BUDAK HIDEUNG
Oleh: Neneng Hendriyani
Setelah mengurus ijin ke beberapa pihak barulah aku berangkat. Kalau dipikir agak gimana gitu ya, cuma mau kumpul bersama keluarga besar saja harus ijin kemana-mana. Yah daripada jadi masalah, apa boleh buat. Hari pertama ku ijin ke wakakur. Kalau untuk yang satu ini hitungannya wajib lapor dan wajib ijin. Bukan apa-apa doi lah yang mengatur jadwal pendalaman materi UN yang sekarang mulai digeber. Sebenarnya nggak ijin dan lapor pun nggak masalah sebab penanggung jawab kegiatan ini sudah mengijinkan. Tapi sebagai orang timur, menghargai orang lain terkait jabatan dan wewenangnya sepertinya menjadi keharusan yang tak terbantahkan. Setelah itu ku ijin ke ketua pelaksana. Setelah oke, baru lah ke staf wmm. Kenapa harus ke staf, kenapa nggak langsung ke wmm ya. Nah untuk yang satu ini aku tak mau panjang l bar membahasnya. Biarlah begini adanya. Singkat cerita, Sabtu ini Yang seharusnya aku mengajar di hari yang notabene semua guru libur, aku bisa keluar kota.
—
“Teteh. Teteh datang, mah”, teriaknya seperti biasa setiap kali aku tiba di halaman rumah. Gadis kecil yang sedang asyik bermain bersama teman-temannya itu lantas mencium tanganku. Rambutnya kucai, pirang dan tipis sekali. Dari jarak yang lumayan dekat aroma ompol sangat tercium dan membuatku harus maklum. Matanya yang bulat berbinar-binar saat menerima buah tangan yang sengaja ku bawa dari Bogor.
“Mama, Dede dapat ini”, serunya sambil berlari meninggalkanku. Ku lihat di tengah pintu seorang perempuan tua memandangku. Sejak ku tiba di pengkolan, ia telah berdiri di sana. Ujung tangannya sudah sibuk menyusut aliran hangat di kedua pipinya yang sudah tak montok lagi. Sesungging senyum menghias wajahnya yang teduh.
—
“Budak hideung, budak hideung”, serunya tiap kali ia menggendongku. Entah mengapa ia suka sekali dengan kata-kata itu padahal aku tak hitam. Dilemparkannya aku ke udara berkali-kali lalu ditangkapnya sambil berseru gembira, “Budak hideung, budak hideung tereh sakola di Bandung. Tereh gede, tereh pinter”.
—
Aku hanya bisa menghela napas panjang kali ini. Sudah 17 tahun ia pergi. Namun rasanya seperti baru kemarin siang saat aku masih kuliah dan mama memintaku pulang segera. Dengan air mata sepanjang jalan, mama cerita tentangnya. Tentang bagaimana ia menghabiskan waktu bersamanya sejak usia dua tahun. Ah, perempuan. Selalu ada air mata di sudut matanya tiap kali ia bercerita. Tiap kali ia bahagia. Tiap kali ia rindu.
Kini aku sadar ia tak ada di tengah pintu menyeka air matanya tiap kali menyambut kunjunganku. Tapi sore ini, entah bagaimana aku melihatnya. Wangi melati mengelilingiku seketika. Aku menghirupnya dalam-dalam. Menyimpannya di relung hatiku. Berharap tak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa menyambutnya dalam dekapan hangat bulu-bulu hidungku.
Ah, perempuan tua itu berdiri di tengah pintu. Masih sama seperti terakhir bertemu. Dengan lirih aku berbisik, “Budak hideung, budak hideung. Mbah, ieu budak hideung tos di dieu”.
“Teteh, hayu masuk. Mangga calik,”. Anaknya membuyarkan lamunanku. Ku toleh ia. Begitu cantik ia kini. Rambutnya panjang dan hitam. Ini kali kesempatan terakhir aku melihatnya dengan bebas. Mulai besok ia akan pindah ke rumah suaminya.
(Karadenan, 12 November 2018)