik angin petang diiringi tetabuhan suara hewan,
gemulai tarian dahan panggil hujan
tinggal kenangan

Sejak hutan dirudapaksa
Ribuan batang pohon rebah terkapar menyerah kalah
Tak bisa cegah rumah burung jatuh dari pelukan,
Tak bisa larang lubang hewan ditutup ribuan ranting patah
Tak bisa teriak lantang: HENTIKAN! JANGAN LAKUKAN!

Hancur sudah rumah,
putus sudah ikatan yang mengundang hujan datang
Kini hujan tak deras lagi
kini semua mati suri
jangan tanya kapan kembali berseri,
mewangi dan tebar pesona negeri
Sebab hujan tak deras lagi
(Bogor, 17 Agustus 2018)

HUJAN DI MATA AYU

HUJAN DI MATA AYU
Oleh: Neneng Hendriyani

Tiap hujan turun ia gembira

Di bawah payung hitam ia lari ke taman kota

Berdiri menanti ‘tuk ke sekian masa

Seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun jantungnya berdansa

Menari di antara kelopak teratai

Lompat sejauh ia bisa ke tepi kolam

Berdiri menyambut seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun, ia kembali hidup

Matanya bersinar berkilat indah laksana kejora

Berkedip terpesona pada bulir air yang jatuh

Di atas daun keladi

Tiap hujan turun, harapannya tumbuh ribuan kali

Tak peduli musim berganti

Tak peduli dingin yang dihadapi

Ia bahagia berlari di bawah payung hitam

Berdiri menanti ‘tuk ke sekian masa

Seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun, ia percaya

Selalu ada cinta yang berlari ke arahnya

(Bogor, 17 Agustus 2018)

*) Puisi ini terpilih di dalam ajang lomba menulis puisi yang diadakan di Banjarbaru, Kalimantan, yaitu Banjarbaru Rainy Festival 2018.