HANTU MAS KEN
Oleh: Neneng Hendriyani
Sejak pulang bermain seminggu yang lalu Mas Ken jadi pemurung. Entah apa sebabnya. Setiap kali ditanya ia hanya diam. Sorot matanya seperti orang ketakutan. Padahal ia main ke rumah tetangga depan rumah saja. Namanya Gilang.
Selintas nggak ada yang perlu dicemaskan dari Gilang. Anaknya rajin sholat, mengaji, dan baik. Mas Ken selalu berangkat ke masjid bersama dengannya. Pergi ke lapangan bola pun bersama-sama. Namun, sejak kemarin itu ia nggak mau keluar rumah lagi. Repotnya kemana pun mama melangkah Mas Ken pasti membuntuti di belakangnya.
Sekali dua kali mama merasa wajar. Mungkin Mas Ken sedang ingin main bersamanya. Namun lama kelamaan kok jadi terganggu ya dengan polahnya. Masa ke kamar mandi aja Mas Ken minta ikut. Kan nggak banget itu. Mas ken kan sudah besar sekarang. Sudah tujuh tahun usianya. Sudah nggak boleh mandi bareng mama. Apalagi tidur dikeloni mama.
Seperti sore ini mama marah banget. Mas Ken nggak mau mandi. Perkaranya sepele dia nggak mau ke kamar mandi sendiri. Terus dengan siapa dong masuknya. Aiih, masa aku yang disuruh nemenin. Nih anak minta dijitak kali ya.
Akhirnya kami semua sibuk membujuknya mandi. Papa bilang sebagai anak laki-laki Mas Ken harus berani. Masa sama air aja takut. Ledeknya. Mas Ken sewot dibilang takut air. Iya juga ya. Yang paling senang berenang kan dia. Kalau dia takut air kan nggak mungkin dia mau masuk ke kolam renang. Ah, Papa nih ada-ada aja. Lain lagi cara Abang Azmy membujuk Mas Ken mandi. Dikasihnya Mas Ken bola plastik. “Nih, main ini aja. Dijamin kamu senang deh di dalam”, katanya sambil menunjukkan sederet giginya yang hitam. Aku jadi terpingkal-pingkal melihatnya. Lucu juga kedua adikku ini. Gigi depan mereka hitam semua. Wkwkwkk.
Namun di luar dugaan Mas Ken menolak ide brilian tersebut. “Nggak. Pokoknya aku nggak mau mandi sendiri”. Teriaknya. Kali ini sambil menangis. Mama kalang kabut melihatnya. Darahnya langsung naik ke ubun-ubun. Wajahnya memerah seperti tomat yang mau dipetik di kebun. Kedua biji matanya keluar dari rongganya. Dengus napasnya mulai terdengar. Mas Ken mulai mundur teratur.
Ia duduk dengan kaki terbuka lebar di depan pintu kamar mandi. Sesekali dientak-entakkannya kedua kakinya itu. Ia tidak peduli dengan perubahan mama. Entah apa yang membuatnya seberani itu. Biasanya jangankan melihat kedua biji mata mama keluar dari rongganya, baru melihat perubahan kulitnya aja Mas Ken langsung lari masuk kamar mandi. Menyelamatkan diri dari amukan mama adalah ide yang paling bagus saat itu. Tapi, ini kali berbeda. Mas Ken mengacuhkan mama. Mama kian gusar dibuatnya.
Akhirnya papa mengalah demi dilihatnya Mas Ken bersikukuh dengan pilihannya. Papa langsung mengambil tangan kanan Mas Ken dan menuntunnya ke kamar mandi. Jadilah hari itu Mas Ken mandi dimandikan papa. Hahahahaha persis adik Panji yang selalu ikut mandi setiap kali papa masuk ke kamar mandi. Kalau adik Panji sih wajar mandi bareng papa. Dia baru dua tahun. Bilangnya aja air bukan mandi kalau mau mandi. Nah ini Mas Ken. Tingginya saja sudah hampir sepundak mama. Masa mandi bareng papa. Ah, nggak lucu.
Selepas mandi perkara di rumah belum juga beres. Mas Ken mogok dibaju. Masalahnya sepele. Ia enggan mengambil bajunya sendiri di lemari. Tahu kenapa? Itu karena ia harus naik tangga dulu baru ke kamarnya untuk mengambil bajunya. Mas Ken tambah ngeselin banget deh. Perubahannya lebih dari seratus delapan puluh derajat. Benar-benar mengundang sabar. Sepertinya sabar tingkat dewa pun sudah nggak cocok buat menghadapi sikapnya yang aneh akhir-akhir ini.
Dengan terpaksa aku naik ke kamarnya dan mengambil bajunya. Sepotong kaos Tayo berwarna merah dan celana jogger. Itu baju favoritnya. Saking favorit dia punya tiga stel baju yang sama dengan warna berbeda. Mungkin kalau serial Tayo diganti dengan serial lain, Mas Ken baru ikutan ganti kaos deh. Seperti sebelumnya. Ia gemar memakai kaos Thomas and friends saat serial kereta kecil itu tayang di televisi.
Setelah memakai baju dan celana, Mas Ken duduk di depan televisi bersama abangnya. Keduanya tertawa terbahak-bahak menyaksikan ulah konyol para pemain facebooker. Aku kadang heran apa sih lucunya sampai mereka terpingkal-pingkal begitu. Menurutku sih biasa-biasa aja deh. Jangan-jangan aku yang kurang peka kali ya saat menyaksikannya. Ah entahlah. Bomat.
Kulihat mama mulai menata makanan di meja. Ada ayam bakar, tempe goreng, sambel kacang panjang, sop iga dan juga nasi merah. Jangan tanya ya kenapa ada nasi merah. Aku kurang paham kenapa mama masak nasi merah. Menurut aku sih rasanya kurang enak. Aku lebih suka makan nasi putih dari beras baru yang disebut pare anyar. Beras ini dikirim dari kampung papaku di Cianjur selatan beberapa bulan yang lalu. Cuma ya sebagai anak yang baik aku harus menghormati pilihan mama. Kasihan kan mama sudah cape masak masa nggak dimakan. Nggak mensyukuri nikmat yang Allah berikan itu namanya. Juga nggak menghargai usaha dan jerih payah mama. Ia bisa sedih nanti kalau masakannya nggak dimakan. Untuk meringankan tugasnya aku ikut membantu mama membawakan piring dan gelas.
Setelah semuanya siap, mama memanggil semua anggota keluarga untuk berkumpul bersama di meja makan. Kami semua makan dengan lahapnya. Tidak terkecuali Mas Ken. Dia sampai nambah dua kali loh. Selera makannya lagi bagus kata papa. Jadi semua nggak boleh menggodanya.
Setelah semuanya selesai bersantap, aku merapikan semuanya ke dapur. Spontan aku memanggil Mas Ken untuk membantuku. “Mas, tolong bawain piring kotornya ya ke sini. Biar bisa dicuci sekalian nih”. Kataku. Eeeh dia nggak mau ternyata. Jangankan mengantarkan piring kotor, bangun dari kursinya aja dia nggak mau. Mager kalau kata anak milenial mah. Dengan sedikit kesal aku mengangkat semuanya. Sial. Kataku. Awas kau ya nanti. Ancamku dalam hati.
Azan magrib mulai terdengar di televisi. Papa dan Abang Azmy segera ke masjid. Mama dan aku bergegas mengambil wudu. Si kecil Panji mengekor dari belakang. Tak ketinggalan Mas Ken membuntutinya dengan cepat. Sesekali ia menatap ke kiri dan kanan. Seolah sedang melihat sesuatu. Raut wajahnya menampakkan kecemasan. Entah dia lihat apa.
Saat shalat magrib berjamaah pun Mas Ken menolak jauh-jauh dariku. Loh, kita kan beda jenis kelamin. Seharusnya dia shalat itu posisinya di depanku. Nggak boleh sejajar gitu. Mama sampai geleng-geleng kepala berkali-kali. Mau marah takut keterusan. Jadi mama pilih diam dan lanjut memimpin shalat kami.
Seusai Shalat mama mengajak kami tadarus Al Quran. Itu berarti kami harus duduk di hadapan mama. Ini untuk memudahkan mama mengajari kami secara bergantian. Aku segera ambil posisi nyaman. Begitu pun mama. Tinggallah Mas Ken yang duduk merapat ke dekatku. Saking rapatnya jadi nempel mirip prangko. Spontan aku marah. Aku kan nggak suka ditempel-tempel gitu. Ih. Ini anak makin ngeselin aja.
Mama pun terlihat semakin kesal dengan ulah Mas Ken yang menjadi-jadi. Coba aja bayangkan, sekarang ia tidur di kamarku. Ow, tidak. Aku kan sudah besar. Agak risi juga kalau pakai baju tidur mini di depannya. Oh, Mas Ken ada-ada aja sih kamu.
Akhirnya, malam ini mama dan papa sepakat memanggil ustaz dari Ar Rahman. Mas Ken harus dirukyah. Ga bisa ditunda lagi. Kelakuannya semakin buruk. Kalau dibiarkan ia sendiri yang rugi. Ia sudah nggak belajar malam lagi. Padahal biasanya ia selalu belajar membaca dan menulis setiap malam menjelang tidur. Ia pun sudah nggak mau ke masjid.
Tepat sebelum Isya Ustaz Anto datang ke rumah. Dipanggilnya Mas Ken duduk di depannya. Sebelum memulai merukyah, Ustaz bertanya apa Mas Ken pernah main jauh dari rumah. Ia menggeleng. Mas Ken juga ditanya apa yang membuatnya takut. Ia bilang hantu. “Hantu yang seperti apa yang membuat Mas takut?”, tanya Ustaz Anto. “Itu yang ada di You Tube”, jawabnya. Hah, jadi ia takut lantaran pernah nonton di You Tube. Ih ngeselin banget deh. Kapan ia nonton ya, terus sama siapa nontonnya. Wong Hp aja ia nggak punya. Mama dan Papa nggak kasih ia Hp karena masih kecil. Jangankan nonton You Tube, donlot game di Hp Papa aja Papa marah-marah. Ngabisin kuota katanya pas aku tanya alasannya. Nah ini kok Mas Ken bisa nonton You Tube. Kan aneh.
Di bawah tatapan lembut Ustaz Anto Mas Ken bercerita Panjang lebar. Ia nonton You Tube dengan Gilang di rumahnya. Suster Ngesot yang ditontonnya waktu itu. Itulah sebabnya ia takut setengah mati bila sendirian di suatu ruangan. Mama, Papa, aku, Abang Azmy saling pandang mendengarnya. “Oh, jadi Suster Ngesot ya Mas?”, tanya Mama. “Yang begini ini bukan”, katanya lagi sambil mempraktikkannya. Spontan Mas Ken lari nubruk Ustaz. Kami sekeluarga tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya. “Mas, mas. Itu kan mama. Bukan Suster Ngesot. Ini rumah kita. Bukan rumah sakit”. Kata Papa sambil menutup mulutnya saking malunya kepada Ustaz Anto. Mas Ken senyum kecut mendengar penjelasan Papa. Akhirnya sebelum pulang Ustaz Anto merukyahnya.
Malam ini Mas Ken kembali tidur di kamarnya. Ia sudah paham kalau Suster Ngesot itu cuma ada di cerita khayalan. Ia adanya di rumah sakit yang nggak dirawat. Kalau rumah sakit yang bersih nggak mungkin ada suster ngesotnya.
nb: cerita ini dibuat sebagai tugas pelatihan menulis cerita anak dengan pemateri Gol A Gong di SMA N 3 Cibinong dengan penyelenggara IGP PGRI Kab Bogor.