Penulis: Neneng Hendriyani
ISBN 978-602-50509-4-7
Editor: Khoen Eka Anthy
Penata Letak: @timsenyum
Desain Sampul: @kholidsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2017 viii, 64 hlm, 14,8 x 21 cm Cetakan Pertama, Agustus 2017
Diterbitkan oleh CV.Cipta Media Edukasi Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya Website: www.mediaguru.id
Dicetak dan Didistribusikan oleh Pustaka Media Guru
Harga Jual: Rp. 50.000,00
Sejak diluncurkannya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor: Per/16/M PAN-RB/11/2009 Tanggal 10 November 2009 lalu di Jakarta mengenai Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, banyak guru yang harus membuat Penelitian Tindakan Kelas. Kegiatan karya tulis ilmiah/publikasi ilmiah ini menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar oleh guru yang hendak naik pangkat dan golongan. Jika ia tidak bisa melaksanakan kegiatan tersebut sudah dapat dipastikan karier kepegawaiannya tidak akan naik. Jabatan dan golongan kepangkatannya juga akan tetap. Tidak ada perubahan meskipun yang bersangkutan sudah menjadi aparatur sipil negara berpuluh-puluh tahun lamanya. Begitu pula sebaliknya. Bagi guru yang dapat melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas ia dapat mengajukan kenaikan pangkat dan golongannya dengan mudah. Ia dapat mengembangkan profesinya ke tingkat yang lebih tinggi.
Namun demikian, kenyataan di lapangan seringkali berbeda dengan harapan para pembuat kebijakan. Banyak sekali guru yang tidak dapat memenuhi kebijakan dan aturan yang telah dibuat pemerintah. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal yang berasal dari dalam diri dan dari luar guru itu sendiri. Hal yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas di antaranya adalah kurangnya pemahaman guru akan pentingnya pelaksanaan penelitian kelas. Ditambah lagi dengan kurangnya pengetahuan, wawasan, dan ilmu pengetahuan mengenai prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Rasa percaya diri guru yang rendah ikut pula menyumbangkan ketidakmampuannya dalam melaksanakan kegiatan ini. Hambatan yang berasal dari luar guru di antaranya adalah kurangnya buku yang dapat dijadikan pedoman guru dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Kalaupun ada, umumnya kurang praktis sehingga guru bingung dalam penerapannya. Hambatan lain adalah rendahnya dukungan sekolah terhadap guru yang hendak melaksanakan kegiatan ini. Seperti dipersulitnya pemberian izin penelitian oleh pihak sekolah, tiadanya rekan guru yang bersedia menjadi kolaborator penelitian, serta kurangnya support dari MGMP mata pelajaran dalam memberikan akses kepada guru peneliti untuk menyeminarkan hasil penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas itu sendiri selain harus dilaksanakan oleh guru untuk memenuhi pengembangan keprofesian berkelanjutannya juga untuk memperbaiki kualitas pengajaran mata pelajaran yang diampunya. Guru seringkali mengajarkan materi yang sama pada tingkat yang sama dengan cara yang sama sepanjang tahunnya. Tanpa disadarinya, ia memberikan materi kepada peserta didik dengan model pembelajaran yang sama untuk semua kelas yang diajarnya. Tak jarang ia menyamaratakan kemampuan seluruh kelas tersebut dengan mengabaikan keragaman kemampuan peserta didik dalam menyerap materi yang disampaikan. Dapat dibayangkan apa yang terjadi saat semua aktivitas pengajaran yang dilakukannya berlangsung sama sepanjang tahun. Semua kegiatan berlangsung sama sejak awal hingga akhir. Tak ada perubahan. Lama kelamaan guru yang bersangkutan dapat dilanda kebosanan. Hilanglah rasa kebahagiaannya dalam menjalankan profesi mulia sebagai guru. Prestasi belajar peserta didik yang beragam dianggapnya sebagai sebuah hal yang wajar. Ia tidak menganggap bahwa peserta didik yang kurang dalam mata pelajarannya sebagai tanda bahwa ada yang “kurang” dalam pengajarannya. Menurutnya, peserta didik yang tidak pandai itu muncul karena ia malas mendengarkan penjelasannya dan kurang aktif dalam belajar di kelas dan rumah. Guru tersebut tidak berpikir bahwa bisa jadi ia sendiri yang turut menyumbangkan keadaan demikian. Hal tersebut dapat diatasi bila guru berkeinginan kuat untuk membantu peserta didik yang kurang tadi. Misalnya, dengan mengubah cara mengajarnya. Jika dulu ia tak pernah membawa alat peraga kini ia membawa realia dan berbagai alat peraga yang menarik sehingga seluruh peserta didik tertarik belajar dengannya. Jika dulu ia hanya berceramah saja di depan kelas kini ia membawa laptop, infokus, dan sound system ke kelas. Dengan penuh percaya diri ia menampilkan video yang berhubungan erat dengan materi yang disampaikannya pada hari itu. Jika dulu ia hanya menekankan pada belajar mandiri mungkin kini ia mulai mengelompokkan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok kecil. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru untuk memperbaiki hasil belajar peserta didik jika ia berkeinginan kuat untuk melakukannya. Hal itu hanya dapat dilakukan dengan serangkaian kegiatan penelitian tindakan kelas. Ah, siapa yang bilang melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas ini sulit? Sulit jika belum tahu caranya. Mudah dilaksanakan jika sudah tahu tata caranya. Bukankah awalnya manusia tidak mampu menerbangkan pesawat udara? Bukankah manusia awalnya tidak mampu mengendarai motor dan mobil? Setelah berlatih dengan rutin dan tekun banyak orang yang kini sudah pandai tak hanya mengendarai motor dan mobil tetapi juga menerbangkan pesawat udara dengan baik. Begitu pula dengan penelitian tindakan kelas. Awal dipopulerkannya pada tahun 2013 hanya sedikit guru yang melaksanakannya karena keterbatasan kemampuan. Mereka yang melaksanakannya hanyalah yang sedang menyelesaikan studi magister saja. Sementara yang tidak melanjutkan studi ke jenjang S-2 masih awam dengan penelitian jenis ini. Kini jumlah guru yang melaksanakan PTK berangsur bertambah setiap tahunnya, terutama setelah dibudayakannya lomba guru berprestasi yang mewajibkan pesertanya membuat PTK.
Menurut Dr. Sulipan, M.Pd., dalam Muhammad Faiq Dzaki1, seringkali penelitian (research) didefinisikan sebagai sebuah upaya menemukan pengetahuan baru. Hal ini memang sudah sewajarnya karena pengetahuan merupakan sesuatu yang dicari dan ingin dimiliki oleh manusia untuk dapat memahami hal-hal di sekitarnya. Dalam perkembangannya, penelitian didefinisikan sebagai sebuah upaya menemukan jawaban secara ilmiah dari sebuah masalah yang dihadapi manusia. Dalam konteks tersebut, ilmiah berarti berlandaskan atas bangunan ilmu tertentu. Dengan demikian pengetahuan yang bersifat ilmiah diperoleh melalui sebuah proses pendekatan ilmiah yang disebut penelitian ilmiah dan dibangun di atas teori tertentu. Teori yang berkembang melalui penelitian yang sistematis dan terkendali dapat diuji validitas dan reliabilitasnya. Artinya jika penelitian tersebut dilakukan oleh orang lain dengan metode dan kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang sama pula. Jadi pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi hampir setiap orang, karena pendekatan tersebut bersifat objektif dan tidak diwarnai hal-hal yang bersifat subjektif. Penelitian sebagai bentuk khusus dari metode ilmiah memiliki beberapa sifat yang penting. Antara lain penelitian mempergunakan teknik-teknik yang teliti dan sistematik dan pemecahan masalah didasarkan atas pengetahuan yang sejauh ini telah dicapai oleh penelitian yang terdahulu. Dengan bertolak pada pengetahuan itu, penelitian disusun secermat mungkin, dengan teknik-teknik yang memiliki validitas setinggi mungkin. Pengumpulan data yang dilakukan penekannya adalah untuk menguji, bukan mutlak membuktikan, kebenaran atau ketidakbenaran hipotesis. Dalam penelitian dilakukan pengolahan data dan pengorganisasian dalam ukuran-ukuran kuantitatif atau kualitatif, yang kemudian dianalisis serta disimpulkan hasilnya. Selanjutnya hasil penelitian dilaporkan dalam bentuk yang sistematis, mengandung penjelasan masalah, tujuan, jenis penelitian, pengumpulan data, analisis, dan kesimpulan. Di bawah ini dituliskan beberapa arti penelitian, yaitu: 1. Proses pembuktian dari sebuah teori yang diajukan 2. Proses mencari atau menemukan jawaban secara cermat dan sistematik, dari pertanyaan atau hal-hal yang ingin diketahui jawabannya. 3. Proses mencari jawaban secara ilmiah dari pertanyaan yang diajukan secara deduktif, induktif, atau verifikatif. 4. Proses mencari jawaban secara ilmiah melalui kegiatan kajian pustaka, pengumpulan data, pengolahan data, analisis, dan penyimpulan. 5. Kegiatan ilmiah untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. 6. Kegiatan ilmiah guna menemukan pengetahuan baru, prinsip-prinsip umum, serta mengadakan ramalan generalisasi.
Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari istilah yang terdapat dalam bahasa Inggris Classroom Action Research. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, penelitian2 adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum. Tindakan 3 sendiri diartikan sebagai perbuatan atau tindakan yang dilaksanakan untuk mengatasi sesuatu. Kelas 4 diartikan sebagai ruang belajar di sekolah. Menurut Trianto5, penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru pada sebuah kelas yang diajarnya untuk mengetahui akibat tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut. Penelitian ini pun diartikan sebagai penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan. Tujuannya untuk meningkatkan mutu atau memecahkan masalah pada sekelompok subjek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya. Kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Menurut Dave Ebbut dan David Hopkins dalam Trianto6, penelitian ini merupakan studi ilmiah yang sistematis. Ada lima model penelitian kelas, yaitu: Model Kurt Lewin (1946), Model Kemmis & Mc Taggart (1988), Model Elliot (1991), Model Mc. Kernan (1991), dan Model Ebbut (1985). Secara umum pola dasar dari model-model tersebut meliputi empat tahapan berikut ini: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
melaksanakan penelitian tindakan kelas untuk selanjutnya disingkat PTK guru hanya memerlukan beberapa hal sederhana saja. Apabila seluruh hal tersebut terpenuhi maka guru dapat melaksanakan kegiatan PTK ini dengan mudah dan riang gembira. Hal pertama yang harus dimiliki guru adalah niat. Apapun kegiatannya berawal dari niat. Niat yang kuat akan membawa keberhasilan bagi si empunya. Niat yang lemah hanya akan membawa keburukan dan kesia-siaan. Guru yang hendak melakukan PTK harus memiliki niat yang kuat dalam melaksanakannya. Niat yang kuat ini diperlukan untuk memompa dirinya sendiri bilamana di tengah jalan ia menemui kesulitan dan hambatan. Apa saja yang bisa dijadikan niat oleh guru untuk melakukan PTK?
Mengikuti lomba guru berprestasi, melengkapi pemberkasan kenaikan pangkat dan golongan, atau menulis tesis untuk meraih gelar master pada program pascasarjana dapat dijadikan niat awal yang kuat bagi guru dalam melakukan serangkaian kegiatan PTK. Bila sudah memiliki niat yang kuat ini barulah guru dapat mengikuti serangkaian tips mudah yang dipaparkan dalam buku ini. Tips pertama adalah memilih bidang kajian PTK yang tepat. Penelitian tindakan kelas memiliki beberapa bidang kajian, di antaranya sebagai berikut: masalah belajar peserta didik, desain dan strategi pembelajaran, alat bantu, media dan sumber belajar, sistem penilaian dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran. Salah satu bidang kajian penting dalam PTK (penelitian tindakan kelas) adalah masalah belajar peserta didik di sekolah. Beberapa tema yang termasuk di dalam tema ini antara lain: masalah belajar di kelas, kesalahan-kesalahan pembelajaran, miskonsepsi, minat, motivasi belajar, dan hasil belajar peserta didik di dalam suatu kompetensi dasar pengetahuan dan keterampilan tertentu. Bidang kajian kedua yang patut diangkat sebagai bahan penelitian di kelas adalah desain pembelajaran atau strategi pembelajaran yang digunakan guru. Untuk bidang kajian yang kedua ini termasuk di dalamnya masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode maupun model pembelajaran, interaksi di dalam kelas, serta partisipasi orangtua dalam proses belajar peserta didik.
Dalam penelitian tindakan kelas, sering juga diangkat bidang kajian tentang alat bantu mengajar, media pembelajaran yang digunakan oleh guru, hingga sumber belajar bagi peserta didik. Tema yang termasuk dalam bidang kajian ini, antara lain: masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat. Sistem penilaian (assesment system) dan evaluasi baik dalam tahapan proses pembelajaran maupun pada hasil pembelajaran juga layak dikaji dengan PTK. Beberapa tema yang dapat diteliti oleh guru terkait bidang kajian sistem ini antara lain: masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen penilaian berbasis kompetensi dasar. Bidang kajian pengembangan kepribadian peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan juga merupakan bidang kajian yang sering diteliti, baik saat melakukan PTK maupun PTS (penelitian tindakan sekolah: yakni penelitian tindakan dengan level yang lebih luas yaitu sekolah). Tema yang dapat diteliti pada bidang kajian ini antara lain: peningkatan kemandirian dan tanggungjawab peserta didik, peningkatan keefektifan hubungan antara pendidik dengan peserta didik dan orangtua dalam PBM, dan peningkatan konsep diri peserta didik. Masalah-masalah yang berkaitan dengan kurikulum adalah bidang kajian yang juga dapat diteliti melalui penelitian tindakan kelas. Tema yang bisa diteliti seperti : implementasi KBK, KTSP, Kurikulum 2013, urutan penyajian materi pokok, interaksi guru-peserta didik, peserta didik-materi ajar, peserta didik-lingkungan belajar, dan sebagainya. Agar PTK yang disusun dapat dikategorikan sebagai penelitian yang baik maka harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut: pertama metode yang digunakan mengacu pada hasil yang objektif. Sebuah penelitian harus mengikuti metode yang ketat, “rigorous”, yang secara berdisiplin berpegang teguh pada aturan-aturan tertentu agar mencapai hasil yang objektif. Bila dalam pelaksanaan penelitian si peneliti melenceng atau tidak sesuai dari metode yang telah dirancangnya dengan baik, maka seringkali objektivitas hasil penelitiannya akan dipertanyakan, atau patut dipertanyakan. Penelitian yang baik berpegang teguh pada nilai kejujuran dan memperkecil kemungkinan terjadinya bias antara kondisi nyata dengan data dan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian. Kedua, data dan penafsirannya valid. Dalam pelaksanaan penelitian seorang peneliti harus sedapat mungkin membatasi kekeliruan atau kesalahan dalam data yang dikumpulkan maupun dalam penafsirannya. Banyak usaha yang dapat dilakukan seorang peneliti untuk hal ini. Misalnya untuk memperoleh data yang valid, peneliti harus merancang dan menggunakan instrumen penggali data yang baik. Jangan sampai data yang diperoleh tidak bersesuaian dengan kenyataan hanya karena kesalahan alat ukur atau penggali data. Peneliti juga harus mengupayakan teknik-teknik analisis data yang sesuai dengan data dan tujuan penelitiannya sehingga hasil penafsirannya dapat memiliki nilai kebenaran serta kebermanfaatan.
*Buku ini dan seluruh buku terbitan CV Cakrawala Milenia Jaya dapat dibeli di