KATA

Oleh: Neneng Hendriyani

 

 

Kata hanyalah kumpulan napas yang diberi ruang dan makna

bergerak lincah laksana Sriwedari

tegas, kuat, lembut, bersahaja

mainkan rasa mengocok isi jiwa

menipu fisik emosi semata

tanpa peduli lolongan nurani

terkoyak, pedih, perih

mati ia tak bernyali

tiada punya hati

meski lahir

dari hati

sendiri

 

(Bogor, 16 Juli 2018)

—

Puisi ini telah dikirimkan ke panitia lomba Sayembara Bunga Tunjung Biru 2018. Senangnya telah berbagi kebahagiaan meskipun hasilnya belum terlalu memuaskan.

semangat 🙂

Wahai Putriku

Oleh: Neneng Hendriyani

 

Wahai putriku

Kenalkah kau padaku?

Aku lahir di Cicalengka, 4 Desember 1884 lalu

Jauh sebelum Kartini ada

Jauh sebelum negeri ini merdeka

Bahkan jauh sebelum kau punya nama

 

Tahukah kau siapa aku?

Aku anak bupati yang ternama

Ayahku Raden Rangga Somanagara

Ibuku R.A. Rajapermas

Ayahku di buang Belanda

Ibuku ikut serta

Tinggalkan aku dan para saudara

Ikut paman ke Tasikmalaya

Hingga ayahku tiada

 

Kenalkah kau padaku

Wanita sederhana berbalut kebaya

Dengan konde khas tatar Sunda

Senang bermain drama

Di halaman pendopo ibukota

Menjadi guru mencari siswa

Mengajar menulis juga membaca

Dengan alat yang serba sederhana

Hingga suatu masa ku bangun sekolah

 

Sekolahku sekolah pertama

Di sini di tanah Hindia Belanda

Bukan ‘tuk semua

Cuma untuk anak wanita

 

Kuajari mereka tulis baca

Basa Sunda juga bahasa Belanda

Merajut, menjahit, merenda

Memasak, mencuci hingga semua bisa

Tak ada yang terlupa

 

Aku ingin kaumkku maju

Bukan untuk menjadi nomer satu

Apalagi menjadi Ratu

 

Aku ingin kaumku mandiri

Bisa tegak berdiri sejajar saling mengisi

Bukan untuk menyaingi

Tapi  menyiapkan generasi demi generasi

 

Bila kaumku pintar

Sudah pasti generasi berikutnya pintar

Bila kaumku baik pasti lahir generasi baru yang baik

Begitu seterusnya

Begitu yang ku mau

Begitu usahaku

Hingga ajal menjemputku; 11 September 1947

 

Wahai putriku

Kini kau tahu siapa aku

Cam ‘kan nasihatku:

Jangan lagi lupa dan malu

“kita adalah wanita, kita penjaga keutuhan keluarga, kitalah tiang negara, dari kita untuk negara, untuk dunia”!

(Karadenan-Cibinong, 3 September 2017)


Puisi ini ditulis untuk proyek buku antologi puisi: Menghidupkan Ruh Dewi Sartika Dalam Jiwa Para Guru.

Puisi ini menjadi puisi favorit yang dipilih peserta lomba membaca puisi Dewi Sartika di Bandung, Desember 2017 lalu.

Sejumput Cinta Di Kawah Ijen

Sejumput Cinta di Kawah Ijen
Oleh Neneng Hendriyani

Sinar perak menembus pelan
Menyapa mesra ribuan dedaunan
Berlari berlomba bersama embun
Mengecup hangat tinggalkan kenangan
Dalam genggaman ku susuri lembah perawan

Laut yang membentang
Biru yang terhampar
Berlomba menarik isi jiwaku bersama hijaunya sutra alam
Menghias kawah Ijen yang malu-malu tertutup kabut
Dari waktu ke waktu

Aku ingin pulang
Kembali dalam pelukan
Nikmati kayanya sawah dan hutan
Yang setia menanti dalam riang
Di kawah Ijen, sejumput cintaku tertinggal dalam kenangan

(Karadenan, 13 Februari 2018)

A Pinch of Love at Ijen Crater
by Neneng Hendriyani

Silver rays gently pierce through,
Tenderly greeting thousands of leaves,
Racing alongside the dew,
Kissing warmly, leaving memories.
In my grasp, I trace the virgin valley.

The sprawling sea,
The expanse of blue,
Vying to pull my soul with nature’s green silk,
Adorning the shy Ijen Crater, veiled in mist,
From time to time.

I long to return,
To rest in its embrace,
To savor the richness of fields and forests,
Faithfully waiting in joy.
At Ijen Crater, a pinch of my love lingers in memory.

(Karadenan, February 13, 2018)

#peserta Kemah Sastra Nasional Banyuwangi 2018

Ariyani, Desy dan Samsudin Adlawi. 2018. Antologi Puisi Nusantara: Senyuman Lembah Ijen. Bekasi: TareSi Publisher. Hal: 166.

Ini adalah karya yang membawaku tamasya keliling Banyuwangi pada tahun 2018 sebagau hadiah dari Pemkab Banyuwangi – Dewan Kesenian banyuwangi (DKB) – Jawa Pos Radar Banyuwangi karena telah berhasil lolos kurasi dari sayembara menulis puisi tentang IJEN dan BANYUWANGI.

#ijen #banyuwangi #jamboresastra #ASEAN #PUISI #POEM #poet #nenenghendriyani #sejumputcintadikawahijen

LAMPU MINYAK DARI PAMEKASAN (UNTUK KIAI AS’AD SYAMSUL ARIFIN)

LAMPU MINYAK DARI PAMEKASAN (UNTUK KIAI AS’AD SYAMSUL ARIFIN)
Oleh: Neneng Hendriyani

Lampu minyak itu menyala
Terang melebihi petromaks pada zamannya
Cahayanya benderang
Telanjangi malam hingga terlihat atap suraunya

Dari Mekkah terpancar tinggi ilmunya
Terlindung dari jelaga
Lampu minyak yang menyala
Terang melebihi petromaks pada zamannya

Berjuang lawan gelap menggulita
Senjata diarahnya ke muka
Penjajah penjarah pertiwi
Indonesia!

Bagai lampu minyak ia menyala
Bagi terang tak seperti lilin malang
Terang melebihi petromaks pada zamannya

(Bogor, 19 Mei 2018)

OIL LAMP FROM PAMEKASAN (FOR KIAI AS’AD SYAMSUL ARIFIN) by Neneng Hendriyani

The oil lamp burns,
Its light brighter than the petromax of its time,
Its glow radiant,
Stripping the night bare until the mosque’s roof is seen.

From Mecca, his knowledge shines high,
Shielded from soot.
The oil lamp burns,
Its light brighter than the petromax of its time.

Fighting against engulfing darkness,
His weapon aimed forward,
Against the colonial plunderers of the motherland, Indonesia!

Like an oil lamp, he burns,
Giving light, unlike a hapless candle,
Its glow brighter than the petromax of its time.

(Bogor, May 19, 2018)

#lampu #petromaks #pamekasan #madura #nenenghendriyani #puisi #poem #poet #kiaiasadsamsularifin


puisi ini diikutsertakan dalam lomba menulis puisi yang diselenggarakan oleh Pesantren NU dengan Tema Puisi Pahlawan Nasional Kiai As’ad: Riwayat Hidup dan Perjuangan (Pesantren NU dan NKRI) pada bulan Mei 2018. Hingga hari ini saya postkan di sini, saya belum menerima jawaban dari panitia lomba. Entah menang, entah tidak.

DI BALIK KEPULAN ASAP

DI BALIK KEPULAN ASAP
Oleh: Neneng Hendriyani

BAB 1

Rasanya lama sekali waktu berjalan. Sebenarnya matanya sudah mengantuk sejak magrib tadi. Sejak awal kedatangannya kerumah ini beberapa jam yang lalu. Namun keinginannya yang kuat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi memaksanya begadang malam itu dan meninggalkan anak-anaknya dirumah sendiri. Ah, apa boleh buat, bisik batinnya. Aku harus bertahan atau semua sia-sia. Demikian hatinya bertekad di tengah malam itu.

Ditemani suara kentongan dari jejauhan ia dan Nenek Darmi duduk di beranda tamu rumah Nenek Darmi yang tidak bisa dibilang modern karena banyak barang disimpan begitu saja hingga terkesan berantakan. Semerbak aroma wewangian yang berasal dari kepulan asap apel jin yang dibakar Nenek Darmi di pedupaan dan ditemani semangkuk bunga setaman serta segelas air putih memberikan nuansa tersendiri baginya. Ada sedikit ketakutan menjalari jiwanya yang muda belia. Ada keraguan mungkinkah dengan cara ini semua masalah yang dihadapinya bisa selesai dengan baik bagi semua pihak atau justeru malah memperburuk keadaan yang telah buruk sejak ia memutuskan untuk menikahi laki-laki itu. Ya keputusan yang bagi keluarga besarnya adalah keputusan paling buruk yang pernah ia ambil. Keputusan yang mengubah jalan hidupnya tiga ratus enam puluh derajat. Keputusan yang kini diam-diam disesalinya. Selintas dalam hitungan menit pikirannya menerawang kembali ke masa itu masa dimana ia baru pertama kali mengenal laki-laki yang kini telah memberinya empat orang anak.

Hari itu lelaki yang biasa disapa Anong menyapanya. Ia seperti biasa hanya tersenyum dan berlalu. Ia memang tak pernah menghiraukan orang baru di perusahaannya. Ia seorang perempuan yang acuh dan amat menjaga jarak dengan siapapun terutama kaum adam. Karirnya yang lumayan bagus memang menjadi incaran semua pihak, termasuk para bujang yang ingin mendapat keuntungan semata darinya. Ia amat sadar dengan hal itu maka tak heran ia sangat berhati-hati dengan mereka. Biarlah dibilang jutek asal tidak ada yang berani mendekatinya sesaat, begitu pikirnya beberapa belas tahun lalu.

Pertemuannya dengan Anong di pagi itu tak sedikitpun memberi kesan mendalam. Ia tak pernah merasakan getaran yang dulu ia rasakan acap kali bertemu dengan Jonathan. Anong dan Jonathan memang sangat berbeda. Amat sangat berbeda, bagai musik dangdut dengan musik pop. Ah, mungkin terlalu berlebihan pengandaian ini tapi itulah mereka. Anong seorang lelaki asli Indonesia yang berpendidikan tinggi namun sederhana. Ia senang memakai kemeja rapi tiap kali keluar rumah untuk urusan kantor. Tapi, merasa amat nyaman dengan kaus oblong jika kebetulan sedang di rumah.     Sementara Jonathan tak pernah merasakan indahnya bangku kuliah. Ia lahir dan besar di luar pulau Jawa. Jiwanya yang keras karena terbentuk oleh kerasnya alam tempat ia dilahirkan ternyata begitu lembut dimatanya. Kesukaannya memetik gitar di kala senggang sambil menyanyikan lagu mellow membuatnya begitu merasa spesial dan diperhatikan. Berbeda dengan Anong. Anong memang suka musik tapi tak pandai memainkan satu pun alat musik. Ia tak pernah bisa mencuri sekeping hatinya sekalipun ia telah berupaya belajar menyanyikan lagu favoritnya: Ruang Rindu.

Tapi, itulah takdir. Kisah kasihnya dengan Jonathan berakhir tragis dengan kematian Jonathan di sebuah peristiwa berdarah di kampungnya beberapa tahun silam. Hatinya yang begitu muda semuda usianya tak pernah menyangka begitu cepatnya Tuhan mengambil orang yang terkasih. Airmatanya berlinang tak terasa. Untung Nenek Darmi tak memperhatikan wajahnya yang sendu. Nenek tua itu masih saja memejamkan mata sambil komat kamit entah sedang berkomunikasi dengan siapa. Ia tak peduli dan tak ingin mencoba mengetahui siapa yang telah dengan tega membiarkannya diam mematung disitu. Ia sungguh tak peduli.

Sambil menyusut sisa airmata ia masih bisa merasakan getaran halus di hatinya tiap kali ia teringat akan Jonathan. Jonathan, nama itu begitu lekat rupanya. Pikirannya kembali terbang tak terkendali. Ia memang sengaja ingin terbang bebas dan terjun tenggelam dalam lamunannya malam itu daripada menunggu mata Nenek Darmi terbuka dan melanjutkan ritual anehnya. Entah mengapa kali ini ia merasa amat menikmati keadaannya yang membisu dihadapan wanita tua itu.

Setelah kematian Jonathan, Anong berhasil memasuki sesi hidupnya perlahan namun pasti. Lelaki muda itu mencoba mengobati kegalauan, kesepian, dan kehilangannya. Bagai burung yang patah sayapnya, ia membiarkan lelaki itu mengobatinya. Hingga kemudian mereka sepakat untuk mengakhirinya dalam ikatan yang kekal; pernikahan.

Keputusan mereka untuk menikah tak hanya ditentang keluarga besarnya yang memang tak pernah menyetujui kehadiran Anong yang dianggap tak pantas untuknya. Mereka berpikir andai Jonathan tak mati tak mungkin Anong berhasil mendapatkan putri mereka. Mereka berupaya menentang keputusan itu dengan sekuat tenaga. Begitu pula keluarga Anong yang diam-diam telah menjodohkannya dengan seorang suster rumah sakit daerah tempat dimana dulu ibunya pernah dirawat karena tipes. Perseteruan dua keluarga itu tak pernah selesai walau mereka akhirnya berhasil bersatu dalam ikatan yang kudus. Ya, segala sesuatu yang telah dipersatukan dengan nama-Nya tak akan pernah ada yang bisa memutuskannya. Begitu setidaknya keyakinan kedua sejoli ini saat itu.

Keyakinan itu ternyata amat ampuh dipakai kala badai berkali-kali mencoba menghancurkan bahtera rumah tangga kecil mereka. Tapi kini entah kemana keyakinan itu menghilang saat hati kecilnya meradang melihat kelakuan suaminya mulai berubah? Kemana sikap manis yang biasa ditunjukkan Anong kepadanya? Apa yang terjadi dengan suaminya yang terkenal jujur dan setia itu? Mengapa tiap kali ia pulang dari rumah orang tuanya dengan serta merta semua hal ini terjadi? Apa yang dibicarakan orang tuanya kepadanya sehingga sikapnya berubah? Ah, tak habis pikir rasanya. Ia lelah. Teramat sangat lelah menghadapi sikap dingin suami dan mertuanya. Ingin rasanya mengakhiri semuanya di pengadilan agama agar bebas jiwanya terbang kembali menjelajah luasnya cakrawala langit biru sambil  mengejar kembali sebagian mimpinya yang belum selesai. Namun tiap kali memandang ke empat buah hatinya yang tak berdosa dengan serta merta diurungkannya niat itu. Ia amat mencintai mereka.

Pernah suatu ketika dimana kelelahan yang hebat melanda tubuh dan jiwanya, ia lari mengambil seutas tali dan mengikat lehernya yang jenjang itu sendiri. Ketakutannya pada kesendirian setelah matilah yang  membuatnya urung gantung diri. Sebuah dilemma.

Kini dalam rangka mencari semua jawaban itulah ia datang kerumah wanita tua yang baru saja dikenalnya lewat seorang kenalan. Kepadanya ia lancar bercerita tentang segalanya; kepedihannya akan sikap mertuanya yang acuh kepadanya, kekesalannya kepada perubahan sikap suaminya, kelelahan fisiknya karena harus banting tulang membantu menutupi kebutuhan keluarga, dan keinginannya untuk diperhatikan semua orang disekitarnya. Dengan segala kesabaran Nenek Darmi berkenan mendengar curahan hatinya sejak awal magrib tadi. Hingga kemudian ia menawarkan jasanya untuk memperbaiki kondisinya saat itu yang bagai layang-layang putus. Janji manis si Nenek yang katanya bisa membaca pikiran suami dan mertuanya itu disambutnya bagai oase di padang pasir bagi jiwanya yang haus perhatian.

Sehingga tanpa disadarinya disinilah ia kini dihadapan sebuah dupa yang sejak isya tadi mengepulkan asap tanpa henti. Jarum jam terus berlari, si Nenek tua terus pula mendaraskan mantera. Lolongan anjing pun kian terdengar di ujung perkampungan. Hatinya  mulai kecut. Kapan akan berakhir semua ini? Oh Tuhan lindungi aku, rintihnya dalam doa yang tanpa sadar memenuhi rongga dadanya.

Ditengah guyuran gerimis ia berlari dan terus berlari. Bayangan wajah si bungsu terus saja memenuhi rongga matanya seolah memanggilnya pulang dan memaksanya terus berlari menjauhi rumah Nenek Darmi. Ia semakin mempercepat larinya. Terseok-seok sampai jua ia dirumah. Dengan basah kuyup ia langsung berlari ke kamar anak-anaknya. Dipeluk cium nya keempat buah hatinya bergantian. Air mata deras mengalir di pipinya yang masih ranum. Ia sungguh takut kehilangan mereka.

 

HANTU MAS KEN

HANTU MAS KEN

Oleh: Neneng Hendriyani

 

Sejak pulang bermain seminggu yang lalu Mas Ken jadi pemurung. Entah apa sebabnya. Setiap kali ditanya ia hanya diam. Sorot matanya seperti orang ketakutan. Padahal ia main ke rumah tetangga depan rumah saja. Namanya Gilang.

Selintas nggak ada yang perlu dicemaskan dari Gilang. Anaknya rajin sholat, mengaji, dan baik. Mas Ken selalu berangkat ke masjid bersama dengannya. Pergi ke lapangan bola pun bersama-sama. Namun, sejak kemarin itu ia nggak mau keluar rumah lagi. Repotnya kemana pun mama melangkah Mas Ken pasti membuntuti di belakangnya.

Sekali dua kali mama merasa wajar. Mungkin Mas Ken sedang ingin main bersamanya. Namun lama kelamaan kok jadi terganggu ya dengan polahnya. Masa ke kamar mandi aja Mas Ken minta ikut. Kan nggak banget itu. Mas ken kan sudah besar sekarang. Sudah tujuh tahun usianya. Sudah nggak boleh mandi bareng mama. Apalagi tidur dikeloni mama.

Seperti sore ini mama marah banget. Mas Ken nggak mau mandi. Perkaranya sepele dia nggak mau ke kamar mandi sendiri. Terus dengan siapa dong masuknya. Aiih, masa aku yang disuruh nemenin. Nih anak minta dijitak kali ya.

Akhirnya kami semua sibuk membujuknya mandi. Papa bilang sebagai anak laki-laki Mas Ken harus berani. Masa sama air aja takut. Ledeknya. Mas Ken sewot dibilang takut air. Iya juga ya. Yang paling senang berenang kan dia. Kalau dia takut air kan nggak mungkin dia mau masuk ke kolam renang. Ah, Papa nih ada-ada aja. Lain lagi cara Abang Azmy membujuk Mas Ken mandi. Dikasihnya Mas Ken bola plastik. “Nih, main ini aja. Dijamin kamu senang deh di dalam”, katanya sambil menunjukkan sederet giginya yang hitam. Aku jadi terpingkal-pingkal melihatnya. Lucu juga kedua adikku ini. Gigi depan mereka hitam semua. Wkwkwkk.

Namun di luar dugaan Mas Ken menolak ide brilian tersebut. “Nggak. Pokoknya aku nggak mau mandi sendiri”. Teriaknya. Kali ini sambil menangis. Mama kalang kabut melihatnya. Darahnya langsung naik ke ubun-ubun. Wajahnya memerah seperti tomat yang mau dipetik di kebun. Kedua biji matanya keluar dari rongganya. Dengus napasnya mulai terdengar. Mas Ken mulai mundur teratur.

Ia duduk dengan kaki terbuka lebar di depan pintu kamar mandi. Sesekali dientak-entakkannya kedua kakinya itu. Ia tidak peduli dengan perubahan mama. Entah apa yang membuatnya seberani itu. Biasanya jangankan melihat kedua biji mata mama keluar dari rongganya, baru melihat perubahan kulitnya aja Mas Ken langsung lari masuk kamar mandi. Menyelamatkan diri dari amukan mama adalah ide yang paling bagus saat itu. Tapi, ini kali berbeda. Mas Ken mengacuhkan mama. Mama kian gusar dibuatnya.

Akhirnya papa mengalah demi dilihatnya Mas Ken bersikukuh dengan pilihannya. Papa langsung mengambil tangan kanan Mas Ken dan menuntunnya ke kamar mandi. Jadilah hari itu Mas Ken mandi dimandikan papa. Hahahahaha persis adik Panji yang selalu ikut mandi setiap kali papa masuk ke kamar mandi. Kalau adik Panji sih wajar mandi bareng papa. Dia baru dua tahun. Bilangnya aja air bukan mandi kalau mau mandi. Nah ini Mas Ken. Tingginya saja sudah hampir sepundak mama. Masa mandi bareng papa. Ah, nggak lucu.

Selepas mandi perkara di rumah belum juga beres. Mas Ken mogok dibaju. Masalahnya sepele. Ia enggan mengambil bajunya sendiri di lemari. Tahu kenapa? Itu karena ia harus naik tangga dulu baru ke kamarnya untuk mengambil bajunya. Mas Ken tambah ngeselin banget deh. Perubahannya lebih dari seratus delapan puluh derajat. Benar-benar mengundang sabar. Sepertinya sabar tingkat dewa pun sudah nggak cocok buat menghadapi sikapnya yang aneh akhir-akhir ini.

Dengan terpaksa aku naik ke kamarnya dan mengambil bajunya. Sepotong kaos Tayo berwarna merah dan celana jogger. Itu baju favoritnya. Saking favorit dia punya tiga stel baju yang sama dengan warna berbeda. Mungkin kalau serial Tayo diganti dengan serial lain, Mas Ken baru ikutan ganti kaos deh. Seperti sebelumnya. Ia gemar memakai kaos Thomas and friends saat serial kereta kecil itu tayang di televisi.

Setelah memakai baju dan celana, Mas Ken duduk di depan televisi bersama abangnya. Keduanya tertawa terbahak-bahak menyaksikan ulah konyol para pemain facebooker. Aku kadang heran apa sih lucunya sampai mereka terpingkal-pingkal begitu. Menurutku sih biasa-biasa aja deh. Jangan-jangan aku yang kurang peka kali ya saat menyaksikannya. Ah entahlah. Bomat.

Kulihat mama mulai menata makanan di meja. Ada ayam bakar, tempe goreng, sambel kacang panjang, sop iga dan juga nasi merah. Jangan tanya ya kenapa ada nasi merah. Aku kurang paham kenapa mama masak nasi merah. Menurut aku sih rasanya kurang enak. Aku lebih suka makan nasi putih dari beras baru yang disebut pare anyar. Beras ini dikirim dari kampung papaku di Cianjur selatan beberapa bulan yang lalu. Cuma ya sebagai anak yang baik aku harus menghormati pilihan mama. Kasihan kan mama sudah cape masak masa nggak dimakan. Nggak mensyukuri nikmat yang Allah berikan itu namanya. Juga nggak menghargai usaha dan jerih payah mama. Ia bisa sedih nanti kalau masakannya nggak dimakan. Untuk meringankan tugasnya aku ikut membantu mama membawakan piring dan gelas.

Setelah semuanya siap, mama memanggil semua anggota keluarga untuk berkumpul bersama di meja makan. Kami semua makan dengan lahapnya. Tidak terkecuali Mas Ken. Dia sampai nambah dua kali loh. Selera makannya lagi bagus kata papa. Jadi semua nggak boleh menggodanya.

Setelah semuanya selesai bersantap, aku merapikan semuanya ke dapur. Spontan aku memanggil Mas Ken untuk membantuku. “Mas, tolong bawain piring kotornya ya ke sini. Biar bisa dicuci sekalian nih”. Kataku. Eeeh dia nggak mau ternyata. Jangankan mengantarkan piring kotor, bangun dari kursinya aja dia nggak mau. Mager kalau kata anak milenial mah. Dengan sedikit kesal aku mengangkat semuanya. Sial. Kataku. Awas kau ya nanti. Ancamku dalam hati.

Azan magrib mulai terdengar di televisi. Papa dan Abang Azmy segera ke masjid. Mama dan aku bergegas mengambil wudu. Si kecil Panji mengekor dari belakang. Tak ketinggalan Mas Ken membuntutinya dengan cepat. Sesekali ia menatap ke kiri dan kanan. Seolah sedang melihat sesuatu. Raut wajahnya menampakkan kecemasan. Entah dia lihat apa.

Saat shalat magrib berjamaah pun Mas Ken menolak jauh-jauh dariku. Loh, kita kan beda jenis kelamin. Seharusnya dia shalat itu posisinya di depanku. Nggak boleh sejajar gitu. Mama sampai geleng-geleng kepala berkali-kali. Mau marah takut keterusan. Jadi mama pilih diam dan lanjut memimpin shalat kami.

Seusai Shalat mama mengajak kami tadarus Al Quran. Itu berarti kami harus duduk di hadapan mama. Ini untuk memudahkan mama mengajari kami secara bergantian. Aku segera ambil posisi nyaman. Begitu pun mama. Tinggallah Mas Ken yang duduk merapat ke dekatku. Saking rapatnya jadi nempel mirip prangko. Spontan aku marah. Aku kan nggak suka ditempel-tempel gitu. Ih. Ini anak makin ngeselin aja.

Mama pun terlihat semakin kesal dengan ulah Mas Ken yang menjadi-jadi. Coba aja bayangkan, sekarang ia tidur di kamarku. Ow, tidak. Aku kan sudah besar. Agak risi juga kalau pakai baju tidur mini di depannya. Oh, Mas Ken ada-ada aja sih kamu.

Akhirnya, malam ini mama dan papa sepakat memanggil ustaz dari Ar Rahman. Mas Ken harus dirukyah. Ga bisa ditunda lagi. Kelakuannya semakin buruk. Kalau dibiarkan ia sendiri yang rugi. Ia sudah nggak belajar malam lagi. Padahal biasanya ia selalu belajar membaca dan menulis setiap malam menjelang tidur. Ia pun sudah nggak mau ke masjid.

Tepat sebelum Isya Ustaz Anto datang ke rumah. Dipanggilnya Mas Ken duduk di depannya. Sebelum memulai merukyah, Ustaz bertanya apa Mas Ken pernah main jauh dari rumah. Ia menggeleng. Mas Ken juga ditanya apa yang membuatnya takut. Ia bilang hantu. “Hantu yang seperti apa yang membuat Mas takut?”, tanya Ustaz Anto. “Itu yang ada di You Tube”, jawabnya. Hah, jadi ia takut lantaran pernah nonton di You Tube. Ih ngeselin banget deh. Kapan ia nonton ya, terus sama siapa nontonnya. Wong Hp aja ia nggak punya. Mama dan Papa nggak kasih ia Hp  karena masih kecil. Jangankan nonton You Tube, donlot game di Hp Papa aja Papa marah-marah. Ngabisin kuota katanya pas aku tanya alasannya. Nah ini kok Mas Ken bisa nonton You Tube. Kan aneh.

Di bawah tatapan lembut Ustaz Anto Mas Ken bercerita Panjang lebar. Ia nonton You Tube dengan Gilang di rumahnya. Suster Ngesot yang ditontonnya waktu itu. Itulah sebabnya ia takut setengah mati bila sendirian di suatu ruangan. Mama, Papa, aku, Abang Azmy saling pandang mendengarnya. “Oh, jadi Suster Ngesot ya Mas?”, tanya Mama. “Yang begini ini bukan”, katanya lagi sambil mempraktikkannya. Spontan Mas Ken lari nubruk Ustaz. Kami sekeluarga tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya. “Mas, mas. Itu kan mama. Bukan Suster Ngesot. Ini rumah kita. Bukan rumah sakit”. Kata Papa sambil menutup mulutnya saking malunya kepada Ustaz Anto. Mas Ken senyum kecut mendengar penjelasan Papa. Akhirnya sebelum pulang Ustaz Anto merukyahnya.

Malam ini Mas Ken kembali tidur di kamarnya. Ia sudah paham kalau Suster Ngesot itu cuma ada di cerita khayalan. Ia adanya di rumah sakit yang nggak dirawat. Kalau rumah sakit yang bersih nggak mungkin ada suster ngesotnya.


nb: cerita ini dibuat sebagai tugas pelatihan menulis cerita anak dengan pemateri Gol A Gong di SMA N 3 Cibinong dengan penyelenggara IGP PGRI Kab Bogor.

BUDAK HIDEUNG

BUDAK HIDEUNG
Oleh: Neneng Hendriyani

 

Setelah mengurus ijin ke beberapa pihak barulah aku berangkat. Kalau dipikir agak gimana gitu ya, cuma mau kumpul bersama keluarga besar saja harus ijin kemana-mana. Yah daripada jadi masalah, apa boleh buat. Hari pertama ku ijin ke wakakur. Kalau untuk yang satu ini hitungannya wajib lapor dan wajib ijin. Bukan apa-apa doi lah yang mengatur jadwal pendalaman materi UN yang sekarang mulai digeber. Sebenarnya nggak ijin dan lapor pun nggak masalah sebab penanggung jawab kegiatan ini sudah mengijinkan. Tapi sebagai orang timur, menghargai orang lain terkait jabatan dan wewenangnya sepertinya menjadi keharusan yang tak terbantahkan. Setelah itu ku ijin ke ketua pelaksana. Setelah oke, baru lah ke staf wmm. Kenapa harus ke staf, kenapa nggak langsung ke wmm ya. Nah untuk yang satu ini aku tak mau panjang l bar membahasnya. Biarlah begini adanya. Singkat cerita, Sabtu ini Yang seharusnya aku mengajar di hari yang notabene semua guru libur, aku bisa keluar kota.

—

“Teteh. Teteh datang, mah”, teriaknya seperti biasa setiap kali aku tiba di halaman rumah. Gadis kecil yang sedang asyik bermain bersama teman-temannya itu lantas mencium tanganku. Rambutnya kucai, pirang dan tipis sekali. Dari jarak yang lumayan dekat aroma ompol sangat tercium dan membuatku harus maklum. Matanya yang bulat berbinar-binar saat menerima buah tangan yang sengaja ku bawa dari Bogor.

“Mama, Dede dapat ini”, serunya sambil berlari meninggalkanku. Ku lihat di tengah pintu seorang perempuan tua memandangku. Sejak ku tiba di pengkolan, ia telah berdiri di sana. Ujung tangannya sudah sibuk menyusut aliran hangat di kedua pipinya yang sudah tak montok lagi. Sesungging senyum menghias wajahnya yang teduh.

—

“Budak hideung, budak hideung”, serunya tiap kali ia menggendongku. Entah mengapa ia suka sekali dengan kata-kata itu padahal aku tak hitam. Dilemparkannya aku ke udara berkali-kali lalu ditangkapnya sambil berseru gembira, “Budak hideung, budak hideung tereh sakola di Bandung. Tereh gede, tereh pinter”.

—

Aku hanya bisa menghela napas panjang kali ini. Sudah 17 tahun ia pergi. Namun rasanya seperti baru kemarin siang saat aku masih kuliah dan mama memintaku pulang segera. Dengan air mata sepanjang jalan, mama cerita tentangnya. Tentang bagaimana ia menghabiskan waktu bersamanya sejak usia dua tahun. Ah, perempuan. Selalu ada air mata di sudut matanya tiap kali ia bercerita. Tiap kali ia bahagia. Tiap kali ia rindu.

Kini aku sadar ia tak ada di tengah pintu menyeka air matanya tiap kali menyambut kunjunganku. Tapi sore ini, entah bagaimana aku melihatnya. Wangi melati mengelilingiku seketika. Aku menghirupnya dalam-dalam. Menyimpannya di relung hatiku. Berharap tak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa menyambutnya dalam dekapan hangat bulu-bulu hidungku.

Ah, perempuan tua itu berdiri di tengah pintu. Masih sama seperti terakhir bertemu. Dengan lirih aku berbisik, “Budak hideung, budak hideung. Mbah, ieu budak hideung tos di dieu”.

“Teteh, hayu masuk. Mangga calik,”. Anaknya membuyarkan lamunanku. Ku toleh ia. Begitu cantik ia kini. Rambutnya panjang dan hitam. Ini kali kesempatan terakhir aku melihatnya dengan bebas. Mulai besok ia akan pindah ke rumah suaminya.


(Karadenan, 12 November 2018)

Lagi, Bukan Aku

LAGI, BUKAN AKU

Neneng Hendriyani

 

Lagi, bukan aku yang meminta

Bukan pula waktu yang sembuhkan luka

Walau trilunan detik tlah terlampaui

Jutaan jarak tlah terhindari

Semua tetap sia-sia

Aku masih di sini

Memandangmu dari jauh

Memelukmu dari gelap

Mencumbumu lewat kelam

 

Lagi, bukan cinta yang mengaburkan semua

Nestapa jadi bahagia

Pilu terobati sendiri

Berganti canda tawa

Sebab, cinta selalu hilang entah kemana

Saat akal lari menerjang jiwa

 

(Karadenan, 10/01/2017)

 

*Ditulis ulang dari Buku Setangkup Rindu Dari Masa Lalu, Neneng Hendr

Untuk Kekasihku

UNTUK KEKASIHKU

Neneng Hendriyani

 

Bila esok tak lagi kau dapati aku di sini

Usah sedih usah kau tangisi

Tubuhku akan mati

Hancur lebur di makan api

Api angkara, api cinta yang membara

 

Bila esok kau temui seroja telah layu

Usah kau pilu

Hatiku tak akan berubah padamu

meski di makan waktu

 

Bila esok tak lagi kau dengar kidungku

Kidung indah gubahan para Mpu

Dari masa singhasari

hingga akhir Brawijaya berdiri

Usah lagi kau cari ke seluruh negeri

Karena aku akan tetap bernyanyi

Menghampiri lewat rinai hujan senja hari

 

Bila esok tak lagi kau lihat melati bermekaran

Usah kau bimbang

Bungaku tetap lah mekar menawan

Di jantung hatimu yang terdalam

Berpendar bersama kunang-kunang

Tebarkan harum ke seluruh alam

 

Bila esok kau lihat bayangku

Berdiri memunggungimu

Usah kau ragu

Usah kau pilu

Usah pula kau lari menjauhiku

Karena aku bukan hantu

 

Ambillah cerminmu

Tataplah matamu

Jauh di dasarnya, kau ‘kan temukan aku

Rahasia hatimu

Rahasia cintamu

Setangkup rindu dari masa lalu!

 

(Karadenan, 11/11/2017)

Puisi untuk Dyah Pitaloka

AIR MATA DYAH PITALOKA
Oleh Neneng Hendriyani

Kala surya belumlah tinggi
Sesuatu yang dahsyat terjadi
Perang tanding satu lawan satu tak terhindari

Semua menerjang
Berkelebat, saling ayunkan tombak dan pedang

Tak terhitung banyaknya luka yang menganga
Pun tetesan darah yang membasahi tanah celaka
Saat tombak berjatuhan dan jiwa suci berguguran
Semua berpulang dengan seulas senyuman

Tunai sudah janji bakti
Tunah sudah sumpah suci
Bela pati demi nagari
Demi harga diri

Di sana, di dalam tenda
Gadis manis itu masih berdandan jua
Dibalut tubuhnya dengan jarik berprada
Warna emas menyala
Kebaya putih dikenakannya
Diletakkannya sigarnya di atas sanggul indahnya
Tanda ia seorang puteri raja

Naas, ia tak tahu apa-apa
Selain datang tuk berjumpa
Seorang ksatria gagah perkasa
Bersanding selamanya di atas singgasana
Merangkai mimpi indah bersama
Ah, kisah klasik anak manusia
Terpanah asmara

Jauh di hatinya tersimpan lukisan
Wajah sang Arjuna
Seorang Maharaja yang telah berjanji
Menjemputnya bila ia tiba
Tuk membawanya ke altar suci
Mengikat janji nan abadi

Sayang, yang dinanti belumlah datang
Seorang utusan justeru tiba mengajak perang
Puteri cantik jadi perdebatan
Hendak diserahkan sebagai upeti tanah jajahan

Sontak semua menolak
Pun Ayahanda sang Puteri berontak:
Puteriku bukan barang dagangan
Puteriku tanda kehormatan
Lebih baik kami berkalang tanah
Puteriku tak akan pernah kuserahkan

Tekad api itu bergelora
Membakar jiwa yang ada
Meluluhlantakkan semua
Hingga tiada bersisa
Utusanpun ikut terluka

Kala ia keluar tenda
Semua telah rebah bersimbah darah
Jerit tangis pun mengudara
Memanggil nama ayahanda raja
Tak perlu menunggu lama
Dicabutnya senjata
Sebuah kujang yang ia simpan di sanggulnya
sejak ia pergi tinggalkan Patih Bhunisora
dihujamkannya ke dadanya
hingga darah memerahkan warna kebayanya
ia tak lagi ingat
rasa sakit pun tak lagi melekat
hanya satu yang ia harap
dapat berjumpa dengan kekasih jiwa
sebelum menutup mata
bertanya tentang hatinya
sungguhkah ia cinta
atau cuma taktik belaka

kala maut tinggal sejengkal
lelaki itu datang
memeluk erat
membawanya ke dada
dodotnya basah
wijaya kusumanya layu
lirih masih ia dengar
bisik hatinya yang begitu pilu
betapa ia jatuh cinta
sungguh bukan taktik belaka
ia pun tak tahu apa-apa

kini, tak ada lagi ragu di kalbu
percaya cintanya abadi dan satu
lewati masa demi masa
tak kan pernah mati
meski ia tiada

senyum manis terkembang,
dalam pelukan ia berpulang
tinggalkan kekasih yang patah hati
menanti hingga jutaan tahun berganti
di Bubat, ia temukan cintanya yang sejati

(Karadenan, 02/11/2017)

TEARS OF DYAH PITALOKA
by Neneng Hendriyani

When the sun had not yet risen high,
Something momentous occurred,
A one-on-one battle, unavoidable, unfolded.

All charged forward,
Flashing, wielding spears and swords against each other.

Countless wounds gaped wide,
Blood dripped, soaking the wretched earth.
As spears fell and pure souls perished,
All returned home with a faint smile.

The oath of devotion was fulfilled,
The sacred vow was honored,
Defending to the death for the homeland,
For the sake of honor.

There, inside the tent,
The beautiful maiden was still adorning herself,
Her body draped in a golden-patterned jarik,
Its golden hue ablaze.
She wore a white kebaya,
Placing her sigar on her elegant hairbun,
A sign she was a king’s daughter.

Alas, she knew nothing,
Only that she came to meet A valiant knight,
To sit beside him forever on the throne,
Weaving beautiful dreams together.
Ah, a classic tale of humanity,
Pierced by love’s arrow.

Deep in her heart, she held a portrait,
The face of her Arjuna,
A Maharaja who had promised to fetch her upon her arrival,
To bring her to a sacred altar,
To bind an eternal vow.

But alas, the one she awaited had not come.
Instead, an envoy arrived, inviting war.
The beautiful princess became a point of contention,
To be handed over as tribute for a conquered land.

Instantly, all refused.
Her father, the king, rebelled:
“My daughter is not merchandise,
My daughter is a symbol of honor.
We’d rather be buried in the earth,
I will never surrender my daughter.”

The fiery resolve blazed,
Igniting every soul present,
Razing everything to the ground,
Leaving nothing behind.
Even the envoy was wounded.

When she stepped out of the tent,
All lay fallen, drenched in blood.
Cries and wails filled the air,
Calling the name of her royal father.
Without delay, She drew her weapon,
A kujang hidden in her hairbun
Since she left Patih Bhunisora.
She plunged it into her chest,
Blood reddening her kebaya’s hue.
She no longer remembered,
Pain no longer clung to her.
Her only hope was to meet her beloved,
Before closing her eyes,
To ask about his heart— Was his love true, or merely a tactic?

When death was but a breath away,
The man arrived,
Embracing her tightly,
Holding her to his chest.
His dodot soaked,
His wijaya kusuma wilted.
Faintly, she still heard
The anguished whisper of his heart,
How deeply he loved her,
Truly, not a mere tactic.
He, too, knew nothing.

Now, no doubt lingered in her heart,
She believed his love was eternal and true.
Through the ages,
It would never die,
Even if she was gone.

A sweet smile bloomed,
In his embrace, she departed,
Leaving a heartbroken lover,
Waiting through millions of years,
In Bubat, he found his true love.

(Karadenan, November 2, 2017)

#bubat #majapahit #galuhpakuan #sunda #jawa #puisi #dyahpitaloka #hayamwuruk #bunisora #mahapatih #gajahmada #nenenghendriyani