Yogya (Ku) Kembali

Oleh: Neneng Hendriyani

Yogya (Ku) Kembali! Tiap kali mendengar nama ini jantungku berdetak lebih kencang. Entah mengapa. Seperti ada sebuah energi yang memompa jantungku lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang melintas begitu saja bahkan hanya saat aku membayangkannya.

Yogya, begitu manis. Sangat manis untuk tidak diingat di hati. Yogya begitu indah. Meski keindahannya sebenarnya tak jauh berbeda dengan berbagai kota wisata lainnya di republik ini. Namun bagiku, Yogya lebih ngangeni ati.

Tiap kali teringat akan pesonanya aku mencoba berpikir logis. Selogis harapanku untuk rembulan yang tak pernah padam. Ia akan datang tiap waktu yang telah ditentukan.

Bila bukan karena biaya sendiri, biasanya aku mengunjungi Yogya lantaran urusan kedinasan. Ah, apa pun itu, dari mana asal muasalnya aku tak peduli. Selagi ada waktu dan kesempatan aku selalu bahagia. Ya, bahagia bisa mengunjunginya lagi.

Ya, Yogya kini (ku) kembali. Meski aku tak bisa mengunjungi tempatmu secara khusus setidaknya aku menginjakkan kakiku di wilayahmu. Menikmati udara yang mengalir bebas mengisi rongga paru-paru ku sejak petang kemarin. Menikmati kehangatan menu masakannya. Menikmati suasana hingar bingar yang khas di sepanjang trotoar mu. Sesuatu yang membuatku selalu kangen padamu.

Yogya, kau selalu punya tempat di hati.

(Hotel Merapi Merbabu, Yogyakarta, Rabu, 10 April 2019, pukul 08.22)

Enam hari menuju Bali

Pertama kali memasukkan nama kota ini dalam tujuan kota yang akan dikunjungi tahun 2019 ini adalah karena satu hal. Ya, satu hal saja. Untuk itu aku yakin bisa mewujudkannya. Namun siapa sangka bila kemudian agenda yang kususun di awal tahun ini bisa tercapai justeru karena lebih dari satu alasan. Benar-benar kejutan.

Bali adalah kota yang tak asing di telinga. Setidaknya di tahun 2004 ketika ia menjadi sebuah tujuan wisata paling mahal bagi guru di Kab Bogor rekanku sudah menjelajahinya dengan alasan klise, study tour. Saat itu aku hanya tersenyum. Apalagi saat pulangnya ia membawakan selembar kain pantai Bali. Senyum pun makin merekah. Namun maknanya tak berubah.

Jauh di lubuk hati aku tersenyum. Seseorang mengetuk dan bicara kepadaku lembut. Suatu hari kau akan ke sana. Percayalah. Saat itu aku tak begitu mendengarkan. Aku menganggap itu semua hanya lah sekedar bisikan biasa. Aku terus mengabaikannya. Hingga perlahan suara itu tak terdengar lagi dari tahun ke tahun.

Namun sejak kutemui banyak hal yang tak mungkin terjadi di sekitarku aku mulai meliriknya. Melirik seseorang yang terlupakan. Seseorang yang berbagi kisahnya melalui sebuah lintasan waktu. Seseorang yang berbicara dari hati ke hati. Menatap lewat cermin yang tergantung di seluruh ruang kerja. Berbicara tentang banyak hal yang tak ku pahami. Ya, tentang semuanya. Tentang Datuk Rajo yang diam-diam menyukaiku. Tentang bayangan hitam yang melayang di sekitar ku. Ah, juga tentang penunggu pohon kecapi yang berhasil membuatku memasukkan Xeniaku diantara batang pohonnya.

Begitu banyak kisah dan rahasia yang terbagi. Begitu banyak air mata dan darah yang menyertai. Tumpukan arang di tengah pendapa. Juga seseorang yang berada di antara tengah sisa api. Semua itu menjadi bagian tak terpisahkan yang kudengar.

Sepotong kisah di Tanjung Benoa juga menarik ku kian jauh ke tengah samudera waktu. Aku tak mampu lepas. Pesonanya menjeratku hebat.

Namun bukan itu alasanku menjejakkan kakiku di pulau ini. Sama sekali bukan.

Layaknya perjalanan ku pulang beberapa tahun lalu ke Yogyakarta untuk pertama kali. Seperti itulah kini.

Ada hawa lain yang membuatku begitu terpesona. Tak bisa ku menghindar. Tak bisa ku lari. Semakin dekat rangkaian kereta, semakin sesak dadaku.

Kini enam hari menuju Bali. Bukanlah Puri Klungkung tempat yang dituju. Bukan pula Amlapura tempat yang ku mau. Tapi sebuah tempat yang biasa dikunjungi. Tempat yang hanya dinikmati para turis. Bukan tempat dimana pencarianku akan berakhir.

Ah, alasan awal aku memilih Bali sebagai KOTA terakhir yang kukunjungi tahun ini adalah ingin mengunjungi festival sastranya. Menemui para sahabat lama. Menjumpai para guru utama. Seperti dalam mimpiku berpuluh tahun lalu.

Namun kini semua berbeda. Aku datang bersama rombongan siswa. Tak tanggung-tanggung, 12 bis wisata. Tujuannya hanya ingin mengunjungi Udayana. Merajut mimpi meraih harapan agar bisa kembali lagi ke Udayana tahun depan. Itulah mimpi anak-anak belasan tahun yang kudampingi. Sebuah mimpi yang tak pernah kumiliki saat seusia mereka.

(Catatan di hari Pertama, 9-4-2019; 06.49)

Cinta

Oleh: Neneng Hendriyani

Cinta, tenggelam aku dalam samudera
Kejar mimpi ke perut bumi
Dalam remang persinggahan kecup mesra ikan-ikan
Berdansa bersama rerumputan jauh di bawah
Bayang-bayang terang menanti
Kau pulang

Cinta, di bawah peraknya rembulan
Duduk aku di batu karang
Menatap puluhan perahu layar
Berharap bisa melihatmu datang
Meski tahu itu cuma khayalan

Cinta, jutaan sudah gelombang pecah berlari
Cumbui pantai berkali-kali
Tiduri pasir tak terhitung jari
Aku tetap di sini setia hingga mati

(Bogor, 2019)

Hari kedua di Belitung

Oleh: Neneng Hendriyani

Perjalanan pada hari Sabtu tanggal 23 Februari 2019 lalu di mulai dengan cerita menarik tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Belitung. Senangnya hatiku mendapati tour guide yang dipakai rombongan bus 2 ini sangat hapal dan tahu banyak tentang Belitung. Cara penyampaiannya juga menarik. Jadi semua yang berada di dalam bus tidak merasa digurui. Caranya bercerita begitu apik, lancar dan tersusun rapi dengan penggunaan bahasa Indonesia yang sudah sama dengan orang-orang daerah yang sudah lama hijrah ke Jakarta. Tak terdengar lagi aksen dan logat Melayunya. Padahal ia asli Melayu.

Hal pertama yang ia sampaikan adalah tentang adat istiadat yang berlaku di daerah Belitung. Di sini semua orang masih memegang adat dan budaya lama. Masih banyak yang percaya bahwa segala sesuatu yang baik bagi kehidupan mereka itu bisa diperoleh dari hasil hitung menghitung menggunakan ilmu Falak. Jadi tidak heran bila semua upacara adat yang berkenaan dengan pendirian rumah, pernikahan, dan selamatan selalu dihitung sebelumnya. Ini ditujukan untuk mendapatkan keselamatan, keberkahan dan perlindungan Allah.
Selain masih mempercayai hal tersebut, para penduduk Belitung juga masih percaya kepada kemampuan dukun bila mereka sakit. Tak sedikit orang Belitung yang memilih berobat ke dukun bila sakit. Mereka kurang percaya kepada tenaga kesehatan seperti dokter.

Hal yang menarik berikutnya adalah perihal kejujuran yang dimiliki oleh semua orang Belitung. Siapa pun yang memiliki kendaraan bermotor bisa memarkir kendaraannya dengan kunci kontak masih menggantung di kendaraannya dengan rasa aman. Tanpa rasa was-was takut hilang atau dicuri. Mereka semua sangat menghormati milik orang lain dan tidak suka mencuri. Meskipun demikian bukan berarti lantas pihak kepolisian bisa bekerja santai ya di wilayah pulau ini. Aku menemukan ada beberapa kantor kepolisian dan juga asrama tentara yang dibangun di sepanjang jalan yang kulalui.

Menurut tour guide kami, bila ada kasus pencurian biasanya polisi bekerja sama dengan dukun setempat. Dengan begitu hampir bisa dipastikan para pelaku kejahatan yang nekad berbuat jahat dan mengganggu keamanan di Belitung mudah ditangkap dan diamankan.
Selain tentang kejujuran, aku juga mencatat hal lain yang tak kalah menariknya dari penjelasan tour guide kami yang bernama Bang Yono.

Sepanjang jalan dari bandara di hari pertama aku berkunjung aku sudah melihat ikon kita Belitung yang berbeda dengan kota-kota lainnya di pulau Sumatera. Sebuah batu berukuran besar berwarna hitam diletakkan di tengah-tengah air mancur mudah sekali ditemukan oleh semua wisatawan yang berkunjung ke Belitung. Bukan apa-apa. Batu ini terletak di pusat kota. Jadi siapa pun pasti melewatinya bila ingin pergi ke pusat kota. Batu besar berwarna hitam ini dipercaya sebagai batu meteorit yang pernah jatuh di wilayah Belitung beberapa puluh tahun yang lalu. Bang Yono sendiri tidak tahu persis kapan tepatnya batu yang dikenal dengan nama “SATAM” itu jatuh di Belitung. Yang pasti, semua orang Belitung selalu tak kehabisan kata-kata bila hendak menceritakan kisahnya.

Batu Satam ini lalu dijadikan barang cinderamata oleh beberapa pengrajin batu. Aku melihat hampir di setiap tempat dan pukau yang kukunjungi selalu kutemui penjual perhiasan yang menggunakan batu Satam sebagai aksesorisnya. Oh ya, kalau kalian tertarik membeli batu Satam ini kalian harus menyiapkan uang yang cukup banyak ya. Agak repot soalnya bila hanya mengandalkan kartu ATM di dompet. ATM hanya ada di beberapa tempat saja. Itu pun di pusat kota dan pusat perbelanjaan oleh-oleh.

Harga sebuah cincin berbatu Satam itu bervariasi. Untuk perempuan biasanya dipatok di harga Rp. 100.000 – Rp.300.000. Sementara untuk laki-laki lebih mahal. Untuk gelang berbatu Satam ukuran kecil-kecil dijual dengan harga Rp. 250.000 – Rp.800.000. Umumnya para pedagang perhiasan ini tidak melayani tawar menawar harga. Semua fixed Price. Jadi jangan harap ya bila dinego ala-ala Pasar Anyar atau Blok M lantas kalian berhasil membawa pulang perhiasan yang kalian incar tadi. Mereka lebih memilih diam dan tidak menjualnya sama sekali bila pembeli tidak mau membeli dengan harga yang telah diajukannya. Aneh, ya. Itulah keunikan pedagang di Belitung.

Nah, buat kalian yang menyukai pernak pernik unik khas Belitung yang mengandung batu Satam, baiknya membeli di sekitar pantai Tanjung Tinggi dan sepanjang warung yang berdiri di sekitar jalan masuk Replika SD Laskar Pelangi. Di kedua tempat ini barang-barang seperti itu dijual dengan harga murah. Lebih murah dari tempat lain. Rerata harganya masih bisa dijangkau orang kebanyakan. Yaitu, Rp. 100.000 – Rp. 300.000 per cincin atau per kalung.
Kok mahal, ya? Itulah yang pertama kali aku tanyakan saat mendengar harganya. Usut punya usut ternyata batu tersebut memang sangat berharga. Setidaknya ia adalah ciri khas pulau tersebut. Tidak ada batu sejenis itu ditemukan di tempat lain di Indonesia. Batu meteorit itu apabila diletakkan secara berdekatan akan saling tolak menolak. Mirip sekali dengan prinsip kerja magnet. Bila ia ditaruh di atas sebuah bidang datar dan dibawahnya dipanasi maka ia akan berputar perlahan-lahan. Bila batu Satam yang kalian beli tidak menunjukkan ciri-ciri tersebut berarti batu Satam kalian palsu.
Selain batu Satam, Belitung juga punya keunikan dan ciri khas lainnya. Apalagi kalau bukan binatang. Binatang khas yang menghuni sebagian besar wilayah hutan Belitung adalah sebangsa monyet yang dikenal dengan nama Tesaurus. Tidak ada babi hutan, harimau, singa, kelinci, gajah dan binatang hutan lainnya di sini. Jadi sangat aman bagi kita semua bila berjalan kaki di sepanjang jalan yang dilalui oleh kendaraan bermotor yang berada di tengah-tengah hutan yang kira lalui. Satu-satunya binatang yang perlu diwaspadai adalah buaya. Eit, bukan buaya sembarang buaya loh ya. Juga bukan pula buaya darat.

Di Belitung ini buaya adalah hewan yang umum ditemukan hampir di seluruh wilayah perairan Belitung. Rawa, sungai, Setu atau danau adalah rumah bagi para buaya Belitung. Oleh sebab itu disarankan agar berhati-hati bila berkesempatan menyusuri rawa-rawa dan sungai di Belitung. Bila terpaksa bertemu, jangan langsung ambil langkah seribu. Biasanya buaya tidak akan menyerang manusia lebih dahulu. Andaikan ada manusia yang diserang dan dimakan buaya, menurut Bang Yono, manusia tersebut masih bisa diselamatkan. Catatan jeda dari masa penangkapan hingga penyelamatan tidak lebih dari 24 jam. Biasanya yang diberikan tugas penyelamatan adalah pawang buaya yang merupakan penduduk asli Belitung.

(Bersambung)

Durian Untuk Ani

Oleh Neneng Hendriyani

Wanginya begitu menusuk hidung. Bapak tak bisa berkata apa-apa saat terpaksa membawanya pulang ke rumah. Jangankan memakannya, menciumnya saja sudah membuatnya begitu menderita. Pusing tujuh keliling, katanya. Untuk meredam rasa mual yang terus menyodok ulu hatinya ia mengulum sebuah permen. Ia tak bisa menolak keinginan anak sulungnya saat meminta dibelikan buah keparat tersebut. Ingin rasanya ia menolak saat itu juga. Tapi rasa kasih sayangnya membuatnya tetap menenteng buah tersebut dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya sibuk memencet hidungnya yang tidak bangir.

Setibanya di rumah si sulung menyambutnya dengan tertawa lebar. Sesekali ia berjingkrak-jingkrak kegirangan demi dilihatnya Bapak datang dengan buah tangan yang lama diidam-idamkannya.

“Asyik, Bapak bawa durian.” Teriaknya berkali-kali.

Emak langsung berlari ke teras dan membelalakkan matanya.

“Bapak…”, mulutnya segera ditutupinya dengan telapak tangan tangan saat matanya melihat kedipan Bapak.

“Ini buat kamu,” kata Bapak dengan senyum yang mengembang.

Ada kebanggaan yang jelas tergambar di senyumnya yang tipis sore itu. Emak bisa menangkapnya meskipun hanya selintas.
Ani memeluknya erat. Diciuminya kening Bapak berkali-kali. Setelah itu ia berlari ke dalam rumah dengan membawa buah yang sudah berhasil membuat Bapak keleyengan sepanjang jalan.

Sudah lama sekali ia menginginkan buah tersebut. Tepatnya sejak musim durian tahun lalu. Saat itu seluruh temannya di sekolah bercerita tentang pesta durian yang digelar di salah satu rumah temannya. Ani tidak diperbolehkan Bapak ikut serta menghadiri acara tersebut. Bapak memang tidak suka melihatnya bergaul terlalu rapat dengan teman-teman sekelasnya yang borju. Bapak takut Ani kebawa-bawa gaya mereka. Bapak khawatir Ani menjadi anak yang boros seperti mereka. Maklumlah gaji bapak sebagai pekerja harian lepas di sebuah catering tidak besar. Hanya cukup untuk makan satu hari saja. Itu pun dengan lauk seadanya. Itu sebabnya Bapak sangat berusaha agar anak sulungnya tersebut tidak meniru gaya hidup teman-temannya yang memang berasal dari keluarga kaya raya.

Kini dengan terpaksa Bapak memenuhi keinginan Ani dengan membawa sebuah durian sepulangnya bekerja. Sejujurnya bapak keberatan membelinya. Harganya cukup mahal. Lebih dari separuh gaji harian Bapak terkuras untuk membelinya. Namun membatalkan janjinya kepada si sulung pun rasanya tidak mudah. Bapak pernah berjanji akan memenuhi keinginan Ani bila ia berhasil meraih peringkat terbaik di kelasnya. Kemarin ia menerima ucapan selamat dari wali kelasnya saat mengambil raportnya. Itulah sebabnya hari ini Bapak berusaha memenuhinya janjinya, membeli sebuah durian untuk anak tersayangnya yang telah berhasil membuatnya bangga.

“Pak, ini untuk Bapak”, Ani memberikan sebutir biji durian saat Bapak sudah duduk di kursi makannya.

“Makanlah buatmu, An. Bapak masih kenyang”, tolaknya halus.

Ani tidak menyerah. Dibujuknya Bapak berkali-kali. Ini kali diperlihatkannya betapa ia begitu menikmati manis dan legitnya daging buah tersebut dengan menjilati jari jemarinya yang belepotan daging buah durian.

“Makanlah, Nak. Bapak tidak doyan.” Akhirnya Bapak terpaksa berbohong.

Sebenarnya semasa muda dulu Bapak sangat menyukai buah ini. Namun kolesterol dan segudang penyakit lainnya membuatnya harus bertahan dari serangan bau yang begitu menggodanya. Ia hanya mampu menelan air liurnya sendiri menyaksikan Ani memakan durian di hadapannya.

Emak hanya bisa menatap Ani dan Bapak dari jauh. Sejak dulu Emak memang tidak menyukai durian. Jangankan memakannya, menciumnya saja sudah membuatnya muntah-muntah.

Ah, Ani. Andaikan bukan karena janji Bapak kepadamu tempo hari, mungkin emak sudah memasak opor ayam sore ini. Adik-adik mu bisa makan enak nanti malam. Bisik hati emak lirih.

(Bogor, 1 Maret 2019)

Sepotong Kisah di Pantai Tanjung Tinggi

Oleh: Neneng Hendriyani

Sebelum memulai perjalanan di hari kedua dan sebelum masuk hotel aku makan di restoran Tempo Duluk. Beberapa jam sebelumnya aku menyempatkan diri menikmati keindahan alam di lokasi syuting film Laskar Pelangi.

Lokasinya terletak di antara Tanjung Kelayang dan Tanjung Pendam. Nama Tanjung Tinggi sendiri diambil dari kata Semenanjung yang pantainya memiliki batu-batu tinggi. Aku telah membuktikan bahwa namanya memang benar dan sesuai sekali dengan keadaan alamnya. Sejauh mata memandang aku tidak menemukan bebatuan yang kecil dan rendah. Semua batunya berukuran besar dan tinggi-tinggi.

Tanjung Tinggi mudah dicapai dari kota Tanjung Pandan. Luas pantai Tanjung Tinggi menurut beberapa sumber adalah 80 hektar. Wow, luas sekali ya.

Awal tiba di lokasi pantai ini aku langsung berpose di depan papan pengumuman yang menyatakan bahwa pantai ini adalah lokasi syuting film fenomenal yang mengangkat nama Belitung tak hanya di kancah nasional namun juga internasional. Puas membaca dan mengambil gambar disini, aku pun mencari spot yang jarang dan tidak digunakan para pengunjung lainnya untuk berswafoto. Pilihan pertama jatuh kepada dua batu besar yang saling mengapit satu sama lain sehingga membentuk sebuah celah yang hanya muat dimasuki oleh dua orang dewasa. Batunya sudah berlumut. Jadi harus ekstra hati-hati bila ingin mengambil foto di sini. Pilihan selanjutnya adalah naik ke beberapa Bua batu yang di puncaknya ditumbuhi pepohonan. Tingginya lumayan loh. Sekitar dua sampai lima meter dari permukaan tanah. Entah mengapa aku merasa begitu excited sekali menaiki dan mengambil foto di sana.

Ada aura yang berbeda yang kurasakan dari semua tempat yang dipilih para pengunjung. Yang pasti apapun dan dimana pun hendak mengambil foto, kita semua harus ingat bahwa ada adat istiadat yang tetap harus dijaga. Sekalipun tak kasat mata, banyak sekali makhluk astral yang melihat dan mengawasi kita. Jangan sampai kita mengganggu mereka. Oleh sebab itu tetap menjaga kesopanan dan adab kita adalah salah satu cara terbaik yang bisa menjaga keselamatan dan kesehatan kita sendiri.

Buat yang baru pertama kali mengunjungi pantai Tanjung Tinggi ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelumnya agar kunjungan Anda lebih berkesan. Pertama, bawa kamera yang mendukung semua aktivitas Anda. Bila tidak memiliki kamera profesional yang biasa dipakai para fotografer profesional, setidaknya bawa smartphone yang sudah didukung oleh dual kamera Dengan resolusi yang cukup tinggi. Dengan begitu aktivitas potret memotret menjadi lebih mengasyikkan dan menyenangkan. Hasilnya pun memuaskan. Bila datang pada siang hari, jangan lupa membawa sepasang kacamata hitam dan topi pantai yang lebar. Jangan sesekali memakai topi yang hanya menutupi sebagian dari kepala Anda. Itu sangat tidak disarankan. Tambahan pula, baiknya menggunakan sunblock secukupnya untuk melindungi paparan sinar matahari terhadap kulit wajah dan tubuh yang terbuka. Selanjutnya, gunakan saja sendal santai daripada sepatu. Dengan begitu langkah kakimu akan semakin ringan dan kedua kaki juga tidak mudah lelah. Terakhir, bawalah persediaan minum secukupnya. Udara yang panas seringkali membuat kita semua mudah berkeringat dan merasa haus. Hati-hati jangan sampai kekurangan cairan.

Selepas memanjakan mata melihat keindahan matahari terbenam di sela-sela bebatuan pantai Tanjung Tinggi dan membiarkan kedua kakiku telanjang menyentuh pasir-pasir pantai yang putih, bersih dan lembut aku segera naik ke bus lagi. Perjalanan belum usai namun perut sudah teriak minta diisi.

Jadilah selepas 30 menit dari lokasi pantai Tanjung Tinggi, aku makan malam di sebuah restoran yang memiliki interior design yang unik. Namanya adalah Restoran Tempo Duluk. Ingatnya, penulisannya memang pakai kata “Duluk” bukan “dulu” walaupun dibacanya tetap “dulu”.

Di restoran ini aku melihat sebuah Mercedez Benz keluaran tahun 70an, Vespa tua dari tahun 70an juga beberapa foto lawas yang menceritakan secara detail tentang sejarah dan peristiwa yang pernah terjadi di Belitung.

Ada aturan yang agak unik berlaku di restoran ini. Yaitu, setiap meja sudah diisi oleh 6 piring seng, 6 gelas, 6 mangkok kecil dan sebuah teko berisi air teh tawar. Tak lama setelah seluruh meja terisi penuh pramusaji segera mengantarkan makanannya yang ditutupi tudung saji yang berukuran besar. Sebelumnya mereka mengantarkan sebuah kastrol kecil yang berisi nasi putih untuk masing-masing meja. Makanan yang ditutupi tudung saji tersebut adalah sepiring ayam goreng, sepiring perkedel ikan, semangkok besar sayur asam ala Belitung, dan sambal. Sayur asam ala Belitung ini memang berasa asam tapi segar. Isinya adalah potongan ubi, daun ubi jalar, potongan wortel dengan aroma ikan laut yang cukup menyengat. Rasanya lumayan enak. Meskipun aku bukan pecinta kuliner setidaknya menurut makan malam di restoran ini cukup enak dan tidak mengecewakan.

Selepas makan, aku keliling area restoran. Meskipun restoran ini tidak semewah restoran di ibukota Jakarta namun suasana dan penataan barang-barangnya oke punya loh. Ada kios khusus yang menjual berbagai macam suvenir khas Belitung. Selain itu ada juga spot foto yang unik dan oke. Aku menyempatkan diri mengambil beberapa foto di restoran ini.

Saat yang lain asyik menikmati alunan lagu dan berkaraoke ria, aku memilih menikmati suasana malam yang berbeda dari biasanya. Bintang-bintang begitu jelas terlihat bergantungan di langit. Aku sedikit tak percaya setelah selama perjalanan sebelumnya diguyur hujan, di sini justeru langit begitu cerah. Tak ada setetes pun air hujan yang turun.

Setelah makan malam barulah bus melaju menuju hotel.

Kelelahan selama perjalanan pada hari pertama tak ayal membuatku kesulitan tidur. Meskipun tiba di hotel sekitar pukul 10 malam tetap saja rasa kantuk enggan menyapa. Entah karena minum secangkir kopi Belitung sebelumnya atau adaptasi terhadap lingkungan baru. Aku tak tahu pasti. Yang jelas aku baru bisa tidur setelah tour leader mengetuk pintu kamar tepat pukul 12 malam. Walaupun rasanya baru saja tidur, aku tetap bangun tepat saat muadzin mengajak semuanya shalat Subuh.

Hari kedua

Sebelum pukul 6.30 aku telah menikmati sarapan pagi di restoran hotel. Menunya lumayan oke kah meskipun agak gimana gitu. Wkwkk. Maklum lah lidah kampung.
Sepiring nasi goreng, kacang merah dengan saos Padang, acar, capcay dan ikan kering yang aku enggak tahu apa namanya mengisi perutku yang keroncongan. Minumannya cukup infused water saja. Segaar.

Setelah sarapan dan mengambil foto di lobi hotel aku naik bus 2 bersama rombongan kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, dan guru-guru lama.
So, mari berpetualang di hari kedua ini.
Asyiknya di bus 2 ini adalah supir, kenek, dan tour leadernya asli Belitung. Jadi selain bisa menikmati indahnya perjalanan, aku juga bisa menambah wawasan tentang pulau kecil ini.
Belitung menurut Bang Yono, sang tour leader, berasal dari kata “Bali Sepotong”. Hal ini dikarenakan dulunya banyak orang Bali yang tinggal di pulau ini. Selain itu bila dilihat dari udara maka terlihat jelas bahwa Belitung ini mirip pulau Bali yang dipotong. Benar tidaknya Wallahu alam.

Kenangan Manis di Negeri Laskar Pelangi

Oleh Neneng Hendriyani

Awalnya seperti mimpi aku bisa ke tempat ini. Yah… Belitung tidak pernah menjadi tujuan wisata bagi perjalanan karya-karyaku. Meskipun Belitung terkenal dengan pantainya yang indah dan tanah kelahirannya beberapa tokoh nasional, seperti Yusril Ihza Mahendra, Andrea Hirata, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), dan Putri Indonesia 2019 entah mengapa aku kok tidak menjadikannya sebagai destinasi wisata utama tahun ini. Berbeda sekali dengan Tegal, Kudus dan Bali yang memang sudah masuk ke agenda utama kota yang wajib dikunjungi di tahun 2019. Meskipun demikian aku tak menyesal menjejakkan kaki ke negeri Andrea Hirata ini.

Dengan hanya bermodal 3,1 juta aku bisa berkunjung ke sini selama 3 hari 2 malam. Sangat mahal sebenarnya bila dibandingkan biaya yang dikeluarkan ke Singapura. He-he-he.

Hari pertama

Bersama rombongan SMA N 4 Cibinong aku berangkat menuju bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta pada hari Sabtu, 23 Februari 2019. Tanpa sempat sarapan di rumah lantaran bangun tidurnya kesiangan, aku naik bus wisata yang sudah menunggu di depan Masjid At Taubah SMA N 4 Cibinong tepat pukul 06.00 WIB. Mengapa harus sepagi itu berangkatnya? Wkwkk itu karena sebelumnya ada pengumuman barangsiapa telat datang maka akan ditinggal oleh rombongan dan disiapkan menyusul langsung ke bandara. Nah, daripada harus nyusul sendirian, ongkos sendiri pula lebih baik datang tepat waktu, kan. Betul, nggak?


Gambar bus wisata yang dipakai rombongan


Gambar sebagian teman-teman di SMA N 4 Cibinong

Aku berangkat bersama-sama dengan menggunakan 2 buah bus wisata. Bus pertama diisi oleh ibu-ibu guru semua. Bus kedua diisi oleh bapak-bapak guru semua. Kok dipisah ya? Aslinya nggak ada ketentuan bahwa bus pertama harus diisi oleh perempuan dan bus kedua oleh laki-laki, loh. Ini murni kesepakatan alamiah aja yang terjadi begitu saja.

Sepanjang perjalanan kami tertawa terbahak-bahak. Ada-ada saja tingkah laku dan guyonan teman-teman yang membuatku tertawa. Setiap kali ada yang bernyanyi serentak yang lain berjoged ria. Sungguh ini hal baru yang baru kutemui. Di tempat sebelumnya bila ada perjalanan wisata sekalipun ada yang bernyanyi tidak ada yang berani maju ke depan bersama-sama untuk berjoged. Inilah budaya baru.

Setibanya di bandara, langit memang sudah tidak cerah. Agak mendung. Maka tidak kaget saat mendengar pengumuman bahwa pesawat Sriwijaya yang akan ditumpangi kena delay di bandara Adisucipto, Yogyakarta.

Setelah menunggu hampir sejam barulah aku bisa terbang. Asli pengalaman terbang bersama burung besi yang satu ini membuat jantung dan bibirku tak pernah berhenti bergerak. Pesawat sempat mengalami beberapa kali turbulensi. Menabrak awan, berada di kepungan awan gelap disertai suara guruh dan goncangan pesawat adalah pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu saja. Saking takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan, aku sampai merekam suasana saat itu. Beruntung, Allah Maha Pelindung telah menyelamatkan kami semua. Dengan lutut yang gemetaran kami bisa turun dari pesawat dengan perasaan yang cukup tenang.


Gambar Sayap pesawat sebelah kiri

Di bawah kaki burung besi itu aku dan teman-teman disambut hujan deras. Salut untuk semua crew yang bertugas di sore itu. Mereka dengan sigap membagikan payung satu demi satu kepada setiap penumpang yang baru saja turun. Sesi foto-foto yang biasa mewarnai aktivitas turun dari pesawat urung dilakukan oleh semua penumpang. Semua seolah sepakat untuk mengambil foto kenang-kenangan saat tiba di ruang tunggu.


Gambar Bandara H.A.S. Hanandjoeddin

Bandara H.A.S. Hanandjoeddin adalah bandara kecil tempat kami pertama kali menjejakkan langkah-langkah kami. Bila ku bandingkan dengan bandara Sultan Thaha, Jambi, jelas bandara H.A.S. Hanandjoeddin ini termasuk bandara kecil. Ya, wajar sih. Bandara ini hanya melayani penerbangan domestik saja.
Agak sedikit kecewa juga sebenarnya dengan rundown acara di hari pertama ini. Seharusnya kami tidak memilih bandara ini bila ingin langsung ke Laskar Pelangi. Bukan apa-apa, jarak yang harus kami tempuh menggunakan bus wisata dari bandara ini ke SD Replika Laskar Pelangi itu jauh sekali. Butuh 2 jam perjalanan lagi. Dan karena kami mendarat pukul 4 sore, maka kemungkinan tiba di sana sudah magrib. Maka tour leader memutuskan untuk membatalkan agenda kunjungan ke sana.


Gambar aku di salah satu spot bandara

Jadi, bagi kawan-kawan yang ingin mengunjungi SD tempat Andrea Hirata bersekolah dulu, baiknya memilih bandara Manggar bukan H.A.S Hanandjoeddin. Dengan begitu kawan-kawan bisa langsung menuju ke lokasi tersebut dengan cepat dan mudah. Oh ya untuk tempat menginapnya, teman-teman bisa memilih hotel Orins yang terletak di Manggar juga.

Namun, bila sudah telanjur mengikuti rute Jakarta-Belitung via H.A.S Hanandjoeddin, kawan-kawan tak perlu kecewa. Tinggal lobi saja tour leadernya untuk langsung mengantarkan ke Danau Kaolin. Lokasi Danau Kaolin dekat sekali loh dari bandara. Hanya sekitar 5 menit saja. Jadi lebih praktis dan tidak membuang banyak waktu. Dengan begitu kawan-kawan bisa langsung melakukan tour pulau di hari kedua.

Nah, karena aku dan rombongan baru pertama kali ke Belitung apa boleh buat di hari pertama itu kami kehilangan kesempatan untuk mengunjungi Danau Kaolin dan SD Replika Laskar Pelangi. Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah restoran pribumi yang menyuguhkan makanan khas Belitung. Yaitu, Mie Belitung. Namanya juga mie, so pasti bahan utamanya adalah mie. Yang membuatnya tampil beda adalah cara penyajiannya. Di setiap piring yang digunakan sebagai wadah Mie Belitung ini, terdapat selembar daun seukuran telapak tangan orang dewasa. Penduduk pribumi menyebutnya daun Simpor. Kalau di Jawa, bentuknya mirip daun Jati. Mie dan kawan-kawannya seperti potongan tahu, potongan ketimun, beberapa lembar emping yang disusun sedemikian rupa di atas mienya. Kuahnya kental dan sedikit lengket dengan aroma kepiting yang menguar tajam. Rasanya wow banget. Buat yang menyukai sea food, ini adalah makanan pembuka yang aduhai mengundang selera. Buat yang suka pedas, tinggal tambahi sambal khas yang sudah disiapkan pramusajinya. Makanan ini didampingi oleh segelas minuman yang sangat segar dan tidak kalah maknyusnya. Yaitu, sirup jeruk kunci. Minuman ini bisa dinikmati panas maupun dingin.


Gambar Mie Belitung


Gambar Sirup Jeruk Kunci


Gambar Secangkir Kopi Belitung

Oh ya di restoran Wan Bie ini aku pun sempat menikmati secangkir kopi hitam khas Belitung. Wow, rasanya enak loh. Sayangnya, kurang panas airnya. Harganya pun murah meriah. Cuma Rp. 10.000,- per cangkir. Buat yang enggak suka dengan rasa pahitnya, bisa menambahkan sedikit susu kental manis dan gula pasir. Dijamin deh rasa kantuk selama menunggu pesawat delay langsung hilang. Cuma jangan kaget ya, malamnya pasti enggak bisa tidur cepat.

Ups selain makanan dan minunan khas Belitung, di sini juga tersedia fasilitas untuk karokean dan foto-foto. Banyak spot foto yang menarik dan instagrammable loh.


Gambar Aku di salah satu spot di Wan Bie Restaurant


Gambar Aku di salah satu spot di Wan Bie Restaurant

Sebelum cek in di Hotel Golden Tulip Essential Belitung, aku sempat mampir ke toko oleh-oleh yang juga menyediakan alat-alat dan segala perlengkapan untuk snorkeling. Ups, jangan kaget ya melihat daftar harga semua barang di sana. Mehong, bo.

Sepasang sandal jepit dibandrol sebesar Rp. 35.000. Ini adalah harga termurahnya loh. Desainnya biasa aja. Sepasang kaca mata termurahnya itu 50 ribu. Nah, di toko oleh-oleh yang aku lupa nama dan lupa ambil gambarnya ini kalian bisa memilih berbagai model kaca mata yang unik dan elegan. Dijamin bisa mengubah penampilan hingga mendekati Princess Syahrini. Hehehehe. Buat yang lupa membawa topi pantai, jangan khawatir apa lagi ngegalau ya. Di sini banyak sekali topi pantai yang cantik-cantik dengan berbagai warna dan model yang menawan. Tinggal lihat, pilih dan jangan lupa bayar yaaa. Wkwkkw. Harganya rata-rata 158 ribuan loh. So, buat yang bawa uang terbatas lebih baik jangan membeli di toko ini ya. Kamu harus sedikit bersabar.

Tidak jauh dari sini, sekitar 15 menitan dari toko ini kamu bisa menemukan berbagai topi pantai yang tidak kalah cantiknya dengan harga yang terjangkau. Yaitu, 27 ribuan. Toko yang menjualnya terletak di sebelah kiri jalan menuju hotel Golden Tulip. Di toko ini kamu juga bisa membeli perlengkapan mandi, obat-obatan dan ice cream.

Berhubung mendaratnya sudah sore, maka sepanjang perjalanan yang bisa dilihat adalah sederetan toko yang sudah siap tutup. Di Belitung jangan berharap bisa menemukan Alfamart, Indomaret, Ramayana dll yang buka hingga pukul 10 malam. Di sana paling malam mereka tutup toko rata-rata pukul 9 malam.

Tidak ada yang banyak diceritakan tentang hotel tempat ku menginap selama 2 malam. Layaknya hotel bintang tiga, hotel ini pun dilengkapi beberapa fasilitas, seperti kamar mandi yang dilengkapi toilet duduk, air panas dan dingin, televisi, pemanas air, wifi gratis, antar jemput bandara gratis, bar dan restoran.

(Bersambung)

Albatros

ALBATROS
Copyright © Neneng Hendriyani, 2018
Penulis:
Neneng Hendriyani
ISBN: 978-602-53493-6-2
Editor:
Neneng Hendriyani
Penyunting dan Penata Letak:
Tim CV Cakrawala Milenia Jaya
Desain Sampul:
Eka Yulistia
Penerbit
Cakrawala Milenia Jaya
Bumi Karadenan Permai Blok AA 8 No. 11-12
Cibinong – Bogor
Jawa Barat
Telp. 08136336202 – 085715773482
cakrawalamileniajaya@gmail.com
web: http://cakrawalamj.co.id
Cetakan Pertama, Februari 2019

—
Ini adalah buku kumpulan puisi keduaku. Sengaja kupilih judul Albatros lantaran seluruh puisinya diinspirasi oleh burung Albatros. Kegagahan, kemampuannya terbang tinggi dan seluruh ciri yang melekat padanya memberikan ide yang menarik untuk ditulis dalam bentuk puisi. Yaitu puisi yang berlatar belakang laut yang menyimpan seluruh harapan, impian juga kenangan.
Buku ini dibuka dengan puisi Raja Badai. Sebuah puisi yang terinspirasi juga dari cerita tetralogi Air dan Api.

Raja Badai
Oleh: Neneng Hendriyani
Lanun samudera terapung-apung
Digulung ombak malam jahanam
Layar robek, tiang pun patah
Palka penuh air sedada
Gelombang kian dansa
Pongah tak beri ruang bertanya
Apalagi sekedar doa
Milik lanun penjarah harta
Ah, badai hempas karam sekuat tenaga
Siur angin hancurkan pohon kelapa
Gelombang naik ke daratan
Pongah kabarkan dirinya
Ini aku Raja Badai datang
Tiap 25 saka mengamuk
Mengaduk laut
Angkat bangkai karam, jarahan lanun samudera
Digulung ombak malam jahanam
(Bogor, 13 Juni 2018)

Untuk Sang Muadzin

Oleh: Neneng Hendriyani

Tanah yang berderak
Bergetar kian hebat
Tak meruntuhkan niatmu
Tak mampu menghentikan tugasmu

Salut aku!

Subhanallah
Inilah yang kau minta
Kembali kepada Nya dengan penuh kebaikan
Kembali dalam nama Nya dengan penuh pengabdian
Kembali sebagai jiwa yang tenang
Meski kau tertinggal sendirian
Meski kau harus kehilangan

Tiada yang sia-sia
Semua sudah ada waktunya
Pasrah
Yakinlah
Ia yang kau panggil mendengarmu
Ia yang kau puja menyayangimu
Ia ingin jumpa dengan mu
Di sana di firdausNya
Kau menjadi tamu
Abadi
Dalam nama-Nya

(Bogor, 01 Oktober 2018)
—

NB: Puisi ini telah dimuat di harian POS BALI tanggal 26 Januari 2019.

SEPUCUK SURAT UNTUK ANTHONIUS

Sepucuk Surat untuk Anthonius
Oleh: Neneng Hendriyani

Tabe Kawan
Terima kasih,
Untuk ijin yang kau beri,
Langkah-langkah yang kau pandu
Di hari naas itu
28 September 2018
Kala jingga hampir sempurna di ufuk barat

Tabe Kawan,
Terima kasih
Selamat kami hingga tujuan
Bahagia kami berjumpa handai taulan
Meski hati dan jantungku tercerabut pilu
Di tengah lautan kulihat gelombang amat menakutkan
Menerjang kotamu
Meluluhlantakkan tempatmu berdiri

Maafkan aku kawan,
Tak ada yang bisa ku sampaikan
‘tuk sekadar memberi penghiburan
Air mataku tak henti mengalir
Sesak dadaku mengingatmu
Sungguh, maafkan aku merepotkanmu

Biarlah ku simpan kau dalam doa
Kala melati dan kemboja bermekaran
(Bogor, 01 Oktober 2018)

—
nb: Puisiku ini sudah dimuat di harian POS BALI, Halaman 10 pada hari Sabtu Umanis, 26 januari 2019.